Tipe: Koran
Tanggal: 1993-11-14
Halaman: 08
Konten
4cm MINGGU PAHING 14 NOVEMBER 1993 (29 JUMADILAWAL 1926) Siapa Bilang Sastra Jawa Tradisional Tidak 'Modern'? kan bahwa si sastra. Akibatnya, TEEUW (1984) mengungkap Khas, aneh dan luar biasa. Oleh karena itu, munculnya karya sastra pada satu sisi tereikat konvensi tetapi karya seni yang "menyimpang pada sisi yang lain terdapat ke- merupakan suatu kebutuhan bagi longgaran dan kebebasan untuk seorang seniman. Misalnya, maca pat plesetan karya Mbah Guno Demi nilai karya seni, pengarang Prawiro. Di dalam karyanya itu, mempermainkan konvensi itu. terpaksa menyimpang dalam pe- Mbah Guno mencoba untuk berje- makaian bahasa maupun konven- naka melalui plesetan leksikon Macapat Plesetan tersebut di- sistem sas- dan makna. tra tidak pernah stabil dan ber- trawan mengubah konvensi sam- pupuh Pangkur dan Dhandhang. ubah-ubah. Setiap angkatan sas- gubah dalam dua pupuh, yaitu bil memakai dan menentang kon- gula. Pada pupuh pertama terdiri vensi itu. Penyimpangan sema- delapan pada (bait) masing-ma- sing membicarakan (1) masakan Victor Shklovsky menerangkan, kebun binatang, (2) masakan disebut defamiliarisasi. defamiliarisasi adalah penyim- tembang macapat, (3) masakan pangan dari kebiasaan, kenormal an, sehingga yang dipakai harus cam itu olahragawan, (4) masakan sepeda motor. Pada pupuh yang kedua dibicarakan tentang (a) masakan mobil, (b) masakan buah, (c) ma- sakan gamelan, (d) masakan elek tronik, (e) masakan sandhangan, dan (0) masakan badan alus. Membaca paparan tersebut, ke- munculan macapat plesetan me- narik untuk diperhatikan (bah- kan diteliti). Dengan demikian, secara tidak langsung, macapat plesetan akan dapat tercatat da- lam sejarah perkembangan sastra Jawa. Di samping itu, melalui pe- nelitian seksama, diharapkan ke- munculan macapat plesetan da- pat dilihat sebagai petunjuk ten- CATATAN BUDAYA itu, penyimpangan yang terjadi dalam macapat plesetan boleh di- katakan sama radikalnya dengan penyimpangan dalam sastra mod- demikian, penyim- pangan yang terjadi dalam maca- pat plesetan tetap punya akar da- ern. Walau lam sistem puitika Jawa, di yaitu guru wilangan dan guru lagu. Pa- da kutipan depan (Masakan Sandhangan) pupuhnya adalah Dhandhanggula, dan sistemnya: 10i, 10a, 8e, 7a, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, tang adanya usaha terobosan ter- nya mereka cenderung mengang- hadap apresiasi macapat oleh ma- gap bahasa sebagai kawan dari 7a. pada lawan (Teeuw, 1984). Dalam syarakat Jawa pada masa kini. Bahasa puitis memikat banyak macapatn plesetan bahasa diper- orang karena bahasa itu mencip- gunakan sebagai sarana untuk takan suatu dunia yang lain sama membuat kejutan yang bersifat sekali, dunia yang melawan ke- jenaka. nyataan (Peursen, 1992). Bahasa Dr. Darusuprapta menyata- (termasuk penyair macapat) da- pat harus merupakan kalimat yang dipergunakan oleh penyair kan, setiap satu larik/baris maca- lam karyanya memang tidak sa- yang lengkap. Tetapi, dalam ma dengan bahasa yang sersing macapat plesetan aturan itu tidak dijumpai dalam kehidupan lum- ditaati dan sengaja disimpangi. rah sehari-hari. Hal tersebut dila. Perhatikan kutipan berikut da- kukan penyair dalam rangka lam judul MASAKAN SAND- mencapai efek yang bersifat es- HANGAN: sate daster tongseng tetik. Walaupun pada prinsipnya rok mini/soto surjan oseng-oseng hasa sehari-hari harus dihilang setiap penyair setuju bahwa ba- beskap/kimono bakmi gorenge kan kelenturannya, tetapi biasa Mitos Kepahlawanan Modern kehidupan SEMESTA manusia modern saat ini dipe- nuhi mitos-mitos. Salah satun- ya mitos kepahlawanan. Meru- juk pada tabiat pengabsahan diri seseorang menjadi seorang pahlawan. Dengan beragam alasan yang pada akhirnya lingkungan sosial menokoh seorang kan individu, sosial. Alasan sebagai yang patut untuk disanjung, dipuji, dihormati dan diberi segala macam bentuk fasilitas utama peno- batan sosok kepahlawanan sa- lah satunya adalah jasa. Yakni jasa yang telah disumbangkan bagi lingkungan sosial yang le- bih luas. Sehigga pemberian ti- tel pahlawan tak lain semacam bentuk balas budi. Yang telah terlegitimasi secara sah. Berpijak dari argumen itu, banyak kita dapati sebutan (baca: titel) pahlawan. Dalam agenda konstelasi sejarah per- politikan negara kita menge- nal sosok: pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, dan pahlawan tak dikenal-yakni merujuk pada mereka yang meninggal di medan laga, dan kita tak akan pernah tahu di mana dan siapa namanya. Ada pula sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Yakni sebutan yang pas (?) bagi kalangan pendidik guru. Ada lagi sebutan, barangkali ini baru yaitu titel pahlawan perjuang- an, dipunyai oleh kalangan in- telektual dan mahasiswa. Ser- ta munculnya sebutan pahla wan pembangunan. Beragam sebutan pahlawan tersebut, nyelimuti ta. Ibarat memang tengah me alam pemikiran ki- sebuah mitos, yang menyembul ke permukaan seorang akan mengantongi ti- tel pahlwan, setelah muncul Lantas, sebenarnya apa yang ada dibalik gejala pengukuhan sosok kepahla wanan? Sehingga pada akhir- adalah sisi positif. Maksudnya, apresitif. laku, mite dan OLEH: TONNY TRIMARSANTO FISIP UNS Surakarta nya sebutan-sebutan pahla- wan seolah melingkupi alam pemikiran kita, tanpa membe- rikan peluang untuk melaku- kan sikap kritis dan rasional. Yang mampu memberikan ar- gumen yang kuat, bagi sosok kepahlawanan. Dalam kerangk abudaya, ti- tel pahlawan tak ubahnya se- perti mitos. Artinya, simbol da- lam bentuk bahasa verbal semacam