Tipe: Koran
Tanggal: 1995-02-05
Halaman: 07
Konten
YUDHA MINGGU, 5 FEBRUARI 1995 Kerusuhan Sepakbola Akibat Himpitan Hidup Atau Fanatisme? memiliki berbagai kesamaan nasib itu, mereka berperilaku liar, sebagai protes sosial yang meenuntut perhatian sosial pula. Kerusuhan oleh supporter kota lain sejak Liga Indonesia sepakbola meledak lagi di digulirkan seperti Yog- Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Medan, dan Malang, yakarta dan di Stadion Krida saat Persema Malang men- Rembang ketika PSIM Yog- jamu Persebaya Surabaya 7 yakarta menjamu Persebaya Januari lalu yang berke- Surabaya (0-0) dan PSIR sudahan 0-0. Ini menga- Rembang melawan Persegres kibatkan rusaknya enam Gresik (1-1) 28 Januari 1994. mobil dan puluhan sepeda Menurut dokter tim Per- sebaya, Bektu Hendrojodjati, sedikitnya 30 supporter Per- sebaya yang luka-luka di- Sebagai contoh, ia menun- juk seseorang yang memiliki rasa fanatisme yang tinggi, tetapi sempit terhadap merk barang. Orang itu tidak mau sedikit pun barang kesu- kaannya itu dicemooh atau dilecehkan orang lain. Persempit kesenjangan motor. "Persoalan perilaku hooli- gan yang dilakukan supporter itu tidak akan terjawab de- ngan pendekatan keamanan saja, tetapi justru yang sub- tansial adalah mempersempit kesenjangan sosial," katanya. larikan ke rumah sakit em- Namun, menurut dia, pen- gamanan yang ekstra-ketat dari pihak keamanan itu merupakan tindakan yang te- pat sebagai tindakan pen- cegahan dan represif untuk menjaga keselamatan penon- ton yang betul-betul ingin menyaksikan pertandingan dan warga lain yang tidak tahu-menahu tetapi menjadi korban keberingasannya. pat di antaranya mengalami gegar otak, dua patah tulang, dan seorang tewas. "Kerusuhan kali ini meru- pakan peristiwa paling buruk dalam sejarah persepak- bolaan Indonesia," kata ketua panitia penyelenggara PSIM Bambang Pribadi yang menyesalkan tindakan brutal supporter Persebaya itu. Bahkan, ia menyatakan akan menuntut Persebaya Rp 15 juta sebagai ganti rugi perusakan SMA Piri, pintu masuk stadion, loket karcis dan kursi kayu di dalam stadion. Di Rembang, meski tidak terjadi baku hantam antar- supporter, tetapi para pen- dukung PSIR melucuti kaos pemain PSIR kemudian membakarnya. Mereka juga membakar spanduk yang sebelumnya digunakan untuk mendukung tim. Peristiwa kerusuhan serupa telah terjadi di Surrabaya ketika Persebaya melawan Barito Putra Banjarmasin 11 Desember yang berakhir 2- 2. Supporter merusak empat mobil dan 45 sepeda, serta merampas dompet dan per- hiasan baik pejalan kaki, pengendara motor, maupun pembawa mobil. Begitu juga di beberapa Apakah aksi beringas itu hanya disebabkan oleh rasa kecewa terhadap tim yang didukungnya, karena tidak berhasil menang pertan- dingan atau ada faktor lain yang mempengaruhi ter- jadinya kebrutalan supporter? Perilaku supporter yang brutal itu tampaknya tidak hanya disebabkan oleh rasa kecewa akan ketidak ber- hasilan kesebelasan idolanya, tetapi juga himpitan hidup yang cukup berat dan mene- kan supporter baik secara sosial maupun psikologis. Guru besar FISIP Univer- A Penerapan ilmu pengetahu- an dan teknologi (iptek) telah berhasil meningkatkan pres- tasi seorang atlet seperti pada cabang olahraga renang, bas- ket, tembak, bulutangkis, dan olahraga dirgantara. sitas Airlangga Surabaya Prof. Soetandyo Wigjosoe- broto berpendapat, kebruta- lan supporter itu tidak hanya karena rasa fanatisme yang tinggi, tetapi banyak di- pengaruhi oleh perasaan so- sial, yakni kesamaan nasib hidup dalam mengarungi beratnya himpitan hidup, terutama pemenuhan kebutu- han ekonomi. Keandalan iptek dalam meningkatkan prestasi olah- Sosiologi ini menjelaskan bahwa pelaku hooligan itu rata-rata masyarakat margi- nal yang baik secara sosial maupun ekonomi tergolong kurang mampu dan kurang terpenuhi kebutuhan so- sialnya di lingkungan kota yang serba ada dan mewah. B Karena itu, katanya orang Komnas HAM ini, ketika sesama supporter berkumpul dalam kerumunan yang "Penjagaan ketat itu hanya bersifat temporer saja dan setiap saat akan terjadi kalau tidak dijaga. Karena itu, upaya yang paling tepat dan abadi adalah menyeimbang- kan kondisi sosial dengan mempersempit jurang pe- misah antara masyarakat kurang mampu dengan yang mampu," ucapnya. