{"id":1312,"date":"2012-10-25T03:33:42","date_gmt":"2012-10-25T03:33:42","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1312"},"modified":"2012-10-25T03:33:42","modified_gmt":"2012-10-25T03:33:42","slug":"revitalisasi-spirit-kepeloporan-dan-kepemimpinan-pemuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/revitalisasi-spirit-kepeloporan-dan-kepemimpinan-pemuda\/","title":{"rendered":"Revitalisasi Spirit Kepeloporan Dan Kepemimpinan Pemuda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bung Karno<\/strong> menyatakan, beri aku satu pemuda akan aku guncangkan Indonesia, dan berikan aku sepuluh pemuda akan aku guncangkan dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemuda adalah pewaris, penentu masa depan bangsa. Pemuda selalu menjadi penggerak sebuah perubahan, untuk melakukan suatu perubahan diperlukan pemikiran baru, untuk merealisasikannya dibutuhkan keyakinan yang kuat. Ikhlas tanpa pretensi, siap berkorban untuk membela, berproses untuk mewujudkan yang diyakininya. Inilah yang harus menjadi karakteristik pemuda Indonesia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1313\" aria-describedby=\"caption-attachment-1313\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/pemuda.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1313\" title=\"pemuda\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/pemuda-300x201.gif\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"201\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1313\" class=\"wp-caption-text\">Sumber Gambar : http:\/\/www.antarafoto.com<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejarah mencatat gegap gempita perjuangan para pemuda, lintas generasi mereka selalu didepan. Sejarah\u00a0 bangsa Indonesia menunjukkan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa menjadi pelopor dan memimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebangkitan Nasional tahun 1908 bisa disebut sebagai emberio bangkitnya semangat persatuan dipelopori oleh orang-orang muda. Sumpah pemuda tahun 1928 yang telah menyatukan bangsa ini adalah karya para pemuda.\u00a0<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dipelopori kaum muda.\u00a0 Angkatan 66 yang menyelamatkan negeri dari ideologi komunis dengan \u00a0Orde Baru nya yang merupakan koreksi terhadap rezim Orde Lama adalah ordenya para pemuda.\u00a0 Reformasi 1998 adalah buah tangan kaum muda yang mengakhiri rezim Orde Baru yang telah berlangsung 32 tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun Ironis, banyak pendapat mengatakan saat ini telah terjadi degradasi pada generasi muda, generasi telah mengalami penipisan ideologi. Sumpah Pemuda sedang mengalami pendangkalan makna, salah satu penyebabnya hilangnya semangat kekuatan dalam keberagaman, pudarnya jiwa nasionalisme pemuda Indonesia terlihat dari pergeseran budaya bangsa Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Krisis moral (nilai) yang melanda bangsa Indonesia saat ini khususnya generasi muda membuat kekhawatiran tersendiri baik orang tua dan masyarakat. Arus aliran pola kehidupan budaya barat yang sulit dibendung melalui media massa\/ media sosial \u00a0menjadi bagian dari pemicu munculnya perilaku negatif anak muda, pergaulan bebas, miras dan narkoba menjadi trend mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tawuran antar kelompok , pelajar, mahasiswa\u00a0 menjadi mimpi buruk, korban luka bahkan tewas menjadi tumbal untuk sesuatu ajang pencarian dan pengakuan identitas dan penyelesaian masalah, yang mendahulukan otot dari pada otak, <em>okol <\/em>dari pada akal.\u00a0 Kita seolah kembali kemasa silam sebelum\u00a0 era Kebangkitan Nasional 1908, terpecah dalam fanatisma kelompok primordialisme\u00a0 dan paham kedaerahan yang sempit dan terkotak-kotak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konflik kepentingan yang terjadi saat ini masih nampak sebagai bentuk sikap pragmatisme politik yang sasarannya hanya kepentingan jangka pendek. \u00a0Ditambah lagi dengan kerumitan sosial, ekonomi, politik, geografi, rentetan ideologi konstruktif dan destruktif merembes kenegeri ini dan terjadi pembiasan orientasi berbangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Primordialisme, sektarianisme seputar etnis, budaya\u00a0 dan agama, doktrin subfersiv dan secara sistematis dan strategis mulai meluruhkan ikatan persaudaraan, kerukunan dan kesatuan bangsa..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fakta di atas menunjukkan\u00a0 bahwa peran dan partisipasi generasi muda dalam pembangunan sangatlah rendah Padahal modal utama keberhasilan pembangunan adalah generasi muda itu sendiri, masyarakat awam beranggapan bahwa pendidikan moral (nilai) bagi generasi muda sudah cukup didapat dari sekolah formal, kenyataannya pendidikan moral (nilai) yang mereka peroleh di sekolah sangatlah minim. Hal ini dikarenakan materi di sekolah formal lebih banyak memberikan pengetahuan yang bersifat umum daripada pengetahuan yang bersifat moral (nilai).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mengubah sikap pragmatisme maka perlu ditanamkan karakter bangsa. Fenomena yang terjadi pada pendidikan nasional kita saat ini, adalah mengeliminasi pendidikan yang didalamnya terdapat pendidikan nilai seperti agama, ideologi, budaya bangsa, pendidikan karakter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendidikan karakter yang baik mencakup pengetahuan akan moral, perasaan tentang moral dan perbuatan yang bermoral, yakni: kesadaran akan sebuah negara yang plural (majemuk) haruslah selalu di implementasikan dalam kehidupan berbangsa dengan mengambil nilai luhur yang terkandung kelima sila dalam Pancasila.