Majalah Bangoen edisi 15 Juli 1937 merupakan salah satu majalah koleksi Monumen Pers Nasional berbahasa Belanda. Didalamnya terdapat beberapa artikel yang menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia pada masa kolonial yang masih mengalami kemunduran di berbagai bidang, baik sosial, ekonomi, intelektual, maupun moral. Kemiskinan yang meluas, rendahnya tingkat pendidikan, serta lemahnya karakter masyarakat menjadi masalah utama yang disebabkan oleh proses sejarah panjang, termasuk dampak kebijakan kolonial Belanda. Bagaimanakah kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu? mari kita simak isi dari artikel di bawah ini.
Artikel pertama berjudul ‘’Untuk Rakyat dan Tanah Air’’ membahas tentang kehidupan masyarakat selama beberapa abad. Keruntuhan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1478, konflik yang berkepanjangan dan lemahnya pemerintahan mengakibatkan masyarakat mengalami kemerosotan sosial. Pada abad ke-19, kebijakan kolonial Belanda seperti tanam paksa dan politik pecah belah memperparah kondisi tersebut. Meskipun awal abad ke-20 muncul kebijakan etis, praktiknya masih bersifat eksploitatif sehingga kemunduran masyarakat belum berhasil diatasi. Akibat proses degenerasi ini, masyarakat kita di abad ini menyajikan gambaran yang sangat menyedihkan. Hampir 80% masyarakat kita hidup dari pertanian dengan kepemilikan lahan yang terpecah-pecah. Para petani ini sebagian besar hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan sosial. Sebagian kecil masyarakat kita terdiri dari para pekerja upahan atau buruh, yang pendapatan hariannya hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian terdiri dari pedagang kecil, atau bakul, yang perdagangan utamanya terbatas pada menjual kebutuhan hidup masyarakat serta produk pertanian dan lainnya.
Struktur intelektual masyarakat Indonesia masih sangat rendah, ditandai dengan tingginya angka buta huruf (sekitar 90%) dan rendahnya jumlah penduduk berpendidikan, baik menengah maupun tinggi. Dibandingkan dengan negara lain seperti Filipina, Jepang, dan Siam, tingkat perkembangan intelektual Indonesia tertinggal jauh. Meskipun mayoritas masyarakat beragama Islam, pemahaman keagamaannya masih dangkal dan masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme. Peran Muhammadiyah cukup penting dalam meningkatkan pemahaman dan penyebaran Islam, meskipun pengaruhnya belum merata. Dari segi moralitas, kondisi masyarakat dinilai belum memuaskan. Kepedulian sosial memang terlihat dalam kegiatan seperti menghadiri acara kemasyarakatan, namun perhatian terhadap isu-isu penting seperti pendidikan, ekonomi, dan politik masih rendah. Selain itu, karakter seperti keberanian, pengorbanan, dan kepercayaan diri belum banyak berkembang.
Artikel kedua berjudul ‘’Pendidikan sebagai Kekuatan Karakter di Sekolah Nasional. Yang ditulis oleh: S. Mangoensarkoro’’. Inti dari artikel ini yaitupendidikan merupakan cerminan dari keyakinan yang berkembang dalam masyarakat, termasuk nasionalisme yang kuat di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya sekolah nasional, meskipun tidak semuanya benar-benar menerapkan nilai nasionalisme secara konsisten. Ada sekolah yang hanya menggunakan label “nasional” tanpa menghayati maknanya. Lemahnya karakter dan kondisi ekonomi sangat berkaitan dengan kurangnya tenaga profesional mandiri dan wirausahawan yang berani, rajin, dan bertanggung jawab. Selain itu, masyarakat cenderung memiliki mentalitas ingin menjadi pegawai negeri (priyayi), kurang semangat berwirausaha, serta minim pengorbanan dalam perjuangan nasional.
Sekolah nasional memiliki peran penting dalam memperbaiki kondisi ini, yaitu dengan membentuk karakter dan mempersiapkan generasi masa depan. Namun, banyak sekolah nasional masih bergantung pada sistem pendidikan pemerintah (prinsip keselarasan), sehingga menyebabkan siswa berada di antara dua orientasi: nasional dan non-nasional. Hal ini berdampak negatif pada pembentukan karakter. Oleh karena itu, sekolah nasional seharusnya berani melepaskan ketergantungan tersebut dan menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat nasional. Pendidikan harus diarahkan pada pembentukan karakter kuat, mandiri, semangat juang, dan kemampuan menghadapi kehidupan nyata. Selain itu, pendidikan perlu mengadopsi konsep “sekolah kerja” yang menekankan pada pengalaman praktis, pengembangan potensi, serta orientasi ekonomi dan sosial. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi yang kreatif, mandiri, berdaya saing, serta memiliki semangat nasionalisme yang kuat.
Artikel yang ketiga berjudul ‘’Badan Pers dan Berita Politik’’ yang ditulis oleh Katja S. Apakah manusia membutuhkan berita? orang yang berpikiran sederhana maupun ilmuwan membutuhkannya. Sejak awal peradaban, berita selalu menghibur dan sekaligus mempengaruhi umat manusia. Badan berita modern, dalam pengertian hukum, merupakan perusahaan komersial dan oleh karena itu bertujuan untuk menginvestasikan modal. Kantor berita seperti Aneta, Reuter, dan Havas memiliki modal besar dan berfungsi sebagai sumber utama informasi bagi masyarakat, sekaligus memiliki peran penting dalam kehidupan politik.
Secara ekonomi, kantor berita cenderung bersifat monopoli karena persaingan dianggap tidak efisien dan mahal. Namun, ketika berita sudah dipengaruhi kepentingan politik atau ekonomi, persaingan bisa muncul, meskipun membutuhkan subsidi besar. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian berita tidak sepenuhnya objektif, karena dipengaruhi oleh sudut pandang, kepentingan, dan proses penyuntingan. Upaya mendirikan kantor berita nasional Indonesia mengalami kendala, terutama karena keterbatasan modal dan campur tangan pemerintah. Akibatnya, pers Indonesia tetap bergantung pada kantor berita asing atau yang dikendalikan pihak kolonial.
Artikel keempat berjudul ‘’Pergerakan Nasional Indonesia. Kongres Parindra. Jakarta, 15 Mei 1937.’’ Artikel ini membahas Kongres pertama Partai Indonesia Raya (PARINDRA) yang diselenggarakan di Jakarta (Batavia) pada 15 Mei 1937. PARINDRA merupakan salah satu partai nasional terbesar yang lahir pada 24 Desember 1935 dari gabungan Persatuan Bangsa Indonesia, Budi Utomo, serta organisasi lain seperti Sarekat Sumatra dan Sarekat Celebes. Partai ini bertujuan mencapai cita-cita “Indonesia Raya” atau kemerdekaan Indonesia.
Kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, serta lemahnya karakter masyarakat merupakan dampak dari proses sejarah panjang, terutama akibat kebijakan kolonial yang eksploitatif. Dengan demikian, Majalah Bangoen tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana perjuangan intelektual yang mendorong lahirnya kesadaran nasional. (Eti Kurniasih)
