Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-29
Halaman: 04
Konten
1 Kamis, 29 Januari 1998 Penerbit Pemimpin Umum/Pendiri Wakil Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab Wakil Pemimpin Perusahaan Managing Editor Sekretaris Redaksi Redaktur Anggota Redaksi Terbit Tarip Iklan Alamat Telepon Perwakilan Jakarta SIUPP : : Dicetak Oleh : : H. War Djamil. H. Amir Siregar, H. Kaharudin, H. Bahari Effendy, H. Naswan Effendi, Usman Alie, H. War Djamil, Mulyadi Franseda, H. Ismail Lubis, H. Basyir Ahzar, Buoy Harjo, Agus Salim, H. Azmi Majid (foto). M. Hatta Lubis, Mac. Reyadi MS, A. Rivai Siregar, Hasan Basri Ns, Timbul O. Simarmata, Johan Jambak, Ismugiman, Idris Pasaribu, M. Sulaiman, Ali Sati Nasu- tion, Samil Chandra, M. Nur, Hermansyah, Aswadi, Faisal Fardede, Kwa Tjen Siung. Hendar Tusmin, Anthony Limtan. Seminggu 7 kali. Rp. 5.000,- per mm/kolom (umum). Rp. 3.500,- per mm/kolom (keluarga). Jalan Jend. A. Yani No. 35- 43 Medan. Kotak Pos : 1481. Telex No.: 51326 ANALIS IA. Fax: (061)-514031, Telegram: ANALISA MDN. Redaksi: 556655 (2 saluran)/511256. Tata Usaha: 554711 (3 saluran)/513554 Frans Tandun, Jln. K.H. Hasyim Ashari. No. 43-A Jak. Pusat Tel. 3446609/3844339/3453912 Fax.: (021)- 363388. SK. Menpen No. 023/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1985. Tanggal 24 Desember 1985. P.T. KUMANGO Medan (Isi di luar tanggung jawab pencetak). Tajukrencana : analisa : Yayasan SIKAP PRESS. Harta Susanto. Supandi Kusuma. H. Soffyan. H. Ali Soekardi. Joeli Salim. Paulus M. Tjukrono. Idulfithri dan Hidup Sederhana BESOK adalah Hari Raya Idulfithri 1418 Hijriah. Seluruh umat Islam merayakannya setelah selesai me- laksanakan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan. Tetapi baik puasa Ramadhan maupun Hari Raya Idulfithri tahun ini berada dalam situasi yang sangat berbeda dibanding de- tahun-tahun lalu. Situasi yang sangat memperihatin- kan, akibat terjadinya krisis moneter yang berkelanjutan dengan kesulitan ekonomi yang melanda hampir seluruh sektor kehidupan sehari-hari. Harga barang dan jasa yang melambung seperti tak terbendung, yang rasanya baru se- kali ini terjadi selama Orde Baru. ngan Memang kita ketahui, bahwa krisis moneter dan kesu- litan ekonomi ini tidak terjadi hanya di negeri kita saja. Tetapi juga melanda negara negara jiran kita, dan bebera- pa negara Asia lainnya. Namun demikian seharusnya kita tidak terus larut dalam kesulitan dan keperihatinan terse- but. Sebaiknya kita mengambil pelajaran dari peristiwa di- maksud. Apa itu? Kita ambil hikmahnya. Karena segala se- suatu itu, baik peristiwa menyenangkan maupun mempe- rihatinkan pasti ada hikmahnya. Ada suatu tindakan posi- tip yang perlu kita lakukan, yaitu sikap hidup sederhana. Mari kita rayakan Idulfithri dengan cara yang sederha- na. Lagi pula agama juga mengajarkan, merayakan Idul- fithri itu bukanlah dengan cara berpesta-pora dan berhu- ra-hura. Bukan!Hari Raya Idulfithri adalah hari untuk ber- syukur, dan merupakan hari kemenangan setelah sebulan kita berjuang melawan hawa nafsu dan menundukkannya. Melawan dan mengalahkan kebatilan. Hidup sederhana adalah cara hidup yang sebaik-baiknya, yaitu hidup yang tidak berlebih-lebihan, hidup yang tidak boros dan muba- zir. Sebaliknya hidup yang tidak sampai kekurangan. Jadi hidup yang wajar. Hidup sederhana itupun hendaknya tidak hanya dilaku- kan pada waktu Idulfithri ini saja, tetapi yang sebaiknya adalah juga untuk masa-masa mendatang. Apalagi dalam keadaan situasi yang sedang memperihatinkan sekarang, hi- dup sederhana dalam arti yang sebenarnya ditun- memang tut dari kita semua dan diperlukan. Selama ini hidup se- derhana itu hanya terbatas pada anjuran dan himbauan, dalam pidato dan pembicaraan, tetapi tidak atau belum da- lam kenyataan hidup. Justru yang terlihat selama ini ma- sih ada golongan di dalam masyarakat yang pola hidupnya sjauh dari sederhana, tetapi sebaliknya malah hidup yang berlebih-lebihan dan boros. Bahkan ada di antaranya yang tidak segan "pamer kekayaan". Padahal semua tahu masih ada di antara rakyat Indo- nesia yang hidupnya masih di bawah garis kemiskinan. Memang benar jumlahnya kian menurun, kian berkurang, tetapi yang jelas masih ada. Sedangkan yang diinginkan, yang diperjuangkan adalah jangan ada lagi rakyat yang hi- dup miskin, konon pula melarat. Puasa Ramadhan sebu- lan penuh seharusnya menyadarkan kita semua, bagaimana rasanya orang hidup yang kelaparan dan kehausan. Inilah cambuk bagi kita semua untuk senantiasa berupaya dan ber- usaha mengurangi kemiskinan, bahkan juga menghapus- kan. Kecuali itu puasa Ramadhan juga