Tipe: Koran
Tanggal: 1994-05-08
Halaman: 08
Konten
Color Rendition t 4cm 2cm MINGGU PAHING 8 MEI 1994 (27 DULKAIDAH 1926) "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 Seni Sebagai Spiritual Baru Rendra, Nostalgia Album Lama dan Histeria MINGGU PAHING 8 Sastra BAGI masyarakat umum mana pun bahkan juga d gara-negara maju sekalipun nia kesusasteraan merupa dunia yang asing, atau palim dak, kurang begitu populer. ya-karya sastra yang oleh kritikus sastra dianggap be tu, hanya dibaca oleh se orang. Kegiatan-kegiatan berkaitan dengan dunia sasteraan kurang diminat nyak orang. Publik kegiata susasteraan sangat terbatas reka yang terlibat hanya yang itu-itu saja. Di lingkungan pendid pelajaran sastra termasuk pelajaran yang sangat ku populer. Demikian halnya d Manusia alam, sich. yang sekian lama dibe- gus merupakan sistem yang mengikut sertakan berbagai pro- sedur kontemplatif yang mengan- dung konsekuensi sangat jauh; agama juga sistem yang menga- tasi prosedur-prosedur temporal. agama dengan seni se- lukkan, Alam ADA banyak ruang buat menghubungkan enti- tas seni sebagai prosedur estetis dengan wacana OLEH: ADI WICAKSONO agama sebagai prosedur interpretasi-hermeneutik terhadap dimensi dimensi universal yang tumbuh taan'. Manusia dipandang memi- fikasi bersama realitas. Dalam tataran konseptual ham- iki otonomi. memiliki hak untuk menentukan dirinya pir-hampir tak ada masalah karena antara seni sendiri dalam melakukan penaf- lenggu tersebut. Dari dan agama sama-sama bergerak pada dimensi siran terhadap kehidupan. Manu- sia memulai 'pembebasan'. Jadi Maka tidak mengherankan jika putih, Renm dibungkus kain Sastra Jendra Enterprise dan yang relatif 'netral'. Hanya saja jika dipandang sia adalah sang kreator. pada era humanisme sebenarnya Ini adalah lewat realitas yang dijangkau ada beberapa perbe- kreatif yang ciri khas pandangan kebebasan diperoleh melalui laku pandang yang bercorak positivis daan. Jika seni mengandaikan suatu laku kontem- diyakini sekian lama oleh banyak yang sebelumnya begitu mistis- tik. Obyek plasi yang bersifat reflektif sehingga cenderung orang, terutama di Barat. Manu- dogmatik; alam yang semula di- yang personal-individual, maka agama mengandaikan sia sebagai pusat adalah tipologi anggap sakral kini tidak tabu un- laku refleksi yang bergerak keluar masuk dan dari sang kreator yang dipen- tuk dijelajahi. garuhi oleh pandangan human- Ilmu pengetahuan pada akhir ta personal. Agama melibatkan proses pemaham indentik dengan bagaimana ma- keyakinan tersebut. Bahwa ma- melibatkan entitas-entitas yang tidak semata-ma- isme. Konsep kreativitas di sana nya memberi pengesahan atas laku comprendre. Dalam seni, proses pereng- an kosmologis yang menjangkau berbagai wacana nusia membebaskan diri dari nusia punya kebebasan untuk kuhan itu biasanya dimunculkan yang tidak terengkuh oleh realitas individual an kungkungan-kungkungan para memahami alam, merebutnya, dalam rangka apa yang kita sebut digmatik menganalisanya, memanfa- rikan oleh 'gereja'; bersamaan de- atkan demi kepentingan 'kreatif sebagai 'totalitas'. Antara nya. Dengan begitu manusia ya- an antara Oleh karena itu agama sekali- Itulah sebabnya kenapa persoal ngan proses sekularisasi, seperti in bahwa alam juga boleh ditak- terbentuk konvensi ini, sadar diberikan untuk kesejahteraan Pulau Bali, Sajak Matahari dan dalam filsafat dan ilmu pengeta- lalu berpangkal dari prosedur- huan lewat renaisans, maka ma- prosedur 'kreatif; dalam melahir- nusia yang sebelumnya tidak pu- sploitasi. kan suatu realitas'. Pada seni, nya 'kekuasaan' untuk kreativitas dimulai dari individu. kan realitas, manusia yang tidak Manusia sebagai pusat 'pencip- punyak hak untuk na itu bisa dikatakan, ilmu penge tiba-tiba mendapat- kan keyakinan yang begitu besar untuk melepaskan diri dari sini manu- direpresentasikan berdasarkan kepentingan bersama'. Oleh kare- tahuan modern, lewat human- isme, pada be- atu yang Obyek ditentukan dasarnya naklukkan. Obyek adalah sesu- berada di luar individu. manusia. proses pe- dan dalam kata-kata//... **水 oleh ngan tampil menghibur kemudian berkembang pesat cara Olahraga statis dan adalah bisa benda dipilah-pilah, mati Kamis sekitar 3000 Kridosono malam (5/5) penonton. Yogyakarta, lalu gerah dan panas. Para Gedung lain pada terasa pada belas yang kemudian kita sebut sebagai jak pukul 19.00 kumpulan pemahaman'. nya adalah menaklukkan, DI panggung tak begitu luas, dan girangnya sang raja/ Tergan yang didominasi oleh isu-isu pen- Mereka-generasi 70-an-telah yang didominasi warna hitam tung pada kuku-kuku garuda didikan (de-politisasi mahasiswa), menghadirkan Rendra sebagai yang memberikan kesan mengatur masuknya model asing, pengang- sosok 'pahlawan', 'pejuang moral'. sangat sederhana untuk tidak guran, kebebasan mengemuka- Maka ketika mereka yang menyebut seadanya dan de- ACARA yang diselenggarakan kan pendapat dan seterusnya. mungkin sebagian besar sudah Kondisi itu mencerminkan proses menjadi orang mapan- menyak- Edis Adv. Ini memang memiliki terjadinya babak awal konsolidasi sikan Rendra berkiprah, yang konotasi nostalgia. Hal itu antara Orde Baru yang mencanangkan muncul dalam benaknya