itu memang dibu- tuhkan. Kelahiran simbol pahlawan, tak lepas dari ada- nya pertentangan- antitesa mendasar dalam kehidupan manusia. Sampai detik ini, kebenaran dan kejahatan su- dah menjadi paradoks terbesar dalam kehidupan umat. Tak pelak lagi, kebenaran yang berada dalam banyak versi dan definisi ini, memunculkan klimaks dalam seorang tokoh, yakni pahlawan. Bisa kita runtut dari perja- lanan diri, sosok kepahla wanan telah masuk dalam alam bawah sadar kita sejak kecil. Dapat dicermati, kita akan merasa bangga, bila memerankan tokoh pahlawan semacam Superman atau Bat- man, yang pernah kita lihat melalui banyak media. Proses identifikasi ini terkadang ku- rang disadari. Sehingga terin- ternalisasi dan telah memben- tuk persepsi, idealnya sosok pahlawan. Kepahlawanan seolah su- sosok cul dan kat dah menjadi sebuah mitos yang me nyejarah. Artinya pahlawan pernah mun hidup dalam masyara- manapun, sebagai mani- festasi dari sistem budaya. A Bakker seorang biarawan sekaligus budayawan pernah mengatakan, bentuk-bentuk simbolis berupa kata, benda, semacamnya, berkaitan erat dengan konsep- konsep epistimolgis dari sis- tem pengetahuan masyarakat. Sistem simbol inilah tak dapat terlepas dari sistem sosial ma- syarakat dan di sinilah sejarah dan ekologi sebuah masyara- kat memiliki peran dominan dalam kehidupan budaya. Secara implisit menyiratkan bahwa relevansi bentuk simbol dan masyarakat sangat kuat. Jadi dapat dimengerti bila kepahla wanan sebagai salah satu bentuk simbol sangat kontekstual dan aktual. Da- lam arti seseorang akan di- anugerahi titel pahlawan, keti- ka dia mencatat prestasi riil bagi masyarakat kelom- poknya. Secara kualifikasi, mampu membuat lembar se- jarah baru yang barangkali se- belumnya belum pernah dila- kukan dan ini menyangkut ke- pentingan sebuah kelompok sosial. Katakanlah sosok semacam Sukarno, Hatta dan Muham- mad Yamin. Ketiga orang ini acapkali kita sebut sebagai pahlawan kemerdekaan. Atau mungkin Sukarno-Hatta lebih populer sebagai "duet" Bapak Proklamator. Memang masya- rakat kita mengakui peranan riil mereka. Yakni mampu membuka cakawala baru bagi kehidupan Republik ini. Lan- tas secara aklamasi kita no- batkan mereka sebagai pahla wan. Memang di satu sisi sebutan ini menjadi sah ada- nya. Tetapi di mata para pen- jajah, lain ceritanya. Semasa perjuangan, kaum penjajah kerap meng-klaim mereka se- bagai kaum pemberontak - the out sider. Dan bahkan me- reka sempat keluar masuk penjara berulang kali. Dari sinilah dapat dipa- parkan, bahwa hakekat kepah lawanan sangatlah subyektif sekali. Dalam artian, seorang akan disebut pahlawan karena adanya pengakuan sepihak. Ini bukan sebuah arogansi. Namun, ini merupakan se- buah ungkapan relektif-kritis yang mampu membawa kita ke alam pemikiran yang lebih faktual dan rasional. Memang secara normatif banyak pihak disebut dapat sebagai pahlawan. Sebab, berpulang kembali akan adanya beragam pengakuan-sosial tadi. Barangkali memang cukup membingungkan. Siapakah se- benarnya yang pantas me- ngantongi titel kepahlawanan yang sesungguhnya. Walau kita menokohkan seseorang untuk jadi pahlawan, barang- kali tabiat tersebut tidak di- amini oleh kalangan lain. Lan- tas, siapakah yang dapat mem proklamirkan dirinya sebagai pahlawan. Sebab tidak menu- tup kemungkinan, munculnya sosok kepahlawanan tak lepas dari berbagai bentuk rekayasa sosial dan politis. Teringat akan sebuah per- cakapan dari film Accident Hero, yang diperankan oleh Dustin Hofman sebagai Bernie La Plante dan aktor Andi Gar- cia sebagai John Barber. Da- lam film arahan sutradara Stephen Frears tersebut, Ber nie berujar kepada John: "Sesungguhnya setiap orang telah menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri! Barangkali ada benarnya ungkapan kecil dan mungkin bernada eu- fisme ini. Karena, refleksi sosok pahlawan sesungguhnya akan bermakna subyektif se- kali. Dan barangkali setiap orang akan dapat menjadi pahlawan. Namun semuanya akan berpulang pada kualitas prestasi riil yang telah disum- bangkan pada realitas sosial- nya.-h. Kemandirian Seniman Purworejo Menuju Pembentukan Dewan Kesenian menunjang kebutuhan kesehari- sebenarnya "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 MINGGU R DARI TEA Musik dalam Puisi Puisi dalam Musik musiklah yang paling utama musiklah yang lebih dahulu (Paul Verlaine, Art Postique) Macapat plesetan ditulis tidak TENAGA dan kekuatan puisi hanya untuk melontarkan suasa- na jenaka pada pembaca/penden- terletak pada tiap patah katanya. gar, tetapi juga dipergunakan se- Penyair menyusun dan meng- bagai sarana kritik sosial lewat gubah kata-demi kata menjadi gaya humor. Perhatikan pada ku- komposisi hidup, bernyawa dan tipan di atas, misalnya: mekak mengandung tenaga gaib, Tiap kemben dipungorengi/kotang di patah kata menimbulkan asosiasi gawe acar/sambel cawet lalap be- yang hampir tak terbatas. Bah- ha/pecel kaos onderok dipunsan- kan menurut Sutarji, semakin tení/bestik komplit kebayak/ Me- banyak kata dipakai dalam pelba- nurut pengakuan Mbah Guno gai susunan yang berbeda, se- Prawiro ketika saya wawancarai makin mengalami semacam pen (12 Juni 1993), baris-baris terse- cerahan. Setiap kata memiliki 'suara' jaket kinarya semur/mekak kem kapkan penyelewengan-penyele- dan suara dalam seni adalah mu- but ingin mengung- ben dipungorengi/kotang digawe wengan di dalam rumah tangga acar/asem-asem sarung/sambel yang terjadi karena persoalan ekonomi. Pada saat ekonomi yang cawet lalap beha/pecel kaos on- kian sulit seperti saat