{"id":1281,"date":"2012-10-05T01:24:47","date_gmt":"2012-10-05T01:24:47","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1281"},"modified":"2012-10-05T01:24:47","modified_gmt":"2012-10-05T01:24:47","slug":"mau-belajar-dan-belanja-batik-datanglah-ke-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/mau-belajar-dan-belanja-batik-datanglah-ke-solo\/","title":{"rendered":"Mau  Belajar dan Belanja Batik :  Datanglah ke Solo  !!!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Setelah batik dikukuhkan sebagai\u00a0 warisan budaya dunia dari Indonesia. Pamor batik semakin \u201cmoncer\u201d saja . Bahkan tanggal 2 Oktober\u00a0 telah ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Kalau dahulu\u00a0 batik\u00a0 hanya dipakai dalam\u00a0 upacara adat \u00a0dan situasi resmi maka kini \u00a0batik dipakai setiap saat. Tidak hanya orang tua tetapi kaum muda juga mulai gemar memakai batik. Batik tidak lagi sekedar kain panjang yang dipakai dalam upacara adat saja tapi sudah muncul menjadi kemeja, blouse, gaun, celana,\u00a0 taplak meja, sprei,\u00a0 tas, sandal dan berbagai pernak-pernik lain hasil kreatifitas para seniman, desainer dan\u00a0 pengrajin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Solo sebagai salah satu pusat batik Indonesia merupakan surga belanja bagi para pemburu batik.\u00a0 Mulai dari hanya sekedar\u00a0 tekstil motif batik,\u00a0 batik cap ataupun batik tulis halus. Dari yang harganya puluhan ribu sampai jutaan rupiah tersedia di sentra-sentra batik\u00a0 Solo, diantaranya pasar Klewer, Pusat Grosir Solo, Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman\u00a0 bahkan kota Solo juga memiliki Museum Batik Danar Hadi \u00a0.\u00a0 Jadi kalau ingin belanja dan belajar tentang batik\u00a0 Solo adalah tempat yang tepat . Dan inilah tempat-tempat yang bisa dikunjungi yang berkaitan dengan batik di kota Solo.\u00a0<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Museum Batik \u00a0Danar Hadi<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_1286\" aria-describedby=\"caption-attachment-1286\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1286\" title=\"Museum Batik Danar Hadi\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1-300x200.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1-768x513.jpg 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1-400x267.jpg 400w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik1.jpg 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1286\" class=\"wp-caption-text\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Museum Batik Danar Hadi<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Museum Batik terletak di jalan\u00a0 Slamet Riyadi 261, jalan utama kota Solo, \u00a0sebuah kawasan <em>heritage<\/em> terpadu \u00a0House of Danarhadi, \u00a0terdiri dari\u00a0 Bangunan Cagar Budaya ndalem Wuryaningratan,\u00a0 Museum Batik, Toko Batik\u00a0\u00a0 dan Restoran Soga . nDalem Wuryaningratan ini adalah sebuah rumah sangat besar yang dahulu merupakan kediaman seorang pangeran, \u00a0cucu Sri Susuhunan Pakubuwono IX\u00a0 dan menantu Sri Susuhunan Pakubuwono X yang bernama KRMTA\u00a0Wuryaningrat .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Museum ini didirikan oleh pengusaha batik terkenal\u00a0 H. Santosa Doellah pemilik PT Danar Hadi.\u00a0 Diresmikan pada tanggal \u00a020 Oktober tahun 2000 oleh Megawati Soekarno Putri sebagai <strong>Galery Batik Kuno Danar Hadi<\/strong> dan dalam perkembangannya kemudian menjadi <strong>Museum Batik Danar Hadi<\/strong> \u00a0. Kain-kain koleksi Museum Batik ini\u00a0 sangat indah\u00a0 dan langka,\u00a0 ada sekitar 10.000\u00a0 potong batik kuno menjadi koleksi yang dikumpulkan oleh H Santosa Doellah \u00a0dalam kurun waktu 30 tahun. Sekitar 1.500 potong diantaranya didapat dari koleksi pribadi seorang kurator museum Troupen di Belanda. Batik \u2013batik itu dibuat antara tahun\u00a0 1840 -1910.