Tipe: Koran
Tanggal: 1991-05-26
Halaman: 08
Konten
2CM MINGGU WAGE 26 MEI 1991 (12 DULKAIDAH 1923) Kebudayaan di Atas Panggung "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH LANJUTAN ATAS (I) Bagaimana Guru Menawar Kurikulum SASTRA sebagai karya seni, dayaan. Sebagai salah satu sektor amatan dan penelitian di satu pi- ajaran dan pendidikan sastra kita desak masa kini, dan harapan- OLEH: SUMINTO A SAYUTI AGENDA yang disebut-sebut bakal dibahas dalam konggres kebudayaan mendatang antara lain adalah OLEH: ADI WICAKSONO mit. dan eufemistik kita konsep estetikanya. tersebut sasaran yang deestitasi bakal pakan struktur watak feodalistk. nilai berarti masih lebih cocok buat urusan-urusan kesenian ketimbang urusan ilmiah. Akan sangat sukar mendapatkan iklim obyektif dan rasional dari watak kebudayaan semacam ini. Akan tetapi pada kebudayaan Jawa adalah kecenderungan yang meru- kecenderungan kebudayaan yang diartikan sebagal takan perkembangan perseptif dari estetikkan. Kita tak bisa Estetika dalam kebudayaan Jawa bentuk-bentuk seni, yakni kebudayaan dipahami se- estetika yang hidup, pada individu meninggalkan keadaan ini, bahkan cenderung menjadi kompleks. Ia bagal dimensi estetik yang terlihat dari karya-karya bisa diidentifikasi pada kebutuhan dalam arti yang sempit konotasi juga lebih kontemplatif. Perkara aktivitas kultural, kehidupan ke- hak dan kegiatan pengajaran di pi- akan menemukan relevansi uta- harapan subjektif masa depan. De- ekspresif dari keseluruhan kebudayaan tertentu. fungsional terhadap masyarakat yang negatif terhadapnya agaknya bahasa yang memiliki hierarkhi sastraan niscaya memiliki jenjang hak yang lain, merupakan dua ak- Sesungguhnya Ini masalah yang sudah klasik, kanperangkat nilai yang mendakan musti dikenakan pada pengepopan Kecenderungan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sebuah kebetulan bila dalam pe- perlu kita gugat, seandainya kerangka konseptual yang kita miliki, di mana selama rubahan Ini kebudayaan cenderung ditampilkan dalam konteks kebudayaan yang didefinisikan kebudayaan, antara mengajukan tesis atasnya sebagai sumber daya di luar ben- kita tuju adalah bagaimana men- produk dari sistem nilal - dalam hal ini rasa yang tuk estetik dengan kebudayaan capai keseimbangan di dalamnya. yang terakhir ini. berdiri di sisi antropologis, yakni manusia sebagal dalam batasan lebih spesifik, yakni Etos ekonomis ternyata juga Tapi kita referensi sentralnya ketika kebudayaan dianggap dalam arti bentuk keindahan, akan memberikan pekerjaan rumah bagi bawahi pada kenyataan estetika lam Dick rangka pengajaran proses dinamis dalam rangka mengaktifkan potensi terjadi saling mendorong. Masing: kebudayaan. Sedangkan penge- yang semula cenderung 'merumit' dekiawan, 1980:26-38). Ketiga nya tergolong menjadi bagian eksistensialnya, sedangkan estetika dalam proses masingnya memiliki cara tersendiri popan kebudayaan semata-mata dan 'kontemplatif tersebut kini kelompok ini, di samping begitu kelompok cendekiawan reproduk tersebut telah mengambil alih peran lebih menyeluruh dalam mengartikulasikan bełbagai jadi urusan para pekerja budaya, hanya kita jumpai pada abstraksi diperlukan keberadaannya dalam tif. Sedangkan para siswa merupa- gejala. sastra masyarakat kita akan meles- seniman-budayawan. Bukan uru- di atas kertas. Kekalahan terhadap kehidupan kultural (baca: kese- kan kelompok penerima budaya. jadi -tinimbang la hadir dalam gagasan fungsionalnya. Realitas kebudayaan pada term san para ekonom atau konglom- gelombang estetika pabrik se- nian) yang sehat, mereka memiliki Akan tetapi, secara kondisional ti- tarikan nilai-nilai, etika, dan ke- Perbincangan kebudayaan pada kita, tak bisa di- tertentu dari proses perubahan, erat. Di sinilah sesungguhnya makin hari semakin jelas. Karya- peranan yang sama pentingnya da- dak tertutup kemungkinan mereka kuatan spiritual yang tercerna da- pungkiri, telah diambil alih oleh kelompok kreatif yang ketika etos produktif dari peneka- keruwetan konsepsional itu ber- karya seni yang ada tak lagi mampu lam memajukan kebudayaan suatu para pengajar dan siswa sastra-- Masalah diatas tidak dapat de- lam sejarah dan diharapkan nan ekonomis misalnya yang bisa mula. meneruskan pengayaan lebih bangsa. termasuk produktif ngan mudah kita elaborasi meng- mampu memberikan kontribusi bekerja dengan nilal nilal artistik. Tak urung sukar kita jumpai pada derasnya indus- Begitu pula yang terjadi pada di- lanjut dari khasanah sejarahnya. Dalam perspektif yang lebih juga, apabila merea juga mencipta ingat pengajaran sastra -- bagai- yang membuat bangsa ini survive. dihindari akan reduksi yang mengarah pada peng- trialisasi, lajunya pragmatisme mensi yang lain. Menggejalanya Ia menjadi terlepas dari kedudukan realistik dapat dikatakan, kehi- karya sastra. manapun -- merupakan bagian in- Masyarakat atau bangsa yang ti- estetikan kebudayaan. Dengan kata lain kita memer- yang didorong oleh revolusi sains eufemisme dalam banyak bidang semula sebagai penafsir yang uni- dupan kesastraan suatu komunitas Sektor penciptaan akan hidup tegral yang tak terpisahkan dari dak mampu