ini, banyak derok dipunsanteni/bestik kom- 'ibu-ibu rumah tangga' atau para plit kebayak/ Dari kutipan tadi wanita 'terpaksa' mencari jalan tampak bahwa penyair telah me- nyimpang dari sistem penulisan pintas dalam menyelamatkan ekonomi rumah tangganya mela- macapat. Baris-baris leksi-kon lui 'pelacuran'. Dalam macapat sekali tidak mencerminkan kali- plesetan simbol-simbol tentang macapat plesetan tersebut sama mat yang utuh. Namun, dengan wanita terwakili pada kata-kata seperti mekak, kemben, kotang upaya tersebut penyair justru beha, cawet, anderok dan keba mampu menghadirkan efek yang khas dan mengejutkan. Di dalam yak. Sembilan kata tersebut, da- lam kenyataannya, adalah alat macapat plesetan itu pembaca ti- dak dihidangi satu beberan ba- penutup badan yang sangat akrab jauh digunakan kaum wanita. Tetapi, Terasa hari akan hasa yang lumrah tetapi justru disimpangkan lam sebaliknya disuguhi permainan kata-kata. Dengan demikian, fungsinyaa melalui simbol-simbol Ada beberapa dahan di metaforis, yaitu 'dimasak' menja- kap merapuh pembaca tidak akan menangkap di 'hidangan', Namun, di balik kri- pesan sebagaimana menangkap pesan dalam macapat konvensio- tiknya itu, si Dipukul angin yang terpen- nal, karena dalam macapat plese- no) sama sekali Dipukul angin yang terpendam nyudutkan tan ini efek yang khas dan menge- sebenarnya penyair juga memper- tanyakan secara tidak langsung nya keberadaan laki-laki sebagai pe- lindung (kepala) rumah tangga macapat ple- dalam mempertahankan peran setan cenderung melepaskan kata dari maknanya, berdiri sendiri dan kedudukannya. Jika wanita/ dan berkata sendiri. Konvensi ba- ibu rumah tangga terpaksa harus hasa harus dibuang, khususnya melakukan 'pelacuran' diri, ten- konvensi yang paling banyak tunya laki-laki sebagai tiang ru- menghalangi kebebasan berger- mah tangga telah rapuh, baik dari sik itu sendiri. Orang yang masih awam dengan puisi pun akan ter- bangkit imajinya bila membaca kata-kata seperti : gemercik, de- bur, derai, desau, desir, gemerinc- ing. Tapi penyair tidak terbatas pada kata-kata seperti itu yang nyata-nyata mengandung bunyi. Penyair memasang dan memadu kata-kata menjadi imaji-imaji ba ru, suara-suara musik baru dan menggali naluri imaji pembaca, lebih 'canggih' dari kata-kata da sar yang mempunyai arti bunyi: Cemara menderai sampai jadi ma- agak sedikit analitik, dapat dikaku, terdiri dari kata-kata tung- katakan bahwa suara-suara mu- "gal yang diurut panjang ke ba- sik dalam puisi ditimbulkan dari wah. Tapi Timbul bisa menggali iramanya dengan bagus sekali. diksi, rima dan irama yang secara harmonis saling jalin menjalin. Senja di Pelabuhan Kecil juga Tapi pada beberapa jenis puisi sangat banyak penggemarnya, seperti puisi simbolik dan puisi meski simbol-simbolnya bagi pem suasana, timbul dari pembacaan baca remaja termasuk sangat su lit dicerna. Tetapi mereka me- yang utuh dan intens. Konon, puisi ada hubungan ge nangkap iramanya yang roman- netik dengan mantera. Dalam tik dan sendu. Pembaca Puisi mantera, rima dan irama adalah yang all round adalah Farid. Dia unsur yang amat dominan. Dili- mampu menggarap hampir se- hat dari diksinya, kata-kata se- gala macam puisi, hingga berhasil perti tidak mengandung arti yang menang dari tingkat kabupaten hebat, keangkeran mantera atau sampai nasional, padahal jurinya magic powernya menggetar lewat kaliber Sutarji, dibuatnya meng rima dan irama, semacam rayuan umpat karena keberhasilannya gombal atau lagu nina bobo bagi membaca Isteri Darmanto JT. sumber kekuatan gaib yang dim- Puisi-puisi Rendra, Taufiq Is- intai tolong atau bantuan. Lagu- mail, Hartoyo Andangjaya, Ah- lagu dolanan bocah di Jawa yang madun Yossie Herfanda, banyak sebagian bersifat mystis seperti disukai pembaca puisi karena ira- nini thowok juga terasa sekali manya yang kuat mudah dikenali kekuatannya pada rima dan ira- sekali baca. Juga puisi-puisi ide manya. dan perenung falsafati Budiman Selama lebih 20 tahun menjadi S Hartowardoyo, Subagio Sas juri lomba-lomba Poetry Reading, trowardoyo, Bakdi Sumanto, mu- penulis mencatat, puisi-puisi dah dilacak iramanya, tetapi ha- yang kuat unsur rima dan irama rus dibaca utuh, pendekatan gan nya paling banyak dipilih para pe- zeit. Dibaca per baris atau per serta. Peserta, yang umumnya bagian bisa hilang iramanya, ka- siswa-siswa sekolah menengah rena merupakan statemen-state- dan mahasiswa, kebanyakan me- men yang berupa kalimat atau milih puisi yang dari larik-larik frasa yang dipotong-potong pe- nya jelas mengandung imej-imej nulisannya Puisi Piek Ardiyanto Supriyadi auditif serta mudan dilacak ira- Burung-burung Di Ladang meru- manya. pakan satu gubahan yang pekat Dalam lomba Poetry Reading, dengan nuansa musikal, bahkan unsur subyektifitas juri tak bisa suara musik yang dikumandan- dihindarkan. Itu dikarenakan, ju- gkannya bagaikan sebuah orkes sebelumnya membaca de- symphoni besar saja. Dengan in- Bait pertama puisi Khairil An- ngan intens, menangkap irama tro yang war 'Derai-derai cemara' ini hanya dan juga menemukan kita dalam suatu komposisi yang mengambil satu kata 'derai beat yang rasanya cocok. Pernah, merenggut seluruh saja yang mempunyai dasar aso sebagai juri penulis menyimak se- han auditif dan visual kita. Su- siasi bunyi. Tapi 'cemara men-de- orang peserta wanita. Diksinya ara-suara hampir semua burung rai sampai jauh sekaligus meng bagus, intonasi, tempo, irama ter- yang ada di ladang saling menim- hadirkan imej visual dan auditif, garap apik, tetapi terasa lamban, pali, menghias