Tipe: Koran
Tanggal: 1995-11-11
Halaman: 02
Konten
YUDUA Tajuk Menjelang KTT APEC Di Osaka Pertemua Para Pemimpin Ekonomi Asia-Pasifik (AELM) akan berlangsung lima hari lagi, yaitu tanggal 19 Nopember 1995. Tahun lalu AELM yang semula dikenal sebagai KTT APEC berlangsung di Bogor. Banyak titik-temu berhasil dicapai di Bogor, tetapi juga ada masalah-masalah yang memerlukan pembahasan lebih lanjut agar yang dicapai hasil yang memuaskan. Dalam pada itu, muncul beberapa masalah yang bukan baru, tetapi menjadi lebih menonjol di Osaka nanti. SABTU, 11 NOVEMBER 1995 Pertikaian ekonomi antara Amerika Serikat dengan Jepang dan kurang manisnya hubungan AS dengan Cina tentu bisa membuat pertemuan Osaka tidak akan begitu lancar. Tetapitampaknya terjadi perkembangan yang sedikit membaik, yaitu berlangsungnya pertemuan antara Presiden Clinton dengan Presiden Cina Jiang Zemin di New York bulan lalu. Sementara hubungan AS-Cina mengalami sedikit perbaikan. Menjelang pertemuan di Osaka itu, dua kali pertemuan pejabat tingkat tinggi telah dilangsungkan.Bulan April 95 lalu pertemuan tersebut berlangsung di Singapura. Dalam pertemuan itu para pejabat tinggi negara-negara Asia- Pasifik telah mulai meletakkan landasan bagi perdagangan bebas dantarif diantara negara-negara anggota APEC yang akan diterapkan sebelum tahun 2020. Disepakati, rencana tindakan atau aksi harus berlandaskan pada prinsip bagi perdagangan bebas, persetujuan mengenai liberalisasi perdagangan dan cara-cara penerapannya. Rencana tindakan itu juga harus mencakup usaha untuk menggalang kerjasama ekonomi di kalangan negara-ne- gara anggota APEC guna menjamin agar liberalisasi perda- gangan berjalan dengan lancar. Lebih jauh lagi, bahkan sudah dicapai konsensus mengenai penyingkiran rintangan- rintangan tarif, yang waktunya akan ditetapkan dalam KTT APEC di Osaka nanti. Apa yang dicapai di Singapura itu, menurut pihak Jepang yang menjadi penyelenggara pertemuan Osaka merupakan suatu dobrakan penting. Seberapa jauh dobrakan itu akan membuat KTT Osaka bisa berjalan lancar dan mulus, tentu masih menjadi pertanyaan. Sebagaimana diketahui, KTT APEC di Bogor tahun lalu telah menyepakati suatu rangka kerja bagi perda- gangan bebas diantara 18 negara anggotanya. Disepakati pula, bahwa penerapan perdagangan dan penanaman modal yang bebas serta terbuka paling lambat diterapkan tahun 2020. Tetapi penerapannya di negara-negara industri maju disepakati 10 tahun lebih awal, tahun 2010. Kesepakatan KTT APEC di Bogor ini dicapai dalam si- dang yang dihadiri para pemimpin ekonomi dari Australia, Brunei Darussalam, Canada, Chili, Cina, Hongkong, Indone- sia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Pilipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat Kesepakatan yang dicapai di Singapura pekan lalu itu memang merupakan dobrakan penting. Dalam KTT APEC di Bogor meskipun telah ditetapkan batas waktu bagi perdagangan bebas sebelum tahun 2020, namun tidak disebutkan mengenai kapan rintangan tarif akan disingkirkan. Sejumlah negara sedang berkembang anggota APEC memang berkeberatan dengan struktur yang diusulkan bagi rencana tindakan, karena mengandung keras yang AS pa negara maju lainnya. Garis pedoman tertentu harusnya ditetapkan bagi suatu rencana tindakan untuk membebas- kan perdagangan. Tetapi AS dan beberapa negara maju lainnya mendesakkan langkah-langkah khusus yang pada dasarnya berarti target lebih ketat dan waktu lebih spesifik. Pertemuan di Singapura setidaknya telah mendobrak hal-hal yang bisa menjadi masalah di Osaka. Masalah yang diperkirakan akan menjadi crucial dalam KTT Osaka adalah mengenai masalah perdagangan bebas. Jepang, Cina, Korea Selatan dan Taiwan menginginkan agar bidang per- tanian diperlakukan khusus. Sedangkan AS, Australia dan Selandia Baru tidak menyetujuinya. Australia baru-baru ini menyatakan APEC hendaknya mencantumkan produk pertanian dalam agenda perdaga- ngan bebas APEC. Pertanian memang merupakan sektor sensitif yang perlu mendapat perlakuan khusus, karena menyangkut kepentingan negara-negara Asia pada umum- nya. Bila hal tersebut tidak mendapat pemahaman dari AS dan negara pendukungnya, maka suatu perpecahan bisa terjadi dalam APEC. Karena itu perlu mendapat dukungan usul Jepang agar KTT APEC menyepakati kompromi. Yaitu disatu pihak mendukung rencana perdagangan bebas dan dilain pihak