Soerabayasch, Koran Tertua Koleksi Monumen Pers Nasional

Soerabayasch adalah koran tertua yang dimiliki Monumen Pers Nasional. Koran ini terbit pada tanggal 20 Mei 1857 di Surabaya menggunakan bahasa Belanda. Di dalamnya, koran ini berisi tentang berita-berita politik, ekonomi, dinamika sosial serta iklan di seputar Hindia Belanda. Koran ini menjadi informasi bagi masyarakat Belanda dan elite pribumi yang ada di Surabaya. Soerabayasch merupakan pers kolonial abad ke-19 yang berfungsi sebagai informasi, legitimasi, dan kontrol sosial.

Isi berita dari koran Soerabayasch meliputi terjadinya kerusuhan pada bulan April di pedalaman Palembang yang mengakibatkan beberapa bentrokan dengan para serdadu Belanda. Masih di Sumatera Selatan, terjadi pertempuran pada tanggal 15 April, dekat Pematang Pinang, di mana penduduk pribumi yang sangat banyak melakukan serangan, menyebabkan seorang letnan dua dan dua orang tewas dari pihak Belanda, sementara dua perwira dan tiga prajurit terluka ringan. Pribumi yang melawan ikut dibunuh.

Pada tanggal 11 Mei, Ratu Belanda berangkat ke Singapura kemudian melanjutkan perjalanannya melalui darat ke Belanda. Berita lain tentang Kolonel E.C. C. Steinmetz, Ksatria dalam Ordo Militer William, Kelas 4, Kepala Staf Angkatan Darat Hindia Belanda, cuti dua tahun untuk memulihkan kesehatannya di Singapura. Panglima jenderal, sejumlah besar perwira utama, dan bawahan, serta pegawai negeri sipil hadir pada saat melepas keberangkatan perwira utama tersebut. Selama hampir seperempat abad di wilayah ini, dan setelah naik pangkat dari letnan satu insinyur hingga pangkatnya saat ini, Kolonel Steinmetz sangat dihormati dan dihargai, baik karena jasa militernya maupun karena keinginannya untuk mempromosikan seni dan ilmu pengetahuan, perdagangan, dan pembelajaran. Kenangan akan hal ini tentu saja mendorong banyak orang untuk menyampaikan harapan tulus agar ia segera pulih dan kembali dengan selamat. Ada juga berita tentang para kuli Tionghoa baru-baru ini diturunkan dari kapal Henrietta dan dibawa ke kuil Tionghoa di Kampong Baharoe.

Berita lainnya di pantai Barat Sumatera akibat hujan lebat mengakibatkan banjir, banyak jembatan di distrik Mandheling (pemukiman Tapanuli) telah hancur. Tanah longsor juga terjadi, sehingga mengganggu komunikasi. Pekerjaan langsung dilakukan untuk memperbaiki kerusakan, dan banyak bantuan diterima dari keluarga dan penduduk daerah lain. Dari segi ekonomi adanya laporan dari dataran tinggi Padang mengenai panen kopi yang sangat baik. Lelang 40.000 pikul (satuan tradisional zaman kolonial) kopi pemerintah yang diadakan di Padang pada tanggal 4 April menghasilkan keuntungan kotor senilai 1,316.139,115 gulden, atau rata-rata 32,108 gulden per pikul, sehingga lebih tinggi dari 0,61 gulden per pikul pada lelang terakhir.

Berita dari Bengkulu, ketika pada malam tanggal 28 Februari hingga 1 Maret, terjadi kebakaran akibat kelalaian di Sawa Pass (dekat Kota Manna, Bengkulu Selatan), menghancurkan enam rumah. Kerusakan yang disebabkan diperkirakan mencapai 72 hektar dan tidak ada korban jiwa. Berita lain dari Bengkulu pada tanggal 10 April, kapal uap Timur Laut Soerabaya, milik perusahaan Cores de Fries, berlabuh di Teluk Poeloe. Kapal tersebut datang dari Padang dan selama perjalanan mengalami kerusakan mesin, sehingga terpaksa berhenti berlayar. Selain itu karena faktor cuaca dan badai yang dihadapi, menyebabkan penundaan menjadi lebih lama.

Usaha dilakukan untuk memperbaiki kerusakan dan kebocoran namun tetap tidak dapat diatasi menyebabkan kapal harus bertahan sampai sebulan. Kapal tersebut kemudian ditarik ke Batavia oleh kapal uap milik perusahaan yang sama yang datang dari Padang. Pada akhirnya kapal uap Soerabaya sampai dengan selamat di Batavia. Dengan kejadian ini, bisa melihat acuan mengenai navigasi uap di Hindia Belanda berdasarkan Dekrit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal Buitenzorg, 28 Februari 1852 (Ind. Staatsblad 1852 no. 20) yang berisi “Peraturan mengenai langkah-langkah keselamatan ketika menggunakan mesin uap di Hindia Belanda.”

Peraturan ini dapat dianggap cukup berkaitan dengan keandalan mesin uap dan pengoperasian kapal yang efisien. Akan tetapi, peraturan ini tidak memuat ketentuan mengenai konstruksi dan ukuran kapal. Karena tidak adanya asuransi untuk kapal uap di Hindia Belanda, maka pengawasan oleh perusahaan asuransi tidak ada, insiden baru-baru ini yang melibatkan berbagai kapal uap dan demi kepentingan publik, membuat pemerintah perlu mempertimbangkan pengawasan terhadap kelayakan berlayar kapal uap baru dan pemeliharaan berkelanjutan kapal-kapal yang sedang beroperasi melalui  petunjuk teknis yang sesuai.

Yang menarik dari Lampung hingga akhir April situasi di daerah ini secara umum menguntungkan karena sebagian besar wilayah berhasil panen padi dengan yang cukup memuaskan. Hasil pemeriksaan kesehatan juga menunjukkan sebagian besar masyarakat dinyatakan sehat, dan hanya terjadi kasus cacar sesekali.

Dari mancanegara, fenomena baru muncul klub-klub Paris, yang membuktikan perubahan zaman. Merokok cerutu menjadi biasa sehingga perokok ingin merokok di ruang-ruang yang lebih besar karena merasa tidak puas dengan ruang merokok yang sempit. Menurut laporan tentang monopoli tembakau, Paris mengonsumsi 24 juta cerutu setiap tahunnya. Telah diperhitungkan bahwa, jika kegemaran merokok meningkat di Prancis dibandingkan dengan 25 tahun terakhir.

Koran Soerabayasch tidak hanya memuat berita dan artikel, tetapi juga memuat iklan-iklan dari perusahaan-perusahaan Belanda dan pribumi yang menawarkan produk dan jasa mereka bagi masyarakat Belanda dan elit pribumi yang ada di Surabaya. Soerabayasch merupakan pers kolonial pertengahan abad ke-19 yang berfungsi sebagai informasi, legitimasi, dan kontrol sosial pada masa itu. Dengan demikian, surat kabar ini menjadi sumber sejarah yang penting untuk memahami dinamika politik, ekonomi, dan sosial Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19. (Eti Kurniasih)

Message Us on WhatsApp