Tipe: Koran
Tanggal: 1989-04-05
Halaman: 04
Konten
4cm
HALAMAN IV
Arala
RATAP yang berkepanjangan terhadap menurunnya pamor minyak
dan gas bumi sebagai andalan mengapungkan nasib Indonesia, kini
telah mereda. Di mana-mana muncul komoditas baru yang dengan gen-
car digalakkan sebagai ekspor pengganti migas tersebut. Bukan tanpa
alasan redanya ratap penyesalan itu.
Kelapa sawit, udang, pariwisata, pupuk, rotan dan entah apa lagi, telah
turun bersama-sama ke gelanggang bisnis ekspor, atau paling tidak
menurunkan peringkat migas dari yang utama dan pertama menjadi yang
kesekian. Upaya ini benar-benar menggembirakan.
PEG-1
Dari Bali telah muncul pula komoditas baru yaitu pakaian jadi (garment)
yang mencuat dengan laju yang mencengangkan. Kita belum berkesem-
patan meneliti angka-angka ekspor bidang penutup badan ini tetapi
petunjuk yang rasanya cukup jelas untuk mengatakan berhasilnya bisnis
garment ini adalah menjamurnya usaha tersebut di mana-mana. Para
perancang dari manca negara kini datang sebagai pelancong dan di
kantongnya telah terselip garis-garis gambar rancangan yang akan ditu-
runkan di atas tekstil untuk dijajakan nanti pada musim mode yang
datang di negerinya sendiri.
yang akan
akan
Apa kabar si Bongkok, udang yang kondang itu? Pertanyaan ini sama
mengasyikkan karena petunjuk tentang janji yang penuh harapan telah
berkibar di mana-mana. Teluk Benoa, misalnya, yang dahulu gondrong
ditumbuhi bakau, kini sebagiannya telah plontos menjadi tambak-tambak
udang. Jika kita lewat sepanjang by-pass dari Sanur hingga Jimbaran
pada waktu malam, daerah pesisir itu tak ubahnya sebuah kota dengan
kerlip sejuta lampu yang gemerlap.
Untuk memperoleh gambaran betapa komoditas ekspor si bongkok itu
menyita perhatian kita, marilah kita bertutur sedikit perihal angka-angka.
Dirjen Perikanan tahun lalu menetapkan laju pertumbuhan areal tambak
udang sebesar 3,4% per tahun. Sasaran luas tambak yang ditetapkan
untuk tahun 1988/1989 mencapai 258.800 ha.
TAJUK RENCANA
Pembenihan Udang di Hulu Bisnis Udang
Pada musim tanam 1987 telah ditebar sekitar 1,2 milyar benur windu
untuk areal tambak seluas 250.000 ha. Dengan pengandaian bahwa
peningkatan padat penebaran mencapai rataan 10.000 benur per hektar,
maka jumlah benur windu yang diperlukan untuk musim tanam 1988/1989
mencapai 2,6 milyar. Angka ini menggiurkan.
Menurut catatan Dirjen Perikanan tahun 1988, kapasitas produksi unit
pembenihan udang windu yang beroperasi dewasa ini mencapai 2,7
milyar benur per tahun tetapi produksi yang dapat dicapai baru sekitar
40% dari kapasitas terpasang. Rendahnya produksi merupakan akibat
dari kurangnya induk yang tersedia dan pakan yang cocok serta teknik
pemeliharaan larva dan teknik pengelolaan (management).
Meb
Dari data Dirjen Perikanan juga terlihat bahwa dewasa ini terdapat
lebih dari 90 unit pembenihan udang windu yang tersebar di wilayah
slots
RYOGHOL
Oleh karena keahlian dan kelangkaannya inilah para guru besar men-
dapat prioritas bisa dipekerjakan di dalam dunia akademis hingga usia 65
tahun. Untuk mengisi waktu seusai masa pensiunnya itu para guru besar
yang memang benar-benar bertipe ilmiawan atau men of reaserch (manu-
sia peneliti) akan memanfaatkan pengalaman dan keahliannya untuk
menulis karangan-karangan ilmiah. Hal ini mungkin, karena assignment
(tugas) mengajar sudah tak ada, sementara nafkah (uang pensiun) tidak
dipermasalahkan.
Kegiatan menulis pasca-mengajar di perguruan tinggi sangat penting
artinya bagi pertumbuhan dan kemajuan ilmu. Makin ahli sang profesor
dan makin produktif tulisannya akan memberikan sumbangan yang ma-
kin besar pula. Justru dalam masa pasca-mengajar inilah para profesor
bisa merenungkan kembali dan merumuskan secara lebih teliti tanpa
terburu-buru oleh target pekerjaan (seperti jika mereka masih aktif meng-
ajar) apa yang dahulu pernah ditelitinya, sehingga mutu ilmiahnya lebih
bisa dipertanggungjawabkan. 19
Dapatkah kita mengharapkan banyak karya-karya ilmiah yang muncul
dari tangan-tangan profesor kita sesudah masa pensiun mereka?
Penggunaan Guru Besar Pensiun oleh Perguruan Tinggi Swasta
dilest
JUMLAH guru besar kita sangat kecil jika dilihat dari jumlah perguruan
tinggi negeri dan swasta yang ada. Di PTS-PTS keadaan ini jauh lebih
parah. Aturan-aturan pemerintah yang ada tidak memungkinkan PTS-
PTS untuk mengangkat tenaga-tenaga pengajar yang dianggap qualified berkepentingan ke jenjang yang lebih tinggi jika staf pengajar mereka ber
dan menunjukkan academic achievement (prestasi akademis) tinggi sede-
mikian sederhana.
Dengan menempatkan sejumlah profesor (pensiun) ini memang gengsi
sosial-akademis mereka menjadi naik di mata masyarakat maupun di
mata Kopertis. Pemerintah sendiri bisa mengubah status PTS-PTS yang
bobot.