membiarkan ketentuan yang tidak mengikat seperti me- nyangkut sektor-sektor sensitif. Perdebatan mengenai pe- ngecualian produk pertanian dari agenda liberalisasi perda- gangan dan investasi tahun 2020 akan menjadi hal yang cukup menarik nanti. Yang tentunya tidak diharapkan adalah terjadi perbedaan sikap negara-negara ASEAN mengenai masalah ini. Thai- land misalnya menurut keterangan menentang segala ben- tuk pengecualian bagi beras, sementara Pilipina mendukung pengecualian untuk produk pertanian itu. Tentu negara- negara ASEAN lainnya mempunyai sikap masing-masing. Kembali dalam hal ini tampaknya suatu kompromi diharapkan dapat membuat jalannya pertemuan Osaka lebih lancar. Juga dalam berbagai masalah yang timbul lainnya.* Pojok Yudha Enam orang manipulator pupuk di Jawa Barat diringkus Polisi. PUPUK - Itu baru di Jabar. Padahal menurut informasi, manipulasi pupuk terjadi di banyak tempat. PANGAN Menurut Ka Bulog, Beddu Amang, pangan bukan komoditas yang bisa diprogramkan. Beda dengan harganya, bisa diprogram oleh para pedagang dan tengkulak. SWASTA Menurut Menhub, penerbangan swasta bisa terbang ke Eropa Cuma sayangnya, justeru penerbangan Garuda ke beberapa negara di Eropa dihapus. . PIN Sebagai Gerakan Nasional Menuju Hidup Sehat Dan Meningkatkan Kualitas SDM Oleh: G Sunaryo basmian polio di Indonesia ini, mengapa masih ada Gerakan PIN Polio tahun 1995 ini? Barangkali inilah pertanyaan masyarakat yang sering menggelitik di telinga kita. Sebagai penjelasan Direktur Jenderal Pemberan- tasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemu- kiman Departemen Kesehatan RI, Hadi M. Abednego, bahwa PIN ini menjadi sangat penting, karena penyakit polio menim- bulkan cacat permanen dengan menyerang anak anak balita, dan dapat menghambat pertumbuh- an pribadi anak yang bisa memberatkan keluarga, ling- kungan dan bangsa, sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia. melalui mulut dengan peran- taraan makanan atau minuman yang tercemar oleh kotoran atau tinja yang asalnya dari penderita poliomyelitis. Dengan masuknya virus polio tersebut kedalam tubuh manusia, maka virus tersebut akan berkembang mulai dari tenggorokan, usus halus sampai aliran darah. Apalagi dengan timbulnya infeksi maka akan terasa di tubuh adanya demam, lemah, mengantuk, sakit kepala, muntah, mual, sakit tenggorokan maupun sering membelit. Yang berbahaya lagi apabila kalau poliomyelitis masuk sel dan mengakibatkan infeksi, maka yang menjadi sasaran utamanya adalah su- sunan sel syaraf pusat di otak. Hal ini berarti sudah mencapai selaput otak, penderitanya akan mengalami kejang otot, akibat kerusakan tulang punggung dan leher. Kalau sudah sampai pada kondisi demikian ini akan ber- akibat kerusakan tulang pung- gung dan lumpuh lemas, yang dalam ilmu kedokteran disebut flacid paralisis sebagai akibat dari kerusakan neuron motor bawah. Inilah kiranya yang sangat fatal bagi penderita polio dan sekaligus kondisi seperti sangat ditakuti oleh umat manusia di dunia ini. Dalam tahun 1995 bagi bangsa Indonesia sebagai tahun Emas, dimana tahun ini Negara Re- publik Indonesia memperingati Proklamasi Kemerdekaan yang ke 50. Peringatan 50 tahun ini disamping sebagai perayaan Nasional yang cukup meriah juga merupakan ajang instruksi bagi kita semua. Dalam tahun inilah kita semua bisa mengevaluasi atau mengukur sampai sejauh mana kita bersama dalam meng- isi kemerdekaan ini melalui rangkaian Pembangunan Na- sional sebagai pengalaman Pancasila. Berkaitan dengan tahun Emas Indonesia, telah dilakukan berbagai gerakan Nasional seperti tanggal 20 Mei 1995 sebagai Gerakan Disiplin Na- sional dan Gerakan Untuk Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu pula pada tanggal 5 Juli 1995, Presiden Soeharto di Istana Ne- gara telah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pembudayaan P-4. Begitu bulan bulan berikutnya disusul pula adanya pencanangan gerakan secara Nasional di berbagai bidang. Termasuk diantaranya dalam bidang kesehatan dengan dilakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Gerakan Nasional Melenyap- kan Folio Kalau kita lihat dalam perjalanan sejarah selama 50 tahun Indonesia merdeka ini, ternyata pelaksanaan PIN tahun 1995 merupakan salah satu hajat besar bagi Bangsa dan seluruh Rakyat Indonesia. Apalagi hal ini masih dalam rangkaian tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan demikian Gerakan Nasional Imunisasi ini disema- ngati oleh semangat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indo- nesia. Dengan adanya Gerakan Nasional PIN ini, Negara Re- publik Indonesia yang ditangani oleh Departemen Kesehatan RI bekerjasama dengan instansi terkait serta seluruh Rakyat Indonesia telah menyiapkan 6.229 Puskesmas dan 17.465 Puskesmas pembantu, 200.000 posyandu, dan tempat tempat lainnya. Disamping sarana dan prasarana tersebut, telah di- siapkan pula sumber daya ma- nusia berupa 90.000 supervisor lapangan dan sekitar 825.000 petugas PIN yang terdiri dari kader kader PKK, Kader Da- sawisma, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, Guru, Pramuka dan masyarakat lainnya. Sedangkan penyediaan vaksin sebanyak 64 juta dosis lebih (atau 3,2 juta vial) dan dikirim ke Pos pos PIN di seluruh Indonesia. Untuk pelaksanaan Gerakan PIN yang pada tahun 1995 ini membasmi (eradikasi) dari muka bumi diperlukan dana sebesar Rp. 45 milyar, yang diambil dari APBN dan APBD sebesar Rp.23 milyar dan sisanya antara lain donor dari luar negeri Rp. 6 milyar, dan bantuan BUMN serta swasta sebesar Rp. 16 milyar. Dengan demikian sebagian besar dana tersebut adalah berasal dari rakyat In- donesia. Ini berarti pelaksanaan PIN Polio ini dananya berasal dari rakyat dan digunakan untuk rakyat demi kepentingan ke- sehatan rakyat Indonesia secara nasional. Mengapa ada PIN? Kalau dilihat dari sumber dananya, demikian besar penye- lenggaraan PIN Polio ini, apakah semakin parahkah penyakit polio di negeri ini? Hal ini tentu saja tidak begitu. Justru dengan langkah demikian ini tidak lain kasus polio di Indonesia dalam lima tahun terakhir turun secara drastis, dengan penurunan hing- ga 97 persen. Tahun 1988 terdapat 773 kasus polio dan tahun 1993 hanya ada 23 kasus polio. Dari kasus tersebut ternyata yang berkaitan dengan polio hanya 5 (lima) kasus. Untuk 1994 yang hanya ada 2 kasus. Bahkan sekarang ini hampir 90 persen Dati II di Indonesia telah mencapai target UCI (Universal Child Immunication) dengan cakupan lebih 80 persen anak usia di bawah satu tahun. Sudah demikian hebat pem- Pada Putaran I cakupan bayi yang diimunisasi secara nasional 101,9 persen untuk angka pro- yeksi dan 123,3 persen untuk angka registrasi dengan jumlah absolut 22.171.745 bayi yang diimunisasi. Hasil Putaran II sekitar 100,8 persen pada angka proyeksi dan 114,6 pada angka registrasi dan jumlah absolut 21.932.108 bayi yang terimunisasi. Itu merupa- kan hasil sementara Putaran II hingga tanggal 20 Oktober, pukul 10:30. Angka proyeksi adalah angka jumlah balita (bayi usia bawah lima tahun) yang mengacu pada hasil sensus penduduk dan perkiraan pertumbuhan pen- duduk oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Angka ini umumnya lebih diterima untuk melakukan evaluasi. Penyakit polio dari dua penyakit yang bisa dibasmi di dunia adalah cacar. Dan penyakit yang satu ini (cacar), untuk Indonesia telah meraih sukses. Vaksinasi cacar tidak dibutuh- kan karena virusnya telah dieradikasi. Untuk itulah kini virus polio yang dibasmi secara keseluruhan. Disamping itu sebagai pertimbangannya dalam PIN polio ini bagi Bangsa Indonesia ditunjang dengan kuat oleh kondisi infrastruktur yang kuat di seluruh pelosok Tanah Air. Apalagi kelebihan bagi Negara Indonesia adalah vaksin polio sudah mampu diproduksi sendiri oleh Perum Bio Fanna Bandung. Angka registrasi adalah angka jumlah bayi yang diperoleh dari Langkah pelaksanaan PIN Polio ini juga berkaitan dengan telah ditetapkannya Global Polio Eradication, yang hasilnya diformulasikan dalam World Summit for Children (KTT Anak) September 1990 yang sasarannya adalah meningkat- kan kesejahteraan anak. Apa itu Polio? Berdasarkan berbagai sumber ilmu kedokteran, penyakit polio (poliomyelitis acute) disebabkan oleh infeksi virus polio. Hal ini ditandai dengan gejala yang bervariasi mulai dari tidak tampak secara klinis sampai berupa Ačute Flaccid Paralysis (AFP) yang nantinya menjadi kelumpuhan permanen. Sebe- narnya penyakit ini termasuk penyakit yang paling tua. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arkeologi di jaman Mesir kuno berupa relief pe- ninggalan yang dipahat ribuan tahun sebelum Masehi. Dalam relief tersebut ada seorang raja yang kakinya kecil sebelah, yang oleh arkeolog dipersepsikan karena kena penyakit polio. Penyakit polio ini untuk pertama kalinya diungkapkan secara jelas pertama kali oleh Jacob van Heine (1799-1879). Oleh Jacob diterangkan bahwa poliomyelitis ini adalah sui generis, yakni suatu penyakit yang secara klinis khusus berbeda dari yang lain. Per- juangan tokoh ini telah membuka tabir ilmu kedokteran yang berkaitan dengan masalah ke- lumpuhan dan cara penanggu- langannya. Sebagai generasi Jacob, adalah Medin dengan mengadakan penelitian secara jeli bagaimana penyebaran (epideologi) poliomyelitis. Se- dangkan Ivar Wickman telah bekerja keras untuk menemukan sumber penularan dan penyebar- an penyakit tersebut. Para ahli terus berjuang untuk mengungkapkan secara jelas dan gamblang telah ditemukan Landsteiner dan Propper mene- mukan yang namanya polio virus. Dengan penemuan ini, maka terungkaplah penularan dan penyebaran penyakit polio tidak lain dari polio virus. Bentuk polio virus termasuk makhluk yang amat sangat kecil yang termasuk keluarga Picorna- viridae dan golongan Entero virus dan bentuk bulat (sterik) Bentuknya disamping bulat juga tidak berselubung dan mempu- nyai partikel virus dengan bidang simetri 20 (kosahedral) Dunia medis mengatakan bahwa makhluk yang satu ini merupakan virus RNA tunggal dengan ukuran diameter sekitar 27-30 nanometer (0,000027- 0,00003 milimeter. Sedangkan berat molokulnya 8,25 x 10,6 Dalton (13,57 x 10-10 gram) Virus polio dapat menular Adapun yang menjadi an- caman dari poliomyelitis adalah anak anak balita, namun juga dapat menyerang kaum dewasa terutama pria dan biasanya berjangkit di daerah dingin, namun bukan berarti di daerah tropis tidak ada, dimana pun tetap ada. Apalagi virus hanya hidup di tubuh manusia. Tak urung Menteri Kesehatan sujudi sempat "deg-degan" akankah hasil PIN Putaran II akan sesukses Putaran II Sedangkan keinginan kita seharusnya lebih baik dari Putaran I," katanya. Temuan Pencegahan Mengingat penyakit polio yang demikian mengerikan tersebut di atas, maka para peneliti tidak jemu jemunya untuk mengadakan langkah preventif dengan menemukan vaksin poliomyelitis. Penemuan ini dilakukan oleh Jonas Salk tahun 1953 dengan cara disun- tikkan. Dengan penemuan Jonas Salk ini penderita polio bisa diobati dan serangan yang me- matikan dari polio tersebut dapat dihindari. Untuk memberikan vaksin polio yang mudah, maka Albert Sabin pada tahun 1961 berhasil mengembangkannya yang lebih baik dan aman. Albert Sabin Hasilnya ternyata cukup meng- gembirakan, meskipun tidak membuat virus hidup yang telah dilemahkan (attenuated) dar cara pemberiannya dengan hanya meneteskan ke dalam mulut. Dengan cara demikian maka pemberian vaksin folio kepada anak anak dengan mudah dan sederhana, murah dan efektif, karena tidak menimbul- kan sakit. Dengan penemuan yang semakin canggih, mudah dan sederhana cara menggunakan- nya, maka penyakit Tolio ber- angsur angsur dapat dibasmi. Penyakit polio yang dahulu amat mengerikan bagi umat manusia di dunia ini, berupa kelumpuhan permanen yang mengenai tungkai bawah dan mengenai satu tungkai telah dapat diobati secara sempurna. Bahkan polio sebagai penyakit kedua setelah cacar dapat di- basmi, karena tidak ada binatang pengidap maupun chronic car- rier. Untuk itulah dalam rangka membasmi virus polio di bumi Indonesia ini, Pemerintah Re- publik Indonesia memberikan komitmen dalam memberantas virus polio tersebut. Disamping itu mengendalikan tingkat ke- jadian tetanus pada bayi serta menekan angka kematian cam- pak seperti yang dituangkan dalam World Summit for Chil- dren yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto tahun 1991. Pelaksanaan PIN Polio 1995 Sebenarnya program imuni- sasi di Negara Republik Indo- nesia telah mencapai cakupan sekitar 90 persen dari imunisasi semua anak dengan cara pen- cegahan pada tahun 1993, Se- betulnya bagi Bangsa Indonesia, penyakit polio secara grafik telah turun drastis. Namun dengan melihat berbagai pengalaman dari negara negara lain, meng- haruskan Bangsa Indonesia hasil pendataan tenaga kesehatan Pos PIN baru, meniadakannya dan kader Posyandu. Angka ini atau menambah meja pelayanan umumnya lebih rendah daripada pada pos yang sudah ada. angka proyeksi karena cenderung "under registration", tetapi tetap diperlukan untuk perencanaan logistik minimum. Adapun angka yang dipergu- nakan, baik perkiraan terendah (proyeksi) maupun