panorama ham- yang memperkuat efek musikal kurang ekspressif. Dalam catatan paran ladang pedesaan, sungguh dari kata 'derai. Keseluruhan bait saya tulis keroncong. Ternyata, memukau dan menakjubkan. Se- menjelmakan sebuah intro dari peserta tersebut yang kemudian hingga penulis dengan yakin be- sebuah 'blues' yang mengusik menjadi juara pertama memang rani mengungkapkan, Burung- kemampuan ekonomisnya sukma. Demikian pula, Lagu Se- seorang penyanyi keroncong, Um- burung di Ladang masterpiece Di dalam perpuisian Indonesia, cari uang) maupun moralitasnya orang Gerilya' Rendra ini: mu Rosida, yang sering tampil di adalah sebuah masterpiece yang (merelakan isterinya 'digerayangi' penyimpangan semacam macapat televisi. Peserta dari Banyumas monumental! plesetan itu, dapat dikaitkan de- lelaki lain). Engkau melayang jauh, ke- banyak yang jatuh menghadapi Representasi puisi yang de- Dengan demikian, lewat keje- kasihku ngan puisi-puisi karya Sutardji juri dari Yogya atau Solo, karena wasa ini makin banyak pengge- Dalam puisi-pu- nakaan-kejenakaannya, macapat Engkau mandi cahaya m- beatnya rata-rata rock, heavy marnya adalah musikalisasi puisi plesetan mampu menghadirkan atahari isinya, Sutardji mencoba terus- rock, hard rock bahkan heavy dan poetry singing. Bimbo melagu ironi-ironi (paling tidak lewat se- Aku di sini memandangmu menerus membebaskan kata dari kungkungan maknanya. Menurut buah contoh tadi) masyarakat pa- metal, ditambah aksen Banyu- kan Salju Wing Karjo dengan Menyandang senapan, ber masan yang konsonannya berat. sangat pas dan berhasil. AKU da zamannya. Macapat tidak lagi bendera pusaka Semua puisi Khairil Anwar ku- Khairil Anwar dijadikan lagu wa- dipandang sebagai media pendi- Sepintas, kata melayang seper- at irama musiknya. Pernah, ta- jib dalam BRTV, jenis lagu se- dikan nilai-nilai adiluhung dalam ti hanya menimbulkan imej visu- riosa. Maka hun 1983, Suwarno Pragolapati di konteksnya yang lugas. al. Tetapi bila dibaca dengan in- Gedung Kesenian Suteja Purwo- na-mana tens, dengan kesadaran sedang kerto memberikan point 100 atau dengan intens melagukan puisi, Penulis adalah peneliti sastra membaca puisi, akan terdengar exelent kepada Timbul, sang juara dengan iringan gitar, piano etc. Balai Penelitian Bahasa suara musik yang amat halus, pertama. Dia menggarap '1943 Yogyakarta.-b. membelai lubuk hati. Kalau mau Khairil yang sepintas sangat lewat jutkan pengjungkirbalikan macapat. (jenaka) telah tapa aturan/ sistem Dengan kata lain, ak, yaitu konvensi makna. Calzoum Bachri. Prof Teeuw, seni tradisional (ba- ca: macapat plesetan) tidak luput dari penyimpangan atau defamil- iarisasi. Bahkan, penyimpangan setipis apapun dalam seni tradi- sional efeknya sama besar dengan penyimpangan yang radikal da- lam sastra modern. Oleh karena peralatan itu telah penyair posisi wanita, (Mbah Gu- dam tidak ingin me- karena TANGGAPAN TULISAN SUMINTO A SAYUTI: ting. ri juga amat indah, masuklah kadang nauka - bermunculan anak-anak muda dima yang *Bersambung hal 9 Sastra Kita Sastra Setiap Minggu BERKALI membicarakan sas- saja OLEH: EDI ROMADHON OLEH: USTADJI PW uangan, dari kota. atau bahkan di Jakarta sendiri menjadi barang baru bagi tra kita, maka boleh jadi masih sebagai pusat kegiatan. Yang masih menjadi kendala didominasi tulisan yang Penerbitan lain, seperti maja- proses belajar mengajar siswa ter- mengambil sikap ikut prihatin' lah lebih banyak lagi pemuatan- hadap pelajaran Bahasa dan Sas- terhadap perkembangan keber- lengkap terpaparkan, sehingga si- traan, yang isinya berupa ruang nya. Kita tak perlu risau jika Ho- tra Indonesia adalah keterting- karyaan sastra. Memang baik, kap mengangguk kita bila puisi, cerpen, mungkin juga cer- tulisan-tulisan tersebut diung- menyetujui dan menggeleng kita ber, ditambah artikel-artikel sas- rison menjadi layu', sebab toh galan siswa mau pun guru sastra masih ada beberapa penerbitan pada fenomena bertebarannya kapkan, seperti pada tulisan Su- jika kita bingung atau menyang- tra-budaya. yang memuat cerpen atau puisi- karya sastra sehari-hari minto A Sayuti dengan judul Tu- gah sangat boleh-boleh saja. Memang ada sebagian pendap- puisi 'yang baik'. Novel Stasiun- hari Minggu. Mengantisipasi sua- ah Sastra: Masih ada dan Pent- Membicarakan sastra adalah at yang mengatakan sastra telah ingkah?" (KRM, 24/10. hal 8). Se- membicarakan komitmen terha- nya Putu Wijaya boleh jadi dinilai sana seperti tak cukup dengan ki- disudutkan sebagai kenyataan baik. Raumanen-nya Marianne at 2 in 1 seperti motto shampo- bab darinya ada suatu keinginan dap hati nurani dan akal sehat. Minggu sebagai hari kesastraan Katopo pun begitu, sampai juga pemversusan untuk menjadikan Karya sastra, bagi Mochtar Lubis pada SKH tersebut. Tetapi, jika Bekisar Merah-nya Ahmad To- adanya kondisi yang diingini, adalah refleksi masyarakat suatu kita berpikiran positif, justru de- hari. Tapi yang lebih penting lagi, yakni kemeriahan sastra kita. zaman. Ihwal kehidupan manusia ngan hari Minggu tersebut, pem- cerber-cerber di harian Kompas, kan "Apa jadinya nanti kalau pa- kutkan seluruh jenis kesenian di Rasa kurang puas barangkali me- pada zaman itu terungkap secara ra seniman tergantung pada Ba- Purworejo, sekaligus dengan me- baca lebih intens dalam berapre Republika dan lainnya pun dapat sekarang ini perlu diupayakan. mang fitrah. Tetapi kadang-ka- jujur, total, menyentuh jiwa pem- pak Angkat, seniman hanya mau siasi terhadap karya-karya sastra sebagian bahan renungan bermu- nyertakan