Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Bali Post
Tipe: Koran
Tanggal: 1989-08-19
Halaman: 04

Konten


2cm HALAMAN IV TAJUK RENCANA Masih Terbuka Peluang Memperjuangkan Pandangan SEJAK memasuki tahap Orde Baru, kita membuat sebuah tradisi baru yaitu mendengarkan pidato kenegaraan Kepala Negara secara tetap yakni dua kali dalam setahun. Yang pertama disampaikan oleh Kepala Negara pada awal tahun kalender, dalam bulan Januari, pada saat Kepala Negara menyampaikan RAPBN dan Nota Keuangan di depan DPR RI. Di depan forum yang sama, Kepala Negara menyampaikan laporan pertanggungjawabannya setiap tanggal 16 Agustus, dan itulah peristiwa kedua Kepala Negara berpidato di depan forum DPR dan juga ditujukan kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Kedua peristiwa itu kita catat sebagai momentum bersejarah karena sebelum itu tidak ada suatu tradisi melaporkan kebijaksanaan yang telah dijalankan dan disampaikan sendiri oleh Kepala Negara. Sebagai lazim- nya sebuah pidato kenegaraan yang isinya mempertanggungjawabkan kebijaksanaan yang telah dijalankan, sudah tentu ada banyak hal yang disinggung, yang meliputi seluruh aspek kehidupan bernegara. Dari sekian banyaknya aspek yang dilaporkan itu, ingin kita kaji satu dua hal yang menurut hemat kita merupakan jawaban resmi dari Kepala Negara terhadap isu yang berkembang dalam masyarakat akhir-akhir ini. Jawaban resmi Presiden tersebut memang telah pernah disampaikan pada kesempatan lain, misalnya ketika Presiden memberikan pengara- han kepada para anggota Legiun Veteran RI, atau kepada masyarakat Indonesia di Amerika Serikat ketika Kepala Negara berkunjung ke negara itu untuk menerima penghargaan dari PBB beberapa waktu lalu. Apa yang disampaikan oleh Kepala Negara itu juga mencerminkan apa yang terdapat dalam diri seorang demokrat yakni apa pun yang disampai- kan itu semuanya diendapkan, didiamkan untuk sementara untuk diper- timbangkan dan dikaji lebih jauh untuk menemukan jawaban atau jalan keluar yang paling tepat dari sekian banyak alternatif yang bisa muncul. Di depan Sidang Paripurna DPR di Jakarta, hari Rabu lalu, Presiden Soeharto menegaskan, tidak ada halangan bagi kekuatan sosial politik untuk memperjuangkan pandangannya tentang sistem pemilihan umum yang dianggapnya lebih baik dari pada sistem yang disepakati bangsa Indonesia sekarang ini. "Yang penting," menurut Kepala Negara, "adalah tercapainya konsen- sus nasional, yang nanti kita kukuhkan dengan undang-undang. Undang- undang, khususnya undang-undang pemilihan umum serta susunan De- wan (DPR) dan Majelis (MPR) telah disempurnakan dari waktu ke waktu dengan memperhatikan dinamika masyarakat dan proses kemajuan da- lam kehidupan politik serta demokrasi." thing grdnedenun Pemilihan umum mengawali penetapan GBHN yang merupakan mata rantai penting mekanisme kepemimpinan nasional dalam rangka pelak- sanaan UUD 1945. Beberapa waktu lalu, dimunculkan pemikiran yang menggugah perha- tian kita terhadap sistem pemilihan umum yang dilaksanakan di Indone- KALAU saja TVRI itu sebuah gallery, maka barang yang paling banyak dikoleksinya pastilah "barang kali". Setidak-tidaknya barang itulah yang paling banyak masuk ke studio TVRI Denpasar dalam acara temu wicara tanggal Agustus yang lalu. Tentu Anda dapat segera menerka maksudnya. "Barang kali" memang bukan saudara sepupu batu kali, pasir, atau yang sejenisnya. Lebih tepatnya, "barangkali" di sini adalah saudara kandung dari "mungkin", alias "tidak tahu pasti" alias "masih mereka-reka". Boleh jadi "barangkali" sekadar bum- bu pemanis dalam transaksi komunikasi agar orang tak mudah tersinggung, tetapi bisa juga suatu hara- pan yang selama ini tidak kesampaian. Bukan maksud tulisan ini un- tuk bermain kata-kata, apalagi hendak mengupas bahasa ko- munikasi. Hanya saja tampak nya memang ada korelasi khu- sus dari makna kata "barang kali" dengan mayoritas penda- pat, komentar, dan pertanyaan yang muncul dalam temu wi- cara di studio TVRI Denpasar yang sejuk itu. Keterbukaan yang Nyaman HAMPIR tak terasa, usia TVRI stasiun Denpasar sudah 11 