{"id":5775,"date":"2026-07-24T07:26:09","date_gmt":"2026-07-24T00:26:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/?p=5775"},"modified":"2026-07-24T07:26:09","modified_gmt":"2026-07-24T00:26:09","slug":"kota-malang-tempo-dulu-dalam-majalah-pentja-tahun-1955","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/kota-malang-tempo-dulu-dalam-majalah-pentja-tahun-1955\/","title":{"rendered":"Kota Malang Tempo Dulu dalam Majalah Pentja Tahun 1955"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"393\" height=\"317\" src=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/image-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5776\" srcset=\"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/image-3.png 393w, https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/image-3-300x242.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 393px) 100vw, 393px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa yang pernah berkunjung ke Kota Malang, Jawa Timur? Kota ini telah lama menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Berada di dataran tinggi, Malang menawarkan panorama alam yang indah, serta suasana kota yang nyaman. Julukan <strong>Kota Apel<\/strong> melekat karena daerah ini memiliki perkebunan apel yang luas. Dari sisi kuliner, Malang juga terkenal dengan bakso legendaris, Rujak Talun yang menggunakan petis asli Sidoharjo, serta beragam makanan khas yang mudah dijumpai di berbagai sudut kota.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menariknya, pesona Kota Malang telah terdokumentasi sejak puluhan tahun lalu. Salah satunya dapat ditemukan dalam majalah <strong>Pentja<\/strong> edisi 5 Maret 1955 melalui artikel berjudul <strong>&#8220;Bertamasya ke Kota Malang&#8221;<\/strong>, yang menggambarkan daya tarik kota ini sebagai tujuan wisata pada masa itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Provinsi Jawa Timur, Kota Malang merupakan salah satu kota terbesar sekaligus menjadi kebanggaan daerah ini. Terletak pada ketinggian sekitar 444 meter di atas permukaan laut, Malang memiliki udara yang sejuk dan dikelilingi berbagai destinasi wisata terkenal, seperti Wendit, Tosari, Tretes, Batu, Pudjon, dan Selecta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Malang dirancang sebagai kota bergaya Eropa yang terinspirasi dari tata kota di Belanda. Salah satu buktinya adalah Jalan Idjen Boulevard, sebuah kawasan yang dikenal dengan deretan pepohonan rindang dan arsitektur yang tertata rapi, sehingga kerap disejajarkan dengan boulevard-boulevard bergengsi di Jakarta pada masanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, di balik keindahannya, Jalan Idjen Boulevard juga menyimpan jejak perjuangan bangsa. Pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947, kawasan ini menjadi salah satu lokasi pertempuran sengit yang menewaskan banyak anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur. Mereka mempertahankan Kota Malang hingga titik penghabisan dari serangan pasukan Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu ikon utama Kota Malang adalah Tugu Kemerdekaan yang berdiri megah di tengah Alun-Alun Bunder. Monumen ini dikelilingi kolam berair jernih serta jalan melingkar yang menambah keindahan kawasan di sekitarnya. Selain menjadi landmark kota, tugu ini juga menyimpan nilai sejarah yang penting. Pada dindingnya pernah terukir relief dwitunggal Soekarno\u2013Hatta yang dibuat pada masa awal kemerdekaan, sekitar tahun 1945\u20131946. Relief tersebut sempat dirusak pada masa pendudukan kembali oleh Belanda, namun kemudian dipugar sehingga dapat dinikmati kembali. Tugu Kemerdekaan berdiri tepat menghadap Stasiun Kota Malang. Penumpang pada masa itu harus melewati sebuah lorong bawah tanah untuk mencapai peron kereta api.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi Alun-Alun Bunder berdiri Kantor Wali Kota Malang yang menjadi pusat pemerintahan kota. Pada masa itu, Kota Malang memiliki luas sekitar 5 \u00d7 8 kilometer dengan jumlah penduduk diperkirakan mencapai 400.000 jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi masyarakat yang gemar menikmati film, Malang juga menawarkan beragam pilihan bioskop. Tercatat sedikitnya delapan gedung bioskop, yakni Rex, Globe, Atrium, Emma, Centrum, Roxy, Grand, dan Flora. Bioskop-bioskop tersebut menjadi pusat hiburan masyarakat, dengan setiap jadwal pemutaran film yang umumnya dipadati penonton.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana kota tanpa mengeluarkan banyak biaya, Alun-Alun Malang menjadi pilihan yang menarik. Pada malam hari, kawasan ini digambarkan memiliki suasana yang semarak, bahkan dalam artikel tersebut disamakan dengan kehidupan malam di Hyde Park, London.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di alun-alun ini, pengunjung dapat menjumpai para penjual jamu, pedagang kaki lima, hingga sejumlah orator yang berusaha menarik perhatian masyarakat dengan pidato-pidato spontan mereka. Salah satu tokoh yang disebut cukup populer adalah RWS, seorang pembicara yang dikenal mampu memberikan tanggapan atas berbagai persoalan yang diajukan masyarakat. Keberagaman aktivitas tersebut menjadi bagian dari daya tarik Kota Malang, yang dalam artikel ini dijuluki sebagai &#8220;Paris Jawa Timur&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kawasan yang dipenuhi perkantoran, pertokoan, dan rumah makan, membentang Jalan Kayutangan, salah satu ruas jalan paling ramai di Kota Malang. Sejak pagi hingga malam hari, jalan ini selalu dipadati warga, terutama kalangan anak muda, yang berjalan-jalan menikmati suasana kota dan udara yang sejuk. Deretan sepeda yang terparkir di sepanjang tepi jalan semakin menambah semarak kawasan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini juga menggambarkan Jalan Kayutangan sebagai pusat pergaulan anak muda Malang. Beragam gaya busana dan potongan rambut yang sedang menjadi tren pada dekade 1950-an dapat dijumpai di sini, mulai dari celana model Jengki, gaya rambut pria ala Jerry Lewis dan Tony Curtis, hingga gaya Audrey Hepburn serta rambut ekor kuda anak-anak perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak tahun 1946 Kota Malang memiliki posisi yang semakin penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Bahkan, sempat beredar kabar bahwa Malang akan dijadikan ibu kota negara menggantikan Jakarta. Tapi masih belum diketahui kebenaran beritanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika berwisata di Kota Malang ini jangan lupa membawa oleh-oleh Apel dan sayur-sayuran segar dari Pudjon dan Batu. Bagi penggemar bunga, dapat memborong bunga-bungaan yang beraneka warna dengan harga yang sangat murah. Wajah Malang kala itu, menjadi dokumentasi berharga yang menunjukkan bagaimana kota ini berkembang sebagai pusat pariwisata, budaya, dan sejarah di Jawa Timur. (Eti Kurniasih)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang pernah berkunjung ke Kota Malang, Jawa Timur? Kota ini telah lama menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Berada di dataran tinggi, Malang menawarkan panorama alam yang indah, serta suasana kota yang nyaman. Julukan Kota Apel melekat karena daerah ini memiliki perkebunan apel yang luas. Dari sisi kuliner, Malang juga terkenal dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,60],"tags":[],"class_list":["post-5775","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-informasi","category-koleksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5775"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5775\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5777,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5775\/revisions\/5777"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mpn.komdigi.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}