{"id":3588,"date":"2019-03-04T01:39:58","date_gmt":"2019-03-04T01:39:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=3588"},"modified":"2019-06-11T01:41:05","modified_gmt":"2019-06-11T01:41:05","slug":"slompret-melayoe-5-juni-1888-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/slompret-melayoe-5-juni-1888-2\/","title":{"rendered":"SLOMPRET MELAYOE 5 Juni 1888"},"content":{"rendered":"\n<p>Slompret Melayoe adalah koran berbahasa melayu yang terbit pada tanggal\n5 Juni 1888 pada masa Hindia Belanda. Berita dari berbagai daerah ditampilkan\ndisini. Dari Ambon di daerah Wetter, Letti, Moa, Leiker, Kisser, dan Roma,\nberamai-ramai orang menanam jagung, padi dan palawija. Di Banda ditanam pohon\npala yang tampak subur. Harga beras di kota Ambon mencapai 7-8 gulden dan\njagung 2-3 gulden setiap satu pikulnya. Sementara dari Bali dan Lombok\ndikabarkan terjadi Lindu atau gempa bumi sampai sepuluh kali sehari pada\ntanggal 29 Mei, namun tidak terlalu besar dan tidak menyebabkan gunung Batur\nbergolak. Kabar dari Pekalongan terutama <em>onderdistrikt <\/em>Kesessi (<em>distrikt<\/em>\nSragi), tanaman padi sekitar 1739 hektar terkena hama walangsangit sehingga\nbanyak mengalami kerugian, <\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"449\" height=\"293\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/etik.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3437\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/etik.png 449w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/etik-300x196.png 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/etik-400x261.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 449px) 100vw, 449px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Dari Jogjakarta, di kampung Ketandan seorang yang bernama Redjodikromo\nmempunyai barang berupa kain dan cincin seharga 32,35 gulden dan berjanji ingin\ndijual kepada seorang perempuan bernama Tidjem, hal ini seperti penipuan.\nPolisi memperkarakan ini walaupun belum memeriksa masalahnya dan meminta uang\npenggugat sebesar 2,50 gulden. Polisi juga meminta uang kepada Tidjem sebesar\n1,25 gulden secara kontan. Tidjem yang saat itu hanya memiliki uang 50 sen\nmeminta waktu tempo satu hari. Polisi tidak mau terima, dan memaksa meminta\nkontan.<\/p>\n\n\n\n<p>Brodjodimedjo adalah orang Jawa yang tinggal didaerah Kroya, Cilacap.\nTanggal 9 Februari 1888 datang ke Jogja untuk menjual beras dan kedelai kepada\norang Cina yang bernama Oei Ma Djiauw. Setelah perjanjian harga, Brodjodimedjo\nhanya membawa 21 pikul kedelai dengan harga 84 gulde, kemudian ia eminjam uang\nkepada orang Cina itu sebesar 566 gulden, dengan menjanjikan akan mengirimkan\nkedelai lagi hari berikutnya. Akan tetapi orang Cina itu sudah menunggu lama\ndan kirimannya tidak kunjung datang pergilah ia ke Kroya untuk mencarinya,\nnamun Brodjodimedjo dikabarkan sudah minggat entah kemana. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari Tulungagung, di siang hari ada seorang penjual kelontong pecinan\nyang bernama The Hoing, pergi ke pasar Toetoel Kabupaten Ngoenoet, orang Cina\ntersebut di begal oleh dua penjahat dan mengalami luka dikepalanya, kedua begal\ntersebut akhirnya tertangkap. <\/p>\n\n\n\n<p>Tanggal 26 Mei ada seorang perempuan yang tinggal di Kabupaten Pakis,\npergi ke pasar Pahing. Ketika pulang dan sampai di desa Lembu Peteng, ia mandi\ndi kali besar Lembu Peteng, celakanya perempuan tersebut nyaris tenggelam dan\nakhirnya selamat ditolong oleh seorang lakilaki yang sedang mencari keong\nbersama Danoesasmoijo abdi dari Raden Mas Adjunct Djaksa. <\/p>\n\n\n\n<p>Demikian sekilas berita dari koran Slompret Melayoe yang terbit pada\ntanggal 5 Juni 1988, selain berita, koran ini juga banyak berisi iklan pada\nmasa itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Eti Kurniasih<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Slompret Melayoe adalah koran berbahasa melayu yang terbit pada tanggal 5 Juni 1888 pada masa Hindia Belanda. Berita dari berbagai daerah ditampilkan disini. Dari Ambon di daerah Wetter, Letti, Moa, Leiker, Kisser, dan Roma, beramai-ramai orang menanam jagung, padi dan palawija. Di Banda ditanam pohon pala yang tampak subur. Harga beras di kota Ambon mencapai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3437,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3588","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3588","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3588"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3588\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3589,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3588\/revisions\/3589"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3588"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3588"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3588"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}