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menumbuhkan patriotisme<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Patriotisme merupakan \u00a0sebuah kebajikan yang dicapai melalui jerih payah dan perjuangan, kebajikan pada hakekatnya ada ditengah dan tidak akan jatuh pada salah satu ekstremisme tertentu. Kesetiaan pada tanah air tercermin pada <em>life style<\/em> dan pengambilan keputusan yang penting dinegeri ini<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Patriotisme saat ini tidak hanya sebatas kesatuan tanah air, bangsa dan bahasa, tetapi mencakup komitmen yang diintegrasikan pada idealisme , ideologi visi, semangat sejak\u00a0 kemerdekaan yang terus dilanjutkan konsensus dan komitmen nasional dalam dimensi kerohanian bangsa<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persaudaran bangsa tidaklah semata-mata ditentukan oleh dimensi primordialitas (garis keturunan atau bahasa daerah) tetapi oleh kesetiaan pada semangat perjuangan dan cita-cita pendiri negara yang dilhami oleh sumpah pemuda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kepeloporan dan Modernitas<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemuda secara alamiah sangat berperan dalam \u00a0kepeloporan dan kepemimpinan untuk menggerakkan potensi dan sumber daya yang ada pada masyarakat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penyusunan strategi mengenai peran pemuda dalam pembangunan konteksnya adalah kepeloporan dan kepemimpinan.\u00a0 , maka untuk meningkatkan peran pemuda dalam pembangunan, harus dibangun kepeloporan dan kepemimpinannya, \u00a0tiga aspek yang terkait hal tersebut adalah: \u00a0semangat, kemampuan, dan aktualisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepeloporan dan kepemimpinan bisa berarti\u00a0 sama yakni : berada di muka dan diteladani oleh yang lain.\u00a0 Tetapi, dapat pula memiliki arti sendiri.\u00a0 Kepeloporan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan memulai sesuatu, untuk diikuti, dilanjutkan,dikembangkan, dipikirkan oleh yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kepeloporan ada\u00a0 unsur menghadapi risiko, \u00a0\u00a0kesanggupan untuk memikul risiko ini penting dalam setiap perjuangan, dan pembangunan adalah suatu bentuk perjuangan.\u00a0 Pada era global\u00a0 ini \u00a0kehidupan makin kompleks, demikian juga dengan \u00a0risiko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Giddens mengatakan \u00a0<em>\u201cModernity is a risk culture\u201d.<\/em> Modernitas memang mengurangi risiko pada bidang-bidang dan cara hidup tertentu, tetapi juga membawa parameter resiko baru yang tidak dikenal sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko. Sifat-sifat itulah yang \u00a0ada dalam diri pemuda, karena itulah tugas kepeloporan \u00a0cocok buat pemuda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ki Hadjar Dewantara<\/strong> mendefinisikan tentang watak kepemimpinan dengan ungkapan <em>\u201cing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani\u201d.\u00a0 <\/em>Kepemimpinan didepan memberikan contoh, . di tengah memberikan dorongan semangat, dan dibelakang memberikan wejangan dan petuah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Revitalisasi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk merevitalisasi Sprit Kepeloporan dan Kepemimpinan Pemuda harus dilakukan melalui keteladanan dari para pemimpin bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Prof. Bernard Adeney Risakotta<\/strong> (University of California) menyatakan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh \u00a0Kepemimpinan\u00a0 <em>Profetik<\/em> ( keteladanan) \u00a0untuk \u00a0dapat mengatasi krisis moral antara lain:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pemimpin inklusif yang mengayomi semua komunitas dan memperjuangkan keadilan untuk seluruh elemen masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pemimpin yang kuat, realistis, berani dan bermoral<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pemimpin yang melayani yang memprioritaskan urusan orang banyak dari pada diri sendiri<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pemimpin yang mempunyai integritas moral dan dan berkomitmen mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumpah Pemuda haruslah disadari adalah wujud komitmen pemuda Indonesia, bahwa Indonesia menjadi negara besar bukan karena persamaannya, tapi karena perbedaannya, Sikap pragmatisme dalam setiap kehidupan berbangsa, harus diubah dalam bentuk konsolidasi sebuah organisasi, sehingga muncul kader muda yang potensial dan mempunyai visi dalam menghadapi tantangan jaman. Persatuan dan kesatuan bangsa yang terjalin dengan kukuh akan menjadikan \u00a0kemajemukan menjadi modal dan kekuatan bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Spririt \u00a0Sumpah Pemuda merupakan keniscayaan yang harus dikembangkan agar para pemuda siap menghadapi perubahan zaman\u00a0 yang begitu cepat, kita tidak hanya berbangsa, berbahasa dan tanah air yang satu, namun juga \u00a0berideologi Panca Sila, berkonstitusi UUD 45 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selamat Memperingati Sumpah Pemuda 2012, Jayalah Pemuda Indonesia !<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Supardi, S.Sos)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bung Karno menyatakan, beri aku satu pemuda akan aku guncangkan Indonesia, dan berikan aku sepuluh pemuda akan aku guncangkan dunia. Pemuda adalah pewaris, penentu masa depan bangsa. Pemuda selalu menjadi penggerak sebuah perubahan, untuk melakukan suatu perubahan diperlukan pemikiran baru, untuk merealisasikannya dibutuhkan keyakinan yang kuat. Ikhlas tanpa pretensi, siap berkorban untuk membela, berproses untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1312","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1312"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1312\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}