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Dr. dr. Hanafi Muljohardjono men- gatakan, perilaku beringas supporter itu terjadi karena rasa fanatisme yang tinggi tetapi sempit yang menjurus Chauvinisme. "Mereka maunya selalu menuntut tim yang dibelanya itu senantiasa menang dalam pertandingan dan jika men- derita kalah atau seri, apapun alasannya, mereka tidak bisa terima," katanya. orbi, Presiden mengingatkan raga Indonesia (KONI) me- agar Komite Nasional Olah- nerapkan iptek dalam pem- "Apalagi, kalau sudah berupa kerumunan yang memiliki rasa fanatisme yang sama, mereka akan menjadi ketakutan untuk melam- piaskan kekecewaan dengan aksi brutal," katanya. binaan olahraga karerna banyak negara berhasil me- raih prestasi tinggi adalah mereka yang memanfaatkan- nya. Hanafi menyatakan, rata- rata masyarakat yang me- miliki fanatisme sempit itu adalah mereka yang tingkat pendidikannya relatif rendah. PERTANDINGAN PERSAHABATAN. Salah satu mata acara dalam jambore 1995 Karang Taruna ini, diadakan pertandingan persahabatan dalam cabang bola volly dan tenis meja. Tampak dalam gambar kedua tim bola volly berpose sejenak sebelum melakukan pertandingan. (Photo: Evi Ascp) Ketua Yayasan Supporter Surabaya (YSS) Wastomi Suhari menilai, selain aksi kebrutalan itu disebabkan oleh rasa fanatisme yang sempit, juga para pelakunya adalah orang yang suka rusuh dengan memanfaatkan suasana. "Kalau saya amati, pela kebrutalan itu mereka yang memiliki latar belakang yang tidak bagus, seperti pencopet atau pejambret yang men- yusup di antara penonton," katanya. Ia memberikan contoh, tidak mungkin seseorang yang kecewa karena timnya tidak berhasil menang kemu- dian merampas dompet atau perhiasan orang lain. Demikianlah, tampaknya masalah kerusuhan oleh sup- porter sepakbola itu meru- pakan rangkaian benang kusut yang tidak hanya di- sebabkan oleh faktor psi- kologis, yakni rasa fanatisme yang sempit, tetapi terkait pula dengan faktor sosial dan ekonomi. (Ahmat Munir) "Ketika ia dikahlan oleh Mizui, maka pukulan berat harus diterima Susi Susanti. Kegagalan ini juga berpen- garuh kepada seluruh kon- tingen terutama bagi chef de mission," tambah Myrna. Kegagalan Susi Susanti tersebut adalah salah satu Petenis Republik Czech mengembalikan bola dengan pukulan voli dalam set ketiga pertandingannya melawan petenis Jerman Michael contoh dari pengaruh aspek Stich dalam kejuaraan Australia Terbuka di Melborne. Novacek menang dengan 7-5, 6-2 dan 6-4. (Foto: Antara) psikologi pada prestasi Penerapan iptek di bidang olahraga selama dua hari, 22- 23 Januari, juga dipamerkan di Istora Senayan Jakata da- lam rangkaian Musornas KONI VII. OLAHRAGA Pameran yang menampil- kan antara lain hasil pene- litian yang dilakukan ber- bagai perguruan tinggi seperti Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Univer- sitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Airlangga (Una- ir) Surabaya dan Kebudaya- an, dan Pusat Ilmu Olahraga KONI Pusat. dices S Sementara itu, menurut penelitian yang dilakukan Laboratorium Instrumental dan Kontrak, jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik In- dustri Institut Teknologi Ban- dung (ITB), cuaca yang se- ring berubah-ubah akan berpengaruh pada ketahanan fisik seseorang terutama pada para atlet yang tengah melakukan latihan