Tipe: Koran
Tanggal: 1995-11-15
Halaman: 08
Konten
BERIT Kongres Kesenian Indonesia I Tahun 1995 (Retrospeksi dan Ancangan Ke Depan) sebagai berikut : Persidangan terdiri dari tiga bagian : Sidang Pleno, Sidang Kelompok dan 'talk-show'. Persidangan akan membahas 10 topik dengan me- nampilkan 42 pemakalah serta 30 pembicara 'talk show'. Sepuluh topik itu, 2 di anta- ranya disampaikan dalam sidang Pleno, yaitu Fungsi Kesenian dalam Masyarakat, dan Kese- nian Nasional dan Kesenian 'Daerah'. Adapun 8 topik lain- nya disampaikan dalam sidang kelompok, yaitu Seni dan Me- dia, Kajian Seni, Seni dan Pen- didikan, Seni dan Pengayoman, Seni dan Tata Lingkungan, dan Refleksi atas Perkembangan Seni. Khusus refleksi akan di- sampaikan dalam bentuk takl show: seni rupa, tari, teater, sastra, musik, dan media. Kongres Kesenian Indonesia I Tahun 1995, akan berlangsung di Hotel Kartika Chandra, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, tanggal 3-7 Desember 1995. Diseleng- garakan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebuda- yaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Diikuti 500 seniman hingga pemikir kese- nian dari seluruh Indonesia. Diharapkan dapat dibuka Wakil Presiden. Mengapa ada kongres? Apa 'tujuannya? Siapa saja pembi- caranya? Topiknya apa saja yang hendak diangkat? Apa tindak lanjutnya? Direktur Jenderal Kebuda- yaan Prof Dr Edi Sedyawati selaku Ketua Umum Kongres Kesenian I menjelaskan, kong- res ini mengangkat tema Re- trospeksi dan Ancangan Kede- pan. Baik secara intuitif maupun melalui jalan penelitian, menge- nai masalah-masalah apa yang pernah ataupun sedang dihadapi dalam kesenian di Indonesia, serta mengenai pencapaian- pencapaian yang telah diperoleh selama 50 tahun perjalanan ne- gara Indonesia merdeka. Bertolak dari itu, lanjut Edi, kongres diharapkan dapat me- ngajukan saran-saran strategis untuk pembinaan kehidupan kesenian di Indonesia untuk selanjutnya. kyo selama delapan kali, yang terakhir tanggal 22 September - 1 Oktober 1995, dapat disimpul- kan bahwa FFIT merupakan fes- tival nomor satu di Asia. Hal ini terutama dikaitkan de- ngan para profesional yang du- duk dalam organisasi penye- lenggara, tokoh film yang ter- pilih untuk duduk dalam Dewan Juri, baik untuk International Competition, maupun untuk Young Cinema Competition. Bagaimana, kedua acara itu-lah yang merupakan penentu ke- berhasilan, i dan kekuatan FFIT. TVRI RABU, 15 NOVEMBER 1995 Para pembicara yang akan tampil dalam kongres ini, adalah mereka yang ahli atau ber- kompeten di bidangnya. Antara lain Umar Kayam, Asrul Sani, Kassospol ABRI, Taufik Ab- dullah, Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono, Muhlis Paeni, Tengku Luckman Sinar, Putu Wijaya, Rahayu Supanggah, Budi Darma, Ishadi SK, Garin Nugroho, Muji Sutrisno, FX Sutopo Cokrohamijoyo, Andi Mappi Sameng, AA Navis, Saini K.M., Toety Heraty, Chandra Darusman, Fuad Bawazier, Aburizal Bakri, Mochtar Kusu- maatmadja, Salim Said, Eko Budihardjo, Johan Silas, H. Boedihardjo, dan Edi Sedyawati Ia menegaskan, kehidupan kesenian dalam masyarakat dikenal berbagai pihak yang berperan, seperti seniman, pe- Hugh Hudson Dengan Festival Film Tokyo Optimisme Di Tengah Keprihatinan Mutu Sinetron Competition Hugh Hudson (sut- Setelah menyelenggarakan Festival Film Internasional To- tris Jepang Yasuko Tomita, di- gambarkan oleh Hudson sebagai "aktris