bukan sekedar mena- han lapar dan dahaga. Puasa yang sebulan penuh itu se- sungguhnya juga sarana tempat melatih dan memperbaiki akhlak dan mental. Puasa Ramadhan merupakan sarana pa- ling ampuh untuk menguji dan membina kejujuran priba- di. Tak ada sarana lain yang paling efektip dan yang ter- baik untuk membina kejujuran. Akhlak dan mental yang baik, serta kejujuran adalah syarat mutlak dan utama dalam melaksanakan pembangunan, dalam menjalin persatuan dan kesatuan, sehingga terhindarlah kita semua dari penyakit- penyakit yang memalukan seperti kolusi, korupsi, nepotis- me, arogansi, dan sebagainya. Pembaca Surat Hati-hati dengan Makanan dan Minuman ngusaha parcel. Kadaluarsa PARA konsumen (pembeli) di swalayan atau pusat perbelanjaan harus hati-hati terhadap makanan dan minuman dalam kemasan yang sudah kadaluarsa (lewat masa berlakunya). Sebab disam ping makanan/minuman itu sudah tidak lagi enak rasanya, bahkan lebih dari itu bisa membahayakan kesehatan bagi yang mengkonsumsi nya. Beberapa hari lalu tim dari Pemda Medan telah melakukan operasi ke swalayan-swalayan di Medan. Ternyata masih ada juga yang memajangkan barang-barang makanan/minuman yang kada luarsa meskipun jumlahnya relatif kecil dibanding dengan tahun- tahun lalu. Nama dan alamat harus jelas Sertakan Fotokopi KTP saudara dan rekannya perlu juga teliti terhadap bahan-bahan makanan yang dikirimkan oleh pe Sebab, tahun tahun lalu pengi riman Parcel ini sering menjadi tumpuan mereka untuk memasuk kan ke dalamnya makanan/mi numan yang sudah kadaluarsa. Sebab si pengirim... tidak pernah meneliti barang-barang yang ada di dalamnya. Mereka hanya memper cayakan kepada pengusaha parcel itu saja. Karena itu kesadaran dari toko/ jujur dan mengirimkan barang- pengusaha parcel untuk bersikap barang yang masih baik dan tidak kadaluarsa. Dan petugas Pemda juga hen- daknya melakukan operasi juga ke toko-toko seperti ini yang menyediakan penjualan parcel, tidak hanya ke swalayan dan plaza-plaza saja. MISKUN DAURI Jalan Gaharu Medan Namun sangatlah diharapkan kepada para pedagang untuk tidak hanya mengejar keuntung an tetapi lebih memikirkan pelayanan dan kesehatan bagi masyarakat konsumen. Dan kepa da pengusaha yang melanggar dan masih juga menjual barang- barang makanan yang sudah kada luarsa agar dikenakan sanksi. Jangan hendaknya, cuma ba rangnya yang disita dan hanya di- ingatkan saja. Sebab masalah barang-barang kadaluarsa ini bukan baru sekarang saja, tetapi sudah bertahun-tahun diingatkan. Jadi, bila masih ada pedagang yang menjualnya berarti mereka tidak begitu perduli dengan per aturan. Disengaja ataupun ke lalaian harus ada sanksinya, apakah hukuman atau denda. Dan dalam menjelang tahun baru Imlek serta hari Raya Idul Fithri yang sudah dekat ini, di mana biasanya banyak orang yang mengirimkan parcel kepada ✰✰✰ Dari Redaksi PARA penyumbang tulisan/artikel dimintakan perhatiannya sebagai beri kut: 1. Panjang tulisan/artikel minimal empat dan mak simal tujuh halaman/folio diketik dengan spasi rang kap dan tidak timbal balik. 2. Bukan tindasan, serta bukan fotokopi. 3. Tidak atau belum dikirim kan ke media massa lain nya. 4. Pada akhir/ujung tulisan sebutkan identitas, profesi penulis serta alumnus dari mana. 5. Sertakan alamat terbaru yang jelas, dan jangan lupa sertakan fotokopi KTP yang masih berlaku. ANALISA Mudik Lebaran dan Martabe Oleh Supri Harahap DALAM roman "Si Doel Anak Djakarta" buah karya Aman Datoek Madjoindo dikisahkan bagaimana tata-laku bocah-bocah serta segala komunitas manusia Betawi menjalani Hari Raya Idul Fitri. Biasanya jikalau pagi subuh Idil Fitri para bocah itu dibawa babenya ke masjid dan semuanya bersarung dan berpeci putih (lobe). Puncak acara bagi kelompok Unyil ini tatkala mereka lepas shalat Id. Mereka akan pulang ke rumah dahulu buat mohon maaf kepada dua ibu-bapak (Ma'nya dan Babe) serta segenap keluarga, baru kemudian ngumpul sesama unyil untuk mendatangi kerabat, famili, jiran tetangga buat salaman minta maaf. Soal giliran rumah siapa duluan didatangi lantas ke mana sesudahnya, tam- paknya si Doel senantiasa menjadi tempat bertanya. Dan so pasti ia duluan menginstruksikan mengun jungi rumah engkongnya. Cara mereka bersalaman sung- guh manis-takzim yakni menun- duk sambil mencium tangan para orang tua. Di ujung perbuatan itu tentu saja yang amat mereka nan- tikan, pemberian keping-keping uang receh. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Itu makanya para orang tua pasti sudah menyiapkan receh yang lumayan banyak sebelum lebaran itu tiba. Di jalan, kelom- pok si Doel selalu memper- cakapkan jumlah perolehan masing-masing. Jikalau cuma mendapat seketip, sebenggol, mereka cepat mengecap orang tua itu pelit kikir. YANG manis menarik keli hatannya, ke mana pun mereka pada hari pertama Idul Fitri itu selalu memakai baju putih gun- ting china dan bersarung, memakai lobe. Ini yang khas dalam kisah Aman tersebut. Latar ceritanya sangat intens, Betawi. Pola tingkah manusianya kental. Kesalehan agama mereka tampak dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Barangkali ini yang kemudian menarik perhatian seorang Rano Karno untuk mengadaptasi cerita ini menjadi versi sinetron dalam "Si Dul Anak Sekolahan" yang cukup berhasil dan menaikkan pamor pemilik Karnos Films tersebut. Konon kabarnya ia rela mempertaruhkan harta miliknya buat mengongkosi pembuatan sinetron tersebut. Tapi kemudian ia juga memetik buah yang lumayan lebat dari padanya (ter- masuk pemuda pelopor bidang budaya, yakni budaya Betawi ten- tu saja). H 31M 192 Budaya itu memang penting dalam hidup kita. Itu makanya sampai-sampai Pak Harto men- canangkan bahwa '98 ini sebagai Tahun Budaya. Kita mesti peduli budaya jika hidup berbangsa, bernegara, bermasyarakat, pokok nya bersosialisasi, tidak mau ke- ring kerontang walau ditaburi kekayaan material semata. Di Polandia itu kata berita, malah pemimpin mereka kembali terpilih di parlemen untuk kedua kalinya walau orangnya cuma seorang bekas pembangkang tetapi orang PEMBANGUNAN bidang kesejahteraan rakyat, pendidikan dan kebudayaan berdasarkan tu- juan nasional sebagaimana ter- dapat pada Pembukaan UUD 1945 alinea keempat dinyatakan : "Untuk membentuk suatu peme- rintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa In- donesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerde- kaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"" Dalam buku GBHN tahun 1993 terdapat pengertian kesejahteraan jahteraan sosial. rakyat dibedakan dengan kese- Sementara yang dimaksud dengan kesejahteraan adalah kemakmuran lahiriah/material dan kebahagiaan rohaniah/spri tual. Yang dimaksudkan dengan rakyat adalah rakyat Indonesia yaitu seluruh warga negara Indonesia. Dan yang dimaksud dengan sosial adalah kemakmuran lahir batin warga negara sebagai rakyat seluruhnya, yang berisikan unsur kualitas kehidupan beragama, tingkat pendidikan, kesehatan jasmani dan rohani, serta pelayanan sosial dan pemenuhan kebutuhan material masyarakat. Kesejahteraan lahir batin meliputi masyarakat seluruhnya atau masyarakat pada umumnya. LAHIR BATIN budaya, yakni penulis naskah drama terkenal di negeri itu. Boleh saja pola hidup Betawi seperti dalam cerita Aman yang dikutip di atas itu bukan tok seratus persen agama, melainkan budaya. Tapi budaya yang demi kian agaknya memang kita butuh rindui saat kehidupan kita gersang dalam kepungan kebutuhan eko nomi yang kian terasa krisisnya ini. Dari beberapa pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa kesejahteraan sosial itu meliputi kemakmuran lahir batin yang ber- muatan di dalamnya beberapa un- sur, satu dengan lainnya saling berhubungan diantaranya disebut- kan adanya unsur pendidikan, kesehatan, agama dan kebutuhan lainnya. Tampaknya memang hidup kita dengan mereka terdahulu itu sudah amat jauh berubah seakan dibentangi jarak langit dengan comberan. Kadang ibadah Ramadhan yang sudah sebulan, penuh ditunaikan belum men- jamin ketengan batin, ketenteraman rohani kita, saat menyambut hiruk pikuknya lebaran akan datang. Media massa kita mulai sibuk dengan pemberitaan puluhan juta arus mudik lebaran yang sudah mulai kelihatan semarak. Para ibu rumah tangga dan remaja putri sebelumnya dipadati jadwal mem- bakar kue, sampai ada yang tega menukar istilah lailatulqadr itu menjadi lailatul-bakar. Pasar dan pusat perbelanjaan dipadati konsumen kebutuhan pakaian. Bahkan toko meuble dan perabot dijejal pada kreditur buat mengganti kursi lemari di rumah menyambut lebaran ini. Sibuk semarak ibu-ibu kita ini. Apa yang hendak mereka cari dari per- siapan super sibuk ini. Sering menjadi kenyataan, saat Idil Fitri itu sendiri, setelah usainya shalat Id di mesjid dan lapangan, maka terasa usai pulalah makna hakikat hari raya tersebut. Gaung persiapan yang cukup meletihkan sebelumnya, hilang lenyap entah ditelan apa. POLA hidup kita memang sudah sedemikian derasnya berubah. Ini tidak pandang-bulu di kota maupun di desa. Jikalau ingin cermat, orang-orang rantau yang melakukan mudik lebaran dapat merasakan nuansa perubahan hidup di desa dalam kondisi kekinian. Saya masih mengingat di awal tujuh puluhan itu kukuh-kuatnya sistem kekerabatan di kampung saya di Angkolajae sana, setiap tahun (hari lebaran). Nuansa kehidupan yang manis nikmat seperti dalam- cuplikan cerita si Doel di atas masih dapat dirasakan. Di kampung saya yang kecil terpencil itu orang tidak akan keluar kampung khusus hari raya pertama dan kedua, kecuali ke desa jiren saja, itu pun buat acara salam takzim mohon ampun dan maaf orang tua atau mertua. penanggulangan permasalahan sosial dimaksud, perlu kita ketahui apa saja kebutuhan manusia itu. Macam-macam kebutuhan manusia : * Kebutuhan akan pendapatan, sandang pangan, nafkah dan milik. *Kebutuhan akan pekerjaan. * Kebutuhan akan penggunaan penghasilan secara teratur. *Kebutuhan akan kesehatan, sosial. pung. Pokoknya hari itu setiap orang penduduk sekampung harusnya sudah bersentuhan tangan (bersalaman) satu dengan lainnya. Jikalau malam lebaran- nya hampir semua orang tua laki- laki, berikut para remajanya menghabiskan semalaman suntuk di masjid, ada acara ratib berulang-ulang, dan diakhiri dengan acara makan kue bersama di tengah malam buta itu. Anak remaja tanggung barang lima orang disuruh mendatangi rumah- rumah mengumpulkan sedekah kue-lemang-dodol. Punggahan, di * Kebutuhan akan perumahan/ tempat tinggal yang pantas dan layak. sini. Sore lepas ashar ada pula acara ratib ke rumah-rumah bergiliran. Acara bersantap bulung botik (daun kates). Daging dan kue agaknya boleh muak hari itu. Di sini terasa kuat-kukuhnya sistem kekerabatan penduduk. Boleh jadi ini kebiasaan, tradisi, atau apapun namanya, tetapi yang terpenting semua itu dibalut oleh nuansa agama dan kesalehan sosial yang tinggi. Denyut kehidupan itu terasa manis- harmonis semata. Semua orang dirasakan bagian dari diri sendiri walau adanya semacam kotak- kotak tutur adat dalihan na tolu, yakni mora, kahanggi, dan anak boru. Di sana itu beda amat dengan di sini. Jikalau di sini kita sedang menceritakan abang atau siapa sa- ja tutur sapa, kita dengar orang menyebutnya "Abang aku," kakak aku", malah "boss aku" (maksud- nya orang tuanya yang jelas bukan kelompok gang di dunia perbanditan. Untuk pemenuhan kebutuh an-kebutuhan manusia itu, maka perlu kita ketahui beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam prog ram usaha kesejahteraan sosial. Di sana tidak, soal tutur kata, sopan santun dikedepankan, begini: "abangta (abang kita), angkangta (kakak kita), tulangta (pakcik oom kita), dan seterusnya: adanya-ta yang selalu menyertai setiap penuturan jelas merupakan sistem sosialisasi kehidupan yang erat hubungannya satu dengan lainnya. jahteraan sosial. Untuk mencapai sasaran dan kebijaksanaan pada Pelita ini dirumuskan kebijaksanaannya an- tara lain : Meliputi pembinaan sosial masyarakat, serta pening- katan manajemen pelayanan so- sial. Kebijaksanaan tersebut di- jabarkan dalam berbagai program pokok dan program penunjang. Sebelum membahas tentang yang berhubungan dengan upaya * Pembinaan kesejahteraan sosial * Pembinaan kesejahteraan sosial perumahan dan lingkungan, * Peningkatan peranan dan fungsi wanita. * Pembinaan pekerja sosial masyarakat. masyarakat terasing. * Pembinaan kesejahteraan sosial keluarga. * Penyantunan dan pengentasan ✰✰✰ DUA tiga tahun terakhir ini saya bela-belai juga mudik (pulang kampung, pulkam) Lebaran buat mohon ampun orang tua, jumpa kerabat handai tolan. Tapi suasana sudah lain. Antara pribadi-pribadi kelihatan menjadi sosok yang asing satu sama lain. Sistem kekerabatan kini tampak berubah menjadi in- dividualisme yang begitu kental. Hilang lenyap. citra sistem familiar yang membanggakan dulu itu. Bahkan anutan kehidupan sama rasa, gotong- royong, yang di pupuk subur kini berbalik menjadi dulunya, i persaingan, per- semacam Sosial itu meliputi : * Penyuluhan dan bimbingan sosial. * Pembinaan potensi masyarakat desa/kelurahan. anak terlantar. * Pembinaan kepahlawanan. * Pembinaan kesejahteraan sosial perintis pejuang kemerdekaan. * Pembinaan dan pengembangan Karang Taruna. * Penanganan masalah sosial penyandang cacat. *Penanganan masalah sosial bekas penyandang penyakit kronis. *Penanganan masalah sosial anak nakal. *Penanganan masalah sosial kor- ban penyalahgunaan narkotik. *Penanganan masalah sosial tuna susila. * Kebutuhan akan hidup berke luarga yang bertanggung jawab. * Kebutuhan kaum remaja akan pendidikan. * Kebutuhan akan jaminan hari tua. * Kebutuhan akan ketertiban dalam negara. * Kebutuhan akan kebudayaan yang berkembang. * Serta kebutuhan lainnya. Dari beberapa alternatif pemenuhan kebutuhan manusia itu, tentu satu dengan yang lain saling membutuhkan dilihat pada tingkat kebutuhan itu yang sesuai pada manusianya sendiri, seperti pemenuhan kebutuhan untuk anak-anak