tahun pada tanggal 16 Juli yang lalu. (TVRI pusat, tgl. 24 Agustus). Bagi manusia, usia 11 termasuk kanak-kanak yang menjelang remaja. Kata orang- orang bijak, justru pada umur- umur inilah perhatian ekstra sa- ngat diperlukan agar si anak tumbuh menjadi orang baik. Sebagai media informasi dan komunikasi milik pemerintah (baca: rakyat), TVRI tak luput dari proses biologis semacam Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan fotokopi identitas ar- Membaca Surat Pembaca Bali Post Rabu (2/8); saya baca ada dua masalah yang terangkat ke per- mukaan: yang satu tulisan Sdr. Made Suarta dan yang satu kirim- an dari Penyanggra Sulinggih Mpu Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Untuk tulisan Made ta, saya agak bingung membaca- nya terutama pertanyaannya ten- tang Larangan Tidak Boleh Nga- ben Selama 5 (Lima) Tahun? Saya perlu tahu, apakah kejadian ini terjadt pada Desa Anda di Bongka sa? Wah kalau benar demikian, kami sesama warga Kabupaten Badung amat terkejut! Setiap pri badi mempunyai kebenaran sendi- ri-sendiri bukan? Makanya saya coba mengacu dengan pendapat saya pribadi. Selama ini saya se- ring mengikuti ceramah dari Pari- sadha, atau Upanisad-Upanisad, kalau sedang melakukan semba- hyang bersama: Tidak Boleh Ngaben? Dalam kesempatan seperti itu saya pernah mendengar ceramah yang menyangkut Panca Yadnya dan terutama soal Ngaben yang berasal dari Kata NGABU, atau memperabukan Jenasah. Disana jelas diungkapkan oleh para pen- ceramah kata-kata sebagai ber- ikut: Layon tan wenang tinendem, Layon tan wenang tinetilin Toyan Panon, Sangsara Atmanne riwe- kas, Layon Wenag tineseng mang- de Ayu Nulus pemargin Atmanta. Dalam salah satu Keputusan Maha itu. Keunggulannya sebagai me- dia audio-visual yang mampu dengan tanpa ijin menerobos ke setiap rumah tangga, di sam- ping berdampak positip, juga mengundang banyak masalah. Ia berhadapan dengan berma- cam-ragam lapisan masyarakat, yang kaya ataupun miskin, yang berselera "tinggi" sampai lu mayan, yang rajin maupun yang pura-pura lupa bayar iuran teve. Lantas semua pemirsa ber- teriak-teriak menuntut pelaya- nan maksimal, lantaran merasa ikut memiliki media rakyat yang murah meriah ini. Itu syah dan wajar-wajar saja. Tapi bagi pengelola media ini, justru di situ permasalahan pokoknya. Rp 5.874.000,00 untuk Masjid Raya Ukhuwah Melayani masyarakat secara adil dan merata memang susah. Dimana-mana begitu. Apalagi bagi sebuah stasiun daerah se- perti TVRI Denpasar ini. Di samping sudah sarat dengan misi informasi pembangunan, ia berhadapan dengan kendala Bali Post menerima titipan sum- bangan untuk perbaikan dan per- luasan Masjid Raya Ukhuwah dari Jamaah Masjid Raya Ukhuwah Denpasar Rp 110.000,00. Jumlah sebelumnya Rp 5.764.000,00, Jum- lah seluruhnya Rp 5.874.000,00 Dari Temu Wicara di TVRI Denpasar: Barangkali,..... Barangkali dengan tayangan TVRI acap- kali bertolak belakang. Kenerja (performance) nya lebih sering normatif. Seorang peser- ta bahkan bertanya, apakah sukses itu merupakan suatu ma- salah sehingga begitu perlu di tampilkan berkali-kali? Pertanyaan itu masuk akal. Fatamorgana yang terlampau banyak kerapkali memabukkan dan bisa menimbulkan alergi. Dengan makin berkembangnya nalar kritis masyarakat, TVRI seyogyanya mulai berpikir un- tuk mencoba menayangkan hal- hal yang belum terungkap. Se- lama ini, TVRI cenderung me- makai asumsi lama bahwa nalar masyarakat masih sangat se- derhana. Pengungkapan masa- lah yang dianggap peka, betapa- pun obyektifnya, dikhawatir- kan justru akan menimbulkan masalah baru atau bisa mempe- runcing masalah yang sudah ada. Sabha Hindu Darma Pusat ad. "Sosial Adat" 1. Demi Kemurnian pelaksanaan Agama diserukan agar adat ja- ngan sampai menjadi penghambat pelaksana Agama. 2. Sepanjang adat dapat mene- gakkan pelaksanaan ajaran Aga- ma, hendaknya dipupuk sesuai de- ngan Desa, Kala, Patra (Pasa- muhan Agung Parisadha Hindu Dharma Pusat 21 s/d 24 Pebruari 1971 di Yogyakarta). Selanjutnya ada juga catatan pri- badi saya tentang pelaksanaan ati- wa-tiwa: Pelaksanaan atiwa-tiwal pembakaran mayat ditetapkan me- nurut ketentuan dalam "Yama Pu- rana Tatwa" bisa dilakukan da- lam waktu tujuh hari tanpa memi lih Dewasa. (Sejarah Parisadha Hindu Dharma 1970. 