Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-28
Halaman: 09
Konten
8 a n S i i Rabu, 28 Januari 1998 TAMAN REMAJA & PELAJAR Citra Pemuda di tengah Gejolak Moneter BELAKANGAN ini, berbagai media daerah dan ibukota sering mengetengahkan berita utama dan tajuk rencananya seputar ge- jolak moneter yang melanda ne- gara kita tercinta ini. Berbagai diskusi telah diselenggarakan baik secara lokal maupun skala nasio- nal. Ilmuwan dan futurolog di- kumpulkan, intinya membahas bagaimana kiat serta jalan keluar paling baik untuk mengatasi ba- dai gelombang yang menciptakan krisis ekonomi Indonesia ini akan berakhir. Seperti judul yang tertera di atas, Citra Pemuda di Tengah Ge- jolak Moneter. Dalam tulisan kali ini saya akan membahas sejauh -mana peranan pemuda sekarang dalam pembangunan, dan sejauh mana keperdulian pemuda meng- hadapi keadaan yang sekarang ini sedang kita hadapi. Pemuda dengan gelar yang di- sandangnya sebagai generasi per- juangan bangsa, mempunyai tang gung jawab besar dalam menerus- kan tongkat estafet perjuangan pemuda sebelumnya. Atau hanya sekadar berpangku tangan tanpa ada sedikit pun usaha untuk me- nunjukkan kemampuannya kepa- da ibu pertiwi ini. Sekarang saatnya kita harus bertindak secara tepat, cepat dan akurat untuk meningkatkan kese- jahteraan rakyat, derajat dan ha- kikat bangsa, serta tidak terting- gal atau lebih rendah dari bang- sa lain. *** Peranan pemuda dulu dengan pemuda sekarang jauh berbeda. Pemuda dulu lebih dekat dengan masyarakat, dengan rakyat dan cepat tanggap terhadap setiap ge- jala yang muncul di tengah ma- syarakat luas. Kita berharap, kegiatan atau Kalimat, 'apa yang harus saya perbuat untuk Indonesia' kita pe- gang erat-erat. Buang kalimat ke- cil yang meracuni semangat pe- muda, 'apa yang bisa Indonesia perbuat bagi saya'. Tentunya se- partisipasi pemuda sekarang ha- rus kontekstual, menjawab per soalan-persoalan yang timbul da- lam masyarakat masa kini. Oleh karena itu verbalisme sedapat mungkin harus dihindari dan konkritisasi lebih ditingkatkan la- gi. Apakah masih cukup relevan laku orang Timur kita mengenal berbagai macam diskusi dan se- minar yang menelan biaya ba- nyak itu dilakukan oleh pemuda sekarang? budaya malu. Selaku pemuda, pe- lopor pembangunan tentunya ju- ga malu kalau hanya berpangku tangan saja menyaksikan perkem- bangan zaman yang semakin ma- ju. Jangan jadi tergilas zaman dan terpuruk ke masa silam yang menyeramkan. Malu ! Sementara itu, pemuda seka- rang jauh dari masyarakat, hanya di atas dan kurang tanggap terha- dap setiap gejala yang muncul da- lam masyarakat. Pemuda seka- rang lebih doyan ke disko dan berbuat kerusuhan tanpa memi- kirkan akibat buruknya. Tra gis...! sti. Akibatnya, pemuda jadi ma- las untuk ambil perduli dalam se- tiap ada permasalahan baru tim bul. ✰✰✰ UNTUK mengetahui peran pemuda yang sekarang seharus- nya kita ketahui dulu pemuda masa silam. Dan itu jelas tidak di- ketahui oleh kebanyakan pemu- A kesinambungan yang lebih nyata. da sekarang terkecuali tinggal dari Dan partisipasi sosial secara mata pelajaran, media massa dan konkrit. cerita-cerita kenangan saja. Bah- wa konon peranan sosial kontrol pemuda kita dulu cukup sensitif. Kedudukan pemuda bisa berfung- si serta efektif