Tipe: Koran
Tanggal: 1994-09-18
Halaman: 08
Konten
Color Rendition Chart 4cm 2cm melahirkan tara kesusteraan dan ke-kuasaan tidak manan. sebuah dialog luncuran buku yang seimbang tapi menjadi se- tuduhan yang akhir ancaman ter- memang nya seperti meminta **** adanya bisa Pemda lain saya selain geguritan pada seniman. yang tentu saja di luar posisi (pa bukan tidak CATATAN BUDAYA Mana Komik Kita? tentunya. gup. tersebut. juga masih mentar: kecuali dilatih. Kota pan buah ini. Itu huan. mentereng donesia Indonesia ADA ironisme yang dikandung Tegal. Ketika seniman-senimannya berkeinginan pulang membenahi lenggarakan kegiatan yang sifat- kreativitas diri dan daerahnya karena lebih sering ke luar kota pada saat yang sama mereka menghadapi nya informal dari keinformalan TAK sedikit yang pantas di- yang biasa dilakukan seniman Te- catat dalam dampak kasus pembacaan puisi penyair Solo yang dinilai vokal dan verbal pada saat peluncuran antologi gal. Membangun rumah-rumah 1994. Dari Negeri Poci 2 - yang Dari Negeri Poci 2 tanggal 27 Agustus lalu. sastra nampaknya solusi yang se- berlangsung 25 sampai 28 Agus- gera direalisir dari sekadar ber tus lalu. Sebuah forum penyair Sebaliknya gerakan kita yang dibebankan lebih besar. OLEH: SURIALI ANDI KUSTOMO kita prediksikan bakal mengha Melihat kondisi dan situasi de- andai-andai tentang sikap Pemda yang murah sekaligus menghadang kece- tenda-tenda perkemahan dapi kendala perijinan misalnya, mikian sebenarnya para seniman masan yang didramatisir. di desa Tidak perlu ditanya apakah hat sekali pada beberapa orang dapat menjadi sesuatu yang bi- Tegal tidak perlu malu menun- berdampak atau tidak yang pasti yang tidak hadir, beberapa ko asa-biasa saja tanpa memiliki jukan kecemasan itu. Bahwa me- Peristiwa pembacaan puisi oleh ketika pihak Pemda merasa ters- mentar tentang kondisi psikologis pengaruh apa-apa terhadap ke- reka harus lebih waspada ada lah penyair Solo barangkali salah inggung dan meminta keterangan tiga Pemda terhadap kesenian yang pentingan Pemda. Artinya ke- reaksi yang paling mungkin dan satu moment pembuka interaksi pada panitia dan beberapa pe- Rupanya situasi alam, fasilitas sepertinya takut akan kehilangan harus dioff-derecord-kan, nama nyair Tegal jelas ini akan mem- khawatiran yang kita munculkan beralasan. Sebab kecemasan men- langsung antara seniman Tegal seadanya tak mengurangi antu- ketokohannya, tergusur bawa kebijaksanaan yang selama publikasi dan kecemasan awal takan sendiri. yang tidak mau disebut dalam hanya sebuah rasa yang kita cip- jadi syah ketika pergesekan an- dengan Pemda serta pihak kea- sias para penyair dari berbagai hadiran Poci. Moment resmi saat pe- ini kondusif bakal diperketat. diperbolehkan tidaknya kegiatan Apalagi kita tahu stabilitas akan positif tersebut. Walaupun akhir diidap mereka yang untuk sosial Kecemasan yang paling konkrit menjadi kata kunci yang tidak bi- nya terbukti tidak ada sesuatu isasi karyanya harus dipentaskan tumpuk antologi sa ditawar-tawar lagi. yang melarangnya hingga acara atau dipanggungkan di hadapan dirasakan menjadi Kekhawatiran beberapa orang berakhir. publik secara langsung. Mereka hadap status-quo. yang mengharu ras bukan hal baru di Tegal hanya tra ya dalam kegiatan Mauludan Bu- para cerpenis, penyair, untuk se- Kita tentu sependapat bahwa sekali lagi moment tersebut me- daya yang diadakan Kamar Bu- di Tegal. Semangat bersastra di Kalau boleh saya simpulkan mentara bisa mensosialisasikan paranoidisme yang dimiliki pen- mang bisa menguntung kan pi- kalangan penyair ini nampaknya situasi yang kini menggayuti Te- lewat media massa cetak yang je- daya Teater Sedar Tegal, 6 Sep- guasa tidak mengindap pada para hak-pihak tertentu. menjadi satu perjuangan yang tember lalu, semakin jelas gal dalam kerangka politik kese- las tak bersentuhan dengan ke- seniman, Bila ini terjadi yang di- Dari pengalaman ini sebenar tak kalah pentingnya kecemasan itu. Padahal yang me- nian tidaklah menentu, pihak pentingan Pemda. Tapi bagi para rugikan bukan saja kreator tapi nya dimanfaatkan oleh seni- juangan-perjuangan yang reka hadiri hanyalah sebuah belum memberikan kete- teaterawan atau forum yang akan juga masyarakat. Kreativitas man Tegal untuk lebih berani ke- atasnamakan mauludan dengan formalitas gasan sikap. Sehingga para seni- menyelenggarakan pementasan karena lebih dikaitkan dengan man hanya menduga-duga teka- atau presentasi karya melalui fo- tanpa kita memperoleh solusi panggung. Apalagi beberapa seni- kan, yang mengisi udara di ham- akan mengendor bahkan mandek timbang menyurutkan ke luar yang sekarang ramai digembor muda, munculnya nama budaya. Bahkan menurut teki yang akhirnya menjebak rum bersama dimana dibutuhkan yang pasti dan jitu. Bila para seni- ngan segala bentuk kekuasaan Hassan sebagai penyandang dana buhan dunia puisi !" ucap Bu man Tegal menyakini peristiwa pir seluruh riuh hari-hari kita. nya, mereka ingin melegitimasi memiliki nilai lebih karena mereka pada sikap menunggu. perijinan dari Sospol, Kepolisian man masuk dalam perangkap pa- tersebut tidak bakal berpengaruh Perjuangan itu bisa ditilik diri dihadapan penyair-penyair dalam penerbitan buku Dari Pratiwi kecut, di tengah siang pembacaan ayat suci, ceramah Memang konsekuensi yang diba- dan Depdikbud pasti akan me- ranoidisme yang sama maka kita sekali pada iklim kesenian yang seperti dedikasi penyair Sum- muda se - Tanah Air. Dengan cara Negeri Poci 2' tak lepas dari tu yang panas, yang diantara para Maulud, juga dibacakan