{"id":1802,"date":"2013-05-27T03:17:40","date_gmt":"2013-05-27T03:17:40","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=1802"},"modified":"2013-05-27T03:17:40","modified_gmt":"2013-05-27T03:17:40","slug":"workshop-analisis-konflik-dalam-pengelolaan-sumberdaya-arkeologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/workshop-analisis-konflik-dalam-pengelolaan-sumberdaya-arkeologi\/","title":{"rendered":"Workshop Analisis Konflik dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pengertian konflik adalah situasi ketika dua pihak atau lebih menginginkan hal yang sama secara bersamaan, namun pihak lain menghalangi sehingga tujuan salah satu pihak menjadi terhalang ( Ruth-Heffelbower 2001). Itulah yang dipaparkan Endah Setyowati , Msi, MA., seorang pakar Analisis Konflik dan Studi Perdamaian Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta dalam\u00a0 acara Workshop pada tanggal 14-15 Mei 2013. Workshop diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Arkeologi UGM. \u00a0Workshop ini mengambil tema analisis Konflik dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya \u00a0Arkeologi yang diikuti oleh 10 peserta yang terdiri dari Mahasiswa S2 Museumologi, Balai Pelestarian Cagar Budaya(BPCB), serta dari Monumen Pers Nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Endah Setyowati juga mengungkapkan bahwa sumber konflik dalam pengelolaan sumber daya budaya pada umumnya berkenaan dengan penggunaan lahan yang didalamnya terdapat situs-situs atau benturan kepentingan dalam pengelolaannya sebagai aset pariwisata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam workshop ini peserta diberi pelatihan dengan menggunakan alat-alat analisis konflik yang terdiri dari Segitiga Sikap Perilaku Konteks (SPK), Pohon Konflik, Analisis Piramida, Analisis Pilar, Analisis Bawang Bombay, Analisis Pemetaan Konflik serta analisis kekuatan konflik. Alat-alat ini digunakan untuk menemukan cara-cara untuk memahami, mengeloladan menjadi sarana belajar saling memahami antar pihak yang berkonflik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1803\" aria-describedby=\"caption-attachment-1803\" style=\"width: 436px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/workshop.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1803\" alt=\"Peserta workshop sedang melakukan presentasi menggunakan salah satu alat analisis\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/workshop.jpg\" width=\"436\" height=\"263\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/workshop.jpg 436w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/workshop-300x181.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/workshop-400x241.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 436px) 100vw, 436px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1803\" class=\"wp-caption-text\">Peserta workshop sedang melakukan presentasi menggunakan salah satu alat analisis<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Peserta workshop sangat antusias dalam proses analisis ini, dan kebanyakan dari peserta memilih isu sesuai dengan apa yang sedang mereka hadapi dilapangan. Dengan berbagai analisis ini diharapkan para peserta lebih mudah mengatasi konflik yang terjadi dilapangan. (Eti Kurniasih)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian konflik adalah situasi ketika dua pihak atau lebih menginginkan hal yang sama secara bersamaan, namun pihak lain menghalangi sehingga tujuan salah satu pihak menjadi terhalang ( Ruth-Heffelbower 2001). Itulah yang dipaparkan Endah Setyowati , Msi, MA., seorang pakar Analisis Konflik dan Studi Perdamaian Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta dalam\u00a0 acara Workshop pada tanggal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1802","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1802","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1802"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1802\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1802"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1802"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1802"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}