16, dan di- pertegas dalam Keputusan semi- nar/Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu XI, di Denpasar). Dalam Wira Caritra Barata Yudha, tak ada jenasah yang dita- nam, semua jenasah para pahla- wan perang dibakar, dan ini menu- rut petunjuk Bhagawan Besar "Bisma". Sekarang pun kita jum- pai kalau ada seseorang yang mati dari kaum Puri mayatnya toh ti- dak ditanam langsung dibakar, ini karena mereka mentaati ajaran Agama bukan? Apa bedanya de- ngan kita. Tidak ada bedanya saya kira, cuma selalu menurut ke- mampuan segi ekonomi karena me- nyangkut soal biaya, selebihnya sa- ma saja. sia, misalnya Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PB NU. Ia mengatakan pemilihan umum yang dilakukan sekarang di Indonesia lebih mencermin- kan pemilihan dari atas, dari pemerintah atau partai politik, dan bukan pemilihan dari bawah. Oleh karena dipilih dari atas, para anggota Dewan, menurut tokoh itu, lebih menyuarakan kepentingan hirarki yang meng- angkatnya, dari pada menyuarakan kepentingan rakyat pemilih. Kalau benar peraturan ini sudah kadung dibuat dan ditetapkan di Desa Sdr. Suarta, saya harap ma sih ada jalan keluar, untuk tidak merugikan pihak tertentu, atau ada pihak yang merasa dirugikan. apalagi ini menyangkut masalah Agama. Yakni sebelum Larangan Ngaben selama lima tahun tersebut diterapkan, mohon agar di sahkan oleh Parisadha Hindu Dharma Pu- sat, atau setidak-tidaknya mohon pertimbangan serta petunjuk Pari- Dari situasi yang dipandang sebagai kurang mencerminkan aspirasi masyarakat pemilih, diutarakan alternatif lain. Sistem perwakilan berim- bang yang kita jalankan sekarang, mempunyai landasan perimbangan antara jumlah kursi yang diperoleh oleh suatu golongan partai, sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya. Untuk keperluan ini ditentukan suatu perimbangan, misalnya 400.000 pemilihan mempunyai satu wakil dalam DPR. Kelemahan utama yang dipertikaikan yakni wakil terpilih merasa diri- nya lebih terikat pada partai atau kelompok berkuasa dibandingkan de- ngan kelompok pemilih, mau diarahkan menjadi pemilihan dengan sis- tem distrik, di mana masyarakat pemilih benar-benar memilih wakilnya secara langsung. Dari suatu daftar calon wakil, maka yang keluar seba- gai pemenang adalah calon yang memperoleh suara terbanyak. Diandai- kan bahwa calon terpilih dengan sistem distrik ini akan lebih dekat pada masyarakat karena merasa berutang budi kepada pemilihnya. Tentu saja kedua sistem itu dapat dikaji terus menerus untuk menemu- kan keunggulan dan kelemahannya masing-masing dan pada akhirnya dapat ditemukan suatu konsensus, yang mana paling cocok untuk di- jalankan. Bagi kita, kesempatan ini kiranya memberikan sesuatu yang bernilai yakni bahwa kehidupan demokrasi kita akan makin segar, makin dewasa dan makin kuat, sebagaimana diutarakan oleh Kepala Negara. Meskipun kekuatan sosial politik yang ada, Golkar, PPP, PDI dan ABRI merupakan wadah untuk menyalurkan pandangan-pandangan sema- cam itu, akan tetapi kemungkinan untuk itu tidak tertutup bagi siapa saja yang merasa terpanggil untuk menyumbangkan pemikirannya demi pe- nyempurnaan dan demi terwujudnya kehidupan demokrasi yang makin dewasa. Sumbangan pemikiran, sajauh menurut pertimbangan mempu- nyai bobot, sudah tentu merupakan perwujudan dari partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan bernegara. Sebagaimana telah terjadi pada waktu-waktu lalu, pemikiran yang berbobot semacam itu kiranya mendapat tempat dan peluang yang wajar karena memang memperkaya wawasan kita terhadap suatu masalah. Boleh jadi perkembangan pemikiran yang lebih luas dan dalam menge- nai pemilihan umum ini akan berhenti sampai di sini, karena menurut berita yang disajikan harian ini kemarin, ketiga kekuatan sosial politik yakni Golkar, PPP dan PDI telah sependapat bahwa sistem pemilihan umum sekarang tak perlu diubah karena sudah baik dan memadai. Bagi kita, sistem apa pun mempunyai