{"id":2365,"date":"2014-12-17T03:54:27","date_gmt":"2014-12-17T03:54:27","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=2365"},"modified":"2014-12-17T03:54:27","modified_gmt":"2014-12-17T03:54:27","slug":"rusli-marzuki-saria-wartawan-penyair","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/rusli-marzuki-saria-wartawan-penyair\/","title":{"rendered":"Rusli Marzuki Saria Wartawan &#8211; Penyair"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Bagi mereka yang aktif dikomunitas\u00a0 media dan sastra di Sumatera Barat, Padang\u00a0 khususnya nama Rusli Marzuki Saria sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Sosok yang biasa dipanggil \u201cPapa\u201d oleh yuniornya masih terlihat lincah baik dari fisik maupun dalam berkomunikasi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2366\" aria-describedby=\"caption-attachment-2366\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/rusli-marzuki.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-2366\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/rusli-marzuki-300x225.jpg\" alt=\"Penulis Menerima 3 buah buku puisi\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2366\" class=\"wp-caption-text\">Penulis Menerima 3 buah buku puisi<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Intonasinya masih cukup jelas dengan aksentuasi khas minang membuat kita betah berlama-lama berbicara panjang lebar, masalah politik, sastra bahkan persoalan kehidupan. Ditopang\u00a0 daya ingat yang masih tajam beliau menceritakan sejarah panjang \u00a0perjalanan hidupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang Kabupaten Agam,\u00a0 pada 26 Februari\u00a0 2015 nanti\u00a0 genap berusia 79 tahun, diusianya yang tak muda lagi masih aktif berkiprah dalam komunitas sastra baik sebagai penyair, pengamat maupun juri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika sekolah di SMA Bukittinggi tahun 1956 ia telah mulai menulis esei dan puisi yang dimuat di ruangan Kuncup Muda Harian Haluan Padang dan dibacakan acara pembacaan \u00a0puisi dan sajak di Radio Republik Indonesia (RRI) Buklittinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Sejak kota Bukitinggi diduduki tentara pusat pada 4 Mei 1958. Rusli Marzuki Saria\u00a0 bergabung dengan dengan kompi mahasiwa \u201cMawar\u201d, pada saat itu ada istilah orang \u00a0PRRI adalah yang masuk kehutan sedang tentara pusat yang berada diperkotaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesempatan\u00a0 untuk mengikuti Pendidikan Tinggi\u00a0 Ilmu Kepolisian (PTIK) menjadi sirna disebabkan Ikutnya beliau dengan PRRI . Pada 31 Juli 1961 amnesti Presiden Soekarno\u00a0 diumumkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berakhirnya PRRI beliau pindah ke Padang dan aktif menulis diberbagai media yang terbit ketika itu: Respublika, Aman\u00a0 Makmur dan Angkatan Bersenjata. Pada tanggal 1 Mei 1969 bersama rekan wartawan lainnya , Chairul Harun, Basri Segeh dll\u00a0 mendapat tawaran oleh Kasoema untuk menerbitkanlkembali harian haluan yang sudah sepuluh tahun tidak terbit dan dipercaya \u00a0sebagai sekretaris redaksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai wartawan, beliau telah mengikuti berbagai kegiatan diantaranya Karya Latihan Wartawan (KLW) daerah 1973, KLW XVI Jakarta 1978, KLW dan Seminar Wilayah I PWI Pusat di Medan 1986, KLW Yogyakarta 1991, KLW-KMD Kaliurang Yogyakarta 1992, Penataran P4 Pola 120 Angkatan X Sumbar di Padang. Pernah meliput latihan perang Angkatan Laut RI dengan Angkatan Laut Australia di Great Barrir Reef Pasifik selama 2\u00a0 bulan.1977 , sedang sebagai pengurus PWI penah menjabat Wakil Bendahara, Ketua bidang \u00a01975- 1988, pernah juga\u00a0 menjabat sebagai pengurus Golongan Karya dan jadi anggota DPRD 1982-1992.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai penyair sering mengikuti berbagai even dan pertemuan sastrawan dan kebudayaan: Pertemuan Penyair Dan Sastrawan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Pertemuan Sastrawan Nusantara , di Kuala Lumpur, Johor Baru di Malaysia. Undangan Pembacaan Puisi di Dewan Kesenian Jakarta, Sebagai Pembicara \u00a0bersama Sutardji Calsum Bachri, HB Jassin, Slamet Sukirnanto dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rusli Marzuki Saria masih terlihat enerjik, menurut beberapa rekan seangkatannya masih suka naik \u201ckereta angin\u201d bila bepergian. \u201cSaya adalah penyair yang mempunyai profesi wartawan\u201d katanya. Beberapa buku puisi\u00a0 yang telah terbit diantaranya \u201cParewa\u201d, \u201cSembilu Darah\u201d dan Mangkutak di Negeri Prosa Liris\u201d dan banyak tulisan lepas yang dimuat berbagai media masa di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rusli Marzuki Saria adalah sedikit dari sedikit wartawan daeah yang bertahan melawan mitos \u201cmerantau\u201d Ketika dimintai pendapatnya tentang karya sastra saat ini terutama puisi, ia mengatakan, \u201cPuisi anak muda sekarang mengalami pendangkalan makna, \u00a0karena tidak melalui perenungan mendalam\u201d .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terhadap situasi dan kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, yang perlu dilakukan katanya,\u00a0 \u201cDengan menguatkan kearifan lokal dan budaya daerah akan berimbas menguatkan Persatuan Dan Kesatuan Bangsa. \u00a0(berbagai sumber) (Supardi SSos)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi mereka yang aktif dikomunitas\u00a0 media dan sastra di Sumatera Barat, Padang\u00a0 khususnya nama Rusli Marzuki Saria sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Sosok yang biasa dipanggil \u201cPapa\u201d oleh yuniornya masih terlihat lincah baik dari fisik maupun dalam berkomunikasi. Intonasinya masih cukup jelas dengan aksentuasi khas minang membuat kita betah berlama-lama berbicara panjang lebar, masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-2365","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2365"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2365\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}