pada usia tersebut mereka masih terutama sekali perlu mendapat perhatian dan memenuhi kebutuhan pendidikan, pembinaan dari semua pihak, kesehatan, sandang pangan, nafkah. Dari beberapa jenis sektor ke- bijaksanaan bidang sosial yang terutama sekali bagaimana peran serta masyarakat ikut serta ber- partisipasi dalam penanganan permasalahan sosial yang timbul tersebut. Salah satu sebagai sumber dana yang dapat diharapkan dari warga masyarakat yang mampu adanya zakat, infaq dan shadaqah (ZIS). Penanganan masalah sosial bekas narapidana. Penanganan gelandangan dan pengemis. * Pembinaan sumbangan sosial. *Penyantunan dan pengentasan fakir miskin. Pembinaan jaminan kesejahtera- an sosial. Penanganan masalah bencana alam * Pembinaan organisasi sosial Lingkungan pondok sosial. . • Kebijaksanaan sektor kesejah- teraan sosial. Kesejahteraan sosial meliputi penyuluhan dan bimbing an sosial, pembinaan dan rehabili tasi sosial, pemberian bantuan dan santunan, serta pencegahan munculnya permasalahan sosial yang baru dan pengembangan Apa saja program usaha kese- potensi kesejahteraan dalam jahteraan sosial itu ? Program Bagaimana membudayakan rangka meningkatkan taraf kese- Usaha Bidang Kesejahteraan ZIS untuk suksesnya penanganan PROGRAM tampaknya memang berhubungan erat dengan kepentingan ekonomi, lebih kuat ketimbang persaingan nafsu, memuaskan naluri kepe mimpinan. Di tahun 70-an seperti kisah saya dulu di desa, puluhan tahun jabatan kepala kampung (kini kepala desa) tak ada yang merasa keberatan. Ayem saja. Apalagi naluri untuk merebut, menggulingkan sistem yang ada, jauh panggang dari api. Orang hidup tenteram sejahtera. Kepala kampung itu dianggap orang tua tempat bergantung, konsultan tempat bertanya apa saja. Tetapi akibat perubahan jaman yang menyelusup sampai sudut- sudut pedesaan masa kini, seakan membawa hembusan juga dalam dunia politik masyarakat desa kita yang serba kotor busuk. Kepala desa itu menjadi kursi singgasana yang perlu diraih dengan cara apa saja. Maka orang gencar melaku kan kampanye sebelum pemilihan berlangsung. Nah di sinilah saat yang paling besar peranannya buat memecah sistem kekerabat an, berkaum-famili jadi rusak poranda. Kelompok yang satu jadi anti kelompok lain. Sedemikian kotor- nya perebutan kursi kades tersebut, bukan saja orang memanfaatkan backing-backing an, tetapi juga akal busuk lain, dukun, termasuk kampanye bagi- bagi amplop malam hari dari rumah ke rumah. Di kelompok lain malah ada acara melek satu malam ngadain pesta makan ayam bakar. Jikalau misalnya ada pengusaha gilingan padi ikut kontestan, menggiling padi di tempatnya jadi gratis. Sentuhan kader dan pendukung tampaknya langsung-langsung dapat dirasakan. Padahal yang ikut dalam calon kadang adalah abang adik, kahanggi. Rusak ruet keluarga dibuatnya. Ayah dengan anak bisa tak tegoran karena lain jagonya. Menantu dengan mertua bisa ancam-ancaman parang bajak di sawah. Waduh, hari raya idul fitri jadi kacau balau. Kelompok anu mengintip, kalau dari kelompok anu yang naik jadi imam sholat Id, lantas kelompok lawan bubar dari masjid, ada yang pergi ke kampung lain, dan ada yang tega mengorbankan ibadahnya, tak ikut sholat Id tahun itu. Kelom- pok yang menang justru tidak merasa rugi, bahkan bangga lebih teriak khotbahnya. Hampir seminggu masa lebaran yang saya lalui di desa, semua ter- sita buat mengadakan negoisasi perdamaian. Hasilnya baru bisa Itu memang pasti acara per- tama malah konon sebelum beranjak ke masjid, shalat Id. Jika di desa tetangga dilakukan pada saat pulang shalat. Pagi-pagi sekali para orang tua pada mem- banguni anak-anak, "ngot bo hamu inang/amang anso kehe hita tu ompungman, jalang om- pungmu" (bangun kalian nak biar kita ke nenekmu, salam kalian nenek). musuhan, pecat dan eskete. Gaya hidup siapa lu siapa gua yang duluan timbul di masyarakat kota, kini menguat di pedesaan. Fenomena apa ini sesungguhnya? Walau tanpa mengadakan penelitian emperis, tampak gejala yang demikian lebih merupakan akibat tuntutan ekonomi. Politik kekuasaan juga tampak punya pengaruh yang cukup tinggi. Ada pun asal-muasalnya, umumnya sebab akibat dari pemberlakuan sistem demokrasi pemilihan kepala desa. Demokrasi pedesaan Tapi setelah acara itu selesai, semua akan ngumpul di kam- ZIS dan Pembangunan Kesejahteraan Sosial Oleh Syamsuddin Nasution dipetik setelah tiga tahun bercut mengadakan mudik lebaran. Seba gaimana lazimnya, yang paling sakit, yang selalu dikenai sasaran amarah adalah pelaku negoisasi itu sendiri. Setelah tampak hasilnya, tampak lebih lunaknya sikap berfamili, diam-diam saya malah punya niat jelek, tak akan