Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Suara Karya
Tipe: Koran
Tanggal: 1980-11-01
Halaman: 04

Konten


SUARA KARYA - HALAMAN IV Jam dua siang Parman tiba di rumah. Hatinya merasa lega karena dapat menyelesaikan soal ujian dalam waktu singkat. Ia tidak menemui kesulitan sedikitpun. Perlahan-lahan dibukanya. pintu depan yang tidak terkunci. Langsung saja ia masuk kamar. Ketika hendak keluar ia sempat mengagetkan ibunya ketika ber- papasan di pintu. "Astagfirullah hal'adzim", seru ibunya terperanjat. Parman hanya senyum2 saja. "Kau sudah pulang Man?", tukas- nya sambil mengelus dada.. "Sudah bu", jawabnya singkat. Ia langsung menuju ke kamar makan. "Bagaimana ujianmu sudah selesai!", tukasnya lagi. "Beres bu!", jawabnya singkat. "Apanya yang beres, apa kau bisa menyelesaikannya dengan benar". Dan kau sudah pastikan lulus!", tambahnya. "Soal lulus si walahu a'lam bu!". Tapi yang jelas semua soal dapat kuselesaikan dengan baik dan dalam waktu singkat, jawabnya meyakinkan. "Syukurlah, ibu hanya bisa membantu do'a saja. Mudah- mudahan kau selalu siberi kemu- dahan oleh Allah"!. Itu sebabnya ibu dan ayah selalu menyuruh kau raji-rajin belajar. Dan waktu yang tersisa jangan kau sia-siakan, per- gunakan waktumu sebaik-baik- nya." "Terima kasih bu, insya Allah aku akan melaksanakannya dengan baik". "Ayah belum pulang bu?", tukas- nya lagi. "Sudah, baru saja istirahat di depan". Kalau tidak salah tadi disamperin pak RT. Katanya mau ke kelurahan menyelesaikan surat-surat tanah yang pak RT baru beli itu. Kan ayahmu jadi saksi!", tambah- Dahulu kala di kerajaan Kediri, hiduplah seorang jan- da yang tidak mempunyai anak. Setiap saat ia selalu mohon kepada dewa agar diberinya seorang anak, ka- rena dirasakannya hidup tan- pa anak rasanya tidak ba- hagia. Rupanya dewata menga- bulkan permohonannya itu, meskipun caranya agak me- ngejutkan hati janda tersebut. Tengah hari sedang ia me- masak, dari tempat tempayan (kendil), mucullah kepala seorang anak. Kakinya tidak ada, hanya kedua tangannya saja yang menyembul keluar dari kendil itu. Anak itu berkata kepada janda itu: "Mbok... maukah engkau mengambilku sebagai anakmu?". Janda itu terkejut bukan main "Aku..aku.. mau!" "kata janda itu gugup. Lalu arfak itu diberinya nama Joko Ken- dil. Artinya anak lelaki yang keluar dari kendil(tempayan). Pada suatu hari Kendil di diajak ibunya pergi ke kota. Di tengah alun alun ia melihat 3 orang puteri yang cantik cantik, menaiki sebuah kereta W emas. Novelis Remaja dan terima kasih atas tulisan-tulis- an yang dikirimnya secara rutin setiap minggu. Tulisannya telah diterima dan dimuat sebulan tiga kali diruangan anak-anak. Dengan demikian ia telah membantu menyumbangkan pemikirannya menambah jumlah bacaan anak- anak. Oleh karena itu Pimpinan harian tsb wajar memberikan sekedar honorarium bagi penulis- nya. Sampai di rumah Joko Kendil melamun. Ia tidak mau makan dan minum. Ibunya sangat heran dan susah sekali. "Mengapa kau melamun anakku? tanya ibu- nya dengan cemas sekali. nya. "Wah ayah pasti dapat komisi nanti bu!", tukas Parman ber- gurau. "Ah entahlah Man!". Sudahlah kau makan dulu yang kenyang, kan tidak baik makan sambil ngobrol", tandasnya. TALI KULIT