secara tegas mendefi- lukan proses ke arah de-estetisasi kebudayaan. dan informasi, tak bisa dipungkiri mulai politik sampai pendidikan, versal. Perbenturan dengan rasion- tertentu akan mencakup sektor subur apabila hasil kreasi para sas- konsepsi kependidikan kita secara nisikan masa lalunya berikut Tapi perbincangan kita kali ini dikelola merupakan revitalisasi benda pabrik memperoleh pasaran hadap kritik, sikap komformis pada estetika yang miskin. Mulai dari penciptaan yang melibatkan para trawan memperoleh sambutan keseluruhan. pembicaraan terha- konflik-konfliknya yang terkan- bahwa estetika 'salon' dari benda- melemahnya sikap positip ter- alitas baru terbukti menghasilkan bukan masalah de-estetisasi terse- dari unsur unsur potensial yang paling tinggi. Kita berhak men- dunia ilmiah, subyektivisme yang sastra yang tidak menemukan jalan sastrawan pencipta (kelompok yang selayaknya dari para penik- dapnya tidak dapat dilepaskan dari dung dalam tradisinya niscaya dan bagaimana cara dipandang mampu menghantarkan gajukan kesimpulan bahwa menonjol pada kehidupan intel- keluar dari kebuntuannya (berbar- produktif), sektor penelitian atau mat. Dalam hubungan ini, penik- kerangka keseluruhan konsepsi akan menghadapi persoalan- melakukannya, melainkan akan elan transformatif yang hendak estetika pop tanpa harus bersusah ektual kita sekarang ini tentu tak engan dengan meraja lelanya pengamatan yanng melibatkan matan suatu karya dalam rangka pendidikan kita itu. persoalan yang sifatnya substan- para peneliti dan pemawas (ke- penghayatannya secara keselu- mencoba menunjukkan bahwa dicapai seperti etos kerja, de- payah telah memperoleh legitimasi bisa dilepaskan dari kesalahan estetika pop yang secara kuanti- Jika dicermati, seperti dicatat sial. Masyarakat kita sebagai ma- sesungguhnya estetisasi mokratisasi, etos intelektual, yang amat kuat dan berlangsung mendasar tersebut. Sutan Takdir tatif praktis memiliki jangkauan lompok reproduktif), dan sektor ruhan, para penikmat seringkali oleh Farchan Bulkin (Prisma, Fe- syarakat yang belum begitu lama kebudayaan itu sendiri telah ber- masalah primordialisme, kepem integratif, dalam waktu yang san- Alisjahbana pernah mengritik pembaca sangat luas) sampai pada penikmatan yang melibatkan kha- membutuhkan semacam 'bim- bruari 1986), pendidikan pada da merdeka dan masih berada dalam langsung tanpa muara yang sehat. impinan, nasionalisme dan se- gat singkat. Kedudukannya sekar- kebudayaan Jawa yang memiliki terdepaknya bentuk-bentuk layak apresiator (kelompok pene- bingan atau resep' dari para pema- sarnya merupakan lembaga yang proses transformasi budaya -- pin- Tesis kita adalah; kecenderungan macamnya. ang sukar lagi dihitung, apakah kecenderungan artistik terlalu kuat kesenian tradisional meski telah rima budaya). Secara kontekstual, was. Dengan demikian, secara sarat dengan beban kesejarahan. jam istilah Umar Kayam -- masih estetis sesungguhnya tidak selalu Sebab pada taraf-taraf tertentu akibat selanjutnya dirasakan ra- sehingga potensinya dalam meno- direwangingepop sekalipun. Seka- pengajaran dan pendidikan sastra fundamental hubungan antarsek- Karena, filsafat dan kebijaksana- menghadapi masalah pembinaan negatif dalam kebudayaan selama hubungan transformatif dari sional atau tidak, lantaran ketika pang kehidupan etos ilmiah'sangat termasuk menjadi bagian sektor tor itu memang erat sekali. Dalam annya yang dalam konteks ini kebangsaan, kemasyarakatan, dan resultente nilai yang hendak kebudayaan akan mengikut ser- kita bicara kebudayaan telah ter- lemah. Katanya kebudayaan Jawa reproduktif karena kegiatan peng- diartikan sebagai pelaksanaannya kehidupan kenegaraan pada umumnya. Oleh karena itu, fungsi pertama dan utama yang harus di- ⚫laksanakan oleh pengajaran sastra -- pendidikan kesenian dan huma- niora umumnya -- adalah fungsi kapan dan di manapun, merupakan salah satu perwujudan kebu- -- selalu dengan sendirinya me- nuntut kejelasan wawasan masa lalu, kebutuhan-kebutuhan men- sesungguhnya jenjang kehidupan intelektual. tivitas yang sangat erat berjalinan. yang Ia lebih Maka mendasari meru- Pada dasarnya kehidupan intelek- Terlebih lagi jika disadari bahwa kritik tual kelompok, dapat yaitu dibedakan menjadi tiga harus menuju titik bidik menggaris Hartoko; Golongan Cen- yang diampu- ngan demikian, pengajaran sastra manya. Akan tetapi, dengan mere- tentang fungsi sastra dak bisa dilepaskan begitu saja seperti sudah banyak dikemuka dari kerangka semacam itu. kelompok pro- pengajaran. Oleh karena itu, para kan oleh para ahli-, sudahkan penelitian merupakan "dapur" Dengan mendasarkan diri pada duktif, kelompok reproduktif, dan pengajar sastra -- yang pada gilir- pengajaran dan pendidikan sastra kerangka berfikir di atas, kita pun kelompok penerima budaya (per- annya dituntut untuk melakukan kita secara tepat merumuskan dan dapat merumuskan fungsi-fungsi iksa lebih lanjut: Edward Shils da- pengamatan dan penelitian dalam mengaktualisasikan dirinya. Arti yang harus dilaksanakan oleh sas- pengajaran dan pendidikan sastra sebagaimana mestinya, yakni me- dari kerangka tadi. Yang