Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Waspada
Tipe: Koran
Tanggal: 1988-02-05
Halaman: 05

Konten


ALAMAN IV SUDUT SCALAH GUBSU Pak Kahar, penya- mut tak boleh orang boleh orang naik keras k boleh orang ber- lain-lain. nek sebagai orang embantah sebut. Yang benar, at tidak senang Pe korup. …..…......! SIAP a Opstib Pusat JI Kahardiman, SH in siap berantas diperlukan. ang sudah diperlu- mg ini. Jika tidak ituntaskan, berarti um bisa bersih dari arat negara yang ber- wibawa. Sudah saat- ak namunpun tidak aku aparat penertib. RBARING yata mayat yang ter- hari di RS Dr Pir- an adalah anggota bes Medan. wedihkan kejadian menangani, tak tahu Bagaimana pula ka- Main? Ini namanya cekatan menangani matian. RUSAK Raya Banda Aceh- sis di Km 168-171, rusnya diperbaiki. disebut menyuk- mbangunan. Tidak agar terhalang lalu BURKAN ahid Ritonga Kordi- sana Proyek Penge- gai Deli tahap 1 masih ada pihak usaha mengaburkan Sungai Deli. namanya uji coba emampuan aparat egakkan ketentuan. GAGAL gota DPR RI dari H.Soripada Sihom- takan proyek peter- au di Gunung Tua in 1985 kerbau yang ang tinggal 672. ri luar negeri 800 ah-mudahan tidak in, kerbaunya habis, usnya bertambah. ian sebab-sebabnya. atopek HATIAN yang dimuat di ini khusus untuk - Red. S lisan tidak terlalu angani. Sertakan mndapat giliran aspal ikerjakan oleh salah ang ke daerah Riau. stansi/pejabat yang asang rambu rambu eraturan pemakaian ancaman bahaya. il mobil yang ber r-Operasi mengurus ah disediakan lebih pinang (diex pajak an di pangkal jalan va akan berkurang. ruari 1988.- ap Labuhan Batu Dinding twa Medan ah satu kota yang kan, memang terasa an Taman Margasal- dnya tentu pelajar- kat Taman Kanak- bahkan Perguruan Margasatwa tidak tapi sebagai objek in hewani dan specis m waktu tertentu, at kunjungan ramal uk tujuan pelajaran prihatin, binatang ak sedikit, dan nam awatan atau kurang ama terasa, dengan dari harga tiket yang alau dalam rangka ng dengan hasil pen gandanya sebagai fungsi ilmu/pen- Taman Margasal- BD Pemda Medan. in masih berbentuk pintu loket depan, rtetangga dengan penduduk sekitar- dinding kompleks masuk dan keluar. a larangan petugas k perlu terjadi demi aman Margasatwa dapat mengundang berwenang turun memanjat dinding ng Baru Medan seorang agbaru ada redaksi.- Color Rendition Chart JUM'AT. 5 FEBRUARI 1988 AGAMA - Oleh Sugiharto Soepomo SH Dasar-dasar Kepemimpinan Dalam Islam jang masih taat kepada Allah Sub- hanahu Wata'ala (An Nisa ayat 59). Kepemimpinan pada dasarnya me- rupakan manifestasi gemuruh dari usaha manusia untuk mencapai tujuan akhir dari fitrah kejadiannya. Unsur kepemimpinan lainnya dihadirkan sebagai konsekuensi logis dari penetap- an dasar tujuan. BAGI seorang muslim, mem- pelajari Kepemimpinan dalam Islam merupakan suatu hal yang sangat penting (baca: wajib), sama pen- tingnya dengan mempelajari Al- Islam sendiri. Lebih-lebih bagi generasi muda Islam (kader Umat dan kader Bangsa), segi pentingnya jadi sedemikian mendesak. Sebab pada dirinya melekat tanggung jawab tugas-tugas pengembanan peradaban kemanusiaan di masa yang akan datang. Tetapi lebih penting lagi, peng- amalan konsep Kepemimpinan itu sendiri, dalam realitas kehidupan sehari-hari. Sehingga citra dan cita ideal masyarakat manusia di masa mendatang lebih mudah digambar- kan. Kenyataan ideal masyarakat manusia yang akan datang itu adalah: Masyarakat adil makmur dalam maghfiroh dan ridlo Allah Subhanahu Wa ta'ala. Bagaimana makmurnya suatu negara, kaya dan megahnya suatu bangsa, kalau semua itu diperoleh dan dihimpun melalui jalan yang tidak diridloi Allah, maka sia-sialah usaha dan perjuangan bangsa itu. Untuk itu yang mula-mula harus difahami adalah wawasan FIRMAN ALLAH: "Pada bulan Ramadhan diturunkan Al Qur-an menjadi petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan, petunjuk dan memisahkan antara yang benar dan yang salah...." Dengan diturunkan Allah Al (Q.S. Al Baqarah : 185). Qur-an itu kepada Muhammad Rasulullah pada abad ke VII Maschi (17 Ramadhan 610 M), selama 22 tahun 2 bulan 22 hari sempurnalah Al Qur-an itu diterima Muhammad Rasulullah, yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia sepan- jang sejarah. Garis-garis besarnya telah dicantumkan di dalam Al Qur-an dienul Islam itu sendiri, sebab Kepemimpinan dalam Islam hanya- lah merupakan bagian kecil atau sub sistem dari sistem dienul Islam yang lengkap lagi menyeluruh. Dalam konteks ini Kepemimpinan masuk dalam wilayah muammalah dalam syariat Islam. Kendati demikian, kedudukan Kepemimpinan sangat menentukan bagi terselenggaranya syariat Islam dalam realitas ke- hidupan sehari-hari. Urgensinya sangat beralasan baik secara naq- liah maupun 'aqliah. Kepemimpinan pada dasarnya merupakan manifestasi gemuruh dari usaha manusia untuk mencapai tujuan akhir dari fitrah kejadian- nya. Karena itu dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah usaha manusia untuk mengorganisir potensi-potensi yang ada, baik berupa ilmu dan ketrampilan teknik ataupun sarana-sarana lainnya dengan menggunakan strategi dan taktik tertentu menuju suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam kerang- ka mengabdi kepada Allah SWT. Dengan demikian, Kepemim- pinan dapat menjawab persoalan persoalan (tantangan-tantangan), mengambil keputusan dan memihak tentang masalah hidup dan ke- hidupan manusia dalam segala lapisan masyarakat. Kebenaran PENGERTIAN AL QUR-AN telah lengkap di dalam Al Qur-an, MANUSIA mempunyai bebe- rapa naluri