ULAR DITANGAN KUANG KECIL SEPERTI MELONCAT DENGAN SENDIRINYA MENJERAT LEHER KUDA LUAR BIASA MILIK DEWA ANGIN Joko Kendil diam saja tak mau menjawab. Baru setelah berkali kali ditanya oleh ibunya itu ia mulai membuka mulut. "Aku ingin beristrikan salai satu puteri raja itu, bu! Selesai makan tak lupa ia mencuci piring dan gelas di dapur. Kebi- asaan itu sudah diajarkan ibunya sejak kecil. Walau ia anak semata wayang tidak mau dimanja seperti anak-anak lain. Malah ia melarang ibunya, mencuci pakaian sekolah. Apa lagi setelah meningkat dewasa, kasih sayang terhadap orang tua makin nampak. EMPAT WARNA MAKW MENGGILA DENGAN RINGKIKANNYATA MENGAM- UK TETAPI TALT KULIT ULAR ITU TELAH MEMBELENGGU DENGAN ERAT azalsias RDX Ia anak yang patuh, rajin dan tidak pernah lupa menjalankan sembah- yang. Bedug azhar telah berbunyi, matahari kelihatan redup tertutup awan, langit kelam. Sudah dipas- tikan hujan akan turun sebelum maghrib. Parman cepat-cepat mandi dan menjalankan kewajib- annya. Awan hitam menggelimang, halilintar menjilat-jilat, guruh menggelegar menggoncang bumi. Benarlah, menjelang maghrib hujan turun bagai dicurahkan dari langit. Beberapa saat kemudian, dari celah-celah daun pintu terlihat bayangan orang. Berkelebat bersamaan dengan kilat yang menerangi galap gulita itu. Sesaat kemudian kedengaran pintu dibuka dari luar. Seorang laki-laki bertubuh kurus berpakaian basah kuyup masuk di ruang depan. Ia adalah ayah Parman. Di hujan yang lebat itu terpaksa tidak sabar menunggu sampai reda. Ibunya menyambut dengan penuh rasa cemas. Ditanggalkannya pakaian yang basah kuyup itu, kemudian mandi dengan air panas. Parman sudah tidur mendengkur di balai. Pagi-pagi benar Parman sudah bangun. Sebelum ke kamar mandi ditengoknya kamar ayah. Ia masih "Bu, ayah pasti kehujanan di jalan!", tukasnya sambil menyala- kan lampu tempel. "Ibu juga khawatir, karena ayah- mu belum sehat benar", tukas ibu- nya. Ibu masih ingat waktu ayah- mu dirawat di rumah sakit. Kata dokter ayahmu tidak boleh bekerja terlalu cape, kena hawa dingin KUDA BELANG EMPAT CERITA RAKYAT INDIAN CHEROCHE ((( INILAH SAATNYA SEBELUM BULAN MUNCUL кемвай Ndry Oleh: D. Soemarno apalagi kena air hujan. Penyakit- nya akan kambuh lagi!" "Kalau begitu biarlah aku men- jemputnya dengan payung bu!", pinta Parman. "Ah tidak usah, kalau tahu hujan begini ayahmu pasti tidak buru- buru pulang!" Seandainya kehujanan di jalan ia pasti berteduh dulu sampai hujan itu reda. Hari semakin malam, hujanpun semakin lebat. Parman dan ibunya bertambah khawatir, takut kalau ayahnya memaksanya pulang menerobos hujan lebat ini. Suasana hening, hanya kemerocok air bercampur deru angin saja di luar. SI EMPAT WARNA BERJINGKRAK KE- ΤΙΚΑ KIJANG KECIL MELONCAT KE PUNGGUNGNYA "katanya. Ibunya kaget bu- kan kepalang. Cerita Dongeng : Joko kendil Oleh: Azwani Hasjim gending yang merdu dari langit yang disebut Loka- nanta. melingkar berselimut. Selesai sembahyang subuh Parman tak lupa menyediakan air panas buat ayah. Pagi itu udara cerah, langit tak berawan. Namun di pelataran rumah air nampak menggenang bekas hujan semalam. "Man.... Parman....", seru ibu- nya dari arah kamar. "Ya bu", jawabnya singkat. "Sudah kau siapkan air panas buat