departemen terkait, dang hal tersebut menjadikan ki- baca dan penuh keindahan. Se- yang makin bertebaran di SKH tu Tentang tersengal-sengalnya bekerja jikalau ada fasilitas leng- (menurut saya) sebenarnya se- MEMBAHAS masalah ke- ta lupa bersyukur, walau sebenar mentara sastra yang baik, paling edisi Minggu tersebut. Jadi, sas- Dengan jumlah penerbitan kritik sastra kita menurut Pak mandirian seniman, sebenarnya nurut saya, bagaimana mungkin kap, seniman mau susah payah cara tidak langsung mengacu ke- nya hal-hal yang diinginkan su- tidak menurut Jacob Sumardjo tra - oleh SKH tersebut -telah yang membengkak, nonsen jika Minto barangkali perlu dianggu- seniman dapat 'menghidupi diri kalau ada uang melimpah? Men- pada persepsi bahwa seniman ti- tidak dapat terlepas dari lingkup sendiri dari hasil karyanya de- yang jadi yuri Sayembara Roman ditempatkan pada proporsi di- pembaca sastra menyusut. Ber- ki. Hanya masalahnya, kenapa ja- dah ada sebagian yang diraih. gapa begitu? Tidak ada yang me- dak dapat mandiri dalam 'meng- profesionalisme kerja kesenian. ngan meniadakan pihak lain atau DKJ, adalah ceritanya utuh yang mana pembaca tidak terganggu kurangnya ruang-ruang kesas- di tersengal-sengal, itulah yang ngatakan bahwa seniman harus hidupi diri sendiri dan 'menghi- Pada pokoknya, kerja kesenian. dalam hal ini pihak yang berkait- Suminto A Sayuti prihatin ter- dapat dinikmati memberikan sug dengan persoalan lainnya karena traan yang dimaksudkan Pak harus dicari formula pemecahan- Pada pokoknya, kerja kesenian an dengan keadministrasian? Mi- bergantung pada Bapak Angkat. dupi kesenian. Sebenarnya seni hadap kondisi sastra kita akhir- esti dan kadang-kadang mena- hari libur itu. Sastra lebih dinten- Minto, barangkali KR Minggu su- nya. Basis bangsa berkembang secara profesional terbagi menja- salnya, seorang novelis tidak Lagipula, seniman yang benar-be- man Purworejo membutuhkan akhir ini. Hal itu antara lain, me- warkan masalah kehidupan yang sifkan memasuki ruang pikir dan dah tak ada lagi ruang puisi kan? dengan modal dasar budaya 'ri- di dua bagian kerja, yaitu kerja mampu mandiri memasarkan/ nar seniman adalah seniman wadah untuk kebersamaan, kego- nurut Pak Minto (demikian lebih penting untuk diperhatikan, ter- renung pembacanya secara lebar. Boleh jadi begitu, tetapi sastra ti- kuh-pekewuh' rupa-rupanya ma- kreatif kesenian dan kerja admin- menjual novelnya kepada masya- yang memegang teguh etos kerja tongroyongan, permusyawarah- baik saya menyebut), disebabkan dapat kesatuan integral antara sini barangkali tujuan untuk dak sesempit puisi. sih mengendap pada jagat batin istratif kesenian. kesenimanannya secara positif, an, dan permufakatan, yang da- pemandangan miskinnya pemba- unsur-unsur novelnya, dalam hal rakat tanpa bantuan pihak ad- membuat manusia makin arif ka- kita. Sehingga omong apa ada- sadar benar bahwa kerja keseni- pat menyambung komunikasi an- Kerja kreatif kesenian merupa- ministrator (dalam hal ini pener- ca, tidak lahirnya karya-karya be- ini segi keunikan suatu karya dan rena 'kawruh' batinnya diperkaya Pelajaran Mengarang nya terhadap sesuatu yang an adalah kerja yang luhur demi tar seniman Purworejo, antara kan kerja penciptaan karya seni bit). Secara tidak langsung, ad- sar kecuali Para Priyayi-nya kebaruannya yang menunjukkan tersebut tercapai. Sastra yang manusia dan kemanusiaan, demi Pendapat tentang pengajaran mungkin dapat berakibat tidak dengan pertimbangan dan acuan seniman Purworejo dengan peme- Umar Kayam, Bekisar Merahnya adanya kreativirtas pengarang m memberi peluang bagi seseorang sastra di sekolah yang masih be- dihadapkan tersebut, masih tabu pokok pada estetika seni. Kerja menjadi Bapak Angkat bagi nov- ministrator/penerbit itu telah hidup dan kehidupan. Adanya rintah daerah Purworejo (melalui Ahmad Tohari atau beberapa la- menjadi sasaran utama guna menemukan diri sendiri, lum sampai ke tingkat apresiasi bagi kita, seolah-olah. Maka, kri- kreatif kesenian menuntut ke- elis tersebut. Bapak Angkat kesenian merupa- departemen terkait), dan antara innya. Pak Minto prihatin juga Perambuan pengertian sastar menolongnya menemukan poten- siswa sebenarnya sudah mulai tik yang lebih menukikkan pada mandirian seniman sebagai kre- kan salah satu faktor yang me- seniman Purworejo (didukung pe- karena tersengal-sengal kritik di atas itulah yang kiranya mela- si diri sendiri pun tercapai. maupun pertimbangan baik-bu- Begitu pula tentang kelangsun- lengkapi kerja kesenian para sen- ator seni. Tolok ukur kemandiri- merintah daerah) dengan masya- sastra, impotensinya pengajaran lui tulisan ini hendak dijadikan gan hidup grup Dolalak/Angguk Kenapa sastra makin berte- 'daya' gurunya masing-masing ruk suatu karya pun tersuruk-su- iman, khususnya dalam segi kerja rakat Purworejo. an seni ini adalah kekhasan pro- sastra yang tidak berfungsi melu- pijakan dalam berdiskusi dengan baran di SKH terutama di hari yang berkompetan. Pada test-test ruk. Dan kita barangkali 'selalu (Purworejo). Pihak pemerintah administratif kesenian. Jika ada- Figur Dewan Kesenian Purwo askan wilayah pembaca sastra ses kreativitas seni dan karya atau pihak masyarakat yang Pak Minto. Marilah kita mulai Minggu? Tak lain karena jumlah sumatif SLA khusus pelajaran belum siap menerima pertim- nya Bapak Angkat ternyata men- seninya itu sendiri. Kerja admin- nanggap pertunjukan Dolalak itu jadikan etos kerja dan mentalitas rejo sebenarnya merupakan kerja dan makin hilangnya ruang-ru- perbincangan dengan