puisi, cer- yar bisa sangat mahal dalam kon- rasakan dampaknya secara lang telah masuk jerat konditioning telah dibentuk Tegal selama ini. bawa, Dinullah Rayes yang men- itu mereka ingin jadi 'dewa'. Ingin dingan itu, bahwa di balik Pratiwi penyair lain, hanya ialah yang di- pen, naskah drama, disi seperti ini. Maksud baik bisa sung. Minimal mereka mengha- yang diproduksi pihak keamanan. Pembuktian pendapat ini sangat jual kudanya untuk ongkos ke Te- menjadi juru selamat yang me berkegiatan sastra, dan dengan payungi, tetaplah ia merasa ger- dapi pensensoran lebih ketat dan istilah mereka menjadi penyair ah. Tetapi sebagai eksekutif, pen- Dalam posisi tak menentu se- diperlukan untuk menguji apa- Jambi Acep Syahril nebus dosa kemiskinan para pe dan forum ramah tamah antar membawa kita mungkin tanggung- perti sekarang ini memang yang kah benar pihak keamanan ter- ling) sulit harus lebih dulu ngamen puisi nyair muda itu. Tudingan dan kagetan hal itu tidak lepas dari Kecemasan itu misalnya terli- perkiraan kita. jawab menjaga keamanan pun lebih efektif adalah tetap menye- pengaruh. Sehingga dalam waktu dari sampai ke restoran un- yang tidak lama kita bisa melihat tuk bisa dapat duit dan hadir di gambaran gamblang sikap dan perkemahan penyair. Dari Palem- kebijakan Pemda Tegal. bang pengakuan Maka sayang sekali jika acara an dengan segala fasilitas gambar Pembacaan Puisi Tunggal penyair melego-cincin emas satu-satunya Radhar Panca Dahana 17 Sep- milik sang istri. Penyair dan nov- SENI rupa, banyak diartikan perkembangan seni rupa kita Ternyata mereka tidak sang- tember harus dirumahkan tidak elis Darman Moenir harus ter- Dari semua ini apakah akhir di forum terbuka. Kenapa sikap saruk-saruk selama 3 hari per- orang semata-mata sebagai seni sampai sekarang, tertinggal jauh. nya pemerintah harus campur positif kita terhadap Pemda tidak jalanan dari Padang, kendati di lukis saja. Padahal,istilah seni ru- Ini menurut Jim juga karena di- Komik luar negeri terpampang pa itu macam-macam. Walau di antara kita sendiri ada kecen- tangan? Semisal tiap penerbitan kita wujudkan lewat kegiatan Padang ada acara keluarga - ia OLEH: HARPIN R megah di toko-toko buku besar atau plaza-plaza. Komik lokal ter memilih untuk ke kemah penyair dalam pemahaman tradisional, derungan untuk menyamakan sekian judul komik asing harus pojok di kaki lima (kalau tam, siapa itu Doraemon." Tam- pertanyaan. Apakah penerbit diimbangi sekian komik lokal. mengutamakan 'komik impor? Tapi sepertinya hal itu juga bu- melakukan bargaining position Solo, yang sangat percaya bahwa dalam wujud kostum/pakaian pendapat namun justru mem- Barangkali sudah saatnya kita Poci. Lantas Wiji Thukul penyair seni rupa seringkali muncul bunu pendapat yang berbeda ada), salah siapa? bahnya. "Gundala? Nggak pernah ada Atau memang komikus lokal yang kan jalan keluar baik, dan me- dengan pihak Pemda daripada puisi mampu menggugah ke- yang berwarna-warni. Yang se- sekaligus menonjolkan pendapat menunggu yang tak jelas kapan sadaran manusia, kendati harus lain jadi media komunikasi sendiri. Akibatnya, tentu memu- Sekarang bukan jaman Go- yang nyari, tuh!" Jawab seorang malas atau kehabisan ide? Yan Mintaraga seorang ko- Selera baca awam dan kreatifitas berakhirnya. Bukan kita membu- bersitegang dengan pembawa sekaligus untuk menunjukkan nculkan discourse. Dan karena ngundang permasalahan lain. dam, Maya atau Gundala. Per- pemilik taman bacaan di Sagan, mikus kuat kita pernah berko- komikus toh tak bisa dipaksakan, ka front atau berdialog di Balai acara, yang menyuruhnya turun, derajat pemakaiannya. belum selesai diperdebatkan, ma- caya tidak? Berkeliling sepanjang Yogyakarta. saat Thukul nekad baca puisi Dewasa ini, peminat karya ka sampai sekarang juga belum taman bacaan yang juga markas tapi lewat aktivitas yang ki- Komik, yang bahasa Jepang- yang bikin merah telinga waliko- senin khususnya seni rupa terus sampai pada pemahaman yang besar tokoh-tokoh' ini susah kita nya manga, konon di negeri 'ma- Mungkin kita harus banyak ta gelar secara terbuka. "Kemunculan komik-komik a- Harus diakui selama ini posisi ta, Wakapolres, dan Dandim yang meningkat. Tetapi menurut kri- mendasar. jumpai. Paling satu-dua taman tahari terbit' itu telah digunakan sing itu, memang sempat mengka berlatih dalam banyak hal. Si U- saat Parade baca puisi dan pelun- bacaan" bisa kita dapat menyim- sebagai wadah ilmu pengeta- watirkan. Dengan dandanan nyil sendiri sudah terlupakan. Di seniman Tegal berhadapan de- tikus seni rupa Jim Supangkat pun mengungkapkan ngan Pemda tidak jelas, kalau curan DNP 2' ikut hadir. Yang dalam dialog seni rupa Berbagai perkembangan rupa kita karya Hasmi Buku buku ilmiah diter- bikin hati komikus In- televisi acara menarik adalah tidak dikatakan lemah. Kita tak dalam Dunia Seni Ru- gejala paradoksal. Dan pun sudah terlilit debu tahunan bitkan dalam bentuk komik. Di si- pu memberi baju demikian ge ter atau Renegade (bukan Re- memiliki saluran yang jelas pula pandangan Pak Walikota bukan pa Indonesia, sayangnya kadar menilai karya-karya pelukis minder. Siapa yang mam- Ksatria Baja Hitam, Tai Chi Mas- atau rombeng sana-sini. ni komik masih merupakan sa- merlapan pada seniman komik negede). Sementara di bioskop hingga keinginan seniman Tegal termasuk puisi yang baik. Karena apresiasi itu masih pada aspek Ardiyanto- diskusi diseleng- Sekarang jamannya Takeshi rana penghilang stres habis ujian menurut Pak Walikota puisi itu kecantikan permukaan. Sehing- Maekawa-bos' Kungfu Boy