{"id":1132,"date":"2012-07-19T07:44:38","date_gmt":"2012-07-19T07:44:38","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1132"},"modified":"2012-07-19T07:44:38","modified_gmt":"2012-07-19T07:44:38","slug":"penerbitan-pers-di-masa-penjajahan-dan-awal-kemerdekaan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/penerbitan-pers-di-masa-penjajahan-dan-awal-kemerdekaan-indonesia\/","title":{"rendered":"Penerbitan Pers Di  Masa Penjajahan Dan Awal Kemerdekaan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1133 alignleft\" title=\"harkitnas3\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3-200x300.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3-200x300.jpg 200w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3-768x1152.jpg 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3-683x1024.jpg 683w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/harkitnas3-400x600.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px\" \/><\/a>Banyak orang yang tidak paham sejak kapan surat kabar terbit di  di Indonesia. Penerbitan  pers mengalami perjalanan panjang mulai jaman penjajahan Belanda diawal abad 18 sampai ikut memberikan kontribusi positif saat anak negeri ini berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan semangat melahirkan negara yang merdeka . Diawali dengan yang hanya berisi iklan sampai dicetak dengan mesin , penyebaran surat kabar perlahan tapi pasti  semakin meningkat dan makin banyak diminati orang saat itu  . Selain sosok  pejabat Belanda maka kaum priyayi dan terpelajar pribumi Indonesia juga ikut berperan dalam perjalanan penerbitan surat kabar di Indonesia .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"> <strong>Masa Penjajahan Belanda <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tanggal 7 Agustus  tahun 1744  telah  terbit surat kabar yang dicetak bernama <strong>Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes<\/strong> yang sering dipendekkan menjadi   <strong>Bataviasche Nouvelles. <\/strong>Surat kabar ini terbit hanya  1 tahun<strong>.<\/strong> Sebenarnya pada tahun 1615 Gubernur Jenderal pertama VOC Jan Piterszoon Coen telah memerintahkan menerbitkan <strong>Memorie der Nouvelles<\/strong> . penerbitan ini tidak dicetak tetapi ditulis tangan. <strong>Memorie der Nouvelles<\/strong> tidak hanya dibaca orang di Betawi saja tetapi  juga merupakan bacaan tetap  para pejabat Belanda di Ambon  terbitan ini bertahan sampai tahun 1644 .<!--more-->Tanggal 5 Januari 1810 Gubernur Jenderal Daendels menerbitkan sebuah surat kabar mingguan <strong>Bataviasche Koloniale Courant<\/strong> yang memuat tentang peraturan-peraturan tentang penempatan jumlah tenaga untuk tata buku, juru cetak, kepala pesuruh  dan lain-lain, harga langganan juga telah ditulis di terbitan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 1811 saat Hindia Belanda menjadi jajahan Inggris <strong>Bataviasche Koloniale Courant  <\/strong>tidak terbit lagi. Orang Inggris menerbitkan  <strong>Java Government Gazette.  <\/strong>Surat kabar ini sudah memuat humor  dan terbit antara 29 Februari 1812 sampai 13 Agustus 1814. Hal ini dikarenakan pulau Jawa dan Sumatera harus dikembalikan kepada Belanda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belanda kemudian menerbitkan  <strong>De Bataviasche<\/strong> <strong>Courant <\/strong>dan kemudian tahun 1828 diganti dengan <strong>Javasche Courant<\/strong>  memuat berita-berita resmi , juga berita pelelangan, kutipan dari surat kabar di Eropa. Pernah memuat sajak Multatuli ( Eduard Douwes Dekker ) pada tahun 1845 .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bulan Juli 1835 di Surabaya  terbit  <strong>Soerabajaasch Advertentieblad<\/strong>. Kemudian di Semarang pada pertengahan abad 19 terbit <strong>Semarangsche  Advertentieblad<\/strong>  dan <strong>De Semarangsche Courant<\/strong> dan kemudian <strong>Het Semarangsche Niuews en Advertentieblad  . <\/strong>Surat kabar ini  merupakan harian pertama yang mempunyai lampiran bahasa lain misal , Jawa, Cina dan juga Arab yang ditulis dengan huruf  Jawa, Cina dan Arab.  Tahun 1862 untuk pertama kali dibuka jalan kereta api oleh Pemerintah Hindia Belanda maka untuk menghormati hal tersebut <strong>Het Semarangsche Niuews en Advertentieblad <\/strong>berganti nama<strong> <\/strong>menjadi <strong>de Locomotief . <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><\/strong>Surat kabar pada waktu jaman penjajahan ini tidak banyak memiliki arti politis  tetapi hanya merupakan surat kabar periklanan , dan sedikit berita jumlah oplaag yang dicetak hanya sekitar 1000 \u2013 1200 eksemplar .