meman- sama antara kerja kreatif keseni- penerbitan yang kian bertambah. Bahasa dan Sastra Indonesia su- bangan-penilaian jelek pada seti- ang kesastraan di koran-koran se- istratif kesenian merupakan ker- telah menjadi administrator/Ba- dang kenyataan Surat Kabar Satu contoh, untuk KR grup saja, dah mulai diperbanyak bentuk- ap karya yang dihadirkan. Dikri- Harian (SKH) yang ada di tanah seniman seperti yang diungkap an dan kerja administratif keseni bagai salah satu forum sosialisasi. ja yang menunjang kerja kreatif pak Angkat bagi grup Dolalak ter- cerpen akan muncul di KR Ming- bentuk evaluasi yang meninggal- tik mau, asal isinya lebih banyak kesenian dalam tingkatan proses- kan/dikhawatirkan Dulrokhim, an. Kerja kreatif kesenian tetap Buntutnya, Pak Minto pun ber- air. Kenyataannya, meski harian sebut. Tanpa pihak yang nang- nya (sebelum kerja kreatif mulai, gu, Minggu Pagi dan Tabloid Ka- kan dominasi sejarah sastra atau pujian. Rentetannya dengan kri- maka letak kekeliruannya bukan berada dalam wewenang kebebas saat kerja kreatif dan sesudah gap, grup itu tidak akan menda- tanya, masih perlukah kehadiran tersebut berfokus kiprah pada ca. Begitu juga di Semarang mis- teori sastra. Soal kesastraan sis- tik sastra, otomatis yang banyak kerja kreatif). Termasuk di dalam pat penghargaan (imbalan) finan- pada senimannya itu sendiri. pada Bapak Angkat melainkan an berkreativitas seni para seni- sastra? Apakah sastra kita kini kriminalitas atau pun ekonomi alnya, ada Suara Merdeka, Wa- man Purworejo. Kerja adminis- wa kita sudah mulai ditumbuh- adalah resensi', dengan kadar lingkup kerja administratif kese- sial yang dapat digunakan untuk masih mendatangkan manfaat misalnya, toh ada hari tertentu wasan, Cempaka Minggu, Karti- kan pada sikap berpendapat' kritik yang amat minim dan lebih ka dan lain-lain. Begitulah. Gam- nian ini antara lain: masalah sa- Keinginan Dulrokhim atas ter- tratif kesenian tetap berada da- baik dalam konteks individual pada tiap minggunya yang me- bentuknya Dewan Kesenian Pur- lam wewenang administrator ke- cara apresiatif terhadap hasil kar- membiaskan suasana eufemisme, maupun yang sosial? Begitulah! rana perlengkapan/peralatan, ke- an para senimannya. Atau jika worejo sebagai wadah/forum ko- senian. Keduanya saling menun- nyediakan halaman atau ruang baran penerbitan 'koran' di dae- ya sastra seseorang yang dicuplik dengan imbangan pujian persua- Sayang, data-data faktual yang khusus kesastraan atau budaya. rah saja sudah saling lebih dari sebagian dalam beberapa item sif promotif lebih banyak. Kita kuan, agenda, dokumentasi, dan menyelenggarakan pertunjukan dan komunikatif, dengan mengi- surat-menyurat, pembu- grup Dolalak (Purworejo) ingin munikasi efektif, representatif jang, saling 'give and take'. Pe- menunjukkan pada kesatuan Sebagian besar menggunakan sebuah. Apalagi jika kita tengok soal. Bahkan, evaluasi menga memang masih harus menunggu sebagainya. Kemandirian seni- komersial sendiri di alun-alun *Bersambung hal 9 pendapat seperti di atas, kurang Hari Minggu sebagari porsi kesas- di Medan, Surabaya, Bandung rang bagi siswa sudah tak lagi saat siap dikritik. Kapan? Tentu man tidak dapat diukur dari kerja atau di gedung dengan penjualan jawabnya, jika para pengarang ki- administratif kesenian, karena karcis, toh grup itu juga tidak da- jak pergi. Kata orang ia sedang suaminya, termasuk bila Karman hilang. Keluarga itu pun semarak nua. Ia duduk dengan tenang se- ta makin bersikap dewasa. Ya, kerja administratif kesenian me- pat mandiri. Grup itu harus be- menunggu kedatangan suaminya mengajaknya ke tempat tidur wa- lagi dengan tawa Imah yang mer ribu bahasa, diam dan menanti tapi kapan? Suatu saat pasti nan- rupakan kerja sama berbagai pi- kerja sama dengan pihak-pihak lau perutnya masih keroncongan. du. Gema kepulangan Imah se- dengan setia. Hanya ada kata ka- ti. Dulu ia bernama Imah. Leng- hak dalam administrasi/manaje- administrator yang berkaitan de- Tetapi manusia memiliki batas akan-akan mengundang banyak sihan bila orang-orang itu mam- Baiklah, kita memang men kesenian. ngan masalah perizinan, perpa- kapnya Salimah. Lima belas ta- kesabaran. Pertengkaran pun tak kumbang untuk mencari madu. pir di tokonya. Selanjutnya ia tak bersyukur. Sastra sampai hari ini jakan, keamanan dsb. Jadi, tidak hun yang lalu ia dipersunting oleh terelakkan lagi. Salimah masih Buntutnya, toko itu ramai lagi de pernah digubris lagi, tak pernah! masih bertebaran di media cetak seorang pemuda bernama Kar- mau menerima bila ia hanya dita- Sumber daya manusia yang di- bisa jika seniman harus dituntut ngan pengunjung yang rata-rata Tidak kurang dari sepuluh dan bahkan merembet pada me gunakan dalam proses kerja kre- mandiri 'menghidupi' diri sendiri. man, yang sehari-harinya bekerja mpar dan ditendang. Tetapi bila adalah anak muda. orang tabib dan dokter dikerah- dia audio-visual seperti teve de- atif kesenian adalah sumber daya Kalau toh harus dituntut mandi- sebagai buruh bangunan. Sali- sudah sampai menghina orang tu- Salimah kembali menjadi in- kan untuk mengembalikan ke- ngan program-program sinetron seniman dengan bekal pokok ilmu mah termasuk gadis yang baik, anya, ia tidak tahan lagi. ri, seniman memang perlu mandi- caran para pemuda. Seorang demi sadaran Salimah. Hasilnya nol yang naskahnya bermula dari pengetahuan kesenian dan ke- ri 'menghidupi kesenian. cantik dan rajin. Walaupun toko "Sana! Pulang pada orang tua- seorang datang dengan berbagai besar. Salimah tetap