Menjaga Jejak Zaman: Merawat Arsip Koran Kuno di Monumen Pers Nasional

Surakarta, 26 Mei 2026 – Lembaran koran tua yang tersimpan di Monumen Pers Nasional lebih dari sekedar kumpulan media cetak lawas. Di balik kertas yang mulai menguning dan tinta yang memudar, tersimpan catatan sejarah bangsa, dinamika pers, dan perjalanan informasi dari masa-ke masa.

Koleksi arsip media cetak di Monumen Pers Nasional dimulai pada saat lembaga ini menjadi bagian dari Departemen Penerangan di era Orde Baru. Saat itu, penerbit diwajibkan mengirimkan bukti penerbitan media cetak untuk keperluan pemeriksaan isi berita sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berlaku. Terbitan harian, mingguan, dan bulanan dikumpulkan untuk menjadi bagian dari koleksi Monumen Pers Nasional.

Seiring berjalannya waktu, koleksi tersebut terus bertambah. Jika di awal banyak arsip diperoleh melalui hibah, pada perkembangannya beberapa penerbit mengirimkan bukti terbit secara sukarela, sementara yang lainnya diperoleh melalui sistem langganan. Dari rangkaian proses yang panjang tersebut lahir kumpulan arsip yang saat ini menjadi sumber pengetahuan bagi peneliti, jurnalis, mahasiswa, dan masyarakat.

Di antara berbagai koleksi yang ada, terdapat satu arsip dengan nilai historis yang istimewa, yaitu majalah Merdeka edisi 17 Februari 1946. Edisi ini berisi artikel mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disertai dengan foto-fotonya. Koleksi ini penting karena merupakan salah satu media cetak awal yang berani memberitakan proklamasi di tengah kondisi politik dan keamanan yang saat itu belum stabil.

Kehadiran koleksi semacam ini menunjukkan bahwa arsip bukan sekedar barang simpanan, tetapi dokumen hidup yang merekam momentum penting bangsa. Dari satu lembar surat kabar, pembaca dapat melihat kembali cara media pada masanya bekerja, bersuara, dan merekam sejarah.

Merawat koleksi bersejarah tersebut tentu memerlukan perhatian yang khusus. Untuk edisi terbaru, kondisi arsip biasanya masih dalam kondisi baik ketika diterima. Namun untuk koleksi kuno yang didapat melalui pengkajian dan pencarian, perawatan menjadi bagian aspek penting agar kondisi tetap terjaga.

Pengarsipan dijaga untuk melindungi dari dampak lingkungan luar. Koleksi disimpan di ruangan khusus dengan suhu di bawah 20 derajat Celcius dan kelembaban sekitar 50 persen. Di samping itu, bahan alami seperti cengkeh dan biji lada juga digunakan untuk  menghalau serangga agar tidak mendekat dan merusak kertas.

Saat koleksi mengalami penurunan kualitas fisik, tindakan konservasi dilakukan dengan metode laminasi menggunakan kertas kozo atau tisu Jepang untuk memperkuat struktur kertas. Terdapat pula metode enkapsulasi untuk melindungi dokumen dan membuatnya lebih tahan lama. Proses ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga warisan informasi agar tidak hilang dimakan usia.

Pelestarian arsip tidak hanya sebatas perawatan fisik. Monumen Pers Nasional juga melakukan digitalisasi untuk menyelamatkan isi informasi yang terdapat dalam arsip. Tujuannya sederhana namun krusial: meskipun koleksi fisik mengalami kerusakan, nilai informasi sejarah yang terkandung di dalamnya tetap dapat diwariskan.

Proses digitalisasi dilakukan dengan alih media menggunakan perangkat perekam gambar, kemudian diproses ke dalam sistem informasi koleksi data agar dapat diakses melalui layanan ruang baca media cetak. Pengunjung juga bisa mendapatkan salinan artikel yang dibutuhkan secara gratis.

Di tengah kemajuan teknologi, langkah ini menjadi bentuk konservasi yang adaptif. Arsip lama tidak hanya berfungsi sebagai koleksi yang disimpan dalam ruang tertutup, tetapi juga menjadi sumber informasi yang lebih terbuka bagi masyarakat.

Pada akhirnya, merawat arsip koran kuno bukan hanya tentang menjaga agar kertas tetap utuh. Ini merupakan usaha untuk merawat memori kolektif, mempertahankan sejarah pers agar tetap dapat dibaca, dan memastikan warisan zaman tetap hidup untuk generasi mendatang.

~Fairuz Aulia Khalila/Universitas Sebelas Maret~

Message Us on WhatsApp