tiada jelas, aktris masa datang". Dan Tomita memang memperoleh Hadiah Aktris Ter- baik. Para pelaku film nasional, baik itu juru lampu, artis, sut- radara, maupun produser agak- nya bernasib lebih baik, se- tidaknya bila dibandingkan dengan seniman panggung wayang orang. nyelamatkan ekonomi tapi juga guna mempertahankan eksis- tensi, sehingga citra diri dan re- putasi tetap melekat di masya- rakat di tengah sepinya tawaran main di layar lebar. Komunitas film itulah yang kini ikut meramaikan layar kaca dengan sejumlah sinetron. Artis film juga bisa dikatakan menjadi salah satu pemikat sinetron layar Betapa tidak, meski panggung wayang orang dan film nasional sama-sama seret menyedot penonton, artis maupun sutra- dara film kini masih bisa leluasa berekspresi dan mencari rejeki lewat televisi, yang terus ber- lomba menyajikan tayangan sinetron. kaca. JAKARTA RABU, 15 NOVEMBER 1995 .ngelola, pengusaha atau sponsor seni, pelindung seni, wartawan seni, konsumen karya seni, dan penentu kebijakan (pemerintah). 14.30 Wajah Negeriku 14.35 Film Seri: Amazing 15.05 Tanah Airku "Masalah yang selalu timbul adalah bagaimana menciptakan kondisi masyarakat yang dapat menumbuhkan gairah pencip- taan seni. Di samping itu, karya seni para seniman Indonesia dituntut pula berfungsi mem- perkuat jatidiri, sebagai ekspresi bangsa Indonesia yang sanggup meningkatkan harkat dan derajat bangsa", tuturnya menekankan. 15.30 Film Pengetahuan: Science World 16.05 Diantara Kita 16.30 Film Dokumenter: Zamrud Dari Timur 17.00 Berita TVRI 17.15 Wajah Negeriku 17.30 Pembinaan Bahasa Indonesia Kenyataan keras yang harus dihadapi dunia kesenian kita, adalah peranan tolak ukur eko- nomik semakin kuat di dalam Tahun ini, katanya, secara ke- seluruhan, film-film peserta aca- ra International Competition ku- rang menggembirakan, sehing- ga tidak ada pemenang Tokyo Grand Prix untuk Film Terbaik. Dengan demikian, panitia pra se- leksi harus lebih ketat. Seperti biasa, usaha dan per- siapan untuk FFIT tahun 1996 sudah dimulai lagi, karena waktu kurang lebih satu tahun sungguh merupakan waktu yang tidak ba- nyak bagi penyelenggara sebuah festival film seperti Tokyo. Dikatakan bahwa salah satu film peserta International Com- petition tidak pada tempatnyya pilih. Film ini lebih pantas diikut untuk mendapat kehormatan ter- sertakan dalam kompetisi untuk film-film soap opera teve. "Bulan Tertusuk Ilalang" Ditanyakan komentarnya me- ngenai peserta dari Indonesia, "And The Moon Dancesc" ("Bu- Yang terpenting adalah seleksi film dari sekian puluh negara un- tuk diikutsertakan dalam Inter- national dan Young Cinema Competition. Yang is- lan Tertusuk Ilalang"), karya Pameran timewa dianggap unik ada- lah adanyya hadiah uang tunai bagi tiga pemenang Young Ci- nema Competition. Garin Nugroho, Hudson menga- takan film bersangkutan "sangat sukar dimengerti maknanya, ber- jalan sangat, sangat lambat dan kurang ada kejelasan diselingi hal-hal yang kurang logis." Gold, Silver dan Bronze pri- ze dari Young Cinema Competi- tion dikaitkan dengan hadiah uang tunai sebesar masing-ma- sing Y 15 juta, Y 10 juta dan Y 5 juta. Jumlah ini sama sekali ti- dak kecil dan sangat dibangga- kan oleh para pemenang. Garin Nugroho darir Indonesia, misal- nya, memenangkan hadiah Gold Prize dan Y 15 juta untuk "Surat Untuk Bidadari". Dan jumlah ini cukup mengagumkan, terutama jika dihubungkan dengan