Koleksi yang dibahas pada kesempatan ini adalah koran De Java Post edisi 14 November 1919 terdiri dari 12 halaman. Koran berbahasa Belanda ini merupakan salah satu koleksi tertua di Monumen Pers Nasional. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, majalah tersebut dianalisis sehingga menghasilkan beberapa kesimpulan utama sebagai berikut.
Artikel pertama berjudul “Pacanda est Hibernia”. Dari artikel ini ditarik kesimpulan bagaimana Irlandia dianggap sebagai sumber masalah besar, seperti wilayah Balkan di Eropa. Selama Irlandia dan Inggris belum berdamai, maka hubungan yang baik dan perdamaian akan sulit tercapai.
Para pemimpin gereja dan tokoh politik menyatakan bahwa masalah Irlandia harus segera diselesaikan dengan cara yang adil. Pemerintahan Inggris di Irlandia yang mengandalkan kekuatan militer dianggap tidak bisa dilanjutkan, karena tidak mendapat persetujuan rakyat. Tokoh-tokoh penting Inggris seperti David Lloyd George dan Bonar Law juga mengakui bahwa masalah Irlandia sangat penting dan harus segera dicari solusinya.
Masalah Irlandia bahkan disebut sebagai “luka lama” yang terus merusak hubungan Inggris dengan negara lain, terutama Amerika Serikat. Surat kabar besar seperti The Times juga mulai berubah sikap dan mendukung perdamaian dengan Irlandia. Mereka menilai Inggris harus bersikap adil dan menghentikan konflik. Di sisi lain, banyak orang Irlandia dan kelompok seperti Sinn Feiner terus menuntut kemerdekaan. Mereka mendapat dukungan dari masyarakat internasional. Masalah Irlandia sangat penting, jika tidak segera diselesaikan dengan adil, maka perdamaian di Inggris dan hubungan dengan negara lain akan terus terganggu.
Artikel kedua berjudul ”Katholiek Nieuws”. Artikel ini membahas berbagai perkembangan penting yang berkaitan dengan Gereja Katolik di beberapa negara Eropa. Berdasarkan laporan dari Corriere d’Italia, pemerintah Polandia meminta Paus untuk campur tangan dalam kasus penganiayaan terhadap masyarakat di wilayah Silesia Atas. Selain itu, pemerintah Lituania melalui Nuncio Apostolik di Warsawa juga mengajukan permohonan kepada Takhta Suci agar Keuskupan Riga ditingkatkan menjadi Tahta Metropolitan bagi seluruh wilayah Lituania. Permintaan ini menunjukkan hubungan yang baik antara pemerintah dan Gereja, meskipun pelaksanaannya masih menunggu penetapan batas wilayah nasional.
Di Rusia, runtuhnya Tsarisme membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja Katolik karena hambatan-hambatan sebelumnya mulai berkurang. Sementara itu, Paus dalam suratnya kepada Patriark Lisboa dan para uskup di Portugal menyampaikan rasa puas atas membaiknya kondisi kehidupan beragama. Ia juga menekankan pentingnya peran pers Katolik dalam membela prinsip keagamaan, serta mendorong pendidikan calon imam dengan mengirim seminaris berbakat ke Roma agar hubungan dengan Takhta Suci semakin kuat.
Di sisi lain, Francis Aidan Gasquet menulis sejarah perguruan tinggi Inggris di Roma yang didirikan oleh Paus Gregorius XIII pada abad ke-16. Sementara itu, hubungan antara Italia dan Vatikan menunjukkan perkembangan yang lebih baik, meskipun rekonsiliasi belum sepenuhnya tercapai.
Artikel ini juga menyoroti penderitaan umat Kristen di kawasan Timur yang masih mengalami penganiayaan, kelaparan, dan kesulitan hidup, sehingga mendorong lembaga Gereja untuk mengambil langkah bantuan. Selain itu, muncul pula kontroversi di Italia akibat penghinaan terhadap Paus oleh beberapa media, yang kemudian ditanggapi serius oleh pemerintah.
Terakhir, disampaikan keberhasilan penyelenggaraan Hari Katolik di Utrecht, Belanda, yang dihadiri oleh banyak tokoh penting serta ribuan peserta. Acara ini dinilai sangat sukses dan menunjukkan antusiasme besar umat Katolik dalam berbagai kegiatan keagamaan.
Artikel ketiga dengan judul “Instituut Voor Godsdientspsychologie ” yang berarti Institut Psikologi Agama. Pada pertemuan tahunan Perkumpulan Petrus Canisius, Dr. F. Roels, seorang dosen dari Universitas Nasional Utrecht, mengusulkan pendirian sebuah lembaga psikologi agama. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara psikolog dan teolog dalam memahami kehidupan keagamaan. Selain itu, bidang ini juga memerlukan kontribusi dari filsuf, dokter, sejarawan, dan sastrawan. Usulan tersebut mendapat tanggapan positif, bahkan diajukan pembentukan komite untuk meneliti dasar pendirian lembaga tersebut.