Agaknya kita tak dapat terlampau optimistis. Soalnya, kebanyakan
daripada profesor kita sudah mendapat "pesanan tempat untuk meng-
ajar di PTS-PTS sebelum mereka mengakhiri masa jabatan mereka.
Surat Pembaca
Persyaratan: Sertakan fotokopi identitas
Gaji Pegawai Kecil Lagi Kena Pajak
pajaknya ditanggung negara.
Sebagai gambaran dapat saya sam-
paikan contoh:
1. Seorang pegawai negeri go-
longan IIlla dengan 1 isteri + 4
anak, setiap bulannya menerima
penghasilan kotor sebesar Rp.
230.345,- (sebenarnyua penerima-
an bersih setelah dikurangi uang
beras oleh Bapak Dolog sebesar
Rp. 26.250,00). Karena anak-anak
masih sekolah dan juga karena me-
ningkatnya biaya hidup, penerima-
an itu tentunya belum mencukupi,
karenanya untuk menambah peng-
hasilan mereka terpaksa harus me-
lakukan kerja tambahan seperti mi-
Dengan telah ditetapkannya ke-
naikan Gaji Pegawai Negeri sebe-
sar: 15%, dan dinaikannya harga
beras menjadi Rp 525,-/kg, tidak
menambah gairah kerja pegawai
negeri tingkat rendahan, malahan
sebaliknya.
Hal ini disamping karena harga
barang-barang di pasaran telah me-
ningkat pula dirasakan ketidak
adilan dalam pemungutan pajak
antara Pegawai rendahan dengan
Pegawai tingkat tinggilatas.
Jika pegawai rendahan yang peng-
hasilannya tidak mencukupi harus
membayar pajak, sedangkan Pega-
wai tingkat tinggilatas tidak, karena
pe
Kelihatannya, semakin bangkit
dan berkembangnya ajaran-ajaran
Hindu, penghormatan kepada sapi
semakin dilupakan. Padahal ia me-
rupakan peradaban terpenting dari
Hindu yang seharusnya ia telah
mendarah daging dalam setiap ge-
rak dan kesadaran umat Hindu.
Penghormatan kepada sapi tidak
boleh dihubung-hubungkan atau
disamakan dengan penyembahan
berhala. Ia ada dalam Kitab-kitab
Suci Veda. Veda adalah śruti (sab-
da Tuhan) dan smrti (hasil per-
enungan resi-resi yang telah mantap
dalam kebenaran). Karena itu,
penghormatan kepada sapi wajib
dihayati dan dilaksanakan oleh se-
tiap orang (umat Hindu khusus-
nya) dan harus ditegakkan sebagai
peradaban terpenting Hindu.
Rg Veda menjelaskan: gaurme
mată vrsabbah pitä me, divah sarva
jagati me pratistha. Artinya, Sapi
betina adalah ibu dan sapi jantan
adalah ayah dari umat manusia.
Kedua mahluk ini adalah pemberi
kebahagiaan kepada umat manu-
sia, baik di dunia ini maupun di
dunia setelah meninggal. Maka,
siapa yang tega membunuh dan
pantai Indonesia. Menurut data tersebut (1988) di Bali hanya beroperasi
tiga unit pembenihan. Jumlah itu mungkin sudah berkurang karena ada
unit bergabung menjadi unit yang lebih besar, dan sebagian lagi tidak
beroperasi pada kapasitas penuh.
Yang baik tentu saja, jika para profesor pensiun kita yang berbakat
untuk menulis dan lama terlibat dalam bidang penelitian, seyogyanya
membatasi keterlibatan mereka dalam pengajaran, dan sebagai gantinya
lebih banyak monourahkan pikiran bagi panuliaan penulisan ilmiah. Amat
layak jika pemerintah memikirkan hal ini.
Pengawasan terhadap Bebas Visa Wisata
POTENSI wisata Indonesia su- menunjang terhadap percepatan
dah sejak lama dikenal di dunia pembangunan, didampingi oleh
internasional, sebagai salah satu berbagai potensi lainnya yang ber-
jenis wisata yang mengagumkan, ada di luar lingkup dunia pariwisa-
baik yang berkenaan dengan bu- ta kita. Bahkan pada saatnya nanti
daya, struktur sosial, maupun potensi wanita kita harus mampu
keadaan alam, serta keramahan memiliki kedudukan yang sejajar
penduduknya. Oleh karenanya di dengan potensi-potensi lain seba-
lain pihak, pemerintah dan rakyat gai mitra yang erat kaitannya da-
kita sementara itu, sudah cukup lam memacu keberhasilan misi
tanggap dalam menghadapi kesu- pembangunan tersebut. Hanya sa-
buran potensi wisata kita. Sebab ja yang perlu dipersoalkan seka-
potensi wisata kita yang sedemiki- rang ialah bagaimana caranya pe-
an itu, hakikatnya akan mampu laksanaan wisata khususnya dalam
mengalirkan dolar, yang akan menjaring mereka para wisatawan
mendukung terhadap terealisasi- mancanegara, agar benar-benar te-
nya pembangunan nasional. Itulah tap melaksanakan misi kewisa-
sebabnya kita tidak putus- taannya tersebut secara benar dan
putusnya mengupayakan serta me- tepat. Jangan sampai terjadi ber-
nemukan berbagai modus bagai- macam penyimpangan yang justru
mana caranya agar potensi wisata akan mengakibatkan aneka kelam-
kita tersebut tetap dapat berperan batan pertumbuhan etos memba-
sebagai salah satu komoditas yang ngun, yang hal ini tentunya adalah
2558
Data tersebut kita paparkan untuk memperoleh gambaran bahwa pem-
benihan udang sebagai mata rantai paling awal dalam produksi dan pada
akhirnya ekspor udang menduduki posisi yang strategis. Dari segi bisnis
saja, sebagaimana telah diutarakan di atas, pengembangan pembenihan
udang (windu) memiliki prospek cerah.