mandi ayah!", tukasnya. "Sudah bu, tinggal mengangkat saja ke kamar mandi", jawabnya sambil menuju kedapur. Parman segera mengangkat air itu ke kamar mandi. "Ayah kehujanan semalam", tukas Parman ketika berpapasan di depan kamar. "Heeee.... hheeehh!", sahutnya pendek. "Tapi tidak apa-apa ayah?", tukas Parman lagi. "Ya basah semua, tidak apa-apa bagaimana!" jawabnya bergurau. "Maksudku ayah tidak kedingin- an!". Bagaimana tidak dingin, ayah sampai basah kuyup. Tapi setelah mandi air hangat kemudian diblonyo minyak sama ibumu, tidak terasa dingin lagi. Malah tidurpun menjadi pulas". "Bagaimana ujianmu, apa sudah selesai?" tukasnya lagi. "Sudah ayah!", jawabnya singkat. "Bagaimana kemungkinannya, lulus atau tidak!". "Soal lulus sih, walahu a'lam yah!". Yang jelas aku bisa menyelesaikan semua soal dengan cepat, tambah- nya. Pada suatu hari, ketika putri sedang duduk dimuka istana, diatas punggung yang rendah, mereka melihat se- orang pemuda yang tampan sekali. "Kecepatan itu belum menjamin kebenaran!". Apa artinya cepat tapi salah semua?". "Menurut perkiraanku soalnya semua mudah dan tidak ada kesulitan sedikitpun!". "Betulkah itu!" tukas ayahnya lagi. "Ya...tunggu saja ayah!", jawabnya tegas. "Nah sekarang aku akan menagih janji pada ayah!", tambahnya. "Janji apa? tukasnya berpura- pura. "Dulu ayah kan menjanjikan, bila selesai ujian SMP aku boleh menengok kakek di desa!". Sekarang tiba saatnya", tukas Par- man merayu. "Ooo.... itu, boleh .... boleh saja!", tukas ayahnya. Lalu kapan kau berangkat? "Kalau bisa besok pagi ayah!", pinta Prman. Kebetulan besok ada temanku yang akan menengok pamannya. Jadi kita ada teman dijalan karena kebetulan satu jurusan. Ayahnya hanya manggut2 saja. Jam enam pagi Parman sudah siap dengan segala pakaian ganti- nya. Buku-buku catatan tidak lupa diselipkan dalam tasnya. Ia akan menghabiskan waktu liburannya dirumah kakek. Kesempatan itu akan digunakan buat menyusun novel yang baru setengah jadi. Apalagi di desa kakek banyak pemandangan yang menarik. Sampai di rumah kakek ia menuturkan keadaan di kota. Kakeknya tertarik dengan cerita- cerita kota yang beraneka ragam peristiwa. Banyak tulisan-tulis- annya yang menceriterakan ten- tang keadaan di kota, ditulis Par- man dalam bentuk cerita pendek dan bersambung. Selama berada di rumah kakek, ia banyak memper- oleh bahan-bahan untuk tulis- annya. Libur sekolah sudah habis. Par- man sudah kembali ke Jakarta. Pengumuman ujian telah keluar. Sebagai murid teladan,ia tetap dapat mempertahankan gelarnya. Nilai yang dicapai dalam ujian sangat memuaskan. Ia banyak mendapat uluran tangan dari kawan-kawan kelasnya, karena berhasil mempertahankan gelarnya sebagai pemegang nilai terbaik. Bersamaan dengan pengumuman itu, dari sebuah harian surat kabar ibukota ia mendapat panggilan, untuk segera datang ke bagian redaksi. Redaktur harian tsb atas nama pimpinan mengucapkan selamat "Bukan suami seperti tempat menanak nasi, "Putri Dahlia diam saja mendengar eje kan kakak kakaknya. Demikianlah, setiap pagi ter- jadi seperti itu. Kakak-kakak Dahlia terus mengejeknya. Karena tidak tahan terhadap ejekan itu, Dahlia berlari ke dapur, dimana suaminya "Kendhil" itu tidur. Ia tidak melihat suaminya