{"id":1537,"date":"2013-01-14T00:56:43","date_gmt":"2013-01-14T00:56:43","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1537"},"modified":"2013-01-14T00:56:43","modified_gmt":"2013-01-14T00:56:43","slug":"memaknai-tahun-baru-2013-ethos-kerja-kolektif-untuk-kemandirian-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/memaknai-tahun-baru-2013-ethos-kerja-kolektif-untuk-kemandirian-bangsa\/","title":{"rendered":"Memaknai Tahun Baru 2013 Ethos Kerja Kolektif untuk Kemandirian Bangsa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Hingar bingar suara terompet lenyap sudah, begitu juga dengan gemerlap percikan kembang api menghiasi langit, kita telah menjejakkan kaki ditahun 2013. Masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan dan masa sekarang kita berjuang menyingsingkan lengan baju, bekerja lebih keras untuk meraih cita-cita. Menjejakkan kaki ditahun baru yang penuh dengan onak dan duri segenap permasalahan yang tak tuntas pada tahun sebelumnya menjadi PR yang wajib untuk diselesaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu permasalahan yang cukup \u00a0menggelitik dan perlu kita cermati , menurunnya ethos kerja kolektif hampir sebagian besar bangsa Indonesia, khususnya generasi muda \u00a0karena terkontaminasi oleh budaya individualisme barat yang hedonistik serta \u00a0gampang berpuas diri dengan apa yang telah \u00a0diraihnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Semenjak dulu bangsa Indonesia memiliki ethos kerja kolektif yang sering\u00a0 disebut dengan gotong royong, \u00a0dan sekarang\u00a0 tergerus oleh kepentingan individu yang cenderung hipokrit, egois. Budaya gotong royong \u00a0yang selama ini menjadi ciri kearifan lokal semakin terpinggirkan oleh kepentingan individu. Dampak globalisasi yang ditandai dengan era demokratisasi seolah mendorong pola kehidupan sosial ter <i>fragmentas<\/i>i dalam satuan <i>ekslusi<\/i>f \u00a0disertai dengan sikap individualitas mengikutinya, semakin berkurangnya kepedulian terhadap sesama dan \u00a0hampir semua <i>ranah<\/i> diukur dengan kalkulasi angka untuk kepentingan sesaat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1538\" aria-describedby=\"caption-attachment-1538\" style=\"width: 230px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/index.php\/2013\/01\/14\/memaknai-tahun-baru-2013-ethos-kerja-kolektif-untuk-kemandirian-bangsa\/thnbaru\/\" rel=\"attachment wp-att-1538\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1538\" alt=\"Sumber Gambar : ptamandags.blogspot.com\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/thnbaru.png\" width=\"230\" height=\"154\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1538\" class=\"wp-caption-text\">Sumber Gambar : ptamandags.blogspot.com<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><!--more-->Ethos Kerja<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ethos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap,kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi oleh kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya. Dari kata Ethos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk <i>(moral),<\/i> sehingga dalam ethos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Dalam ethos tersebut, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatu dan menghindari segala kerusakan <i>(fasad), <\/i>sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari hasil pekerjaanya <i>(no single defect).<\/i><br \/>\nDan dari literatur lain juga disebutkan bahwa ethos berarti ciri, sifat atau kebiasaan, adat istiadat, atau juga kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang, suatu golongan atau suatu bangsa (Mochtar Buchori, 1994).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Toto Tasmara, bahwa ethos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, menyakini, dan memberikan makna pada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal <i>(high performance)<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>\u00a0Kolektifitas dan individualism<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hofstede 1980 sebagaimana dikutip\u00a0 Lukas S Ispandriarno ,\u00a0 mengatakan Kolektifisme dimaknai sebagai masyarakat komunal yang menjunjung tinggi kewajiban bersama terutama bagi kelompoknya\u00a0 dengan tujuan dan nilai-nilai kebersamaan sangat dihargai terutama bagi kelompoknya<i> (in-group).