pernah lagi mengadakan mudik lebaran. Apa sih yang diinginkan dari kursi kades itu? Oow, banyak ter- nyata. Lewat kades memang betul- betul bisa membeli tanah sawah sosial itu? Menurut Drs. Sukhan Yasyin dalam Kamus Pintar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan zakat, infaq dan shadakah itu sebagai berikut : Zakat adalah derma wajib, atau sedekah wajib. Sementara yang dimaksud de- ngan infak adalah hal pemberian (uang), serta yang dimaksudkan dengan sedekah adalah derma (pemberian). Dari pengertian kata tersebut jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan zakat, in- faq dan shadaqah itu adalah sesuatu pemberian atau sedekah yang diberikan pada orang lain, baik itu berupa barang ataupun uang. Bila kita hubungkan dengan usaha kesejahteraan sosial tentu tidak sedikit dana yang dibutuh kan untuk suksesnya cita-cita yang telah digariskan dalam program penanganan masalah sosial terse but. Kalau diprogramkan untuk lima tahun, tentu nyatalah penanganan masalah sosial tersebut dapat teratasi sedikit demi sedikit, untuk suksesnya pengumpulan zakat, infaq dan sedekah dimaksud mungkin perlu pembentukan kelompok-kelom pok swadaya masyarakat. SWADAYA MASYARAKAT Surat dari London Idulfitri di Rantau Oleh: Asyari Usman demi suasana di tengah handai- tolan; demi pulang kampung. KEKOSONGAN SUASANA Inilah yang membuat saya ingin menuangkan perasaan ketika harus merayakan sendiri Idulfitri di Inggeris. Sudah beberapa kali saya dan keluarga melewatkan hari besar ini di London, tetapi baru kali ini saya punya kesempatan untuk bercerita sedikit. APAKAH Bung memang perlu menuangkan perasaan Bung ketika harus merayakan Idulfitri di rantau orang ? Ini'kan pengalaman yang dilalui oleh banyak orang, karena yang namanya Merantau itu adalah bagian dari hidup kita ! Barangkali, banyak yang akan mengajukan pertanyaan sinis ini. Tentu saja seratus persen betul bahwa merantau adalah bagian dari hidup. Tetapi ada yang perlu kita ingat : bahwa kalau bukan karena dorongan Idulfitri itu, niscaya para peran- tau yang mengadu nasib di kota-kota atau di tempat- tempat yang jauh dari kampung halaman mereka tidak akan perlu memasang tekad keras un- tuk mudik dengan segala kesulitan yang harus dilalui. Apa yang dimaksud dengan kelompok swadaya masyarakat ? Untuk lebih suksesnya pe- ngumpulan dana yang bersumber dari zakat, infaq dan sedekah itu perlu adanya kelompok swadaya Demi merayakan Idulfitri bersama sanak keluarga di kam- pung halaman sendiri itulah, orang selalu siap-sedia berjuang di tengah kekacauan untuk mendapatkan tempat duduk di bis, kereta api, ferry, kapal atau angkutan-angkutan lainnya. Bagi orang Indonesia, merayakan Idulfitri bersama sanak keluarga di kampung halaman merupakan agenda kehidupan yang seringkali diletakkan sebagai prioritas utama. Tidak pilih apakah dia orang jelata, kelas menengah atau golongan kayaraya. Se- muanya ingin mendapatkan peluang ini sebisa mungkin. Perjuangan selama dua belas bulan berada di rantau orang, rasanya sangat wajar bila dirayakan pada penghujung Ramadhan dan beberapa hari awal bulan Syawal. Bagi kebanyakan orang, Idulfitri bahkan dijadikan tang- gal istimewa sebagai puncak dari penyisihan penghasilan selama setahun. Di saat inilah mereka merasa pemenuhan keperluan ekstra sebagai hal yang tak bisa ditawar-tawar. Mereka bersedia merampingkan ikat pinggang demi Idulfitri, yang luas, kolam ikan, jualan, bis sewa antar pekan dan sekaligus pengusaha dan pedagang toke getah dan padi. Banyak memang ternyata. Dan sumber pemicu ingin membunuh pun sering diakibat kan kecemburuan sosial akibat curangnya permainan dimana dana bantuan pedesaan (bandes) yang mengucur tiap tahun selalu dimanfaatkan buat kekayaan pribadi, tanpa merasa berdosa jika melihat mata warga yang ngiler. Padahal jalan pun dibiarkan saja menyemak, berlobang-lobang, jadi danau jika musim hujan dan debu menebal kalau kemarau panjang. Tak ada kepedulian Kades buat mengundang warga gotongroyong barang sehari dua hari, demi kebersihan jalan dan kenyamanan mereka memakai jalan itu. Dan sekiranya pun tumbuh semangat kades buat mengajak gotong royong, saya khawatir, semua orang akan mudah marah karena masyarakat (KSM) sebagai suatu kekuatan dan terorganisirnya dana dimaksud. Dalam pembentukan kelom- pok dimaksud, perlu kita perhatikan beberapa hal : * Pembentukan kelompok hendak nya didasarkan pada kebutuhan. *Harus dihindari pembentukan kelompok yang dipaksakan. * Dalam wadah kelompok juga diselenggarakan kegiatan usaha ekonomis produktif. * Kelompok dapat juga kelompok yang sudah ada dimasyarakat itu atau dapat