disitu, ha- nya menjumpai kendil itu tengkurap. "Maafkanlah aku... Aku ter- paksa membantingmu, karena aku tak tahan ejekan kakak- ku" tangisnya keras, sambil melemparkan kendil itu mem- bantingnya keras-keras. Ken- dil itu pecah berkeping- keping. Ajaib! Tiba tiba ia melihat Mbok janda begitu pilu menyampaikan syarat yang diminta itu kepada Joko Kendhil. Tetapi dengan gem- bira dan tenang Joko Kendill menyanggupinya. Kemudian minta ijin kepada ibunya akan pergi kesuatu tempat, menemui 'nenek'nya. Rupa- nya neneknya itu sudah seorang pemuda tampan se- perti yang ia lihat dimuka istana. "Akulah pemuda tam- pan itu. Akulah pemuda Aku adalah mengerti maksud dan tujuan Joko Kendil. Setelah bertemu kemudian neneknya me- nyuruh Joko Kendil kem- tampan itu. bali. Apa yang diminta akan berhasil. "Dil, anakku. Jangan min- ta yang aneh-aneh. Kita ini miskin, rupanya buruk pula tangis ibunya. Joko Kendil malah tidak senang. Ia menangis sejadi jadinya. "Ti- dak bu... pokoknya aku mau beristerikan salah satu puteri itu. Cepat lamarkan bu, tangisnya. Dengan terpaksa sekali ibunya memberanikan diri menghadap raja. Dengan isak tangis yang memilukan ia minta ampun kepada raja. Tentu saja raja sangat ter- kejut. Tetapi ia harus bijak- sana. "Baiklah, aku tidak keberatan. Tetapi kau harus menanyakan sendiri syarat- syarat yang diajukan kepada mereka, "sabda raja. suamimu. Aku disihir oleh seorang jahat, sehingga men- "Ha.. ha... ha... Dahlia jadi Kendil. Aku akan akan menjadi suami kendhil. terlepas apabila ada seorang Nanti kita pakai untuk menanak nasi, "ejek kakak putri raja yang mau menjadi istrinya..." Dahlia, ketika putri Dahlia Kedua putri yang kebetulan terpaksa menerima lamaran masuk ke dapur, melihat ke- Joko Kendil, karena ia telah menunaikan syarat syarat itu. Putri Mawar yang sulung, dan Putri Gemala menolak dengan kata-kata yang me- ajaiban itu. Mereka melihat nyakitkan hati. Putri Dahlia Dahlia sedang dipeluk pe. yang bungsu sebenarnya sulit muda suaminya itu dengan menerima, tetapi ia tidak mau kasih sayang. Mereka iri hati. bersikap sombong. Maka Tetapi tak ada gunanya. kemudian ia Bertahun tahun kedua putri mengajukan itu menantikan saat seperti syarat yang sulit antara lain: pemuda yang menyamar itu, minta seekor binatang yang untuk mereka harapkan jadi langka di hutan, butir-butir Putri Mawar dan Gemala suaminya. Tetapi rupanya intan yang indah di dunia, berteriak: "Ha... seperti impian itu tak pernah ter- sebanyak serakan batu-batu itulah kiranya pemuda yang kabul, sampai disetiap sudut kota, dan mereka pantas menjadi suamiku. tua......***** Honorarium yang diterima cukup banyak jumlahnya dan masih ditambah sebuah hadiah berupa mesin tulis kecil. Parman sama sekali tidak men- duga bahwa tulisannya diberi imbalan jasa. Dengan hadiah-hadiah yang diterima itu makin mendorong Parman untuk lebih maju lagi. Mulai saat itu Parman memper- banyak karya-karyanya. Namanya sudah dikenal dikalangan remaja sebagai seorang penulis novel yang baik, dan belum ada duanya. Setiap sore banyak teman-teman wanita dan pria berkunjung ke rumahnya untuk belajar bagai- mana menulis yang baik. Ia bercita- cita menjadi seorang sastrawan dan penulis skenario