{"id":3594,"date":"2019-02-12T01:45:59","date_gmt":"2019-02-12T01:45:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=3594"},"modified":"2019-06-11T01:46:55","modified_gmt":"2019-06-11T01:46:55","slug":"kilas-balik-koran-otoesan-hindia-15-april-1921-koran-pergerakan-pemuda-di-surabaya-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/kilas-balik-koran-otoesan-hindia-15-april-1921-koran-pergerakan-pemuda-di-surabaya-2\/","title":{"rendered":"Kilas Balik Koran Otoesan Hindia 15 April 1921, koran pergerakan pemuda di Surabaya"},"content":{"rendered":"\n<p>Oetoesan Hindia tertanggal 15 April 1921 merupakan surat kabar harian\n berbahasa Melayu yang terbit di Surabaya. Koran ini adalah koran \npergerakan pemuda di Surabaya yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang \njuga ketua perkumpulan Syarekat Islam (SI). Pada halaman pertama Oetosan\n Hindia dijelaskan tentang sedikitnya kaum pribumi yang menjadi golongan\n terpelajar dan penggerak rakyat melarat. Para kaum terpelajar \nsesungguhnya mengerti tujuan dari pergerakan ini, namun karena pergaulan\n dan kehidupan sehari-harinya di bawah kekuasaan dan tekanan kolonial, \nmaka dengan terpaksa mereka tidak memperdulikan kaum pribumi. Lain \nhalnya dengan almarhum Hasan Djajadiningrat dan H.A. Salim adalah \norang-orang terpelajar yang pilu hatinya ketika melihat nasib pribumi \nyang tertindas.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Koesoemodirdjo dan S.I. Besoeki membuat karangan dengan judul \u201d \nPoeternja Doenia\u201d, dimana didalamnya berisi kalimat \u201corang yang teguh \nseagama dengan kita jang akan menolong kita lahir batin itoelah \npemimpinmoe\u201d. Karangan ini diharapkan agar para pembaca segera melakukan\n pergerakan rakyat, kemudian disebutkan bahwa agama Islam yang dijadikan\n alat senjata oleh PEB (Penipoe Economi Boemipoetera) bukanlah Islam \nsejati, melainkan Islam hanya dijadikan topeng semata. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"954\" height=\"544\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/oetusan-hindia.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3425\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/oetusan-hindia.png 954w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/oetusan-hindia-300x171.png 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/oetusan-hindia-768x438.png 768w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/oetusan-hindia-400x228.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 954px) 100vw, 954px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Musuh-musuh SI mengatakan bahwa pergerakan SI sudah mendekati ajalnya\n atau akan segera mati. Hal ini beralasan karena sering terjadi \nperselisihan dalam tubuh SI dalam beberapa bulan sebelum konggres CSI \n(Centraal Syarekat Islam) dimulai, alasan lain adalah karena ada \nbeberapa pemimpin yang dihukum penjara. Akan tetapi setelah kongres CSI \ntampaknya SI justru semakin menguat. Awal April CSI mengirimkan tiga \nutusan yaitu saudara Marco, H. Soedjak dan H.A. Salim ke Malang untuk \nmemimpin beberapa vergadering. Sedangkan Tjokroaminoto dan Wiradimadja \ndikirim ke Priangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 11 April terjadi pemogokan 150 orang pekerja S.S.\nSindanglaut di Cirebon, dikarenakan belum diterimanya upah atau gaji mereka.\nOpzichter Ten Bosch&nbsp; dan chef Karrebijn\nmemberi keterangan tidak akan memberi upah satu sen pun karena sudah tidak ada\nlagi uang persediaan.&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 1920 atas usaha H.O.S. Tjokroaminoto berdirilah perkumpulan SI di\nSumenep. Tidak lama kemudian mengalami kemunduran yang disebabkan tuan Promo\nAdikoesomo yang dijadikan \u201cTameng\u201d SI pindah ke desa yang jauh. <\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Eti Kurniasih<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oetoesan Hindia tertanggal 15 April 1921 merupakan surat kabar harian berbahasa Melayu yang terbit di Surabaya. Koran ini adalah koran pergerakan pemuda di Surabaya yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga ketua perkumpulan Syarekat Islam (SI). Pada halaman pertama Oetosan Hindia dijelaskan tentang sedikitnya kaum pribumi yang menjadi golongan terpelajar dan penggerak rakyat melarat. Para [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3425,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3594"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3594\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3595,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3594\/revisions\/3595"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}