menanti. Te karya sastra (ingat, Sitti Nur trampilan dalam penciptaan kar- orang tuanya tidak seberapa be- mu. Aku tidak sudi menginjak alasan. Ada yang hendak membe- tapi, Sasmita dan isterinya tidak baya) atau film (ingat Ronggeng sar, berkat ketekunannya, toko rumah tengkulak itu!" li rokok sambil terus mengajak pernah berhenti berdoa, walau Dukuh Paruk menjadi Mahkota itu selalu ramai dikunjungi orang. "Mas! Kau tidak berhak meng- nya bercakap-cakap. Ada yang pun doa mereka tetap tidak ter- Darah Ronggeng). Kita harus bers Dan di toko itulah ia berkenalan hina orang tuaku. Mereka jauh le sengaja hanya lewat sambil mata jawab. yukur, sastra masih diajarkan di dengan pemuda Karman. bih baik dari orang-orang di seki- nya terus mencari-cari Imah. Ada Pernah suatu ketika Salimah sekolah, bahkan dengan perkem- Lewat dua tahun sejak perke- tar kita ini!" juga yang terang-terangan datang dipaksa untuk masuk rumah sak- bangan menuju sikap apresiatif nalan mereka, Imah pun hamil. untuk bertemu dengan Imah. Se- it jiwa. Tetapi dengan sekuat te- bagi siswanya. Ya, Imah hamil! Begitu keras ter muanya datang, lewat dan pulang naga ia mencengkeram tempat Tiap Hari Minggu minimalnya, ngiang di kepala Sasmita, bapak- dengan perasaan yang membara, duduknya, menangis meraung kita dihadang puisi, cerpen atau nya. Sangking marahnya, Sali- bercampur birahi. raung, menendang sana-sini keti- cerbung dalam koran. Minggu mah didera sampai babak belur. ka ia dibawa ke rumah sakit. Dua adalah hari-hari penuh sastra. Ini niat para pemuda itu tetapi di da- Salimah bukannya tidak tahu hari kemudian ia menggedor-ge- perlu disyukuri. Apalagi jika ke- dor pintu toko itu lalu duduk de- nyataan dari karya-karya terse lam hatinya ia menjerit karena ia ngan pemandangan seperti biasa. but masih berpokok pada sikap masih mencintai suaminya, Kar Akhirnya orang tuanya menyerah kesetiaan terhadap hatinurani man. Untungnya lewat pertolon- kalah, putus harapannya untuk dan akal budi. Soal ini, Rendra gan seorang temannya yang se- menyembuhkan Salimah. pernah berpendirian, sejauh kar- ring pergi ke kota, ia tahu per- Baik, baik! Kalau kau masih Suatu hari, setelah lewat sepu- ya seni atau sastra tidak melang- punya muka, kau boleh datang ke kembangan Karman dan apa-apa luh tahun ia menanti, selagi or- gar hati nurani dan akalbudi de rumahku!" seru Imah seraya saja yang dilakukan suaminya ang-orang sibuk berangkat beker ngan hukum kebenaran, maka membanting pintu. Hal ini banyak membantunya ja, dan jalanan ramai dengan la- melarang penerbitan atau pemen- dari serangan rayuan yang dila- lu-lalang kendaraan, berhentilah tasannya adalah anarki atau ke- Besoknya, tanpa menunggu kukan oleh para pemuda itu. sebuah mobil di seberang toko itu. sewenang-wenangan. suaminya pulang, subuh-subuh Tetapi itu hanya berlangsung Seperti biasa Salimah pasti mem- sekali Imah meninggalkan rumah selama setahun. Selanjutnya Kar berikan reaksi yang mungkin itu dengan membawa kepedihan man menghilang dan tidak dike- di dalam hatinya. Semula ia takut tahui di mana ia berada. Menurut untuk pulang ke rumah orang tu- temannya, Karman menjadi sopir anya, tetapi setelah dipikir-pikir, dan sering keluar kota, entah ke tidak ada tempat lain yang dapat mana. menampungnya sementara ini. Sejak itu, udara cerah yang me Di luar dugaannya, ia disambut naungi toko itu mulai menyurut. dengan penuh kerinduan oleh Salimah terus menunggu, me- orang tuanya, Bapaknya mena- nunggu dan menunggu. Tidak dan meminta maaf padanya. peduli kalau penantiannya itu Dan ibunya terus menerus mem- telah bertahun-tahun lamanya. belai rambutnya bagaikan mene- Badannya mengkeret karena dri- mukan kembali permatanya yang ta, dan kulitnya dengan cepat me- siswa. terutama shampo kita. Frigelnya guru (ter- utama) untuk menjadi tidak ke punthal-punthal menghadapi era post industri penerbitan seperti Dari dibenahi oleh kurikulum persoalan se perlu akan mengubah suaminya? Jelaslah, sikap prihatin seperti Pak Minto adalah sah. Tapi men- sejarah hidup syukuri hidup sastra dan ke nya dari penantian yang lama itu. berkembangannya' sampai seka- Di sana berdiri seorang laki-la- rang barangkali lebih sah lagi. Se ki sambil membawa koper dan bab sastra kita dengan hati nu- menggendong seorang anak. Sal- rani dan akal budi itu tadi masih imah tidak percaya, benarkah memiliki makna adanya penghar yang berdiri di seberang jalan itu gaan terhadap nilai kemanusi- aan, menempatkan manusia pada derajat makhluk mulia yang di- cipta Tuhan dan menghindari pendajjalan atau pembinatangan Purwokerto, 1993-h. di Purworejo. Salimah 2CM ya seni. Sedangkan sumber daya manusia yang digunakan dalam proses kerja administratif keseni- an adalah sumber daya adminis- trator dengan bekal ilmu pengeta- huan keadministrasian dan ke- trampilan administrasi kesenian. Jadi, dalam kerja kesenian dibu- Pernyataan Dulrokhim (dalam Purworejo Butuh Dewan Keseni an' KRM7 November 1993, hal. 8- 9) tampak juga menumpangtin- dihkan pengertian kemandirian seniman. Dulrokhim setuju pen- dapat Atas Danu Subroto bahwa seniman dituntut mandiri. Lebih tegas lagi, Dulrokhim men-'ter- tuhkan dua figur manusia, yaitu lalu ngoyoworo'-kan pencarian manusia sebagai seniman/pekerja Bapak Angkat untuk menjadi yang Memang kondisi ideal nian seni dan manusia sebagai admin. perintis yang dituntut pada seorang seni- man adalah ia sekaligus sebagai administrator kesenian. Namun tuntutan idéal ini terasa sangat sulit tercapai. Maka untuk dapat mengefisienkan dan mengelek