adalah tampak pilihan stabilitas sosial-politik demi ter- timbunan kenangan yang indah. jaminnya pembangunan. Dan Sajak-sajak Rendra dan penampi- sajak-sajak yang dibacakan. penonton Enam sajaknya adalah sa- Rendra-yang waktu itu menjadi lan Rendra merupakan album diambil dari penyair tampak tak sabar "Potra Pembangunan tampil sebagai sosok pembang dah dan membahagiakan untuk Mengetahui akhir menunggu penampilan Sang Bu- dalam Puisi yang ditulis Rendra kang yang menjadi idola anak dibuka, Rendra suatu rung Merak. Tepat pukul 20.00, pada tahun 1977, 1978 dan 1979. histeria lalu subyek dengan obyek obyek lam gelap". Maka dunia luar kian identik dengan krisis kepercayaan. Mata-mata yang meledak, Sebut saja sajak-sajak itu: ketika Rendra tampil-setelah se- Tulis Pamflet Ini, Sajak SLA, ngan gerakan belumnya dibuka penyair Emha jak Seonggok Jagung, Sajak Ta- pada saat itu marak di berbagai Ainun Nadjib dengan memba- ngan, Sajak Pertemuan Mahasis kota: Yogya, Jakarta, Bandung cakan Ayat Kursi. "Seluruh alam wa, Sajak Potret Keluarga, Sajak dan lainnya. seakan-akan sudah adalah Kursi bagi Tuhan yang Burung-burung Kondor, Sajak bahkan kalau perlu diek- maupun tidak. Di sana juga ada manusia. Tapi di Indonesia ada lainnya. yang disebut sebagai jarak. Ma- pihak-pihak yang memonopoli Sajak-sajak Rendra di atas adalah yang ka kreativitas adalah bagaimana kursi.. seloroh Emha disambut merefleksikan kondisi, keadaan menafsir berada di luar kesadaran' manu- sia. Alam adalah entitas yang memandang realitas dengan ja- tawa dan tepuk tangan yang riuh. sosial-politik-budaya Indonesia rak tertentu. Dimulai dari seni- mendemisti- musti ditangkap, direngkuh, lalu man sebagai makhluk yang TAMPIL dengan tubuh agak pu- nya otonomi untuk menentukan gemuk, rambut nyaris sebahu titik pandang yang personal, lalu dan kostum serba hitam, Rendra merengkuh totalitas realitas ter- langsung mengepalkan tinju ke sebut, memahaminya, mengolah udara; sebuah salam heroik khas penonton pun Aku Sa- mahasiswa yang erasi 70-an. setidaknya, membuktikan hal itu. Penonton yang Peristiwa malam itu, besar ti sebagian *** *** pegal saling lewat pandang menyim- pan curiga. Boleh jadi Hitler yang benar, bahwa semua ma- nusia pada dasarnya jahat, arah sana. Bahwa "ketakutan" menjadi model sarapan pagi. Tentu saja, meski hal yang demikian tidak jadi soal di pinggiran gunung. Ia bisa saja dengan enak berle- yeh-leyeh sambil tertawa, ka- rena tak punya milik, lalu mau apa? "Anda mau sunyi?" Arifin Sang Dramawan ber- profil kapok menyortir berita koran. "Mau aman?" Rahini Brandan Ridwan Sang Penyair hidup di pelosok hutan Pulau Belitung. Kejahatan, kerakusan, kebar- baran, tanpa ditulis pun setiap detik pasti berlangsung. Kena- pa musti dibuat seru?." kecurigaan, ke- gilaan hedonisme-egosentris- mendesak orang kota menuju sunyi. Ma- nakala desa-desa terpencil mulai muncul villa-villa ang- Ketakutan, individualisme, ker bergaya Ibu Kota. Apa ka- bar ketegangan? Raden Mas Suryo boleh beropini setiap orang berhak mencari kete- * Bersambung hal 9 Rendra. prosedur-prosedur estetis, lalu kembali dilahirkan dalam Tanpa basa-basi-belakangan bentuk karya kreatif. Sebab, jika Rendra mengaku kurang mampu proses kreatif tersebut tidak di- mengontrol emosinya ketika lakukan dengan penjarakan ma- bertemu dengan publik Yogya ka biasanya yang terjadi adalah yang sangat dirindukannya- lepasnya dimensi-dimensi 'objek- Rendra langsung menggebrak de- tif yang kemudian dipandang ngan sajaknya lamanya yang sa- ngat populer: "Sajak Sebatang segi yang Lisong". Baris-baris sajak meng Titik. nasinya. Ketika duit seratus perak bisa menyarangkan pisau di- perut seorang pelajar. Ketika sepetak tanah Langenastran dapat membantai empat nya- dang yang mewajibkan meno- wa keluarga di tangan seorang Insinyur yang mustinya bero- long orang? Etika, tak waras. Apakah terlalu ber dalam bisnis. Hebat. Negara lebihan andaikan "hanya" se- kita demokrasi, Bung! Begitu- kelompok pemuda teler saja lah, hingga konon, Bang Sami- bisa membunuh Wakapolres? un dan prototype semodel lain- Membantai seorang Brigadir nya yang karena nasib harus Jendral? O, apa kabar Lebak terdesak di pinggiran kota Bulus. Kenapa hanya kenda- Tanggerang dan Depok, juga raan mahal yang kau bakar. bisa berteriak dengan kelan- O, apa kabar Cirebon. Kenapa tangan yang sama: "Hak, segerombol tukang becak saja kalau tidak terima digus mampu membumihanguskan Demokrasi dari santapan puluhan toko. Dan Jakarta? mental koran setiap hari ada- lampu merah bisa lah teror. Berita sudah dirom- dijadikan ajang bisnis ber- bak dengan sensasi judul yang prospek cerah dengan dua al- gelap: pembunuhan, peram- pokkan, penusukan, perkosa- an. Dan laku, Memberi satu konsepsi, "Hati-hati, seorang Basuki Abdullah saja yang hu- manis bisa lenyap di tempat tidur hanya karena pembantu yang setia. Awas, seceking Pe- nyair Mathori A Elwa yang tanpa dosa saja bisa kena tu- suk besi pagar gara-gara ter- lalu berani jalan sendiri di ma- kankah itu, "bukan urusan gua". Jan- gan coba teriak copet jika jika tidak mau dijadikan copet. Ja- ngan mimpi jadi hero jika ti- dak mau diberok (diculik). Bu- tak ada undang-un- kecuali