fisik. Penelitian yang dilakukan Dr Ir. Lis Faida I. Michtadi itu mengungkapkan pula bahwa metabolisme akan Dari Aspek Psikologis Dalam pertandingan olah- raga tidak jarang seorang atlet yang diunggulkan ditunduk- kan oleh atlet yang sebelum- nya tidak memiliki prestasi, seperti yang dialami Susi Susanti pada Asian Games XII di Hiroshima, Oktober lalu. Pemain kanan dalam kesebelasan Mataram Putra Yance Metwey mengolah bola sementara back kanan Pelita Jaya Harrie Setyawan membayanginya dalam pertandingan lanjutan Liga Indonesia di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Tuan Rumah Pelita Jaya menang dengan 2-0, tanpa insiden yang membahayakan. (Foto: Ant) Keberhasilan Atlet Tidak Lepas Saat itu, di tengah paceklik medali yang dialami kon- tingen Indonesia, Susi yang sangat diharapkan meraup emas justrru menderita kekalahan dan "muka baru", Hisako Mizui, dari Jepang. Kegagalan ratu bulutang- kis asal Tasikmalaya itu kata psikolog olahraga, Myrna Soekasah, adalah salah satu contoh dari banyak kasus kegagalan seorang atlet yang disebabkan faktor psikologis. Menurut analisis Myrna, Susi saat itu dihinggapi pera- saan "takut kalah" karena sebelum kontingen Indonesia berangkat ke pesta olahraga itu ia mendapat beban untuk dapat menyumbangkan medali emas. "Tampaknya keharusan ini menjadi beban bagi peme- gang medali emas di olim- piade Barcelona," kata My- rna yang semasa mudanya dikenal sebagai peloncat indah itu. Swedia Dan Rusia Hadapi Pertandingan Berat Di Piala Davis raga juga diakui Presiden Soeharto ketika membuka Musyawarah Olahraga (Mu- sornas (KONI VII yang di- hadiri tidak kurang dari 600 peserta yang terdiri atas unsur pimpinan KONI Pusat, KO- NI Tingkat I dan II, serta pimpinan organisasi anggota KONI di Jakarta, Senin. seorang atlet melakukan latihan fisik. Kalori hasil metabolisme juga makin besar yang pada akhirnya akan dapat menai- kan suhu tubuh. Dan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa faktor cuaca sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat pengeluaran kalori. Hasil metabolisme itu akan mengurangi kemampuan ma- nusia dalam melakukan akti- seorang atlet yang dibahas dalam sebuah simposium yang diadakan Fakultas Psi- kologi Universitas Taruma- negara di Jakarta, Sabtu. Simposium yang salah satu tujuannya membantu peme- rintah untuk meningkatkan prestasi olahraga itu menam- ilkan pembicara dari ber- bagai kalangan, mulai dari pakar psikologi, pelatih, hingga para atlet dan mantan atlet. vitas fisik, sehingga secara tidak langsung cuaca akan berpengaruh terhadap keta- hanan atlet. Staf ahli psikologi di KONI Pusat, Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, mengatakan bahwa saat tampil di lapangan, "performance" sang atlet san- gat ditentukan "pikirannya". Senapan angin Penelitian lain adalah ten- tang penggunaan senapan angin buatan rakyat Cipa- cung, Jawa Barat, untuk olahraga menembak. Penelitian yang dilakukan Ir. Giovani Bintang Rahardjo dan Dr. Ir. Boedi Darma Sidi itu, ternyata menunjukkan bahwa senjata angin buatan rakyat Cipacung ini tidak kalah dengan buatan Jerman yang dimiliki olah atlet pe- "Kalau pikiran seseorang atlet dikuasai oleh pikiran- pikiran yang menganggu seperti khawatir dan cemas yang berlebihan maka di- pastikan konsentrasi atlet tersebut akan terganggu. Bila konsentrasi seorang atlet terganggu maka akan sulit baginya mempertahankan prestasi yang maksimal," katanya. Dalam simposium tersebut Prof. Singgih yang menjadi pembicara inti, secara pan-. jang lebar menguraikan aspek psikologi dalam bidang olahaga. bertambah besar pada saat tembak nasional Merima Burhan. Dikatakannya aspek psi- kilogi antara lain dilakukan dalam penelitian untuk me- milih calon atlet serta pem- binaan. "Konsultasi psikologis ini biasanya dilakukan