tifkan kerja kesenian, sebenarnya sangat dibutuhkan kerja sama antara seniman dan administra- tor kesenian. Saya tidak sependapat dengan pernyataan Atas Danu Subroto (Seniman Memang Masih Ditun tut Mandiri' KRM edisi 24 Okto ber 1993, hal. 8) yang terkesan menitikberatkan segi finansial untuk tolok ukur kemandirian seniman (Purworejo). Dari ar- tikelnya itu dapat disimpulkan bahwa seniman mandiri adalah yang dapat 'menghidupi' diri sendiri dari hasil kreativitas seninya tanpa bantuan pihak lain (seperti Bapak Angkat, dll). Me- seniman (Baca ju kese juga ar- tikel Mencari Perintis Penggalian Potensi Kesenian Purworejo' tu- lisan Ustadji PW di KRM, 10 Ok- tober 1993, hal. 8). Anggapan Dulrokhim, Bapak Angkat akan membuat seniman tidak mandiri, akan membatasi kreativitas seniman, akan men- dikte dan memandegkan kreativi tas seniman. Mengapa begitu? Merupakan kemunduran kalau sesuatu yang belum terlaksana sudah diwarnai unsur kecurigaar terhadap pihak-pihak administra- tor kesenian. Apakah sudah terlu- pakan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang mengakui keberadaan manusia lain sebagai unsur komunitasnya? Apakah su- dah terkesampingkan benar-be- nar budaya gotong-royong, mu- syawarah dan mufakat, budaya leluhur yang adiluhung itu?. Dulrokhim juga mengungkap CERPEN: YACOB M SUDAH hampir sepuluh tahun wanita itu tidak juga beranjak dari tempat duduknya. Matanya yang kosong selalu menatap ke seberang jalan itu. Setiap kali ada mobil yang berhenti di seberang jalan, selalu ada perubahan pada roman mukanya. Mula-mula ke- lopak matanya akan melebar, lalu mulutnya yang akan bergerak- gerak sambil mengeluarkan bun yi desis yang tidak jelas, lalu ke- palanya dimiringkan seakan- akan sedang mengamati sesuatu, lalu semua akan kembali seperti semula bila mobil itu telah beran- "Kurang ajar! Anak tidak tahu malu! Untuk apa selama ini kamu belajar agama, untuk apa?" "Ampun, Bapak! Ampun....!" Tetapi karena tidak ada jalan lain, akhirnya mereka dinikah- kan diam-diam. Dengan catatan Salimah harus meninggalkan ru- mah orang tuanya, dan nyaris ti- dak membawa bekal kalau saja ibunya tidak memberinya uang dengan diam-diam. Ia pergi ber- sama Karman ke kampung suami nya itu. "Cuh...! Tidak tahu malu, mana ada tengkulak mengaku dirinya sebagai tengkulak!" "Mas.....! jerit Salimah sambil menangis menggerung-gerung. "Sebaiknya kau pulang saja! Sebab aku pun akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Kem- bali atau tidak, itu urusanku!" kata Karman sambil terus ngeloy- or pergi. Malang tidak dapat ditolak. Akibat deraan Bapaknya, Sali- mah keguguran. Derita ini terus berlanjut karena suaminya belum juga mendapat pekerjaan. Sedikit demi sedikit barang-barang yang ada di rumahnya habis dijual un- tuk mengongkosi hidup mereka. Masih ditambah dengan ulah su- ngis aminya yang sering mabuk dan pulang larut malam. Namun de- ngan tabah Imah tetap melayani itu. Karman?? Salimah berlari meninggalkan tokonya. "Mas Karman?" serunya tertahan. "Mas Karman.......! seru- Bersambung hal 9 diri. Kon KALAU An nonton yang ra tasan teater di 1980-an, maka menyaksikan pernah mengen pimpinan Faja Dinasti menya tahun 1987. Kini tiga al bergabung den ti: Butet Kartan to dan Novi Bu kini bergabum Gandrik) berma Pak Kanjeng, B ditulis Emha A juga termasuk Lakon itu aka Budaya 16-17 pukul 20.00 WI Apa arinya m DINASTI, P rupakan salah yang cukup ta teristik, di sa teater lain: Te Muslim, Aren STEMKA, Tea Dikatakan t nasti didukun seperti Joko B anto, Butet K Brandan, Sapt sih, Neneng S bang Susiawa didukung par mikir: Fajar S ratmo, Gadjah MUNAS Perk Belu PERGUR Swasta (PTIS bangan yang nia pendidika sia. Saat ini te atau lebih 25 1000 PTS yan Dalam realita ada tak seluru simal sebab a masih lemah Sejak Ind PTIS-PTIS be diri. Mereka ta ngan nasional 1978, diantar koordinasi da Kerja Sama P pasti kehadira kan manfaatn saat ini telah 2 dalam BKS P tergabung dall lain yang bero dikbud, Depag pendidikan. entasi pada De an. Bahkan p aktif di dalamn Secara geom ngelola PTIS pergur menyeba nesia. Tercata 9 wilayah BKS Dari sini pula ing an sekalig kuatan untuk m litas pendidik pasti BKS PT tuk memandi yang ada di dal Peremp Muy berbagai impl masyarakat pe gi suku menambah ba sedangkan dik mat, menurut I merupakan si atas suku lain y Wanita yan dalam berpera han dan diper yang memenan suku Meibrat, pakan salah mempererat h suku lain yang stri Dikalangan poligami bukan bang memiliki k ga bermotif sos injau dari seg adalah tenaga k tif, sebagai peta Kaum lelaki dudukan adat kasar seperti be Kisruh Sambu dikoordinasikar silnya juga baik Sementara k ganti rugi yang tujuh grup term 000). Mereka m kan membuat a sama dengan (Pinggir Kali) se rugi selama men juga akan disum tujuan acara se tersebut menur direalisasi Senin Dengan demik tersebut hingga H penantian. Artim tanggung jawab yang telah disepa atas kertas segel perjanjian yang kedua pihak dise terjadi pelanggar rat perjanjian ini lah pihak sepakata saikan di Pengad yakarta. Salimah Sambunga nya lebih keras lag Salimah "Mas Karman mah terus menyeb Salimah, awas Sebuah mobil ki tam dirinya dengan lemparkannya be tersungkur dengan nya remuk serta d an di mana-mana. saat itu juga Seketika jalana et. Orang-orang be bagaikan semut me pat kecelakaan. Sem tua Salimah men manggil anaknya it lari dan menerobor orang-orang lalu te kan sesosok tub bermandikan darab Salimah, Salims aya tidak percaya Orang-orang ber tunduk lesu menyak dangan yang mengh Salimah Tidak. Color Rendition Ch