\u00a0 \u00a0Museum Batik Danarhadi\u00a0 mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Saat kita masuk ke ruang pamer akan disambut dengan koleksi batik Belanda\u00a0 yang sebagian besar berupa sarung dengan motif kupu-kupu dan bunga\u00a0 dengan warna cerah,\u00a0 dipajang pula foto orang-orang\u00a0 Belanda\u00a0 memakai batik .\u00a0 Selanjutnya dipamerkan pula batik yang khusus dipakai oleh raja-raja dan\u00a0 kaum bangsawan setingkat\u00a0 Pangeran atau Adipati . Pada waktu itu batik dengan motif khusus merupakan batik <em>sengkeran <\/em>yang dilarang keras dipakai oleh orang awam misal motif Parang Barong, Semen Ageng, Udan Liris .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sebagian dari koleksi museum ini \u00a0juga didapat dari empat istana yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Koleksi kain batik dari Solo dan Yogyakarta dipajang secara terpisah. Salah satu koleksi yang langka adalah kain batik bermotif \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Ceplok Dempel \u00a0yang konon khabarnya merupakan \u00a0\u00a0\u201cageman\u201d atau\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0pernah dipakai<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Sri Susuhunan Paku Buwono ke X. Dari Pura Mangkunegaran\u00a0 ada koleksi batik yang dibuat oleh Nyi Ageng Mardusari salah seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII\u00a0 dengan motif Bogas Pakis yang sangat elok. Apabila kita mau mengamati akan terlihat bahwa ciri batik dari masing-masing istana itu memiliki perbedaan dalam nuansa <em>soga <\/em>nya . Misalnya ciri batik dari Kraton\u00a0 Kasunanan cenderung coklat kemerahan,\u00a0 Kasultanan Yogyakarta warnanya coklat dan kontras dengan latar putihnya sedangkan Pakualaman berwarna krem .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Koleksi lain adalah batik Tiga Negeri yang memiliki perpaduan warna merah , biru, coklat . Pewarnaan batik ini\u00a0 dibuat di tiga tempat yaitu Pekalongan, Lasem dan Solo. Perlu digarisbawahi bahwa koleksi batik di museum ini adalah batik tulis ( buatan tangan )\u00a0\u00a0 bukan\u00a0 seperti batik yang\u00a0 kebanyakan dipakai saat ini berupa tekstil motif\u00a0 batik ( hasil printing )\u00a0 sehingga mengundang kekaguman bagi yang melihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Selain melihat koleksi batik yang elok. Pengunjung museum juga diperkenalkan pada bahan-bahan pembuat batik seperti lilin (<em>malam<\/em>) , canting, \u00a0bahan pewarna alam, tawas, soga dan lain sebagainya. Selain itu pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan batik mulai membuat pola, membatik, cap, mewarna \u00a0sampai menjadi kain batik . Bahkan yang ingin mencoba merasakan susahnya\u00a0 membatik juga\u00a0 diberi kesempatan. Dan setelah puas berkunjung\u00a0 ke museum pengunjung bisa langsung belanja batik di toko ataupun makan di minum di\u00a0\u00a0 Soga\u00a0 Cafe yang menjadi satu kesatuan di nDalem Wuryaningratan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_1287\" aria-describedby=\"caption-attachment-1287\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1287\" title=\"Pasar Klewer\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik2.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik2.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik2-150x150.jpg 150w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1287\" class=\"wp-caption-text\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Pasar Klewer<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Pasar Klewer terletak\u00a0 di jalan Dr. Rajiman ,\u00a0 sebelah Barat alun &#8211; alun Keraton Surakarta , sebelah Selatan Masjid Agung Solo . Dahulu bernama pasar Slompretan , awalnya\u00a0 merupakan tempat pemberhentian kereta, dan masyarakat memanfaatkan sebagai ajang jual beli kepada para penumpang. Sejak dahulu pedagang pasar ini memang \u00a0banyak menjual batik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Seiring perkembangan jaman pada tahun 1970 pasar tersebut \u00a0\u00a0dibangun menjadi dua lantai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto . Kalau kita menelusuri lorong- lorong pasar \u00a0\u00a0maka berbagai jenis batik digelar oleh para pedagang memenuhi lorong . Pasar ini tidak hanya dikunjung oleh pembeli dari Jawa Tengah tetapi juga dari luar pulau Jawa tetapi juga dari Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok\u00a0 , Sulawesi bahkan banyak juga turis mancanegara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 Apabila pintar menawar harga di Pasar Klewer sangat murah karena pasar ini merupakan pusat <em>kulakan<\/em> batik.