Tipe: Koran
Tanggal: 1998-04-06
Halaman: 05
Konten
4cm 2cm manis, 6 April 1998 Ulama asi Krisis arah pada fitnah. "Umat Is- m dan masyarakat pada mumnya hendaknya jangan gabah menerima informasi ng belum tentu benar, kere- dapat menjurus ke fitnah," tanya. Kepada wartawan, mantan angdam V/Brawijaya ini engatakan, disinyalemen a kelompok yang mendesak orang menteri untuk menye- saikan masalah krismon. anya, Mendagri tidak enyebutkan kelompok mana ng mendesak dan menteri apa yang didesak. ung Cagub (079) "a untuk Bupati Lobar ini. tapi, mereka secara resmi an menemui pimpian Dewan n fraksi, Senin (6/4) ini. Or nisasi dimaksud, Forum Ko- unikasi Mahasiswa Islam ataram, GMNI, PMII, Sema KIP UMM, Sema Universitas V, Forum Dinamika Pelajar ahasiswa Mandalika Loteng, ma IKIP, FKMS Lotim, Sema sipol UMM, Wahana Maha- swa Pengabdi Masyarakat ram, FKPPMS Samawa, n Sema AMM. L. Pujo Basuki Rahmat, koor- nator organisasi mahasiswa di ataram itu mengatakan, kungan bulat kepada Mudji- hid sudah melalui proses dan rtemuan pengurus masing- asing organisasi mahasiswa. udjitahid dianggap pantas emimpin NTB, menghadapi rbagai persoalan sosial, ke- asyarakatan dan kebangsaan at ini dan mendatang. (058) acob: tas Pengacara da pihak yang menang, harus lah hanya karena ada kolusi ngacara dengan hakim, kata ustaf Yacob. Adanya tekad Menteri Ke- kiman untuk membersihkan radilan dari tindakan kolusi an korupsi, kata Gustaf, enunjukkan di lembaga per- ilan ada kasus seperti itu. Kakanwil Kehakiman NTT ardono, S.H. mengatakan, mpai sejauh ini pihaknya be mmendengar di lembaga per- ilan di NTT ada kolusi dan rupsi. Jmur Bertato (eny) Ha asal Jawa Timur, saat gungan sambil menggen- sekitar 12 bulan. aan demikian, saya lang- jasa agar ia tidur dan "Apalagi dia mengajak se- aharuddin seraya menam- rumah, laki-laki ini ke- aik dan dianggap tidak am-macam. Bahkan, laki- nen padi di sawah. ya, terungkaplah cerita mpar di Terminal Ginte. tangan dan di badannya addin, mengaku mencari minggat dari rumah gara- angga saat berselingkuh ia (Ra-red) mengaku sem- ak yang digendongnya itu dan Kalimantan," ujar mengajak Jum ke Desa kilometer dari Soro-de- mbali siang hari. Tetapi, ingga berita ini diturunk- Menurut sumber lain, tato itu bertuliskan "Anti Ga- wa bergambar clurit, Un- arga korban telah menye- i bertato itu ke beberapa KUTI (nas) E malaysia ngai Suci YAMUNA dan Taman t terbunuhnya Raja Ular serta shna Jalma Bum yaitu tempat di Taj Mahal yang merupakan salah Catar Pur Mandir, bekas Istana randum, dll. Maha Baratha, Brahmasarwara kan upacara ghni hotra, sumur Bhagawan Bhisma setelah kena wejangkan ajaran-ajaran Dharma pakan tempat terpenting di Medan Bhagawadgita diwejangkan oleh Sungai GANGGA Anda akan dapat Anda dapat mengikuti Upacara acara Ararthi sekaligus memohon menuju Dewi Mansa Pur Mandir MANA, dan Laksman Jhola, Sorga 241342 C. 16780 Senin Umanis, 6 April 1998 Harian untuk Umum Bali Post Pengemban Pengamal Pancasila Terbit Sejak 16 Agustus 1948 Tajuk Rencana Ada yang Minta Pak Harto Mundur? DI tengah kesibukan pejabat pemerintah termasuk pimpinan ABRI memikirkan format dialog paling pas antara mahasiswa dan Pak Harto, muncul ungkapan Dr. Amien Rais yang cukup mengejutkan. Menurut pakar ilmu