{"id":2065,"date":"2014-02-28T03:54:51","date_gmt":"2014-02-28T03:54:51","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=2065"},"modified":"2014-02-28T03:54:51","modified_gmt":"2014-02-28T03:54:51","slug":"fssr-uns-gelar-seminar-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/fssr-uns-gelar-seminar-nasional\/","title":{"rendered":"FSSR UNS GELAR: SEMINAR NASIONAL"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Bertempat di ruang seminar Lt II Fakultas Sastra dan Senirupa, PMPA Sentra Bhuana Fakultas Sastra Seni Rupa UNS, bekerja sama dengan FORSIS (Forum Silaturahim Santri) menyelenggarakan seminar yang mengambil Tema : \u201cMemperkokoh Ideologi Pancasila: Diskursus Komunisme di Indonesia\u201d Kamis, 27\/02\/14<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seminar nasional \u00a0sehari tersebut menampilkan pembicara:\u00a0 Tsabit Azimar Ahmad, SPd, MPd dosen Fakultas Sastra Senirupa Undip Semarang; Drs. Supariadi, M.Hum dosen Fakultas Sastra Seni Rupa UNS dan Winarso dari Sekretariat Bersama (Sekber) 1965. Seminar yang diikuti ratusan peserta dari berbagai lapisan terdiri : Mahasiswa, \u00a0guru MGMP, organisasi sosial \/kemasyarakatan,\u00a0 instansi pemerintah termasuk Monumen Pers Nasional Surakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutan pembukaanya PD III, Supono Sasongko, SH, MHum, mengatakan: Bangsa Indonesia telah mengalami fluktuasi naik turun dalam proses berbangsa dan bernegara, diharapkan seminar ini dapat memberikan sumbangsih dan manfaat bagi peserta dan masyarakat umum terutama generasi muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Azis Fathurohman, MA selaku ketua Forsis dalam pengantarnya mengatakan: \u201cRentang sejarah tak bisa lepas dari ideologi kekuatan besar seperti: Agama, Sekularisme, Komunisme. Dan Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia justru lebih besar dari tiga kekuatan diatas. Lebih lanjut\u00a0 ia menegaskan Pancasila dan NKRI adalah harga mati. Masyarakat Indonesia yang Nasionalis, Agamis religius hanya dapat diwadahi dalam Pancasila, untuk itu Pancasila harus diperkuat dan diharapkan menjadi <i>main stream<\/i> kebangkitan bangsa.\u201d<b><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2066\" alt=\"fssr1\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr1.jpg\" width=\"336\" height=\"223\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr1.jpg 336w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr1-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 336px) 100vw, 336px\" \/><\/a>Tsabit Azimar pembicara pertama mengambil judul \u201cKomunisme dan Trauma dalam Perspektif Sejarah\u201d \u00a0mengatakan : Sebelum kemerdekaan Indonesia antara komunisme dan islam saling bahu membahu karena secara universal sama sama menganut anti penindasan. \u00a0Semaoen\u00a0 dari Sarekat Islam (SI) Semarang\u00a0 tertarik dengan\u00a0 gagasan komunisme yang begitu konkret dan dianggap sesuai dengan pergerakan nasional\u00a0 dan visi anti kolonialisme. \u00a0Marco Martodikromo mengatakan bahwa kesamaan antara tujuan islam dan sosialisme adalah keselamatan dan kesejahteraan. Peristiwa pemberontakan PKI Madiun oleh Muso, dan G 30 S\/ PKI\u00a0 membuat Komunis di Indonesia terjun ketitik nadir, lebih-lebih lagi keluarnya Ketetapan MPR Nomor XXV\/ MPRS\/ 1966 yang berisikan pembubaran dan pelarangan PKI dan organisasi sayapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Tzabit Azimar menyimpulkan, \u201c Pelarangan ideologi pada dasarnya adalah persoalan siapa yang menang dan yang kalah, komunisme tidak akan pernah dapat dihilangkan dari sejarah Indonesia, karena pernah menjadi bagian dari jati diri bangsa. Selagi kapitalisme\u00a0 masih ada maka benih komunisme akan tersemai melakukan perlawanan, yang penting kita menyikapinya dengan arif dan bijaksana\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2067\" alt=\"fssr2\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr2.jpg\" width=\"242\" height=\"182\" \/><\/a>Winarso dari Sekber 1965 dalam paparanya mengatakan: \u201cPancasila bukan hanya sekedar ideologi, ia adalah asas, \u00a0roh &#8211; nafas dan jiwa \u00a0bangsa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">The