tentu, Ras "unggul" Aria. Dan setiap menit, setiap hari, opini publik digiring ke harus hanya ada bag Bang Samiun yang terde- Barangkali CATATAN BUDAYA Demokrasi Kepala Pecah NO WAY, jika tak punya se- jumlah tek-tek bengek peratu- ran "kencan" dan relasi: kare- na anda adalah bandit. Kartu nama? Daftar keperluan dus prosedur? Begitulah. Tak pe- duli apakah akan bertemu saudara jauh dari ibu, saudara dekat dari paman, atau "ha- nya" sekedar sahabat masa lalu. Bukankah anak pun bisa ayah menjegal kandung? Wa- jar. Maka tidak naif, jika Pon- dok Indah Mall, boleh jadi ada- lah prototype pemukiman ma- sa depan ideal. Musti ada se- jumlah alarm, kerangkeng pa- gar tiga meter, dan tentu, pos penjagaan dengan dua sat- pam. Sebab disanalah "hake- kat" kebebasan anusia diten- tukan. Bagaimana orang meman- dang bui karena ketika Dul Kampleng di- maling? Tentu saja, Dul Kampleng tidak boleh di samaratakan dengan Raden Mas Suryo, Kerangkeng Ba- verly Hills, secara wadag tidak sama dengan Wirogunan yang sumpek. Hanya satu, Dul Kampleng boleh berbahagia dengan kemerdekaan imaji- ternatif pilihan menyorong- kan sekedar beberapa puluh ribu saja, atau cat kilap BMW- mu digores paku. Masih un- tung kaca jendelamu tidak di- gedig. Penjungkirbalikan tatanan makna. Demokrasi adalah "lu lu, gua gua Individualis ada- lah sejauh mana menyangkut kepentingan pribadi; di luar TANGGAPAN TULISAN EDI ROMADHON SMKI Banyumas Semoga Tetap Tegar MEMBACA OLEH: SABDO AW tulisan Edi Ro- dikan pada jenjang yang lebih dan madhon (Edi R) "Koor Air Mata tinggi dan untuk mengembang- Tak Perlu Buat SMKI Banyumas kan diri sejalan dengan perkem- di halaman 8 KR 17 April 1994 bangan Ilmu Pengetahuan, tek- dengan tulisan judul yang Besar nologi dan Kesenian. sungguh ada sisi menariknya, menarik sekaligus aktor. muda (mahasiswa). Aktualisasi Rendra ternyata tidak berhenti kepenyairannya sangat erat de- sebagai simbol perlawanan' gen- BAGI generasi 70-an, mungkin protes dan kritik sosial yang ter kandung dalam sajak-sajak itu terasa tidak baru', bahkan terasa basi'. Tapi itu tak meniadi soal. anak muda, kaum mahasiswa- sangat antusias memberi sambu- tan atas penampilan dan protes- protes Rendra. Antusiasme itu bahkan telah menjelma sebagai histeria massa. Sajak-saiak Ren- Bersambung hal 9 (KR-Franz) 'Rendra Back to Yogya' Sebagai Peristiwa Budaya kemajuan, sebagai suatu peruba- dan akan membawa kita pada apa yang disebut sebagai universal'. seni kan Jika mu satu sangat cahaya Jika kita agak mas' sia, Sutardji Calzoum Bachri, puisinya diharapkan. bertolak.dari konsensus metodologis tertentu yang kemudian melahirkan suatu paradigma. Suatu karya seni Para penonton yang sudah tak yang dilahirkan individu tertentu sabar menunggu kritik Rendra pasti memiliki perbedaan atau pun bertepuk ketika Rendra men- karakter tertentu. Seandainya ti- gucapkan: "Apabila kritik hanya dak ada Picasso maka bisa kita boleh lewat saluran resmi maka pastikan kalau Guernica tidak hidup akan menjadi sayur tanpa pernah ada. Seandainya tak ada garam/lembaga pendapat umum Hugo, pasti Les Miserables tak tidak mengandung pertanyaan/ pernah ada. Seandainya tak ada Tidak mengandung perdebatan/ Shakespeare maka Hamlet tak Dan akhirnya menjadi monopoli pernah ada. Seandainya ada, pas- kekuasaan. ti akan lain dengan yang ditulis Baris sajak ini pun tak kalah oleh Shakespeare. Tapi akan lain dalam mendapatkan sambutan: kejadiannya dengan penemuan Dan di langit:/ para teknokrat ber komputer misalnya. Jika lima pu- kata:/ bahwa bangsa luh tahun silam belum ditemu- malas/ bahwa bangsa mesti di- kan, pada saatnya akan ditemu- bangun/mesti di up-grade,/dis- kan karena unsur-unsur teknolo- esuaikan dengan teknologi yang gisnya sudah ditemukan. Itulah diimpor/. perbedaan prosedur kreatif; yang Bukan Rendra kalau tidak me- TERKESAN janggal rasanya panpun., nya konsensual. Karena sifatnya personal, yang lain lancarkan kritik. Dengan rileks kalau membaca sajak di hadapan yang konsensual maka yang na- dan penguasaan vocal dan tubuh, Tetapi karena yang dibaca han. Kesan khalayak sampai harus diberi cap yang membaca sajak itu Rendra, manya 'kebenaran' juga hanya ia pun membacakan sajak yang dan nilai sebagai 'peristiwa bu- maka nilai dan posisi peristiwa bandingkan berlaku pada konteks dan para- menimbulkan tawa para penon- daya. Seharusnyalah peristiwa itu menjadi terangkat. Bukan lagi saat membacakan digma tertentu. Jadi sesungguh- dekadensi dunia pendidikan, di ton; Sajak SLA yang melukiskan itu diletakkan dan diposisikan se- sebagai peristiwa biasa. Telah di Yogyakarta 16 tahun bagai bagian dari peristiwa dan berubah menjadi 'peristiwa bu- yang lewat. Saat tampil di hada- tapi cahaya sinar Matahari atau Banyumas dimasa sekarang dan seterang lampu senter sekaligus dapat menerangi SMKI nya universalitas dalam paradig mana kewibawaan dan ilmu di- ekspresi berkesenian sebagai- daya' karena serangkaian proses ma humanisme sesungguhnya pan khalayaknya-juga di Sport pun bisa lebih terang lagi yang pada masa yang akan datang ter- hanya berlaku pada sekuen ruang perdagangkan. Inilah sebagian mana halnya peristiwa pamer budaya yang mengiringinya. Mu- Hall Kridosono - 5 