Dengan meningkatnya produksi udang, sebuah pertanyaan yang layak
kita kemukakan adalah, berapa banyak yang dapat dikonsumsi oleh
masyarakat Indonesia sendiri?
Menurut penelitian Unud tahun 1987, tingkat konsumsi udang per
kapita selama tahun 1984 sampai 1988 berkisar antara 0,108 sampai
0,121 kg. Dengan asumsi kenaikan penduduk 2,34% per tahun untuk
tingkat nasional dan 1,69% untuk Bali serta tingkat konsumsi udang
seperti tersebut di atas maka besarnya permintaan udang dalam negeri
meningkat masing-masing dengan kecepatan
5,2% per tahun untuk permintaan nasion I dan 4,8% untuk permintaar
Bali.
Dalam kaitan dengan produksi benur udang, pertanyaan bisa muncul,
bagaimana kita memperoleh 2,6 milyar benur untuk ditebarkan pada
258.800 ha? Bagaimana kita dapat memenuhi target dan permintaan
ekspor yang kian meningkat apabila industri hulu tidak mampu mengalir-
kan bahan pokok yang dibubuhkan tersebut?
Nama-nama sapi disejajarkan
dengan nama Veda, seperti Bhaga-
vati, Dhenu, Vatsamicchanti. Teta-
Diperkirakan sekitar 250 ha lahan yang potensial diolah menjadi tam-
bak udang di Teluk Benoa. Belum lagi yang tersebar di Kabupaten
Jembrana dan Kabupaten Buleleng. Kita menduga bahwa sebagian
besar kebutuhan benur untuk usaha pertambakan di Bali, dipasok dari
Jawa. Posisi ini niscaya membuka peluang yang menggembirakan bagi
pengembangan pembenihan udang windu di Bali karena faktor jarak
sudah mempunyai nilai plus.
Yang masih merisaukan kita dalam hal pengelolaan pembenihan
udang adalah kurangnya tenaga manajemen. Alangkah idealnya jika
seorang manajer yang baik adalah juga seorang ahli karena keduanya
akan saling menunjang. Barangkali secara teknis peralatan yang kita
miliki sudah terhitung canggih. Barangkali kapasitas produksi menjanji-
kan angka yang luar asa. Barangkali kemampuan modal sangat mem-
bantu. Akan tetapi apalah artinya semuanya itu apabila tidak dipadu
dengan teknik manajemen yang baik dan benar?
Potensi-potensi pengembangan ekspor ini kita angkat sebagai bahan
pemikiran karena bagaimana sekalipun sektor-sektor yang berdiri sendi-
ri-sendiri pada akhirnya berhimpun suatu barisan kokoh-kuat yang seca-
ra keseluruhan mengangkat taraf hidup kita semua.
Kenyataan tersebut membuat para mantan pengajar (guru besar) PTN
menjadi "barang dagangan yang laris di dunia PTS. Mereka menjadi
"rebutan" (barang yang secara ramai diperebutkan) PTS-PTS yang me-
memerlukan.
duto
Oleh R. Didi Guhardi, S.H.
rasa
Di satu pihak gejala ini harus dianggap baik. Para profesor pensiun
tidak usah merasa khawatir akan kehilangan nafkah (yang cukup lumay-langkan).
an) seusai pensiun. Juga, yg terlibat dalam aktivitas
perlu merasa kesempatannya untuk itu tiba-tiba saja dirampas daripada
nya. Di samping itu perasaan "tak lagi dibutuhkan oleh orang lain" yang
berkaitan dengan harga diri dan makna hidup juga tak perlu tumbuh.
Namun di lain pihak, harus kita akui bahwa gejala-gejala tersebut
mempunyai akibat negatifnya. Yang pertama, dan yang sangat kita
sayangkan, bahwa para profesor pensiun ini jadi kehilangan banyak
waktunya yang sangat berharga dan kita nantikan untuk menulis karya-
karya ilmiah. Lebih-lebih jika mereka terlibat lagi secara penuh dalam
proses belajar-mengajar di PTS-PTS karena mereka diperlukan sekali
dalam pembenahan organisatoris atau akademis di situ.
akibat ulah beberapa oknum yang
tidak bertanggung jawab yang te-
lah mencoba-coba untuk me-
nyimpangi mekanisme pelaksana-
an wisatawan asing berlabuh da-
lam negeri kita sendiri. Salah satu
di antaranya yang kita bahas ialah
yang berkenaan dengan salah satu
fasilitas yang diberikan demi ke-
mudahan para wisatawan berda-
tangan ke tanah air kita ini, yaitu
apa yang dikenal dengan fasilitas
pemberian bebas visa wisata. Se-
hingga dengan demikian maka
akan diharapkan kita mampu
membenahi permasalahannya se-
cara proporsional, seraya tetap ti-
dak menghambat proses kelancar-
an masuknya para wisatawan man-
Menghormati Sapi Adalah Peradaban Hindu
memakan daging ayah dan ibunya?