keunggulan dan kelemahan. waktu penyiaran dalam posisi nya sebagai suplemen bagi TVRI stasiun Pusat Jakarta. Ja tah waktu siaran lokal, menurut kepala Stasiun (Kepsta) TVRI Denpasar Drs. Djamiris Nya- man, secara rerata baru sekitar dua jam setiap harinya. Bayang. kan, dalam waktu yang relatif singkat itu, ia harus menayang- kan empat materi pokok siaran, 29% berita dan penerangan, 20% pendidikan dan agama, 39% budaya dan hiburan, dan 12% berupa acara-acara penun- jang lainnya. Belum lagi soal ke- terbatasan studio, peralatan au- dio-visual, tenaga manusia dan keterampilannya, yg kesemua- nya konon berhulu pada ken- dala anggaran dan fasilitas. Namun kelebihan orang Indo- nesia konon pada daya juang- nya. Dalam serba keterbatasan toh orang masih bisa makan, bisa berkarya. Bagi TVRI Den- pasar, analogi itu setidak-, tidaknya berkaitan dengan u- payanya yang tak kenal lelah dalam meningkatkan pelaya- nan kepada masyarakat, baik untuk paket-paket siaran yang sudah berjalan maupun dalam pencarian idiom-idiom baru yang diharapkan bisa lebih pas mewakili aspirasi pemirsanya yang beragam. Secara jujur harus diakui bahwa TVRI stasiun Denpasar telah mengalami kemajuan yang lumayan, kalau dibanding. kan dengan masa satu dasawar- sa yang silam. Namun itulah, pembanding atau pesaing me- dia yang sederajat maupun pembanding kurun waktu seka- rang, masih langka, untuk tidak mengatakan tidak ada. Ini ber- sadha dalam penerapan dan pe- laksanaannya. Agar jangan Adat menghambat rasa bhakti umat dalam menjun- jung tinggi ajaran Agama. Jangan karena selera seseorang lalu buat peraturan seenaknya sendiri, dan tugas ini tertumpu kembali kepada Sdr. Made Suarta, tugas Anda ber- juang dalam menegakkan Dhar- ma, bukan hanya mengeluh dalam "Surat Pembaca"....Sekarang saya beralih bincang-bincang de- ngan Para Penyanggra Sulinggih Mpu: Spontanitas Anda dalam me- nyampaikan ucapan terima kasih kepada Yth: Bapak Ida Bagus Oka Punia Atmadja, amatlah baik, ka- rena seperti saya yang muda, tidak ikut dalam Maha Sabha IV Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, pa- da 29 Juli 1989 ybl. Disana secara jelas ditulis pengakuan seorang Warga Brahmana yang mewakili Pari Sada. Bahwa Warga Brah- mana yang ada di Bali adalah ber saudara (menyama) dengan War- ga Pasek. Kalau Bapak menyata- kan dada lapang, saya malah me- ledak saking gembira dan bahagia. jadi tegasnya sebenarnya Warga Brahmana dan Warga Pasek ada- lah menyama, mungkin nanti ada susulan yang lebih Progresif dan lebih berani bahwa semua warga adalah bersaudara/menyama. Sang Buddha Si Dartha Gautama: pembawa kebenaran sejati pernah bersabda: Kalau kita sering lewat di jalan Kamboja, maka sejak empat atau enam bulan lalu kita sudah mene- mui jalan di depan hotel Arya (per. tigaannya) tak terurus. Yang jelas jalan itu dulu dibongkar untuk ke- pentingan lain. Apa air minum atau telpon barangkali, saya juga sudah lupa. Sampai sekarang jal- an itu tidak pernah dipoles lagi, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. bahaya, karena bisa menyubur kan sifat cepat puas diri. Terlalu cepat merasa puas ada- lah musuh utama profesiona- lisme. Taruhlah keberhasilan TVRI stasiun Denpasar dalam meraih beberapa kali juara "gatra kencana". Atau soal representa- tivitas pemenuhan aspirasi mayoritas pemirsa. Sampai sekarang sulit men- cari ukuran yang paling pas un- tuk menyatakan efektivitas sua- tu media komunikasi. Oleh karena itu, dengan menyadari sangat relatifnya soal pemenu- han aspirasi pemirsa, langkah TVRI stasiun Denpasar untuk mengadakan temu wicara me-- rupakan langkah keterbukaan yang positip. Keterbukaan me- mang memberikan rasa nyaman seperti nama Kepstanya yang simpatik itu. Sekurang- kurangnya, uneg-uneg para pe- mirsa mendapat saluran yang tepat. 