politik itu, memang benar mahasiswa menghendaki Pak Harto mundur. Benarkah memang ada pandangan yang demikian itu? Ungkapan Amien Rais tersebut tampaknya berkaitan dengan sejumlah aksi unjuk rasa mahasiswa yang juga menyuarakan keinginan semacam itu. Tuntutan serupa juga terdengar di kalangan cendekiawan. Sejauh ini, tidak terdengar tuntutan semacam itu dari kalangan politisi kita. Jika benar demikian, mengapa tuntutan semacam itu justru datang dari mahasiswa dan cendekiawan? Mahasiswa dan cendekiawan umumnya merupakan kelompok masyarakat yang boleh dikatakan memiliki kebebasan relatif paling besar. Mereka tidak mempunyai kaitan-kaitan dengan kepentingan praktis, seperti kekuasaan politik, sebagaimana yang dipunyai kelompok-kelompok lain. Pada mahasiswa dan cendekiawan umumnya yang ada hanyalah kepentingan idealistis. Artinya, kelompok ini umumnya hanya menginginkan apa yang terbaik atau perubahan yang tidak baik menjadi baik. Kondisi sekarang ini memang dirumuskan sebagai krisis ekonomi dan moneter. Namun krisis ekonomi dan moneter ini tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan krisis-krisis yang lain. Di kalangan yang melihat bahwa krisis ekonomi dan moneter kita dewasa ini bersumber pada krisis politik, khususnya pada sistem politiknya, ada di antaranya yang menuntut perlunya reformasi politik. Namun tampaknya, sebagian mahasiswa tidak hanya berhenti di situ. Mereka melihat sejumlah permasalahan yang lebih mendasar. Krisis politik juga tidak berdiri sendiri, karena itu juga tidak mandeg di satu keadaan. Krisis politik ini berawal dari sistem politik yang kurang tepat dan menjadi marak akibat perilaku politik yang tak bertanggung jawab. Dalam kondisi semacam itu, pembenahan di satu sektor saja dianggapnya tidak akan memberikan hasil maksimal. Oleh karena itu perubahan harus menyeluruh. Namun masalahnya, di mana perubahan harus dimulai? Tampaknya sebagian mahasiswa berpendapat perubahan itu harus dimulai di sektor kepemimpinan politik. Dalam masyarakat semifeodal seperti masyarakat kita ini, kedudukan tokoh masih lebih dominan daripada sistem. Umumnya orang percaya, dengan sistem yang baik tetapi perilaku tokoh yang buruk, keadaan tidak akan menjadi baik. Sebaliknya, dengan perilaku tokoh yang baik, sistem seburuk apa pun akan membawa kebaikan. Singkat kata, sebagian masyarakat kita masih lebih mengandalkan pada niat baik manusia daripada keampuhan sistem. Namun tampaknya sebagian masyarakat lagi melihat kenyataan lain. Tokoh sebaik apa pun akhirnya akan tergelincir juga dalam kekeliruan atau kesalahan apabila tidak ada sistem yang membuka peluang bagi rakyat untuk mengontrolnya. Tokoh yang baik tanpa dibarengi kontrol yang efektif bisa berubah menjadi tokoh yang tidak baik. Kesalahan tokoh akibat tidak adanya kontrol bisa berkembang sehingga menjangkau lingkungan dekatnya, misalnya lingkungan kekuasaan, lingkungan kepentingan dan lingkungan keluarga. Dalam keadaan itu bisa saja muncul praktik nepotisme, kolusi atau penyalahgunaan wewenang. Kerusakan yang ditimbulkan tokoh bisa saja menjadi meluas dan melebar, sehingga ketika terjadi krisis, bisa saja sebagian orang berada dalam kesulitan memilih, antara menyelamatkan negara dan bangsa, atau