dan keinginan. Salah satu dari naluri tersebut adalah kawan pendamping hidup. Kawan pendamping tersebut tentunya seorang wanita atau pria. Di dalam abad yang modern masalah kawan pendamping tersebut tidaklah susah atau payah mendapatkannya. Seorang laki-laki bisa berdampingan dengan seorang wanita kapan saja dan bahkan kawin kebo. Masalah kawin kebo bukan saja terjadi di negara-negara maju atau sedang berkembang. Di negara Islam sen- diri kawin kebo itu sudah ada. Hidup bersama tanpa menikah di dalam ajaran Islam jelas dilarang. Karena sudah melakukan zina. Hukum zina adalah dosa. Allah ber- firman dalam Surat An Nuur ayat 2 yang artinya: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada ke- duanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat dan bendaklah (pelak- sanaan) hukuman mereka disaksi- kan oleh sekumpulan dari orang- orang yang beriman. Ayat ini melarang umat Islam untuk melaku- kan zina tersebut. Salah satu mengatasi agar umat Islam tidak melakukan zina maka ia harus melaksanakan pernikahan. Dalam islam masalah ukah ini tidak mutlak hukumnya wajib. Perkawin- an (nikah) dalam Islam hukumnya Sunah, namun sunah itu baik. Syarat untuk nikah bagi seorang lelaki adalah mempunyai persediaan untuk kewajiban tersebut. Bagi yang belum mempunyai persediaan dan belum mampu hendaklah tun- da dahulu dan berpuasa. Rasulullah bersabda dalam sebuah haditsnya yang berbunyi "Barang siapa di an- tara kamu yang belum mampu un- tuk kawin maka hendaklah kamu berpuasa karena dengan berpuasa dapat melemahkan nafsu birahi". Dari ungkapan di atas memberi kan makna tersendiri tentang per- nikahan tersebut. Selain menikah merupakan perintah Allah. Per- nikahan juga mengandung hikmah- hikmah yang dirasakan secara in- Qur-an menurut bahasa berarti "bacaan", sebagaimana dalam Fir- hanya tugas manusia yang berpikir- an maju dan tinggi dapat merasa- kan kesempurnaan yang terkandung didalam Al Qur-an itu. Manakala mengumpulkan Al Qur-an (di seseorang itu tidak mendalam ilmu man Allah Sesungguhnya dalam dadamu) dan (menetapkan) pengetahuannya, buku-buku yang bacaannya (pada lidahmu) itu bernilai ilmu pengetahuan tidak adalah tanggungan Kami (Karena itu) jika Kami telah membacakan- nya hendaklah kamu ikuti bacaan- membawa perubahan apa-apa kepada manusia itu. Sama halnya modern ini sangatlah gampang. Cara seperti hidup kawin kebo, pro- stitusi dan free sex merupakan lam- bang kebanggaan sebahagian manusia. Namun jika disadari hidup demikian dapat mengundang munculnya beberapa penyakit. Un- tuk menjaga agar umat Islam tidak termasuk ke dalam kelompok yang merugi maka Islam menyuruh nikah secara halal. Tetapi senantiasa ada saja yang mau merugi. Melakukan hubungan seks diluar pernikahan tidak akan per- nah menemukan keturunan yang jelas. Lawan jenis tidak akan mau mengambil risiko mengandung apa- lagi melahirkan seorang bayi. Bagi seorang wanita yang melakukan prostitusi tidak akan pernah memimpikan seorang bayi lahir dari rahimnya. Jika seorang lelaki yang senantiasa mengerjakan prostitusi, tidak terpikir ia akan memperoleh anak. Untuk mencegah timbulnya penyakit dan ekses lain akibat hidup bersama tanpa menikah, sebagai umat Islam disuruh untuk nikah. Berbagai masalah bisa terjadi di luar pernikahan itu, karenanya Islam menganjurkan jangan melakukan zina. Nabi Muhammad ada bersab- da dalam sebuah hadits yang ber- bunyi "Nikah adalah sunnahku, siapa tidak menikah bukan dari golonganku". Hadits ini memberi- kan dua pedoman. Al Qur-an dan Hadits. Mengerjakan perintah Allah berarti mendapat pahala. Melak- sanakan nikah juga termasuk pahala, sudahkah kita termasuk golongan yang mendapat pahala ? Jawabannya terpulang kepada diri kita masing-masing. Dari satu sisi nikah merupakan perintah Allah sedangkan dari sisi lain nikah merupakan penghambat manusia mengumbar nafsu. Sony Seira KITA SUKSESKAN PEMBANGUNAN HUKUM ISLA MALALA YURISPRIPIS kepada masa depan. Di samping itu kepemimpinan bersifat sistemik, di mana bagian satu dengan lainnya berkait erat dalam keseluruhan. Dari pengertian di atas dapat dikemukakan, bahwa suatu Kepe- mimpinan harus dipenuhi unsur- unsur tertentu sehingga bangunan mengenai Kepemimpinan itu dalam realisasinya dimungkinkan. Unsur yang paling pokok adalah penetap- an tujuan atau perumusan tujuan secara jelas, sehingga laju dan pola gerak pada jabaran berikutnya mudah difahami. Perumusan tu- juan berarti penguraian sesuatu hal yang prinsip mengenai dunia cita tertentu yang ingin dicapai. Sedang- kan penguraian sesuatu hal menge- nai dunia cita yang ingin dicapai/ diraih itu sangat ditentukan oleh kerangka landasan yang diletakkan. Di atas kerangka landasan apakah bangunan kepemimpinan itu disusun, di situlah gambaran pen- capaian tujuan itu dimungkinkan. KONSISTEN Kemudian unsur-unsur Kepe- dihadirkan LOKAKARYA: Ketua Mahkamah Agung Ali Said, SH membuka Lokakarya Kompilasi Hukum Islam, Selasa malam (2/2), di Jakarta. Lokakarya 4 hari itu diikuti sekitar 200 peserta, antara lain ulama seluruh Indonesia, cendikiawan dan beberapa rektor IAIN. (Antara). nya. (Q.S.Al Qiyamah: 17-18). Definisi Al Qur-an ialah Kalau Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyu kan) kepada Nabi Muhammad SAW dan membacanya adalah Jadi segala ayat yang tertera di ibadah. dalam Al Qur-an itu adalah ber- sumber dari Firman Allah semata- mata, yang disampaikan Muham- mad Rasulullah kepada sahabat- sahabatnya. Apa yang disampai- Al Qur-an Pedoman Hidup Manusia dengan