film. **** Angin bertiup semilir. Rum- put-rumput di padang berge- lombang. Pucuk-pucuk bam- bu melambai dengan manis- nya. Di bawah pohon mangga yang rindang, Mansur berba- ring melepaskan lelah. Ta- ngannya ia gunakan sebagai bantalan untuk mengalas kepalanya. Matanya menatap ke atas. Tampaknya ada sesuatu di ranting kayu yang menarik perhatian Mansur. Benar. Di balik gerumbul daun-daun mangga, tampak oleh Mansur seekor laba-laba sedang membuat sarangnya. Begitu cepatnya binatang itu bekerja. Helai demi helai jeratnya terpasang. Jaring- jaring itupun akhirnya selesai ia kerjakan. Tiba-tiba Mansur bangkit dari pembaringannya. Ia berteriak memanggil Samin yang sedang duduk di atas kerbaunya. "Min.........Min, mari sini sebentar!" panggil Mansur. Samin turun dari pung- gung kerbau dan berlari mendapat sahabatnya. Man- sur memegang pundaknya. "Min, coba kau perhati- kan laba-laba di ranting kayu itu. Wah, bukan main cepat- nya ia bekerja membuat sarangnya. Mari kita berba- ring di sini dan memperhati- kan binatang itu menjebak mangsanya," kata Mansur. "Oh, tontonan yang me- narik nih, Sur," kata Samin." Kata pak guru, laba-laba binatang yang sabar dan rajin." "Sabar dan rajin bagai- mana maksudmu, Min?" ta- nya Mansur tak mengerti. "Sabar di dalam menung- ACARA UTK ΑΝΑΚΑΝΑΚ SANDIWARA PENYERGAP. AN: Grup teater anak anak GRPS akan mementaskan sandiwara "Penyergapan" pa- da Sabtu 1 Nop. pk. 17.00 WIB dan Minggu 2 Nop. 1980 pk. 10.00 WIB. di Teater Arena Taman Ismail Marzuki. Harga karcis rata-rata Rp.300,00. Sebagai pimpinan pro- duksi R. Soebadi dengan sutradara Umar Yacob, se- dangkan naskah cerita dari Susilomurti. Sandiwara ini mengisah- kan serombongan anak anak yang berlibur ke gunung terpaksa berteduh dan mengi- nap di suatu rumah yang terpencil. Karena mobil yang akan menjemput mereka tidak kunjung datang, sedang- kan hujan turun sangat lebatnya. Nenek penghuni rumah bercerita bahwa di kampung itu ada mahkluk setan Banespati yang selalu minta sesajen pada penduduk. Anak anak yang wanita ketakutan sedangkan yang laki-laki agak curiga, sehingga mereka terpaksa bergadang mengawasi sesajen yang dise- diakan nenek itu untuk Kakek Banespati. ($.8).- Sayembara puisi Jakarta, (Suara Karya).- Dalam rangka memperi- ngati hari ulang tahunnya yang ke-V Bengkel Belia Radio Arif Rachman Hakim mengadakan sayembara penu- lisan Puisi Anak-anak. Sayem- bara ini diperuntukkan kaum Pra-remaja Indonesia. Pela- jaran/non pelajar dengan batas usia 8 tahun sampai dengan 14 tahun. Tiga buah puisi akan dipilih sebagai pemenang. Pemenang I Rp.75.000,- pe- menang ke II&III Rp.50.000,- Rp.25.000,-. Adapun syarat-syaratnya: Tema dan bentuk bebas. Puisi di ketik rapi, tiga rangkap eska kecil releer Kolom kita HARAPANKU Aku anak kecil Yang hanya tahu coklat dan kembang gula Aku tidak tahu apa itu boikot atau intervensi Aku anak kecil Yang hanya tahu bermain dan menangis Aku tidak tahu Siapa itu Berzhnev dan Jimmy Carter Aku anak kecil Yang tak perduli akan semuanya Kapan aku bisa tahu Segalanya tentang mereka?. Jln. Cihaurgeulis Timur 2/144B BANDUNG. Anak Gembala dan Laba2 Oleh: Prayitno gu mangsanya. Rajin membi- digunakan mereka untuk kin sarangnya," ucap Samin." belajar. Biasanya