Desember nantinya dapat menerangi hidup bukti dengan Reorganisasi Ke- dan waktu tertentu. Maka klaim sajaknya yang kocak, nakal dan lukisan, pamer patung atau pe- lai dari pengajuan izin penyeleng- 1978, keputusan akhir mengi- kehidupannya. pengurusan Yayasan sebagai ba- dari ilmu atau seni yang universal kurangajar: Murid-murid mengo- mentasan ketoprak, wayang garaan beserta negosiasi yang zinkan Rendra tampil membaca- Itu tandanya masyarakat Ba- dan yang bertanggung jawab ter- pada dasarnya tidak bisa diper- bel kelentit ibu gurunya Bagai orang dan pagelaran musik. Da- mengiringinya, sampai pada ke- nyumas mencintai ataupun me- hadap sekolah, walaupun masih tanggung jawabkan lagi. mana mungkin? Itu mungkin lam posisi yang demikian pemba- sepakatan "apa saja yang boleh, rasa takut ditinggal mengapa memakai nama Yayasan lama karena tidak ada patokan untuk caan sajak di hadapan khalayak dan apa saja yang tidak boleh di- Adalah Danrem 072/ Pamung- sampai-sampai Koor Buat SMKI, yaitu: Yayasan Seni Budaya 'Sen- berbicara kaitan an- apa saja/ Semua boleh. Semua akan dipandang sebagai peristiwa lakukan saat peristiwa berlang- kas Kol Sarwono yang berani tara seni dengan agama dalam tidak boleh Tergantung pada biasa. Peristiwa sehari-hari, yang sung 6. Meningkatkan kemampuan Masyarakat Banyumaslah yang dang Mas Banyumas mengambil resiko menggeli- siswa sebagai anggota masyara- * Bersambung hal 9 tahu, nanti kalau penulis yang *Bersambung hal 9 cuaca/ Tergantung pada amarah dapat terjadi di manapun dan ka- Syukurlah, pembacaan sajak selenggaranya acara malam itu. tik, menariknya kita di bawa ke kat dalam mengadakan hubun- menyampaikan dikiranya som- Rendra yang oleh panitia penye- Bahkan ia memberikan sam- argumentasi subyektivitas model gan timbal balik dengan lingkung bong ataupun pamer. TANGGAPAN TULISAN SUWARTINI: Edi R menanggapi apa yang se- an sosial, budaya dan alam seki- Kenapa ada Koor (masih pakai dang atau kemarin terjadi dengan tarnya. Kenyataan di dalam ma- istilahnya KRM 17/4), mereka sekolah kesenian 'SMKI Banyu- syarakat memang banyak yang trenyuh, tersentuh hatinya; beta- kalau boleh saya simpulkan: belum tahu persis malah kadang- pa bertahannya guru-guru, pe- SMKI Banyumas Mau Mati Kek kadang masih dijumpai per- gawainya SMKI yang mayoritas Mau hidup Kek nggak usah pada tanyaan 'apakah di SMKI hanya masih tenaga swasta, masih tetap diajari joget 'tari' dan 'nggamel' setiap membimbing anak didik- Saya tidak mengharap kesim- saja. Maklum SMKI memang se- mencuat namanya lewat antologi pulan ini benar tapi siapa saja be- kolah langka. Lain halnya seperti nya selama hampir satu tahun O, AMUK KAPAK. Penyair sufisme Indonesia Abdul baik sebagai karya momentum gaji tersendat-sendat bahkan se- bas menyimpulkan tentang SMKI SMA, bisa kita dengar bapak-ba- Hadi WM diproklamirkan lewat oleh para kritikus. Itu saja sudah lama tiga bulan tidak menerima Banyumas yang katanya berma- pak tani yang pulang dari sawah gaji (bulan Desember 93, Januari MEDITASI-nya. Penyair liris lumayanlah! apakah ada masalah jawa- ngobrol dengan bangganya bahwa dan Februari '94) walaupun pe- seperti Sapardi Djoko Damono Menurut Iman Budi Santosa, bannya setiap orang hidup ada anaknya pinter jurusan Al. nulis akui berputarnya roda bela- terkenal lewat PERAHU KER- paling tidak ada tiga motif menga- masalah. yach, sebatas itu ki- Tidak ada jeleknya mungkin jar mengajar tidak selancar yang TAS. Penyair mbeling Yudhistira pa penyair menerbitkan kumpu- ranya, jangan-jangan seperti ber- apabila disini saya dapat me- masalahnya Kredit macet. Yang nyampaikan Pelajaran-pelajaran Bukan. Tergeli yang diberikan di SMKI Banyu- itu jangan.. mas, yaitu terdiri Program INTI tiknya karena kebetulan saya tahu persis siapa SMKI Banyu- dan PILIHAN (Kurikulum '84). Program INTI (MPDU): Pen- mas dulu dan sekarang. didikan Agama, PMP, PSPB, Se- jarah Nasional dan Sejarah Du- didikan Olah raga dan Kese- nia, Bahasa Indonesia dan Pen- hatan. nga alir lancar lewat vocal Rendra yang lantang. Dan dalam prosedur tersebut, itu terasa hidup dan mengge- antara ilmu pengetahuan dengan tarkan karena dibawakan Rendra 'humanistik' hanya dipisah dengan penuh penjiwaan dan de- oleh laku kreatifnya. seni lebih personal-individual, il- gan gerakan tubuh mendukung suasana dan jiwa sa- pengetahuan jak. Rendra membaca secara atraktif, teaterikal, khas seorang Baris-baris sajak yang sangat Sebagian gaya Rendra yang paling mutakhir dalam pembacaan puisi. kita adalah dan asumsi demikian diperoleh setelah mem- yang kehadiran Rendra sajak-sajaknya hampir kan sajak-sajaknya dilakukan in- stansi non-judisial. bagi tetap ter- lenggara butan OLEH: HAZWAN ISKANDAR JAYA dihiraukan salah, Dalam awal tulisan menye- butkan (KRM 17/4) SMKI Banyu- 12 siswa, bahkan siswa kelas I mas sekarang ini tinggal memiliki nya tinggal 2 orang Ini jelas tidak benar, SMKI Banyumas memiliki 2 jurusan dan yang ikut EBTA dan EBTANAS sekarang tercatat 72 (tujuh puluh dua) siswa yang terdiri kelas III (tiga) dan kelas IV (empat), jadi jelas data yang diperoleh saudara Edi R tidak akurat. Saya yakin bahwa siswa yang akan masuk sekolahan tertentu sudah mempunyai latar