fouding fathers telah mengikrarkan Hakekat\u00a0 Kemerdekaan bangsa : Berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam bidang budaya. Untuk itu kita harus kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 serta melaksanakan Pasal 33 UUD 45. Bung Karno mencita-citakan terbangunnya karakter bangsa melalui front nasional dengan tiga kekuatan besar Nasonal, Agama dan Komunis yang akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berdikari dan sampai terjadinya\u00a0 tragedi 1965 yang memakan banyak korban jiwa. Orde Baru dengan UU.1 Th. 1967 membuka masuknya modal asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara singkat Winarso menyampaikan dosa Orde Baru adalah menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang besifat pragmatis, sedangkan dosa Reformasi adalah mengamandemen\u00a0 UUD 1945 Pasal 33 untuk kepentingan modal asing yang berpaham neo liberalisme (Kapitalisme. Imperialisme).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2068\" alt=\"fssr3\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr3.jpg\" width=\"245\" height=\"185\" \/><\/a>Sedangkan\u00a0 Drs.Supariadi, M.Hum, \u00a0dosen jurusan sejarah FSSR UNS menampilkan makalah: \u201cRekonsiliasi : Upaya Berdamai dengan Masa Lalu\u201d mengatakan: \u201c Memahami sejarah adalah sebuah proses berkesinambungan dan perubahan dalam dinamika kelampauan merupakan salah satu jalan untuk lebih mengenal kekinian dan menatap lebih terang masa yang akan datang.\u201d<\/p>\n<figure id=\"attachment_2069\" aria-describedby=\"caption-attachment-2069\" style=\"width: 313px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2069\" alt=\"salah seorang peserta saat mengajukan pertanyaan\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr4.jpg\" width=\"313\" height=\"236\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr4.jpg 313w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/fssr4-300x226.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 313px) 100vw, 313px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2069\" class=\"wp-caption-text\">salah seorang peserta saat mengajukan pertanyaan<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sejarah Indonesia gerakan radikal pemberontakan Komunis telah terjadi di era pemerintahan kolonial 1926\/27, peristiwa Madiun dan G 30S\/PKI<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orde baru menstigmasikan bahwa komunis adalah <i>enemi <\/i>(musuh bersama) yang harus dilawan, padahal peristiwa tersebut merupakan bagian sejarah yan tak mungkin dihapuskan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Supariadi lebih jauh menegaskan, \u201cRekonsiliasi adalah sebuah kebutuhan untuk dapat keluar dari beban masa lalu, pihak yag terkait harus berdiskusi dan masyarakat maupun pemerintah menjadi mediasi, Gus Dur ketika\u00a0 menjadi ketua PB NU telah mengambil langkah rekonsiliasi <i>social cultural<\/i> karena organisasi yang dipimpinnya mempunyai pengalaman berbenturan langsung ketika peristiwa 1965 terjadi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKonflik dan integrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pejalanan sejarah\u00a0 Indonesia, adakalanya konflik terselesaikan sehingga terjadi integrasi, sebaliknya konflik yang terjadi terus menerus menghambat integrasi, perlu dicarikan solusi terbaik agar konflik yang berujung pada kekerasan dan genosida bisa terselesaikan dengan baik melalui rekonsiliasi \u201d pungkasnya. (Supardi, SSos)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bertempat di ruang seminar Lt II Fakultas Sastra dan Senirupa, PMPA Sentra Bhuana Fakultas Sastra Seni Rupa UNS, bekerja sama dengan FORSIS (Forum Silaturahim Santri) menyelenggarakan seminar yang mengambil Tema : \u201cMemperkokoh Ideologi Pancasila: Diskursus Komunisme di Indonesia\u201d Kamis, 27\/02\/14 Seminar nasional \u00a0sehari tersebut menampilkan pembicara:\u00a0 Tsabit Azimar Ahmad, SPd, MPd dosen Fakultas Sastra Senirupa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2065","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2065"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2065\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}