menyelamatkan lingkungan lebih dulu. Kesulitan pilihan ini sering membuat terkatung-katungnya proses pemulihan keadaan yang harus diambil. Sebagian mahasiswa tampaknya juga melihat permasalahan semacam ini lewat proses pembicaraan antara pemerintah dan IMF yang terkesan alot. Tampaknya, penyebab keterkatungan itu di mata sebagian mahasiswa juga berada pada faktor penguasa sebagai pengambil keputusan dan kebijakan. Jika benar ungkapan Amien Rais, apakah karena pandangan semacam itu lantas ada mahasiswa yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional? Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan Fotokopi KTP atau SIM Soal Keluhan Pedagang di Pasar Ubung Kami para pedagang di Pasar Ubung sangat keberatan dengan berita Pedagang di Pasar Ubung Keluhkan Pungutan" yang dimuat Bali Post, Sabtu (4/4) lalu. Agar tidak terjadi salah penger- tian dapat kami jelaskan sbb: 1. Cukai harian Rp 300/hari, ke- bersihan Rp 175/hari, keamanan Rp 175/hari, listrik Rp 100/20 watt, sewa kios Rp 3.000/m2/bulan. 2. Masalah pembayaran Rp 300 tiap pagi dan Rp 400 tiap malam, sudah merupakan kesepakatan kami para pedagang dengan pihak PD Pasar, karena dagangan kami maju 1.k. setengah meter. Atas pembayaran itu pun kami mene- rima karcis dari petugas. Kami sudah berswadaya mem- buat konsol dan pemasangan pa- ving stone untuk pejalan kaki dan pembeli. 3. Sampai saat ini kami para pedagang Pasar Ubung tak mera- sa keberatan dengan pungutan- pungutan tersebut. Selama ini hubungan kami dengan PD Pasar sangat baik. Kepentingan-kepen- tingan kami selama ini selalu mendapat perhatian dari pihak PD Pasar. Wakil Pedagang di Pasar Ubung I Ketut Suwita Pencurian Anjing Memprihatinkan Pencurian anjing untuk tujuan tertentu di Denpasar makin men- jadi-jadi, bahkan dengan cara yang makin sadis (meracuni, sehingga anjing bersangkutan mati). Sam- pai saat ini tidak diketahui motif dari pencurian yang sebenarnya. Bali Post Perlukah Pengutang Halaman 5 Luar Negeri Swasta Diumumkan? UTANG luar negeri swasta kok urusannya menjadi panjang? Bukankah itu urusan antara peminjam dan pemberi pinjaman (debitor dan kreditor). Tak ada urusan dengan orang lain, baik pemerintah maupun masyarakat di negeri ini. Itu sepenuhnya tanggung jawab swasta, karena utang adalah suatu kepercayaan yang juga mengandung risiko. Urusan utang luar negeri swasta yang menurut siaran pers Bank Indonesia Fe- bruari 1998 jumlahnya mencapai 71,9 mil- yar dolar AS, dan 10,5 milyar dolar di antaranya utang jangka pendek yang kini menjadi ruwet bahkan berkepanjangan. Utang ini pula yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab krisis moneter yang banyak menyengsarakan rakyat. Penderitaan rakyat yang berkepan- jangan mulai Juli 1997 hingga kini belum ada tanda-tanda berakhir -, akhirnya pemerintah berinisiatif mem- bentuk Tim Penanggulangan Utang- utang Perusahaan Swasta Indonesia yang dipimpim Radius Prawiro-man- tan Menteri Keuangan untuk me- mimpin delegasi Indonesia dalam pe- rundingan penyelesaian utang swasta dengan IMF (dana moneter internasio- nal). Meski belum diketahui hasilnya, tampaknya IMF menyetujui penyelesa- ian utang itu model Meksiko dengan menerbitkan Obligasi Brady-menukar- kan utang yang berasal dari utang