pertama, menuhi fungsi-fungsi yang men- melalui pengajara dan pendidikan harapan kita semua? konstruksi kembali spekulasi- kita pun pelaksanaannya juga ti- spekulasi nya, sudahkan ia -- pengajaran tra kita itu -- melaksanakan peran kita, yang semuanya diderivasikan kelompok Bersambung hal 9 konteks semacam inilah peng- Teater Indonesia Semakin Hidup sekitar dan memberi seperti orang teater, tetapi juga tokoh yang pada para pemainnya berbuat sesuatu Sanggar Populer-nya puluhan ta- OLEH: ARIFIN C NOER hun bekerja dan bersetia pada ke- dilarang oleh norma-norma yang senian. Bahkan setahun bela- Teater Indonesia sangat menarik. tiba-tiba dibuyarkan oleh pelayan berlaku dari masyarakat. kangan ini sanggarnya dipersem- Semakin lama teater Indonesia se- pelayan seperti Potet itu, seperti Dalam suatu masyarakat selalu bahkan kepada umum. Setiap makin hidup. Ini yang paling halnya dalam lakon lakon keto- ada beberapa istilah-istilah yang pengembangan sumberdaya ma- bulan sekali diselenggarakan di- membahagiakan. Lepas dari soal- prak di Jawa, luar biasa sindiran- dilarang untuk diucapkan di depan nusia dalam arti seluas-luasnya skusi tetap yang dikenal dengan soal yang lainnya, semakin me- nya. Luar biasa gigitannya pada umum. Tetapi istilah-istilah atau akan selalu berkaitan erat dengan nama forun wawasan. Berbagai to- nyatu dengan realita, semakin ha- koh menyempatkan diri mengisi ngat hubungannya dengan masya- Merupakan acara bulanan itu. Bukan saja dari rakatnya. pada kita untuk masuk, ikut ramai se- hingga teater kata-kata tersebut dapat diucapkan kebudayaan sebagai milik seluruh dengan tidak disengaja melalui bangsa. Pendidikan berlangsung kesleo lidah atau dengan sengaja dalam suatu iklim budaya tertentu, but CATATAN BUDAYA Konservatisme vs Modern konserva- APA yang disebut tisme, pendirian yang senan- tiasa berorientasi pada adal kuno, sering dinyatakan meng- hambat kemajuan (moderni- sasi). Walaupun sebenarnya sulit untuk menentukan mana yang lebih baik antara konservatif dengan mo- nilai dern itu sendiri. nilai- Sebab pada dasarnya kon- servatisme dipertahankan lantaran mampu memberikan rasa aman dan keseimbangan mental bagi penganutnya. Um- pamanya saja kemajuan telah tercapai dan konservatisme le- nyap, apakah faham dan tata kehidupan baru tersebut akan juga cukup kuat sebagai peng- ganti tolok ukur dan pelin- dung yang memberi pegangan hidup aman dan beradab terha- dap masyarakat luas? Sementara dengan semakin menipisnya rasa persatuan (ko- lektivisme), meluasnya indivi- dualisme & rasionalisme yang radikal sejalan dengan moder- nisasi serta kemajuan dunia in- dustri sekarang ini, keruntuhan masyarakat seringkali dapat di- buktikan lewat pelbagai feno- men dekadensi akibat merosol- nya kebudayaan. Padahal, dalam masyarakat yang masih sederhana, yang le- tap teguh memegang adat dan sifat konservatifnya, mereka justru akan tahan lama sebagai golongan. Sekalipun di mata zaman nampak tercela lan- taran kelambatan (ketertutup- annya) dalam melaksanakan adaptasi /akselerasi kebu- dayaan. Pada umumnya, jika kita melihat segala sesuatu yang baru, hasil penemuan baru, se- gera saja kita berpendapat: "meningkat benar kemajuan zaman ini". Artinya, dalam pi- kiran kita timbul asosiasi, serta proses pembedaan mengenai ujud, fungsi, serta manfaat pro- duk yang sekarang dibanding dengan yang dulu. Jika demi- kian, pada kenyataannya, ke- majuan teknik (materi) sajalah yang lazim dijadikan ukuran kemajuan. Tanpa mempertim- bangkan lagi apakah umat ma- nusia benar-benar mendapat kebahagiaan atau tidak dari produk kebudayaan yang baru lahir tersebut. Adakalanya kemajuan dapat diukur. dengan mempertim- bangkan kenyataan mengenai baik buruknya subyek yang memberi arti terhadap per- ubahan tertentu. Tapi pada da- sarnya kemajuan tidak mem- punyai ukuran sendiri. Se- bahwa kemajuan hingga tak dapat dinyatakan bagi yang satu misalnya, berarti kema- juan pula bagi yang lain. Bah- kan mungkin sekali, kemajuan di suatu sektor kehidupan ter- tentu mengakibatkan kemun- duran di sektor lain. Dalam semangat kebang- saan misalnya. Jika kemajuan itu berarti mendalamnya sifat individu dan rasionalisme yang DARI MALAM 'KOMPOSISI MUSIK' berakibat terjadinya permi- sahan & kelemahan golongan, tidakkah hal itu sebenarnya berarti kemunduran? Sebalik- nya, konservatisme yang ka- rena keteguhannya dalam me- megang nilai budaya lama yang telah mapan justru diang- gap menghambat. Padahal ia bisa diartikan memperteguh sifat/identitas golongan. Mem- pertahankan persatuan dan ke- satuan. Tidaklah hal itu berarti suatu kemajuan, jika persatuan golongan bertambah kekal ka- renanya? Dalam sejarah, kita sama- sama mengetahui, betapa ma- nusia selalu bernafsu untuk membangun. Dengan perke- cualian, mereka yang selalu merintangi dan menentang per- satuan & persetujuan pemba- ngunan tersebut. Alasannya, dalam setiap 'revolusi' mereka selalu melihat rusak dan han- curnya sebuah kebudayaan yang telah mapan. Sekadar buat memenuhi ambisi mem- buat (membangun) sesuatu yang kurang lebih sama. Ujud- nya saja yang berbeda. Tetapi dalam seni, kerusa- kan itu dapat diartikan