Jelajah Virtual Monumen Pers dan Museum Penerangan: Menghidupkan Sejarah Pers dan Komunikasi Penyiaran di Era Digital


Surakarta, 1 April 2026 – Monumen Pers Nasional berkolaborasi dengan Museum Penerangan sukses mengadakan “Jelajah Virtual Monumen Pers Nasional x Museum Penerangan” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 1 April 2026 mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. 

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti sebanyak 747 siswa pelajar SMA/SMK dari wilayah Solo Raya dan Jabodetabek. Dengan antusiasme tinggi, peserta Jelajah Virtual mengikuti tur dua museum dan mendapatkan pengalaman belajar sejarah yang interaktif.

Dalam Jelajah Virtual yang bertepatan dengan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) Monumen Pers Nasional dan Museum Penerangan mengambil tema cerita mengenai sejarah penyiaran di Indonesia mulai dari era Mangkunegara VII yang mendirikan radio profesional ketimuran pertama bernama Solosche Radio Vereeniging (SRV). Peserta juga diajak mengenal perkembangan media pada masa penjajahan Belanda melalui koleksi seperti pemancar radio kambing dan sejarahnya.

Setelah berkeliling di layanan museum, peserta diajak ke ruang baca media cetak untuk melihat beberapa koleksi arsip surat kabar dan majalah Monumen Pers Nasional. Peserta diperlihatkan koleksi surat kabar tertua di Monumen Pers Nasional “Soerabayasch Nieuws en Advertentie-Blaad”, surat kabar “Sinar Harapan” yang memuat berita pemindahan pemancar radio RRI ke desa Balong di lereng gunung Lawu dan majalah SRV yang memuat jadwal siaran radio SRV.

Selanjutnya, peserta diajak beralih ke Museum Penerangan yang berlokasi di TMII. Museum Penerangan berperan dalam pelestarian sejarah informasi dan komunikasi massa, serta mengedukasi masyarakat tentang konsep “penerangan” sebagai cara menyampaikan informasi pemerintah melalui berbagai media.

Peserta diperkenalkan beragam koleksi seperti mobil penerangan keliling serta lima jenis media utama, yaitu radio, televisi, film, grafis, dan penerangan umum. Salah satunya adalah sejarah perkembangan radio pada era kolonial, berdirinya stasiun radio NIROM yang dimanfaatkan pemerintah Belanda dan Jepang, hingga munculnya radio lokal seperti SRV dan MAVRO.

Setelah sesi tur museum selesai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dengan peserta dari berbagai sekolah mengajukan pertanyaan. Kemudian dilanjutkan sesi kuis yang mengajak peserta berpartisipasi aktif menjawab pertanyaan dari kedua museum untuk mendapatkan hadiah menarik.

Peserta juga membagikan pengalaman mereka setelah mengikuti kegiatan ini dalam sesi kesan dan pesan. Mereka mengaku memperoleh wawasan baru mengenai sejarah komunikasi yang sebelumnya belum banyak diketahui, serta merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta tur virtual. Dokumentasi live streaming “Jelajah Virtual Monumen Pers Nasional x Museum Penerangan” ini dapat ditonton kembali di laman YouTube Monumen Pers Nasional. Program Jelajah Virtual merupakan alternatif kegiatan yang efektif untuk memperkenalkan sejarah pers dan komunikasi penyiaran kepada generasi muda di era digital. (Fairuz Aulia Khalila/Universitas Sebelas Maret)

Message Us on WhatsApp