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Terbitnya Koran Berbahasa Jawa  &amp; Melayu <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Surakarta dan seluruh Indonesia , surat kabar berbahasa Jawa  yang tertua adalah <strong>Bromartani <\/strong>yang terbit pada tanggal <strong>21 Maret 1855 di Surakarta<\/strong>  yang dipimpin oleh Carel Frederick Winter Junior seorang pecinta dan Juru Bahasa Jawa di  Kraton  Surakarta jumlah pelanggan  Bromartani mencapai 320 orang .  Setelah C.F Winter meninggal  tahun 1859 para sahabatnya  di Solo menerbitkan  surat kabar <strong>Djoeroemartani  <\/strong>tahun 1865 yang kemudian pada tahun 1870 diubah namanya menjadi Bromartani untuk  mengenang  CF Winter .  Surat ini terbit sampai tahun 1932.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai surat kabar berbahasa Melayu yang terbit saat itu  hampir semua diusahakan, dimiliki oleh peranakan Belanda. Tetapi  sejak tahun 1880 mulai terbit surat kabar yang dikelola peranakan Cina \u2013 Melayu <strong>Pemberita Betawi , Bintang Surabaya, Bintang Betawi.  <\/strong>Kemudian diawal tahun 1900-an muncul <strong>Li Po (1901) ,Chabar Perniagaan ( 1903 ) , Ik Po ( 1904 ) , Sin Po ( 1910 ) <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong> <\/strong>Setelah orang Belanda dan Cina menerbitkan surat kabar maka bulan Januari 1904 Haji Samanhudi tertarik untuk berjuang bidang penerbitan bekerjasama dengan Raden Mas Djokomono , kemudian  terbitlah <strong>Medan Prijaji<\/strong> sebuah surat kabar yang disebut sebagai tonggak jurnalistik Indonesia. Surat Kabar ini dipimpin oleh Raden Mas Djokomono yang terkenal dengan nama <strong>RM Tirto Adhie Soeryo<\/strong> .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gerakan kebangsaan pada waktu itu telah memanfaatkan media koran dan majalah untuk mengungkapkan gagasan mereka , pers nasional mencerminkan  kehidupan gerakan kebangsaan dan sekaligus menyebarkan gagasan idealisme para <em>founding father<\/em> kita . Pers Indonesia mengambil sikap  oposisi pada pemerintah Belanda dan berjuang untuk kebebasan masyarakat Indonesia dari belenggu penjajah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah  Medan Prijaji  maka terbit pula  <strong>Darmo Kondho<\/strong>, <strong>Fikiran Ra\u2019jat<\/strong> , <strong>Soeloeh Ra\u2019jat Indonesia<\/strong>  di luar Jawa surat kabar  yang juga menyebarkan gagasan yang sama misalnya   <strong>Penghantar <\/strong> ( Ambon) , <strong>Sinar Borneo<\/strong> ( Banjarmasin ), <strong>Persatoean<\/strong>  ( Kalimantan ) , <strong>Pewarta Deli, Matahari  <\/strong>( Medan )<strong> , Sinar Sumatera <\/strong>( Padang )<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Masa Penjajahan Jepang <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Sewaktu Jepang datang beberapa surat kabar masih bisa diterbitkan tetapi kemudian ada peraturan semua surat kabar ditutup.  Hanya dikota besar diperbolehkan ada surat kabar diantaranya  <strong>Asia Raya<\/strong> (Jakarta), <strong>Sinar Baroe<\/strong> (Semarang), <strong>Soeara Asia <\/strong>( Surabaya ) , <strong>Kita Sumatera Shimbun<\/strong> (Medan), <strong>Atjeh Simbun<\/strong> (Kutaradja) . Pada waktu itu surat kabar  Belanda tidak boleh terbit,   wartawannya ditangkap dan dipenjara.  Kemudian kantor Berita Antara dilebur dalam kantor berita Jepang <strong>Domei . <\/strong>Pemerintah pendudukan Jepang lalu menerbitkan suratkabar dan sebangsanya untuk kepentingan Pemerintah Pendudukan Balatentara Jepang . Salah satunya adalah majalah <strong>Djawa Baro<\/strong><strong>e<\/strong> yang berisi tentang propaganda Jepang .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Pada masa penjajahan Jepang di Bandung terbit surat kabar <strong>Tjahaya<\/strong> yang dipimpin S. Bratanata.  Koran ini pada tanggal 18 Agustus 1945 sempat memuat  Undang-undang Dasar RI. Isi dan wajah koran <strong>Tjahaya<\/strong> berubah menunjukan wajah <em>republikein <\/em>seratus persen<em> . <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Setelah Indonesia merdeka dan Jepang kalah perang , Jepang menerbitkan  koran yang hendak menghalangi kelancaran roda pemerintahan Indonesia yaitu <strong> Berita Gunseikanbu .  <\/strong>Kemudian para pelajar Kenkoku Gakuin (semacam sekolah <em>pangreh \u2013praja  )<\/em>menerbitkan koran <strong>Berita Indonesia<\/strong>  untuk menyaingi  koran terbitan Jepang tersebut .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Ketika  kemerdekaan Indonesia  dikumandangkan surat kabar yang terbit pertama adalah koran <strong>Berita Indonesia <\/strong>(6 September)<strong> <\/strong>koran ini  terbit secara teratur , kemudian <strong>majalah Tentera<\/strong> , dan  disusul surat kabar <strong>Merdeka<\/strong> yang dipimpin oleh BM Diah   <strong>.