keke- kalan. Di Bali contohnya, batu candi dan kayu ukir yang cepat rusak itu menyebabkan ahli- ruinya. Pembaruan tersebut berarti memelihara kepandaian tertentu. Lain halnya di Jawa. Lantaran arus modernisasi, ke- ahli ukir senantiasa memperba- pandaian seperti yang terdapat di Bali Tiada berangsur-angsur le- lagi nyap. Di sini tak diperlukan lagi usaha-usaha memperbarui & mengulang hasil kesenian seperti di sana. Jadinya, Boro- budur, Prambanan, Kraton, tinggal jadi monumen mati. mempunyai jiwa bagi kehidupan seni budaya masyarakat di sekitarnya. Seorang seniman dan filsuf dari Italia, Marinetti, pada 1910 pernah membuat state- ment yang sangat berani dan mengejutkan. Yaitu, bahwa ha- sil seni kuno sebaiknya dihan- curkan saja. Pertama, agar me- rangsang hasrat (semangat) membangun para seniman un- tuk membuat yang baru. Ke- dua, supaya orang tidak hanya memuji-muji zaman yang telah lalu, sehingga lupa memperha- tikan ciptaan-ciptaan baru yang tidak kurang pula berhar- ganya. Mungkin, tidak saja Mari- netti, umat manusia di seluruh dunia pun telah memperoleh kesempatan membuktikan be- nar tidaknya teori tadi. Bukan lantaran peperangan yang menghancurkan itu saja, tapi nafsu membangun dari manu- sia sendiri terbukti yang paling banyak mengirim nilai-nilai budaya masa lampau ke alam baka. Untuk Yogya saat ini, ka- sus Senisono barangkali dapat dijadikan salah satu bukti nyata! (Iman Budhi Santosa)-c Konser Pemula Para Komposer Pemula CATATAN: NURGANI ASYIK mencoba meredam pengunjung menyatakan konser tersebut ber- SEORANG gitaris muncul berapa pengunjung yang arif mau konser yang seakan sudah hilang hasil. Paling tidak telah berhasil kesabaran. Sejenak kemudian se- menggugah etos kreativitas maha- nyap dan Romance in A Miner siswa musik berkarya. Itu hasil po- mengalir dari dawai-dawai gitar. sitif. Begitupun, sayangnya, para Woody gitaris itu, boleh meng- komposer masih sangat ingat ca- benar telah melampaui beberapa usap keringat ketika dia benar- tempat sulit pada karya Desriland itu. Sebuah permulaan yang baik pun telah dimulai. Desriland ma- sih menyuguhkan dua karya lagi, yaitu Gitar Dan Biola (Vocal: Koko dan Piano: Niken) serta Mi- ***Duct (dari Sonata untuk La Narosa -- movement ketiga) yang disaji- kan oleh trio (flute: Naris, clarinet: Dwi Margono dan fagot: Hendry) dengan manisnya. Lalu berturut-turut Amin Ab dullah ("Selamat datang" dan "Sumatra"), Agstya Ramalistya ("Tema dan variasi" dan "Inven- tion 4 Suara"), Yohan C Tinungki (Buah Renungan) dan Haryo Suyoto ("Unspoken Words"), St- telah istirahat beberapa menit kon ser "Malam Komposisi Musik" 20 Mei 1991 di ISI Jurusan Musik berlanjut lagi dengan Royke B. Koapaha ("Sonatia"), Wahyu Jat- mika ("Kacau Saja"), Michael Asmara ("Malioboro Street") dan Fataji Susiadi ("Bayangan Di Cermin"). Kecuali Desriland, Haryo Suyolo dan Michael Asmara; par- tisipan lainnya menyodorkan ka rya yang benar-benar masih ha- ngat bertahun 1991. Konser se- perti ini baru berlangsung dua kali sepanjang lima tahun ini. Kesem patan terdahulu (yang pertama kali) menampilkan karya Chairul Slamet, Royke B, Keapaha, Harya Suyolo dan Perry Rumengan. Kali ini, dari nama-nama yang muncul, stage". Ini sungguh sebuah hasil lain yang rupanya sedang me- menunjukkan adanya nama-nama nunggu kesempatan "go to yang patut dicatat; bahwa banyak Pertengahan, Barok, Klasik, Ro- calon komponis berkemampuan mantik dan Modern (Abad Kedua- menyajikan karya bernafas Abad puluh) seperti 20 Mei malam itu. Saluut!. Bagaimanapun juga Konser "Malam Komposisi Musik" itu telah menunjukkan hasilnya. Be- tatan di bangku kuliah. Memang bukan hal yang salah atau tercela; tetapi sebagai seniman mestilah memiliki kesubliman lebih jauh daripada anak-sekolah. Nuansa itu langsung disodorkan oleh ketiga komposisi Desriland. Minuet dapat dibawakan dengan hidup daripada kedua karyanya yang lain. Hidupnya Minuet itu ti- dak saja karena tempo presto dibe- rikan pada bagian B; tetapi berkat adanya jalinan tematis dalam trio itu. Sayangnya flute tidak diberi kesempatan memamerkan grace- notes secara prima. Akibatnya trio itu nyaris hanya begitu-begitu saja. Tampaknya Desriland agak berhasil menyisipkan nuansa dae- rah asalnya (Jambi/Minang) da- lam ketiga karyanya; terlihat sedi- kit jelas pada Romance in A Minor dan Gitar dan Biola. Semoga itu disengaja; bukan malah sesuatu tanpa disadari masuk. Pada satu sisi Amin Abdullah patut mendapat pujian. Secara akademis Amin telah mengerja- kan komposisi Rendo dengan baik. Yang menarik adalah pada "Sumatra" dimana begitu jelas idiom musik Sumatra (Minang/ Melayu Deli) mencuat berkali- kali. Maksudnya Amin ingin me- nyajikan "Sumatra" dengan rondo gaya Klasik; tapi yang mun- cul tanpa disengaja adalah rondo yang ambivalen. (Mau ke Klasik terasa adonan Modern; tapi terlalu riskan untuk disebut rondo Mo- dern). Agastya Ramalistya meleng- sebelumnya, komposisi yang disa kapi paparan komposisi yang 'stu- dent style'. Seperti kedua rekan jikan Agastiya juga lekat dengan Agastya sudah berusaha meng ilmu-ilmu para guru. Begitupun -- angkat hal-hal baru (inovatif) dari sayangnya kurang