belakang atau alasan sendiri-sendiri, setiap produk ada konsumennya ma- sing-masing ibaratnya. Siapa SMKI Banyumas? Terlepas dari Jawaban model sensus yang harus ada tanggal lahir, siapa orang tuanya dan lain-lain yang saya anggap buang-buang energi toh ada yang harus di jawab: 'SMKI Banyumas jangan didentikan dengan seko- lah Ronggeng, Begalan, Buncisan, Ebeg dil atau jawaban yang lebih tegas SMKI Banyumas bukan sekolah Ronggeng. Begalan, Bun- cisan, Ebeg dil bukan dan juga mempunyai tugas melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisi seperti tersebut diatas jawabnya juga bukan' namun se- bagai kristalisasi dari kesenian tradisi yang ada di daerah Banyu mas, karena yang bertugas me- lestarikan dan mengembangkan sudah ada lembaga sendiri. Maka maju mundurnya kese- nian tradisi yang ada didaerah Banyumas tidak tepat apabila SMKI Banyumas sebagai Barom- eternya. Sebagai lembaga Pen- didikan Kesenian SMKI Banyu- mas mempunyai tujuan Pendi- dikan sesuai dengan program se- kolah yang sudah digariskan yaitu: 1. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesion. al. mampu memilih karir. Mampu 2. Menyiapkan siswa agar berkompentasi dan mampu me- 3. Menyiapkan tenaga kerja ngembangkan diri. tingkat menengah untuk mengisi pekerjaan di bidang seni Pertun kebutuhan pada berbagai jenis menjadi warga negara yang pro- jukan 4. Menyiapkan tamatan agar duktif adaptif dan kreatif. 5. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan Pendi Program INTI (MPDK): Mate- matika, Bahasa Inggris, Koperasi, PU, wawasan seni budaya, Penge- tahuan bahan dan alat Tari/Kara- witan, Bahasa Daerah, Dasar-da- sar seni tari/karawitan dan Musik Diatonis. Program PILIHAN (MPK): Ta- ri (Tari gaya Banyumas, gaya Surakarta, Jawa Timur, Bali dan gaya Sunda), Karawitan, Vokal, akustika, Koreografi, Olah tubuh, Tata tehnik pentas, Pergelaran dan PKL. Untuk program Pilihan Kara- witan maka karawitan yang dia- jarkan juga meliputi berbagai ga- ya seperti pada program tari na- mun pada MPK tidak ada Kore- ografi dan olah tubuh tapi di tam- bah pelajaran titilaras. Sekarang apakah SMKI mencetak 'sení- man' jawabnya ya boleh atau akan dijawab sendiri-sendiri oleh yang bersangkutan, itu lebih tepat karena belum tentu ya. Se- mua, mungkin karena tidak tahu arti 'Seniman' itu, atau mungkin pada waktu pertama masuk SM- KI merasa tidak ada bakat atau lagi bakatnya sedikit. Penulispun merasa tidak me nemukan jawaban yang pasti apakah saya dulu waktu sekolah ST (Sekolah Tehnik) ada bakat menjadi Penari ataukah juga pa- da waktu SD sudah ada bakat, tapi kok sekarang bisa menari (walaupun mungkin bukan men jadi Penari handal). Tapi setidak nya pernah berkarya seni. Dise- but seniman' kan apabila orang itu berkarya seni, jadi berkata bakat ternyata setiap manusia tetap dikarunia bakat tidak terke cuali bakat seni. Tinggal sekarang bakat itu akan dikembangkan atau tidak. Di pupuk supaya sub- ur tidak. Bakat, kesukaan dan ke- mauan memang faktor yang dom- harus dalam Wahana. Situasi inan tapi ketiga faktor tadi tetap yang ketiganya harus mampu dan berkembang agar mengkris tal menjadi satu wujud 'Seniman atau sebutan lain boleh. Bulan lantaran siswanya surut (jumlah siswa SMKI Banyumas sekarang yang benar 121 orang. Tidak seperti yang ditulis pada KRM 17/4 hanya 12 orang) me- mang penurunan jumlah siswa tiga atau empat yang lalu dapat tampak mencolok karena pada mencapai 500 siswa. Mengapa bisa tersendat. Bu- kan hak penulis untuk menyam- paikan dan penulispun tidak akan menyampaikan, namun me- nurut pengamatan, faktornya adalah Management. Syukurlah tangis masyarakat Banyumas mengeluarkan air ma- ta dan yang dapat menghidupi *** Legitimasi Sebuah Antologi Puisi 'PRESIDEN' penyair Indone- ANM Massardi muncul lewat SIKAT GIGI-nya yang cukup menghebohkan itu. Masih banyak penyair-penyair terkenal lainnya dikenal lewat kumpulan-kumpu- lan atau antologi puisi yang diter- bitkannya. Tidak berlebihan apabila se- buah kumpulan/antologi puisi me- mang dapat menjadi alat legiti- masi para penyair dalam mem- Tetapi kitapun menyadari bahwa proklamirkan diri dan karyanya. dalam antologi-antologi puisi penyair-penyair tersebut tidak se- mua puisi-puisi yang terkumpul menjadi puisi yang masterpiece. Paling tidak satu dua puisi saja yang menjadi boom dan dinilai Ruwatan Sang Kala CERPEN: GUS PERMADI SAYUP-sayup kudengar suluk Hidayat Jati yang dilantunkan sang dalang yang telah siap menghadap bentangan kain putih yang diambil dari kain kafan orang-orang yang mati penasar Wahana seni memang tidak an. Sementara gendhing patalon hanya wadah formal seperti SM- telah berkumandang mengantar asap dupa ratus menghadap ke KI saja, ikut sanggar seni, per- masuk bentuk lainnya. Orang terbentang antara batas-batas kumpulan-perkumpulan seni ter- pada yang punya hajat. Layar itu memilih SMKI-pua bebas merde- kubur yang tak bernisan. Gedhok ka karena ada nilai lain didalam- lima kali telah terdengar dari nya mungkin. Bukan hanya ada cempala yang beradu dengan ko- WIB 14 tak tempat bersemayamnya para wayang. Mereka siap menjalan kan lakonnya masing-masing. Da- yang-dayang juga telah siap men- giringi perjalanan sang kala. Di tengah