Karena sapi adalah orang tua bagi
manusia maka wajar orang meng-
ambil sesuatu darinya. Atharva Ve-
da 4.27.3 menganjurkan, yang di-
ambil hendaknya susunya, bukan
dagingnya. Mengambil susu kita ti-
dak membunuh tetapi mengambil
daging kita harus lewat membunuh,
menghilangkan rohnya yang sebe-
narnya hanya merupakan hak Tuh-
an untuk memisahkan roh dari bad-
an sapi itu. Payo dhenünâm, yang
harus diambil adalah susunya, bu-
kan dagingnya. Dalam Rg Veda
8.11.15 dinyatakan bahwa sapi
adalah ibu dari para Rudra. Tidak
begitu bermanfaat kalau kita me-
nyembah Hyang Ekadaśa Rudra te-
tapi membunuh ibu beliau dan
memakan dagingnya. Dalam śloka
yang sama disebutkan bahwa sapi
adalah pusat dari amerta. Kalau
pusat amerta diporak-porandakan,
akibatnya adalah kekacauan, keke-
rasan, peperangan, kekeringan, ke-
laparan dan kemerosotan moral.
salnya bertindak sebagai: Sopir be-
mo, tukang cukur, tukang catut, pe-
ternak ayam, petani anggur dan
lain sebagainya sehingga mendapat
tambahan penghasilan sebesar Rp.
50.000,00/bulan.
Demikian pula tak tinggal diam,
si isteri turut berusaha meningkat-
kan penghasilan keluarganya mela-
lui kegiatan-kegiatan seperti: Tu-
kang jahit jual canang/jajan laklak,
cicilan kain dan lain sebagainya, se-
hingga tiap bulannya juga menda-
tangkan penghasilan sebesar Rp
50.000,00. Walaupun demikian,
penghasilan mereka belum juga da-
pat mencukupi untuk hidup wajar
terlebih lebih jika harus menurut
(Bersambung ke Hal IX,kol 2)
Tog tred
pi yang perlu dicatat adalah tiga na-
ma sapi ini, yaitu: Aghnya berarti
dia yang tidak boleh dibunuh, dia
yang tidak boleh disakiti. Aditi ber-
arti dia yang tidak boleh dibunuh.
Abi berarti dia yang tidak boleh di-
potong-potong.
Penghormatan kepada sapi, se-
lain diajarkan secara lisan turun te-
murun oleh leluhur kita, beliau juga
memandang perlu menggoreskan
pemutiknya di atas dau tal/lontar:
sapi sapinaka rama-rena ya sapinu-
ji sära sapinrih ing masih, sapi me-
rupakan ibu-bapa manusia, keta-
hanan dan kekuatannya patut dipu-
ji, kasih sayang dan sifat menolong-
nya patut ditiru. Karena itulah ia
disebut sapi, dia yang mestinya di-
elus-elus (USAPI) dengan kasih
sayang, ya matangakuk sapi pih tu-
sapyaku.
Semoga semua setuju menegak-
kan ajaran Veda dan peradaban ter-
penting dari Hindu ini. Astu. Kepa-
da Redaksi, terimakasih.
agus mat
Darmayasa
Lingkungan Ubud Klod
abson Ubud, Gianyarona
canegara, yang pada saatnya nanti
akan merupakan sumber asset de-
mi kepentingan pembangunan.
Baliost
Menghayati pengertian yang per-
nah kami dapatkan tersebut, maka
dengan sangat hormat kami memo-
hon penjelasan kepada Bapak-
bapak
maedry
JKSA
19% due notamais dedmil
AT
hi kebutuhan batin akan ikut me-
ningkat pula. Oleh karena itu ma-
nusia modern pada saat ini berlom-
ba-lomba untuk memenuhi kese-
rasian tuntutan hidupnya, dan da-
lam rangka upaya yang sedemikian
itu, maka manusia kemudian telah
menoleh kepada pengamatannya
Makna wisata
terhadap ihwal objek wisata yang
Sebagaimana kita ketahui bersa- ada di seantero penjuru dunia ini.
ma, bahwa kebutuhan manusia ti- Sedangkan sementara itu objek wi-
dak saja menghendaki berbagai sata yang ada, di kawasan negara
pemenuhan tuntutan materi seper- kita, tak urung telah menarik ba-
ti sandang, pangan dan atau papan, nyak perhatian bagi para wisata-
namun juga banyak menghendaki wan baik domestik maupun wisata-
tuntutan lain yang bersifat nonma- wan mancanegara. Apabila kita
teri, seperti kebutuhan kenikmat- amati sekarang banyak masyarakat
an batin yang berbentuk keindah- asing yang sengaja menyisihkan ta-
an, yang porsinya telah terpilah pa- bungannya dari hasil pencarian hi-
da berbagai hensi, umpamanya dup mereka sehari-hari, sekadar
kenikmatan tari-tarian, peman- untuk mencukupi kebutuhan ke-
dangan asri, serta mengagumi ber- puasan batin yang berkenaan de-
macam hiburan lain yang me- ngan objek wisata tersebut, pada
nyehatkan. Dengan adanya tingkat saat nanti mereka menikmati hari-
terapan teknologi yang kian cang- hari tuanya. Maka tidaklah heran
gih, maka sebagai imbangannya apabila banyak para wisatawan
tuntutan-tuntutan untuk memenu- asing yang kemudian berbondong
Kegiatan parivsata harus me-
rupakan satu-keszuan pikiran dan
tindakan yang utu meskipun pari-
wisata mencakup ruang lingkup
yang sangat luas srta bersifat lin-
tas sektoral. Oleh karenanya kese-
rasian pemikiran erta gerak lang-
kah dari semua unsur yang erat kai-
tannya dengan pariwisata, baik pe-
merintah ditingkit pusat maupun
daerah, industri wisata (swasta)
yang utama maupun penunjang ha-
rus diwujudkan dalam koordinasi
yang mantap dan saling menun-
jang.