Di sisi lain, muncul berbagai kritik terhadap Gereja, terutama terkait pembatasan kebebasan melalui sensor selama masa perang. Kritik juga datang dari Rusia Bolshevik yang melakukan pelarangan terhadap buku dan tulisan keagamaan. Upacara liturgi Gereja Katolik Roma turut diserang, dengan anggapan bahwa praktik tersebut hanya menyentuh perasaan tanpa makna spiritual yang mendalam. Namun, di kalangan Protestan sendiri muncul ketidakpuasan terhadap kekosongan ritual mereka, sehingga sebagian mulai melirik kembali praktik liturgi Gereja Katolik.
Kaum liberal juga mengkritik sifat universal Gereja Katolik, bahkan mencoba membentuk konsep “gereja dunia” yang menyatukan berbagai aliran keagamaan. Meskipun demikian, fenomena ini justru menunjukkan besarnya daya tarik Gereja Katolik, bahkan bagi para pengkritiknya. Banyak pihak mulai mencari persatuan yang lebih kuat dalam kehidupan beragama.
Pandangan ini diperkuat oleh pengakuan tokoh seperti Albert von Ruville yang menyatakan bahwa ia sebelumnya memiliki pemahaman keliru tentang Gereja Katolik. Bahkan penulis seperti G. K. Chesterton berpendapat bahwa perpecahan akibat Reformasi telah menghancurkan peluang terciptanya kesatuan besar dalam dunia Kristen.
Di Inggris, sekitar 700 pendeta Gereja Anglikan membentuk sebuah organisasi bernama Federasi Pemimpin Katolik. Mereka berupaya mempertahankan ajaran-ajaran tertentu yang dekat dengan tradisi Katolik, seperti penghormatan terhadap sakramen dan praktik liturgi. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan menuju kesatuan dalam kehidupan keagamaan.
Artikel keempat berjudul ” KARDINAAL MAURIN AAN DE KIEZERS ”. Kardinal Maurin menyampaikan sebuah surat kepada para pemilih Katolik di wilayah Rhone et Loire, yang berisi pedoman dalam menentukan pilihan politik mereka. Dalam surat tersebut, ia menegaskan pentingnya menjunjung tinggi prinsip keadilan, kebebasan, dan hati nurani dalam kehidupan bernegara.
Ia mempertanyakan apakah kebebasan benar-benar ditegakkan, jika para tokoh religius yang telah kembali ke Prancis setelah masa pengasingan bahkan setelah turut berjuang di medan perang justru kembali dipaksa meninggalkan negara. Selain itu, ia juga mengkritik kebijakan yang mewajibkan masyarakat membayar pajak ganda untuk pendidikan, yakni untuk sekolah yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan juga untuk sekolah yang sejalan dengan hati nurani mereka.
Kardinal Maurin mengingatkan bahwa selama perang, umat Katolik telah menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan demi persatuan nasional. Oleh karena itu, ia mempertanyakan apakah setelah kemenangan mereka justru akan kembali mengalami perlakuan tidak adil.
Ia menegaskan bahwa dalam negara dengan beragam pandangan, seluruh hak dan kebebasan harus dihormati, selama tidak bertentangan dengan hukum alam dan ketertiban umum. Di akhir pesannya, Kardinal Maurin mengajak umat untuk berdoa agar hasil pemilu membawa kebaikan bagi semua pihak.
Artikel kelima berjudul ” VERGADERING DER POOLSCHE BISSCHOPPEN ”. Di kota Gnesen, tepatnya di makam Santo Adelbertus, diadakan pertemuan penting para uskup Polandia. Pertemuan ini merupakan yang pertama sejak kemerdekaan Polandia. Sebanyak 17 tokoh gereja terkemuka hadir dalam acara tersebut. Kedatangan para uskup disambut secara resmi di stasiun dengan penghormatan militer dan iringan lagu kebangsaan Polandia. Setelah itu, mereka berjalan dalam prosesi menuju katedral, di mana salah satu uskup agung menyampaikan pidato. Acara dilanjutkan dengan doa bersama di makam Santo Adelbertus. Momen yang paling khidmat terjadi ketika para uskup secara bersama-sama memberkati kerumunan umat yang hadir.
Artikel keenam tentang gambaran umum Hindia Belanda.Bagian ini memuat berbagai peristiwa penting yang terjadi di Hindia Belanda pada masa itu. Salah satu isu yang mencuat adalah wacana mengenai “Ratu untuk Hindia”, yang menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat, meskipun belum dapat direalisasikan.Di bidang politik, Volksraad menyetujui usulan Djajadiningrat mengenai pemisahan gereja dan negara dengan selisih suara yang sangat tipis. Usulan ini kemudian menjadi bahan diskusi lebih lanjut karena dianggap menyangkut persoalan besar dalam kehidupan masyarakat yang beragam agama.
Di sisi lain, dibentuk sebuah asosiasi Jepang–Hindia Belanda untuk mempererat hubungan kedua pihak. Selain itu, terjadi berbagai persoalan sosial seperti kelangkaan beras, uang, perumahan, tenaga kerja, serta meningkatnya konflik sosial seperti pemogokan dan kebakaran.
