Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

​
Nama: Berita Yudha
Tipe: Koran
Tanggal: 1996-04-16
Halaman: 06

Konten


BERIT MIMBAR DEMOKRASI Pasar Ciputat dan Tali Temali Kemacetan SEKALI lagi tentang Ciputat. Tentunya, dalam setiap sorotan masalah tidak saja tentang Ciputat tapi semua persoalan pasti mengarah pada bagaimana seharusnya ditangani, bukan hanya sekedar mengangkat. Untuk itu, ketika sorotan ditujukan pada satu persoalan maka yang diharapkan adalah problem solving-nya. M aka tidak heran, kali ini Ciputat yang pernah ditulis berbagai media massa se bagai daerah tak bertuan kini disoroti lagi. Pasalnya, lalu lintas dan amburadulnya wi- layah ini menjadi agenda utama di berbagai me- dia. Seperti areal pasar yang terlantar untuk se- mentara ini menjadi biang kesemrawutan. Betapa tidak, tali temali persoalan begitu sulit diurut- uruti. Belakangan ini pasar itu mulai dibangun lagi meski dalam ritme kerja yang sangat lambat. A- lasan keterlambatan masih tersamar entah karena kekurangan dana atau maaf sengaja dilambat- lambati. Menurut para pedagang yang terpaksa me- nempati lokasi apa adanya di bekas terminal, Pemda Kabupaten Tangerang sudah pernah menjanjikan proyek pasar itu akan selesai tahun 1995. Proyek ini yang dikerjakan PT Betania Multi Sarana telah berjalan sejak tahun 1992. Kendati demikian. pemancangan tiang pan- cangnya saja belum juga selesai. Entah apa alasan nya, hingga kini aktifitas para pekerja tidak nam- pak lagi. "Rencananya bekas terminal dan pasar yang terbakar itu akan dibangun proyek pasar sekali gus terminal. Di lantai bawah digunakan untuk pasar, sedangkan di atas digunakan untuk termi- nal," ujar Tio, pedagang buah yang menempati kios penampungan sementara. la menambahkan kemungkin para pedagang tak bakal sanggup untuk menjangkau harga kios bila proyek itu selesai. Untuk uang mukanya saja, katanya, harga yang harus dibayar pedagang berkisar Rp 2,5 juta. Belum lagi sewa bulanannya. Harga yang menjulang tersebut terjadi pada tahun 1993, tak tahu kalau harga sekarang, akunya. Tanpa sarana pasar di Ciputat ini bukannya hanya menimbulkan kesemrawutan arus lalu lin- tas. Pekerjaan para petugas kepolisian juga ber- tambah berat. Apalagi tanpa kehadiran polisi di lokasi kemacetan, kemacetan bisa menjadi total. *** SRI YANTO, petugas kepolisian dari Polsek Ciputat yang bertugas di depan pasar Ciputat mengakui pihaknya serba salah untuk menindak perilaku para sopir angkot yang melanggar. Di satu sisi kemacetan disebabkan belum ada- KMK nya rambu lalu lintas. Sehingga para sopir sesuka hati memarkir dan memutarkan kendaraan di se- panjang jalan Ciputat Raya tersebut. Di sisi lain, polisi dihadapkan dengan tugas mulia untuk menertibkan lalu lintas. Artinya melakukan tilang, akan dinilai salah dan tidak melakukan tilang juga salah lantar faktor dasarnya adalah Pemda belum memperbiki sarana dan prasarana yang ada. Meski demikian, ada hal yang ironis para so- pir angkot menaati peraturan lalu lintas ketika a- da petugas. Dan bila petugas sudah berlalu, maka berlalu pula kepatuhan para awak bus tersebut. Sukiman Petugas Pasar Selain mengatasi ulah para sopir, petugas poli- si pun menjalankan tugas ganda. Mereka harus menertibkan para pedagang yang mengganggu la- lu lintas. Juga menertibakan kendaraan yang le- wati. Pada hal mengurusi pedagang adalah urus- an Pemda setempat. Parah petugas Pemda Tangerang di Ciputat jus- teru bukannya menertibkan para pedagang tetapi mengutip uang retribusi. Kemacetan di jalan Ciputat Raya ini memang sudah kronis. Itu butuh perhatian yang serius dari Pemda Tangerang. Apalagi di wilayah tersebut te- lah menjamur areal perumahan. Tentunya para