\u00a0 Kebanyakan pedagang dari berbagai daerah mengambil dagangan batik dari pasar Klewer.\u00a0 Semua produk berbahan batik ada di pasar ini, mulai kain batik, baju,\u00a0 taplak meja, sprei, sandal, tas\u00a0 dan juga cendera mata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 Walaupun harga di Pasar Klewer cukup murah tetapi karena merupakan pasar tradisional maka terkadang ada yang merasa kurang nyaman berbelanja\u00a0 di pasar ini , udara yang panas dan seringkali para pedagang kurang tertib dalam mengatur\u00a0 barang dagangan sehingga lorong pasar menjadi sempit\u00a0 membuat pengunjung pasar kurang nyaman dan pembeli ada yang lebih memilih berbelanja ke <strong>Pusat Grosir Solo <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Pusat Grosir Solo terletak tidak jauh dari pasar Klewer tepatnya di Jalan Mayor Sunaryo sebelah Utara Alun-alun Keraton Surakarta daerah Gladag \u00a0. Pusat Grosir Solo merupakan bangunan 4 lantai dan telah mengadopsi konsep pasar modern atau mall tetapi dengan dagangan utama batik. Memang harga di Pusat Grosir Solo sedikit lebih mahal dibanding Pasar Klewer\u00a0 tetapi keragaman barang dagangan sama dan situasi belanja lebih nyaman. Banyak orang mengatakan Pusat grosir Solo diibaratkan sebagai Tanah Abang-nya wong Solo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Para Pedagang di Pusat Grosir Solo telah memasang label harga\u00a0 sehingga pembeli dapat langsung mengetahui harga barang dagangan tidak seperti di Pasar Klewer. Memang masing masing tempat belanja punya kelebihan dan kekurangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kampoeng Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sejak jaman dahulu kampung Laweyan dikenal sebagai sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah. Kampung Laweyan merupakan kampung batik tertua di Indonesia yang sudah eksis sejak tahun 1546 pada masa kerajaan Pajang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya ( Joko Tingkir ). Mengapa disebut Laweyan, menurut\u00a0 RT Mlayadipuro pasar Laweyan dulu tempat orang berjualan <em>lawe <\/em>\u00a0bahan dasar untuk membuat kain tenun. Bahan itu berasal dari daerah sekitar yaitu Pedan, Gawok, Juwiring.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1288\" aria-describedby=\"caption-attachment-1288\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1288\" title=\"Kampung Batik Laweyan\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik3-300x197.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"197\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1288\" class=\"wp-caption-text\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Kampung Batik Laweyan<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kampoeng Batik Laweyan mulai dikembangkan sebagai tempat kunjungan wisata sejak sekitar tahun 2004. Saat ini di Kampoeng Batik Laweyan\u00a0 terhimpun 70 pengusaha batik dari skala kecil hingga menengah . Mereka memproduksi batik tulis, cap dan printing\u00a0 dalam berbagai bentuk . Berkeliling di Kampoeng Batik Laweyan merupakan pengalaman yang unik dan mengasyikan karena selain berbelanja batik pengunjung dapat melihat rumah-rumah kuno bergaya kolonial milik para saudagar batik Laweyan yang indah dengan\u00a0 pintu yang sangat besar dan pagar tinggi . Di rumah-rumah inilah para pengusaha batik membuka tokonya. Apabila tidak membawa kendaraan pribadi pengunjung tak perlu khawatir kecapekan berjalan dari rumah ke rumah kerana banyak tukang becak yang menawarkan diri mengantar pengunjung berkeliling.