digarap -- Invention 4 Suara yang dengan bermaksud sungguh-sungguh di- bawakan oleh 4 instrumen tiup lo- gam. Secara perlahan -- seperti diren canakan -- apresiasi pengunjung konser diantar menuju ke arah mu- sik modern. Yohan Tinungki me- yang menyajikan "Buah Per- mimpin sendiri ansambel vokal enungan" nya. Komposisi vokal ini ibarat sesuatu dari Abad Perte- ngahan yang dibungkus dengan sesuatu dari Abad Modern. Karya kan Sopran Alto Tenor Bass tanpa nya unik, disharmonis, mengalir- harus terganggu satu sama lain. Yohan berusaha mengantarkan nuansa magis religius dengan me- lodi Sinrili (Makasar) berpadu de- ngan beberapa ayat dari Al-Kitab. Unspoken Words karya lama Haryo Suyoto -- bagaikan langkah laktis - mengajak pengunjung ke TEGUH KARYA dengan kehidupan sehari-hari ideologis. Materi, proses, dan se- gala sesuatu yang terkait dengan pengajaran sastra harus diarahkan pada pembinaan jiwa Pancasila. Pendidikan sebagai upaya peluang halnya pada pertumbuhan teater di Indonesia. rakyat, seperti folklore lisan dan melalui lelucon. Dan Potet atau di samping ia juga tidak dapat dile- pers, sastra, juga tokoh-tokoh ilmu Joke-joke atau gurau-gurauan setengah lisan pada umumnya. Wijil dalam lakon ini dengan sadar paskan dari paradigma kebu- dalam suatu pementasan seperti mempunyai banyak sekali fungsi pengetahuan. menggunakan perannya. dayaan yang merupakan lahan Usaha menyelenggarakan ke- dalam lakon klasik Jayaprana- bagi kehidupan bermasyarakat giatan setiap bulan tersebut perlu Layonsari yang dimunculkan orang Indonesia. Beberapa di anta- Teguh sampai sekarang masih bagi tumbuhnya identias dan ke- dicatat sebagai sesuatu yang sa- Potet-Wijil, dua panakawan dalam ranya yang paling umum adalah bekerja, Putu Wijaya, serta Rendra pribaian bangsa. Pada sisi lain, ke- ngat besar artinya bagi pertum- kisah ini, karena pementasannya sebagai alat pendidikan anggota masih juga masih bekerja kendati budayaan -- sebagai suatu konsep buhan dan pengembangan ke- memungkinkan kita untuk masuk masyarakat, sebagai alat penebal usia mereka terus bergerak. Begitu yang luas, yang mencakup sistem kesana. Saya pun akan melakukan perasaan solidaritas kolektiv. Se- juga dengan penonton teater di In- dan pranata nilai yang berlaku, ter- hal yang sama karena memung- bagai alat yang memungkinkan donesia, bergerak juga. Penonton masuk tradisinya yang mengisya- teater kita dari mahasiswa, remaja, ratkan makna pewarisan norma- kinkan kita untuk masuk. Untung seorang biasa bertindak dengan sampai orang-orang tua. Dan per- norma, kaidah, adat-istiadat, dan saya dipenjara oleh kawan-kawan penuh kekuasaan terhadap orang tumbuhan itu memerlukan waktu harta-harta kultural -- memang dari Malaysia sehingga saya ha- yang menyeleweng, sebagai alat untuk mengeluarkan protes terha- rus disiplin. Kalau saya tidak ter- penjara, kalau saya baur dengan penonton biasa, saya akan ikut ra- mai dengan Potet tadi, karena me- mang kalau kita memerhatikan walau persentasinya dari awal kita sudah diarahkan kedalam suasana yang sangat formalistik, tetapi giatan teater serta film di Indone- sia. Ini perlu disebut secara resmi kendati secara tidak resmi sudah banyak yang mendengar dan mengetahuinya. Layonsarinya Teguh dari cerita Menyaksikan Pranajaya- yang tumbuh subur di masyarakat Bali. Di tengah pertunjukan, Me- mang (Chaerul Umam Red) berbi- sik pada saya "Bagus yang dulu. dak pendek Mamang mungkin bercanda. Sekedar bergurau. Suatu joke saja. Bagaimana pun juga pementasan di tahun 1991, berbeda dengan pe- mentasan tahun 1972 ketika untuk pertama kalinya lakon ini diangkat ke panggung dan kebetulan, Ma- mang yang memerankan raja I Gusti Dewa Agung. Situasi me- mang telah berubah. Situasi ma- syarakat, politik dan juga umur Paling tidak dari 1972 hingga 1991 Teguh Karya sudah jauh berbeda. hampir 20 tahun. Waktu yang ti- tentu. Dan terus terang akan banyak berpengaruh terha- dap sebuah pementasan. jauh. Tahun 1971, lakon Sumur kebetulan punya peng- alaman yang juga tidak berbeda Tanpa Dasar saya pentaskan. Ke- betulan juga Mamang yang main. Lakon yang sama, kembali kami pentaskan tahun 1987 yang sedikit banyak mengalami perubahan ka- rena banyak hal yang mengubah- yang bermacam-macam. Karena- nya. Semisal, situasi dan kondisi nya kalau seorang wartawan mem- pertanyakan "Mengapa nama Saddam Husein harus muncul apa- kah memang disengaja?" Saya 25 tahun. membutuhkan upaya pelestarian dap ketidakadilan, memberi ke- Yang paling menarik, ternyata, melalui pendidikan, yakni pendi- catatan-catatan kegiatan teater di dikan yang menyadarkan kepen- sempatan bagi seorang melarikan diri untuk sementara dari kehi- Indonesia kurang lengkap. Catatan tingan akan preservasi nilai bu- dupan nyata yang membosankan teater Indonesia kalah dibanding daya yang bersifat turun-temurun. ke dunia khayalan yang indah dan Malaysia. Ini menarik untuk dili- Pendidikan kesenian umumnya, hat dan dipertanyakan. lain-lain. Satu fungsi lain dari tea- (KRM Goprak Harsono)-k ter rakyat adalah, memungkinkan pengajaran sastra dalam konteks Bersambung hal 11 Diantara Letusan Bom Seni Lukis Ternyata Ada Kompromi