{"id":2915,"date":"2017-01-31T02:21:03","date_gmt":"2017-01-31T02:21:03","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=2915"},"modified":"2017-01-31T02:21:03","modified_gmt":"2017-01-31T02:21:03","slug":"menangkal-hoax","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/menangkal-hoax\/","title":{"rendered":"MENANGKAL \u201cHOAX\u201d"},"content":{"rendered":"<p>\t\t\t\t<em>Hoax \/ Fake News<\/em>, \u00a0menjadi fenomena menarik \u00a0akhir-akhir ini, betapa tidak \u00a0dampak yang ditimbulkan oleh pemberitaan tersebut bagaikan bola api liar yang mengelinding ke segala arah, menyambar apa saja yang dilewatinya.<\/p>\n<p>Kata hoax berasal dari <strong><em>\u201chocus pocus\u201d<\/em><\/strong> yang aslinya adalah bahasa Latin <strong><em>\u201choc est corpus\u201d<\/em>,<\/strong> artinya \u201cini adalah tubuh\u201d. Kata ini biasa digunakan penyihir utk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar, padahal belum tentu benar.\u00a0Menurut <strong>MacDougall <\/strong>dalam <strong>Hoaxes (1958),<\/strong> <em>Hoax<\/em> adalah kebohongan yang dibuat secara sengaja\u00a0 untuk menyamarkan kebenaran yang ada, sedang <strong>Merriam Webster<\/strong>, menyebutkan <em>Hoax<\/em> adalah upaya untuk mengelabui objek untuk mempercayai atau menerima sesuatu yang keliru dan tak masuk akal. Cendekiawan Muslim <strong>Komarudin Hidayat<\/strong> mengatakan, <em>Hoax<\/em> merupakan pembunuhan karakter yang ingin menjatuhkan dan memanipulasi dalam konteks agama, merupakan fitnah, \u201c<em>Hoax<\/em> merupakan sikap mental yang menghilangkan sikap intergritas dan <em>fairness<\/em>\u201d (Republika,9\/1)<\/p>\n<figure id=\"attachment_2916\" aria-describedby=\"caption-attachment-2916\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/index.php\/2017\/01\/31\/menangkal-hoax\/foto-hoax-slamet-widodo\/\" rel=\"attachment wp-att-2916\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-2916 size-medium\" src=\"https:\/\/36.91.25.248\/00\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Foto-Hoax-slamet-widodo-300x212.jpg\" width=\"300\" height=\"212\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Foto-Hoax-slamet-widodo-300x212.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Foto-Hoax-slamet-widodo-400x282.jpg 400w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Foto-Hoax-slamet-widodo.jpg 641w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2916\" class=\"wp-caption-text\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 (Sumber gambar : Baruaja.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Hoax<\/em> yang di unggah terus menerus oleh media online, media sosial, kemudian di <em>share<\/em> oleh seseorang secara <em>masif<\/em> dan menjadi pesan berantai akan berdampak negatif pada masyarakat yang tidak hanya meresahkan namun juga menimbulkan kekacauan di masyarakat. Sebagian masyarakat penerima informasi seringkali tidak melakukan <em>cek<\/em> dan <em>ricek<\/em> atas informasi yang diterima, terlebih \u00a0jika dianggap sesuai dengan situasi atau mewakili isi hati mereka. Begitu mudahnya masyarakat menyebarkan berita <em>hoax<\/em> ini melalui <em>WhatsApp, Faceboook, Tweeter<\/em> dan media sosial lainnya yang berakibat makin tidak terkendalinya <em>hoax<\/em> tersebut.<\/p>\n<p>Dampak dari informasi yang menyesatkan berupa <em>Hoax<\/em> telah terasa saat ini dengan hilangnya kepecayaan masyarakat terhadap lembaga\/instansi pemerintah, timbulnya rasa cemas, munculnya kekhawatiran, ketakutan, rasa curiga, hilangnya rasa saling percaya, permusuhan dan terdegradasinya etika serta sopan santun di masyarakat.<\/p>\n<p>Beberapa ciri berita tersebut <em>Hoax<\/em> di antaranya adalah fakta atau data yang dilebih-lebihkan <em>(hiperbolis),<\/em> bagian terpenting sebuah berita yang dihilangkan, judul yang tidak sesuai dengan isi, ketidaksesuaian antara isi tulisan dengan foto, daur ulang peristiwa\u00a0 atau foto yang lama demi meramaikan isu-isu yang sedang berkembang.<\/p>\n<p>Setidaknya ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menangkal <em>hoax <\/em>agar tidak berkembang menjadi bola api liar diantaranya dengan melakukan cek dan ricek informasi yang diterima dengan mencari sumber informasi didapat, memeriksa identitas penulis\/penyunting informasi kemudian membandingkan berita yang diperoleh dengan \u00a0\u00a0yang ada di media <em>mainstream.<\/em> Secara sederhana staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika bidang hukum, Henry Subiyakto mengatakan agar masyarakat terlebih dahulu, \u201cSaring sebelum Sharing\u201d.<\/p>\n<p>Deklarasi <em>Anti Hoax<\/em> di BCA Tower Thamrin Jakarta pada 8 Januari lalu adalah salah satu upaya dari masyarakat, pemerintah dan pers dalam menangkal <em>hoax<\/em>. Pada kesempatan tersebut Menteri KOMINFO, Rudiantara menyatakan bahwa pemerintah melindungi hak dan kebebasan masyarakat dalam menyatakan pendapat termasuk penyebaran informasi, namun pemerintah punya kewajiban untuk melindungi masyarakat untuk mendapatkan konten yang sehat dan terhindar dari kejahatan dunia maya. Dijelaskan pula bahwa pemerintah tidak anti kritik \u00a0terhadap segala saran yang bersifat membangun agar masyarakat Indonesia memiliki <em>ruang<\/em> dunia maya yang sehat. Untuk itulah pemerintah melalui KOMINFO melakukan pemblokiran terhadap beberapa situs yang dianggap berbahaya dan meresahkan masyarakat sebagai upaya terakhir melindungi masyarakat dari konten negatif dan berbahaya dunia maya. (Slamet Widodo)\t\t<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hoax \/ Fake News, \u00a0menjadi fenomena menarik \u00a0akhir-akhir ini, betapa tidak \u00a0dampak yang ditimbulkan oleh pemberitaan tersebut bagaikan bola api liar yang mengelinding ke segala arah, menyambar apa saja yang dilewatinya. Kata hoax berasal dari \u201chocus pocus\u201d yang aslinya adalah bahasa Latin \u201choc est corpus\u201d, artinya \u201cini adalah tubuh\u201d. Kata ini biasa digunakan penyihir utk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2916,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2915","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2915","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2915"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2915\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2916"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}