penghuni membutuhkan sarana pasar. Seperti disebutkan Kamcek, pedagang yang mengaku telah berdagang sejak lintasan Ciputat masih sepi, menjamurnya perumahan di sekitar Ciputat menambah jumlah kendaraan yang me- lintas di sini. "Dulu jalan itu hanya bisa di lewati dua kendaraan. Sekarang setelah dua kali dilebar- kan dan dibuat dua jalur, malah belum mampu menampung mobil yang melintas," ujarnya. Djamsuri petugas Satpam di Ciputat Plaza juga mengeluh yang sama. Karena macet ia setiap pagi harus berjalan kaki sejauh satu kilometer agar ti- dak terlambat absen. "Jam enam pagi saja jalan ini sudah macet. Be- berapa bulan lalu kemacetan baru mulai sekitar pukul 7 pagi dan mulai lancar sekitar pukul 10. Kalau sekarang jangan tanya, kemacetan di sini sudah berlangsung sepanjang hari," katanya. Dapatkan kita bertanya, menjamurnya perumah- an sudah tentu butuh sarana dan pra sarana. Beri- kut para pedagang yang terlantar juga butuh tem- pat untuk menjual barangnya secara resmi dan pasti. (borkat habiaran) Kamcek Pemilik Toko Plastik Ciputat BERIT Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: HM Soegeng Widjaja Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi: Ir Bambang R Soegomo Pemimpin Perusahaan: Drs Bagjo Purwantho Dewan Redaksi : Alex Dinuth, H Endang Achmadi, Moed Avianto, Ngatidjo, MW. Alamat RedaksViklan/Sirkulasi : Jl. Rawajati Timur Komplek Kalibata Indah Blok K 11 Jakarta Selatan Telp. 7946994-5, 7947001-3 Fax. 7946993 Apa Kata Mereka Macet di Ciputat Raya ISSN: 0852-6583 Penerbit PT Berita Yudha Press Jakarta. Izin Terbit No. 0141/SK/Menper/SIUPP/A/-7/1966 Tgl 15 Februari 1986. Bank BRI Kebayoran Baru, Bank Bumi Daya Kebayoran Baru, BNI 1946 Kebayoran Baru. Giro Pos "Dari dulu memang sudah macet. "Hanya untuk pelebaran jalan, 2 "Sumber kemacetan sebenarnya "Kemacetan Ciputat disebabkan Sudah banyak tulisan dan berita meter tanah saya telah saya pada bundaran jalan. Banyak ken- angkota terlalu banyak yang mele- tentang Ciputat macet. Bahkan relakan. Tetapi kemacetan juga daraan yang tidak memutar di wati di sini. Kalau pagi bagi orang Bupati Tangerang datang sendiri belum redah. Banyaknya peru- bundaran tetapi sebelum masuk yang bekerja di Ciputat sebaiknya menunjau tetapi hingga kini be-, mahan di wilayah Ciputat dan ter- bundaran. Dan faktor lainnya ada- jalan kaki ketimbang 2 jam dengan lum ada perbaikan." lalu banyak kendaraan pribadi." lah jalan yang terlalu sempit." kendaraan dalam jarak 2 KM." No 12770 No Telex 47174 Yudha ia Harga Iklan: Iklan Umum Rp 6.000,-/mm kolom Iklan Duka Cita : Rp 3.000,- Iklan Keluarga : Rp 4.000,-/mm kolom. Iklan Mini Rp 3.000,-/baris (maksimum 10 baris); Iklan Kuping halaman muka (1 kolom x 60mm) Rp 720.000,-; Iklan Berwarna (full color) Rp 12.000/mm kolom; Iklan 2 warna Rp. 8.000,-/mm kolom. (Harga tersebut belum termasuk PPn) Harga langganan Rp 13.000,-/bulan Harga eceran dalam kota Rp 500,-/ekspl. Harga eceran luarkota ditambah ongkos kirim. Dicetak oleh Percetakan PT. Golden Web Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan. Pojok Berita Kemacetan yang sudah bersistem. Menurut Kalangan DPR, kolusi di Mahkamah Agung menurunkan wibawa peradilan Bukan hanya wibawa peradilan tetapi bisa masyarakat tidak percaya kepada lembaga benteng terakhir keadilan itu Tali temali biang kesemrawutan terus PT Citra investasi Rp 717 milyar untuk Jalan Tol Pondok Pinang - Kebon Jeruk Kita tentu berharap kemacetan bakal berkurang di Jakarta ini terjadi Pasarlah salah satu mata rantainya Dapatkah kita menata? Siapa yang lebih bertanggungjawab? Ataukah daerah ini layak menyandang daerah tak bertuan? FOTO-FOTO BOR/BY Samsir Tukang Parkir Pasar Ciputat JAMEAR