{"id":1174,"date":"2012-08-16T03:40:37","date_gmt":"2012-08-16T03:40:37","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1174"},"modified":"2012-08-16T03:40:37","modified_gmt":"2012-08-16T03:40:37","slug":"menelusuri-monumen-di-kota-surakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/menelusuri-monumen-di-kota-surakarta\/","title":{"rendered":"Menelusuri Monumen Di Kota Surakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Gambaran Peran Masyarakat Mempertahankan Kemerdekaan <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             Perjuangan bangsa Indonesia mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah proses panjang yang telah tercatat dalam sejarah . Di masa sebelum kemerdekaan para <em>\u201cfouding father\u201d <\/em> berjuang menggalang kekuatan , menyatukan ribuan pulau dalam cengkaraman penjajah Belandadan Jepang  menjadi Indonesia yang merdeka. Dan ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan bangsa kita tetap harus tak berhenti berjuang menegakkan kemerdekaan karena Belanda masih terus berupaya kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">       Proses panjang meraih Kemerdekaan Indonesia  merupakan kerja keras perjuangan yang didukung oleh segenap elemen bangsa tidak hanya kaum <em>intelektual <\/em>tetapi  juga kaum priyayi,  pedagang, petani, buruh, dan juga rakyat jelata. Banyak dari anak bangsa tewas dalam perang bahkan ada juga masyarakat sipil yang ikut tewas dibantai menjadi korban ganasnya perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">         Sekarang bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 47. Untuk  mengenang perjuangan rakyat di kala mempertahankan kemerdekaan kita bisa melihat bahwa dalam catatan sejarah masyarakat  Surakarta juga ikut terlibat , berperan secara aktif dalam mendukung perjuangan meraih cita-cita kemerdekaan. Ada berbagai  peristiwa penting  yang terjadi di masa itu dan bahkan tercatat sebagai peristiwa yang memilukan karena banyak korban tewas di tempat tersebut.    Tempat-tempat terjadinya peristiwa itu ditandai dengan prasasti atau monumen  yang mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat  diantaranya : Prasasti Penyerbuan Kenpetai Surakarta di Jalan Slamet Riyadi , Prasasti Pembantaian Rakyat di Gading, Monumen Laskar Putri di Jalan Mayor  Sunaryo . <!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>MONUMEN PEREBUTAN KEKUASAAN JEPANG <\/strong><strong>DAN PERTEMPURAN KENPETAI SURAKARTA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             <a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1176\" title=\" MONUMEN PEREBUTAN KEKUASAAN JEPANG DAN PERTEMPURAN KENPETAI SURAKARTA \" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1-210x300.jpg\" alt=\"\" width=\"210\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1-210x300.jpg 210w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1-768x1095.jpg 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1-718x1024.jpg 718w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon1-400x570.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 210px) 100vw, 210px\" \/><\/a>Monumen ini terletak di jalan Slamet Riyadi  171 Surakarta, sebelah  barat gedung pertemuan Batari . Diresmikan pada tanggal  13 Oktober 1985  untuk  memperingati peristiwa Perebutan Kekuasaan dari Pemerintah Sipil Jepang <em>Koti Jimu Kyoku<\/em> dari <em>Shochokan Watanabe<\/em> kepada Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Surakarta <strong>Mr. BPH Soemodiningrat<\/strong> , penyerahan kekuasaan Tentara Jepang dari Komandan Letkol <strong>T. Mase<\/strong> kepada KNI Daerah Surakarta dan penyerbuan terhadap Markas Kenpetai sebagai beteng terakhir kekuasaan Jepang di Surakarta .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">              Pada masa awal kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 1 Oktober 1945 Pemerintah Sipil Jepang  telah menyerahkan kekuasaan pada Ketua Komite Nasional Indonesia  di Surakarta  dan kemudian tanggal 5 Oktober 1965  Panglima Pasukan tentara Nippon  daerah Surakarta  <strong>T. Masse<\/strong> juga telah menyerahkan kekuasaannya atas semua persenjataan  tetapi  Kenpetai tidak mau menyerahkan kekuasaan dengan alasan  Kenpetai tidak dibawah komando atau perintah <strong>T. Masse<\/strong> melainkan langsung dibawah komando <em>Jawa Kenpetaicho<\/em> .