dan atau pengisi waktu luang saat lokal? Tentu harus penerbit be- tidak beda jauh. Mainan anak memiliki gedung yang represen- hanya berisi puji-pujian terhadap ga, mereka belum melihat karya sar. Tapi sayang, penerbit besar yang favorit pun bukan lagi con- tatif untuk pentas tak pernah Break Shot atau Akira Toriyama libur. Beberapa orang tua dan gu- alam, dan hal-hal yang seni secara mendalam, pada umumnya tak pernah tahu kalau klang dan 'sahabat-sahabatnya'. digubris. dedengkot Dragon Ball. Kar- ru malah berkeluh konsentrasi baik belaka. kadar maknanya. ya-karya komik berbau suike belajar atau prestasi anak didik di "Akibatnya, yang dibicarakan Nampaknya dunia kepenyair atau oriental macam Tapak Sakti menurun sebab kebanyakan baca an memang sebuah dunia yang pun masih sesuai tidaknya den- dan Tiger Wong (yang kabarnya komik, Hebatnya lagi, komik ini identik dengan kemiskinan, ro- gan interior ruangan, bukan mantisme mendapatkan pembe- kadar maknanya. Padahal de- sampai ratusan jilid) terpampang tidak hanya bikin repot anak- megah di plaza-plaza, etalase ka- anak karena fanatismenya, Iwan sarannya tersendiri, idealisme wasa ini semestinya melihat ⚫ca dan setiap taman bacaan. seorang murid SMA malah me- dikunyah-kunyah sampai ke ser- karya seni rupa dari kadar mak- nganggarkan bulanan Rp 50.000,- at-seratnya, sehingga tak sedikit nanya," tandas Jim Supangkat untuk langganan komik kolek- yang tersisa untuk melihat sesu- dalam diskusi di Ardiyanto sinya, karena saat ini banyak Gallery, pekan lalu. atu dengan kebeningan jiwa. judul baru bermunculan. Itu saja Mengapa orang masih melihat masih kurang, tambahnya. "Ko- pada aspek kecantikan per- mik Indonesia? Apa ada?" Tanya- mukaan? nya. Dan jangan heran komik karya orang kita' akhirnya mung- kin harus ikut jejak 'saudaranya' di filem-menjadi tamu di ne- geri sendiri. MINGGU KLIWON 18 SEPTEMBER 1994 (12 BAKDAMULUD 1927) DARI PERKEMAHAN PENYAIR POCI: "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 Seniman Tegal Dalam Kecemasan Ribut Rebutan Legitimasi NURHIDAYAT POSO MINGGU KLIWON 18 SEP Meneng OLEH: 'Festival Baca Puisi ta meriah. Di tengah OLEH: paranoid. Mereka beberapa hunjatan dari beberapa penyair orang yang mengaku telah menja- muda yang bak kuda binal itu variasi promosi bisnis belaka. Mereka yang dulu sering ber keluh kesah. Tentang langkanya para pengusaha yang tidak mau mendanai dan membantu kehidu- pan kesenian, di mana para pen- penyair ga kampungan gigil dingin dalam tamparan gin pantai yang Muararedja, menggigit. sebuah per berbagai dan nelayan. Di bawah pai Tegal menjadi ekspos besar yang an- besaran di berbagai media massa dan dalam tahun terakhir ini, lalui oleh ke- menguntungkan untuk perhatian. Pembacaan Dari Negeri Ploci 2 itu dengan puisi yang ke- Poci2'- dengan semangat pelosok gal. Lebih negeri dari 80 penyair dari 45 ini datang ke Te- kekuasaan. Bahwa grup Mereka Poci itu rata-rata punya pu jika yang penyair Indonesia yang masuk dalam buku Negeri nya jaringan media, besar. punya Tetapi duit, kata punya bersas- apa penyair Tegal yang biru tumpah itu: - sebagai penyair mereka sengit menghidupi Tegal dengan terus merebak. Bahwa dengan gusaha lebih tertarik untuk men- kegiatan kesenian. Sam- iming-iming buku maha tebal, subsidi kegiatan olahraga. Ketika orang berusaha untuk mem- penerbitan, me image nasional. Kenapa jalan reka ribut-ribut mencurigainya dengan berbagai macam tudin- pendekatan terhadap para sastrawan yang andal ? Seba- gan. Yang tidak pernah diper- birokrat dan pengusaha ? Sebab, hatikan oleh mereka bahwa sebe pertama yang mereka narnya tetapratiwi Hassan un- dari seorang beber- Hari Semarang, yang celakanya tuk membantu menzakati kegiat mengirim dan puisinya dianto an kesenian sastra, yang dalam gat logikan di Negeri Poci itu, dengan ukuran dompet Pratiwi sangat menggu- tidak berarti apa-apa tetapi bagi kehilangan basis kepenyairan- mengeram: kedewaan me reka akan menguap. Seperti buih pertumbuhan sastra Poci itu te nya. tap penting kehadirannya. di pantai Tegal. Beberapa penyair dari luar ko- dari per- ta juga memunculkan riak kasak- "Saya memang penyair kage- Nampaknya hunjatan-hun- meng- kusuk baru yang tak kalah sengit- jatan terus berlangsung, kecuri- tan. Tetapi apakah tidak ada nya dengan para penyair muda gaan yang mendalam mengakar celah lain bahwa saya punya niat pembangunan, ai penyair baik sebagai penyair kagetan, sekelompok penyair-p ada akan memberikan gengsi bantu mendanai yang mereka tempuh tidak me liknya mereka melibatkan para pilih, kata salah seorang penyair gal Penyair Bersambung hal 9 pasar Jim tentu saja puisi Thukul Problema dalam Tuhan, Gundala? Godam? Beberapa anak yang punya agenda ke be- berapa taman bacaan mengeleng bingung ditanya perihal tokoh komik yang pernah melagenda ini. "Padahal dulu, langit-langit Yogya seperti berbau Gundala. Setiap anak, dari yang kecil pun tahu siapa itu Gundala atau Go- dam." Kata Primanto, Dewan Pe- nyunting majalah Busos. "Tetapi sekarang mereka lebih tahu siapa itu Ksatria Raja Hi- Sebab Ini akhirnya juga mengundang TANGGAPAN TULISAN MARWANTO: ki lima. Komik Kecemasan yang mewarnai ik- sebenarya juga ada Memang semua harus ikut per- lim berkesenian di Tegal sebe- penggambar komik, yang bisa kembangan jaman. Yang usang mati diganti baru. Tapi Si Doel narnya sangat manusiawi sekali Dari semua itu lalu realitasnya pun punya versi baru sebagai dan tidak perlu ditutup-tutupi. seperti komikus luar negeri itu. nampak goncang. Pasar komik Anak Sekolahan, kabayan