dengan cara pendekatan pribadi," katanya. Menurut Prof Singgih, cara ini banyak dilakukan oleh Dalam pameran itu juga ditampilkan model ring bola basket lipat yang diteliti oleh Dr Ir. Djoko Soeharto dari ITB. Menurut hasil pene- litiannya, ring bola basket yang baik adalah yang mem- punyai bobot seringan mung- kin dan mudah dipindah- pindahkan, dapat dilipat, serta mempunyai kekuatan yang cukup tinggi. Untuk pengembangan iptek di bidang olahraga re- nang, para peneliti alat-alat olahraga nasional menemu- kan kenyataan bahwa penu- tupan kepala yang digunakan oleh para perenang ternyata juga berpengaruh terhadap prestasi atlet, meskipun tidak banyak. Adanya persaingan dalam bidang olahraga renang mau tidak mau membuat para ahli melakukan penelitian men- genai tingkat kesempurnaan teknik latihan termasuk penggunaan tutup kepala. Dalam penelitian itu juga diteliti mengenai penerapan iptek dalam berbagai gaya negara-negarra di Asia yang prestasi olahraganya sangat maju seperti Jepang, China dan Korea. Melalui teknik konseling, seorang atlet antara lain diajarkan cara mengenda- likan emosi dan mengopti- malkan fungsi kognitif yang tepat. Seorang pembicara lain, Dr Nitya Wismaningsih Sudrad- jat S. PS. M.Pd. menuturkan bahwa potensi dan kele- mahan dalam kepribadian seorang atlet dapat diperoleh melalui pemeriksaan psiko- logis. "Data ini akan bermanfaat untuk mengarahkan pembi- naan agar atlet dapat mening- katkan prestasinya," katanya. Menurut Dr Nitya psikolog kontingen Jabar pada PON XII dan XIII prestasi olah- ragawan ditentukan oleh ber- bagai faktor baik dari dalam diri maupun dari luar diri atlet. Menurut dia, sering kali pada sekelompok atlet utama yang memiliki tingkat ke- bugaran jasmani maupun ketrampilan yang serupa ada di antaranya yang gagal menunjukkan penampilan pada pertandingan sesuai dengan kemampuan sebenar- nya. "Kegagalan semacam ini biasanya karena faktor persiapan yang kurang serta keadaan fisik atlet," katanya. Namun dari hasil pengama- tan terhadap tingkah laku, kata Nitya, faktor psikologis paling memberikan pengaruh kepada penampilan atket, terutama pada saat-saat yang Sementara itu pada pene- litian yang dilakukan men- genai pengaruh gerak jalan jauh terhadap tubuh manusia yang dilakukan Pusat Ke- sehatan Jasmani dan Rekreasi (PKJR) Depdikbud menye- butkan bahwa tinggi badan atlet akan berkurang rata-rata dua sentimeter. Hal ini disebabkan oleh tertekannya tulang belakang. Menurut Sumitro dari PK- JR, dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa berat badan peserta gerak jalan jauh antara Yogyakarta dan Jakarta akan berkurang dua kilogram. Penelitian yang dilakukan tahun 1993 terhadap 150 orang, ternyata gerak jalan yang menempuh perjalanan 631 kilometer itu juga ber- pengaruh pada hemoglobin (sel-sel darah merah) dan organ tubuh lainnya. Lain lagi penelitian yang dilakukan di SMA Olahraga Ragunan sebagai tempat pendidikan atlet nasional terhadap pelajar usia enam sampai 19 tahun. Dari penelitian itu didapati bahwa tingkat kesehatan UNH menegangkan, katanya. Pendapat yang sama juga dikemukakan Myrna Soeka- sah. Sementara itu pelatih bola- voli nasional, Winarto, men- gatakan bahwa pendekatan psikologis yang dilakukan- nya dalam pembinaan atlet selama ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam peningkatan prestasi atlet. "Sebagai seorang pelatih mau tidak mau kita harus mengetahui segala hal men- genai atlet, bahkan kalau perlu masuk ke dalam kehi- dupannya," kata Wienarto yang berhasil membawa tim bola voli Indonesia merebut medali emas tiga kali ber- turut-turut pada pesta olah- raga Asia Tenggara (Sea Games). "Saya pernah ikut menga- tasi masalah atlet yang sedang 'ribut' dengan pacarnya, karena kalau tidak diatasi akan berpengaruh pada pres- tasi atlet," kata Wienarto mengemukakan salah satu contoh dari keterlibatan se- orang pelatih dengan masalah pribadi atlet asuhannya. Pada kesempatan itu atlet bola voli nasional, Imam Agus Faisal, mengakui bah- wa aspek psikologis sangat berpengaruh dalam mem- bentuk dirinya sebagai seorang atlet. 