Reaksi rasa tidak puas kalangan pembaca merupakan bentuk koreksi bagi kami. Kami tidak bermaksud se- cara vulgar memuat gambar seperti yang dianggap pembaca bahwa itu berbau porno. Munculnya gambar ter- sebut benar-benar karena kesalahan teknis baik di redaksi maupun di pro- duksi. Djamsuri Satpam Ciputat Plaza Terrrrrrr... krrrrr Pelayanan Kami !! Jalan anda rusak? Telepon rusak? Atau pelayanan bank di tempat anda kurang memuaskan? Kirim tulisan atau keluhan kalau boleh dengan foto ke redaksi. Se- bab kolom ini untuk anda. Syaratnya; tinggal mem-fax-kan ke (021) 794-6993. Atau melalui pos ke redaksi Ji. Rawajati Timur Kompleks Kalibata Indah Kav 9-12 Jakarta Selatan. REDAKSI Permohonan Maaf Sekali lagi kami mohon maaf, dan permohonan maaf ini sekaligus menje- Sehubungan sikap reaksi yang ber- laskan kepada pembaca soal pemuat- beda-beda mengenai pemuatan ilus- an foto tersebut. Sekian dan terima ka trasi lukisan kuno tentang lesbianisme sih. yang telah dimuat pada Harian Berita Yudha Edisi Minggu 14 April 1996 lalu halaman 1 telah menimbulkan kontro- versi di antara kalangan pembaca. Kalau Pil Ecstasy Dimusnahkan Dua hari terakhir terhitung sejak pe- muatan, kami telah menerima hampir Kita patut mengangkat jempol atas 50-an penelpon yang menanyakan ketelitian dan keberhasilan pihak petu- maksud pemuatan foto dari kitab gas bea cukai di pelabuhan Bandara Kamasutra tersebut. Permintaan pem- baca sebagian dikirim melalui faxi- mile kami dan starco wartawan Berita Yudha. Redaksi Soekarno-Hatta yang telah tiga kali menangkap oknum penumpang dari Amsterdam yang menyelundup ribu- an pil ecstasy dan yang lainya dengan pesawat KLM ketika hendak berkun- jung ke Jakarta. JAKARTA, Pil yang apabila dipergunakan oleh siapa saja bakal selain menjadi teler te- tapi juga meluap-luapkan semangat. Misalnya bila para remaja yang doyan jingkrak-jingkrak dan berdangdut di diskotik atau bar-bar di banyak kota be- sar di Indonesia akan terus bersemang- at lebih dari 24 jam sehari setelah me- nelan pil ecstasy. Pelajar dan Kultur Darah Dalam seminggu terakhir kita dikejutkan oleh rentetan kejahatan yang dilakukan pelajar. Buntut tawuran antar SLTA di Bekasi, sekelompok pelajar menganiaya Rachmat Hidayat hing- ga tewas. Lalu di Jakarta Barat, Hery Haryansyah (siswa SLTP) ditikam mati pelajar SLTP lain. Terhadap dua kasus itu, kita tentu saja prihatin. Sebab, tentu saja tidak diharapkan kultur darah menjadi inheren dalam sosok calon-calon pemimpin masa depan kita. Apa yang dapat kita tangkap dari dua tindak kriminal oleh pelajar itu? Dari sisi tingkat keja- hatan yang dilakukan pelajar, dapatkah dikatakan fenomena kriminalitas di kalangan pelajar sudah menunjukkan grafik meningkat? Lalu selain faktor-faktor penyebab klasik seperti kurangnya internalisasi nilai moral religius, lemahnya kontrol sosial dari orang tua dan guru serta pengaruh peer group (kelompok seper- mainan), faktor lain apa saja yang perlu diperhatikan secara serius? Tentang tingkat kriminalitas yang dilakukan pelajar pernah dibuktikan lewat penelitian Ke- lompok Peneliti dan Pengkaji Masalah Kriminalogi (KP2MK) tahun 1989. Dari 400 responden yang tersebar di Jakarta, kasus perkelahian pelajar menduduki peringkat 11 dari 190 kejahat- an konvensional maupun inkonvensional. Hanya saja, saat ini belum terdata penelitian serupa. Namun tidak tertutup kemungkinan persentase kejahatan oleh pelajar makin meningkat. Me- ngingat semakin kompleksnya kehidupan dan kadar probematik yang ditimbulkannya. Dari segi penyebab, sudah menjadi kesimpulan baku bahwa kejahatan pelajar berkait erat dengan lemahnya kontrol sosial (dari keluarga, guru, lingkungan sosial), pengaruh