pula disiapkan wadahnya ditumbuhkan dan di bina secara khusus oleh Pemerintah ataupun organisasi sosial (ORSOS). Dari kemungkinan-kemung- kinan untuk suksesnya peneri- maan serta penyaluran sumber dana dari zakat, infaq dan shada- qah itu lebih besar lagi dan dapat dimanfaatkan langsung oleh Yang saya rasakan, singkat- nya, adalah kekosongan suasana yang biasanya saya nikmati di Indonesia. Kalau malam takbiran di Indonesia diisi dengan takbir keliling atau takbir di mesjid-mesjid dengan pengeras suara dan bersahut- sahutan, tidak demikian halnya di Inggeris. SEKITAR 21 mahasiswa dari Hongskolen I Agder College, Norwegia, selama lima hari me- lakukan penelitian mengenai per- kembangan kelompok petani pe- nerima program peningkatan pendapatan petani kecil (P4K) di Desa Mulo, Gunungkidul, Yogya karta. Kami sekeluarga tidak me- rasakan perbedaan dengan hari-hari biasa. Tidak ada luapan perasaan untuk menyam but "hari kemenangan" itu. Tidak ada tetangga yang tahu kalau kami telah berpuasa se lama satu bulan, konon pula un tuk memahami mengapa kami melaksanakan puasa. Saya bisa menyadari bahwa inilah kelemahan bila anda menjadi minoritas. Pimpinan rombongan, Prof Dr Arne Olav Oyhus yang didam- pingi Kepala Desa Mulo, Totok Subaryanto kepada Antara di Gu- nungkidul, Sabtu (17/1) menga- takan pihaknya sangat tertarik dengan kelompok P4K yang da- pat mengembangkan kredit yang diberikan. Di luar sana, orang lalu lalang seperti biasa. Tidak ada handai-tolan yang datang ber- tamu untuk bermaaf-maafan, kecuali dua keluarga BBC lain- nya yang tinggal berdekatan dengan kami. Mereka, kalau pun datang bertandang ke rumah kami, tidak pernah bisa menciptakan suasana Idulfitri yang anda nikmati di Indonesia ini. "Kami ingin mengetahui lebih jauh apakah program semacam ini dapat meningkatkan pereko- nomian bagi petani kecil. Disam- ping itu, tertarik sekali dengan pe- rekonomian Indonesia secara mi- kro," kata Prof. Oyhus. Ia juga kagum dengan per- kembangan ekonomi politik dan kebudayaan Indonesia. "Pada ta Tidak ada suara takbir sama sekali. Mesjid-mesjid di London memang melaksanakan sholat Idulfitri, tetapi lagi-lagi takbiran yang dikumandangkan tidak semeriah di Indonesia. Suara takbiran tidak boleh terdengar sampai keluar. Ini ditambah lagi dengan cara dan kalimat-kalimat takbiran yang dilagukan oleh ummat Islam di London (di Inggeris) jauh dana bandes yang dikorup jauh- jauh sebelumnya sebenarnya bisa diproyeksikan ke situ. Dulu ketika saya belum lagi tamat SD, saya selalu merasakan betapa semaraknya gotongroyong pembersihan jalan. Kaum Bapak kedengaran renyah suara tawanya sambil mencangkul di paret jalan, membabat rumput, semua unyil kampung dimanfaatkan tenaga nya buat mengambili bebatuan di paret itu untuk seterusnya mengumpulkannya di satu tem. pat. Sementara kaum ibu berderai-derai kekeh mereka walau cuma bekerja sebagai seksi sibuk memasak air dan merebus ubi kayu buat disantap bersama pada waktu pause. Kompak dan penuh warna kerabat warga desa itu. ✰✰✰ Dengan membudayakan za- kat, infaq dan shadaqah (ZIS) sebagai sumber dana Mahasiswa Norwegia aktif masyarakat, tentunya dapat Mahasiswa Norwegia para pengelola kegiatan yang mena ngani usaha kesejahteraan sosial, sebagai salah satu contoh jika seorang yang akan berinfaq bila ia menyisihkan uangnya perhari Rp 200.- saja maka dalam satu bulan saja sudah dapat menyum- bang uang sebesar Rp 6.000. Bila hal seperti itu saja, ZIS itu dibudayakan secara Nasional, katakan untuk 100 juta penduduk Indonesia tentunya akan mengum pulkan uang yang tidak sedikit jumlahnya, hal demikian baru dalam satu bulan. DESA memang sudah berubah. Sehebat apa pun kemajuan di kota, juga sudah menjadi barang konsumsi buat mereka. Jika kita leluasa memindahkan chanel mereka sebagai penyandang masalah sosial. Bila kita lihat sasaran pe nanganan masalah sosial tersebut cukup luas dan komplet dian- taranya : *Adanya penanganan masalah keterlantaran (anak terlantar, jompo terlantar, dan lainnya). * Adanya penanganan masalah kecacatan (dari berbagai pe- nyandang cacat, juga penangan an bekas penyandang penyakit kronis, dan lainnya) * Adanya penanganan masalah ketuna sosialan (seperti : gelandangan, tuna susila, bekas narapidana, anak nakal, korban narkotik, dan lain) *Adanya penanganan masalah keterbelakangan (masyarakat terasing) * Adanya penanganan masalah kemiskinan (seperti: fakir miskin) *Adanya penanganan masalah hun 1970 Tanzania dan Indone- sia kondisinya masih sama, namun dibandingkan Tanzania, Indone- sia berkembang begitu pesat,' katanya. Hal ini yang mendorong pi- haknya untuk melakukan