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Selain menjual produknya secara eceran pengusaha batik di Laweyan ini juga men-eksport dagangannya ke manca negara. Para pengusaha yang membuka toko di\u00a0 kampung ini diantaranya \u00a0Batik Soga, Batik Putra Laweyan, Batik Sidoluhur, Batik Merak Manis, Batik Kencana Ungu dsb.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Selain menjual produknya untuk mendukung wisata belanja\u00a0 maka para pengusaha batik di Laweyan ini juga tergabung dalam Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan siap membimbing para pengunjung mengikuti kursus membatik bisa secara singkat atau intensif, kursus kewirausahan batik, bahkan juga penelitian akademis tentang\u00a0 batik, cagar budaya , sejarah. Di hari libur terutama liburan sekolah Kampoeng Batik Laweyan selalu dipenuhi pengunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<figure id=\"attachment_1289\" aria-describedby=\"caption-attachment-1289\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1289\" title=\"Kampung Batik Kauman\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik4-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik4-300x225.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik4-400x300.jpg 400w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/batik4.jpg 640w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1289\" class=\"wp-caption-text\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Kampung Batik Kauman<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain Kampoeng Batik Laweyan , ada juga Kampung Batik Kauman. Kauman di masa lalu adalah tempat tinggal kaum ulama Keraton Surakarta yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat diantaranya penghulu, modin, suronoto dan kaum yang merupakan penduduk mayoritas kampung ini sehingga diberi nama Kauman. Batik yang dihasilkan masyarakat Kauman pada masa lalu berhubungan dengan motif batik Kraton Kasunanan Surakarta . Di kampung ini ada antara 20 -30 home industri batik yang melayani tidak hanya pembeli lokal tetapi memiliki pelangan\u00a0 dari berbagai negara diantaranya : Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir mirip dengan Laweyan ,\u00a0 rumah-rumah di kawasan Kampung Batik kauman ini juga disulap menjadi toko atau butik yang memajang berbagai produk batik .Rumah di kawasan Kauman dikelilingi tembok tinggi dan melewati lorong-lorong kecil . Selain belanja batik pengunjung juga bisa melihat suasana kampung dengan bangunan kuno\u00a0\u00a0 berbentuk joglo , limasan , kolonial dan perpaduan antara arsitektur Jawa dan kolonial. Di tempat ini selain toko batik juga <em>tersedia home stay <\/em>. \u00a0Kampung Kauman terletak di pusat kota berdekatan dengan Alun-alun Keraton Surakarta, Masjid Agung dan Pasar Klewer.\u00a0 Pengunjung tak perlu kuatir tersesat karena tersedia fasilitas peta terpampang di tembok rumah .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kampung Batik Kauman bisa menjadi alternatif wisata belanja batik sekaligus melihat langsung proses pembuatan batik tulis, atau cap, bahkan pengunjung juga bisa ikut membatik secara langsung ( Rahayu Trisnaningsih , SS ) .<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Setelah batik dikukuhkan sebagai\u00a0 warisan budaya dunia dari Indonesia. Pamor batik semakin \u201cmoncer\u201d saja . Bahkan tanggal 2 Oktober\u00a0 telah ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Kalau dahulu\u00a0 batik\u00a0 hanya dipakai dalam\u00a0 upacara adat \u00a0dan situasi resmi maka kini \u00a0batik dipakai setiap saat. Tidak hanya orang tua tetapi kaum muda juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1281","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1281"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1281\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}