jumlah uang yang diperlukan bagi pro- duksi sebuah film di Indonesia. Nah, dalam hubungan inilah Ketua Dewan Juri International 18.05 Negeri Tercinta Nusantara Nusa Tenggara Barat 18.15 Siaran Pedesaan 18.45 Film Circus 19.00 Berita TVRI masyarakat kita. Bahkan tak dapat dielakkan keniscayaan bahwa kesenian untuk sebagian besar harus bergantung kepada usaha yang bersifat industri. Maka masalah yang dihadapi, dan dari waktu ke waktu diatasi, adalah kerja sama antar sektor kegiatan dalam masyarakat. Dengan demikian sistem ke- senian berkait dengan berbagai sistem lain, seperti: sistem per- dagangan, sistem produksi, sistem informasi, sistem per- undangan dan seterusnya. Lalu bagaimana bentuk kong- res ini? Edi menjawab, bentuk kegiatannya ada dua. Pertama berupa persidangan sebagai kegiatan pokok. Kedua, penya- jian pergelaran kesenian sebagai kegiatan penunjang. Masalah persidangan, dapat diuraikan radara Inggris pemenang Oscar untuk "Chariots of Fire") dalam wawancara tertulis dengan penu- lis mengatakan penyelenggara FFIT harus hati-hati, karena se- leksi yang kurang ketat terhadap film-film peserta kompetisi da- pat menimbulkan efek negatif bagi festival Stasiun 21.00 Dunia Dalam Berita PUSAT 21.25 Gema Indonesia Emas 21.40 Wajah Negeriku 21.45 Kamera Ria 22.45 Berita Terakhir 23.05 Film Cerita: Brotherly Love Tentu saja yang dikemukakan di sini adalah pendapat pribadi Hudson, bukan pendapat Dewan Juri secara keseluruhan. Terlihat bahwa apa yang hendak disam- paikan Garin kurang atau belum dapat diikuti Hudson sepenuh- nya. Belum ada kesamaan baha- sa. Sinetron "Impian Pengantin" salah satu sinetron yang ditayangkan televisi swasta RCTI. 19.25 Siaran Langsung Bintang Radio Dan Televisi Tingkat Nasional Sebaliknya, Hudson tertarik pada peserta dari Hong Kong berjudul "The Christ of Nan- jing". Film yang disutradarai Tonyy Au ini adalalh produksi bersama Hong Kong dan Je- pang. Aktris utamanya, yaitu ak- RABU, 15 NOVEMBER 1995 Dalam "Christ of Nanjing", Tomita bermain sebagai WTS China yang jatuh cinta pada se- orang penulis Jepang, yang di- perankan oleh Tony Leung Kar Fal, yang membintangi film karya sutradara Perancis Jean- Jacques Annaud berjudul "The Lover". 05.30 Kuliah Subuh 06.00 Selamat Pagi Indonesia 06.45 Bisnis Hari Ini 07.00 Berita Pagi TVRI 07.30 Titian Ilmu 08.30 Musik Pop Terbaru "Nanjing" dilukiskan Hudson sebagai "film terbaik dari Pacific Rim". Film peserta dari Korea "Eternal Empire" juga dikatakan "menarik". Penulis tidak menanyakan pendapat Hudson tentang pe- serta dari Amerika Serikat ber- judul "Dolores Claiborne", karya Taylor Hackford. Tapi film ini juga sangat berbobot dan dipe- rankan dengan sangat meyakin- kan oleh Kathy Bates dan Jenni- 09.00 Opera Odol 09.30 Kuis Nuansa Paramita 10.00 Lenong Bocah 10.30 Sinetron: Kaca Benggala 11.30 Dongeng Dangdut 12.00 Love Fullest Moon Karya 21 Wanita Pelukis Ibu Try Sutrisno hari Selasa (14/11) menerima panitia Pame- ran Seni Lukis 21 Pelukis Wa- nita Indonesia terdiri dari yang Datuk Hakim Thantawi, Ny. Mien Uno, Arsi Aryanto, Ny. Vanda Affan dan Ny. Dewaretna. Dalam kesempatan tersebut dilaporkan mengenai rencana penyelenggaraan Pameran Kar- ya 21 Wanita Pelukis yang ber- themakan Say it with Flower (Katakan dengan Bunga). Pame- ran akan berlangsung mulai tanggal 1 s/d 7 Desember di Ge- dung Kwarnas Jalan Merdeka Timur, Jakarta. Dan menurut