peneli- tian, mengapa Indonesia dapat berkembang begitu cepat. "Kami juga ingin mengetahui pemba- ngunan di negara ini dapat merata dari desa sampai kota," lanjut nya. Halaman 4 berbeda dengan cara dan kalimat takbiran yang lazim kita dengar di Indonesia. Umat Islam di Inggeris, umumnya berasal dari Pakistan, India, Bangladesh dan sejumlah negara Afrika Utara dan Timur Tengah. Takbiran yang mereka kumandangkan terasa kurang mengena dengan kesyahduan yang sedang kita nikmati. Untuk penelitian kelompok P4K, pihaknya bekerja sama de- ngan BLPP Wonocatur Yogyakar ta dan Departemen Pertanian. Kelompok yang diteliti adalah pe- tani kecil yang mempunyai peng- hasilan Rp.500/hari yang menda- pat bantuan kredit lewat program peningkatan pendapatan petani 'kecil. RAMUAN PENTING Mungkin ini kurang relevan untuk dikemukakan karena Idulfitri bukanlah arena untuk berhura-hura dengan takbiran yang memikat telinga. Saya setuju! Tetapi, dengan segala ketidak-mampuan saya untuk melawan godaan suasana kein- donesian Idulfitri itu, saya tetap akan mengatakan bahwa presentasi takbiran merupakan salah satu ramuan penting dalam perayaan "hari keme nangan" tadi. Selama di Indonesia, mereka telah mengunjungi Bappenas, Depdikbud, BPPT, Deparpostel, Bank Pembangunan Asia serta Ada lagi kehilangan lain, Kalau di Indonesia, kita akan bertegur-sapa di jalanan seraya mengucapkan "maaf lahir- batin". Tidak akan anda jum- pai ini di London. Paling-paling kalau saya bertemu dengan orang-orang Indonesia di KBRI atau teman-teman sekantor, barulah tegur sapa "selamat Idulfitri" atau "maaf lahir- bathin", itu bisa terdengar. Idealnya, saya dan keluarga bisa merayakan Idulfitri di kampung sendiri; mudik seperti jutaan orang lain. Sayangnya, jadual sekolah anak-anak plus alasan-alasan lain, termasuk "cadangan devisa", yang tidak begitu kuat, membuat kami tidak mungkin pulang men- jelang Idulfitri ini. Saya hanya bisa mengucap kan selamat Idulfitri dari jauh untuk anda sekalian, semoga perjalanan mudik anda lancar dan selamat sampai ke tujuan (***).- Penulis adalah wartawan Radio BBC (British Broadcasting Cor- poration) di London, Inggeris. televisi swasta di kota, maka mereka pun melakukannya dengan bebas, sebab parabola sudah menjadi simbol kepuasan juga di sana. Krisis ekonomi yang meresahkan kita di kota, Itu jualah yang mereka risaukan di sana itu. Tani Gunung Kidul Tuntutan ekonomi dalam hidup mereka sedikit banyak mempe ngaruhi tatanan kekeluargaan mereka terkadang jadi poranda. Nuansa kefamilian, khasnya pede- saan sekaligus diberangus oleh ta- jamnya kebutuhan hidup. Desa pun kehilangan makna. Padahal jauh di pedalaman hati setiap orang sebenarnya ada kerinduan untuk kembali kepada dasar bagaimana laiknya kepolosan dan keluguan kehidupan di sana. Bagi pemudik lebaran, sebenar- nya nuansa seperti ini yang perlu secara berangsur dipulihkan. Mari, marsipature hutana be! Penulis, staf pengajar di Yayasan Dharma Pan- casila, Dharma Wanita Provinsi Sumatera Utara Teliti Kelompok keretakan keluarga. * Adanya penanganan masalah perumahan dan lingkungan yang tidak layak untuk lebih baik. Dari berbagai jenis penangan- an permasalahan sosial dimaksud, maka tentu tidak sedikit peran serta dana dari masyarakat itu sendiri, selain adanya bantuan Pemerintah. Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa tujuan, sasaran serta upaya-upaya yang dapat dilak- sanakan dalam penanganan masalah sosial yang diharapkan tentu adanya peran serta masya- rakat sebagai warga negara yang rela untuk membangun paling tidak sebagai sumber dana par- tisipasi aktif untuk mendukung menanggulangi permasalahan sosial tersebut, dengan demikian tentu adanya niat yang ikhlas dari para sumber dana itu sendiri, semoga ada manfaatnya. Amin. beberapa perguruan Tinggi seper- ti Universitas Gajah Mada Yog- yakarta dan Universitas Mataram Lombok. Mahasiswa Hongskolen I Agder College terletak di Norwe gia bagian selatan yang studi tour ke Indonesia adalah mahasiswa yang sedang mengikuti program khusus selama satu tahun mem- pelajari tentang politik, ekonomi, kebudayaan, dan antrophologi di negara-negara berkembang. "Selama di Desa Mulo, mere- ka dapat menyesuaikan diri de- ngan masyarakat dan lingkungan. Tidak banyak yang mereka keluh- kan, selain udara panas," kata Kepala Desa Mulo, Totok Suhar yanto. Mereka selama kegiatannya di dampingi penterjemah dari maha- siswa Universitas Sanata Dharma jurusan Bahasa Inggris. Dalam melakukan penelitian itu dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok mempunyai topik ber- beda, termasuk penelitian P4K. (Ant) 111 III t n