toh Persoalannya kita mau menung- bisa turun kota dan semua ma- gu dengan keyakinan kondisi se- lokal dan luar negeri lalu ter- sih menggemari. Mengapa Gun- perti itu sifatnya sangat temporer pisah. Komik lokal terpojok di ka- dala tidak bisa lahir kembali dan. atau melawan kecemasan itu de- luar negeri ter- pampang megah di toko-toko bu Petruk-Gareng atau kisah Ga- ngan aktivitas pentas secara ter- totkaca harus hanya bisa jadi mi- buka seperti biasanya. ku besar atau plaza-plaza." Sementara itu Arswendo At- lik masa lalu? Sehingga harus ter- mowiloto (sebelum kasus Moni- pojok di kakilima (itu pun kalau tor) yang merupakan 'orang kuat masih ada) sedangkan komik luar negeri terpampang megah di pada penerbitan besar pernah co- ba mengumpulkan seniman lokal. Mereka ditantang bila sanggup menghasilkan karya-karya secara kontiniu seandainya mereka di- tempatkan dalam sebuah ruang- toko-toko buku besar a* Dilarang adalah konsekuensi yang logis ketika kesenian ber- hadapan dengan kekuasaan. Tapi bila pelarangan itu belum terbuk- ti lantas kita menjadi takut inilah plaza- yang harus kita cemaskan! plaza. Apakah kita yan, masih harus berlatih dalam kreatifitas untuk kontinuitas? Tunggu saja. (Suriali Andi Kurtomo, ,seorang penyair Tegal).b. -b. Frans Kebudayaan Lokal Yang Terperangkap 'Arus Besar' BAGAIMANAKAH kita mesti memetakan pertumbuhan kese- nian di banyak daerah (pinggiran) yang sepertinya menemukan ke- gairahan, sebagaimana yang me- rembes melalui media massa? Pertanyaan semacam ini seper- tinya menjadi penting untuk meli- hat berbagai kegiatan budaya yang dikatakan oleh Marwanto (KRM, 11 September 1994), bah- wa apa yang dinamakan kebu- dayaan lokal sedang ingin diakui eksistensinya. Bahkan perbinca- ngan dalam dunia kesusastraan kita, belakangan ini juga mencoba rakan-gerakan pinggiran' yang melihat apa yang dinamakan 'ge- hendak melihat secara kritis do- satunya sarana komunikasi pen- minasi media massa sebagai satu- sebagaimana ciptaan sastra Revitalisasi Sastra Pedalaman. Atau dinamika provinsial atau domestik kekuatan-kekuatan yang lebih bersifat geografis se- dapatkan legitimasinya' melalui perti Tegal yang kemudian men- suplement majalah sastra dan Bu- daya Horison Agustus 1994 ini. Apakah kita melihat fenomena itu sebagai situasi dinamis kegiatan yang pada akhirnya menjadi performence atau melalui brand name yang hendak membe- dakan diri dari yang lainnya? Atau mesti mencermati terlebih' dahulu muatan nilai estetis yang hendak ditawarkannya meski ini semua pada akhirnya tergan- tung kepentingan apa dan siapa dan dari mana kita memulai ka- jiannya? Kebutuhan-kebutuhan Lokal Bahwa terlebih dahulu kita mesti menyadari adanya kebu- tuhan-kebutuhan lokal yang ber beda-beda antar daerah, akan mendapatkan bahwa tingkatan urgensi persoalan yang dihadapi juga berlainan. Juga, penyelesai an atas kebutuhan dan persoalan itu pun menjadi berbeda-beda. Tetapi apakah memang itu me- mang terlihat? Pada detailnya, barangkali iya. Tetapi ketika ia muncul kepermukaan, dalam hal ini media massa yang telah me lakukan 'pembesaran' (satu yang mesti dicermati dengan kritis), ki- ta melihat bahwa peristiwa-peris- tiwa yang terjadi pada akhirnya terlihat sebagai sebuah trend yang mewabah. Perdebatan me ngenai perlunya adanya Dewan Kesenian di tiap daerah, saya kira menunjukkan adanya arus infor- masi yang dibawa melewati wila yah-wilayah geografis. Dan ini menunjukkan, seringkali, peristi- wa di satu daerah sesungguhnya 'ditentukan' oleh satu isu atau trend yang berkembang yang yang lebih banyak berada di kota- mana lebih sering dimulai oleh pusat-pusat legitimasi, apa pun, nya kantung-kantung budaya Apakah kebutuhan akan ada kota besar. digulirkan oleh para pekerja di tas kesusastraan untuk mulai daerah ataukah karena adanya kesadaran para pemegang otori- membuka diri terhadap publik dan membinanya? Lihatlah, kan- tong-kantong budaya itu pun pa- da akhirnya juga didominasi oleh isu yang diciptakan para 'orang kota semacam Studio Oncor, Teater Dalam Gang Tuti Indra Malaon atau Gorong-gorong Bu- daya atau Bengkel Teater Rendra di Depok. Meski Rendra telah menepi di pinggiran kota, ia ha nya melakukan mobilitas ge- ografis saja-karena publik dan spirit yang dibawa masih saja kaum urban'. Apa yang ditegaskan Afrizal Malna mengenai 'revolusi kota' dapat menjelaskan, bahwa se adalah orang kota juga (Kompas, sungguhnya, para penyair itu 11 September 1994). Lalu bagai- mana fenomena kebudayaan lokal yang dijelaskan oleh Marwanto dapat menjelaskan posisinya waran terhadap grand-narasi dalam melakukan tawaran-ta- yang dibawa oleh kesenian mod- maksud dengan sastra Tegal, mi- ern Indonesia? Apakah yang di- salnya, adalah sebuah otentisitas yang mesti dilihat secara lain dibanding arus besar kesusas- traan Indonesia, yang dalam per- puisian didominasi oleh lirisisme? Ataukah sastra Tegal, ternyata tak beda dengan tradisi yang dibangun oleh sastra Indonesia itu sendiri? Dalam bahasa Nir- wan Dewanto, apa yang dina- makan sastra pinggiran atau p OLEH: AGUS NOOR Beni Setia, maka sesungguhnya kegelisan itu lebih banyak diba- yangi keinginan masuk ke dalam arus besar kesusastraan Indone- sia. Saya juga sering mendapati pe- mentasan-pementasan teater di banyak daerah mulai meyakini idiologi berteater' ala Teater SAE, yang oleh Viddy AD, disebut Afrizalian setelah orientasi pen- ciptaan dan pemanggungan mere- Rendra atau Arifin C Noer, juga ka mengarah pada Putu Wijaya, daya mengkemas isu aktual seperti Teater Koma. Kalau