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Pada tanggal 12 Oktober 1945  upaya perundingan dengan pihak Kenpetai dilakukan lagi oleh Ketua Komite Nasional Indonesia disertai beberapa wakil ,  pimpinan barisan rakyat  dan Barisan Keamanan Rakyat  ( BKR ) . Delegasi  ini menemui Komandan Kenpetai Surakarta Kapten <strong>Sato <\/strong>dan meminta agar segera menyerahkan kekuasaan ,  hasil perundingan adalah Kenpetai mau menyerah dengan syarat penyerahan di lakukan di Tampir Boyolali tempat pertahanan Jepang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             Tetapi kesepakatan  itu mengundang reaksi ketidak puasan dari  pimpinan barisan rakyat dan Badan Keamanan Rakyat.  Mereka menghendaki penyerahan senjata di Surakarta , para anggota  barisan rakyat dan Badan Keamanan Rakyat  pada waktu itu adalah para pemuda pejuang revolusioner dan keras pendiriannya karena kebanyakan ex tentara PETA dan HEIHO. Mereka sudah memuncak kemarahannya  karena sikap <strong>Kenpetai <\/strong>yang keras kepala.  Akhirnya pada malam hari markas Kenpetai diserbu. Pertempuran berjalan sengit dan pada pagi harinya tanggal 13 Oktober 1945 Kenpetai Surakarta menyerah total.  Dalam pertempuran itu jatuh korban dari pihak Indonesia bernama Arifin dan beberapa orang luka-luka .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                  Pihak <strong>Kenpetai<\/strong> yang menyerah dilucuti senjatanya, dan dikonsentrasikan di penjara  Surakarta untuk selanjutnya dipindahkan ke Tampir hal ini untuk menghindari kemungkinan balas dendam rakyat Surakarta karena <strong>Kenpetai<\/strong> dikenal sangat kejam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Dengan menyerahnya Kenpetai tanggal  13 Oktober 1945  maka habislah kekuasaan Jepang sebagai kekuasaan penjajah di daerah Surakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>MONUMEN PEMBANTAIAN \/ PENYEMBELIHAN RAKYAT <\/strong><strong>OLEH PASUKAN GREENCAP<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                  <a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1177\" title=\"MONUMEN PEMBANTAIAN \/ PENYEMBELIHAN RAKYAT OLEH PASUKAN GREENCAP \" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2-232x300.jpg\" alt=\"\" width=\"232\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2-232x300.jpg 232w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2-768x993.jpg 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2-792x1024.jpg 792w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2-400x517.jpg 400w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon2.jpg 1625w\" sizes=\"auto, (max-width: 232px) 100vw, 232px\" \/><\/a>Monumen ini terletak di  jalan Veteran- Gading  Surakarta diresmikan pada tanggal 22 Agustus 1987 sebagai upaya memperingati peristiwa Pembantaian Rakyat oleh Pasukan <em>Green Cap<\/em> tanggal 11 Agustus 1949.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Walaupun proklamasi  kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan tetapi Belanda terus berupaya untuk kembali menguasai Indonesia.Hal ini terbukti 9 September 1945 Belanda memboceng Sekutu masuk ke Indonesia dan menguasai Jakarta yang mengakibatkan  Ibukota Negara Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada bulan Januari  1946 .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                 Keadaan ini terus berlanjut  dengan  Aksi Militer II  pada 19 Desember 1948,  Belandasecara agresif  menyerang , Lapangan Terbang Maguwo Yogyakarta dihujani bom  dan Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda . Belanda menyatakan bahwa mereka tidak terikat pada persetujuan  <strong>Renville<\/strong>  dan terus mengadakan penyerbuan ke seluruh wilayah Indonesia termasuk Surakarta .