rencana akan dihadiri dan dibuka 13.00 Lintas Siang 13.30 Bahasa Arab sendiri. Adapun pembicara talk show untuk seni lukis di antaranya Amang Rahman dan kartunis Dwi Kundoro. Seni Tari di an- taranya Gusmiati Suid, Sardono W. Kusumo, Yulianti Parani, Seni Teater di antaranya Adi Kurdi, Dedy Gumelar, Putu. Wijaya dan Dindon. Seni Sastra diantaranya Sutardji Calzoum Bachri, Arswendo Atmowiloto, Taufik Ismail, dan Mustofa Bisri. Seni Musik di antaranya Rhoma Irama, Slamet Abdul Syukur dan Iwan Fals. Adapun Seni Media di antaranya Eros Djarot, Lidya Kandouw, Mis- bach Yusa Biran. Moderator untuk menghidupkan talk show: Darmanto Yatman, Emha Ainun Nadjib, S. Sinandari Ecip, Sat- yagraha Hurip, Remy Silado dan Salim Said. 14.00 Titian Ilmu 15.00 Film Seri: Banana In Pijamas 15.30 Bursa Klip 16.00 Jendela Anak Muda 17.00 Lintas Sore 17.30 Impian Carolina 18.00 Agama Islam Dan Remaja 18.30 Film Seri: Justice Bao 19.00 Berita Malam TVRI 19.30 Drunken Fist 40.30 Rumah Kost 21.00 Dunia Dalam Berita 21.30 Sinema Mandarin: Ninja In The Killing Field Siapakah yang menentukan topik, pembicara dan modera- tor? Menurut Edi, yang menen- tukan itu Tim Pengarah yang ter- diri dari 16 orang. ketuanya dia sendiri, sekretaris Drs Saini KM Direktur Kesenian, dan ang- gotanya Drs. Nunus Supardi, Prof Dr Sapardi Djoko Damono, Prof Dr Umar Kayam, Prof Dr Budi Darma, Prof Ir Eko Bu- dihardjo, MSc., Prof Dr Mursal Esten, Drs. Salim Said, Dr. Mukhlis Paeni, Drs Yustiono, Drs FX Sutopo Cokrohami- djoyo, Asrul Sani, Putu Wijaya, Drs M Syamsudin Hardjaku- suma, dan Tatiek Maliyati Si- hombing.(R-26) fer Jason Leigh. Yang mendapat hadiah malah sikecil Ellen Muth dalam kate- gori Aktris Pembantu Terbaik. Apa yang dikatkan Hudson memang tidak enak didengar, ta- pi jika kita teliti kata-katanya ada juga kebenarannya. Memang tim pra-seleksi-harus bekerja lebih keras dan ketat, sehingga selu- ruh film peserta kompetisi, apa- kah itu International Competi- tion atau Young Cinema Compe- tition, betul-betul merupakan film festival, film yang patut ikut serta dalam kompetisi festival nomor satu di Asia. Sementara itu, Hudson sendiri akan menangani sebuah film drama dalam tradisi "Amarcord" atau "Hope and Glory" berjudul "Son of Adam". Film drama ke- luarga dengan setting Skotlan- dia ini, demikian diharapkan Hudson, akan mengajak penon- ton untuk menjadi anggota ke- luarga tersebut selama dua jam. (Tony Ryanto/ANS) oleh Ibu Try Sutrisno. Sebanyak 200 lukisan akan dipamerkan oleh 21 Wanita Pe- lukis asset bangsa yang telah menuangkan isi kata hati diatas kanvas tentang bunga, mereka adalah: Yuriah Tanzil, Dewaret- na, Agnes Y. Kawuwung, R. Djuwito, Tuti Nusandari Roos- díono, Meilina, Mien Brodjo, P. Lanny Andriani, Ery Aris Mu- nandar, Rukmini Yusuf, Aman- dit Soeparwo, Sedjatiningsih, Sumiati Hamdy, Maria Tjui, Utut Hartono, Vanda Affan, Wi- wiek Yuniarti, Yetti NR, Sulan, Yosephine dan Georgiana Grae Nanik. Penyelenggara Pameran ada- lah dari Yayasan Al Hakim da- lam rangka menyemarakkan Ta- hun Emas 50 tahun Indonesia Merdeka serta sebuah penghor- matan bagi kaum wanita dalam rangka menyongsong Hari Ibu 22 Desember 1995 dan usaha untuk pengumpulan dana bagi kelangsungan kegiatan-kegia- Yayasan Al Hakim terbentuk kan sebuah badan non-profit dan berkiprah dalam kegiatan-ke- giatan sosial budaya yang bersi- fat Syiar akan ke-Islam-an da- lam usaha membangun