seorang anak balita, yang belum mengetahui nilai emas dan intan berlian. Andai kata disodor- kan kepada anak balita atau anak kecil dua baskom, satu berisi intan berlian, dan satu lagi berisi kueh, pasti anak itu akan mengambil baskom yang berisi kueh, sedang baskom yang berisi emas intan berlian tidak akan digubrisnya, karena anak tersebut belum menge- nal nilai dari pada emas intan berlian. Yang penting baginya pokoke mangan, genjang genjuit kannya itu bukanlah dari hasil tali kecapai, kanyang paruik, pemikirannya, akan tetapi adalah sananglah hati. Jadi yang penting berdasarkan wahyu yang diterima- baginya adalah asal kenyang perut- nya. Wahyu itu diturunkan Allah nya itulah yang berharga bagi anak balita. kepada beliau adakalanya memberi jawaban terhadap pertanyaan yang muncul dari masyarakat. Dengan demikian susunan keterangan yang terdapat di dalam Al Qur-an, tidak diisyaratkan, bahwa dalam berke- pemimpinan harus ada Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (pada Pemimpin ataupun yang dipimpin), kemudian adanya ketaatan kepada Ulul Amri yang Mukmin, di sam- ping adanya hak-hak menggugat oleh yang dipimpin terhadap seperti karangan manusia yang di- dapati di dalam buku-buku seperti yang beredar pada masa ini. Jika karangan tersusun menurut bab, dan pasal, dan ayat demi ayat ter- susun secara bersambung satu demi satu sehingga terurai dalam satu masalah yang dibicarakan, atau yang dipersoalkan. Apabila sesuatu buku atau kitab suci sudah tersusun jalan ceritanya sambung menyam- bung lembar demi lembaran jelas- lah bahwa buku itu adalah dilarang atau disusun manusia. Sedangkan Al Qur-an, tidak tersusun dalam satu halaman demi halaman mem- yang kepada Menikah Bagi Umat Islam dividu oleh manusia yang melaku- kannya, bahkan hikmahnya tadi dapat dirasakan oleh bangsa dan negara. Dalam ajaran Islam ethika bicarakan sesuatu masalah, hanya pernikahan itu sudah diatur. Dengan menikah naluri manusia itu terpenuhi dan individu yang persoalan tersebut kemudian di ayat berikutnya sudah lain persoalan menikah itupun tidak lagi terlibat lagi. Sebagai contoh. Firman Allah kepada skandal yang diharamkan. dalam Surat Al Baqarah : 221 : Kebutuhan seks di abad "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walau pun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang orang musyrik (dengan wanita- wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan am- punan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (pe- kepada rintah-perintahNya) manusia supaya mereka mengambil pengajaran." Kemudian di ayat berikutnya 222, pertanyaan mereka kepada Muhammad Rasulullah tentang haidh dan seterusnya. Jadi persoal- an sudah lain yang dibicarakan. Di surat Al Baqarah ayat 221, adalah sebagai menjawab pertanyaan se- orang pemuda yang bernama Ibnu Abi Murtsid al-Ghanawi, yang meminta izin kepada Muhammad Rasulullah untuk menikahi seorang wanita musyrik yang cantik dan ter- pandang. Sedang di Al Baqarah : 22.2, adalah menjelaskan tentang wanita yang haidh. Tegasnya turun ayat demi ayat ada kaitannya dengan pertanyaan masyarakat ter- hadap Muhammad Rasulullah, se- hingga ayat itu tidak tersusun dalam lembaran yang satu menyelesaikan sesuatu persoalan. Sungguh pun demikian tidak dijumpai perten- tangan antara satu ayat dengan ayat lainnya, hanya ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus. Hal ini dapat diketahui adalah dengan ilmu pengetahuan yang mendalam tentang ayat-ayat Qur-an, baik dari segi asbabun nuzulnya dan ayat-ayat yang muhkamat atau yang ayat yang mutasyabihah. Ada dari golongan tertentu yang mengatakan bahwa Qur-an itu adalah disusun Khalifah Utsman dan dianggap sah Kitab Qur-an adalah sesudahnya. Anggapan itu adalah keliru. Sebab di masa Muhammad Rasulullah sudah sem- purna ayat Qur-an, tetapi belum dibukukan, baru merupakan hafal- an bagi umat Islam ditambah dengan catatan yang ditulis para sahabat, terutama Zaid bin Tsabit, merupakan sekretaris Muhammad Rasulullah. Kemudian di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Siddiq, telah dibukukan Al Qur-an dengan nama: "Mus-haf", lalu di masa Khalifah Utsman bin Affan hanya memperbanyak saja bukan menyusun Al Qur-an. Oleh sebab itu jangan terpancing dari pendapat yang keliru tentang keaslian Al Qur- an itu. Qur-an terpelihara sejak Pemimpin taatannya (pemimpin yang Allah mimpinan lainnya sebagai konsekuensi logis dari penetapan dasar dan tujuan yang ingin dicapai tersebut. Unsur-unsur Kepemimpinan yang lainnya adalah: Jamaah (organisasi) dengan seperangkat ilmu dan ketrampilan tekniknya (secara luas: syariatnya), sasaran antara tertentu, strategi dan taktik yang dipilih, dan Pemimpin Jamaah sebagai pelaksana dalam penggelindingan konsep kepemim- Dasar-dasar Kepemimpinan dalam Islam dapat kita fahami an- tara lain di dalam Al Qur-an surah An Nisa (4) ayat 59 dengan meng- kaitkan surah At-Taubah (9) ayat 107 s.d 110 sebagai gambaran un- tuk memahami landasan/titik tolak pinan itu sendiri. berjanji setia untuk mendukung diselenggarakannya Kepemimpinan. Kepemimpinan dari Pemimpin yang Didalam surah An Nisa ayat 59 dipilihnya. Pemimpin ditaati sepan- deviasi dari ke- SWT Q.S. deviant, lihat Faathir (35) ayat 39 jo Q.S. Al- Ghasyiyah (89) ayat 6 s.d 12), sedangkan ketaatan kepada Pemim- pin hanya diberikan terhadap hal- hal yang makruf. Pada tingkat terakhir kekuasaan mutlak tetap ditangan Allah SWT. Dalam ayat-ayat Al Qur-an di atas terkandung syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Pemimpin