perkiraan tertinggi (angka registrasi) PIN berhasil mencakup lebih 90 persen balita. Hasil ini tentu sangat menggembirakan. Pada kebanyakan tempat, masyarakat cenderung menam- bah meja pelayanan pada Pos PIN yang ada, sehingga tidak perlu terjadi antrian panjang dalam menanti giliran. Kebera- daan Pos PIN juga memper- timbangkan jumlah balita yang harus dilayani. Banyak provinsi telah mela- kukan perbaikan operasional dan tetap melakukannya secara intensif, lebih cermat dan teratur dibandingkan pada Putaran I. Daerah kantung Terlepas dari itu, Depkes masih memberikan perhatian terlihat balita bersama orang khusus pada daerah kantung tuanya berbondong bondong tertentu yang sangat sulit di- mendatangi Pos PIN seperti pada jangkau, seperti pada suku ter- Putaran 1. Mengapa ? "Karena tentu di daerah pedalaman Irian masyarakat dan para petugas atau pada masyarakat tertutup mampu mengatus diri sendiri," lainnya. kata Sujudi. Masyarakat setempat meng- evaluasi kembali keberadaan Pos PIN yang ada, lalu memper- timbangkan untuk mendirikan waspada akan adanya "bom penyakit polio" di masa men- datang. Apalagi sekarang jaman era globalisasi yang tidak akan suatu lembaga atau negara membatasi hubungan dengan negara lainnya, bahkan sekarang maupun masa mendatang batas batas yang dahulu ketat sekarang menjadi longgar atau malahan tanpa batas. Disamping itu juga karena adanya penumpukan kelompok rawan polio dari tahun ke tahun dengan adanya berbagai produk modern yang membuat iklim virus polio semakin tahan hidup. Pengalaman berbagai negara sahabat menunjukkan adanya peningkatan kehati hatian kita semua, seperti Negara Jamaica dan Costa Rica setelah imunisasi menyatakan kasus polio 0 (nol). Namun setelah lima tahun dengan tiba tiba wabah polio muncul kembali dengan jumlah penderita yang tinggi. Hal inipun terjadi pula di Pilipina, Cina Argentina maupun Cile, yang harus melakukan imunisasi secara berlanjut. Pekan Imunisasi Nasional tahun 1995 yang berfokus pada penyakit polio telah disiapkan sedini mungkin. Hal ini meng- ingat luas cakupan Negara Republik Indonesia beserta penduduk yang cukup padat. Keberhasilan PIN 1995 memang boleh saja dibilang spektakuler. PIN yang dilakukan tahun 1995, tahun 1996, tahun 1997 untuk memenuhi tuntutan Garis garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 dalam bidang pemba- ngunan kesehatan. Dengan sa- rana dan prasarana 275.000 POSPIN dengan 90.000 super- visor lapangan dan sekitar 825.000 petugas PIN telah berhasil memberikan imunisasi sekitar 24 juta balita. Pelaksa- naan PIN putaran pertama telah memberikan hasil yang me- muaskan dengan mengimunisasi sekitar 22.171.746 balita Dan pelaksanaan PIN putaran kedua yang dilakukan pada tanggal 18 Oktober 1995 diharapkan bisa naik 10 persen dari hasil pelak- sanaan PIN. putaran pertama. Hasil imunisasi pada pelaksana- an putaran pertama ternyata lebih besar dari sasaran balita yang menurut proyeksi kepen- dudukan jumlahnya 21.747.958 pelaksanaan PIN putaran kedua anak. Secara prosentase saja di daerah Jawa Tengah mencapai 115,1 persen, Bali mencapai 114,8 persen, Jawa Timur men- capai 108,3 persen, Nusa Teng- gara Barat mencapai 105,6 persen dan ada 9 Dati I yang melebihi cakupan imunisasi pu- taran pertama. Dengan berbekal pada pe- ngalaman pelaksanaan PIN putaran pertama, maka pada putaran kedua ini menjadi lebih efisien, cermat, teratur dan 12 Pejuang melawan penjajahan dari orang- orang Portugal merupakan sebuah perjuangan sangat mulia dan luhur, sebagai diamanatkan oleh pembukaan UUD 1945. yang berbunyi: "Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan". Karenanya, perjuangan mere- ka pada bulan Juni 1959 di Viqueque itu yang merupakan bagian dari proses integrasi, ada- Lingkungan Permukiman (PPM) PLP) Hadi Abednego mengata- kan program imunisasi umum atau "Universal Children Im- munization (UCI) akan tetap dijalankan dan cakupannya akan terus diperbesar. intensif sehingga menghasilkan sasaran yang diharapkan (mele- bihi dari hasil PIN pertama). Pelaksanaan PIN baik putaran pertama maupun putaran kedua di berbagai daerah ternyata mempunyai cara dan strategis masing masing. Seperti di Klender Jakarta Timur dengan mendatangi ke rumah rumah yang mempunyai anak balita. Begitu pula di daerah lain dengan cara memberikan tanda bagi keluarga yang mempunyai anak balita. Departemen Kesehatan