pagelaran itu tidak diper- lukan adanya blencong, karena siang dan malam sudah tidak berlaku lagi. "Ojo turu sore kaki, ana dewa nganglang jagat Nyangking bo kor kencanane," begitulah, seba- gian rerepen yang kudengar dari koor waranggana yang juga di- lan puisi. Pertama, motif pen- dokumentasian karya dan ini erat kaitannya dengan fungsi biografi sastra. Bahwa karya itu meru- pakan bukti eksistensial per- jalanan hidup penyairnya. Motif kedua, adalah sosialisasi, baik se- bagai usaha pensosialisasian (pe- nyebaran dan pengapresiasian) sajak-sajak tersebut. Juga dalam rangka meraih prestis dan pres syarakat lingkungan tertentu. tasi sosial dirinya ke dalam ma- Dan yang ketiga, mengenai motif pembakuan karya-karya tadi se- bagai manifestasi konsep estetika, kebahasaan, sosial budaya, yang merupakan acuan/pegangan pe- nyair di dalam menempuh proses mainkan sang dalang. Entah apa sebabnya, kayon yang ditancap- kan pertama kali itu, yang ber- warna merah. Dan yang lebih me- ngejutkan lagi, tiba-tiba sang da- lang,menancapkan aku pada ham paran layar putih itu. Kemudian aku dijalan-jalankannya sampai batas anganku. Di situ aku mene- mukan jasadku yang telah ter- cabik-cabik. Dengan tetesan air pulkan puing-puing jasadku. Se- mata dan penuh tanya, aku kum- belum kumasukkan ke lemari es itu kupilih yang kira-kira pantas anti listrik, terlebih dahulu jasad kujadikan teman dalam men- jalankan lakon ini. Saat ini aku memang sendiri, tapi sama sekali tak merasa sepi, karena memang aku tak butuh teman. Sebagian bangkaiku ada yang kumakan. Mulanya sih aku me rasa muak dan mau muntah. Te- tapi setelah aku ingat bahwa aku adalah yang akan diciptakan pa- da kedudukan yang paling mulia, akhirnya lahap juga aku makan jasadku. Nampaknya sang dalang masih ingin memainkan aku dengan su- luk-suluknya. kreatifnya. Sehingga sebagai kum pulan puisi akan muncul fenome- na, baik sastra, bahasa, sosial bu- daya maupun keilmuan. Merujuk pendapat Iman Budi Santosa diatas, dapat diartikan bahwa fungsi kumpulan/antologi puisi menjadi sangat penting dan perlu bagi para penyair untuk menerbitkan karya-karya ter- baiknya. Dari berbagai diskusi non-formal dengan beberapa pe- nyair muda Yogya Abdul BS, M, Haryadi Hadipranoto, Santosa Warna Atmaja, Sutardi Hardjosudarmo) didapatkan silo- gisme bahwa kelemahan penyair- derungan untuk membuat kum- penyair Yogya adalah kecen- pulan puisi secara gotong royong. Sehingga sangat diperlukan seo- rang editor yang benar-benar ma- ha guru untuk memilih karya- karya terbaik penyair yang jum- lahnya puluhan orang tersebut. achid kambing, aku tak bisa bikin. Akan makan rumput, sudah jadi ham paran beling yang menyilaukan. Ingin beli apel, uang sudah tak laku lagi. Lagi pula pabriknya ju- ga sudah tutup. Tak terasa kebin- gunganku telah mengantarkanku sampai ke kubur-kubur anak cu- cuku. Aku bongkar satu per satu kuburan yang kutemui. Sekali garuk, terbukalah kubur itu. "Hm... yang ini pasti sudah di- makannya sendiri," gumamku. Dalam kubur itu kulihat ada yang yang menggembung. Tapi aku tak lagi tidur pulas dengan perut melihat adanya sosok wujud. Kut- inggalkan yang ini untuk mene- mui yang lain. Aku lihat sesuatu yang aneh di sana. "Hai! Lagi ngapain kamu di situ?" Sementara aku kebingun- gan untuk mengucapkan per- tanyaan itu, mereka malah sudah lebih dulu menjawab. "Ke sini kalau mau ikut!" jawab mereka tanpa melihatku, Hitung hitung buat tambah teman, aku melangkah mendekati mereka. Pelan aku melangkah, meski tan- pa beban. Semula terasa terang dan mulus jalanku ke arah itu, Sebut saja antologi MOMENTUM yang memuat karya 31 penyair di penghujung tahun 1989 yang diterbitkan oleh Kelompok Sastra Pendapa Sarjanawiyata Taman- siswa. Ada kumpulan RISANG PAWESTRI dikhususkan untuk penyair wanita muda Yogya yang dimotori Ragil Suwarno Pragolap- ati. Ada ALIF LAM MIM yang memuat karya 28 Penyair Islam Yogyakarta, kerja sama Forum Silaturahmi Budaya-Teater Eska- SAS-Lembaga Semesta Budaya dan Sanggar Estetika Juli 1992, dan masih banyak lagi kumpulan puisi yang diterbitkan secara be- sar-besaran dalam hal jumlah penyairnya. Menjadikan kumpu- lan tersebut hanya semacam se- kedar pemetaan penyair belaka. Sudah selayaknya penyair-pe- nyair seperti Iman Budi Santosa, Fauzi Absal, Kuswahyo SS Ra- harjo, Abdul Wachid BS, Santosa Warna Atmaja, Adi Wicaksono dan penyair-penyair produktif lainnya untuk mencoba mener * Bersambung hal 9 diberi titel 'Rendra Back segala, sebelum pembacaan to Yogya berlangsung dengan se- lamat dan sejahtera. Dalam arti, sajak dimulai. Terungkap dari tidak sampai terjadi peristiwa sambutannya, acara pembacaan sajak tersebut belum memperoleh non-kesenian yang mengiringi restu dari atasan. Tetapi karena nya. Tidak sampai diwarnai in- membantu yatim terupsi atau gangguan teknis dan tujuannya non-teknis. Tidak sampai men- piatu, Danrem mendukung dan gundang reaksi dan emosi berlebi- berani mengambil resikonya. Sebagai penyair yang sajak-sa- han dari penikmatnya. Singkat jaknya dan yang sikap kesehari- kata, tidak sampai 'disusupi' ke- annya menyuarakan dan meng- pentingan-kepentingan tertentu ekspresikan kondisi situasi sosial dalam upaya mendiskreditkan