kelompok teman sepermainan dan pengaruh budaya Barat. Tanpa bermaksud menggugat validitas kesimpulan di atas, barangkali perlu digarisbawahi dua faktor yang agak sering dilupakan. Pertama, ketidakmerataan distribusi pendapatan di tingkat keluarga. Ada keluarga yang un- tuk makan sehari saja sudah ngos-ngosan. Sementara lainnya, bisa menghabiskan jutaan ru- piah sehari. Akibatnya, potret kesenjangan begitu jelas terlihat dalam pergaulan di sekolah ma- upun di lingkungan. Mereka yang kurang terbimbing secara rohaniah, gampang frustrasi dan reaktif. Sehingga potensial mengungkapkan frustrasi dan ketidakpuasan lewat tindak-tindak kekerasan. Kedua, sosialisasi ideologi yang didapat di sekolah maupun lembaga keagamaan ternyata jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan. Meminjam Daniel Lerner, terjadi pergeseran dari revolution of the rising expectation ke revolution of the frustration expectation. Selamat Pagi! Dari paparan sederhana di atas, baiklah perhatian kita terhadap kasus kejahatan pelajar yang merebak belakangan ini tidak terbatas pada ungkapan keprihatinan. Perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih nyata. Tidak saja berupa pembaruan pola sosialisasi di tingkat keluarga, guru dan lembaga keagamaan. Tapi yang cukup krusial adalah membenahi ketimpangan distribusi pendapatan keluarga, terutama keluarga miskin. Ini bukan perkara gampang, kendatipun pemerintah sudah melibatkan ratusan konglomerat di tanah air. Dalam alur permasalahan di atas, marilah kita bersama-sama menyikapi fenomena kekerasan pelajar yang semakin merebak akhir-akhir ini. SELASA, 16 APRIL 1996 Problematik Bagi keluhan dan masalah seputar pembaca, tersedia rubrik "Problematik". Yang termuat, pembaca lain diharap membahasnya, memberi jalan keluar, serta minimal simpati. Boleh melalui faksimil atau telepon. Hubungi Reymond Tiwa dan Bambang Lesmono di Sekretariat Redaksi. fax: (021) 794-6993 Bangka alias bisa menjadi kuat seperti ini sangat mengecewakan. superman saja. Meskipun harga sebutir pil ecstasy menurut kabarnya sampai Rp 150.000 per pil. Kendati demikian mahalnya, pil haram itu cukup banyak penggemarnya di Indonesia. Sahabat yang Suka Gosip Dinamika baik progresif maupun represif dalam sebuah organisasi adalah wajar-wajar saja. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka wajar pula ketika saya bekerja pada perusahaan ko- neksi pakian senantiasa mengalami dan bahkan terlibat dalam arus dinamika tersebut. Yang jadi soal, banyak rekan kerja bahkan pimpinan saya suka menyebarkan gosip. Gosip tersebut lebih mengarah kepada diri saya. Namanya gosip, kadang-kadang dicuekin saja. Go- sip itu kabar burung yang tidak tahu juntrungannya. Tetapi belakangan ini sangat menggangu ritme kerja saya. Apalagi pimpinan saya tersebut, secara menyebarkan kepada rekan-rekan kerja saya. Saya kok jadi sewot. Inginnya saya me- labrak pimpinan saya tersebut. Menurut gosipnya bahwa saya berselingkuh dengan suami orang. Wow amit-amit. Dengan gosip ini, saya mencoba merefleksi diri. Apakah saya pernah melakukan kesalahan kepada- nya? Atau semangat kerja saya menurun sehingga dibencinya. Pikiran lain juga muncul apa- kah ia juga suka sama saya. Maklum pimpinan saya seorang prajaka tua yang hingga kini en- tah karena apa belum menikah. Tetapi saya mencoba bersabar. at tubuh menjadi garang istilah orang mengingat citra Polri di negeri tercinta Pimpinan Kurang Bijaksana Saya seorang karyawan yang dinilai halus dalam kata, keras dalam sikap. Sehingga dalam perusahaan yang saya kerja, saya selalu melihat secara lurus. Artinya, yang benar ya benar dan sebaliknya salah saya akan katakan salah. Tak heran jika sumber penyuplai