Umat, baik syarat obyektif maupun sub-obyektif. Syarat obyektif tersebut adalah : Muslim (laki-laki beriman) Qur-any, ahlussunnah, lebih dahulu kemuslimannya, telah berhijrah lebih dahulu (mening- galkan hal-hal yang dibenci Allah SWT dan RasulNya) dan paling tua diantara sesamanya. Sedang syarat- syarat subyektif: dapat dipercaya, konsisten di atas kebenaran, dan senantiasa mengajak ke arah/me- nyampaikan kebenaran tersebut, serta memiliki kecendekiaan dan kapasitas-kapasitas tertentu dalam mengemban amanat Umat. Pemim- pin yang seperti demikian akan memiliki kapasitas hidup untuk ber- juang, bukan berjuang untuk hidup. atas telah terpenuhi, maka yang di- Jika syarat-syarat tersebut di sepakati Jamaah dalam Musyawa- rah itulah kemudian yang menjadi Pemimpin Umat (dalam hal ini berlainan dengan faham Si'ah). Kemudian Jamaah bersalaman dan turunnya sampai sekarang ini, sebagai bukti pada setiap masa ada yang hafal Al Qur-an, sehingga dengan demikian Al Qur-an tidak bisa dirusak tangan manusia. Fir- man Allah Sesungguhnya Kami- lah yang menurunkan Al Qur-an dan sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya. (Q.S. Al Hi- jir: 9). Maka di dalam Al Qur-an sudah didapati kebenaran yang hakiki, hanya bagi manusia yang dari rasa berpikiran sehat terlepas sentimen, niscaya ia akan menerima kebenaran Al Qur-an, dan berusaha manusia sepanjang masa, atau me- nyelamatkan dari dunia sampai akhirat. PETUNJUK AL QUR-AN Al Qur-an diturunkan Allah kepada Muhammad Rasulullah adalah pada abad ke VII Masehi, manusia pada masa itu belum dapat membahas tentang kejadian langit dan bumi, secara terinci, maka dengan turunnya Al Qur-an manusia dapat mengetahui tentang kejadian langit dan bumi. Firman Allah Tuhanmu adalah yang men- dalam ciptakan langit dan bumi enam hari (masa). (Q.S. Araf : 54). Menurut Abussu'ud, ahli taf- beberapa ayat yang menyinggung sir abad XVI M, tidak dapat meng- gambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk pencip- taan alam diperlukan suatu pem- bagian waktu bukan dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam peristiwa-peristiwa atau dalam bahasa Arabnya "naubat". Sarjana alam baru membuat teori tentang kejadian alam, se- hingga teori kejadian alam ini ber- beda-beda dari para sarjananya karena mereka memandang dari tempat tegaknya atau pandangan- nya. Seperti Patlomeuz berpendapat bahwa bumilah yang menjadi pusat alam, sedang menurut teori Coper- nicus, bahwa mataharilah yang menjadi pusat alam. Didunia Barat masih berpendapat geocentris (bumi pusat alam) yang dipelopori Hippar- cus dari Rhodes dan Patlomeuz dari Alexanderia sejak dari abad per- tama sampai abad XV. Tetapi Al Qur-an yang turun pada abad VII telah membicarakannya seperti ayat tersebut di atas. Kemudian abad XV, Coper- nicus (1473-1543 M), berkata bumi- lah yang bergerak mengelilingi matahari. Jadi jelas berbeda dengan pendapat Patlomeuz yang dianut dunia Barat pada abad pertama sampai abad akhir XV. WASPADA Sedang menurut Al Qur-an Surat An Naml: 88, Firman Allah : Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berlari (ber- jalan) sebagai jalannya awan (Be- gitulah) perbuatan Allah yang mem- buat dengan kokoh tiap-tiap se- suatu: sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerja- kan". Cobalah anda perbandingkan pengetahuan yang modern atau dengan kata lain berkat tehnologi canggih dapat mengetahui gerak bumi yang mengelilingi matahari dalam sekali setahun bumi menge- lilingi matahari, sedang bulan mengelilingi bumi sekali dalam sebulan. Dengan demikian makin yakinlah manusia bahwa apa yang dikemukakan Muhammad Rasu- lullah berdasarkan wahyu itu, dapat dibuktikan oleh sarjana alam, apa yang diterakan di dalam Al Qur-an. Arab Jahiliyah dahulu tentang gunung-gunung berlari, lalu dilon- tarkan bahwa Muhammad itu gila dan sebagainya. karena mereka belum mampu membanas peristiwa alam. Akan tetapi dengan berat perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, maka berobah pandangan manusia terhadap ajaran yang dibawa Muhammad Rasulullah sesuai dengan proses il- mu pengetahuan. Dengan kata lain ajaran yang dibawa Muhammad Rasulullah itu dapat diterima para sarjana alam. Merupakan petunjuk dan pedoman bagi manusia ajaran Al Qur-an itu. ● Drs.Abdullah Sinaga KARAKTERISTIK Kemudian agar kepemimpinan itu dapat berjalan dengan semesti- nya, ia mesti menerapkan prinsip prinsip kepemimpinan tersebut, an- tara lain : Prinsip Keadilan/Adil (Q.S. An Nisa ayat 58). Prinsip Kebersamaan/Ummah (Q.S. Ali Imran ayat 103). Prinsip Keteladanan (Q.S. Ash Shaf ayat 2-3). Prinsip Kesejajaran/Kesamaan (Q.S. Al Hujurat ayat 13). Prinsip Ketaatan (Q.S. An Nisa ayat 59). Prinsip Musyawarah (Q.S. Ali Imran ayat 159 jo Asy-Sura ayat 38). - Prinsip Jihad dan Ijtihad (Q.S. Dalam kenyataan praktek Ash-Shaf ayat 10 s.d 12). Kepemimpinan tidak selamanya tergambar dalam persis seperti yang kerangka idealitas sebagaimana tersebut di atas, melainkan lahir dalam pola-pola kepemimpinan- yang Majemuk dan beraneka ragam. Secara empiris pola-pola kepemimpinan maupun karakteris- tik kepemimpinan dalam masya- dalam rakat dapat dikategorikan pola-pola sebagai berikut : a). Berdasarkan Karakteristik yang melekat padanya, Kepemimpinan dapat mengejawantah dalam pola kharismatik ataupun melankolik (tinjauan Psichologis). b). Berdasarkan sistem pengorgani- sasiannya dan instrumen pengorga- nisasiannya, mengejawantah dalam pola: Tradisional dan pola Modern, yang