juga mempersiapkan sistem peng- awasan epidemiologi untuk mendeteksi kasus kasus polio yang mungkin masih terjadi pada masyarakat hingga 1997. "Labo- ratorium kesehatan masyarakat akan ditingkatkan agar dapat mendiagnosa virus polio secara laboratorik," kata Hadi. Dampak positif yang akan langsung terasa jika PIN sukses pada putaran selanjutnya dua tahun mendatang, adalah kualitas manusia Indonesia, khususnya Pelaksanaan PIN putaran pertama dan putaran kedua memang terjadi perbedaan. Pada putaran pertama di Jakarta terasakan sebagai gerakan yang cukup gempita yang disusul di berbagai daerah terutama ibu- kota propinsi maupun ibukota kabupaten. Sedangkan putaran kedua justru di sejumlah daerah sangat ramai, dengan ditandai prosentase kenaikan jumlah anak balita yang diimunisasi. Disamping itu di Jakarta pun pelaksanaan PIN putaran kedua ini mendapat perhatian yang serius dari para miskin (gelan- dangan dan pengemis) seperti di lingkungan Gang Tongkang maupun di daerah kumuh lain- nya. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Jakarta tingkat bu- daya hidup sehat tidak saja dimiliki oleh kalangan masya- rakat menengah dan atas saja, melainkan kalangan tuna wisma pun peduli imunisasi polio. Partisipasi Aktif Masya- balita, yang akan jauh lebih baik. Tidak akan ada kasus polio di rakat ● Pembangunan Fatmawati terhadap negara. Gubernur mengatakan, museum ini nantinya akandilengkapi dengan benda-benda yang ada kaitannya dengan Bung Karno semasa pengasingannya di Bengkulu dari tahun 1938-1942. "Semua sanak keluarga Ibu Fatmawati menyatakan bersedia menyumbangkan benda-benda itu untuk jadi koleksi museum ini," katanya. Indonesia. "Pada kesempatan pertama kita akan mengirimkan orang ke masyarakat tersebut, kata Sujudi. Dirjen Pemberantasan Pe- nyakit Menular dan Penyehatan Program PIN polio tahun 1995 yang dilaksanakan pada tanggal 13 September dan tanggal 18 Oktober 1995 telah berhasil dengan baik dan lancar. Ke- berhasilan ini memang didasari tekad Pemerintah Republik Indonesia dalam membasmi penyakit folio. Upacara peringatan Hari Pahlawan di halaman Kantor Gubernur Bengkulu berlangsung khidmat. Bertindak selaku Inspektur Upacara Gubernur Adjis, dihadiri antara lain Ketua DPRD Bengkulu, Baharuddin DJ, unsur Muspida, para pejabat dinas dan instansi setempat. Seusai , Gubernur beserta rombongan langsung menuju upacara, Dermaga Pelabuhan Samudera Pulau Baai untuk melakukan upacara tabur bunga. (Ant). "Jika kita berhasil memper- tahankan cakupan 90 persen balita saja, maka kita berhasil memutus mata rantai kehidupan Tingkat keberhasilan pelak- sanaan PIN ini tidak lain partisipasi aktif dari masyarakat luas. Partisipasi aktif dari ma- syarakat baik kalangan ulama, agamawan, guru, orang tua, pramuka, pegawai negeri, ABRI, mahasiswa, Karang Taruna, Ibu ibu PKK, dan Ibu Dharma Wa- nita telah terjadinya transformasi nilai nilai riil dan kenyataan sehari hari tentang kesehatan keluarga. Timbulnya kesadaran yang demikian tinggi tersebut tidak lain adanya berbagai penyuluhan penyuluhan, maupun tersebar- nya informasi kesehatan secara luas baik yang ditayangkan di televisi maupun yang dimuat di berbagai media cetak dan elektronik lainnya. Hal ini juga dibarengi semakin meningkat- nya tarap pengetahuan dan pendidikan rakyat Indonesia secara nyata. Hal ini semua tidak lah merupakan bagian dari perjuangan bangsa Indonesia secara keseluruhan. "Dilihat dari sisi gelar mate- rialnya, penghargaan ini pasti tidak sepadan dengan pengor- banan yang telah saudara beri- kan. Karena bentuk material itu memang merupakan simbol be- laka. Untuk itu pemberian ini jangan dilihat dari sisi material- nya, tetapi hendaknya dilihat sisi kandungan dan makna yang ada di dalamnya. " tutur Men- hankam. Sementara berdasarkan penje- Hal 1 virus polio di bumi indonesia," kata Sujudi. Tidak akan ada lagi balita yang mengalami gangguan pertum- buhan pada kaki atau lengannya, atau pada anggota tubuh lainnya. Seperti halnya penyakit cacar yang terbasmi pada dekade 1970- an, virus polio juga akan hilang di Nusantara. lain atas keberhasilan pelaksa- naan peinbangunan Nasional sebagai Pengalaman Pancasila selama PJP I. Nyatalah bagi kita bahwa partisipasi masyarakat yang begitu besar menjadi bukti atas keberhasilan pelaksanaan PIN Polio 1995 ini. Sukses program PIN tidak terlepas dari sekitar satu juta