yang tak bisa dibayar yang berasal dari pinja- man bank komersial dengan menerbit- kan obligasi baru. Meski model ini diten- "BAGAIMANA seandainya saya pengusaha lapangan golf dan sebagai wujud bhakti saya mempersembahkan bola golf dengan setulus hati. Apakah itu pelecehan?" tanya seorang kawan. Kawan saya itu penganut Hindu yang lumayan taat. Pernah lama ting- gal di India meski bukan dalam rang- ka tirtayatra. Tetap saja kecenderu- ngan filsafat India yang "nakal" dan reflektif itu menularinya. Hasilnya, ya pertanyaannya tadi itu. Pertanyaan yang secara implisit menawarkan cara pandang lain terhadap pelecehan. Belakangan ini, kasus-kasus yang dianggap pelecehan tampaknya, entah karena apa, makin banyak jumlahnya. Mulai dari barong di depan diskotek, sandal bergambar pura, Acintya di "simpang siur", rumah makan Padang, bola golf di canang sari, konferensi di Radisson, dan, jika tak ada hala ngan, kartu ceki bergambar pura dewa mungkin segera menyusul Alur ceritanya rata-rata sama. Ko- ran bikin berita. Disusul beberapa tokoh umat tersinggung dan marah. Yang dimarahi segera minta maaf. Ada yang dimaafkan, ada pula yang diadu- kan ke polisi. Lantas kasusnya selesai. Kalau besok muncul pelecehan lagi, maka lagi-lagi ada yang tersinggung, lalu marah, begitu berulang terus. Masak tak ada cara untuk mence- gah beralangnya pelecehan itu sehing- ga tensi para tokoh umat tidak terus- terusan tinggi? Mereka tak harus Jika anjing yang dicuri tersebut diperlukan untuk dijual dan dima- kan, tentunya tidak dengan cara meracuni. Bagaimana pun, daging anjing yang mati akibat racun akan tak layak bahkan berbahaya bagi pemakannya. Diharapkan agar restoran pen- jual masakan daging anjing (RW) bisa berhati-hati dan waspada ter- hadap bahaya keracunan makan- an yang justru bisa mematikan usaha. Demikian pula masyarakat atau pencuri tersebut harap was- pada terhadap bahaya keracunan. Selain itu, sangat disayangkan jika anjing-anjing yang menjadi sasa- ran pencurian adalah anjing-anjing Bali - Kintamani (berbulu putih) yang sedang diupayakan/diteliti untuk ditingkatkan menjadi ko- moditi unggulan Pulau Bali. Saya selaku peneliti anjing Bali tersebut mengajak masyarakat termasuk pencuri anjing tersebut untuk ber- sama-sama memberantas anjing- anjing geladak yang banyak ber- keliaran tanpa pemilik yang meng- ganggu pariwisata. drh. Nining H., M.Sc., Ph.D. Yayasan Anjing Bali Kompleks BPPH VI Sesetan Pegok Denpasar media ini penulis menyampaikan pertanyaan sekaligus minta pen- jelasan khususnya menyangkut nama Lovina dan Air Sanih. 1. Lovina, nama ini konon dice- tuskan almarhum AA Panji Tisna yang berarti (singkatan) dari Love Indonesia. Apakah nama Lovina yang asing ini akan diindonesiakan? 2. Air Sanih, seingat penulis tempat/desa ini bernama Yeh Sanih. Apakah nama tempat/desa ini harus diindonesiakan? Yeh atau banyu adalah bahasa daerah Bali yang dalam bahasa Indonesia berarti air. Kalau Yeh Sanih sudah me- melopori perubahan menjadi Air Sanih maka penulis khawatir satu saat Desa Banyuatis yang terke- nal sebagai penghasil kopi akan berubah menjadi Air Atis. Teriring ucapan, Selamat HUT ke-394 kota tercinta Singaraja. N. Dana Pinatih Peguyangan, Astina, Singaraja Merasa Dirugikan tang