kalau hari Nah........ coba perhatikan ada sudah mulai senja, mereka binatang yang masuk perang- segera pulang sambil menun- kapnya." tun ternaknya. Tetapi, tatkala mata Samin melihat ke atas. Ia sungguh kaget. "Sur, sarang itu telah siap kembali" teriak Samin. Seekor lalat tanpa sengaja telah menyentuh jaring laba- laba itu. Tak pelak lagi ia berusaha melepaskan diri dari getah yang lengket di sayap- nya. Semangkin kuat lalat itu meronta, semakin kuat jaring laba-laba itu membelit sayap lalat yang malang itu. "Min, aku begitu kasihan melihat nasib lalat yang malang itu. Semakin kuat ia memberontak, semangkin erat jaring laba-laba membe- litnya". "Salahnya sendiri," kata Samin," Habis dia tidak hati-hati. Sebab, sudah men- jadi sipat lalat. Kalau ada manisan, ia akan segera terbang ke Tanpa banyak pikir lagi. Sehingga tidak disadarinya manisan itu adalah perangkap yang dipa- sang oleh musuhnya," kata Samin kemudian. sana. Mansur dan Samin terus memperhatikan bagaimana la- ba-laba itu melahap lalat yang malang itu. Sekali telan, lalat itu hilang masuk ke dalam perutnya. Mansur dan Samin merasa ngeri juga melihat nasib lalat itu. Mereka kasihan. "Aduh, aku sungguh ka- sihan melihat nasib lalat itu" kata Mansur, "Maksud hati- nya mau mencari makan. Tetapi akhirnya terjerat ke dalam perangkap laba-laba." "Tak perlu kita kasihani. Lalat itu kotor. Bahkan menyebarkan penyakit. Se- makin banyak laba-laba me- makan lalat, makin bagus. Kita bakalan tidak ditulari penyakit," kata Samin. Tiba-tiba mereka berdua terdiam. Tidak bersuara. Se- ekor cecak masuk ke dalam perangkap laba-laba. Binatang kecil itu segera bersembunyi di balik daun-daun mangga yang kering. Kelihatannya ia takut. Cecak tidak takut sama laba-laba. Sekali landa saja, sarang laba-laba hancur di- buatnya. Setelah itu cecak segera menghilang. "Uh, cecak sialan. S'usah- susah membikin jerat akhir- nya dihancurkan cecak dalam beberapa detik saja," kata Mansur. Budi Andari Kelas....?? "Tetapi dia kan sudah dapat makan" jelas Samin," Perutnya sudah kenyang. Aku yakin cecak itu juga sedang mengincar lalat yang terje- rat," tambah Samin. Mansur dan Samin kemu- dian tidak lagi mempedulikan sarang laba-laba yang telah hancur itu. Mereka duduk- duduk di atas rumput yang tebal. Kemudian menghapal, Di samping menggembalakan kerbaunya, waktu senggang dengan jarak 2 (dua) spasi. Atau ditulis tangan dengan rapi dan jelas di atas kertas folio bergaris, tiga lembar. Puisi yang dikirim minimal 1 (satu) buah dan maksimal 2 (dua) buah. Puisi harus asli, bukan saduran atau terje- mahan dan belum pernah dimuat di media manapun. Naskah puisi dikirim lewat Pos atau diantar langsung ke alamat Radio Arif Rachman Hakim, komplek TIM, jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Disertai surat keterang- an dari kepala sekolah atau orang tua/wali ybs, dan disudut kiri amplop ditulis: "penulisan Puisi Pra-remaja 80". Sayembara di tutup tanggal 15 november 1980. (R-0).. "Wah..... ." hanya itu yang ke luar dari mulut Mansur saking kagumnya. "Kalau binatang yang tidak punya akal dapat bekerja dengan tepat dan cermat, kenapa kita manusia tidak dapat melakukannya," kata Samin. "Benar juga" ucap Man- sur," Binatang