untuk menyalur- kan aspirasi pemuda serta rakyat bawah/masyarakat luas. Maka se genap potensi yang dimiliki pe- muda serta rakyat kecil dapat di- salurkan lewat kedudukan pemu da-pemuda dan hasil-hasilnya pun cukup menggembirakan. Setiap gejala yang muncul da- lam masyarakat langsung ditang- gapi oleh pemuka-pemuka pemu- da sehingga dengan secepatnya dapat dicarikan jalan keluar ser- ta pemecahannya. Konon tidak mendapat berbagai birokrasi atau peristiwa yang hanya melelahkan sebagian pemuda saja. Banyak isu yang dilontarkan bahwa pemuda sekarang kurang peka terhadap komitmen sosial, kurang sensitif terhadap realita sosial dan kurang tanggap terha- dap setiap gejala yang muncul di tengah masyarakat di mana pe- muda itu tinggal. Kedudukan pe- muda pun kurang efektif sebagai penyalur aspirasi rakyat, dan pe- muda yang kadangkala terdapat jurang pemisah yang semakin da lam. 'MET IMLEK.. Oleh: James P.Pardede UNTUK saat sekarang, pemu- da kurang sekali mengadakan in- trospeksi terhadap apa yang telah dilakukan dalam kedudukannya se bagai pemuda. Apakah ia te- lah melakukan sesuatu yang konkrit kepada masyarakat atau belum, itu tidak pernah dipersoal kan. Mereka lebih condong ten- tang dana daripada sekadar intros peksi untuk memperbaiki citra di- ri sebagai pemuda. Boleh saja pemuda menyalah- kan segala macam sistem yang berlaku, tapi pemuda sendiri ha- rus konsisten dengan apa yang di- katakannya. Artinya mereka ju- ga harus meninggalkan bobot kua litas serta partisipasi mereka di masyarakat secara lebih nyata. Aktifitas pemuda jangan sampai hanya bersifat hura-hura dan le- bih banyak bersifat konsumtif daripada produktif. Pemuda se- karang gampang terpengaruh "ru mor". Seperti naiknya dolar, pe- muda Indonesia pun ramai-ramai beli dolar. Suatu hal yang banyak dialami oleh sebagian pemuda In- donesia. Tergilas westernisasi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sekejap. B Orientasi ke masa mendatang adalah hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian se- cara prioritas. Dengan orientasi ke masa depan, maka versi pemu- dapun akan lebih jelas, berdaya guna serta bisa melahirkan aksi yang lebih nyata. Maka dengan sendirinya bisa mengangkat citra pemuda dalam suatu forum ber- Masalah kemiskinan serta ke- terbelakangan sebagian besar ma- syarakat bermukim di pedesaan, sampai sekarang masih merupa- kan masalah mendasar yang diha- dapiIndonesia. Masih banyak ma- syarakat yang hidup dalam pen- deritaan dan kemiskinan. Nah, dari ceritera di atas, di sinilah saat dibutuhkan peranan pemuda membantu masyarakat melepas- kan diri dari cengkeraman itu. *** EVALUASI terhadap gerak an pemuda juga dirasa sangat penting untuk mengadakan peni- laian terhadap semua program yang dilakukan selama ini. Apa- kah program-program yang sela- ma ini dilaksanakan sudah rele- van atau belum. Pemuda seka- rang lebih relevan adalah turun ke bawah dari tempatnya berpijak dengan kata lain, mau menying- singkan lengan baju dan membu- ka sepatu. Yaitu dari huru-hara ke kon- kritisasi, dari programatis ke pen- jabaran. Dengan kata lain me- ninggalkan segala gerakan yang bersifat verbalisme menjadi per- buatan yang positif (nyata) dan menghasilkan buah yang lang- sung dapat dinikmati masyarakat