{"id":3413,"date":"2019-01-15T07:12:45","date_gmt":"2019-01-15T07:12:45","guid":{"rendered":"http:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=3413"},"modified":"2019-01-15T07:12:45","modified_gmt":"2019-01-15T07:12:45","slug":"kilas-singkat-tahun-1920-lewat-koran-de-java-post","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/kilas-singkat-tahun-1920-lewat-koran-de-java-post\/","title":{"rendered":"Kilas singkat tahun 1920 lewat koran De Java Post"},"content":{"rendered":"\n\t\t\t\t\n<p>De Java Post yang terbit pada tanggal 30 Juli\n1920. Halaman depan memuat tentang beberapa laporan dari Kominsi Peninjau\ntentang program&nbsp; Indische Katholieke\nPartij (Partai Katolik Hindia). Isi laporan tersebut diantaranya :<\/p>\n\n\n\n<p>1. Belanda memegang kendali untuk melindungi dan\nmeningkatkan ekonomi lemah secara bertahap.&nbsp;\nAdministrasi tertinggi di bawah pihak Belanda. Sumber daya yang dimiliki\nHindia Belanda sebisa mungkin menggunakan kekuatan rakyat pribumi dimana\npopulasinya sangat cocok untuk mengurus kepentingan dan pemerintahan negara\nmereka sendiri akan tetapi tetap dalam batas-batas Asosiasi Negara Belanda,\nsehingga bisa mengangkat manajemen yang lemah secara ekonomi. <\/p>\n\n\n\n<p>2. Prinsip umat Katolik adalah program\nberkelanjutan, dan sebagai konsekuensinya bahwa Undang-Undang harus diterapkan.\nHindia Belanda juga perlu dijaga dan didengar, sehingga kepentingan Belanda\nyang kurang jelas bisa dipahami dengan mudah. Partai Katolik menginginkan\npengakuan otonomi Hindia Belanda dimanapun harus diberlakukan. Hal ini\nsangatlah berbeda pandangan dengan komisi yang ingin membuat Legislatif untuk\nseluruh Kerajaan Belanda dan ingin melihat otoritas diberikan sebagai campur\ntangan pihak Belanda. <\/p>\n\n\n\n<p>3. Berdasarkan kebijakan politik yang telah di\ndeklarasikan pada tahun 1917, partai katolik menilai tidak tercantum mengenai\npartisipasi penduduk sebanding dengan perkembangan administrasi kotamadya,\nwilayah dan negara. Menurut St Thomas Aquinas, sistem pemerintahan adalah yang\nterbaik, di mana orang-orang yang akan diperintah dapat berkontribusi dan bukan\nmenuntut pengembangan tertentu, terutama kepentingan nasional secara umum.\nKarena itu, sebelum pemilihan, perlu diselidiki dulu letak permasalahannya,\ntingkat perkembangan seperti apa yang diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>rPada akhirnya komisi selesa merevisi. Badan pemerintahan baru harus didirikan berdasarkan prinsip partisipasi populasi. Orang-orang diharapkan bersedia dengan tulus memberikan pengaruh pada Undang-Undang tentang cabang organisasi yang berbeda dari pelayanan publik hingga pengenaan pajak dan penggunaan dana nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Koran ini juga memuat artikel tentang gambaran\numum Belanda dan pribumi. Pada Tanggal 19 dan Agustus Mr. L. P. J. M. Sauter\nmeninggalkan Kota Semarang bersama dengan s.s. Goentoer ke Belanda sebagai\npenasihat direktur Perusahaan Gas N I (Hindia Belanda). Sauter adalah salah\nsatu tokoh paling menonjol dalam dunia bisnis dan telah bekerja bekerja di\nperusahaan tersebut selama seperempat abad.<\/p>\n\n\n\n<p>Berita dari berbagai daerah diantaranya yaitu\nKolonisasi di Palembang. Bapak Pieters ditunjuk oleh penduduk untuk melakukan\npekerjaan persiapan pendirian koloni di Kota Agung. Berita dari Semarang yaitu\nTn. Atmodirono, anggota Volksraad meninggal di Semarang dan dimakamkan di sana,\nbanyak orang yang hadir dipemakaman. Di Mlaten Semarang, di lingkungan pekerja\npaksa, Seorang sipir van Tintelen terbunuh dan asistennya terluka, tidak\ndijelaskan penyebabnya dan siapa yang melakukannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berita lain tentang penegasan dari Pastur van\nLith tentang gerakan di pedalaman. Beliau adalah seseorang yang memiliki banyak\nsimpati dari penduduk asli. Dikatakan bahwa gerakan tersebut seharusnya menjadi\ntugas bagi semua umat Katolik. Kemudian beliau menyimpulkan dalam artikelnya yang\nditujukan kepada semua penganut Katolik Belanda di Hindia, bahwa penduduk asli\nadalah saudara, sehingga perlunya berbagi kemampuan kepada mereka, seperti\nberbagi roti setiap hari. Kebanyakan tuan-tuan Eropa hanya bekerja dan hidup\nuntuk diri mereka sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Kontributor di Weekblad menemukan sesuatu tentang Amal Katolik St. Vincent; yaitu cinta Kristen Cina yang mengabdikan dirinya untuk narapidana, dimana seorang janda Klingalean yang menyerahkan diri dalam keadaan sakit dan sekarat. Judul dari tulisan itu adalah tentang Cinta, Rekonsiliasi, belas kasihan yang ditujukan untuk musuh. Penulis memiliki prinsip perlunya membayar pekerja pribumi sesuai dengan prestasi sebagai rasa keadilan sosial. Janda tersebut hanya dibayar 5 gobang=12,5 sen untuk bekerja sepanjang hari. Hal itu adalah suatu kesalahan dan ini sering terjadi semenjak tahun 1900. Ketika sakit, pekerja pribumi tersebut di usir oleh orang-orang Eropa. Orang-orang Eropa&nbsp; akan beralasan bahwa pribumi itu dianggap gelandangan yang berkeliaran. Seorang Etnolog yang mengenal mereka, tidak menyetujui mereka hanya dianggap sebagai suatu kemalasan saja. S. S. Westerlijnen mengatakan bahwa menjadi sebuah ironi menghakimi tanpa dasar apapun. Beliau yakin bahwa penduduk pribumi jauh lebih baik ketika kita telah mengenalnya tanpa perbandingan kelas sosial. Selain itu tidak ada manusia yang sempurna. Van den Lesraar, putri Residen mengatakan, kita harus selalu membedakan antara manusia dan kesalahannya, bahkan kesalahan tersebut dapat saja dimaafkan, jika tidak memaafkan berarti bukanlah Kristen sejati tetapi orang-orang kafir yang keras menikam Paulus dan dianggap orang yang tidak punya hati.<\/p>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>De Java Post yang terbit pada tanggal 30 Juli 1920. Halaman depan memuat tentang beberapa laporan dari Kominsi Peninjau tentang program&nbsp; Indische Katholieke Partij (Partai Katolik Hindia). Isi laporan tersebut diantaranya : 1. Belanda memegang kendali untuk melindungi dan meningkatkan ekonomi lemah secara bertahap.&nbsp; Administrasi tertinggi di bawah pihak Belanda. Sumber daya yang dimiliki Hindia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3414,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3413","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3413\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3414"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}