secara typologis juga dapat mengejawantah dalam wujud Kepe- mimpinan yang otoriter/totaliter, liberal ataupun demokratik sesuai dengan karakteristik masyarakat yang bersangkutan (tinjauan sosio- logis). c). Berdasarkan orientasinya atau menurut nilai yang dibawanya, dapat dibedakan menjadi pola Kepemimpinan yang Islamis (Muslim Proper) pola Kepemimpin- an Non Muslim, dan Pola Kepe- mimpinan yang setengah Muslim (dis orientasi, Muslim Westerni- zed). Disebabkan kenyataan adanya pola-pola kepemimpinan yang beraneka ragam itu, maka tugas- menjadi sangat Berbicara tentang kesalahan dan dosa ada yang disengaja dan ada pula yang tak disengaja. Ke- salahan dan dosa yang menjadi titik perhatian utama dalam tulisan ini adalah dosa yang disengaja baik terhadap Allah maupun terhadap manusia; mungkin berupa me- ninggalkan perintah Allah atau melanggar laranganNya maupun melanggar hak orang lain. Dan bila dikaji lebih jauh dalam segi pelanggaran hak orang lain ada yang sifatnya berbuat zalim/aniaya ada berupa penipuan, pemerasan dan lain-lain; dan tindak kesalahannya mungkin sebagai dalang/biang keladinya, mungkin ikut-ikutan saja dan mungkin pula karena takut sehingga rasa terpaksa bersekongkol dalam perbuatan munkar dan mungkin pula dilaku- kan sendirian saja. Sebagai seorang mukmin harus mengakui bahwa dosa yang ber- aneka ragam tersebut adalah suatu kejahilan dan pelakunya diberi nama si JAHIL. Dosa adalah perbuatan keji (qobih) dibencii oleh semua orang yang berakal sehat. Manusia yang berakal sehat/waras berarti BANYAK orang yang tak tahu kalau dirinya berpenyakit. Banyak pula orang yang tak sadar kalau dirinya memiliki aib atau cacad. Anehnya ia mengetahui penyakit orang lain, padahal dirinya sendiri berpenyakit. Pepatah orang-orang tua selalu menyebutkan : "tungau di seberang lautan nampak, tetapi gajah bertengger di pelupuk matanya ia tak tahu". Dalam kalangan sufi orang sedemi- kian disebut "orang jahil". Orang ini masih dikelompokkan sebagai orang bodoh. Karena tak mampu mendeteksi kejelekan-kejelekan dirinya sendiri. Apabila dalam segala lapisan masyarakat muslim yakni mulai dari golongan elit sampai si jembel, se- jak dari kaum cendekiawan sampai sampai rakyat jelata, baik kelom- pok ilmiawan maupun buta aksara, dari kumpulan ulama hatta orang- orang awam, baik laki-laki maupun wanita, sejak dari barisan Pemim- pin sampai garis terendah banyak terlibat sebagai kasus yang telah dikemukakan maka kehidupan seperti itu bagaikan Telur Busuk, dipandang dari luar tetap putih ber- sih, tetapi isinya telah rusak menusuk hidung. Kehidupan masyarakat muslimin tidak pantas bagaikan telur busuk, semua ingin menghirup udara segar, nyaman dan menyenangkan. mimbar juma Cara Mengetahui Aib Diri - Oleh Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu mempergunakan cer- min. Dengan cermin itu kita bisa mengetahui apakah muka kita ber- jerawat atau tidak. Apakah rambut kita telah mulai beruban atau belum. Mungkin ada bercak-bercak noda yang perlu kita obati. Apakah obat yang akan kita oleskan tepat di tempatnya atau tidak. Kesemuanya memerlukan bantuan cermin. Dan cermin yang sebenarnya akan tetap berlaku jujur. Ia akan menunjukkan bahwa muka kita berjerawat kalau memang ada jerawatnya. Ia akan memberitahukan bahwa hidung anda berkurap kalau memang benar ada kurapnya. Cermin yang netral tidak akan mau berdusta. tugas pengkaderan urgen untuk menjawab permasalah- an yang dihadapi dalam dinamika kepemimpinan umat maupun Ke- pemimpinan Bangsa. Itu berarti 1. Berhalaqahlah dengan orang-orang berilmu. Berhalaqah maksudnya mendekatkan diri, bergaul dan bela- secara dekat. Dengan berhalaqah kepada orang yang benar-benar jar menjadi tugas dan tanggung jawab berilmu (Syaikhun Bashirun bi 'uyubin Nafs) maka kita akan Generasi Muda Islam pada khusus- nya, sebagai pengemban amanat menjabarkannya dalam kehidupan- khilafah (sunnatullah) dan peng- nya sehari-hari, mengetahui apa dan di mana aib kita. Sekaligus ditunjukinya kita bagaimana mengatasinya (wakaifa 'alajuhu). Al Ghazali tidak menganjurkan berhalaqah dengan orang bertitel kesarjanaan. Beliau menganjurkan berhalaqahlah dengan orang berilmu. guna menjamin emban amanat Risalah (sunnatud- keselamatan rohani dan jasmani dien). Sebagai seorang Muslim kita harus sadar bahwa menuntut il- Untuk itu masing-masing muslim janganlah menumpuk- numpuk kejahatan. Walaupun kita mengakui kebenaran ungkapan "Tak ada manusia yang tak ber- salah"; janganlah digunakan untuk melakukan kesalahan sebanyak- banyaknya. Sama halnya dengan ajaran Islam tentang Taubat, yakni Allah mengampuni dosa hambaNya yang taubat/menyesali perbuatan- Kalau cermin itu telah menunjukkan adanya jerawat di muka kita tentu sebagai orang yang arif kita harus bersyukur. Karena dengan demikian memudahkan kita untuk memberantasnya sedini mungkin. Jerawat itu tidak akan berkepanjangan bertahta di wa- jah kita. Dan wajah kita yang semula mulai ternoda kini dapat bersih dan berbinar kembali. Nah, setelah itu letakkanlah cermin itu kem- bali pada tempatnya. Mungkin pada waktu lain anda masih tetap membutuhkannya. Hanya orang-orang yang kurang akallah yang akan membanting hancur cermin itu karena telah demikian berani menampakkan dan menunjukkan jerawat di wajah anda. Padahal, cermin itu berlaku demikian demi kebaikan diri anda juga. Mengingat sukarnya mendeteksi aib yang ada pada diri sen- diri, maka Allah menganjurkan diberlakukannya: watawashaw bil haqqi wa tawashaw bis