begitu, apakah memang kegiatan-kegiatan kesenian lokal atau kebudayaan lokal menurut Marwanto itu dapat diharapkan sebagai counter subculture? Keyakinan dan Orientasi akhirnya peristiwa kesenian lokal Memang, kalau pun pada mengarah pada arus besar kesen- han; kalau memang hal itulah ian tadi, semua itu bukan kesala- yang menjadi orientasi. Bahwa lokalisme pada akhirnya hanya menjadi ruang-ruang tempat ting gal para pekerja kesenian, tetapi tidak menghalangi keinginan me- reka untuk 'turut ambil bagian' dalam dinamika kesenian besar, arus yang dibawa kesenian mod- ern Indonesia. Tetapi, itu berarti, apa yang di- namakan sebagai dinamika kebu- dayaan lokal bukan sebuah usaha untuk melakukan atau menum- buhkan keyakinan bahwa dalam berkesenian pluralisme mesti di- tumbuhkan untuk melihat keber- agaman nilai-nilai, bahwa esteti- ka bersifat kentekstual, bahwa tak ada kebenaran absolut dalam seni, tak ada 'acuan tunggal' da- lam penciptaan. Dengan begitu, peristiwa kebu- dayaan lokal dalam pengertian Marwanto, hanya bagian' dari de- sain besar kebudayaan makro. Tidak menjadi icon yang mem- perkaya, tetapi pernik-pernik ke- cil yang gampang dilupakan. Orientasi yang tergantung di daerah akan memperjelas dalam setiap peristiwa kesenian lakukan oleh para seniman-seni- apakah yang sesungguhnya di- man itu. Orientasi itu pula yang secara kritis hegemoni yang telah akan membuat mereka melihat terlanjur mereka yakini selama tiap kreatifitas 'ditentukan' oleh ini, bahwa karya sastra atau se- generasi yang telah terlebih dulu mapan. Kita boleh memberontak, atau masuk saja ke dalamnya dengan impian-impian yang sama: se- moga menjadi besar! -k. SP Jim Supangkat: Perkembangan nyair Anwar Putra Bayu, in rela Seni Rupa Kita Tertinggal Jauh Demikian muncul dari forum penyair Poci. juga gugatan yang Mereka seperti mencurigai ada nya tendensi terselubung yang bersifat bisnis di balik peluncuran buku 'Dari Negeri Poci. Seniman- seniman Tegal merasa tradisi bersastra mereka terjajah dengan munculnya gerakan Poci yang di- pandegani Handrawan Nadesul bass, drum, gitar. Karena itu, man Tegal dengan munculnya. Cs. Kekhawatiran beberapa seni- Sambungan hal 6 saya tak mau meninggalkan dan- Poci yang akan menjadi tradisi se- tiap tahun, disinyalir akan men- gdut sampai kapan pun. Kepuasan sebagai musisi dang- empatkan mereka menjadi hero dut, dikenyam pula oleh Frans baru di Tegal. SP. Salah satunya, mengadakan pertunjukan dangdut Kemanusi- aan dua tahun berturut-turut. "Kami pun punya solidaritas, se- hingga begitu ada korban ben- cana kami langsung mengadakan amal. (Fredo)-b. show Kecurigaan dan tudingan itu kadang terasa naif, para seniman Tegal seperti hanya melihat bah- wa legitimasi itu hal yang paling substantif dalam berkesenian. Ketakutan yang berlebih itu menyeruak menyerupai penderi- Memang, Jim mengakui bila wacana tentang hal-hal mendasar dalam seni rupa kita, relatif sulit diamati. Karena pendapat dan pandangan dalam seni rupa kita, terlalu ekspresif dan tidak siap berkembang ke diskusi. Bahkan menurut kritikus seni rupa terse- but, wacana pelbagai aspek seni rupa dan kebudayaan yang muncul di tahun 1930-an hingga 1950-an, belum diskusikan. "Melalui polemik ataupun penulisan, semua itu belum banyak bergeser. Walau kita pada kenyataan telah melampaui berbagai perubahan besar," tan- das Jim Supangkat. selesai di- Akibat semua itu bila dikaji, kecenderungan Jim Supangkat. (KR-Franz) berfikir yang diakui, semua gejala itu termasuk paradoksal atau tidak masuk akal. Meski pada kenyataan, tidak pernah sesung- guhnya para pengamat men- dasarkan pengamatannya pada epistemologi (cara berfikir) ini ser ta menilai pelbagai gejala dalam seni rupa yang ada sebagai 'yang tidak masuk akal. Sebab ada ikatan dengan sejumlah realitas yang mungkin tidak jelas acuan- nya-yang membuat kita lebih suka menunda penilaian dengan risiko menghadapi pelbagai hal dalam seni rupa kita sebagai su- garakan berkaitan dengan HUT ke-50Ardiyanto, menurut Jim Supangkat seperti mengadaptasi sebagian besar masalah dalam seni rupa kita yang belum selesai diperdebatkan dan belum sampai pada pemahaman yang men- dasar. Misalnya, masih diper- tanyakan kedudukan citra kein- dahan yang berkaitan dengan bingkai acuan tradisional, masih ambivalen penilaian dan sikap ki- ta terhadap kedekoratifan. Pada- hal menurut Jim, citra kedekorat- ifan yang merupakan kecen- derungan terbesar dalam seni lukis Indonesia, sekitar 70 persen. Selain itu, melukis ekspresif yang juga merupakan arus besar dalam perkembangan seni rupa kita masih belum mendapat pembah- Ini semua diakui Jim ada kai- san secara mendasar. Dan masih tan dengan dominasi pemikiran dilematisnya kaitan antara kera- jinan dengan apa yang disebut modernisme. Artinya, kita tidak seni murni. melihat ada perangkat pikiran "Ini semua menujukkan dan dalam modernisme yang dapat di- menandakan bila wacana seni ru- gunakan untuk mengenal sejum- pa dalam perkembangan seni ru- pa kita masih sangat labil. Terda- pat jarak antara pemahaman yang terikat citra definitif yang juga tidak terlampau jelas, den- gan realitas dalam perkemban- ga," tandas Jim Supangkat. Karenanya, mengikuti cara atu dilema. lah realitas dalam Pe- seni rupa. rubahan besar dengan muncul- nya postmodernisme membangk- itkan keberanian untuk memban- gun pemikiran baru, untuk men- genali pelbagai gejala seni rupa yang selama ini diidentifikasi dan terasa paradoksal. (Fsy)-t. Membangkitkan Gairah Sastra di Cilacap CATATAN: NANANG ANNA NOOR Banyumas (Purwokerto), orang akan lebih mengenal kota Ajibarang sebagai daerah yang banyak menciptakan grengseng sastra dan teater. Dan mungkin di Cilacap, kota Kroya lebih dulu Novelis mampu memompa semangat menghidup-hidupi dunia sastra dan teater. Asumsi ini cukup be- pak akhir-akhir ini. Sebuah ralasan dengan realita yang nam- wadah yang menampung pemi- teater bernama "Meditasi Potlot nat, pecinta dan seniman sastra Berwarna misalnya, telah lahir beberapa tahun lalu. Kelompok yang dipusatkan di kota Kroya dan KENDATI tanpa kehadiran Horison Hamsad Redaktur Rangkuti dan Sutradara Suryat- na Airun, diskusi sastra yang dis- elenggarakan Forum Dialog Sas- tra Budaya Cilacap 11 September lalu cukup gayeng. Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari dan penyair Mustofa Hasyim yang hadir pada acara tersebut mampu memberi nuansa diskusi menjadi menarik. berlangsung di aula SMA Negeri Selain diskusi, acara yang juga ditampilkan Dramatisasi Puisi dan pemba- 1 Cilacap caan puisi oleh para siswa-siswi merupakan moment untuk yang SMA tersebut. Barangkali ini pertamakali di kota Cilacap terse Seperti diketahui banyak penga- lenggara acara semacam ini. mat dan peminat sastra dan teater di wilayah Banyumas, un- tuk kota Cilacap sendiri sebagai ibukota kabupaten sangat miskin pagelaran sejenis. Sebagaimana Kabupaten penyair Badrudin Emce ini mencoba dikomandani menggali kreativitas dengan takan iklim berkesenian di kota berbagai pengolahan dan mencip- tersebut. Sebelumnya juga telah lahir Igranidya Club di kota tersebut. Sebuah wadah yang banyak men- ciptakan rangsangan bagi pemi- nat tulis menulis, termasuk sas- dalaman itu sekedar perpanjanOntran Ontran bok-mbok bakul di ruang-ruang kopi di gelas mereka belum habis. gan tangan' dari sastra Indonesia itu sendiri. Kegelisahan Apa? Usaha untuk menjelaskan ada- nya 'perpanjangan tangan' itu, di- karenakan mobilitas yang di- lakukan oleh para pekerja seni di daerah adalah 'menuju pusat- pusat' itu sendiri. Pusat-pusat yang sering mereka kutuki, mere- ka berontaki dan mereka tolak dengan isu desentralisasi. Karenanya, gerak desentrali- sasi hanya menyangkut wilayah dimana mereka tinggal, tetapi tidak pada basis penciptaan. Apa- kah karena ini, maka Beni Setia lebih melihat gejala perlawanan seperti yang dilakukan oleh Ke- lompok Revitalisasi Sastra Pe- dalaman sekedar 'kebutuhan un- tuk tampil', bukan kesadaran un- tuk menciptakan alternatif basis penciptaan. Cerpen-cerpen yang dimuat dalam jurnal kelompok itu memperlihatkan bahwa mereka juga mewarisi tradisi Putu Wi- jaya, Danarto atau Satyagraha Hoerip, sampai pada generasi sas- tra koran semacam Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho. Pa- dahal ada kesadaran bahwa sas- tra pun bisa (lebih efektif) mela- kukan komunikasi langsung de- karena mereka senang memba- ngan audien, dengan publik pe- cakannya secara langsung di de- nikmatnya (baca: pendengar lisan sebagai basis penceritaan pan publik). Tetapi, tradisi sastra tidak teroptimalkan. Cerpen-cer- sandar pada kekuasaan gaya ber- pen seperti karya Tan Tjin Siong, Mamat atawa Cung masih ber- Dengan menyetujui dugaan cerita sastra tulis. CERPEN: JOKO PURWANTO !" Nolo Demikian pula dengan orang- menukas tegas, hingga membuat orang lain, yang jumlahnya mung dua orang lawan berdebatnya kin mencapai sejuta orang. Mere- "TIDAK mungkin membunuh Pangeran Anom ada narnya pembunuh Pangeran tersentak. "Menurutku, yang ka sah saja menebak siapa sebe- lah Adipati Brojogeni!" sambung Anom, sosok fiktif yang kini jadi Subandi dan Ngadiran geleng- Dari sudut warung makan, seper- geleng kepala. Tidak sependapat ti yang kini dipakai berdebat No- buah bibir di sembarang tempat. nya, yakin sekali. dengan Nolo. Tentu saja karena lo, Subandi dan Ngadiran, sampai mereka punya telakan tersendiri. di pasar-pasar yang melibatkan kuliah yang hasiswa, di kantor-kantor, di cak- ruk ronda, bahkan di dalam ka- mar tidur di mana suami-istri berdebat berat gara-gara tebakan mereka berbeda. Demam ketoprak sayembara kali ini memang luar biasa. Tak ubahnya virus yang menyebar lu- as dalam waktu bersamaan, den- gan perantara layar kaca televisi. Edan! Benar-benar mewabah di segala tempat. Apakah itu pertan- da orang kembali menyukai ke- senian ketoprak? Wong Jawa kem bali Njawani? Atau lakon yang yang memang menarik? Atau, jus- diracik sang pengarang cerita, tru hadiahnya yang waaah itu, yang jadi daya tarik utama? Nolo tak hendak bertele-tele tentang nya adalah mencari jawaban pal- semua itu. Yang terpenting bagi Dan. ing jitu. itu adalah Adipati Bro- jogeni!" tandasnya lagi. "Logikanya gimana sih, Lo?" tanya Subandi. "Kamu kan masih ingat salah satu adegan pada seri pertama tiga minggu yang lalu. Ketika itu, Adipati Brojogeni menandaskan perlunya kadipaten Lodaya men- jadi besar, makmur dan kuat. itu sebenarnya hanya Nah isyarat. Brojogeni tidak puas seu mur hidup cuma menjadi adipati yang diperintah raja. Ia sendiri in keraton Punjer Bantala, Nolo gin menjadi raja. Ingin menguasai memaparkan jalan pikirannya. sayembara, yang kali ini men- Perbincangan seputar ketoprak gangkat judul Ontran-Ontran Punjer Bantala tampaknya belum akan berakhir, selama wedang "Brojogeni sesungguhnya bero- tak brilian. Ia cermat sekali dalam bertindak. Langkah demi langkah diperhitungkan masak- masak. Pokoknya, tak kalah de- ngan cara berpikir seorang grand master catur," sambung Nolo be- rapi-api. "Salah satu bukti sudah terlihat. Yakni dengan mem- bunuh Pangeran Anofn yang ten- gah berbulan