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">              Setelah berlangsung pertempuran yang terus menerus di Surakarta antara pasukan Republik Indonesia melawan tentara  Belanda maka berdasarkan hasil perundingan <strong>Roem Royen<\/strong> Panglima Besar Jenderal  Soedirman memerintahkan gencatan senjata yang berlaku sejak tanggal 11 Agustus jam 00.00 . Pasukan Indonesia sungguh mematuhi perintah itu tetapi sebaliknya pasukan Belanda tidak mematuhi ketentuan perintah gencatan senjata yang ada dan melakukan pelanggaran diantaranya peristiwa <strong>penembakan Samto<\/strong> dan  <strong>pembantaian warga sipil<\/strong> di PMI Gading .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             Di Surakarta salah satu pertahanan tentara Belanda adalah sekitar perempatan Gading. Tentara Belanda yang menduduki tempat itu adalah pasukan <em>Green Cap .<\/em>Pasukan ini  baru saja didatangkan dari Semarang mereka terkenal kejam. Sedangkan perempatan Baturono merupakan pos pertahanan terdepan pasukan   Gerilya tentara Republik Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             Saat itu tanggal 11 Agustus 1949  jam 04.00 seorang anggota tentara gerilya Republik Indonesia dari Pos Pertahanan Baturono bernama <strong>Samto<\/strong> merasa sudah ada gencatan senjata yang artinya aman karerna  tidak ada pertempuran dan permusuhan. Dia minta izin komandan pos pertahanan dan teman-teman untuk menenggok keluarganya di kampung Wiryodiningratan sebelah selatan perempatan Gading . <strong>Samto<\/strong> berangkat bersama <strong>Kusnan<\/strong> salah seorang temannya. Belum terlalu jauh berjalan mereka berdua diserang oleh pasukan Belanda sehingga  <strong>Samto t<\/strong>ewas dan <strong>Kusnan<\/strong> luka-luka. Saat pasukan Gerilya Republik Indonesia  akan meng-evakuasi  jenasah Samto terjadi kontak senjata yang menewaskan seorang Pasukan  <em>Green Cap .<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Selain peristiwa tersebut Pasukan Green Cap juga bertindak brutal dan kejam terhadap rakyat sipil, pengungsi di Markas PMI . Peristiwa ini terjadi juga di tanggal 11 Agustus  1949, setelah tertembaknya seorang tentara <em>Green Cap<\/em>  di Gading.  Markas PMI  saat itu  terletak  di daerah Gading , rakyat yang dibantai itu adalah para pengungsi yang tidak berdosa dan tanpa daya diantaranya ada juga anggota Palang Merah Indonesia. Mereka dibunuh  bukan dengan cara ditembak tetapi digorok dengan pedang dan pisau, mayatnya ditinggal begitu saja berserakan dan darah mengalir  dari tubuh mereka, dan bahkan mengalir dalam selokan.  Lebih dari 20 orang tewas dalam kejadian tersebut  Padahal mereka rakyat yang tidak bersenjata, pasukan <em>Green Cap<\/em> benar-benar  sadis tanpa perikemanusiaan.<\/p>\n<p><strong>MONUMEN LASKAR PUTRI INDONESIA<\/strong><span style=\"text-align: justify;\"> <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">               <a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1178\" title=\"MONUMEN LASKAR PUTRI INDONESIA\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3-249x300.jpg\" alt=\"\" width=\"249\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3-249x300.jpg 249w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3-768x924.jpg 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3-851x1024.jpg 851w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/mon3-400x481.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 249px) 100vw, 249px\" \/><\/a>Monumen Laskar Putri  Indonesia  terletak di bekas Markas Brigif 6 KOSTRAD Jalan Mayor Sunaryo 1 Surakarta . Tepatnya sekarang di sebelah Timur Benteng Trade Center Surakarta, diresmikan pada tanggal  1 Maret 1989 .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Pembangunan Monumen Laskar Putri  ini merupakan <em>tetenger  <\/em>sejarah ke- ikut sertaan kaum wanita mengobarkan  semangat perjuangan mengangkat senjata di masa  perjuangan phisik .