7 renang seperti pada gaya jasmani seorang pelajar dari dada, kupu-kupu, punggung dan gaya bebas. tahun ke tahun akan menurun, apabila tidak terus dibina. Tampaknya pembinaan me- rupakan salah satu hal yang mau tidak mau tidak boleh ditinggalkan terutama pada "Selain kemauan, motivasi dan disiplin yang selalu menjadi pegangannya saya," kata kapten tim bola voli na- sional selama dasa warsa teraknir ini. * Depo HALAMAN VII Jakarta, setiap pelukis itu mementingkan egonya. Hal ini wajar saja, tetapi ego pelukis yang dapat merusak kebersamaan dan organisasi terpaksa ditindak atau di- keluarkan dari organisasi. Yang penting ego kreatifitas berkarya untuk maju secara individu maupun secara organisasi. Kita mengingin- kan di organisasi Desarta ini dipenuhi gejolak persaingan kreatifitas karya seni bukan persaingan kreatifitas karya seni bukan persaingan "ma- teri" antara sesama pelukis. Apa yang dikatakan Syafril Koto tersebut memang ada benarnya, suatu Idealisme lebih berarti dari pada "ko- mersialisasi". Karena banyak faktor yang dapat merugikan organisasi maupun anggo- tanya sebab dari sikap ko- mersialisasi itu akan me- nerbitkan suatu kasus yang mengenai psikologi olahraga itu terungkap bahwa faktor psikologi sangat erat kai- tannya dengan prestasi se- orang olahragawan. Namun, seperti dikatakan Ketua Pelti DKI Jaya, Mar- tina G Widjaja, masalah ter- sebut masih jarang diper- hatikan olehe para pembina keolahragaan di tanah air. "Aspek psikologi yang diterapkan di dunia olahraga di Indonesia masih sangat minim sekali, padahal aspek psikologis ini amat penting dalam menunjang prestasi atlet selain disiplin dan lati- han yang dilakukan secara intensif," kata wanita yang mengaku sangat "keranjin- gan tenis itu. Di tengah obsesi pemerin- tah Indonesia yang ingin mengangkat citra bangsa melalui olahraga, kepriha- tinan seperti yang dituturkan Martina nampaknya perlu segera mendapat perhatian dari kalangan pembina. Jarang Dalam simposium sehari Gibbons) Rektor Universitas Taru- manegara, Drs. Agustinus Kahono, mengatakan usaha pemerintah dan minat mas- yarakat yang makin besar dalam peningkatan prestasi olahraga nasional diharapkan dapat memacuminat dan para pakar psikologi untuk turut berbagi pengalaman dalam dunia olahraga di tanah air. Karena, katanya, peran faktor psikologis sangat mempengaruhi pasang surut prestasi olahraga nasional. "Keberhasilan seorang atlet dalam meraih jenjang prestasi puncak tidak hanya dilandasi oleh adanya ke- mampuan fisik dan teknik tetapi juga perlu ditunjang oleh kondisi psikologisnya," kata Kahono. (Zeynita usia produktif. Hal itu seperti juga yang menjadi harapan Presiden Soeharto bahwa dalam meningkatkan prestasi olahraga juga perlu meman- faatkan iptek dalam proses pembinaannya. (26) Dari Hal VI memiliki virus membaha- yakan bagi kebersamaan yang tumbuh dalam suatu gerak aktifitas dan produk- tifitas kesenian. Depo Seni Jakarta yang disingkat dengan nama De- sarta itu berdiri tanggal 9 Juli 1992 dengan ketuanya Syaf- ril Koto. Sekretaris Asih Nurhayati. Bendahara Drh. Effendi Saleh dan wakil ben- dahara Ana Wulandari. De- wan seleksi Indra Syafrin dan Sumaryo Hadi. Sedangkan anggota tetapnya yang juga turut membentuk organisasi ini yaitu Bambang Loekito dan Prajoyo. Adapun pro- gram tetap organisasi ini berpameran bersama setahun dua kali. Untuk berpameran tunggal setahun sekali yang harus dilakukan anggota de- ngan dukungan biaya or- ganisasi dan biaya si pelukis itu sendiri. (Anggia Putra)