182 215 Tolonglah!. Jangan, kita hanya pintar membongkar, tetapi enggan memperbaiki. Budaya ini sungguh "Di Empat Penjuru Dunia, Dilima Samudera, Kita Adalah Bersauda- ra". Dapatkah sabda maha benar tersebut dibantah? Saya kira ja- wabnya tidak. Semoga pengertian bersaudara yang dimaksud bukan untuk kem- bang bibir saja, bukan untuk ber- manis-manis saja, melainkan un- tuk diterapkan dan dihayati seca- ra benar, karena dia lahir pada saat yang resmi dan sakral ada- nya. Selamat berjuang oh, Warga Brahmana dan Warga Pasek Sa- nak Sapta Rsi, semoga persau- daraan, saudara dapat menegak- kan Dharma dan Agama kita. Ni Luh Gede Adi Erawanti JI. Nusakambangan No.31 Denpasar Tidak Benar Menanggapi surat pembaca yang dimuat pada Bali Post Rabu, (26/7) dan Kamis, (10/8) dapat ka- mi jawab sebagai berikut: - Bahwa apa yang disampaikan adalah tidak benar - Selanjutnya bila saudara meng- inginkan jawaban/informasi yang lebih detail, saudara kami persila- kan menanyakan langsung kepada kami di Fakultas Ekonomi Univer- sitas Udayana. dal Jalan Depan Hotel Arya Rusak Dekan FE Unud Dra Komang Rastini Nip: 130356063 Bali Post kurang bijaksana. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu berlarut-larut, kalau semua kita sadar, akan arti penting pemba- ngunan dalam segala segi kehidup- an masyarakat. Sudah sering dibi- carakan soal KISS, namun bagai- mana pelaksanaannya, sudah tim- bul lagi istilah baru yang membi- ngungkan masyarakat. Semoga dapat segara ditinjau, sekaligus di- perbaiki. DPR Nama dan Alamat Diketahui Redaksi. saja menayang- kannya. Misalnya saja, menam- pilkan kegetiran dengan cara halus dan memperhalus slogan yang terlampau bombastis. De- ngan begitu, setidak-tidaknya, TVRI bisa mengurangi schizop- renia di kalangan masyarakat. Drama Gong, Fiksi Ilmiah Materi siaran adalah kelom. pok masalah kedua yang dilon- tarkan oleh peserta temu wi- cara. Di sini soal selera yang berbicara, dan karena itu agak sulit mencari titik temunya. Katakanlah mata acara drama gong (dari seksi siaran) yang menjadi favorit mayoritas ma- syarakat Bali. Seperti juga ke- toprak di Jawa, mata acara ini selalu ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Sesungguhnya, lewat drama gong, TVRI bisa berbuat lebih banyak dengan misi edukatif, kultural, dan informatif. Jadi ti- dak terlena oleh kepopuleran drama gong sebagai semata- mata sebuah hiburan segar. Se- belum masuk ke layar kaca, drama gong sudah populer de- ngan ribuan penggemarnya yang sangat fanatik. Lewat kaca ajaibnya, seharusnya TVRI ti- dak hanya sekadar memindah- kan tontonan panggung itu. Ber- sama-sama dengan kelompok kelompok drama gong, TVRI bisa berperan membentuk opini publik, atau meningkatkan as- pirasi para pemirsa penggemar kesenian rakyat itu sendiri. Lantas bagaimana dengan pe- mirsa yang kebetulan tidak ter- tarik dengan drama gong? Ke- pada merekapun seharusnya di- berikan porsi yang proporsio- nal, betapapun minoritasnya pemirsa jenis ini. risimua Kecuali film seri dan acara o- lah raga, mata acara nontradi- sional di layar kaca biasanya ti- dak mempunyai penggemar se- banyak drama gong. Taruhlah acara drama rumah tangga, yang sangat monoton dan ter- lalu kentara pesan sponsornya. Kurang populernya mata acara ini, selain disebabkan oleh le- mahnya kemampuan individual kelompok-kelompok penampil, mungkin juga karena cara pe- nyajiannya yang selalu konven- sional. stas Model tayangan eksperimen tal barangkali bisa mengatasi persoalan ini. Katakanlah suatu tayangan yang berbau fiksi il- EMPER WAL Oleh GLAN Iswara 9 Namun rasanya terlalu naif, dari kasanah musik tradisional atau yang eksperimental. Kede- ngarannya koq selalu dari kaset yang berjudul "space-music", dan seringkali kurang pas de ngan topik beritanya. Selain itu terasa ada kesan bahwa back- sound itu hanya sekadar tempe- lan. Setelah "cun" yang meng- gebu dan memikat perhatian, back-sound nya tiba-tiba patah begitu saja ditimpa narasi berita. Fatamorgana Secara konsepsional, orang bertanya soal realitas. Ini ke- kalau penonjolan faktor panu- lompok masalah pertama yang dilontarkan peserta temu wi- cara. Berbagai fakta, potensial maupun aktual, yang hidup dan berkembang di masyarakat. nampaknya belum terekam se- luruhnya dilayar kaca. Para pe- mirsa sering dihadapkan pada fatamorgana. Apa yang mereka hadapi sehari-hari, soal kemis- kinan, pengangguran, dan kege- tiran hidup lainnya