generasi penerus Indonesia seutuhnya berlandaskan Pancasila. tan. Dari masa kemasa bunga bu- nga adalah merupakan sebuah lambang tanda kasih, persaha- batan, persaudaraan serta kein- dahan. Dengan menuangkan warna-warna natural bunga ke dalam kanvas, menjadikan bu- nga sebagai perlambang tanda kasih yang abadi, persahabatan yang tulus, persaudaraan yang utuh serta keindahan yang me- nyejukan. (R. 14) 23.30 Tabir Malam 23.45 Berita Terakhir TVRI RABU, 15 NOVEMBER 1995 05.30 Hikmah Fajar 06.00 Nuansa Pagi 08.00 Selera Nusantara 08.30 Nuansa Musik 09.00 Cinta Segitiga 10.00 Film Seri: Abigail 11.00 Sinetron: Ibuku Sayang Ibu-ku Malang 12.00 Buletin Siang 12.30 Kuis Apa Ini Apa Itu SELINGAN 13.00 Film Filipina: Papa' Girl 15.00 The Bold And The Beautiful 16.00 Hati Seluas Samudra 17.00 Pasukan Turbo Panitia Pameran 21 Pelukis Wanita Indonesia dipimpin oleh Ketua Penyelenggara Dra. Mien R. Uno ketika diterima Ibu Try Sutrisno dikediaman Jalan Diponegoro. (Foto: BY/R. 14). Medium televisi dengan layar perak dalam banyak hal memang berbeda, namun pengalaman kerja di dunia film jelas me- mudahkan komunitas perfilman nasional untuk diterima oleh produser, stasiun televisi, juga khalayak penonton.new inn Itulah yang membedakan komunitas kesenian wayang tradisional wayang orang de- ngan film. Dalam realitas sosial kekinian bisa ditafsirkan kian tidak berdayanya sektor tra- disional dalam menghadapi keinginan zaman. "Ambruknya" panggung wayang orang telah memaksa seniman dan sutradara mencari lahan di luar kosmos panggung dan kesenimanan, karena tetap 'ngoot bertahan sama saj dnegan memperpanjang masa kepriha- tinan. Banyak artis, sutradara dan produser film -kecuali yang masih setia dan percaya ada kebangkitan film nasional- mulai menyodorkan potensinya ke layar kaca. Bagi komunitas film, terjun ke layar kaca bukan saja untuk me- Pameran kharisma warisan budaya Islam di Museum Ben- teng Yogyakarta pada 8 hingga 15 Nopember 1995, menam- pilkan obyek-obyek budaya Islam, baik dalam bentuk foto, busana, maket, miniatur, artefak (BCB), peralatan, naskah dan buku. Materi-materi pameran tersebut, bisa dikelompokkan dalam empat bagian utama. Yakni, sejarah Islam di Indo- nesia, akulturasi, perjuangan bangsa, dan pelestarian dan pengembangan warisan budaya Islam. Dan dari bagian bagian itu, dikelompokkan lagi sesuai cerita. Tentang sejarah Islam di Nusantara, data-data arkeologis menunjukkan, bahwa sejak abad 11 hingga 13 tumbuh kantung kantung permukiman muslim 17.30 Kata Berkait 18.00 Komedi: Lika Liku Laki Laki 18.30 Seputar Indonesia 19.00 Berita TVRI 19.30 Kuis Keluarga 20.00 Layar Emas: CY Warriors 21.00 Dunia Dalam Berita 21.30 Lanjutan Layar Emas 22.30 Time Trax 23.30 Buletin Malam 00.00 Another World 01.00 Berita Terakhir Enam stasiun TV termasuk TVRI setiap hari sedikitnya menelan waktu 100 jam atau 36.500 jam siaran setiap tahun. Meski jam siaran harus dibagi dngan program lain, melihat fakta sinetron punya tempat di masyarakat, bukan mustahil jam siarannya di waktu mendatang akan terus meningkat. AN teve Meski produksi pada 1995 diperkirakan menurun, namun melihat perkembangannya, sinetron merupakan lahan bisnis yang "menjanjikan". Pada 1990 produksi rekaman video baru 311 judul (66 film cerita/sinetron dan 245 noncerita), empat tahun kemudian melonjak menjadi 1.387 judul (943 cerita dan 444 noncerita). RABU, 15 NOVEMBER 1995 "Lihat saja, hampir tidak ada sinetron bebas sponsor, bahkan beberapa di antaranya selalu sesak dengan iklan. Makin tinggi 'rating', makin tinggi pemasu- kan uang," kata Sasa Djuwarsa, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Program Pasca- sarjana UI. Tumbuh kembangnya budaya Islam di Indonesia, karena bu- daya ini akomodatif terhadap di berbagai belahan nusantara, budaya stempat. Baik melalui khususnya daerah pesisir yang memiliki kekuatan politik eko- nomi perdagangan. Penyebaran Islam di Jawa mencapai puncak pada abad 15 hingga 17, dengan penyiar ajaran itu dikenal dengan julukan Wali Sanga. Sementara, selain Sumatera dan Jawa, budaya Islam me- rebak pula di pulau-pulau lain saluran politik, ekonomi, perka- winan, kepercayaan, adat-is- tiadat, sistem pengetahuan dan teknologi, maupun kesenian dan kesusasteraan, sebagian be- sar budaya-budaya di nusantara mengalami proses Islamisasi. Proses itu berlangsung di se- luruh lapisan masyarakat. Se- jak berkembangnya pusat-pusat Kebijakan pemerintah yang menetapkan 80 persen tayangan dari produk lokal dan sisanya impor-yang hingga kini reali- sasinya masih jauh- menegas- kan, siaran produk lokal ter- seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara. Di wilayah itu berdiri kerajaan- kerajaan bernafaskan Islam. Be- berapa situs, prasasti, makam dan masjid kunopun banyak terdapat di kawasan tersebut. Antara lain, makam raja-raja di Jeneponto (Sulawesi Selatan), prasasti pendirian Istana Ter- nate (Maluku), Mesjid Raya Medan, makam Malikul Saleh (Aceh), makam Fatimah Binti Maimun (Gresik), situs Makam Tralaya (Jawa Timur), Makam Sunan Gunungjati (Cirebon), dan masih banyak lagi. Semua itu dapat terlihat dalam foto-foto pameran kharisma warisan bu- daya Islam. 05.30, Mutiara Subuh 06.00 Dimensi 06.30 Halo Indonesia 07.30 Bursa Musik Indonesia Kharisma Budaya Islam Di Yogyakarta Dariush Mahrjui Sutradara Lulusan UCLA 08.00 Prima Raga 08.30 TV Innovations 09.00 Obrolan Pagi 09.30 Telenovela: Carmila 10.30 Wild Cats 11.30 MTV Block 15.30 TV Innovations masuk sinetron berpeluang "luar biasa" untuk diserap stasiun TV. 16.00 Wisdom Of The Gnomes 16.30 Nine To Five 17.00 Cakrawala 17.30 Famili 100 18.00 Maria Celeste 19.00 Berita TTVRI 19.30 Gol! Gol! Gol! 20.00 Sinema Rabu: Insect 21.00 Dunia Dalam Berita Ketua Asosiasi Rumah Pro- duksi Indonesia (ARPI), Ali Shahab, pun mengakui bahwa dunia sinetron merupakan lahan menarik dan propsepktif untuk digeluti secara komersial, ter- utama bagi pelaku film dan pe- ngusaha yang pandai meman- faatkan kesempatan serta jeli melihat peluang. "Bila sinetron digarap serius dan seluruh sumberdaya dialo- kasikan efisien, bukan mustahil produknya akan memperoleh hasil luar biasa, baik artis, produser maupun stasiun TV," katanya dalam seminar "Pasca Primadona Seminar"? di Yogya- karta awal awal Nopember. bau Dilihat ongkos bahan baku, video (untuk TV) jauh lebih kecil dibanding "celluloid" (film). Ali Shahab, menghitung biaya per satu menit video hanya Rp 4.000 sedang "celluloid" Rp 400.000 atau 1:100. Melihat prospek dunia sinet- ron, maka tidak heran bila rumah produksi (RP) pertumbuhannya persis jamur di musim hujan. Bila pada 1990 baru 11 Rp pada tahun ini tercatat 773 Rp, se- muanya berlomba mengisi pro- gram TV yang masih haus de- ngan produk lokal. Masih memprihatinkan Sebagai produk seni massa, sinetron tentu terkait