<\/i> Kolektifis mengutamakan kebutuhan bersama yang menjadi kewajiban masing-masing anggota atau masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semangat kolektifitas dan individualism tidak merujuk pada benar dan salah, namun merupakan kecendrungan budaya yang yang terdapat dimasyarakat. Masyarakat Amerika\u00a0 tingkat keindividuannya sangat tinggi namun kolektifitas mereka akan muncul\u00a0 bila menyangkut kepentingan\u00a0 nasional, salah satu contoh ketika Amerika melakukan pendudukan di Irak maka mereka akan bicara\u00a0 <i>right or wrong is my country.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ditengah hiruk pikuk kehidupan dan kebutuhan\u00a0 sikap individualis yang mengemuka, manusia sebenarnya tak bisa lepas dari takdirnya untuk hidup berkelompok, saling tolong menolong, saling menghargai, saling memberi saling menerima, saling mencukupi. Jika \u00a0masing masing individu merasa memiliki \u00a0wilayah otonomi untuk dirinya sendiri, bukan berarti ia dapat hidup sendiri, memenuhi dan mencukupi segala kebutuhannya, maka \u00a0diperlukan keseimbangan antara ranah individu dan ranah publik untuk mensinerjikan agar dapat saling melengkapi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demokrasi pada dasarnya positif, \u00a0bila menjadikannya acuan untuk menemukan ikatan bersama dan pembentukan ethos kerja bersama\u00a0 guna menghadapi pelbagai permasalahan yang menimpa negeri ini. Namun bila \u00a0demokratisasi yang menjamin kebebasan dan\u00a0 kesetaraan untuk semua \u00a0ditafsirkan negatif \u00a0akan menimbulkan kondisi anomali hukum dan kekacauan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ethos kerja kolektif dan membangun kemandirian merupakan esensi dari karakter bangsa, bila terjadi permasalahan dalam kerangka kerja kolektif kemandirian suatu bangsa maka yang menjadi masalah adalah pembangunan karakter bangsa itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sistem pendidikan nasional yang terjadi selama ini turut menyumbang degradasi karakter bangsa, perubahan kurikulum yang berulang kali terjadi menjadikan masyarakat limbung. Pembangunan karakter bangsa bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, namun suatu proses dari <i>cetak biru<\/i> \u00a0yang berlangsung terus menerus dan bekelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Kemandirian<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proklamator RI, Bung Karno mengatakan kita harus berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Dalam pidato beliau 17 Agustus 1965 mengemukakan tiga prinsip berdikari, berdaulat dibidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kiranya masih relevan apa yang disampaikan beliau dengan kondisi saat ini, tinggal sekarang kemauan kita bersama, apakah kita menjadi bangsa yang lembek membebek larut dalam permainan negara besar atau menjadi kuat dan mandiri sebagaimana yang dicita-citakan pada pembukaan UUD 45.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semangat\/ ethos kerja kolektifism bangsa Indonesia yang \u00a0dimplementasikan\u00a0 dengan semangat ke gotong royongan dalam ke \u201cBhinekaan\u201d merupakan \u00a0modal dasar dan perekat yang\u00a0 kuat mengikat\u00a0 Persatuan dan Kesatuan \u00a0untuk \u00a0kemandirian bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selamat Tahun Baru 2013.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Datar Pustaka:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Jurnal Dialog Kebijakan Publik edisi September 2012 : Lukas S Ispandriarno, Semangat Kolektifisme\u00a0 dan Individualisme : Ditengah Kemodernan Peran Negara dan Media Baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0http:\/\/id.shvoong.com\/social-sciences\/education\/2180708<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hingar bingar suara terompet lenyap sudah, begitu juga dengan gemerlap percikan kembang api menghiasi langit, kita telah menjejakkan kaki ditahun 2013. Masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan dan masa sekarang kita berjuang menyingsingkan lengan baju, bekerja lebih keras untuk meraih cita-cita. Menjejakkan kaki ditahun baru yang penuh dengan onak dan duri segenap permasalahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1537","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1537","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1537"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1537\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1537"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1537"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1537"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}