tidak secara tuntas terwakilkan. Sebaliknya, potret diri mereka di layar laca kebanyakan soal keberhasilan. Kenyataan hidup tan semata-mata, merupakan a- lasan pokok bagi penayangan fi- gur sukses dengan frekuensi tinggi. Kegagalan adalah juga pengalaman berharga agar hi- dup tak selalu tersandung batu. Rasanya setiap orang sudah tahu bahwa hidup ini tidak se- lalu Kepsta TVRI sendiri menga- kui ke- Ada pula yang terasa lucu dari tayangan paket-paket beri- ta. Memang tidak ada salahnya menambah daya pikat artistik juga berkubang lumpur. Asal lompok pengisi acara yang ber- dalam tayangan-tayangan jur 3.000 Supir Ikut Mogok di Peru Lima- bobot, yang sesuai dengan kei- nginan peningkatan variasi dan mutu acara dari hari ke hari. Ke- lompok baru tidak banyak ber- tumbuh, sementara yang sudah profesional kelihatannya lebih tertarik mengisi acara di tem- pat lain. nalistik sebuah paket berita. Tapi yang terasa mengganggu a- dalah kurang konsekuennya ju- dul artistik dengan isi berita. Ada kecenderungan umum di kalangan jurnalis TVRI (daerah maupun pusat) untuk memakai per sherjudul-judul puitis dalam paket berita mereka. Misalnya saja, dalam acara NTN (Negeri Ter- cinta Nusantara). Judulnya sa- ngat puitis, itu sudah bagus, prolognya juga memikat, tapi lewat dari itu, ia tak lebih dari sebuah warta berita biasa. Agak sayang memang. Mestinya, isi paket berita bisa juga di trans- fer ke dalam bahasa puitis yang indah, hemat kata dan kaya makna, tanpa mengabaikan as- pek jurnalistiknya. Artinya misi berita tetap sampai secara utuh, tapi lebih padat dan memikat karena faktor artistiknya. Sebanyak 3.000 orang supir bis Kamis melakukan pemogo- kan selama dua puluh empat jam, sehingga menambah jum- lah ribuan pemogok lainnya yang telah duluan melakukan pemogokan untuk menuntut kenaikan gaji agar bisa seim- bang dengan inflasi yang kini membubung di negara itu. Pemogokan terakhir mereka di Lima tidak beroperasi di ja- lan-jalan, karena para supirnya menuntut kenaikan ongkos per penumpang sebanyak 10 sam- pai 15 sen. miah. Ini sejalan dengan per- kembangan scientific. technology. Tanpa menambah mata acara baru, tayangan fiksi ilmiah akan memperkaya kiner- ja (performance) mata acara non- tradisional yang sudah ada. De- ngan demikian, siaran pendidi- kan misalnya, tak akan mem- bosankan. Sedikit abstrak, asal- kan memikat. Kalau perlu de- ngan bantuan teknik animasi. Misalnya saja bak cerita Pino- kio yang masuk ke perut bina- tang, untuk menjelaskan hal- ikhwal hewan. Atau cerita per- temuan Gatotkaca dengan Flash Gordon, bekerja sama de- ngan TNI-AU, dalam menjelas- kan ikhwal ruang angkasa. De- ngan sedikit trick, saya yakin ke- rabat kerja TVRI Denpasar mampu melakukannya. Dengan begitu, studio TVRI tidak harus setiap hari dipenuhi oleh deko- rasi ruang tamu dan obrolan haha-hehe, atau oleh caption- board yang kaku. Lantas siapkah para pengisi acara (dari luar TVRI) dengan langkah-langkah inovasi itu? Ini memang salah satu kendala eks- ternal yang dihadapi TVRI. Se- lama ini ada kesan umum bah- wa bobot sebagian besar kelom- pok-kelompok penampil ini sa- ngat kurang. Ya pemainnya, ya skenarionya. Nampaknya TVRI tak punya pilihan lain. Begitu juga pemirsa. bukan sekadar masalah honor. Rasanya, faktor penyebabnya Dibanding media lain, TVRI memiliki kelebihan jangkauan distribusi siaran, yang katakan lah mampu memberikan insen- tif promosi gratis. Tentu ada faktor lain. Barangkali soal se- leksi yang terlampau ketat. Melunakkan prosedur dan persyaratan mungkin merupa- kan salah satu jalan keluarnya. Selain itu, pihak TVRI perlu le- bih aktif memburu pengisi a- cara yang berbobot. Bagi kelom- pok pengisi acara sendiri, aja- kan dan keterbukaan Kepsta perlu ditanggapi dengan upaya peningkatan kualitas agar tidak sekadar nampang di layar kaca. Dari Desa ke Desa Salah satu upaya hunting pengisi acara yang nampaknya cukup efektif dilakukan oleh kerabat kerja TVRI Denpasar, adalah pada mata acara "Dari Desa ke Desa". Ini mata acara dari seksi pemberitaan yang di- akui oleh sebagian peserta temu wicara, sebagai