dan moral, di mata pihak tertentu sang penyair atau panitia penye- Rendra masih tetap merupakan lenggaranya. sosok yang harus diperhitung kan'. Walau bukan politisi, sajak dan sikap yang ditampilkannya dinilai mengandung nilai dan pe- san-pesan politis. Walau bukan orang partai, nada dan nilai bica- ranya sering populis dan human- is. Pesan-pesan sosial dan moral yang mewarnai sebagian besar sajak-sajaknya, yang meluncur dari mulutnya dan yang tersak- sikan dari sikapnya itulah ba- rangkali yang mengharuskan se- seorang mempersonifikasikannya sebagai politisi. Sebagai tokoh populis dan pejuang humanis. Atau sebagai agitator dan pro- vokator. Berapapun orang memberi ni- lai, kadar dan tingkat intensitas penampilan Rendra dan sajak-sa- jak yang dibacakannya malam itu peristiwa tersebut haruslah di- pandang sebagai sesuatu yang surprised bagi Yogyakarta. Seba- gai peristiwa besar di tengah ke- waspadaan semua pihak untuk tetap mempertahankan Yogya karta sebagai kota yang berhati nyaman' dan 'aman tenteram'. Berapapun nilai dan harga ne- gosiasi yang harus diberikan pa- nitia dan Rendra, keputusan yang cepat dari pihak yang berwenang untuk memberikan izin haruslah diartikan sebagai suatu keberan- ian. Diterjemahkan sebagai suatu Kerinduan masyarakat Yogya- karta akan Rendra dan sajak-sa- jaknya kerinduan Rendra akan bih jitu dari jawaban sang dalang kuulangi lagi pertanyaanku. Tak masyarakat Yogyakarta dan sege- nap kenangannya, berlangsung tadi, tapi tak ada yang membu- jua ada jawaban. Entah apa se- sudah. Peristiwa malam itu se- atku puas. Semakin dekat aku se- babnya langkah-langkahku se- kaligus memecahkan kebisuan makin mengumbar pertanyaan. makin berat. Pandanganku kabur Yogyakarta dari kegiatan kese- Siapa tahu jawaban mereka me- dan gelap. Aku tak kuasa melang- nian yang aktif dan atraktif. yang ngenyangkan perutku yang tak kah lagi. Aku tak bisa lagi berhu- mampu mengundang, mengger- berlambung. kau maksud dengan "Apakah di sini ada raja?" ta- nyaku sesampai di perbatasan mereka. bungan dengan mereka. akkan dan memacu kesadaran Untaian air mata tobat meleleh dan kebebasan berkreasi. Kehadi- "Apa yang dari mataku. Mengalir di pipi, ran Rendra seyogyanyalah mam- emansipasi? "Ya persamaan hak dan ke- lalu menetes jatuh membasahi sa- dudukan. Di sini tak ada presiden, jadah yang mengalasi tahajudku. pu pula menjadi awal tekad men- jadikan kembali Yogyakarta seba- tak ada kabinet, polisi, tentara, Gema wird larut malam serasa gai kota penuh aktivitas kesenian konglomerat maupun bintang enggan mengantarku mencari yang bertenaga dan bersuara. Ko- film, apalagi koruptor!" anku itu. Berulang-ulang kucoba ta yang tetap mampu memberi jawab atas pertanyaan-pertanya- kan tempat yang aman dan nya- memasuki batas itu. Ada yang man bagi kreativitas serta tum-, menyilaukan pandanganku. Ada buh dan berkembangnya pemiki- "Di sini tak ada raja maupun yang menyumbat kerongkongan- ran berkesenian. Dalam kerangka kaisar." ku. Ada yang memberatkan menuju keinginan ini "Lalu siapa yang mengatur ka- langkahku. mu?" "Di sini masing-masing meng- "Mengapa semuanya kamu ka- atur gerakan sendiri." takan dengan di sini?" "Ya karena kami sudah tak me- ngenal di sana, di situ dan di ma na-mana. Semuanya menjadi di sini." pulalah ki- ranya peristiwa kehadiran dan Lama sekali aku meniti yoga, berlangsungnya acara 'Rendra prana, asana, pranayamna. Begi- Back to Yogya' dengan selamat tu pun aku tak pernah sampai pa- da dhyrana. Jalan itu gelap dan dan sejahtera patut diberi cap dan berkabut. Tak terasa aku telah nilai sebagai 'peristiwa budaya. terendam oleh banjir air mataku Bimo. (Soeparno S Adhy)-b. sendiri. Aku menggigil, ketakutan dan kedinginan. Air mataku ber- tambah deras manakala aku Sambungan hal 6 ingat segalanya yang akan ku- guasanya tidak pernah melarang. lakonkan pada cerita dahulu. Air Begitu pula jika kuliah. Saya "Apakah jawaban itu perlu bu- mata itu berombak, lalu men- rambut gondrong bukan me "Lalu siapa yang mengumpul- kan dan menggerakkan kamu?" be- "Ana tuluse hyang widhi, wong hingga aku bisa berjalan sambil kepadaku mereka balik bertanya gangkat sajadahku. Ombak itu ngikuti mode, tapi kepuasan melek sabar narimo, ginanjar da itu kuajukan pertanyaan pada wa umure." Di sela-sela suluknya sang dalang. "Mengapa aku kau bawa ke si- ni?" "Karena kamu sotyakama," ja- wab sang dalang singkat. Hampir separo tubuhku yang kumakan, tapi rasa kenyang itu tak kunjung datang. Aku tak ta- hu, apakah sebelumnya aku me- rasa lapar. Atau sejarah yang me- mang tak pernah kenyang. Yang jelas aku masih ingin makan. Tapi aku harus makan apa lagi? Sementara bagian tubuhku yang tersisa harus menemaniku meng- hadap yang punya gawe. Mau makan daging sapi atau sate terus berdialog. "Bolehkan aku bergabung de- ngan kamu?" tanyaku sambil mendekatinya. "Di sini tak ada larangan buat siapa saja!" jawab mereka. "Apakah ada persyaratan khu- sus "Di sini tak ada keterikatan tanpa syarat!" situ? Kamu semua yang berkuasa Tapi kamu semua kok bebas di ya?" "Di sini tak ada yang berkuasa. Kami dikuasai." "Apakah kamu berada dalam kamp konsentrasi?" "Di sini yang ada hanya eman- sipasi!" Meskipun jawaban mereka