tenaga yang menggerakkan sekitar 275.000 Pos PIN dan meneteskan ratusan juta tetes vaksin dari 64 juta dosis vaksin yang disediakan ke 22 mulut anak Indonesia. Disamping tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi untuk berpartisipasi dalam pelaksa- naan PIN ini, juga diimbangi oleh kesiapan para petugas dan sarana serta prasarana yang diperlukan. Kita dapat memba- yangkan bagaimana ada anak balita yang tidak lolos dari imunisasi secara massal ini, maka boleh dikatakan bahwa kita akan menanam bibit virus polio, yang berarti suatu saat akan menjadi "bon virus polio". Ini artinya PIN yang kita lak- sanakan terancam gagal. Ini berarti pula bahwa polio di Indonesia belum lenyap dari muka bumi Indonesia. Sujudi menyatakan terima kasihnya pada sektor swasta dan perusahaan negara yang menye- diakan transportasi untuk men- capai daerah daerah yang sulit dijangkau. TNI Angkatan Laut menye- diakan kapalnya untuk men- jangkau Kepulauan Riau dan daerah lainnya. Perusahaan pe- nebangan kayu kaial ikan Memang kita tidak boleh lengah, sebab perpindahan virus polio tidak saja sesama teman atau tetangga, melainkan dapat pula dari perpindahan virus polio dari negara yang satu ke negara lain, seperti dari Belanda ke Canada. Hal ini adanya sekte keagamaan yang menolak untuk divaksinasi. Apalagi sekarang ini sudah jaman era globalisasi yang sudah tidak mengenal lagi batas bangsa dan negara. PIN Menjadikan Indonesia Di Ambang Bebas Polio Indonesia agak optimistis akan bebas dari kasus polio pada tahun 2000 setelah melihat hasil yang diperoleh pada pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Putarai I 13 September, dan Putaran II 18 Oktober 1995. Budaya Hidup Sehat Men- jadi Kebutuhan Kesiapan para petugas dan partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan PIN polio 1995 tidak saja mengantarkan sejumlah anak balita, namun dillhat secara sosio demografis, memang kesehatan sekarang telah menjadi salah satu kebu- tuhan pokok hidup masyarakat, disamping pangan, sandang dan papan, maupun pendidikan. Dengan demikian faktor kese- hatan seseorang akan menen- tukan tingkah kehidupan sehari hari. Dengan pelaksanaan PIN polio ini secara tidak langsung telah memberikan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Untuk itulah dalam pelaksa- naan PIN sekarang maupun mendatang perlu dilakukan pendekatan sosiologis disam- ping segi medis memang perlu. Sebab dengan pendekatan so- siologis, kita mengajak masya- rakat untuk berpartisipasi secara aktif. Seperti pelaksanaan PIN polio 1995 ini partisipasi ma- syarakat tidak saja membawa anak balita ke Pos PIN, me- lainkan tenaga maupun me- nyiapkan sarananya untuk tempat vaksin berupa termos, bahkan suatu sekolah sengaja membeli termos dalam rangka mensukseskan PIN ini. Atau suatu keluarga dengan menyiap- kan termos serta sarana lainnya untuk suksesnya pelaksanaan PIN polio yang baru lalu. lasan Direktur Administrasi Per- sonal Dephankam Brigjen TNI G.Sjaifuddin, mereka keseluru- hannya pernah menjalani pe- nyiksaan dan ditawan, bahkan malahan ada yang dibunuh di Viqueque. Mereka para pejuang yang masih hidup dijebloskan ke penjara di Baucau. Di penjara Baucau selama 7 hari dan kemudian dibawa ke Dili, kemudian dipindah lagi ke kapal selama antara 4 sampai 7 Gubernur Hal 1 ungkapkan Ketua MUI Hasan Basri, gubernur menegaskan, "tidak benar itu. Tidak ada pelarangan mendirikan tempat beribadah bagi umat beragama di luar agama Katolik, termasuk bagi umat Islam". Selama ini, ujarnya, kehidup- an kerukunan antar umat beraga- ma di Timtim cukup baik. Sementara keributan yang terjadi di Maliana belum lama ini, menurut Abilio, terjadi ka- rena dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab yang ingin membuat provinsi termuda di Indonesia tidak tenteram. (Ant) Halaman 2 Masyarakat Indonesia telah memiliki budaya hidup sehat, maka tak pelak lagi pelaksanaan PIN polio 1995 berjalan dengan baik dan lancar. Secara bergurau Sujudi me- nyatakan dirinya kalah populer dibandingkan Rano Kamo dan Mandra. Dampaknya, PIN men- jadi memasyarakat dan populer pula, sehingga tidak heran banyak anak yang datang ke Pos PIN karena menduga akan bersua dengan Mandra. Dari kerja akbar ini, Sujudi bertekad untuk membasmi dua penyakit lain yang termasuk UCI, yakni tetanis neonatorum dan campak pada 1997. Kasus kedua penyakit itu masih