Kesatuan langkah ini penting
4421
Keanehan dalam Pemilihan
Kepala Desa Peninjauan
Dalam kehidupan yang berda-
sarkan Pancasila dan UUD 45 ma-
ka hak asasi manusia untuk me-
nentukan wakil-wakilnya di DPR
melalui Pemilu dilindungi dengan
asas LUBER (Langsung, Umum,
Bebas, dan Rahasia). Begitu pula
halnya dalam pemilihan Kepala
Desa maka hak asasi masyarakat
desa dalam pemilihan Kepala Desa
juga dilindungi oleh Undang-
undang dengan asas LUBER
(Langsung, Umum, Bebas dan Ra-
hasia). Penjelasan-penjelasan se- Film BKKBN
perti inilah yang sering kami dapat-
kan dalam mengikuti ceramah/
penerangan dari petugas Kantor
Departemen Penerangan atau keti-
ka mengikuti Penataran P4 Pola
Pendukung 25 Jam yang diberikan
Bapak Penatar.
nyaan, apakah orang di luar anggo-
ta LMD bisa ikut mencalonkan.
Pada saat pencalonan yang dike-
tuai Dewa Nyoman Pindi dan ra-
patnya dipimpin Kerteker Kepala
Desa, maka muncullah calon Sang
Gede Ngurah dengan cara mengisi
blanko. Tiga orang diantara anggo-
ta LMD berkeinginan mengajukan
dua calon. Tapi yang muncul ada-
lah calon tunggal. Menyadari hal
(Bersambung ke Hal IX,kol 1)
unnlak/chhorn
PEMBANGNAN pariwisata Indonesia yang sedang digalak-
kan dewasa inpada hakikatnya merupakan bagian yang tidak
Hal ini berartbahwa tujuan pembangunan pariwisata harus
terpisahkan at bagian integral dari pembangunan nasional.
sesuai, bersumber dan diarahkan pada tercapainya tujuan
pembangunan asional. Oleh karena itu kepariwisataan me-
merlukan peretanaan yang cermat berdasarkan penelitian yang
mendalam sert didasari pada kebijakan-kebijakan yang tepat,
sehingga segalapengaruh yang disebabkan oleh perkembangan
pariwisata yangpositif dapat ditingkatkan dan diusahakan agar
dapat membercan manfaat semaksimal mungkin, sedangkan
pengaruh yang tidak diinginkan dibatasi (kalau dapat dihi-
Awal Januari lalu, BKKBN
Prop. Bali menggarap sebuah film
cerita yang berthemakan keluarga
berencana berjudul "Menanti Ta-
ngis Kerinduan", naskah ditulis KS
Wendra. "Proyek" pembuatan film
ini telah rampung, atas hasil kerja
keras semua kru yang mendukung.
Di dalamnya termasuk para pe-
main, kamerawan, penata artistik,
dan
keanehan-keanehan yang terjadi.
mulai awal pencalonan sampai pa-
Namun, belakangan ini terde
ngar kabar bahwa film itu dibatal-
da berlangsungnya Pemilihan Ke- kan total, entah karena apa. Yang
pala Desa Peninjauan, Kecamatan
Tembuku, Kabupaten Bangli seba-
gai berikut:
menjadi pertanyaan sekarang, se-
jauh mana pertanggung-jawaban
pihak BKKBN terhadap hasil kerja
proyek pembuatan film itu? Sebab,
berdasarkan perencanaan, konon
termasuk rancangan naskah dan
BKKBN telah meng-acc segalanya,
setting cerita. Kalau benar bahwa
film itu dibatalkan, sangat di-
sayangkan para kru yang telah be-
kerja bersungguh-sungguh jadi
korban.
2o obdav
Pada awalnya tanggal 14 Septem-
ber 1988 Kerteker Kepala Desa Pe-
ninjauan "Sang Gede Ngurah"
mengundang anggota Lembaga
Musyawarah Desa (LMD) untuk
mengadakan rapat pembentukan
Panitia Pencalonan Kepala Desa,
di Kantor Kepala Desa. Menurut
SK Bupati No. 66 tahun 1985 ang-
gota LMD sebanyak 11 orang, seo-
rang Nang Sumandia meninggal se-
hingga masih lagi 10 orang. Dalam
pencalonan tersebut 2 orang dian-
taranya tidak mendapat panggilan,
jadi yang hadir cuma 10 orang.
Anehnya Kepala Desa mengun-
dang orang yang tidak menjadi ang-Nama dan Alamat
gota LMD. Yang menjadi perta- og Ada pada Redaksi
OBLER SERR
Shotting telah dilakukan berhari-
hari, menyita banyak waktu, pikir-
an dan tenaga.
1
Melalui surat pembaca ini, saya
mohon penjelasan pihak BKKBN
Prop. Bali. Terimakasih,
CONAD
HAKIM PENGACARA
din pa
Unders
IN KA
212
Karalteristik Produk Wisata dalam Pemasaran Pariwisata
arti sempit yaitu sekadar dilihat da-
ri segi kenikmatan perjalanan
maupun dalam maknanya yang
luas yaitu mencakup berbagai mo-
tivasi kunjungan wisatawan mem-
punyai pengaruh terhadap segi ke-
hidupan individu maupun ma-
syarakat, baik dalam segi sosio
ekonomi, sosio budaya, politik ser-
ta lingkungan hidup. Sebagaimana
telah disebutkan, pengaruh terse-
but ada dapat dimanfaatkan
sebagai keuntungan yang perlu di-
tingkatkan dan ada pula yang di-
pandang sebagai hal yang kurang
menguntungkan dan karenanya se-
dapat mungkin harus dihindari/
dibatasi.
OKNUM
PENGACARA
mengingat industri wisata merupa-
kan suatu industri yang sangat de-
centralised sifatnya dan tidak dapat
berdiri sendiri.