kecil yang cerdik." setelah matahari jatuh ke balik bukit-bukit, anak gem- bala yang rajin itu bangkit dan kemudian pergi ke tempat ternaknya. Mereka berjalan beriringan. Hati me- reka amat damai dan tentram. Di samping mereka dapat membantu. orang tuanya menggembalakan ternak, me- reka. juga dapat belajar dengan tenang untuk masa depannya. Di dalam hati mereka, kejadian tentang laba-laba itu amat mengesankan. Mereka akan menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Ba- gaimana kesabaran dan kera- jinan laba-laba itu. Bukankah itu suatu teladan yang patut ditiru. *** Desa Cilendek, 1980. PAYAKUMBUH: Enambelas orang anak putus sekolah yang ada dalam daerah Kodya Payakumbuh telah selesai dididik dan dilatih dalam berbagai ketrampilan, agar mereka mampu berwiraswasta di dalam masyara- kat. Pendidikan tersebut dilaksana- kan di Lubuk Alung Kab. Padang Pariaman, beberapa waktu yang lalu. Pendidikan yang diberikan adalah ketrampilan di bidang jahit menjahit pakaian, pertukangan dan montir sepeda motor. Untuk terjun ke masyarakat, Kakandep. Sosial M. Rais Bsc. merencanakan akan memberikan seperangkat perkakas untuk sesuai modal peserta latihan, dengan jenis pendidikan yang telah ditempuh. (R-O).- 16 SABTU, 1 NOPEMBER 1980 14 28 OKTOBER Saat matahari terbenam di ufuk barat sewaktu langit mendung kita tidak tahu apa yang diperbuat para pemuda mereka berkumpul menjadi satu hanya karena ingin mengucap ikrar Bertanah Air satu Indonesia Berbangsa Satu Bangsa Indonesia Berbahasa Satu Bahasa Indonesia Priyo Wasono SMPP Neg. kls. D Jln. A. Yani Ngawi Jawa Timur KRU* Pagi-pagi kau sudah bangun Siap untuk melaksanakan tugasmu Entah sarapan entah tidak Akupun tak tahu Dari stasiun satu ke stasiun yang lain Engkau mulai melaksanakan tugasmu Hingga kau tiba distasiun ku Aku kau bawa, berangkat ke sekolah Bukan hanya aku, tapi juga semua kawanku Bahkan semua yang membutuhkanmu Kemarin..... kini..... esok dan seterusnya Begitulah kelakuanmu Ohhhh..... KRL sungguh besar jasamu A. Handoyo SMP. Budi Mulya Jln. Kapten Muslihat 20 BOGOR *Kereta Rel Listrik BINTANG: Ketika malam itu kulihat bintang di sebelah timur sinarnya yang berkelip-kelip menandakan kau berada jauh dari tempatku ini .... Ketika malam itu kulihat jua bintang-bintang lainnya yang bertebaran seperti intan menambah indahnya malam itu. HAN Riniatunchrist J.W. Kompleks Agraria Jln. Kates Surodadi Siswodipuran Jawa Tengah. "Orang-orang" karya Evita Feirin Rampan (4 th), kis 0 IK Pertiwi Menteng Pulo, Jakarta Selatan. # "Di rumah", karya Anthony Ardhy Rampan (5 th) SD Negeri kls IA, Menteng Dalam, Jakarta. Teka-Teki Silang Es Ka Kecil n 19 12 76 15 Pertanyaan mendatar. 1. Tak mau kerja 3. Alat pembersih gigi 5. Nama buah 7. Binatang pengerat 10. alat memotong 12. Tempat abu rokok 14. Jalan kereta api 15. Tidak jadi, batal 16. macam rambut. memurun 1. Masa Persiapan Pensiun 2. Lampu pemberi tanda arah 3. Koran kita 4. Taman Kanak-kanak 6. Serupa, mirip 8. Sulit 9. Sejenis unggas 11. Manisan pisang 12. Alat menumbuk 13. Kota di Jawa Barat. SAL P SUF dila tabe men dan yan Sur mas sert Ko did Pol me ter da dit an (2 (23 Su it ya an pa ac te Su m ar ba be te N n F I I J J to J " d Se d b SE Р b