luas. Atau mungkin karena masa- lah birokrasi yang bertele-tele, di mana sepucuk surat usulan dari pemudas indekos berbulan-bulan dulu tanpa ada jawaban yang pa- ANGPAU BERLOTERE Evaluasi terhadap program tadi tidak menuntut kerja secara kolektivisme, melainkan secara kelompok. Kolektivisme rasanya sudah klise untuk situasi sekarang yang lebih bersifat kompetitif dan menuntut kerja secara individual. Kultur sekarang sudah beda de- ngan tahun-tahun yang lalu. Ka- lau dulu pemuda kerja sama dan mengerjakan segala sesuatunya beramai-ramai, maka dengan ke- majuan ilmu dan teknologi dalam segala bidang kehidupan, kerja bersama-sama lama-lama diting- galkan dan menuju ke perse orangan. Bekerja secara perseorangan akan membawa hasil yang gemi- lang jika disertai disiplin tinggi. Untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berbuat serta berkarya penuh kreatifitas sesuai dengan tuntutan dan perkembangan za- man, harus disertai disiplin tinggi. Berbicara masalah disiplin na- sional, pada dasarnya tidak dapat terlepas dari disiplin pribadi yang disemai dan bersemi di dalam ling kungan keluarga, tumbuh dan ber kembang dalam lingkungan ma- syarakat. Disiplin pribadi yang mengkristal dalam diri setiap in- dividu akan memancarkan berkas sinar dalam pola kehidupan ke- luarga. Biasanya akan mewarnai kehidupan kelompok masyarakat yang menampakkan diri dalam- bentuk adat dan adab serta norma-norma dan kaidah-kaidah GADIS manis kelahiran Me- dan, 26 Mei 1978 ini memang betul-betul sarat akan aktifitas, baik itu sekolah, fashion dan mengikuti berbagai perlombaan maupun kompetisi. Anak kedua dari lima bersau- dara buah perkawinan dari Bapak Syahruddin Nasution dan Ibu Zu- riyah ini memang masih tergolong muda dari segi usia namun dia su- dah masuk pada deretan remaja Kreatif yang tidak membuang be- gitu saja waktu yang ada. Hal ini terlihat dari banyak- nya kegiatan yang telah dilakukan oleh siswi kelas III jurusan Sosio- logi SMU Amir Hamzah Medan ini, misalnya aktif di sekolah se- kaligus memegang jabatan sekre- taris OSIS di SMU-nya, mengi- kuti perlombaan-perlombaan yang berkaitan dengan fashion dan sering menjadi penyambut ta- mu pada acara-acara resmi seperti acara Musyawarah Nasional Ikat an Motor Indonesia (IMI) Pusat di Tiara Convention Hall Medan beberapa waktu lalu. Profil Semenjak kecil Mery yang ber cita-cita jadi sekretaris dan foto model ini sudah menampakkan bakat dan kemampuannya. Keti- ka masih duduk di bangku SD, cewek berkulit putih ini telah pu- la menyandang juara II lomba busana muslim, sewaktu SMP mendapat juara III lomba me- nyanyi dan ketika di SMU pernah juara I pada pemilihan wajah pi- lihan yang diadakan oleh salah sa- tu diskotek di Medan. RP00 Mery Nasution Dara cantik dengan tinggi 163 cm dan berat 43 kg ini senangnya baca komik, cerpen dan majalah serta punya hobi renang, basket, dan dengerin musik rock. Mery termasuk gadis indo yang memang tampak dari raut mukanya. Bapak Mandailing, ibu Melayu, kakek Prancis dan nenek Sunda, "Yaaaah, betul-betul su- dah bercampur baurlah", kata yang ditaati masyarakat. Kalau- pun disiplin nasional di kalangan pemuda sekarang kurang mema- dai, itu lantaran tuntutan zaman yang semakin kompleks. Untuk itu diperlukan