Industri wisata meliputi berbagai
bidang usaha yang pada akhirnya
menimbulkan jasa pelayanan atau
produk wisata yang sangat berva-
riasi dalam berbagai hal. Perbeda-
an tersebut tidak hanya terlihat da-
lam jasa pelayanan yang diwujud-
kan tetapi juga dalam besar-
kecilnya perusahaan, lokasi, fung-
si, tipe organisasi, jenis pelayanan
serta metode penjualan atau pema-
sarannya. Meskipun demikian ma-
pale Aspek kontroversial
Jika benar sinyalemen tersebut
yaitu bahwa ada para wisatawan
asing yang kemudian telah me-
nyelundupkan dirinya di tengah-
tengah sektor pasar tenaga kerja
nasional, maka ini berarti bahwa si
wisatawan tersebut justru telah da-
pat dikatagorikan sebagai ikut
mengacaubalaukan tatanan per-
juangan bangsa dan negara kita
yang pada saat ini tengah dengan
gigih memperjuangkan pemba-
ngunan dalam segala bidang. Pada-
hal dengan mekanisme pemberian
berbagai deregulasi atau debiro-
kratisasi terhadap pelaksanaan mi-
si pariwisata, akan diharapkan ter-
kumpulnya dolar yang akan di-
gunakan sebagai sumber potensial
terjelmanya masyarakat kita yang
berpredikat sejahtera dalam arti
seutuhnya, dan bukan sebaliknya
akan digunakan kesempatan para
wisatawan untuk mengeruk keun-
tungan material dari negara kita le-
wat peranan mereka sebagai tena-
ga gelap tanpa restu dari aparat ki-
ta yang berwenang. Apabila terja-
di kasus serupa itu, maka bukan-
nya dolar yang terkumpul dalam
kas negara kita, melainkan mereka
justru menarik asset yang mestinya
milik kita, seraya mengorbankan
konsep penerapan tenaga kerja na-
sional, yang sampai saat ini kondi-
sinya masih sangat memprihatin-
kan itu. Dalam praktek banyak ki-
ta dengan bahwa para wisatawan
asing ternyata telah juga me-
nyalahgunakan fasilitas wisatanya
Sebagaimana industri jasa lain-
nya, pemasaran dalam bidang pari-
wisata pada prinsipnya bukanlah
kegiatan menawarkan barang yang
berwujud nyata untuk diperjual-
belikan atau untuk dipindah-
tangankan. Produk wisata juga ti-
dak dapat dicicipi terlebih dahulu
sebelum dibeli oleh konsumen.
Hal ini antara lain disebabkan oleh
karakteristik yang diakibatkan
oleh permintaan dan suplai yang
ada dalam pariwisata antara lain
bahwa produk wisata mempunyai
keterbatasan dan harus dinikmati
melanglang buana untuk dapat me-
nikmati kehebatan pemandangan
alam atau menikmati berbagai ke-
kaguman budaya atau kesenian
yang selama hidupnya terasa lang-
ka untuk mereka jumpai. Bagi pa-
ra wisatawan, mereka menghenda-
ki pemandangan indah, asli dan as-
ri tanpa sentuhan modernisasi yang
justru pada akhirnya akan me-
nyebabkan aneka implikasi dan se-
kaligus telah mengurangi bobot
keindahannya di mata para wisata-
Iwan asing tersebut. Oleh karena-
nya dilihat dari sisi tuan rumah,
haruslah mampu untuk menjaga
dan melestarikan berbagai benda-
benda purba bahkan kemudian
melestarikannya sehingga tetap
akan menampilkan profilnya yang
asli dan unik tersebut. Sebaliknya
dari pihak sisi si wisatawan diha-
rapkan untuk ikut mendukung ke-
beradaan nilai seni budaya seraya
mengestafetkan keindahan terse-
but kepada sesama rekan wisata-
wan lainnya. Dan yang lebih pen-
ting lagi untuk dijaga adalah ja-
ngan sampai kemudian ada pihak
yang telah
me-
wisatawan
nyalahgunakan misinya dengan
mengalihkan tujuannya dari mak-
sud semula, yaitu umpamanya un-
tuk mencari lapangan kerja baru
ditanah air kita yang tercinta ini.
Kejadian serupa itu, di samping te-
lah mencemarkan kewenangan pa-
ra aparat formal negara kita yang
diberi kekuasaan untuk mengatur
masalah keparawisataan, juga te-
lah memporak-porandakan struk-
tur dan tatanan eksistensi tenaga
kerja sebagai poros dominan yang
ikut menentukan keberhasilan dari
tujuan pembangunan nasional
kita.
di mana produk itu dibuat berada.
Di samping itu permintaan wisata-
wan akan suatu produk wisata
mempunyai elastisitas yang tinggi.
Hal ini membawa akibat lanjut
yakni bahwa produk wisata lebih.
banyak bersifat pengalaman yang
mempunyai hubungan erat dengan
emosi dari wisatawan sehingga sa-
ngat subjektif dan bisa memiliki
'nilai yang berbeda dari waktu ke
waktu.
zulfatlar Persaingan
Produk wisata merupakan satu-
kesatuan pengalaman yang dialami
oleh wisatawan selama mengada-
kan perjalanan, sejak dia mening-
galkan rumahnya sampai tiba kem-
bali di rumahnya. Untuk itu suatu
daerah tujuan wisata (DTW) harus
memiliki daya tarik khas yang
mampu menarik kedatangan wi-
satawan sebanyak-banyaknya dan
harus pula memiliki fasilitas yang
memadai, baik dalam mutu mau-
pun jumlahnya. Jadi, produk wisa-
ta merupakan paduan dari pelba-
gai komponen baik berupa barang
maupun jasa pelayanan, dengan
tujuan utama untuk memberi man-
faat serta kepuasan kepada pembe-
li atau konsumen (baca: wisata-
wan), seperti transpor, akomodasi,
makanan dan minuman, perjalan-
an wisata, hiburan dan jasa-jasa
lainnya. Dengan demikian airline-
seat atau hotel-bed misalnya bisa
merupakan produk wisata secara
individu dilihat dari segi produsen-
nya, namun sebenarnya merupa-
kan bagian dari produk wisata se-
cara total dilihat dari segi kon-
sumen/wisatawan. 16. 15
HAVDri
Tidak dapat dipungkiri bahwa
pada masa mendatang persaingan
antara berbagai destinasi di Indo-
nesia maupun di luar negeri pada
umumnya semakin ketat dan ta-
jam, di mana peranan utama yang
dipersyaratkan adalah ketajaman
melihat kecenderungan baru dan
Oleh John Raja
sing-masing unsur yang berbeda si-
fatnya tersebut mempunyai tingkat
saling keterkaitan dan saling keter-
gantungan satu dengan lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa kurang lengkapnya (atau
kurang sempurnanya) pelayanan
pada satu perusahaan dapat me-
nimbulkan akibat yang kurang dengan kata lain suatu produk
menguntungkan bagi unsur-unsur
lainnya.