pengamat ekonomi Nyoman Moena. Moena condong melihat utang swasta itu diselesaikan kasus per kasus. Tidak hanya itu, Wapres Habibie se- hari setelah dilantik juga melakukan la- watan ke Jepang untuk membicarakan utang luar negeri swasta ini. Di tengah kekalutan utang luar negeri swasta itu, berbagai tindakan telah di- usulkan untuk lebih efektif untuk me- ngatasi utang itu baik jangka pendek maupun jangka panjang. Di antara usul itu, ada model Meksiko, ada modifikasi Meksiko Indonesia, ada pula penjad- walan kembali utang-utang tersebut. Apa pun modelnya, yang kini ditunggu masyarakat, bukan polemik, tetapi kri- sis ini segera berakhir. Penjadwalan kembali utang-utang swasta mengingatkan kita pada era 1080-an sejak meledaknya krisis utang, Waktu itu naluri kelompok bank kredi- tor berbalik 180 derajat terhadap nega- ra-negara berkembang. Beberapa tam- bahan kredit memang terjadi, tetapi tidak secara sukarela. Dikaitkan dengan utang swasta Indo- nesia sekarang, dari beberapa road show yang dilakukan Tim Radius maupun Ka- din, tampaknya negara-negara kreditor bisa memahami krisis di Indonesia. Tetapi mereka tetap menuntut uang yang dipinjamkannya itu kembali utuh, baik pokok maupun bunganya. Yang mungkin bisa dibantu adalah menunda pembayaran cicilan bunga maupun pokoknya. Akan tetapi yang belum pernah kita dengar adalah suara para pengutang itu sendiri yang kabarnya kebanyakan kong- lomerat. Mengapa mereka (pengutang- red) tidak membayar utangnya yang jatuh tempo? Apakah karena tidak pu- nya uang karena kurs dolar terus melambung, ataukah karena kebodohan- nya membaca trend bisnis - pinjaman digunakan untuk properti yang akhir- Oleh Wirya nya macet, lapangan golf atau untuk mega proyek yang tak produktif. Atau mereka menunggu satu kata dari peme- rintah "Menalangi" utang mereka secara total? Untuk yang terakhir ini rasanya su- lit dilakukan karena pemerintah tak cukup punya uang untuk itu. Tetapi jika pemerintah memberikan sudsidi dengan sepesial rate, tentu ini tidak adil. Hal lain yang bisa dilakukan adalah penjadwalan ulang utang swasta/peme- rintah. Kapitalisasi ini menyangkut penundaan pembayaran bunga dan me- masukkannya ke dalam utang pokok (principal) jika suku bunga pasar naik di atas suku bunga yang telah ditetap- Kolom kan sebelumnya. Penundaan bunga semacam ini sama pengaruhnya dengan memberikan pinjaman baru. Ini akan berdampak pada pinjaman utang akan lebih berat pada masa datang. Tak Sepenuhnya Salah Swasta Gencarnya pihak swasta mencari off shore loan sebenarnya dampak kebija- kan uang ketat (TMT - tight money po- licy) yang menyebabkan pengusaha su- lit mendapatkan kredit bank di dalam negeri dengan bunga murah. Kibijakan ini pula menyebabkan banyak proyek terbengkalai. Untuk melanjutkan proyek ini, pengusaha mencari dana murah di luar negeri. Hal serupa juga dilakukan bank-bank di dalam negeri yang terikat dalam sindikasi untuk membiayai proyek-proyek besar. Tak heran jika sekarang utang luar negeri swasta membengkak dan menim- bulkan keprihatinan yang berkepanjang an. Dalam keadaan yang demikian ini menyangkut nama besar bangsa-se- patutnya pemerintah mempertimbang- kan mengumumkan nama-nama pengu- tang itu secara terbuka, terlepas dari ra- hasia