Dilihat dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat menghadapi berbagai kesulitan ekonomi, tetapi di sisi lain masih terlihat gaya hidup berlebihan di kalangan tertentu. Hal ini menimbulkan kritik bahwa sebagian orang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi sulit. Ada pula penurunan harga barang akibat masuknya produk dari Jerman. Di bidang organisasi, Ikatan Dokter Hindia Belanda berhasil mengumpulkan dana untuk kepentingan bersama. Sementara itu, konflik antara pekerja dan manajemen juga muncul, khususnya dalam dunia perdagangan.
Dalam isu keagamaan dan pendidikan, perdebatan besar terjadi terkait kemungkinan pencabutan Pasal 123 yang mengatur aktivitas keagamaan. Sebagian pihak khawatir bahwa misionaris akan mengganggu tradisi lokal, sementara pihak lain menilai aturan tersebut tidak diterapkan secara adil. Selain itu, kritik juga diarahkan pada laporan lembaga pendidikan seperti Institut Tunanetra di Bandung, yang dianggap kurang sensitif terhadap keyakinan tertentu. Dalam bidang pendidikan pribumi, muncul perdebatan mengenai peran pemerintah, di mana ada yang menilai pemerintah kurang maksimal, tetapi ada juga yang membela upaya yang telah dilakukan.
Pada 1 Juli, beberapa anggota Volksraad mengajukan mosi pemisahan gereja dan negara. Tujuan utamanya adalah menciptakan keadilan di tengah keberagaman agama di Hindia Belanda. Dalam pembahasannya pihak pendukung berpendapat bahwa negara harus netral dan tidak memberikan bantuan finansial kepada agama sementara pihak penentang menilai bahwa negara tetap perlu mendukung kegiatan keagamaan, terutama untuk kesejahteraan masyarakat. Tokoh seperti J. Schmutzer menolak mosi tersebut karena khawatir akan berdampak negatif, terutama bagi agama-agama tertentu. Ia juga menekankan pentingnya peran negara dalam mendukung kehidupan keagamaan. Setelah melalui perdebatan panjang, mosi tersebut akhirnya disetujui dengan perbandingan suara yang cukup ketat.
Departemen K.S.B. Batavia melaporkan keberhasilan dua pertunjukan meriah K.J.B. yang menarik banyak penonton. Hadirin berasal dari berbagai kalangan, termasuk rohaniwan, pejabat, dan tokoh penting seperti J. Schmutzer. Para pemuda menunjukkan kemajuan yang pesat dalam bidang senam, musik, dan teater.
Pada malam kedua, ketua departemen memberikan penghargaan berupa karangan bunga kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi. Selain itu, penghormatan khusus diberikan kepada konduktor mereka, F. Michels, atas dedikasinya, bertepatan dengan perayaan ulang tahun pernikahannya. Ia juga menerima berbagai ucapan selamat dan hadiah dari sejumlah tokoh, termasuk E.S. Luypen.
Artikel selanjutnya berjudul ”Van Londen naar Parijs Per Vliegemachine”. Penulis artikel menceritakan pengalamannya yang menarik saat melakukan perjalanan udara dari London ke Paris. Keinginan untuk terbang sebenarnya sudah lama ia miliki, terutama setelah menyaksikan perkembangan pesat dunia penerbangan dan berbagai peristiwa udara selama masa perang.
Kesempatan tersebut akhirnya datang ketika seorang temannya menawarkan perjalanan dengan pesawat dan bersedia menanggung seluruh biaya. Tawaran itu langsung diterima dengan penuh rasa syukur. Namun, sebelum berangkat, mereka harus mengurus berbagai izin, termasuk paspor dan visa dari beberapa negara seperti Prancis, Belanda, dan Belgia. Proses ini cukup rumit, terutama karena situasi pascaperang yang masih sensitif.
Setelah semua dokumen selesai, tibalah hari keberangkatan. Mereka berangkat dari Charing Cross menuju bandara di Hounslow. Di sana, mereka melihat persiapan pesawat, bertemu dengan pilot, dan menyaksikan pesawat lain lepas landas. Meskipun sempat terjadi penundaan karena pemeriksaan mesin yang berulang-ulang, akhirnya pesawat mereka dinyatakan siap.
Penulis kemudian naik ke dalam pesawat, yang dilengkapi dengan kursi empuk dan jendela kaca. Ia duduk berhadapan dengan rekannya, merasakan pengalaman baru yang menegangkan sekaligus mengagumkan. Perjalanan ini menjadi salah satu pengalaman penting yang menunjukkan kemajuan teknologi penerbangan pada masa itu.
Kesimpulan dari keseluruhan artikel diatas De Java Post edisi 14 November 1919 menggambarkan kondisi Irlandia dan di Hindia Belanda pada masa pasca-Perang Dunia I yang ditandai oleh ketidakstabilan politik, dinamika keagamaan, serta perubahan sosial dan teknologi. (Eti Kurniasih)