favorit. Lewat mata acara ini, pemirsa memperoleh informasi luas ten- tang pedesaan dan dialog. dialog spontan warga desa. De- ngan sedikit perbaikan pada teknik wawancara dan pengua- saan masalah, niscaya mata a- cara ini akan menjadi salah satu keunggulan komparatif bagi TVRI stasiun Denpasar. Namun tidak berarti bahwa seksi pemberitaan luput dari kelemahan-kelemahan. Soal li- putan berita, misalnya, masih sarat dengan bobot seremonial, gunting menggunting pita, lapo- ran pembukaan seminar atau peresmian proyek. Tayangan berita yang membeberkan fak- ta dengan agak lebih menda- lam, masih langka. Lalu soal porsi pemberitaan menurut sek- tor, yang kerapkali terjebak da- lam, hutan belantara sub-sektor atau kasus-kasus kecil. Hubu- ngan-hubungan integral dengan sektor-sektor yang lebih besar nampaknya belum mengandal kan skema komprehensif. Taruhlah di bidang ekonomi. Tiang utama perekonomian Bali tidak hanya sektor pariwisata, tapi juga pertanian dan industri kecil. Ketiga-tiganya mempu- nyai sub-sub sektor yang saling mengait. Kaitan-kaitan itulah yang seringkali terasa lepas a- tau terlupakan ketika TVRI Denpasar menyorot kasus per kasus kecil. Dan saking sema- ngatnya menyorot satu kasus tertentu, entah disadari atau ti dak, terjadi pengulangan dalam penayangan nara sumber yang sama pada hari dan paket berita yang berbeda dengan komentar yang itu-itu juga. KRITIK, ASPIRASI, TUNTUTAN Soal piranti musik latar bela- kang (back-sound) nampaknya juga merupakan masalah. Ini juga terjadi pada tayangan pa- ket berita dari TVRI stasiun Pu- sat Jakarta. Kelihatannya TVRI kekurangan koleksi back-sound, atau tidak secara aktif mencari Dapur Belakang Rasanya kurang adil hanya mengulas kekurangan kerabat kerja TVRI tanpa mengusik da- pur belakang mereka. Kedang. kalan suatu paket berita misal- nya, lebih disebabkan oleh ku- rangnya referensi. Berbagai artikel, publikasi data statistik, maupun buku acuan, kalau dimanfaatkan, pasti akan lebih meningkatkan kualitas berita. Kalau memang ada u- paya kearah itu, konsekuensi- nya TVRI berita. Kalau me- mang ada upaya kearah itu, konsekuensinya TVRI mesti menyediakan fasilitas perpus- takaan. Menurut informasi, fa- silitas ini belum ada. Setidak- tidaknya, sebuah perpustakaan akan memudahkan kerja kera- bat pemberitaan. Hanya saja timbul persoalan, apakah kerabat kerja TVRI a- kan mempunyai cukup waktu untuk memanfaatkan fasilitas tersebut? Sebagaimana warta- wan pada umumnya, jurnalis TVRI juga dihadapkan pada dead line yang sangat mendesak. Proses kerja mereka bukan lagi soal hari, tapi menit dan detik. Di samping itu, studio dan per- angkat keras lainnya masih ter- batas, dan harus antre mema- kainya. Dengan kondisi sema- cam itu mereka, termasuk kera- bat kerja di seksi siaran dan tek- nik, terpaksa harus bekerja siang dan malam. Acapkali, sampai pukul dua dini hari, baik untuk rekaman siaran maupun editing berita. Setelah itu, me- PEMERINTAH WED reka adalah pegawai negeri bia- sa dengan aturan jam kantor yang ketat, pukul delapan pagi sampai pukul tiga sore. Ini tentu melelahkan. Akan tetapi alasan itu tidak boleh mengendurkan usaha pe- ningkatan kualitas. Itu memang resiko bekerja di TVRI. Hanya saja pihak pimpinan perlu men- carikan jalan keluar atas masa- lah manusiawi ini. Daya tahan manusia ada batasnya. Apabila titik jenuh telah tercapai, akan sukar sekali mengharapkan pe- ningkatan kualitas. Barangkali sudah saatnya meninjau kem- bali frekuensi dan kuantitas pa- ket-paket siaran, sehingga in- tensitas kerja yang terlalu ting- gi tidak malahan mengorban- kan mutu. SABTU, 19 AGUSTUS 1989 Lain kali lebih Baik Kiranya tak berlebihan un- tuk mengatakan temu wicara TVRI tanggal 8 Agustus itu se- bagai langkah tanggap yang menjanjikan harapan besar bagi pemirsanya. Sekalipun TVRI Denpasar sudah sering melakukan evaluasi melalui ra- pat badan perencana siarannya, konon dengan perdebatan yang kental juga, uneg-uneg para pe- mirsa sangat esensial untuk di- dengarkan. Hanya saja untuk temu wi- cara temu wicara selanjutnya, penyelenggaraannya agar di- lakukan per tahap