le- "Sangat perlu sekali," jawabku mendesak. "Kalau begitu, siapa kamu se- benarnya?" Pertanyaan itu terasa bagai petir di abad esok menyam- barku. Aku langsung meraba se- kujurku. Tak bisa kulihat dan ku- rasa lagi diriku. Aku bingung me- nemukan jawabannya. "Apakah aku tak juga seperti kamu?" tanyaku berkilah. "Jangan sombong kamu ya, menganggap kamu sama dengan kami!" mengalir terus berjalan, membawaku terapung-apung dan berputar-putar, menembus jalan dengan alunan yang membuai rahsaku. Aku tertidur. Terpuruk dalam tanya di tepi perbatasan. "Kamu tak bisa melihatku dan suaramu tak bisa sampai di sini!" Entah, berapa abad lamanya aku tertidur menunggu jawab, ketika aku tersentak oleh suara yang bergema itu. "Apakah kau bicara dengan aku? kaberanikan bertanya sam- bil membentuk diriku. "Ya, aku bicara dengan kamu, dan yang seperti kamu! Suara itu tersendiri", ujarnya. Grup musik rock yang dip- impinnya itu muncul sekitar tahun 1989. Kini telah direma- jakan dalam arti beberapa per- sonilnya digantikan untuk lebih memberikan motivasi dan dorong an semangat yang ternyata mam- pu membawa grup musiknya itu keluar masuk kampus di kota-ko- ta seperti Solo, Semarang, Mage- lang dan Yogyakarta. Juga meng- ikuti festival-festival dengan mem peroleh predikat juara. gan Musiknya bisa untuk kepentin- "Apakah ini sangkan paraning Dies Natalis, acara wisu- dumadi?" kuberanikan untuk ber terdengar sangat asing. Berbeda danan dan kepentingan-kepentin- tanya lagi. Mereka tak menjawab. dengan semua suara yang pernah gan lain dari pihak kampus yang "Hai, apakah ini sangkan paran ing dumadi? Atau union mistic?" Bersambung hal 9 tidak mengikat. (Suwandi)-k halnya ilmu guruan tinggi, ilmu sastra d ilmu yang asyik sendiri = filsafat. Fak Sastra dan Pendidikan Be Sastra kalah pamornya diba Fakultas Ekonomi, Kedokt Teknik. Demikian halnya k adaan mahasiswanya. Di bursa tenaga kerja, ■ berkeahlian sastra juga tida gitu banyak diperlukan. Pa paling hanya lembaga-lem Seni konteks universalitas, per tama yang musti diingat a bahwa pada saat yang sam dibawa untuk coba membeb diri dari konsensus-kons yang bersifat sementara telah beranjak pada laku p basan' dari berbagai para yang mengungkung makr tah makna estetis maupun kompleksitas praksisnya. laku kreatif yang bersanda prosedur estetis dengan ye rada di luar wilayah tersel da dasarnya tidak bisa d kan dengan laku praksis, suk ketika seni diturunka diskursus imajiner lalu ma ki wilayah publik. Tapi ada daan mendasar antara s ligius' yang tumbuh dari p ma humanisme dengan = ligius yang tumbuh dari p ma totalitas dalam dunia T ran'. Dalam paradigma in gaimana diungkap AK C swamy, penjarakan anta kreator sebagai subyek alam sebagai realitas, obyek pada dasarnya sang sehingga kadang-kadang bur- ini terlihat pada pros tetis yang merupakan bag perwujudan yang cenderu pada fungsi primord seni religiu tis. mistis. Maka pakan bagian dari prosed terkandun tualitas' yang konsep kosmologisnya. Memang setiap seni ad ligius. Tapi pada kita, pe nya sudah terlanjur me reduksi menjadi makna 's k itas'. Dan pada berada pada budaya namanya spiritualitas d sebagai bagian dari agam wilayah pri- merupakan semacam du templatif yang bersifat bukan merupakan dunia Seni merupakan wilayah yang hidup dengan sistem lik yang bertentangan de nia hukum material' ya runkan dari agama. Ant ma sosial dengan agama jelas-jelas dibatasi wilay begitu problematik. Den dirinya hal-hal yang berm terik tergumpalkan lewa mistisismenya. Dan ini m oleh penjelasan lewat 'tr mana mistisisme merup titas yang tak terabaika kita, terutama Seni, terutama sastra sejarah Islam misalnya, s ihat dari penampakan es yang kadang-kadang sangat ekstrim. Begitu j kreatifnya. Kebebasan k pandang menjadi ancam kultur di ic Demokrasi Sambungan hal nangan. Benteng psi bok. orang kota dibikin sar berhak bikin kerangke Aman. Biar ramp di Pondok Depok. Biar yan ada di mana saj ada jahat orang-orang mobil Indah. Bia Kampun nyinyir melihat lalu "mengkilat", orang Kampung yang hak menyapa karena. tak-kotak eksklusifism melihat lampu teramat sementara harga diri gedek berkelip didame plek; apakah tidak m peluang untuk menjac pok baru? Perhitunga non, kejahatan menyeli perti angin karena ge Tak perlu informasi n macam. Jika kepala-kepala meledak, tidak mungk yat Banjaran Majaleng dongkrak rumah dus bikin ringsek dua bual milik boss sebuah pabr na konòn, kepalanya gede (sang anak menye tani, sang ayah mence cak). Dan konon, di semacam ini pulalah maling ketiban rezel royok satu kampung kepala remuk: mamp tas bagaimana men kan semangat berani tika sebuah rumah yang baik" terbakar? sulit mendefinisikar basan berhak-hak" s ini. No Comment, oram memilih. Atau, harus: gu dulu beberapa wir pai ketika hutan pur bak menjadi: "lu lu, Di luar itu, bukan gua?" Penulis adala nis, Pelukis. Staf Pen "Masyarakat Poetike sia (MPI)". Q-h. SMKI. Sambungan Namun kami dapat hati karena Bapak no: Banyumas telah mem dengan bersedia men rus Yayasan dan berte jukan SMKI 'Sendan nyumas maka serenta kat Banyumas dan w Banyumas mengepal mengangkat tinggi-ti berteriak..... SMKI Tetaplah Tegarrrrr. O Per Pengajar pada SMK bidang Praktek Ta S