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">              Andil  kaum wanita dalam masa perjuangan kemerdekaan tidak kecil  dan memiliki nilai historis yang tercatat dalam sejarah bangsa. Di samping itu tentu saja  juga  sebagai upaya menanamkan  jiwa patriotisme dan semangat perjuangan bagi generasi  mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia terbentuklah Badan-badan Perjuangan di seluruh wilayah Indonesia untuk mengangkat senjata  mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                  Kesatuan dan Badan-badan itu bertujuan untuk mendapatkan latihan-latihan Kemiliteran, Kepamongprajaan dan Ketrampilan lain sekaligus membentuk jiwa kepahlawanan\/ patriotisme  putra-putri Indonesia.  Demikian juga di Solo beberapa kaum putri bertekad membentuk kesatuan bersenjata Laskar Putri Surakarta  dan berhasil dibentuk tanggal 11 Oktober 1945. Anggota Laskar Putri berjumlah sekitar 200 orang remaja putri  ( seluruhnya bujangan  ) , baik bekerja atau masih sekolah. Tujuan didirikan Laskar Puteri Indonesia adalah membentuk pasukan tempur wanita sebagai pasukan cadangan ,  membentuk pasukan bantuan untuk melayani kepentingan pasukan garis depan maupun garis belakang .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">            Kegiatan Laskar Putri Indonesia  Surakarta dalam menunjang suksesnya perjuangan bangsa adalah : latihan kemiliteran, mengkoordinir dapur umum, mengusahakan bahan makanan, membantu tenaga kesehatan di pos PMI, membantu bidang administrasi pada markas pertempuran dan menjadi penghubungkoordinasi dengan berbagai instansi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">             Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi dan untuk menunjang rasionalisasi kelaskaran bersenjata dalam Kesatuan Bersenjata Republik Indonesia maka pada akhir tahun 1946 Laskar Putri indonesia dibubarkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">                Dari beberapa  peristiwa yang dipaparkan tampaklah bahwa rakyat Surakarta ikut berperan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dengan semangat perjuangan dan tetesan darah. Kejadian ini baru sebagian kecil dari perjuangan dan pengorbanan rakyat Surakarta masih banyak berbagai peristiwa lain diantaranya pembantaian rakyat di daerah Pasar Kembang  , penyerangan terhadap wanita, anak-anak dan rakyat di daerah Pasar Nongko  yang menewaskan 36 orang ,  dan serangan umum 4 hari tanggal 7 -10 Agustus 1949 yang heroik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">              Semua ini menunjukkan bahwa semangat untuk menjadi bangsa yang merdeka memerlukan pengorbanan besar seluruh rakyat pada waktu itu  yidak hanya  keringat dan  airmata, tetapi juga darah dan nyawa . Seluiruh peristiwa yang telah lalu  itu  harus menjadi spirit bagi masyarakat saat ini untuk mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya sehingga pengorbanan mereka tidak sia-sia    ( Rahayu Trisnaningsih, SS  )<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Buku  Pustaka :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>*Perebutan kekuasaan Jepang dan Pertempuran di Kenpetai Surabaya<\/em> . 1985.  Panitia Pelaksana Pembangunan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">   Monumen .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>* Pasukan Green Cap Membantai Rakyat<\/em> . 1987. Harian Umum Suara Bengawan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>* Buku kenang-kenangan Peresmian Monumen Laskar Putri<\/em> . 1989<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gambaran Peran Masyarakat Mempertahankan Kemerdekaan Perjuangan bangsa Indonesia mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah proses panjang yang telah tercatat dalam sejarah . Di masa sebelum kemerdekaan para \u201cfouding father\u201d berjuang menggalang kekuatan , menyatukan ribuan pulau dalam cengkaraman penjajah Belandadan Jepang menjadi Indonesia yang merdeka. Dan ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan bangsa kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1174","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1174"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1174\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}