dengan pa- rameter artistik juga jumlah pemirsa, sehingga ukuran ke- berhasilan sinetron, idealnya harus memenuhi dua unsur yakni bisa dipertanggung- jawabkan mutunya serta sukses kegiatan masyarakat Islam dan terus berposes sampai sekarang. Akulturasi dapat dilihat pada wujud bendawi, seperti arsi-tek- tur masjid, makam dan seni hias. Menara masjid Kudus (Jateng), menurut arkeolog Belanda Dr. NJ Krom, berasal dari abad 16, memiliki corak peralihan dari bangunan tradisional Majapahit yang mengingatkan pada corak "candi". Naskah-naskah kuna dari abad 17 hingga 19, banyak yang memuat ajaran moral, hukum, mistik, sejarah dan legenda yang memadukan ajaran Islam de- ngan tradisi setempat. Dalam pameran tersuguh foto-foto maket, artefak, wayang, naskah- naskah lama, yang merupakan koleksi banyak pihak. Seperti koleksi dari Museum Sana- budaya, Radyapustaka, Kraton Solo, Balai Arkeologi, Kraton Yogya, Muhammadiyah, Monu- men Yogya Kembali, dll. Kolektor foto-foto kuna Is- mudiyanto Ismail pada pameran itu menyumbang beberapa koleksinya seperti foto gapura masjid dan makam Kotagede, permukiman muslim di Demak dan Kudus. (Ismadi K. Isbandi) 21.30 Lanjutan Sinema Rabu 22.30 Lensa Olahraga 23.00 Simon & Simon 24.00 TV Innovations 00.30 Karen Song 01.00 MTV Blocks 03.00 Berita Terakhir TVRI RABU, 15 NOVEMBER 1995 00.00 Di Dambang Fajar 05.30 Buletin Malam (Ulangan) 06.00 Boneka Sesame 06.30 Girl From Tomorrow 07.00 Danger Bay persen. parahnya. Itu adalah cermin "Itu bisa dibayangkan betapa kualitas sinetron kita pada 1995. Tidak lebih baik bahkan lebih buruk dibanding tahun lalu," kata Sandy. di pasaran. Sasa Djuwarsa menyatakan, agar produk lokal menjadi taun Menurut Sandy Tyas, salah seorang anggota Komite Seleksi Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1995, mutu sinetron, ceirta lepas, serial atau komdei masih memprihatinkan. Dari 500 judul, rumah di negeri sendiri, sebaik- yang masuk ke FSI, yang layak nya pemerintah memberi per- mengikuti FSI hanya lima lindungan. Di negara maju seperti Australia, pemerintah juga memberi perlindungan dalam bentuk subsidi. Kelemahan itu, antara lain meliputi penulisan skenario, adegan, akting, editing serta miskinnya tema baru sinetron. Kenyataan itu pula yang mem- buat keprihatinan sejumlah pengamat bahwa sinetron nanti- nya akan senasib dengan film layar lebar. Tapi Ali Shahab berpendapat lain. Ali Shahab yang pernah sukses menggarap "Rumah Masa Depan" itu, tetap optimis dengan masa depan sinetron nasional. Menjamurnya RP selama tiga tahun terakhir ini menunjukkan adanya prospek, dan masa itu bisa diartikan sebagai masa transisi untuk belajar lebih banyak. Ia menunjuk efisiensi pro- duksi sinetron sebagai elemen penting yang bisa dieksplorasi, agar mampu menghasilkan produk bermutu sekaligus bisa memuaskan hasrat banyak pemirsa, yang pada gilirannya menimbulkan simbiosis mu- tualisme dengan stasiun TV. Oleh karena itu kepada sutra- dara film yang hendak membuat sinetron, ia berpesan nuntuk "SARA", film karya Sutra- dara Dariush Mehrjui ini banyak menarik minat penonton ketika ditayangkan di TIM ketika ber- langsung Panorama Festival Film Istiqlal II '95. Lahir pada tanggal 8 De- sember 1939 di Tehran, Dariush Mehrjui, adalah lulusan UCLA jurusan Filsafat. Sebagai kanak-kanak, ia sangat akrab dengan musik dan lukis-melukis, bermain piano dan santour (alat musik khas Iran) dan