bank. Dengan demikian akan tim- bul budaya malu jika ada debitor yang tak mau membayar utangnya. Di sisi lain masyarakat akan bisa ikut mengontrol mereka itu. Pengumuman ini menjadi penting karena utang luar negeri swasta saat ini telah menempatkan Indonesia dalam kelompok negara-negara yang mengala- mi krisis utang. L/C (letter off Credit) yang diterbitkan perbankan di dalam negeri di tolak bank koresponden di luar Mari Tersinggung dengan Indah senantiasa waspada dan siap-siap ma- rah. Energinya bisa tersalur untuk hal- hal lebih positif seperti menyayangi umat yang kekurangan sembako. Bukankah ke- tersinggungan dan kemarahan itu bukan cuma tak sehat dari sudut medis tetapi juga dari sudut agama? Salah satu caranya belajar reflektif se- perti kawan saya itu. Begitu merasa ter- singgung kita musti cepat-cepat merenung. Mempertimbangkan semua kemungkinan sebelum cepat-cepat main ancam. Ada beberapa kemungkinan yang ter lintas. Mungkin saja si pelaku itu tak sepenuhnya paham konsep kita tentang mana yang sakral mana yang profan. Begitu melihat orang Hindu menaruh sesari lembaran seratus rupiah di atas canang sari, dikiranya boleh juga me- naruh bola golf di atasnya. "Keduanya kan sama-sama simbol kapital," begitu mungkin pikirnya. Mungkin juga mereka sekadar meniru apa yang umat Hindu sendiri lakukan. Tari Barong dan Sanhyang kita jual per paket tiap harinya. Barongnya juga kita jual dalam berbagai ukuran sebagai sou- venir. Lantas, kalau ada yang memajang- nya sebagai produdk promosi di depan diskotek, berbedakah esensi dan substan- WIB saya langsung menuju tem- pat parkir bus PO Menggala. Ter- nyata nama saya tidak ada dalam daftar penumpang. Saya merasa dirugikan dan kecewa. Drs. I Wajan Sukandi Jalan Kedawung 8/15 Lowokwaru, Malang Surat Penting Hilang surat-surat penting mi- lik Ni Kadek Erawati, diperkira- kan di kawasan Lumintang, A. Yani, Lembu Sura, Kerta Negara, Tunjung Tutur. Yang menemukannya hubungi saya telepon 463776. Akan diberi imbalan. Ni Kadek Erawati si tindakannya? Umbul-umbul, lelontek, penjor, kain poleng, selempot, pakaian adat, jempana (ingat Adipura?), kita gunakan di luar konteks keagamaan. Botol Aqua dan Coca Cola di padmasana sebagai tempat tirta. Canang yang dihaturkan dengan cara dilempar dari mobil yang melaju ken- cang. Kalau ditiru orang lain kan wajar saja. Intinya, pelecehan terjadi karena si pe- laku tak tahu dan atau karena kita sudah melecehkan diri kita sendiri terlebih dahulu. Dalam kedua kasus ini kita se- sungguhnya tidak perlu langsung marah- marah. Ada baiknya berdialog, menjelas- kan kepada para pelaku mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sayangnya, untuk memberi penjelasan seperti itu dibutuhkan rambu-rambu yang jelas dan pasti. Rambu-rambu yang hingga saat ini belum ada. Akibatnya, semua menjadi mengambang. Sakral dan profan berbeda-beda di tiap tempat, wak- tu, serta kepala. Sehingga yang muncul adalah penghakiman berdasarkan stan- dar ganda serta emosi semata. Tak heran kalau manajemen Hotel Radisson jadi pusing konferensi dianggap melecehkan sementara kegiatan hiburan kokoh seakan tak akan terlukai senjata jenis apapun. Kekuatannya mampu mem- buat berjuta-juta rakyat panas dingin, resah gelisah, bahkan