{"id":3573,"date":"2019-05-23T00:29:37","date_gmt":"2019-05-23T00:29:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=3573"},"modified":"2019-06-11T00:31:52","modified_gmt":"2019-06-11T00:31:52","slug":"mengenang-budi-utomo-sebagai-ide-kebangkitan-nasional-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/mengenang-budi-utomo-sebagai-ide-kebangkitan-nasional-2\/","title":{"rendered":"Mengenang Budi Utomo sebagai Ide Kebangkitan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"677\" height=\"515\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/00\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/19-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3527\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/19-3.jpg 677w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/19-3-300x228.jpg 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/19-3-400x304.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 677px) 100vw, 677px\" \/><figcaption>\n\t\t\t\t\t\t<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 \nMei setiap tahunnya selalu menjadi perayaan soal Budi Utomo. Meski dalam\n sejarahnya tak panjang umur sebagai organisasi (bubar pada 1935), Budi \nUtomo tak lekang dimakan waktu sebagai simbol bangkitnya semangat \nkebangsaan kaum bumiputera. <\/p>\n\n\n\n<p>Budi Utomo didirikan\nberawal dari ceramah dokter gaek Wahidin Soedirohoesodo di akhir tahun 1907. Wahidin\nsebenarnya <em>hanyalah<\/em> seorang dokter\nJawa dan priayi rendahan yang sedang berkampanye keliling Jawa untuk pendidikan\nanak-anak bumiputera.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ia datang ke\nBatavia, Wahidin diundang oleh dua mahasiswa STOVIA (sekolah pendidikan dokter bumiputera),\nSoetomo dan Soeradji, yang tak disangka justru lebih tertarik pada gagasan dan tutur\nkata Wahidin. Berangkat dari pemikiran Wahidin itulah dua pemuda tersebut, dibantu\noleh kawan-kawan seperguruannya, berencana membuat perkumpulan di STOVIA. <\/p>\n\n\n\n<p>Rabu, 20 Mei 1908\npukul sembilan pagi, puluhan pemuda berkumpul di ruang anatomi. Dalam\nperkumpulan tersebut, hadir siswa-siswa dari luar Batavia, seperti dari\nLandbouwschool (sekolah pertanian) dan Veeartsnijj school (sekolah kehewanan)\ndi Bogor hingga Hogere Burgerschool (sekolah menengah petang) di Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertemuan tersebut\nmenyepakati pendirikan organisasi yang dinamakan Budi Utomo. Nama ini, menurut Abdurrachman\nSurjomihardjo lewat bukunya <em>Budi Utomo\nCabang Betawi <\/em>(1980) berasal dari potongan pujian Soetomo pada Wahidin ketika\nmereka hendak berpisah: \u201c<em>Punika\nsatunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami <\/em>(Ini merupakan\nperbuatan yang baik serta mencerminkan keluhuran budi)\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hendak Dipadamkan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan Soetomo,\nSoedirjo, dan kawan-kawannya ternyata tak sepenuhnya didukung oleh guru-guru\nSTOVIA. Soetomo, yang pada itu masih berusia 20 tahun, terancam dikeluarkan\nkarena dituduh makar. Aksi solidaritas kemudian dikobarkan, terutama oleh\nGoenawan, yang mengajak teman-temannya. Goenawan menyatakan Soetomo berhak\nmengekspresikan pendapatnya sendiri. Ia mengancam apabila Soetomo dikeluarkan,\nmaka ia bersama teman-temannya yang lain juga akan keluar.<\/p>\n\n\n\n<p>Untung saja Dr. F.H.\nRoll, direktur STOVIA waktu itu sepemikiran dengan Soetomo. Dalam sidang para\npengajar, Dr. Roll mengajukan pertanyaan, \u201cApakah di antara tuan-tuan yang\nhadir di sini tidak ada yang lebih merah dari Soetomo waktu tuan-tuan berumur\n18 tahun?\u201d Pertanyaan tersebut kemudian berhasil mempengaruhi jalannya sidang\nsehingga Soetomo akhirnya dibebaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Belakangan diketahui\nDr. Roll memberi bantuan berupa pinjaman uang untuk kongres Budi Utomo yang\npertama. Para pemuda juga menjual arloji, kain panjang, ikat kepala, hingga\ntunjangan pribadi mereka untuk bulan puasa sebagai sumbangan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dipertanyakan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertemuan pemuda dan\njalan sulit yang ditempuh Soetomo dkk. itulah yang mengawali sejarah <em>singkat<\/em> Budi Utomo sebagai pelopor\norganisasi modern bumiputera.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ditilik dari\nsejarah pergerakan nasional, Budi Utomo sebenarnya bukanlah organisasi pertama\nyang memiliki cita-cita untuk <em>membangkitkan\n<\/em>bumiputera sebagai kaum terjajah, melainkan sudah didahului oleh satu\norganisasi dari Solo. Sarekat Dagang Islam namanya, diprakarsai oleh H.\nSamanhudi tanggal 16 Oktober 1905. <\/p>\n\n\n\n<p>Bapak pers Indonesia,\nTirto Adhi Soerjo, bahkan sudah mendirikan Sarekat Prijaji\u2014dengan gagasan yang\nmirip Budi Utomo\u2014tahun 1906 sebelum ia sendiri juga kemudian ikut bergabung\ndengan Budi Utomo.