Harga MENENTUKAN nilai karya seni lukis tidaklah mudah seperti menentukan harga sebuah ma- dibanding-bandingkan. kanan. Nilai khas, nuansa dan nilai kepuasan seorang pelukis atas ka- ryawanya memang tak bisa Khas ataupun ciri lukisan bagi pelukis sangat erat dan intim de- ngan aliran lukisan yang dianut- nya, sebab ia merupakan cerminan goresan jari-jemari dan ekspresi kejiwaan. Ciri dan aliran ini yang membawa kepada keindahan dan kemesraan nuansa hasil karya yang pada akhirnya muncul ke- puasan dalam jiwa seseorang. Budi S, Hertoyo W dan Sunar- menyatakan bahwa kepuasan atas seto tiga pelukis senior di Jakarta karya seni lukis tidak dapat diukur maupun ditentukan nilainya. Bagi pelukis yang sudah mapan memi- liki khas dan aliran tersendiri sulit "Kalau kita mengikuti perkem- untuk dipaksa dan memaksakan kan dengan koyboard terprogram; bangan teater di Indonesia, diri mengubah apa yang sudah dilanjutkan oleh "Kacau Saja" setidak-tidaknya di Jakarta, karena menjadi kebiasaan yang mengakar Wahyu Jatmika. nuansa musik masa kini. Ketika karya Kwartet Gesek (1976) ini di- mainkan, pengunjung boleh komposer modem seperti Pende- mengingat-ingat lagi komposer- recki, Messian dan lain-lain. Apa- lagi setelah istirahat Royke B. Koapaha makin mengentalkan suasana modern dengan karya "Tanpa Judul "'nya yang dibawa- bisa klaim diri dalam jiwanya. saya tahu tentang teater di Indone- Trio pelukis yang beraliran rea- sia karena pengetahuan saya terba- lisme atau naturalisme ini kadang tas. Terbatas Jakarta, sedikit Ban- sulit menentukan harga dari karya- sulit sekali saya Karya "Tanpa Judul yang di- berikan Royke dengan bantuan Wahyu terasa memberi warum ruh, ibarat sungai kebanjiran lum- pur tanpa sebab. Sajian musik de- Bersambung hal 11 'GARPU' WAB TIBA-TIBA Kabid merasa se. Cerpen: Agnes Yani Sardjono perti berada di tengah masyarakat primitif. Masyarakat yang belum orang-orang yang ada di sekeli- mengenal peradaban modern. la bengong dan memandang ganjil Yang masih buta huruf bisa dihi- tara mereka cukup berpendidikan? lingnya. Bukankah sebagian di an- tung dengan jari. Lagi pula jarak dusun tempat tinggal mereka de- ngan pusat kota tidak jauh. Dalam hal kemajuan, Kabid yakin bahwa mereka tidak ketinggalan. Tidak yang sudah memiliki pesa wat tivi. Tapi, kenapa kebiasaan sedikit orang-orang kuno dan primitif itu masih dipertahankan? Yaitu, ma- kan dengan tangan! Tanpa sendok, Sebagai warga baru di dusun itu Kabid diundang oleh seorang apalagi garpu. warga dalam acara syukuran. Ia ti acara syukuran itu, makan ber- dak mengira jika dalam puncak sama, semua cuma menggunakan tangan. Apakah budaya makan menggunakan sendok belum membudaya di dusun ini? Anch. la tidak yakin akan pertanyaannya itu. Mungkinkah tuan rumah pu- nya kebiasaan yang berbeda de- dung dan Yogya. Daerah-daerah lain praktis saya tidak begitu tahu. Selama saya 25 tahun di Jakarta, ngan orang lain? "Ayo, silakan, silakan!" ajak tuan rumah ramah. Masing- masing orang sudah menerima se- piring lauk. Campuran dari sambal goreng daging dan berbagai lauk lain. Mereka bebas mengambil nasi. Sesukanya sendiri, asal per- utnya muat. Kabid mendesah dalam hati. Bakul berisi nasi yang diedarkan hampir sampai di tempatnya. Jika nanti mendapat giliran mengambil nasi, bisakah ia makan dengan ta- mengumpat dalam hati. Sejak ke- ngan kosong saja? Diam-diam ia cil tak pernah dididik untuk ber- laku macam ini. Makan ramai- ramai tanpa aturan. Ibunya secara ketat mengawasi bagaimana diri- nya makan. Menyendok nasi ada aturannya. Mengambil lauk pun punya aturan sendiri. Bagaimana cara memegang sendok, bagai- mana cara memegang garpu; cara menggunakan pisau untuk memo- tong daging, semua peraturan itu seolah sudah menyatu dengan jari- itu semua, sulit tangannya ber- ngan otot kedua tangannya. Tanpa fungsi menjalankan tugas. Yakni, menyuap nasi ke mulut. dianggap sebagai hal yang berle- Bagi orang lain hal itu mungkin bihan. Namun bagi Kabid justru sebaliknya. Itulah barangkali kele- lain, ia merasa punya banyak kele- bihan dirinya. Dibanding yang bihan. Kelebihan-kelebihan itu ia peroleh lewat orangtuanya, juga lingkungan yang membesarkan di- rinya. Dada Kabid berdegup agak ke- ras. Tinggal dua orang lagi, maka bakul berisi nasi itu sudah sampai karya yang diciptakannya. Meski- pun pada akhirnya mereka harus pula menyesuaikan dengan ke- pada dirinya. Itu berarti ia benar- benar akan makan cuma memakai tangan. Bisakah? Keringat pelan- pelan membasahi tengkuknya. Se- waktu sekolah dulu ia pernah men- coba makan cuma memakai ta- ngan. Baru dua suapan ia muntah. Lalu ia bersumpah, tak akan ber- buat hal itu lagi. Apakah malam ini ia masih akan muntah? Jika sam- pai itu terjadi, acara syukuran yang meriah ini bisa kacau. Tapi jika di- paksa, mungkin saja ia akan mun- tah. duk di sampingnya. Orang itu Tinggal orang yang persis du- mengambil nasi pelan-pelan. Dari tengkuk, Kabid merasa bahwa tu- buh bagian belakang sudah basah pula. Otot-otot kedua tangannya tiba-tiba seperti mengejang. Sulit rasanya ia menggerakkan dengan luwes. Kini dirinya benar-benar sudah mandi keringat. "Makan dengan