<\/strong> Pemerintah Indonesia juga tak mau ketinggalan menerbitkan  <strong>Negara Baroe<\/strong> yang dipimpin Parada Harahap, yang kemudian juga menerbitkan <strong>Soeara Oemoem<\/strong> tetapi  hanya sebentar bertahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Awal Desember 1945 terbit majalah tengah bulanan <strong>Pantja Raya<\/strong>  kemudian disusul majalah dan surat kabar lain diantaranya : <strong>Pembangoenan <\/strong>(Sutan Takdir Alisyahbana )<strong> , Siasat , Pedoman. Mimbar Indonesia. <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>            <\/strong>Di daerah selain Jakarta juga terbit koran diantaranya : <strong>Menara Merdeka<\/strong> (Ternate), <strong>Soeara Indonesia<\/strong>, <strong>Pedoman<\/strong>  (Makasar) , <strong>Soeara Merdeka<\/strong> (Bandung) , <strong>Soeara Rakjat<\/strong> ( Surabaya) , <strong>Kedaulatan Rakyat<\/strong> , <strong>Nasional <\/strong>(Yogyakarta) .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Soeloeh Rakyat<\/strong> ( Semarang) , <strong>Pewarta Deli<\/strong> , <strong>Suluh Merdeka<\/strong>, <strong>Mimbar Umum<\/strong> ( Sumatera Utara ) , <strong>Sumatera Baru<\/strong> ( Palembang) , <strong>Pedoman Kita<\/strong> , <strong>Demokrasi<\/strong> , <strong>Oetosan Soematera<\/strong> ( Padang ) , <strong>Semangat Merdeka<\/strong> (Aceh). Selain itu Kantor Berita <strong>Antara<\/strong> juga telah ikut berperan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Perjuangan para wartawan untuk ikut menegakkan kemerdekaan Indonesia pada waktu sangat nyata. Dalam tekanan pemerintah Jepang yang tidak mau melepaskan Indonesia merdeka dan Belanda yang membonceng Sekutu  untuk kembali menancapkan kekuasaannya maka pers Indonesia pada waktu itu berdiri dibelakang kaum <strong><em>republikein<\/em><\/strong> menyokong terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia sehingga orang menyebut <strong><em>pers republiken <\/em><\/strong> . Untuk menandingi tulisan-tulisan yang termuat pada <strong>koran republiken<\/strong> Belanda membuat koran tandingan diantaranya  <strong>De Courant<\/strong> (Bandung), <strong>De Locomotief<\/strong>  (Semarang) , <strong>Java Bode<\/strong>  (Jakarta)  .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta terpaksa pindah ke Yogyakarta dan kemudian  Yogyakarta menjadi ibu kota  Republik Indonesia para wartawan &#8211; pun juga  banyak yang ikut pindah ke Yogyakarta .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Ketika ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta itulah tanggal 9 Februari 1946 para wartawan berkumpul di gedung Sociteit atau Sasono Suko Solo ( sekarang Monumen Pers Nasional ) mendirikan organisasi profesi <strong>Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) <\/strong>. Ini merupakan organisasi profesi wartawan pertama setelah diproklamasikannya kemerdekaan  Indonesia  dengan Ketua Mr. R.M Sumanang Suryowinoto . Dan empat bulan kemudian tepatnya 8 Juni 1946 berdiri <strong>Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS) <\/strong>di Yogyakarta.  Hal ini makin memperkokoh peran pers di awal berdirinya negara Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Begitulah perjuangan pers di masa lalu  walaupun kemerdekaan Indonesia telah terwujud tetapi perjuangan menegakkan kemerdekaan terus berlangsung dan dalam perjuangan  mempertahankan kemerdekaan itu pers juga selalu ikut berperan serta lewat tulisan . (Tri Octory Rustiana  S.Sn )<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sumber  Pustaka :<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>H. Soebagijo IN . <strong><em>Sejarah Pers Indonesia<\/em><\/strong>. Dewan Pers . 1977<\/li>\n<li>Samsudjin Probohardono. <strong><em>Sejarah Pers dan Wartawan Surakarta<\/em><\/strong> . 1985<\/li>\n<li>Persatuan Wartawan Indonesia . <strong><em>Buku Direktori Pers dan Masyarakat Komunikasi Indonesia 2006<\/em> .<\/strong> Diterbitkan dalam rangka Hari Pers Nasional Tahun 2006<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang yang tidak paham sejak kapan surat kabar terbit di di Indonesia. Penerbitan pers mengalami perjalanan panjang mulai jaman penjajahan Belanda diawal abad 18 sampai ikut memberikan kontribusi positif saat anak negeri ini berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan semangat melahirkan negara yang merdeka . Diawali dengan yang hanya berisi iklan sampai dicetak dengan mesin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1132","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1132"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1132\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}