{"id":3585,"date":"2019-03-11T01:36:32","date_gmt":"2019-03-11T01:36:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=3585"},"modified":"2019-06-11T01:37:49","modified_gmt":"2019-06-11T01:37:49","slug":"soeara-rajat-1-april-1919-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/soeara-rajat-1-april-1919-2\/","title":{"rendered":"SOEARA RA\u2019JAT 1 April 1919"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"678\" height=\"372\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/00\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/09.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3441\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/09.png 678w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/09-300x165.png 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/09-400x219.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 678px) 100vw, 678px\" \/><figcaption>\n\t\t\t\t\t\t<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Monumen Pers memiliki beberapa koleksi koran Suara Ra\u2019jat, \ndiantaranya yang terbit pada tanggal 1 April 1919 yang menggunakan \nbahasa Melayu. Koran ini adalah koran pergerakan kaum sosialis yaitu \nIndische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV)&nbsp;jika diterjemahkan \nadalah Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda dengan redakturnya \nDarsono dan J.C. Stam. Pada halaman pertama terdapat judul \u201cChijanat\u201d \natau khianat didalamnya berisi tentang kekejaman kapitalisme terhadap \nkaum lemah sehingga bisa menimbulkan khianat terhadap negrinya sendiri. \nSaat ini negeri Hindia Belanda kekurangan beras dan banyak yang mati \nkelaparan. ISDV bersama SI (Sarekat Islam) menuntut untuk mengurangi \ntanaman tebu sebesar 50% dan diganti dengan tanaman padi. Awalnya \ntuntutan ini tidak disetujui, namun akhirnya dengan terpaksa disetujui \npemerintah Belanda karena melihat banyaknya orang yang mati kelaparan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada halaman berikutnya adalah pukulan besar\nbagi kaum ISDV dari pihak pemerintah dan kaum kapitalis. Sneevliet sebagai\npendiri ISDV telah terbuang, dan Darsono dianggap sebagai seorang penjahat\nbesar. Semaoen, Dekker, Vitalis Hulswit dan Marco terancam masuk penjara. Akan\ntetapi semua itu tidak mematahkan semangat kaum sosialis yang kemudian mengajak\npara pembaca untuk beramai-ramai angkat senjata melawan musuh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam persidangan Volksraad tanggal 21 Februari\n1919, Bapak Tjokroaminoto dari SI berpidato tentang bangsa Tionghoa yang\nmenaik-naikkan harga beras hanya karena melihat keuntungannya saja tanpa\nperduli orang lain kelaparan dengan mahalnya harga beras. Hal ini didukung pula\ndengan kendornya penjagaan polisi sehingga para pedagang beras itu bisa berbuat\ndengan leluasa. Hal inilah yang menimbulkan huru hara disana sini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Dr. C. Snouch Hurgronje seorang ulama\nbesar tentang ilmu Islam dan ilmu keadaan tanah Hindia memberikan saran tentang\nkerusuhan di Jambi atas permintaan Pemerintah Agoeng di Netherland. Dikatakan\nbahwa tanah Hindia Belanda ini sangatlah jelek di mata dunia. Seorang\npemerintah Amerika bercerita bahwa kekayaan negeri Netherland (Belanda) berasal\ndari pulau-pulau Hindia Timur dimana penduduknya telah diperbudak oleh Belanda.\nSeperti dalam persidangan yang diadakan pada bulan November 1918, tuan Van der\nJagt, Asisten Resident Kebumen telah mengeluarkan perkataan-perkataan yang\nmenghina dan mencela kaum Bumiputera Jawa, diantaranya yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Bestuur (Dewan) bangsa Eropa harus dihormati\nseperti malaikat.<\/li><li>Bestuur (Dewan) bangsa Bumiputera dihormati oleh\nrakyat seperti raja kecil tetapi meringkuh seperti budak pada Bestuur Eropa.<\/li><li>Rakyat Bumiputera hanya mengurus perkukutnya\nsaja, merangkak seperti kodok, menyembah pada ndoro priyayinya, mengkurep takut\npada Belanda seperti takut kepada Tuhannya. <\/li><li>Atas ketiga golongan tersebut, maka meraja lah\nsi kapitalis, sehingga Bestuur Eropa bisa memerintah pada Betuur Bumiputera\ndengan keras menampar, menendang, menyambuk si Kromo sampai merengkuk-rengkuk\nbuat kerja keras.<\/li><li>Keempat golongan itu mengelabui kaum kromo agar\nrakyat merasakan nasibnya terurus oleh mereka. Kaum Kromo walaupun perut lapar,\nkantong kosong harus sabar dan tawakal, kendatipun buka mulut tidak akan ada\nyang percaya, karena Bestuur Eropa dianggap adil, Bestuur Bumiputera tetap\nsayang, kaum kapitalis juga dianggap dermawan dan kasihan pada Bumiputera. <\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikian sekilas berita dari koran\nSoeara Ra\u2019jat yang terbit pada tanggal 1 April 1919. Untuk Edisi yang\nlain dari koran ini bisa dibaca pada layanan Epaper Monumen Pers Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis : Eti Kurniasih<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Monumen Pers memiliki beberapa koleksi koran Suara Ra\u2019jat, diantaranya yang terbit pada tanggal 1 April 1919 yang menggunakan bahasa Melayu. Koran ini adalah koran pergerakan kaum sosialis yaitu Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV)&nbsp;jika diterjemahkan adalah Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda dengan redakturnya Darsono dan J.C. Stam. Pada halaman pertama terdapat judul \u201cChijanat\u201d atau khianat didalamnya berisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3441,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3585","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3585","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3585"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3585\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3586,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3585\/revisions\/3586"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}