penyegaran serta peningkatan sampai taraf yang le- bih memadai. Masih tentang disiplin nasio- nal, setelah mendengar RAPBN oleh Presiden Soeharto, pemi lik dolar jadi ramai-ramai me- nyerbu tempat penukaran uang. Kita berharap, pemuda Indonesia juga mau mensukseskan gerakan "Aku Cinta Rupiah" ini dengan menukarkan dolar yang dimiliki menjadi rupiah. Dengan cara itu, citra pemuda Indonesia akan se- makin terangkat. DES *** (Bersambung ke hal. 11) nya. Cewek yang punya obsesi men jadi wanita karier yang mampu membagi waktu ini mengidamkan cowok yang sportif, humoris, pe ngertian dan tentunya postur tu- buhnya lebih tinggi darinya. Diakuinya lagi, dalam bercin- ta yang sebentar pernah dilalui- nya, ia memang betul-betul men- jaga tata krama dan batas-batas hubungan antara lelaki dengan wanita yang masih dalam taraf berpacaran tersebut. Sehingga ia akan menampik segala tingkah pola dari lelaki yang bertindak di luar batas ke wajaran. Ketika ditanya tentang tokoh dan artis idolanya, Mery yang su- ka warna hitam dan makan bon- bon karet ini punya tokoh idola orang tuanya sendiri, tokoh kene- garaan adalah Pak Harto, tokoh agama KH Zainuddin MZ, artis dan foto model Ani Basuki, ser- ta wanita yang dikagumi adalah RA Kartini. Mery juga sering memakai T- shirt dan jins serta sering nonton film yang berbau action dan jui- ce serta coca-cola adalah minum an kesukaannya. Di akhir bincang-bincangnya, Mery yang sewaktu SD pernah bercita-cita menjadi guru ini ber- pesan kepada teman-teman lain- giatan yang positif selagi kita ma- nya supaya dapat melakukan ke- sih muda dan banyak kesempat an. "Kegagalan adalah keberha- silan yang tertunda," demikian nasihatnya yang juga mottonya. Bagi rekan-rekan yang ingin mengenal lebih dekat, surat da pat dilayangkan ke Jalan Karya Ujung Gang Wonorejo nomor 4 Lingkungan I Medan. "Mudah-mudahan surat akan saya balas jika disediakan prang- ko balasan karena memang saya senang juga korespondensi," kata Merv. (Svukri) ANALISA KAWULA Muda Persaudara- an Buddhis Teratai Suci (PBTS), Minggu (25/01) melaksanakan bhakti sosial ke Panti Asuhan Ya- tim Piatu dikoordinir Pdt Dhar- ma Mitra (Peter Lim), Serka S Sianturi dari Kodim 0201/BS Me- dan, Robinson Vihara Maha Manggala Medan dan Robert. Panti asuhan yang pertama kali dikunjungi adalah Panti Asuhan Yayasan Amal dan Sosial Al Washliyah Pulau Brayan/Tan- jung Mulia Km 6. PBTS Melaksanakan Bhakti Sosial da Mahyudin selaku badan peng- urus yayasan panti asuhan, di- dan sebagainya adalah akar dari derita yang sudah seyogianya di- babat sedini mungkin, demikian dijelaskan oleh Pdt Peter Lim. iringi pengarahan yang disam- paikan oleh Serka S Sianturi yang pada intinya menganjurkan anak- anak untuk mau senantiasa ber- buat baik. Di dalam melaksanakan bhakti sosialnya, kawula muda PBTS dianjurkan untuk senantia- sa memiliki kepedulian sosial, sa- ling mengasihi, tidak fanatik, be- rani berkorban melepaskan ke- melekatan serta cinta akan Tanah Air. Di panti asuhan ini pengurus inti Persaudaraan Buddhis Tera- tai Suci (PBTS) di bawah bim- bingan Aman Tanjung, Andi Tu- mino, Lisawaty, Helen Kurnia, Ira Maya, Tommy, Elisa, Rudy Halim beserta sejumlah anggota yang hadir sekitar 250 orang memberikan bingkisan secara ber- gilir