shobri (kiranya kamu dapat saling ingat- mengingatkan dalam hal yang benar, dan kiranya kamu dapat melakukan hal tersebut dengan penuh kesabaran). Kalimat "watawashaw" menghendaki adanya dua pihak. Pihak yang mengingatkan di satu pihak. Dan pihak yang diingatkan di sisi lain. Dalam kaitan ini Al Qur-an menampilkan kisah yang amat menarik, yakni antara Luqman dengan anaknya. Luqman sebagai seorang ayah yang dituntut dengan berbagai kewajiban (kewajiban memelihara, memimpin, dan mengayomi) mengingatkan anaknya dengan beberapa hal yang sangat diperlukan demi masa depan anaknya. Antara lain Luqman mengingatkan perlunya kedisiplinan dan tanggungjawab menegakkan sholat, amar makruf nahi anil mungkar, dan sebagainya. Luqman melakukannya dengan penuh kesabaran. Tidak dengan cara otoriter. Demikian pula Nabi Ibrahim setelah menerima perintah Allah agar Ibrahim menyembelih Ismail. Dipanggilnya Ismail dengan sikap seorang bapak yang penuh kedewasaan. Ibrahim berkata "fanzhur mazaa taroo" (wahai anakku fikirkanlah dan bagaimana pendapat- mu). Ibrahim juga tidak bertindak otoriter. Padahal apalah salahnya ia bersikap otoriter karena yang akan dijalankan (penyembelihan Ismail) adalah perintah Allah. Kedua profil di atas (Luqman dan Ibrahim) merupakan con- toh sikap seorang pemimpin yang bijaksana. Terhadap bawahan- nya ia memberikan pedoman, bimbingan, peringatan yang menyen- tuh. Sehingga dengan demikian orang yang diberi peringatan itu menerimanya dengan rasa ikhlas. Sekaligus mendorong seseorang kalau-kalau mungkin diperingatkan itu mengintrospeksi diri yang ada hal yang perlu segera diperbaiki. Kesalahan Berbuat Baik Besok TAK ada gading yang tak nya bahkan Allah SWT menyukai orang-orang yang taubat. Rahmat retak, tak ada bersalah. manusia yang tak tersebut bukanlah berarti kita bebas mengerjakan dosa sebanyak-banyak nya karena Tuhan akan meng- ampuninya juga. Ajaran Islam tersebut mengan- dung arti apabila kita telah terlan- jur berbuat dosa segeralah minta ampun dan bertekad tak akan mengulanginya lagi. Berarti masih ada jalan memperbaiki diri dan tidak boleh berputus asa. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk untuk kembali ke jalan yang di- ridlaiNya. Imam Al Ghazali mengemukakan beberapa methoda untuk mengetahui aib diri Kemarin Jadi Tangga nya dari dosa besar tersebut sehingga tidak terulang lagi, tetapi belum mampu memelihara diri dari Karena itu bila terjerumus ke jurang kesalahan segeralah taubat dan harus mawas diri jangan sam- pai terperosok kedua kalinya. Bahkan seseorang mukmin yang ingin memelihara kebersihan batin- nya bukan hanya menjaga jangan terperosok kedua kalinya tetapi meningkatkan amal kebajikannya. Dengan kata lain pada mulanya per- nah kehilangan akal budi atau kerussakan akal budi kemudian baik/sehat kembali dan seterusnya tambah sehat. Taubat seperti itulah taubat yang paling baik. manusia Syekh Al Maraghy dalam menafsirkan ayat 16 Surah An Nisa mengungkapkan bahwa Taubat ter- bagi 4 tingkat sebagai berikut : memiliki akal budi dan akal budi Tingkat Pertama : "Seseorang yang telah terlan- adalah anugerah Allah SWT yang membedakan dari jur berbuat jelek, tetapi karena masih memiliki Fithrah yang sehat binatang. Manakala manusia itu melakukan dosa/kejahatan berarti persiapan batinnya masih segar menerima kebajikan maka dengan ia telah kehilangan akal budi walau akal pikiran yang tenang sangat pun sifatnya mungkin hanya semen- menyesali peri lakunya; dan tidak tara saja yakni di kala melakukan sampai di situ saja malahan ber- kejahatan tersebut. Seseorang yang usaha mengangkat martabat dirinya telah kehilangan akal budi berarti berbuat keutamaan serta men- sama dengan hewan atau manusia jauhkan setiap kelakuan dan sifat Jahil. Barangsiapa kerap kali ke- hilangan akal budi juga berarti yang hina/buruk." kehilangan pantulan sinar agama, tidak salah lagi digelar manusia Jahil Sejati. Manusia-manusia muslim seperti itu adalah mereka yang telah terbiasa melakukan kemunkaran, sudah menjadi ke- senangannya mengerjakan dosa pada hari ini sama dengan dosa kemarin dan mungkin telah ber- tekad supaya berlanjut sepanjang hayatnya.. Sebagai contoh dapat diutara- kan Pernah seseorang berbuat zalim kepada saudaranya yang muslim lantas api penyesalan mem- bakar kesalahannya dengan jalan minta maaf kepada yang ber- sangkutan, mohon ampun kepada Allah SWT seraya menarik kezalim- annya dan selanjutnya selalu ber- buat baik kepada yang telah dizaliminya tadi melebihi dari kea- daan semula sehingga terjalin kasih sayang dan persaudaraan erat an- tara keduanya. Atau seseorang per- nah salah langkah mengambil milik bersama untuk kepentingan pribadi nya, kemudian dengan cahaya batinnya yang masih terang dengan sinar agama merasa jijik melihat perbuatannya tadi sehingga ia mengembalikannya dan tidak akan melakukan perbuatan serupa (Taubat) untuk selamanya bahkan mengorbankan hartanya untuk kemajuan bersama sehingga dicin- tai masyarakatnya. Tingkat Kedua : Taubat dari suatu kesalahan/ dosa dengan rasa penyesalan yang sangat berkesan dalam jiwanya sehingga tak akan mengulanginya lagi tetapi tidak berusaha menger- jakan kebajikan berupa kebalikan perbuatan munkar tersebut. Berar- ti hanya sekedar menghapus dosa vang telah berlalu. Tingkat Ketiga: Taubat dari suatu dosa besar yang telah hinggap menguasai jiwanya beberapa saat. Berkat rahmat kesadaran dan penyesalan- nya ia mampu mengendalikan diri- dosa-dosa kecil yang seirama dengan dosa besar