<\/p>\n\n\n\n<p>Sarekat Dagang Islam\natau SDI awalnya didirikan untuk memperkuat persatuan pedagang <em>pribumi<\/em> terhadap superioritas pedagang\nCina, terutama pedagang batik. Jika anggota dan simpatisan Budi Utomo berasal\ndari golongan priayi, SDI\u2014yang kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI)\ntahun 1912\u2014mendapat sambutan yang hangat dari akar rumput. SI ialah organisasi\nyang lebih egaliter, alias mempercayai bahwa setiap orang itu setara.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c\u2026 dengan melalui\npemuka agama (para kyai), pengaruhnya meluas sampai daerah-daerah dan\npedesaan,\u201d tulis Mansur dalam bukunya <em>Sejarah\nSarekat Islam dan Pendidikan Bangsa<\/em> (2004).<\/p>\n\n\n\n<p>Hal inilah yang sempat\nmembuat sejumlah kalangan menggugat penetapan Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan\nNasional oleh Soekarno tahun 1948. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam\nnovelnya <em>Tetralogi Buru<\/em> menyebut Budi\nUtomo sebagai perkumpulan eksklusif yang menganggap dirinya lebih tinggi\ndaripada sebangsa Hindia lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Peneliti budaya\nIndonesia, Ariel Heryanyo, dalam kolomnya di <em>The Jakarta Post<\/em> yang berjudul <a href=\"https:\/\/web.archive.org\/web\/20080721135631\/http:\/blogs.arts.unimelb.edu.au\/arielh\/2008\/05\/22\/on-national-awakening\/\"><em>Questioning the relevance of nat\u2019l awakening day<\/em><\/a> juga mempertanyakan sebutan \u201corganisasi modern\nIndonesia pertama\u201d untuk Budi Utomo. Penyebabnya seia sekata dengan Pram, yakni\nbahwa Budi Utomo memiliki karakter yang konservatif. Itulah alasan pemerintah\nHindia Belanda membiarkannya berjalan, tidak seperti Sarekat Islam atau\nIndische Partij yang digebuk dan digembos.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernyataan Budi Utomo\nsebagai kurang progresif dalam cita-citanya memang benar adanya. Setelah\ncita-cita Budi Utomo mendapatkan dukungan dari priayi dan cendekiawan Jawa\nmeluas, para pelajar seperti Soetomo dkk. memilih mundur dari barisan depan. Sebagian\nkarena keinginannya sendiri agar generasi tua yang memegang peranan. \u201cDengan\nini maka selesailah tingkat pembentukan dalam perkembangan BU,\u201d tulis\nAbdurrachman<\/p>\n\n\n\n<p>Bupati Karanganyar,\nTirtokusumo, yang menjadi ketua pada waktu itu disebut lebih banyak\nmemperhatikan reaksi dari pemerintah kolonial daripada memperhatikan reaksi\npenduduk pribumi. \u201cSlogan BU berubah dari \u2018perjuangan untuk mempertahankan\nkehidupan\u2019 menjadi \u2018kemajuan secara serasi\u2019. Hal itu menunjukkan pengaruh\ngolongan tua yang moderat dan golongan priayi yang lebih mengutamakan\njabatannya,\u201d lanjut Abdurrachman.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun begitu, saya\nsepakat dengan sejarawan Hilmar Farid dalam artikel <em>Historia<\/em> yang berjudul <a href=\"https:\/\/historia.id\/politik\/articles\/asal-usul-peringatan-hari-kebangkitan-nasional-vqrkZ\"><em>Asal Usul Peringatan Hari Kebangkitan Nasional<\/em><\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Penetapan Hari\nKebangkitan Nasional memang sudah problematik sejak awalnya. Saat masa bersiap\nIndonesia pascamerdeka tahun 1945, pemerintahan Soekarno menderita banyak\npotensi perpecahan dalam tubuh republik. Ada yang menghendaki pergerakan\nnasional didirikan oleh golongan tertentu. Budi Utomo dipilih \u201ckarena ia\norganisasi yang paling moderat, nasionalis, jalan tengah, dan yang paling\npenting tidak berhasil secara politik,\u201d ujar Hilmar. \u201cKarena kalau berhasil secara\npolitik, orang akan melacak asal usul dirinya kepada organisasi ini; kalau ini\ntidak bisa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Hilmar, persoalan\nBudi Utomo bukanlah terletak pada progresif atau konservatifnya ia, melainkan\nide kebangkitan itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Budi Utomo bolehlah\nmenjadi mundur setelah diserahkan ke golongan tua, tapi peringatan Hari\nKebangkitan Nasional dirayakan tepat 20 Mei 1908, saat beragam pemuda yang\nsebenarnya sudah punya <em>privilege <\/em>memilih\nuntuk memperjuangkan penghidupan sesama kaum terjajah, tanpa memperhitungkan\nasal dan warna kulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Lazuardi\nPratama<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya selalu menjadi perayaan soal Budi Utomo. Meski dalam sejarahnya tak panjang umur sebagai organisasi (bubar pada 1935), Budi Utomo tak lekang dimakan waktu sebagai simbol bangkitnya semangat kebangsaan kaum bumiputera. Budi Utomo didirikan berawal dari ceramah dokter gaek Wahidin Soedirohoesodo di akhir tahun 1907. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3527,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3573","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3573"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3574,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3573\/revisions\/3574"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}