kepada anak-anak yatim pia- tu sambil bersalaman, berupa se- jumlah uang saku untuk Lebar- an, sarung, mie, beras dan roti. Secara simbolis penyerahan sumbangan ini diberikan oleh Pdt Dharma Mitra (Peter Lim) kepa- HUMOR MENU Percakapan di sebuah restoran Rusia... Tamu: Ada pilau? (sejenis nasi tim, dengan sayur rajangan) Pelayan: Ada, tapi sekarang lagi kosong. Tamu: Ada shashlik? (sejenis sate) Pelayan: Ada, tapi kebetulan baru habis. Tamu: Ada kepala susu? Pelayan: Ada, tapi persediaan belum datang. Tamu: Ada teh? Pelayan: Ada, akan segera diantar ke meja Anda. (Lia Wang) "KATA MANIS" Seorang lelaki memasuki sebuah restoran dan berkata kepada seorang pelayan wanita, kata-kata manis....." "Seporsi steak, dan serangkaian Pelayan itu kemudian mengantarkan sepiring steak, lalu siap berlalu. "Tunggu dulu!" kata lelaki tadi. "Mana kata-kata manis- nya?" Pelayan itu mendekat lalu berbisik, "Jangan makan steak itu, dagingnya hangus." (Lia Wang) RUMAH LABA-LABA Adik: Kakak kuliah arsitektur kegiatannya apa saja sih? Kakak: Ya...bikin rancangan rumah-rumah model baru. Adik: Ajarin dong... tuh laba- laba! Dari dulu model rumahnya gitu-gitu saja. Kakak: Ada-ada aja kamu. (Hera Elvi) KEINGINAN Togap: Ini pisang apa, Bu Min? Kok manis sekali? Suhartini Bu Min: Pisang raja. Togap: Wah, rupanya terkabul juga keinginanku. Bu Min: Keinginan apa? Togap: Menelan raja! Bu Min: ??? (Hera Elvi) MALAH BERSEDIH Guru: PR Matematika-mu sudah betul delapan soal dan hanya salah dua, tapi mengapa kamu malah bersedih? Udin: Masalahnya yang betul itu pekerjaan kakak saya, Pak.... Guru: ??? (Hera Elvi) KARENA MIMPI Anak: Bu, mulai hari ini saya harus belajar renang di sekolah renang. Ibu: Lho, mengapa tiba-tiba begitu? Anak: Soalnya semalam saya mimpi tenggelam, Bu! Ibu: ??? (Hera Elvi) OLEH: SUHARTINI MAAF! ANDA BELUM BERUNTUNG Melalui bhakti sosial mi amalkan ajaran sang Buddha" RSAUDARAAN BUDDHIS TERATAI SUCI " Setelah penyerahan sejumlah paket, Kawula Muda Persaudara- an Buddhis Teratai Suci (PBTS), dipimpinan oleh Supardi, Ruslan, Suhartono, Dr Budi, Joni Liu, Ir- wan beserta badan pengurus dan anggota PBTS mengadakan foto bersama dengan sejumlah peng- huni panti asuhan. Selanjutnya rombongan me- nuju ke Panti Asuhan Yayasan Amal dan Sosial Al Jam'iyatul Washliyah Jalan Ismailiyah Me- dan. Di panti asuhan ini, Bharata, Win Win, Yenny Ho, Hendri, Ka- sim, David, Sutanto dan Sudar- to serta anggota PBTS menyerah- kan sejumlah beras, mie instant, biskuit, roti dan sebagainya. Pdt Dharma Mitra (Peter Lim) menginformasikan bahwa kegiatan bhakti sosial ini adalah program yang rutin dilaksanakan kawula muda PBTS di dalam mengamalkan ajaran-ajaran Sang Buddha dalam bentuk yang nya- ta. Ditekankan pula, di dalam ajaran Sang Buddha bahwa keba- hagiaan itu akan dapat diraih ka- lau kita mampu memberi/mele- pas kemelekatan terhadap apa pun juga. Kepicikan pikiran, egoisme, ketidakpedulian, pelit Mobislavir "NA, lihat itu!" ujar Ratih seraya menepuk bahuku tiba-tiba. "Ada apa sih? Cowok kerem- peng mana yang ingin kamu gosipin sekarang? Reseh amat!" sungutku. Reaksi kimia yang sedang kukerjakan terpaksa dihentikan. Temanku yang satu ini memang memiliki hobi ergosip-ria. "Itu Ian bukan?" tanya Ratih. "Dan yang