yang dapat dibedakan dengan pro-
duk lain, sehingga akan tumbuh
suatu citra baru terhadap produk
wisata tersebut.
memanfaatkan momentum, ke-
mampuan berinovasi dan berdaya
kreasi untuk menciptakan dalam
segala keterbatasan yang ada suatu
produk yang memenuhi kebutuhan
serta selera konsumen.
Gey
Permintaan akan jasa pelayanan
wisata pada masa mendatang cen-
derung lebih selektif dan segmen-
ted sifatnya, sehingga gagal atau
suksesnya penanganan pariwisata
akan banyak ditentukan oleh ke-
mampuan menghasilkan produk
atau jasa pelayanan yang baik. Di
samping itu kemajuan pariwisata
dengan ikut menerjunkan dirinya
memenuhi kesempatan kerja yang
sebenarnya bukanlah hak bagi me-
reka, dan hal ini jelas telah merugi-
kan potensi tenaga kerja nasional
kita. Di sinilah sebenarnya terlihat
aspek kontroversialnya, yang ke-
mudian aspek negatif tersebut per-
lu disambut dengan suatu respon
yang setimpal, tanpa merusak bo-
bot penyuburan objek wisata da-
lam arti yang universal.
Visa wisata
Kita ketahui sekarang bahwa
masalah keparawisataan bagaima-
na pun akan melibatkan hubungan
kita dengan negara-negara lain-
nya. Sedangkan sementara itu ne-
gara kita dalam menghadapi tun-
tutan kepariwisataan atau tuntutan
lain yang berkenaan dengan masuk
(Bersambung ke Hal IX, kol 4)
Insin
foun
10 iliM
juga tergantung dari kemampuan
memasarkan suatu produk khas
dan atau pelayanan khas yang dira-
mu dalam suatu paket wisata yang
mampu menarik minat calon wi-
satawan manca negara. Ciri-ciri
khas tersebut harus mampu me-
nunjukkan keunikan tertentu atau
SEKALI-SEKALI
ms16isM ib X3 PINDAH TEMPAT
KAN. NGGAK...
KENAPA..!
}
"Catur muka'
Sejak dahulu Bali dikenal seba-
gai DTW utama di Indonesia, bah-
kan sudah menjadi 'barometer'
perkembangan pariwisata nasio-
nal. Hal ini tidak lain karena Bali
memiliki berbagai produk wisata
yang bernilai tinggi yang lebih di-
kenal dengan "catur muka", yakni
wisata budaya, wisata alam, wisata
tirta dan wisata konvensi. Di sam-
ping itu sarana dan prasarana pe-
nunjang kepariwisataan di daerah
Bali sangat mendukung kemajuan
dan perkembangan tersebut.
Kondisi seperti ini harus terus di-
pertahankan kalau perlu ditingkat-
kan dengan antara lain meningkat-
kan kegiatan promosi dan pema-
sofi pemasaran yang terkenal yaitu
saran yang berlandaskan pada filo-
dikenal, dipercaya dan safety.
Dari pengalaman diketahui bah-
wa pendekatan pemasaran pariwi-
sata dewasa ini berbeda dengan
apa yang dilakukan pada masa-
masa lampau. Pendekatan pema-
saran pariwisata dewasa ini lebih
diarahkan pada usaha pemasaran
secara terpadu (modern tourism in-
tegrated marketing), 480
Secara kronologis pendekatan
pokkan ke dalam tiga bagian,
pemasaran pariwisata dikelom-
yaitu;
Pendekatan pemasaran secara
historis (klasik): Product oriented.
Menurut konsep ini usaha pema-
saran dimaksudkan untuk meya-
kinkan calon konsumen bahwa ke-
kayaan dan sumber daya suatu
DTW adalah yang mereka perlu-
kan. Produk yang dimaksudkan di
sini adalah kombinasi dari keselu-
ruhan unsur yang dinikmati oleh
pengunjung di suatu DTW.
Pendekatan pemasaran mode-
ren: visitors oriented. Dalam era ini
motivasi dan kepuasan wisatawan
menjadi pokok penekanan yang
utama. Pertanyaan yang sekarang
timbul adalah Apa yang diingin-
kan oleh calon konsumen?' dan
berhenti bertanya 'Apa yang masih
aya miliki untuk dijual ?"
Pendekatan pemasaran pariwi-
sata mendatang: destination orien-
ted. Oleh karena meningkatnya
jumlah manusia yang mengadakan
perjalanan maka dirasa perlu un-
tuk mempelajari dan menganalisis
pengaruh-pengaruh positif dan ne-
gatif terhadap suatu DTW. Jika
suatu DTW lebih banyak member-
ikan pengaruh positif baik dari segi
ekonomi, sosial budaya maupun
lingkungan maka DTW tersebut-
lah yang harus diprioritaskan da-
lam pengembangannya.