menurut re- levansi pembicara dengan jenis mata acara pokok. Misalnya hari ini dengan pemirsa yang berkiprah di bidang seni dan hi- Anggota dewan transportasi Kota Lima, Oswaldo Moran mencap pemogokan tersebut se- bagai "aksi pemerasan" penum- pang, yang tidak diberitahukan terlebih dahulu mengenai pe- mogokan itu. "Kami tidak akan tunduk pada tekanan," kata Moran, dan ia bertekad untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pemogok. Pemogokan oleh para supir di Lima ini berlangsung dalam hari keempat pemogokan oleh TUSUARIA SOETHAMA buran, lusa dengan tokoh-tokoh agama, pendidikan, wartawan, dan seterusnya. Ambillah misal- nya, maksimal lima kali temu wicara setiap tahun. Selain itu, para pemirsa yang diundang harus lebih selektif dan representatif. Jangan sam- pai misalnya, yang diundang baru aktif menonton teve sete- lah menerima undangan atau bahkan tidak pernah bersedia (pura-pura) menonton acara TVRI sama sekali. Dari unda- ngan semacam ini akan sulit mengharapkan masukan yang. berbobot dan konstruktif, kare- na pengamatan mereka sepo- tong-sepotong. Akhirnya, segenap masukan yang sudah disumbangkan da- lam temu wicara kali ini hen- daknya tidak berlalu begitu saja seperti nasib surat pem- baca untuk TVRI, di koran- koran, yang jarang ditanggapi." Betapapun awamnya pemirsa a- kan teknik pertelevisian, setiap pendapat mereka adalah cer- min dari rasa cinta dan sense of belonging pada TVRI-nya. Oleh karena itu, tak boleh diabaikan. Tapi yakinlah, kerabat kerja TVRI sudah, sedang, dan akan terus berupaya. Hanya perlu di- ingat bahwa upaya yang terlam- pau rutin kadangkala tak meng- hasilkan terobosan baru, sema- cam inovasi. "Siaran hari ini le- bih baik dari kemarin, dan sia- ran besok harus lebih baik dari hari ini" pasti tidak sekadar motto TVRI. Siaran lusa mesti- nya lebih mewakili aspirasi pe- mirsa. ribuan pekerja tambang, yang menuntut perundingan tingkat nasional, bukan pembicaraan antarpertambangan. Masyarakat pertambangan dan minyak nasional serta men- teri tenaga kerja Orestes Rodri- guez mengatakan bahwa pe- mogokan tersebut hanya berpe- ngaruh pada 30 dari 57 perusa- haan pertambangan terbesar. Tetapi Jorge Quezada, sekre- taris jenderal federasi nasional pekerja tambang dan pabrik lo- gam, yang menyerukan pe- mogokan tersebut, menyebut- kan bahwa 80 persen dari jum- lah seluruhnya 70.000 orang pe- kerja tambang di Peru mogok kerja. Juga ikut melakukan pe- mogokan kerja sebanyak 30.000 orang pekerja bank dan dokter- dokter di rumah sakit rumah sakit umum. Dikatakan bahwa pemogokan ini dilakukan karena berku- rangnya daya beli gaji mereka, sebagai akibat membubungnya kenaikan inflasi. Tahun lalu inf- lasi mencapai 5.500 persen. (Ant/Upi). Catatan Menurut Ketua Umum DPP Golkar, Wahono, sistem Pemilu kini tak perlu diubah. - Jelas sudah sukses untuk Golkar. ★★★ Prof. DR Mohamad Sadli mengatakan, dari sekian banyak uang yang mengalir masuk Indonesia dari luar negeri, yang terbanyak ialah uang warga negara Indonesia yang "melan- cong" ke mancanegara. Rupanya uang Indonesia bersikap: setinggi-tinggi ter- bangnya bangau pulangnya ke kubangan juga. ★★★ "Apabila ada dugaan bahwa Presiden merestui seseorang menjadi ketua umum PPP, hal itu tidak ada," kata Mendag- ri Rudini. Mungkin PPP perlu menyadari ada isu-isu yang tidak mempersatukan. Bang Podjok SABTU, 19 AGUS Menjelang K Wisat Mem Kupang (Bali Pos Wisatawan man ibu kota Kabupa Paus, Oktober. K NTT, Drs. Pieter L dapat mencapai nun wisa can Ma dah Kup ger NTT. Pada kurun te mere mampu menye satawan, sedangka hanya 1.155. Meskipun demik mengkhawatirkan k mar losmen bakal ta dengan arus wisat but. "Untuk luar ne ta khawatir demiki kalau ditambah d jungan domestik," Kepada Bali Post, (18/8) Djoka meng menerima laporan tang kemungkinan wisatawan "Mestinya kita har arus laporan dari cabang cepatnya," tukasny Ia pun mengaku j BERLANGG BALI PO PENGAD LANGGA PASANG I DI NT HUBUNGI : Bali P Jl. Ahmad Y Tlp. 211- Kupang D Mar Tiva Cuku Bali P Kenali dan Nikma SMETICS Viva Bali F Viva COSMETICS Viva Ⓡ COSMETICS Color Rendition Chart