dimaksud. Dengan kata lain taubat tingkat ketiga ini belum dapat mengikis Tingkat taubat seperti ini adalah tingkat terendah namun masih tetap mengandung nilai kebaikan di mana masih ada kesadaran dan imannya masih ma- ju melakukan perlawanan dalam setiap kali terjerumus berbuat salah. Tetapi perlu kita garis bawahi sungguhpun pekerjaan jahat dan taubat dimaksud terjadi berulang- ulang bukanlah berarti berlaku un- tuk seterusnya. Taubat tingkat keempat ini bukanlah memberi peluang kepada seseorang seenak- nya melakukan maksiat dan taubat beberapa kali. Segala sesuatunya mempunyai batas tertentu. Bila per- buatan maksiat dan kemunkaran kerap kali dilakukan akan meng- akibatkan kelamnya sinar agama dalam batin seseorang sehingga per- buatan munkar tersebut bukan lagi suatu hal yang jelek dalam pan- dangannya malahan beralih menjadi suatu kesenangannya. Kalau pada mulanya masih timbul rasa penyesal annya, tetapi akhirnya rasa penyesalan dimaksud akan sirna. Karena itu setiap kemunkaran yang telah terjadi dalam segala aspek dan semua sektor kehidupan masyarakat muslimin mutlak harus dihentikan melalui taubat yang sedalam-dalamnya. Hal ini adalah suatu perjuangan/jihad dalam diri sendiri. Harus direnungkan se- dalam-dalamnya alangkah kotornya rohani seseorang muslim kalau tidak taubat dari suatu dosa. Apabila dibiarkan berkelanjutan maka kotoran/noda tersebut pasti membengkak dan menutupi cahaya hati atau merupakan Hijab/Pen- dinding dari kebenaran dan amal saleh, selanjutnya akan menerima efek negatifnya semakin jauh dari Allah SWT. — Dan manakala hijab tersebut semakin tebal efeknya semakin mengerikan dimana walaupun ia beramal saleh hanya saleh dipan- dang dari luar saja, bukan lagi ikhlas karena Allah. Amal seperti itu jangankan meninggalkan kesan baik terhadap jiwa malahan akan menambah penyakit. Apa artinya hidup lebih lama lagi di muka bumi Allah ini kalau setiap harinya tam- bah jauh dari Allah SWT. Seseorang muslim bertambah jauh dari Penciptanya ditunjukkan oleh bukti yang jelas tidak mau taubat dari kesalahannya/dosa kemarin. Kalau kemarin dia menipu, hari inipun menipu dan besokpun akan tetap menipu. Na'udzu billahi min dzalik. ● Drs.Mahabat Siregar Drs.Mohd.Hidayat Nassery mu hukumnya wajib. Menuntut ilmu tak kenal batas henti. Jangan karena telah bertitel atau menjadi pejabat lantas merasa rendah un- tuk berhalaqah dengan ahli ilmu. Rasul bersabda: Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu dari sejak buaian hingga ke liang lahad). Dengan demikian istilah "long life education" bukan barang baru bagi umat Islam. Lagipula oleh karena kemungkinan melakukan kesalahan yang menimbulkan aib diri juga tidak mustahil dilakukan oleh orang ber- titel dan berjabatan, maka sungguh tepat bila orang bertitel dan berjabatan tidak sungkan untuk berhalaqah dengan orang berilmu. 2. Bertemanlah dengan orang yang benar-benar dapat dijadikan teman. Hal ini bukan mudah. Apalagi dalam zaman dimana manusia telah hampir tenggel dalam lautan materialis. Kebanyakan orang sekarang hanya berteman dengan orang-orang yang mau memuja- muja dirinya. Kalau sesekali ia dikritik maka orang yang mengkritik langsung dicap dan dipandang sebagai musuh. Padahal kritik itu (apalagi datangnya dari seorang karib) disampaikan demi kebaikan dirinya. Anda yang pernah membaca sejarah Umar Bin Khattab dapat mencatat bagaimana sikap Umar setelah ia dibai'at sebagai Khalifah. Beliau berpidato di hadapan masyarakat. Antara lain katanya: "Apakah anda benar-benar ikhlas menerima kepemimpinanku ?" Jawab mereka: "ikhlas, selama engkau tetap berpegang kepada Al Qur-an dan Sunnah Rasul". Umar bertanya: "Sekiranya Umar menyimpang dari Al Qur-an dan Sunnah Rasul, adakah kamu yang berani meluruskannya ?". Suasana hening sejenak. Seketika itu seorang anak muda tampil ke depan dengan mengangkat pedangnya sambil berkata: "Pedangku inilah yang akan meluruskan Umar sekiranya ia menyimpang dari Al Qur-an dan Sunnah Rasul". Umar segera menangkap anak muda itu, lalu beliau berkata: "Alham- dulillah, kiranya masih ada orang yang bersedia meluruskan diriku jika aku bersalah". Nah, inilah profil pemimpin yang ikhlas. la malah berterimakasih atas kritik yang disampaikan kepadanya. Bukan malah mencak-mencak sebagaimana kebanyakan orang masa kini. 3. Memperhatikan komentar orang yang tidak senang pada kita. Karena biasanya kelemahan-kelemahan diri kita akan men- jadi bahan pihak musuh dalam upayanya menjatuhkan kita. Justeru karena itu seorang yang bijaksana akan menggunakan hal itu un- tuk bercermin diri. Biasanya pihak musuh akan lebih jeli melihat aib kita ketimbang kita sendiri. Pepatah Arab menyebutkan : "Aduwwun alimun khoirun min shodieqin jahilin" (musuh yang korektif lebih baik daripada teman yang jahil). Teman yang jahil tak akan mau menunjukkan aib kita. Teman yang hanya mengkultuskan kita itulah teman yang bodoh. Sekarang coba an- da perhatikan, apakah anda berteman dengan orang yang arif atau orang yang bodoh. Kalau ia bersikap korektif itulah teman yang arif, tapi kalau ia terus menerus mengkultuskan anda maka teman anda itu adalah teman yang jahil. sadar HALAMAN V kita 4. Meluaskan pergaulan. Jangan mengisolir diri. Rasulullah sendiri setelah menerima wahyu terus bangkit membaur ke tengah masyarakat. Beliau tinggalkan Gua Hira yang terpencil itu. Kenapa demikian? Karena disamping menegakkan missi risalah menyam- paikan Islam kepada umat, maka dengan membaur ke tengah masya- rakat kita akan dapat