berjalan di sam- pingnya itu Mitha Kusnady bukan, atau kacamataku ini rada kabur ?" "Benar atau tidak, apa urusanmu, Ratih manis ? Sudahlah, jangan ganggu konsen- trasiku dulu. Nanti kalau sudah selesai, dengan senang jiwa dan senang hati, saya akan mendengar segala bahan gosipmu..." "Jangan meledekku dong! Ini 'kan demi kamu juga. Ratih manis ini tidak tega melihat lan mengkhianati kamu karena ada yang bilang kalau Ian dan Mitha pacaran. Kamu kalem banget sih dengan kabar burung yang satu ini" Aku hanya tertawa kecil walaupun dalam hati timbul pera- saan yang berkecamuk tiada menentu. Namun perasaan itu dengan cepat kuhilangkan dan konsentrasiku kembali terfokus pada reaksi kimia yang sedang kukerjakan. BERULANGKALI aku men- coba memejamkan mata. Padahal jam weker di meja telah menun- jukkan angka satu. Ini semua dikarenakan aku beristirahat terlalu lama siang tadi. Daripada memejamkan mata terus, lebih baik mencari kesibukan lain. Kurasakan udara dingin me- nyentuh kulitku ketika jendela kamar kubuka. Aku memandang gugusan bintang di langit dan bulan yang berbentuk sabit. Aku mencoba melihat gambar yang terbentuk dari gugusan bintang tersebut. Tak lama kemudian, aku dapat melihatnya samar-samar, 'sekuntum mawar. Antara mau dan enggan, sebuah kenangan tergambar samar dan perlahan-lahan men- jadi jelas. Mawar-tersebut telah mengingatkanku akan sese Setelah diadakan tanya jawab yang dipandu oleh Andi W, Hen- dro, Iwan, Arita T, Helen K, Windy, Rommy dan Robert, para anak yatim piatu berfoto bersama anggota PBTS. Serka S Sianturi mengimbau, kegiatan sosial ini dapatlah hen- daknya memotivasi organisasi ke- masyarakatan lainnya untuk mau peduli atas penderitaan orang lain. orang.... Dua tahun yang lalu, aku mengenal seorang cowok dari Ratih. Namanya Ian Mochtar. Orangnya supel dan tampan juga. Rambutnya yang ikal, mata elang,.... semuanya OK. Ia adalah sepupu Ratih. Banyak cewek berusaha untuk menarik perha- tiannya. Dasar Don Juan, semua cewek diladeninya. Itulah yang menyebabkan aku kurang mempercayai apa yang kudengar dari Ratih kalau lan menaruh perhatian khusus terhadapku. Aku hanya terbe- ngong ketika mendengar Ratih memuji-muji Ian di hadapanku. Dan lebih terbengong ketika Ian Pdt Peter Lim juga menam- bahkan bahwa kegiatan bhakti sosial ini akan tetap ditradisikan oleh kawula muda PBTS sebagai salah satu wujud nyata di dalam pengamalan ajaran Sang Buddha untuk terbebaskan dari derita. Di samping itu ditekankan pu- la bahwa keberadaan PBTS bu- kanlah milik segelintir sekte/alir- an di dalam agama Buddha tetapi milik umat Buddha yang cinta akan persatuan serta kesatuan de- mi keharmonisan di dalam pelak- sanaan ajaran-ajaran Sang Bud- dha yang berlandaskan akan cin- ta kasih terhadap semua makh- luk. (rel) Hati Seorang Gadis Cerpen: Aura menelepon secara rutin setiap malam Minggu. Pada mulanya aku tidak terbiasa tetapi kami menemukan kecocokan. Wawasan nya luas tentang dunia luar yang kebetulan aku menyukainya. Setelah enam bulan lebih, ia memberanikan diri untuk berkun- jung ke rumahku. Saat itu bertepatan dengan hari ulang tahun Ed, adikku. Aku masih ingat ketika ia dengan wajah ke- bingungan memasuki ruang tamu kami yang telah dihiasi sedemi- kian rupa. Ia mengira itu