se- bagian dari mereka murka mem- bakar keberanian, menyerbu coko, merusak mobil, melempari rumah bahkan tak segan melihat manusia ibarat seekor semut. Tak kurang yang namanya kong- lomerat pun dengan fondasi yang kuat (katanya) dibikin "rata de- ngan tanah". Orang-orang intelek pun turun ke jalan yang biasanya dituruni abang-abang becak dan abang pedagang kaki lima dan abang tukang sayur, berkata lantang- lantang walaupun mungkin tak terdengar oleh tembok-tembok kekuasaan dan birokrasi, untuk mengusir yang mahakuat Si Putu Krismon. dan olah raga di hotel-hotel lainnya atau ratusan dispensasi yang membuat ken- daraan berkeliaran di jalanan pada saat yang sama dianggap hal biasa. Sudah saatnya Parisada sebagai lem- baga umat menanggapi secara serius fenomena pelecehan-tersinggung - marah ini. Caranya, dengan menyusun rambu- rambu yang bisa dijadikan panduan, baik oleh umat Hindu maupun saudara-sau- dara kita non-Hindu. Adanya rambu- rambu akan memberi rasa aman pada kedua belah pihak. Yang non-Hindu tidak akan merasa dihantui ancaman pelece- han dalam tiap langkahnya. Yang Hin- du akan merasa terlindungi hak-hak ke- sakralan beragamanya. Sekaligus memi- liki landasan kuat untuk bertindak jika di kemudian hari muncul pelecehan yang benar-benar pelecehan (bukan karena tidak tahu atau karena sekadar meniru kita). Jika rambu-rambu ini tetap tak ada maka perulangan skenario pelecehan pun tidak akan terhindarkan lagi. Jadinya, umat Hindu pun akan terjebak dalam ke- munafikan beragama, standar ganda yang tak adil, di mana kita boleh mele- cehkan diri kita sendiri tetapi orang lain tak boleh melecehkan kita. Keadaan yang Siapa Mengawasi Siapa negeri, begitu juga credit card. Ini mem- buktikan kepercayaan pihak luar negeri terhadap Indonesia hilang. Untuk mengendalikan utang swasta ini, pemerintah tahun 1992 telah me- ngeluarkan peraturan yang memberikan wewenang kepada BI untuk memonitor perkembangan utang luar negeri dan mengintervensinya jika membebani ne- raca pembayaran. Dalam kerangka de- regulasi, pengendalian utang luar negeri seperti itu jelas bertentangan dengan se- mangat deregulasi yang pada intinya mengurangi ikut campurnya pemerintah dalam kegiatan ekonomi. Jika dilihat perkembangan utang luar negeri swasta yang membengkak, penyebabnya mudah ditebak. Aturan mengendalikan utang itu tidak dilaksa- nakan dengan baik. Meski sudah ada aturan yang mewajibkan pengutang un- tuk melaporkan utangnya ke BI, masih dilanggar juga. Mengapa BI diam? Ini yang sulit di- jawab. Diam ini sudah kesalahan besar. Ingat beberapa waktu lalu beberapa Ditektur BI diperiksa polisi karena du- gaan kolusi. Memang tidak mudah melacak pe- ngutang luar negeri itu. Ini diakui Radi- us, dari sekitar 800 borrwers (para pem- injam) yang melaporkan utangnya ke Tim Radius baru 180 perusahaan. Mestinya utang luar negeri swasta diamati sejak dini, apakah utang itu sudah mencapai jumlah yang mem- bahayakan. Jika tugas ini dilakukan BI sebagai otoritas moneter di negeri ini dengan baik, tidak akan terjadi krisis moneter seperti sekarang ini. akan bermuara pada berakumulasi- nya sekian banyak ketersinggungan dan kemarahan sehingga wajah Hindu akan menjadi wajah yang garang, ce- pat tersinggung, pemarah, dan