ditemukan sekitar 15 persen bayi Indonesia. PIN juga berdampak pada membesarnya minat negara jiran untuk menggunakan vaksin Dengan demikian upaya kita untuk membebaskan Indonesia dari ancaman polio tahun 2000 dapat berhasil dengan sangat baik. Secara ekonomis sosiologis apa yang telah dilaksanakan seperti PIN Polio 1995, hasilnya memang hebat. Tidak ada satu pun negara maju di dunia ber- hasil mencapai sasaran ini, ketika pendapatan mereka masih berada di bawah 1000 dollar.. menyediakan sarana transportasi buatan Biofarma, Bandung itu. Oleh : Erafzon Saptiyulda AS yang dimilikinya untuk menjang- Malaysia, Thailan dan Vietnam kau daerah masing Pertamina dan PT Free- port menyediakan helikopter. Rano dan Mandra Peran Rano Karno dan Mandra agaknya juga cukup sentral dalam memasyarakatkan PIN, termasuk perusahaan obat dan makanan yang menayangkan filler mereka di televisi. Menyusul PIN Hepatitis B, Campak dan Tetanus Dengan keberhasilan PIN Polio 1995 dan sekaligus untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, maka pada tahun 1996, Menteri Ke- sehatan RI mencanangkan Imunisasi Hepatitis B. Sebagai langkah awal 12 Nopember 1995 akan diluncurkan secara na- sional Imunisasi Hepatitis H. Hal ini juga mengingat anak Indonesia 10 persen dari 5 juta anak terjangkit penyakit Hepa- titis. Apalagi Imunisasi Hepatitis biayanya memang tinggi sehing- ga masih banyak masyarakat menunda Imunisasi Hepatitis anaknya Dengan diprogramkan PIN Hepatitis ini berarti kita telah menyiapkan generasi penerus bangsa menjadi generasi yang sehat dan kualitas sumber daya manusia kuat tanpa pe- nyakitan, sehingga dapat mene- ruskan pembangunan nasional sebagai pengalaman Pancasila. Dengan suksesnya PIN Polio 1995 diharapkan tahun 2000 Negara Republik Indonesia siap memasuki bebas polio. Ini berarti Bangsa Indonesia telah memasuki bebas penyakit cacar dan polio. Dengan demikian pelaksanaan Pembangunan Nasional bidang pembangunan kesehatan telah dapat mencapai sasaran yang diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Mesti saja kita semua tetap harus bersiap siap untuk berpartisipasi secara aktif dalam imunisasi campak kepada balita dan imunisasi massal Hepatitis B, terutama di daerah daerah yang beresiko tinggi. Sedangkan imu- nisasi tetanus kiranya menjadi pemikiran kita semua, karena penyakit tersebut cukup mema- tikan, meskipun kasusnya jarang kita temui. Dengan berakhirnya "Pesta PIN Polio 1995" ini, kita jangan takabur sebab tantangan diha- dapan kita masih panjang dan Itarus diselesaikan sesuai tun- tutan kita bersama. Dan kita harus menang melawan pertem- puran dengan berpenyakit di dunia yang menggerogoti kua- itas kualitas sumber daya manusia Indonesia maupun para generasi muda. Semoga +++ Hal 1 bulan dalam penjara kapal ter- sebut. Dan akhirnya mereka di- buang ke Angola (Afrika) se- bagai tahanan politik, yang selu- ruhnya berjumlah 67 orang. (R- 25). Kerukunan- Hal 1 teknologi amat penting guna memasuki abad 21. "Kita perlu mempersiapkan setiap warga negara terutama kanak-kanak, remaja dan kaum muda yang akan menjadi "or- ang" di masa depan itu untuk mengenal, memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi itu," demikian Presiden. (Ant). Truk Hal 1 Kapolres KP-3 Pelabuhan Tg. Priok, Letkol Timbul Sianturi. ketika dikonformasikan tidak bersedia memberi komentar de- ngan alasan, "Saya bukan Dis- pen Polda Metro Jaya". Ketika ditanya soal keterlibatan kedua oknum Bea-Cukai itu Timbul Sianturi tidak membantah atau membenarkan. (PK. 09). untuk menggunakan vaksin buatan putera Indonesia itu. "Keuntungan dari penjualan vaksin per unit memang kecil karena harganya sudah diten- tukan oleh WHO dan pembelinya adalah pemerintah setempat bukan pihak swasta. tetapi, karena kebutuhannya banyak maka keuntungan bisa lumayan juga," kata Sujudi berharap. Prospeknya agak cukup baik. Produsen vaksin terbesar selama ini adalah Ex-Uni Sovyet dan Yugoslavia. Vaksin buatan Rusia (dahulu Uni Sovyet) dinilai semakin menurun, sedangkan Yugoslavia sudah pecah. Tidak diketahui apakah negara pecahannya masih mem- produksi vaksin. Jadi, terbuka peluang pasar, tidak hanya di Asia dan Pasifik, tetapi juga di negara negara Eropa Timur. Sukses PIN ternyata tidak hanya berdampak kesehatan generasi muda Indonesia, tetapi juga akan menguntungkan dunia fanmasi Indonesia, khususnya Biofarma.