adalah 0 acara penyambutan dirinya. Betapa geernya. Aku terkejut ketika menerima sepucuk surat darinya, surat yang berisi ungkapan perasaannya. Saat itu, aku jadi serba salah. Bagaimana tidak ? Selama ini, aku hanya menganggapnya seba- gai seorang teman yang baik. Un- tuk postur tubuh, memang ia lebih tinggi dariku. Tetapi ukuran umur, aku lebih tua enam bulan darinya, dan aku tak pernah mengimpikan kalau akan mem- punyai cowok yang lebih muda usianya dariku. Itulah sebabnya aku tidak pernah memberinya setitik harapan, tetapi walau demikian kami tetap berteman. Katanya ia akan menunggu sam- pai aku berubah pikiran. Halaman 9 Kontak Sayang (Kts) Dari: Kak Pengasuh Buat: Semua pembaca setia Analisa khususnya penggemar rubrik TRP. Selamat berlebaran dan selamat Imlek bagi yang merayakannya. Semoga krisis berat yang sedang kita hadapi bersama ini segera berlalu dan situasi segera pulih kembali. Salam kreatif selalu! Selama setahun ia terus menunggu dan menunggu. Na- mun pikiranku tetap tidak berubah. Ratih yang mengetahui hal ini, terus saja menasehatiku dan meminta agar menerima Ian. Kadangkala aku jengkel juga karena terus didesaknya. Namun Ratih juga tidak dapat disalahkan atas hal ini. Setelah melihat kesetiaan Ian, aku mencoba un- tuk mempertimbangkannya sekali lagi. Keputusan yang kuambil Dari: Pos PI Titi Kuning Untuk: Yohana Kosen. Happy birthday 28 Januari 1998! Dari: Kelompok Bartolomeus dan Pos PI Titi Kuning Untuk: Linda Lie. Happy birthday 30 Januari 1998! Dari: Lie Mei Wie Dear: Linda Lie. Happy birthday on 30th Jan! Don't forget nyam-nyam and srup-srup-nya ya? Untuk: Linda Lie. Happy birthday 30 Januari 1998! Love: 1278 Me: Kitty Girl You: Ripin W. 'Met ultah 1 Peb! Remember acara makan- makannya! Dari: Su Ie SS di Surya Baru 53 Medan Buat: Seluruh penulis dan pembaca TRP yang merayakan Lebaran, selamat Lebaran. Yang merayakan Imlek, selamat Imlek. Buat: Nalika, Alfian S, Nasir, Amir Wijaya dan seluruh sahabat pena le yang tak tersebutkan satu persatu, le ucapkan lamat Tahun Baru Imlek. Kiong Hie Fat Choi. Semoga lebih sukses menempuh cita-cita dan prestasi. Dari: Ananda Zamie Untuk: Ibunda Airy di Peringgan.. 'Met Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. O Dari: Lius H Buat: Teman-teman di SMU WRS 1. Saya ucapkan Gong Xi Fat Chai buat semua yang merayakan! Moga tambah kompak! Buat: Yunita, Dingdong, Aling di SLTP WRS 2. Gong Xi Fat Chai. Angpaonya ditunggu secepatnya dan yang gede ya? From: Mei Mei To: Bun Chiu (830-962). I need your extra attention and always loyal to me. Selamat Imlek ya? Puisi-Puisi gunung-gunung bertakbir sungai-sungai berzikir rumput-rumput tafakur pepohonan merunduk diam dalam semadi matahari meredup menyebut asma-Mu Allahu Akbar, Allah Maha Besar! S. Ratman Suras : IDUL FITRI S. Ratman Suras : PADA SEBUAH STASIUN KEBERANGKATAN pada sebuah stasiun keberangkatan ketika bus mulai menderu, engkau sempat melambaikan tangan berapa sebenarnya jarak kepergianmu yang akan kautempuh tutuplah kaca jendela bus, karena angin perjalanan sangat ganas menikam-nikam jantung setiap petualang catatlah pada setiap kota yang engkau singgahi di buku jiwamu. berilah warna sesuai seleramu jangan meniru-niru warna kelebatnya jalan sepintas yang tak mungkin