{"id":2579,"date":"2015-06-12T07:44:23","date_gmt":"2015-06-12T07:44:23","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=2579"},"modified":"2015-06-12T07:44:23","modified_gmt":"2015-06-12T07:44:23","slug":"menkominfo-kunjungi-monumen-pers-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/menkominfo-kunjungi-monumen-pers-nasional\/","title":{"rendered":"MENKOMINFO KUNJUNGI MONUMEN PERS NASIONAL"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_2580\" aria-describedby=\"caption-attachment-2580\" style=\"width: 288px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2580\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo1.jpg\" alt=\"Menkominfo, Rudiantara memberikan pengarahan kepada karyawan MPN\" width=\"288\" height=\"197\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2580\" class=\"wp-caption-text\">Menkominfo, Rudiantara memberikan pengarahan kepada karyawan MPN<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Solo,Kamis, 11\/6, menkominfo Rudiantara mengatakan memang ada perbedaan yang signifikan antara Kementerian Kominfo dan Deppen pada masa Orde Baru, khususnya dalam hal regulasi, misalnya untuk mendirikan penerbitan pers tidak lagi diperlukan SIUP, begitu juga dengan fungsi pengawasan yang telah diserahkan kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Dewan Pers. Namun sebenarnya masyarakat masih memerlukan \u201cpenerangan\u201d terutama\u00a0 berkaitan dengan konten-konten yang terdapat di media\u00a0 massa, \u00a0demikian disampaikan\u00a0 kepada karyawan Monumen Pers \u00a0di gedung induk Monumen Pers\u00a0 Nasional pada kunjungannya kemarin.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2581\" aria-describedby=\"caption-attachment-2581\" style=\"width: 263px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2581\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo2.jpg\" alt=\"Menkominfo, Rudiantara saat melihat koleksi surat kabar lama\" width=\"263\" height=\"197\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2581\" class=\"wp-caption-text\">Menkominfo, Rudiantara saat melihat koleksi surat kabar lama<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut Rudiantara mengatakan pada era media konvensional (Surat kabar, Radio dan TV) konten masih dikontrol karena melalui rapat sidang dewan redaksi, tidak demikian dengan media on line apalagi media sosial, yang telah menimbulkan terjadinya pergeseran nilai \u2013 nilai ditengah\u00a0 masyarakat pasca reformasi, dengan era keterbukaan, kebebasan pers dan hak tahu masyarakat dilindungi Undang-undang, siapapun bebas mencari informasi, mengumpulkan informasi dan menyebarkan informasi. Masyarakat Indonesia cenderung menonjolkan individu, padahal ruh dari Nawacita program presiden Jokowi adalah kegotong-royongan, kebersamaan, untuk itu diperlukan <em>Revolusi Mental<\/em> untuk membangkitkan lagi rasa kebersamaan, gotong royong menepis egoisme sentris, mendahulukan kepentingan negara dari kepentingan individu kelompok maupun golongan. Tidak lagi menonjolkan kata <em>kami<\/em> \u00a0yang menjurus pada kepentingan kelompok, seyogyanya memakai kata <em>kita<\/em> sebagai simbol kebersamaan.<!--more--><\/p>\n<figure id=\"attachment_2582\" aria-describedby=\"caption-attachment-2582\" style=\"width: 263px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2582\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/menkominfo3.jpg\" alt=\"Menkominfo, Rudiantara saat melihat koleksi Benda Pers di Museum Pers-Monumen Pers Nasional\" width=\"263\" height=\"197\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2582\" class=\"wp-caption-text\">Menkominfo, Rudiantara saat melihat koleksi Benda Pers di Museum Pers-Monumen Pers Nasional<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengenai Monumen Pers Nasional Rudiantara yang baru pertama kali berkunjung, mengatakan akan mendukung dan mensuport Monumen Pers Nasional sebagai salah satu UPT\u00a0 Dirjen IKP Kominfo didaerah. Ia mengatakan koleksi dokumentasi bukti terbit media cetak memiliki nilai yang tinggi, lebih \u2013 lebih yang mengekspose peristiwa bersejarah dimasanya, momen bersejarah dimasa lalu itu ditampilkan lagi dengan sentuhan desain grafis yang diperlukan adalah bagaimana mengemasnya dengan bahasa yang up to date dan pesan yang terkandung didalamnya dapat terkomunikasikan dengan memanfaatkan kemajuan IT sehingga memberikan nilai tambah untuk masyarakat. Ide, kreatifitas dan kemampuan dan kemauan \u00a0untuk memberikan sesuatu yang lain menjadi sebuah keniscayaan, \u201cBuat program yang \u201ctidak biasa\u201d dan berani melakukan terobosan dan memberikan warna yang lain dari biasanya\u201d, pungkasnya. (Supardi).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solo,Kamis, 11\/6, menkominfo Rudiantara mengatakan memang ada perbedaan yang signifikan antara Kementerian Kominfo dan Deppen pada masa Orde Baru, khususnya dalam hal regulasi, misalnya untuk mendirikan penerbitan pers tidak lagi diperlukan SIUP, begitu juga dengan fungsi pengawasan yang telah diserahkan kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Dewan Pers. Namun sebenarnya masyarakat masih memerlukan \u201cpenerangan\u201d terutama\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2580,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[41,42,21,37,43,24],"class_list":["post-2579","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-kominfo","tag-menkominfo","tag-monumen","tag-pers","tag-rudiantara","tag-solo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2579","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2579"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2579\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2580"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2579"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2579"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2579"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}