di Belanda itu sudah menyediakan satu juta pil ecstasy untuk diselundupkan ke Indonesia sebagai pangsa pasar yang menguntungkan mereka. Kebetulan dalam perusahaan permebelan, tempat saya kerja itu diterima salah satu direktur baru. Dan kebetulan langsung membawahi saya dalam bidang pemasaran. Tidak bangga juga, saya telah bergerak di perusahaan tersebut di bidang pemasaran ham- pir 10 tahun. Kini datang lagi dengan atasan baru yang saya tidak tahu berapa lama pengalam- an di bidang pemasaran. Namun dari kebijakan dia yang kadang menurut saya tidak obyektif kadang saya tidak laksanakan dan saya lalu melakukan berdasarkan pengalaman saya. Atas tindakan saya ini, atasan saya langsung menunjukkan bawahan lain. Sejak itu praktis perusahaan mengalami kemunduran. Saya sadar tetapi sudah mengambil langkah menonton. Beberapa bulan kemudian perusahaan kelabakan, pemasaran mandek. Atas- an saya yang baru berusaha meminta pengertian saya untuk bekerja kembali seperti sediakala. Tetapi hati saya terlanjur luka. Saya tetap tidak bersedia bekerja di bagian yang sama. Saya memilih bekerja di bidang perencanaan. Tiga warga Belanda sudah tertang- kap dan akan ditindak secara hukum yang berlaku di Indonesia. Meski nam- paknya akan ada lagi warga Belanda atau warga lainnya yang secara nekad akan menyelundup pil haram itu ke negeri tercinta ini. Dalam kontak ini saya tidak me- nyinggung akan bahaya pil ecstasy, apel, tanggo, dollar dan elektrik kalau dipergunakan oleh seseorang. Tetapi yang perlu dijaga agar kejadian penye- lundupan seperti di atas jangan sam- pai terulang. Pada kelaknya jika tidak dituntaskan maka tidak heran masih ada saja orang yang menjualnya, seper- ti kasus daun ganja asal Aceh. Kasus ganja ternyata melibatkan oknum pe- tugas Polri yang menjualnya ke Jakarta dari Medan. Atau bilamana pil haram itu akan dimusnahkan dibakar menurut hemat saya sebaiknya melibatkan para pejabat negara seperti Bapak presiden Soehar- to diikuitsertakan untuk menyaksikan- nya secara langsung. Kami mohon maaf kalau pemasa- ngan gambar tersebut yang telah me- Hal itu sebagai pratanda bahwa nimbulkan rasa tidak puas dan me- Jadi pemakaiannya juga tergolong pemberantasan pil ecstasi atau dan se- nyinggung perasaan berbagai kalangan para muda mudi, anak-anak orang ber- jenisnya sungguh melibatkan semua pembaca. Kami berjanji dengan ke- duit. Atau kalau ada abdi negara seper- pihak termasuk pihak pemerintah. keliruan teknis ini sekiranya menjadi- ti pejabat negara yang suka merasa Dengan demikian tidak ada lagi pil kan kami untuk lebih korektif clan bi- stress dan lemah tenaganya, pil ecstasy haram itu tertinggal di tangan oknum- jaksana. sangat mereka perlukan untuk membu- oknum terutama bagi petugas Polri, cv boekan Jangankan berani mencuri pil ha- ram, mereka juga tak segan-segan me- minta suap di jalanan kepada sopir-so- pir yang salah jalan dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Petugas bah- kan tak peduli dengan anak sekolah, mahasisiwa, karyawan dan sopir angkut- an umum lainya yang terdesak waktu. Jadi demi memberi kepercayaan Jantung ekonomi seakan harus berhenti begitu tiba di jalan ini Kompleks zona industri Tengerang jadi contoh betapa sarana dan prasarana menjadi tuntutan Kapankah siap berlaga untuk era ekonomi bebas Kustiah Jalan Keadilan VIII Jakarta Rinaldi JI Sam Ratulangie Jakarta Pusat dan meyakini masyarakat bahwa pe- basmian itu ada dan benar-benar dila- kukan. Seperti kalau pil haram ini akan dimusnahkan dengan membakarnya maka mohon pejabat negara ikut me- nyaksikanya atau yang melakukan se- bagai simbol. Haji G.Malikmass Bukit Pamulang Indah Blok B18/13 Pamulang Barat Ciputat FRANS BY