kauabadikan sebelum sampai di tempat tujuan engkau harus membeli bekal seperti orang yang pulang sehabis mengarungi perjalanan yang sesungguhnya. sama sekali tidak diketahui oleh Ian dan Ratih. Aku ingin memikirkannya de- ngan jernih. O Kalau saja ia mau menunggu tiga hari lagi, ya tiga hari lagi, ten- tu ia akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dariku. Ternyata selama ini, sebulan yang lalu, ia bersahabat baik dengan seorang cewek yang termasuk murid baru. Cantik, supel, prestasi belajarnya baik dan masih banyak lagi. Pokoknya serasi sekali bila ia ber- jalan dengan Ian dan itu kuakui Medan Ramadhan akhir 1418 H. dengan pasti. Banyak yang men- jodohkannya dengan lan dan tampaknya keduanya senang dengan 'perjodohan' itu. Hanya Ranti yang tampak panas dingin melihat mereka berdua. Dua minggu yang lalu terjadi hal yang sama sekali tidak pernah kubayangkan. Aku menduga- duga ketika Ed memberitahukan bahwa ada dua orang yang datang. Dan aku tidak pernah memperkirakan bahwa kedua orang itu adalah Ian Mochtar dan Mitha Kusnady. "Yana, kedatangan kami tidak mengganggumu bukan?" Ian ber- tanya dengan tatapan mata yang sama sekali sulit kuartikan. Suhastin "Tidak," jawabku singkat dengan senyum yang manis, "Ada yang bisa kubantu, Ian dan Mitha?" "Sebenarnya kedatangan kami kali ini adalah...... ia tidak meneruskan kata-katanya. Aku tetap mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan nya, bahkan setiap patah kata yang keluar dari bibirnya. Apa yang kaukatakan, Ian? batinku. Keheningan menyelimuti kami bertiga untuk beberapa saat sam- pai lan melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya tujuan kedatang- an kami adalah untuk memberi kepastian kepada Mitha bahwa di antara kau dan aku sama sekali tidak ada hubungan apa pun selain teman"" Aku terkejut seketika, dan aku ingin melihat ekspresi wajahku pada saat itu. Tetapi saat itu pula aku membuka suara tanpa rasa bimbang, bahkan dengan senyum yang tetap terukir. "Mitha, di antara aku dan Ian tidak pernah terjadi hubungan yang melebihi taraf teman. Per- cayalah padaku. Memang dulu pernah diisukan antara aku dan Ian ada hubungan istimewa, tetapi itu semuanya hanya godaan teman belaka. Tidak lebih dari itu, Mitha. Kau percaya?" Mitha menunduk, kemudian 1998 O mengangkat kepalanya seraya menjawab, "Aku percaya, Yana" Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan kekuatan untuk mengungkapkan semuanya de- ngan jelas. Dan aku mengantar mereka dengan senyum yang sama sekali tidak dapat kubedakan apakah senyum bahagia atau tangisan dari hati yang remuk. Hal ini tidak pernah diketahui oleh siapa pun termasuk Ratih. Tatkala aku memandang ke taman, terlihat olehku tanaman mawar yang sedang berbunga. Bunga inilah yang Ian berikan saat berkunjung ke rumahku. *** TANPA kusadari, dua butir kristal bening mengalir di kedua belah pipiku. Secara refleks aku menyekanya. Tidak! Aku tidak boleh menangis! Itulah cinta. Ada manisnya dan ada pahitnya. Secara perlahan aku menengadah ke langit. Seolah-olah terlihat bayangan wajah Ian di sana. Tiba-tiba kulihat sebuah bin- tang jatuh di langit. Saat itu pula sebaris kalimat muncul dalam benakku. "Selamat tinggal cinta pertama". (For: le, Dy, Ju, thanks to you all!)