madu. Pembunuhan yang rapi, tanpa meninggalkan bukti. Lantas, janda sang Panger- an, Putri Ayu Mayang tentu ter- guncang hatinya. Brojogeni kelak pasti menawarkan jasa untuk tri, yang nyaris senewen akibat memulihkan kesadaran sang Pu- shock itu. Padahal, ia bermaksud mengawini Putri Ayu Mayang. Sebab, ia tahu sang Putri adalah pusaka Manggar Kencana. Brojo- pewaris sah dan pemilik cundrik geni tahu dari gurunya, bahwa pemilik cundrik pusaka itu ada- lah baboning raja, yang kelak menurunkan para raja. Itu sebabnya Brojogeni memi- lih membunuh Pangeran Anom, sang putera mahkota. Bukannya membunuh raja. Ia sadar, tak ada untungnya membunuh raja. Re- sikonya jauh lebih besar. Kalau raja mangkat, Pangeran Anom- lah yang menggantikan duduk di tahta. Seterusnya, anak keturu nan Pangeran Anom dari Putri Ayu Mayang yang akan jadi raja. Brojogeni sendiri tak pun- ya kesempatan merebut kekua Nah. saan. Lain halnya jika Pangeran Anom yang mati. Brojogeni bisa memiliki baboning raja. Sudah bisa bermimpi bakal menurunkan para raja. Bahkan, jika perlu ia tra di dalamnya. Kelompok teater ternyata juga banyak lahir di kota yang berada paling timur ini. Musti diakui acara-acara yang berbau sastra dan teater, karuan saja lebih banyak dipusatkan di Kroya. Dengan munculnya se- buah forum dialog sastra budaya yang berada di pusat kota kabu- paten, diharapkan akan mampu memeriahkan khususnya dan kesenian pada umumnya. dunia sastra Terlepas dari persoalan yang muncul ketika berlangsung dialog sastra 11 September lalu, dimana persoalan klasik berupa isu keter- pencilan sastra yang jadi perbin- cangan, menarik adalah keberan- ian para penggagas lahirnya fo- rum tersebut. Ini barangkali merupakan point tersendiri bagi tanggung jawab mereka yang merasa mencintai dan memiliki seni sastra sebagai bagian dari hidupnya. Tidak lain harapan para pekerja yang tergabung dalam forum tersebut adalah menciptakan kesusastraan yang memasyarakat. Keberanian ini ditumbuhkem- bangkan, tentu dengan berbagai musti terus pengolahan, pengembaraan dan mencipta wawasan yang lebih lu- as perihal dunia sastra dan atau seni lainnya. Pembicaraan tentang sastra dan atau apresiasi sastra di negeri ini, mungkin dapat disim- pulkan bahwa sastra Indonesia atau sastra pada umumnya tidak diapresiasikan ke tengah-tengah masyarakat secara memadai. Be- berapa faktor yang mempen- garuhinya antara lain sistim pen- didikan dan sistim sosial yang ku- rang mendukung. Juga sastra yang tengah menjadi 'korban' anggapan bahwa dalam negara yang sedang membangun ini, sas- tra menjadi mahluk yang mampu menciptakan kegelisahan masya- rakat, bahkan menakutkan atau pembawa bahaya. Sebagai contoh dari kondisi semacam ini adalah banyaknya karya sastra Indone- sia di luar negeri yang dijadikan buku teks, tetapi di Indonesia tidak beredar tidak diapresi- asikan. Di masa datang nampaknya belum bisa disebut lebih baik, per- ihal apresiasi sastra di negeri ini. Karena masyarakat merasa asing terhadap sastra, tanpa sastra toh tidak apa-apa, tak ada perasaan kurang atau kehilangan dalam hidupnya. Leon Agusta menyebut, masalah ini cukup mudah untuk membalikkan kesalahan kepada sastra itu sendiri, bahwa karya sastra tidak komunikatif. Namun jika ada sastrawan yang berusaha untuk menyajikan karya yang memang komunikatif, kenyataan yang muncul kemudian adalah sastrawan tersebut sudah terje- bak dan apa yang dihasilkannya tidak berarti apa-apa bagi dunia seni sastra itu sendiri. Hanya sas- trawan atau penyair yang betul- betul lengkap peralatan intelek- tualnya, didukung oleh bakat yang hebat yang dapat meloloskan diri dari jebakan tersebut. (Republika 11/8/93). Suatu hal yang tidak mustahil Cilacap mampu menjadi wilayah budaya yang punya ciri khas tersendiri. Ini mulai nampak pa- da beberapa puisi milik penyair Cilacap, seperti Sutarno Djayadi- atma, Badrudin Emce dan Abasu- ki Balasik yang bernuansa pantai dan kehidupannya. Jika ada sebutan penyair negeri Poci (Te- gal), penyair kota kripik (Purwok- erto), kenapa tidak, Cilacap pun- ya penyair Pantai Selatan. Setidaknya ada beberapa kelompok pecinta seni di Cilacap yang mau bareng-bareng mencip takan greget berkesenian seperti Yang datang belakangan, pun ka pemotongan yang cuma ce- Paguyuban pecinta sastra Medi- menyambung bicara masih dalam ngengesan. Maunya serius. Dan tasi Potlot Berwarna, Iqranidya topik yang sama. Nolo siap berdebat dengan segala Club, Forum Dialog sastra Bu- "Rasanya, bukan Adipati Brojo- argumentasinya. daya dan Sanggar Naviri (seni- geni yang membunuh Pangeran Tapi, Lo. Kamu lupa tentang man sastra dan tari) serta bebera- Anom," celetuk berani Endul, karakter masing-masing tokoh," pa kelompok teater yang akhir- yang berada di luar warung dan ujar Ngadiran serius. "Brojogeni, akhir ini mulai bermunculan. hanya melongokkan kepala lewat misalnya. Ia seorang sakti, ja- Upaya lain dalam rangka mem- jendela. bisa nggege mangsa, menying- kirkan raja, untuk kemudian ia naik tahta!" Nolo lega sekali. Otak-atiknya yang begitu logis su- dah ia paparkan. "Lho ?!" Nolo meliriknya, siap berdebat keras. "Dia sendiri bilang, tak pernah melakukan tindak kejahatan. Apalagi pembunuhan. Ia me- ngaku tiyang sae pada saya." "Apa sih maksudmu, Ndul?" mah Lik Wiryo, pemeran Adipati "Kemarin saya datang ke ru- Brojogeni. Rumahnya kidul teteg Gambiran sana. Dan ia bilang... " "Rupamu...Ndul!" potong No- lo, tahu kalau Endul cuma ce- ngengesan. Keruan saja semua mendengar ikut tertawa. Kecuali Nolo. "Ra caturan!" potong Nolo de- ngan nada