menggambar miniatur. Pada tahun 1959 ia mening- galkan Iran menuju California untuk mempelajari bidang sine- ma. Tapi, pada masa-masa itu Departemen Sinema UCLA le- bih tertarik pada aspek-aspek teknis pembuatan film, daripada film sebagai salah satu bentuk seni. Ia mengikuti banyak kur- sus-kursus tentang perfilman, misalnya dengan Renoir yang mengajarkannya tentang bagai- mana bekerjasama dengan par aktor, kemudian ia pindah ke jurusan Filsafat. Menjelang lulus pada tahun HALAMAN 8 07.30 Kilas Musik 08.00 Your Baby And Child 08.30 What Every Baby Knows 09.00 FS: Ines Sang Sekretaris 10.00 Rubi beradaptasi, karena fasilitas produksi elektronik memang menjanjikan kemudahan dan jauh lebih menguntungkan. 11.00 Splemente Maria 12.00 Buletin Siang 12.30 Film Nasional: Takdir 14.30 Film Seri: Kristal 15.00 FS: Kassandra 16.00 Belenggu Asmara 17.00 Musik: Zimponi 17.30 Pedang Maut 18.30 Liputan Enam 19.00 Berita Malam TVRI 19.30 Putri Sin Ye 20.30 Pengantin Santai 21.00 Dunia Dalam Berita 21.30 Masters Of The Sea 22.30 Spesial: For Ever Knight (II) 23.30 Walker Texas Ranger 00.30 Berita Terakhir TVRI "Perlindungan didasarkan pada pandangan bahwa sinetron sebagai produk budaya yang diharapkan berperan sebagai medium transformasi nilai budaya bangsa," katanya. Dari sisi bisnis, katanya, perlindungan sementara juga diperlukan, agar pada saat era perdagangan bebas diterapkan secara internasional pada 2005, para pengelola RP nasional sudah siap. Sasa antara lain mengusulkan, untuk mengembangkan sinetron nasional sebaiknya pemerintah memberi subsidi pada produk- produk tertentu seperti feature, film dokumenter atau serial sinetron yang mengangkat sejarah perjuangan bangsa. Selain itu, pemerintah juga diminta memberi keringanan pajak impor pada perlaatan serta memberi kemudahan kredit, karena masih banyak pengusaha RP lebih produktif, juga akan mendorong peminat lain untuk mendirikan RP baru. Melalui upaya seperti itu, proporsi tayangan 80 persen untuk produk lokal dan 20 persen bagi produk impor di stasiun TV nasional bisa lebih cepat menjadi kenyataan. (Ant/ Spek/U.Achmad Zaenal).. 1964, ia memulai sebuah maja- lah sastra, the Pars Review, bersama-sama dengan beberapa orang Iran lain yang ingin agar sastera Iran kontemporer dikenal oleh Barat. Ia menulis naskah pertamanya sebuah kisah cinta berdasarkan dongeng Persia kuno dan ia kembali ke Iran dengan niat untuk membuat filmnya. Ternyata proyek ini gagal, dan bahkan kemudian ia malah membuat film thriller dengan judul "Diamond 33" (Berlian 33), suatu parodi dari film-film James Bond. Film ini secara teknis dapat dikatakan sukses, namun secara komersial film ini mengalami kegagalan, sebabnya karena panjangnya. Film keduanya, "The Cow" (Sapi), telah membuatnya di- kenal secara nasional maupun internasional, dan bersama-sama dengan Film dari Masud Kimiai, yaitu "Qaysar" (Kaisar), film "The Cow" telah menandai ha- dirnya Sinema Iran Baru. "The Cow" adalah satu dari 2 film utama yg sedianya akan men dapat subsidi pemerintah.(R.26). INDOSIAR RABU, 15 NOVEMBER 1995 15.30 Patlabor 16.00 Magic Girls 16.30 Darkwing Duck 17.00 Love In Paradise 17.30 Ivy 18.00 Kisah Rase Terbang Dari Gunung Salju 19.00 Berita Malam TVRI 19.30 Api Dan Cinta 20.30 Kuis Dobel O 21.00 Dunia Dalam Berita 21.30 Gelar Aksi: Lethal Ninja 23.30 Ellen 00.00 The Apartement 00.30 Dinasty 01.30 Berita Terakhir TVRI