Wisata aneka minat
Kegiatan pariwisata baik dalam
RABU, 5 APRIL 1989
CECE 89,
RIBERY
**
ohal or
cand
00.45-00:09: 00 85.00.21
Ind
Ava
✰✰✰
Sudah dimaklumi bersama bah-
wa produk wisata yang kiranya da-
pat menjadi andalan pariwisata ki-
ta saat ini dan pada masa-masa
mendatang adalah berupa wisata
konvensi, wisata bisnis dan wisata
aneka minat (special interest, se-
perti wisata alam, wisata olah raga,
wisata adventure, wisata agricultu-
re dan lain sebagainya).
Berbagai jenis produk wisata
tersebut erat kaitannya dengan
motivasi perjalanan wisatawan.
Motivasi inilah yang pada akhirnya
mengungkapkan tipe produk yang
dibutuhkan oleh wisatawan. De-
ngan demikian suatu destinasi da-
pat memiliki sejumlah produk wi-
sata kalau destinasi tersebut dapat
menghasilkan berbagai jenis atrak-
si kepada wisatawan. Yang terpen-
ting adalah bahwa kita dapat mem-
bedakan antara produk pokok
yang diinginkan wisatawan sesuai
motivasinya dan produk pelengkap
yang mendorong terjualnya pro-
duk pokok.
Dengan demikian jelas bahwa ane-
ka jenis produk wisata berubah
bentuk dan dimensi mengikuti se-
lera wisatawan, motivasi perjalan-
an dan lingkup penampilan atraksi
dan fasilitas di destinasi tertentu.
Meskipun demikian dari segi wi-
satawan, produk wisata adalah
pengalaman pribadi yang berbeda
dalam dimensi ruang dan waktu.
Akhirnya dalam memasarkan
produk wisata, segmen pasar harus
ikut pula diperhatikan. Hal ini me-
liputi kriteria pokok yaitu daya be-
li, pengalaman perjalanan wisata-
wan pada masa lampau, sikap,
pengetahuan dan perhatian wisata-
wan terhadap suatu hal tertentu.
Ada wisatawan yang mengingin-
kan atau menyenangi bidang kebu-
dayaan atau kota-kota besar, ada
yang bertujuan untuk mencari
pengalaman dan akhirnya ada pula
wisatawan yang berwisata untuk
sekadar rileks. Keinginan para wi-
satawan satu dengan yang lainnya
memang berbeda, namun semua-
nya mempunyai suatu harapan
yang sama yakni bahwa penduduk
di tempat yang dikunjungi ramah
dan sopan, di tempat yang dikunju-
ngi terdapat berbagai hal yang da-
pat dilihat dan dilakukan dan me-
miliki pemandangan dan keindah-
an alam yang menarik, serta terse-
dianya sarana akomodasi, tran-
sportasi, telekomunikasi dan lain
sebagainya.
Dengan demikian motivasi ber-
wisata wisatawan yang bersifat he-
terogen tersebut dapat bermuara
di satu tujuan yang sama yaitu ke-
puasan dan kenangan.
Catatan
Menurut seorang pengamat ekonomi, pariwisata di negara
berkembang dikuasai pasar pariwisata internasional yang bersi-
fat oligopolistis, oleh perusahaan pengelola di negara maju.
Jangan-jangan dijadikan obyek saja.
Anggota DPR, Albert Hasibuan S.H. mengatakan, keterangan
pemerintah jangan dipertentangkan dengan DPR.
Masyarakat tidak menghendaki pertentangan tetapi "ja-
batan tangan" yang dapat dijangkau tentunya.
✰✰✰
Hari Kesehatan Sedunia 7 April mendatang bertema Lets Talk
Health dan di Indonesia menjadi Hidup Sehat Modal Berkarya.
-Harap saja "pasar modal" Indonesia bisa tambah maju.
oc ar
Bang Podjok
SENIN, 3 AP
B
A
PERNYATAA
atas sering ditem
kaian bahasa Indo
tematika. Tidak
pernyataan itu se
tafsirkan dalam
ertian) sehingga
kan kekeliruan.
tian pernyataan
kan bahwa yang l
A lebih dari B da
dikit. Kedua, bis
bahwa B yang leb
kecil daripada B
Andaikata, p
gunakan dalam
pembuat soal tic
buat pernyataan
nya, ia membu
untuk maksud
pertama, yaitu
pada B. Kemu
soal (misalkan a
sirkan pernyataa
maksud (pengem
yaitu A lebih kes
kankah kita tida
kan si penjawab
Jawaban yang d
nak didik itu ber
diharapkan ole
Padahal perbe-
bukan karena s
(bodoh) melain
daan penafsiram
disebabkan ole
itu memungkin
nafsiran seperti
Dalam pemak
nesia dalam sc
pembuat soal ja
bebani anak (p
ngan kesukaran
hasa soal. Apa
tika, si anak m
mate-matikanya
Tidak
mend
menge
mense
menta
mente
menta
merub
memb
pembe
15.758 H
Mataram -
Luas areal s
gunakan irigasi
1989 di Kabup
Tenggara Barat
hektar, demik
H.Oemar Haro
Kepada warta
ia menjelaskan
terdiri dari iriga
tar, semi teknis
belum teknis se
sedangkan luas
capai 17.401 he
Jumlah bend-
banyak 37 buah
buah. Bendung
lain bendungan
tujuh Km mamp
seluas 1.851 hek
mengairi 803 he
Guna lebih m
merataan dalam
lah dibentuk se
petani pemakai
layah kecamatan
mendapat dana
Rp 600 ribu dam
Menurut Bup
katkan produksi
LOW
Dibutuhkar
masi) untu
Sarjana Ek
Negeri Jur
6,5 (enam
Umur 24 s.
Pelamar se
sendiri den
1. Copy lja
2. Copy ST
3. Copy R
4. Riwayat
5. Surat K
6. Surat K
7. Surat P
diseluru
8. Copy K
9. Pas Ph
Pelamar ya
gu di Kanto
No. 160 De
lambatnya