meninggi. ha...ha. Woalah.... "Ha. Brojogeni Brojogenj!" Endul terus melangkah pergi. Sebenarnyalah, Nolo tidak su- anya tampak dominan sekali. Ka- bangkitkan dunia sastra khusus- goan, dan jantan. Sifat kesatri- nya dan kesenian pada umumnya lain, pasti dilakukan secara te- lau ia ingin menyingkirkan tokoh di Cilacap adalah menciptakan hubungan yang dialogis antara rang-terangan. Bertarung men- seniman dan pemerintah. Tidak gadu kesaktian, dengan segala re- bisa diabaikan pula adalah per- sikonya. Jika ia menang, ya na- manya lagi beruntung. Sean- dainya kalah, ya nasib lagi apes," tandas Ngadiran, melihat celah kelemahan argumentasi Nolo. Nolo tidak terima dibantah, sekalipun hatinya mengakui alpa dalam mengamati karakter tokoh Brojogeni. "Mmm... tapi, siapa tahu ia termasuk orang yang punya kepribadian ganda? Suatu saat, ia pedulikan Nolo yang kadung be- tan. Tapi, untuk hal-hal tertentu Tampaknya, Endul tidak mem- muncul sebagai kesatria yang jan- ia licik dan licin?" rapi-api bicara. Endul masih saja membanyol. "Ah, tidak mungkin, Subandi angkat bicara, dukung bantahan Ngadiran hadap Nolo. "Woalah Nolo just like yes- yes. Kaya iyak-iyaka," Endul men- ertawakan Nolo. "Soal rahasia cerita itu, kan sepenuhnya berada di tangan si pengarang cerita. la bisa saja mengolah semaunya. Sesuai dengan logika yang kamu paparkan, bisa juga. Tapi, melen- ceng dari itu, pun bisa. Malahan, bukan mustahil bakal terjungkir jungkir, kejeglong!" anan media masa dalam upaya publikasi. Dalam hal ini seniman dan pekerja seni Cilacap tak segan-segan melibatkan insan pers atau penulis dalam setiap kegiatan yang diadakan. Salah satu kelemahan penye- lenggaraan diskusi sastra 11 Sep- tember lalu diantaranya ku- rangnya sosialisasi pihak penye- untuk melibatkan mere- lenggara ka. Juga komunikasi dan dengan be- kesenian banyak peminat sastra berapa organisasi ada di Cilacap Banyumas, yang ak- ibatnya Lo!" diluar daerah yang tak hadir. Na- men- mun perlu ter- buah mu- "Mungkin saja. Aku yakin se- kali itu." "Mustahil, Lo!" "Amat mungkin!" "Mustahil!" Perdebatan berkembang men- jadi perjanjian. Yakni, masing- Bersambung hal 9 dimaklumi sebagai se- kelompok yang masih da, penyelenggaraan diskusi sas- tra pertengahan september lalu merupakan uji coba bagi mereka. Yang diharapkan adalah tidak terjadi. Sekali Sesudah itu Mati. Penulis adalah mahasiswa, penyair dan peminat masalah kesenian.-b. Salahsatu adegan dalam PURWOREJO memen banyak tradisi yang hingga karang masih diuri-uri dar sangga bersama oleh masyam pendukungnya dan menjad macam ritual yang pelaksar nya rutin, tergantung dari p masyarakat tujuan dukungnya itu sendiri. Ma berjanji berkel nya yaitu: al kep arak-arakan dan sebagainya. Arak-arakan, secara etime berasal dari kata 'arak' merupakan kata dasar dari garak', 'perarakan', yang be juga pawai, karnaval, perjal keliling dengan diikuti ba orang. Arak-arakan ini di berragam barisan. Barisan p awal diisi oleh regu semaca leg, maksudnya, orang-ora dalamnya adalah orang-e yang biasanya mengikuti ta ndolalak/ebleg/jaran Antara bercerita bahwa dirinya as gadis yang terlunta-lunta menjadi gelandangan h jatuh ke pelukan Andre: O gan Niki ini tentu saja s menyebar bak virus di ling Andre. gan tempat wisata itu. Yang kena getahnya tent Banyak orang men gap Andre sebagai bandot yang suka daun muda. A yang belum tahu duduk ma nya punya masalah sendi dikejar-kejar seorang janda Padahal Andre send Diana. dah Isabel, punya kekasih di Paris, Pacar Niki, Ben, tentu sa suka pada Andre. Maka Be berniat mencelakakan A Ben sudah hampir menyi kan Andre. Justru Niki yan kebingungan. Niki tak mu meninggalkan Andre demi ma Ben. Niki lantas mem khilaf dan minta maaf pada nya. Ontran Ontran masing tetap pada tebaka Dan mereka siap mengirim ban sebanyak mungkin. I siapa pun diantara keti yang beruntung dapat ha akan dibagi tiga sama rata! .!" Nolo man "Akur manggut. "Cuma, kalian sia saja mengucapkan banyak kepadaku ya?!" kasih Lo!" timpal "Tampaknya bakalan tem Ngadiran. Mendadak, dari luar je Endul nyambung lagi. Tem pemuda itu tidak pergi jaul tinya, masih bisa ngupin cakapan Nolo dan dua kawa "Nolo .!" ujar Endul. geni nggak seperti kamu. rang yang jantan, perwira licik dan licin kan kamu se sambungnya langsung nyep "Kamu ini mengoceh ap Ndul?" "Ngaku saja hayooo...!" seraya menuding Nolo. "Cob pa yang jail mengganggu ist da Pakde Jairun? Kamu s kan? Tapi, kamu cari kamb tam. Kamu bilang Barot yang mau kurangajar. yang menyebarkan kaba kan? Sampai Barotoseno dit lengi Pakde Jairun...!" "Kamu memang setan gu ul...!" Nolo sontak melemp belah sandalnya melewati j ke arah Endul. Yang jadi sa lari ngibrit. *** Subandi dan Ngadiran jut, manakala mengetah datangan Nolo. Pasalnya, Nolo tampak bercak biru k han. Bahkan, jidatnya dim perban kecil. "Kau... kau kenapa, L lidik Şubandi terkejut. "Jangan tanya dulu. In malah bagianmu. Plak...I plak!" usai bicara menampar wajah Subar kali. Adegan. Sambungan hal 6 sangan seperti layaknya ganti sikat gigi. Dan mer runyamnya, tak pernah m di soal kehidupan seks Seakan kehidupan seks oke-oke saja. Padahal, ka lik betul, kehidupan seks tis Hollywood itu normal saja. Bahkan tak sedik frustrasi. Tapi kehidup yang frustrasi ini tak m bisa diekspose. Kenapa? PH diketahui khalayak, bis sistem mitos yang dibang lywood. Karena tak usa kalau aktris-aktris dina cam Sharon Stone, Dem Kim Basinger, Shannen Julia Roberts, dan set kian hari bayarannya kia halkan oleh Hollywood. ini kan esensi dari demi ala Hollywood. (Mus