memperluas iktibar. Kita lihat orang melakukan kesalahan maka kita mengkaji diri, adakah gejala kesalahan Kita lihat itu mulai tercermin pada diri kita atau orang mati kitapun Hal ini mendorong persiapan untuk mati kesalahannya sampai putih bersih kembali; ibarat membasuh kain putih yang sangat kotor sisa kotor- an masih tinggal sedikit lagi. Tingkat Keempat : Seseorang yang telah taubat/ minta ampun kehadirat Allah SWT. kemudian bila bertemu dengan co- baan yang sama tak dapat mengen- dalikan dirinya alias kembali pula mengerjakan dosa dimaksud. Se- telah itu menyesal pula dan taubat lagi, tetapi kembali pula melakukan IPHI Kota Medan dosa serupa. Demikian berulang- ulang silih berganti menguasai diri- nya antara cahaya iman dan dorongan nafsunya yang telah men- dapat dukungan dari syaitan. tidak. bahwa suatu saat pasti kita juga akan mati. bercermin diri, telah sejauh mana siapkan. kita untuk telah Demikianlah beberapa cara untuk mengetahui aib diri. Marilah bercermin diri sebelum terlambat. Perlu diingatkan bahwa kita bukan manusia yang ma'shum (terjamin bersih dari dosa), karena ma'shum hanya milik para Nabi dan Rasul. Bersyukurlah anda jika anda memiliki cermin untuk mendeteksi noda-noda yang mengotori wajah anda. Semoga kita kembali kepada Allah dalam keadaan yang bersih. Sejumlah ibu calon haji Kotamadya Medan 1988 yang mengikuti manasik haji pada acara pembukaannya di kantor IPHI Jalan Nibung Raya 190-192 Medan, Minggu lalu. (Waspada-M.05) Songsong Musim Haji 1988 : Selenggarakan Manasik Pada Tiga Lokasi Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan para calon jemaah Haji Medan khususnya dan Sumut umumnya, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kotamadya Medan telah memulai menyelenggarakan Bim- bingan Manasik Haji 1988 di 3 lokasi yaitu di Gedung Balai Desa Kotamatsum III Medan, Gedung IPHI Medan Jalan Nibung Raya Medan dan Balai Wartawan Jalan Adinegoro Medan sejak Minggu lalu, Jadwal, materi dan tenaga pengajar serta lokasi adalah : Lokasi Balai Desa Kotamatsum III : 3 Pebruari jam 14.00 sampai 16.00 Wib, materi Kebijaksanaan Pemerintah, Kebijaksanaan Muassasah, dan Pelayanan Terpadu oleh ustadz Drs.H.Amas Muda Siregar. Sabtu 5 Pebruari: Dasar Hukum Wajib Haji, dan Dasar Hukum Wa- jib Umroh oleh al ustadz Drs H.M. Shaleh Harahap. Rabu 10 Pebruari, materi: Keten- tuan Ibadah Haji dan Palsafah Ibadah Haji, Sabtu 13 Pebruari: Tiga Macam Mengerjakan Haji, Rabu 17 Pebruari: Syara dan Rukun serta Wajib Haji dan Umroh, Sabtu 20 Pebruari: Ten- tang Miqat Haji dan Waktu Haji dan Umroh, kesemuanya disampai- kan oleh Drs.H.M.Shaleh Harahap. Rabu 24 Pebruari: Persiapan Menuju Mekkah oleh H.Raden A.Jufri, Sabtu 27 Pebruari : Akhlak, Adab Bergaul di Asrama Haji Medan dan di Medinah, Arafah, Mina, Mekkah (Tanah Suci) oleh Drs.H.Maratua Siman- Yayasan Jantung Sehat Indonesia Cabang Medan, oleh Prof.H.Sukar- na,MA. Rabu 30 Maret, mengenai kesehatan; Heade Stroke dan Pen- cegahan Menstruasi dr.H.Adli Lidia, Sabtu 2 April Ulangan, Diskusi dan Tanya Jawab oleh Drs.H.Maratua Simanjuntak. Sabtu 3 April peragaan mengenai Thawaf, Sa'i dan Melontar oleh Drs. H.Ma- ratua Simanjuntak. Sedangkan pada lokasi Kantor IPHI Medan Jalan Nibung Raya 190-192 bimbingan/manasik dengan materi yang sama dan jam yang sama disampaikan oleh para guru/ustadz, petugas TPHI, petugas Kesehatan yang ditetapkan. Hanya saja untuk manasik dan bim- bingan di Kantor IPHI Jalan Nibung Raya menggunakan hari- hari Selasa, Jum'at Ahad. Sedang untuk lokasi di Balai Wartawan Jalan Adinegoro menggunakan waktu bimbingan dan Manasik pada hari-hari Kamis, Ahad saja. Semua berlangsung sore, dari pukul 14.00 sampai 16.00 Wib. Menurut Ketua IPHI Kota- madya Medan Drs.H.Maratua Simanjuntak, dengan penyeleng- garaan di 3 lokasi, selain mampu menampung jumlah peserta manasik sebesar-besarnya dan seluas-luasnya, juga para peserta dapat mengikutinya setiap hari bagi yang berminat di 3 tempat secara bergantian hari. Namun peserta hanya mendaftarkan dirinya pada satu lokasi saja, meski dibenarkan ikut manasik secara bergantian hari yang berbeda di tempat-tempat ter- sebut. (M.05) Ceramah Ridwan Lubis Di Univa Medan DR Muhammad Ridwan Lubis anak Medan peraih gelar Doktor ter- muda pada IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, belum lama ini, menurut ren- cana Sabtu 6 Pebruari menyampaikan ceramah ilmiah didepan Civitas Academika Universitas Alwashliyah (UNIVA) Medan dikampusnya Jalan Sisingamangaraja Km 5,5 Medan. Judul ceramah adalah: "Per- kembangan pemikiran dalam Islam" diharapkan dapat mengkaji sekitar hal- hal yang berkait dengan berbagai perkembangan Islam dalam kehidupan abad ini. juntak. Rabu 2 Maret, tentang Thawaf Sa'i serta penjelasan DR.Muhammad sunat-sunat Thawaf oleh Drs. H.M.Shaleh Harahap, Sabtu S Maret: TPHI, Pelayanan serta tugasnya, dan Muassasah pelayanan serta tugasnya oleh H.Ishak Nasu- tion. Rabu 9 Maret: Sejarah Tempat-tempat Ziarah di Medinah, Mekkah serta pengenalan adat istiadat serta Iklim Arab Saudi oleh H.Aliyuddin Al Kamidi. Sabtu 12 Maret; Jama' Qashar sholat, Tayammum dan Sujud Tilawah oleh Drs.H.M.Shaleh Harahap. Rabu, 16 Maret Persiapan Ke Arafah, Wukuf dan Amalan- amalan, Sabtu 19 Maret Menuju Mina, Melontar Jumroh dan Hari- hari Tasyrik, Rabu 23 Maret, Thawaf Ifadah, Thawaf Wida' dan Adab Meninggalkan Mekkah oleh ustadz H.M.Shaleh Harahap. Sab- tu 26 Maret masalah Kesehatan, Demikian diperoleh keterangan dari Kampus UNIVA Medan. (M.05) 4cm 2cm