{"id":4231,"date":"2021-12-22T14:31:26","date_gmt":"2021-12-22T07:31:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/?p=4231"},"modified":"2021-12-22T14:31:27","modified_gmt":"2021-12-22T07:31:27","slug":"barisan-musik-tentara-masa-pendudukan-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/barisan-musik-tentara-masa-pendudukan-jepang\/","title":{"rendered":"BARISAN MUSIK TENTARA MASA PENDUDUKAN JEPANG"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap xjustify\">Ketika sedang menonton film atau serial bertema perang, seringkali kita temui\u00a0<em>scene<\/em>\u00a0dimana terdapat sekelompok pasukan pembawa alat musik seperti drum, trompet maupun alat musik lainnya dan membuat suasana perang berubah secara drastis.\u00a0\u00a0Hal tersebut terkadang menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, mengapa terdapat alat musik dalam medan perang? dan seperti apa hubungan antara keduanya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"xjustify\">Musik dan perang pada dasarnya menjadi dua hal yang tidak dapat terpisahkan dalam perjalanan sejarah. Dalam&nbsp;<em>The Art of War<\/em>&nbsp;karya Niccolo Machiavelli disebutkan bahwa terdapat beberapa alat musik seperti drum, flute, dan trompet sebagai media yang sangat penting dalam peperangan. Drum dan flute digunakan untuk melatih kedisiplinan maupun dalam mengatur pergerakan tantara. Sementara trompet memiliki suara yang nyaring dan bertenaga. Adapun menurut Sun Tzu, musik berperan sebagai media untuk memberikan energi semangat kepada para prajurit dalam pertempuran.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignright size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"547\" height=\"279\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4233\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-1.png 547w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-1-300x153.png 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-1-400x204.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 547px) 100vw, 547px\" \/><figcaption><em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>\u00a0ketika mengangkut alat musik sebelum mengadakan konser<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"xjustify\">Dengan kata lain, secara umum terdapat dua fungsi musik dalam perang yaitu sarana komunikasi dan psikologis. Sebagai alat komunikasi, musik digunakan untuk memberi sinyal ataupun kode komando di medan perang. Sedangkan dari aspek psikologis, musik menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat moral dan patriotisme para prajurit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"xjustify\">Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) terdapat pasukan musik yang\u00a0<em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>. Keberadaan pasukan tersebut termuat dalam majalah<em>\u00a0Djawa Baroe<\/em>\u00a0No. 10, edisi 15 Mei 1944.\u00a0<em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>\u00a0merupakan prajurit yang bertugas untuk menghimpun semangat tentara Pembela Tanah Air (PETA). Pasukan tersebut seringkali juga mengadakan konser secara keliling dari kampung ke kampung serta disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat. Diantara lagu yang dibawakan adalah \u201cTentara Pembela Tanah Air\u201d dan \u201cHancurkanlah Inggris\/Amerika\u201d.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"741\" height=\"383\" src=\"https:\/\/mpn.kominfo.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4234\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-2.png 741w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-2-300x155.png 300w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Picture1-2-400x207.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 741px) 100vw, 741px\" \/><figcaption><em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>\u00a0ketika mengadakan konser di depan tantara PETA dan masyarakat umum<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"xjustify\">Bagi masyarakat&nbsp;pribumi, keberadaan&nbsp;<em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>&nbsp;tentunya memiliki pengaruh yang besar. Pada saat perang Asia Timur Raya sedang berkecamuk, masyarakat dan prajurit PETA memerlukan dukungan tidak hanya secara fisik namun juga psikis. Konser yang diadakan oleh&nbsp;<em>Barisan Moesik Balatentara<\/em>&nbsp;menjadi tempat untuk memupuk kembali semangat perjuangan melawan kolonialisme barat. Disamping itu, adanya pasukan tersebut juga berdampak pada menurunnya ketegangan yang muncul dalam masyarakat sipil akibat perang yang sedang berlangsung. (Setya Yoga)<\/p>\n\n\n\n<p>Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p>Majalah&nbsp;<em>Djawa Baroe<\/em>&nbsp;No. 10, edisi 15 Mei 1944.<\/p>\n\n\n\n<p><em>The Complete Art of War<\/em>. 2012. New York: Start Publishing LLC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika sedang menonton film atau serial bertema perang, seringkali kita temui\u00a0scene\u00a0dimana terdapat sekelompok pasukan pembawa alat musik seperti drum, trompet maupun alat musik lainnya dan membuat suasana perang berubah secara drastis.\u00a0\u00a0Hal tersebut terkadang menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, mengapa terdapat alat musik dalam medan perang? dan seperti apa hubungan antara keduanya? Musik dan perang pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4232,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[60],"tags":[],"class_list":["post-4231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-koleksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4235,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4231\/revisions\/4235"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}