Dinamika Perdagangan Bumi Putera Dalam Majalah Tjaja Hindia Tahun 1916

Kali ini pembahasan akan mengangkat majalah Tjaja Hindia edisi 1 Maret 1916, khususnya artikel yang berjudul “Saudagar Boemi Poetra”. Artikel tersebut membahas perkembangan aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh saudagar Bumi Putera di wilayah Hindia, terutama di Pulau Jawa.

Pada masa dahulu, banyak saudagar Bumi Putera yang menjalankan kegiatan perdagangan di berbagai wilayah. Salah satu kawasan yang dikenal sebagai pusat perdagangan adalah Malaka. Wilayah tersebut memiliki berbagai bandar perniagaan yang menjadi tempat berkumpulnya para pedagang, sekaligus menjadi tempat persinggahan dan aktivitas kapal-kapal milik masyarakat Bumi Putera. Namun, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, aktivitas dan minat masyarakat Bumi Putera dalam melakukan perdagangan secara bertahap mengalami kemunduran.

Perkembangan perdagangan kemudian kembali terjadi setelah berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang didirikan oleh Belanda. VOC melakukan kegiatan perdagangan dengan masyarakat Bumi Putera, terutama untuk memperoleh berbagai komoditas yang memiliki nilai tinggi di pasar Eropa, seperti pala, cengkih, dan rempah-rempah lainnya. Komoditas tersebut kemudian dibawa dan diperdagangkan ke wilayah Eropa. Selain melakukan perdagangan dengan masyarakat Bumi Putera, VOC juga menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai bangsa dan wilayah lain, seperti Cina, Filipina, Jepang, Thailand, Bangladesh, Persia, dan sejumlah wilayah lainnya.

Namun, tidak lama kemudian, VOC mulai menjalankan kegiatan perdagangannya dengan cara kekerasan. Seiring dengan berkembangnya kekuasaan dan kepentingan perusahaan tersebut, VOC menerapkan berbagai aturan perdagangan yang mengarah pada praktik monopoli. Kebijakan ini membatasi ruang gerak saudagar Bumi Putera karena mereka dilarang menjual hasil dagangannya secara bebas kepada bangsa-bangsa asing. Dengan demikian, kegiatan perdagangan masyarakat Bumi Putera menjadi semakin terbatas karena berada di bawah kendali VOC.

Selain menguasai kegiatan perdagangan, VOC juga memperoleh kewenangan dalam bidang pemerintahan. Dalam menjalankan kekuasaannya, VOC turut mengatur berbagai urusan masyarakat, termasuk aspek keamanan dan ketertiban. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi kehidupan perdagangan masyarakat Bumi Putera. Meskipun aktivitas perdagangan mereka perlahan kembali berkembang, kegiatan tersebut tidak lagi mencapai kejayaan seperti pada masa sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan perdagangan Bumi Putera pada masa itu berlangsung dalam situasi yang semakin dipengaruhi dan dikendalikan oleh kekuasaan kolonial.

Sejak berdirinya Sarekat Islam (SI) di Pulau Jawa, khususnya di Surabaya, kegiatan perdagangan Bumi Putera mulai mengalami kebangkitan kembali. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembentukan perserikatan dagang yang bertujuan untuk memperkuat kedudukan para saudagar Bumi Putera dalam kegiatan perdagangan. Dalam perkembangan selanjutnya, H.O.S. Tjokroaminoto mengadakan persidangan di Betawi yang dihadiri oleh perwakilan Sarekat Islam dari berbagai daerah. Persidangan tersebut membahas rencana pendirian Sarekat Dagang Islam di beberapa kota, yaitu Betawi, Semarang, dan Surabaya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, direncanakan modal sebesar satu juta rupiah yang akan digunakan untuk membangun usaha perdagangan dalam skala besar. Melalui usaha tersebut, hasil produksi dan perdagangan Bumi Putera diharapkan dapat dikirim dan dipasarkan secara langsung ke Eropa tanpa harus bergantung pada perantara dari bangsa asing. Selain itu, barang-barang dari Eropa yang dibutuhkan oleh rakyat Bumi Putera juga diharapkan dapat dipesan dan diperdagangkan secara langsung.

Akan tetapi, perkembangan tersebut tidak berlangsung lama. Banyak pedagang Bumi Putera yang pada akhirnya mengalami kesulitan dalam mempertahankan usahanya hingga terpaksa gulung tikar. Menurut artikel tersebut, salah satu penyebabnya adalah skala perdagangan Bumi Putera yang masih relatif kecil dibandingkan dengan perdagangan besar yang telah dikuasai oleh kelompok-kelompok pedagang dari berbagai negara, seperti Inggris, Amerika, Yahudi, dan Cina.

Artikel tersebut juga menyoroti keterbatasan kemampuan masyarakat Bumi Putera dalam menjalankan kegiatan perdagangan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang jual beli. Menurut artikel tersebut, kemampuan berdagang dapat terbentuk melalui dua hal. Pertama, melalui pendidikan yang diperoleh di sekolah. Kedua, melalui pengalaman sehari-hari yang membentuk cara berpikir, perasaan, pendengaran, dan penglihatan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, kurangnya upaya untuk mewariskan keterampilan berdagang kepada generasi berikutnya. Masyarakat Bumi Putera yang telah memiliki keahlian dalam perdagangan dinilai cenderung menggunakan kemampuan tersebut untuk kepentingan pribadi, tanpa meneruskannya kepada anak-anak mereka. Akibatnya, kemampuan perdagangan di kalangan Bumi Putera tidak berkembang secara luas dan berkelanjutan.

Keadaan tersebut semakin terlihat dari dominasi toko dan warung, baik dalam skala besar maupun kecil, yang lebih banyak dikuasai oleh kelompok pedagang asing. Sementara itu, penduduk Bumi Putera lebih banyak bekerja sebagai kusir sado, tukang, petani, dan pekerjaan lainnya. Kondisi ini menyebabkan masyarakat Bumi Putera masih memiliki ketergantungan terhadap kegiatan perdagangan yang dikuasai oleh pihak asing. (Eti Kurniasih)

Message Us on WhatsApp