tertib, sesuai aturan dan etiket yang berlaku, hal itu menunjukkan bahwa diri kita orang yang tertib dan tahu etiket jukkan bahwa orang itu sudah pergaulan. Lebih dari itu, menun- mengenyam pendidikan dan per- gaulan modern. Hanya orang- sih bertahan dengan cara makan orang primitif dan kuno yang ma- yang benar-benar tidak sehat itu. Mereka cuma memakai tangan. jangan sampai melakukannya!" Hih, anak-anak dan cucu-cucuku ucap ibunya dulu. Dan ucapan itu berkali-kali didengar. Ibunya ingin agar ucapannya itu merasuk jauh ke dalam tulang sunsum anak-anaknya. Hingga menyatu ke dalam semua denyut nadinya. "Kalau terpaksa di tempat ma- sanggupan penikmat (pembeli). Dalam suatu pameran lukisan yang bertempat di Balai Budaya Jakarta 1-6 Juni mendatang, Trio ini akan memamerkan sekaligus 40 lukisan. Obyek lukisan masing- masing kebanyakan bunga, alam, benda, potret dan beberapa pe- mandangan laut. Harga lukisan yang ditawarkan dalam pameran itu bervariasi antara Rp 750.000,- sampai dengan Rp 3.500.000,- un- tuk sebuah lukisan. "Tapi harga ini masih bisa di- kompromikan, sesuai dengan ba- gaimana kami memandang lukisan lukisan tersebut", ujar Hertoyo Wiyono. Mengenai aliran lukisan yang dianut ini, Trio pelukis ini secara kompak menyatakan bahwa me- reka hanya beraliran naturalis (rea- lis). "Kami memang beraliran yang sama sehingga dalam pa- meran nanti terasa ada kesatuan pandangan", kata Budi S. Menurut Budi, pihaknya me- mang pernah mencoba untuk me- lukis dengan corak atau aliran lain, tapi hasilnya tidak maksimal. "Jadi, masalah aliran ternyata ti- dak bisa dibohongi. Oleh karena- nya kami masih tetap mempertah- ankan aliran yang kami anut", kan tak ada sendok dan garpu?" tanya saudara Kabid waktu itu. "Lebih baik tak usah makan!" jawab ibunya ketus. "Makan di tempat lain yang alat-alatnya kom- plit. Kita bukan turunan petani yang tangannya selalu kotor oleh lumpur dan rumput. Jelek-jelek toh darah kita masih darah priyayi. Pertahankan itu. Jaga martabat ke- luarga!" melanggar peraturan ibunya. Dari Tak seorang pun yang berani kakak sulungnya Kabid dengar ka- pimpinan kakaknya itu budaya bar bahwa semua karyawan kantor makan dengan sendok dan garpu benar-benar ditiru. Mereka meniru pimpinannya. Dan ketika ibunya tahu hal itu, wanita itu tak bisa me- nyembunyikan rasa bangganya. Garpu. Benda yang sepele' itu ternyata bisa mengangkat marta- bat orang yang memakainya. Ka- rena tidak sembarang orang ter- biasa menggunakannya. Tapi malam itu, jangankan garpu, sendok pun tak disediakan. "Silakan Mas Kabid," orang yang duduk di samping Kabid me- nyorongkan bakul berisi nasi. "Ya beginilah kebiasaan masyarakat dusun. Makan ramai-ramai. De- ngan cara begini, rasanya semua jenis makanan jadi enak. Beda lho jika kita makan sendiri di rumah. seperti makan tempe. Ya to?! selo- Mungkin makan daging rasanya roh orang itu. Kabid mengangguk. Ia meng- angkat tangan kanannya. Tapi ta- ngan itu seolah menjadi kaku. Juga ketika tangan kiri akan ia pakai menarik bakul lebih dekat lagi. Ta- ngan kiri itupun hampir sama de- tambahnya. nyakkan ketika kita semua tahu bahwa di sisi-sisi realisme sedang mengepung seru aliran-aliran yang "minta" diikuti. Aliran realisme atau natura- lisme, seperti dikatakan Agus Der- mawan (pelukis) bahwa di Indone- "Namun ketiga pelukis ini keli- sia memperoleh pengikut yang banyak. Ia adalah aliran populer. hatan tidak bergeming dari yang diyakini, walau gaya seni lukis Menurutnya, pelukis Budi S, lain kadang lebih menjanjikan Hertoyo W, dan Sunarseto atas "kemudahan-kemudahan", kata keyakinan mereka kepada aliran Agus. yang dianut bisa disebut menghe- 'Alam Benda' karya Sunarseto. (Cdr)-j (KRM-Chaidir). ngan tangan kanan. Sulit digerak- memakai tangan begini?" kejar kan. Keduanya kaku. "Ayo, silakan," kata orang yang duduk di sampingnya. Mungkin sudah tak sabar me- nunggu bakul nasi yang masih ber- henti di muka Kabid. "Anggap saja di rumah sendiri. Ambil yang banyak Mas, kalau makan ramai- ramai begini rasanya perut ini tam- bah besar saja. Ha...... ha....... Kabid mengangguk. Tapi kedua tangannya benar-benar tak mau di- gerakkan. Orang-orang makan dengan la- hap. Sembari mengunyah nasi dan lauk, mulut mereka pun nerocos berseloroh atau bercanda dengan teman sebelah. Tak segan-segan, ada yang sudah mengambil nasi sampai dua kali. Semakin lahap menyantap hidangan, semakin nampak bahwa mereka benar- benar akrab dengan tuan rumah. Sebaliknya dengan Kabid. Wajah- nya berkeringat menyaksikan pe- mandangan di depannya itu. Wa- jah ibunya tiba-tiba membayang begitu dekat. Wajah yang ia takuti sejak kecil. Wajah yang selalu ha- dir dan mengawasi bagaimana ia makan di rumah. Jika dianggap ke- liru, wajah itu tak segan-segan me- nyeringai dan dari mulutnya me- luncur umpatan atau teguran buat dirinya atau saudara yang lain. "Mas Kabid tidak biasa makan- makan seperti ini?" bisik teman sebelah. "Ya, ya..... belum terbiasa," ja- wab Kabid gugup. Namun dada- nya lebih ringan dibanding tadi. Akhirnya ada orang yang mau mengerti. "Tidak terbiasa makan cuma orang itu. "Ya, ya". "Kalau begitu...." orang itu menoleh ke kanan, lalu berteriak. "Tolong ambilkan sendok dan garpu!" Orang-orang yang lagi makan itu menoleh pada orang tadi. Wa- jah mereka menampakkan rasa heran. "Bukan untuk saya, tapi untuk Mas Kabid. Beliau ini tak terbiasa makan seperti kita, cuma memakai tangan kosong. Lekas, ambilkan sendok dan garpu!" ulang orang itu semakin keras. Orang-orang mengangguk-angguk dan meman- dang Kabid. Malam itu nama Kabid hampir diucapkan oleh setiap mulut orang dusun. Berbagai macam komentar meluncur dari mulut mereka. Na- mun tak seorang pun berani meng- ucap di depan Kabid. Bagi mereka, Kabid bagai manusia yang penuh tanda tanyga. Gagah, terhormat, moderen, namun sekaligus lucu! Malam itu pula Kabid bercerita di depan isterinya. Wanita yang mengagumi dirinya karena gaya hidupnya yang punya banyak ke- lebihan dibanding lelaki lain. "Mama harus berani tampil, tun- jukkan bahwa kita punya kele- bihan dibanding mereka. Caranya, ajari mereka bagaimana cara ma- kan yang baik dan penuh sopan santun. Ajari bagaimana cara me- makai sendok dan garpu di meja makan. Mereka terlalu primitif!" ucap Kabid. "Bagaimana jika mereka me- nolak?" tanya isterinya. Bersambung hal 9 MINGGU WAGE 26 M Teatera OLEH: NURM TEGAL sebagai kota kecil pinggir pantai utara laut Jawa, ke- beradaannya dalam kancah dunia perteateran di Indonesia nampak- nya tak banyak diharapkan kiprah- nya. Namun diakui atau tidak da- lam kurun waktu relatif singkat Tegal menyeruak sebagai ke- kuatan teater yang ramai diperbin- cangkan tokoh-tokoh teater Indo- nesia. Kelompok-kelompok teater bermunculan bak cendawan dimu- sim hujan. Pementasan demi pe- mentasan bergulir pasti dengan ru- tinitasnya yang terjaga. Diskusi- diskusi, sarasean, lesehan serta seabrek kegiatan teater lainnya di- selenggarakan, tidak tanggung- tanggung pula mendatangkan to- koh teater Tegal yang kini ngetop di Jakarta seperti Chairul Umam, Imam tantowi, untuk diajak ber- dialog dalam rangka mengentas- kan permasalahan seputar teater di Tegal. Tercatat enam teater dengan kreatifitas dan ciri khasnya masing-masing, meramaikan se- kaligus membangun Tegal dari su- dut budayanya. Teater RSPD, Pu- ber, Massa, Dingdong, Swades dan teater Sedar, secara berkala menggelar pentaskan karya sen- diri ataupun karya orang lain. Ka- rena semarak dan keseriusan pe kerja teater tegal, maka tak heran seorang peneliti teater moder Lomba Penulis dengan Kepari HADIAH trophy, uang d sponsor akan diberikan kepada budayaan dengan kepariwisata val Kesenian Yogyakarta 1 Lomba penulisan itu da FKY '91 alias Festival Kes lomba bisa mengirim tulisann di Indonesia, termasuk KR, da Purnabudaya. Peserta lomba yang tulisa nya tak perlu keburu optimis dimuat di koran atau majalah m daya, akan diseleksi Dewan Nayono. Lomba penulisan Kebud kepariwisataan ini akan ditutu sejak sekarang. Yang menang dia dan hadiahnya akan dibe FKY '91, di Kepatihan. Had Kiprah FKY ke-III aka tingkat-II se-DIY dan menuru tang. (KRM).-k Pekan Sas IKLIM yang ge kemarau melanda lingkup sastra di S Seolah pohon tampak merang karena ranting mengering, ny patah dan mati. Hujan deras y mengguyur maleman Sriwe tak mungkin mampu menumb kan kembali ingkup sastra y tak ada "kutik"nya. Mau apa hai kota budaya ? Sementara pasar Klewer se kin sesak walau telah luas dam bar. Semakin panas dan te sumpeg, sehingga bau keringa dagang dan buruh berbaur jadi dengan parfum, kolonyet dam nyak kerok. Bakul jamu gene terasa semakin kecil dan terp- ketika sambil terengah berjala antara gedung-gedung bank tiba-tiba tumbuh seperti dalam ngeng. Namu harapan ternyata tak nah pudar sebenarnya. CA GUGAT karya Sutarno Priyo sono menang dalam lomba m lisan cerpen Pembaruan. Da panya CAK" GUGAT men Bocah Driver (th. 1989) mengubah I The Magic Flute' di hutan E lia. Tahun lalu Teater Opera nolulu menyuguhkan 'Coss Tutte' dalam suasana Haw masa monarki. Kemajuan elektronik yar kembangkan dalam dunia memungkinkan membuat ap dengan karya-karya Mozar ngan peralatan MIDI, sese dapat memainkan versi elek dari musik Mozart. Dan mas nyak lagi produk-produk ya buat sekitar karyanya yang di pasar, yang pasti tidak da bayangkan oleh sang komm Seperti seks, karya M (kini) bisa dijual. Kaum bism impresario ramai membic dirinya, bukan ingin mem nalkan seorang jenius atau ajaib yang telah mati, tetapi Mozart memang laku di jua Mozart menerima royalti c mua rekaman karyanya di s Garpu "Pak Lurah sudah setuju tadi hal itu kuutarakan. Ent canda entah serius, beliau menyuruh aku agar mau m semacam penataran. Ini patan emas, Ma. Jangan k siakan!"* Isterinya mengangguk-a Sebab itu berarti kesempa dirinya pula untuk menum kelebihan yang dimiliki. B- di muka wanita-wanita du susahnya. Apalagi cum garpu. Hal yang mudah. bagi orang lain mungkin bagian yang paling meny dalam hidup ini. Sebelum tidur Kabid bayangkan, seandainya orang makan memakai ga tapa indah jika dilihat. Gen ngan mereka mirip pen. asal menciduk lau menyua mulut. Pakai aturan dan ira lah seni. Tapi, persis menjelan dini hari, Kabid terbangu berteriak-teriak. Mimp yang sulit dipercaya mu lam tidurnya. Puluhan ora datangi dirinya, mereka m garpu yang baru saja ia 4cm