mena- kutkan. Kalau begitu keadaannya bisa jadi orang Hindu sendiri akan ikut takut juga. Kemungkinan besar kawan saya yang lain, Gus Martin, yang kartunis itu, tak akan berani lagi membuat karikatur mengenai rangda pergi ke salon atau semacamnya. Maklum, an- caman pelecehan mengambang di udara dan kita sedang cepat tersing- gung. Padahal, sungguh mati, Agama Hin- du adalah agama yang penyabar, pe- nyayang, cinta damai, dan tidak suka menakut-nakuti orang. Agama yang melahirkan Gandhi yang Ahimsa, Ra- makrisna yang romantis, Vivekananda yang cerdas, Krisnamurti yang filosofis, Yogananda yang penuh humor, dan kawan saya itu yang "nakal" tetapi tetap reflektif. Tak satu pun di antara mere- ka yang suka marah atau main ancam. Karenanya, kalaupun harus tersing- gung, marilah kita tersinggung dengan indah. Ketersinggungan yang musti ra- sional dan tak lepas dari nilai-nilai Catur Paramita. Nilai-nilai mengenai persahabatan, cinta kasih, kelembutan, simpati dan empati, serta, tentunya, kekesatriaan. Nilai-nilai Hindu itu... narnya di dunia ini? Kambing sa- ya pun menjawabnya dengan mengembik dan tertawa. Mengem- bik, karena dia menyetujui penda- Kolusi dan korupsi. Jutaan pat dan kebingungan saya, terta- orang, baik langsung maupun wa, karena di kejauhan dia meli- tidak langsung, suka maupun hat sang pawang berkhotbah, un- tidak suka, tidak dimungkiri tuk mengajak para hewan hidup pernah sebagai pelakunya, baik bersih. Bersih jasmani dan bersih sebagai penyuap" maupun sebagai rohani. pihak yang berbahagia penerima suap". Sebagai pihak penyuap, sebe- narnya hanya keadaan terpaksa melakukan tindakan tersebut, karena berbagai urusan dan ke- pentingannya sengaja atau tidak sengaja dihambat pihak yang min- ta "disuapi". Sebenarnya lagu yang demiki an, kambing pun sudah pinter menyanyikannya, sehingga jika ada sfigala yang mengingkarinya, itu karena sang srigala sudah pin- ter berkelit dan menguasai "pa- wang"-nya. Di Bangli Tengoklah atau paling tidak "Lupus" Distop rasakanlah, rupiah yang ada di kantong ibu-ibu PKK sudah Tindak pidana korupsi sebe- Tentang distopnya peredaran ludes atau paling tidak cukup narnya sudah diatur dengan Un- "Lupus" di Bangli, sebagaimana untuk setengah bulan, bayi-bayi dang-undang (UU) No. 3 tahun diberitakan Bali Post 3 April, kami dan balita yang konon generasi 1971. Para perangkatnya pun sebagai orangtua murid mendu- harapan bangsa kekurangan sudah berbagai macam dan ragam kung langkah yang telah diambil susu, karena ayahnya berceng disediakan. Dari staf paling bawah Kakandepdikbud Bangli sebagai kerama terus menerus tentang Si ada atasan langsung sebagai wujud nyata dari imbauan Kakan- Putu Krismon yang sakti, semen- waskat, ada bermacam inspekto- wil Depdikbud Bali serta kepe- tara ibunya hanya bisa merata- rat dan pengawasan di tiap instan- dulian terhadap kelangsungan pi lemari sembakonya tanpa isi. si dari Tk II, Tk I, hingga tingkat pendidikan anak-anak. Kami Lihatlah pemimpinmu perlu ber- pusat. Ada pengawasan horizontal, mengharap kepada Kakandep- hari-hari, berminggu-minggu seperti BPKP, BPK dan Irjenbang, dikbud yang lain untuk mengiku- bahkan berbulan-bulan bernego- di samping itu ada Kejaksaan dan tinya, apalagi saat ekonomi se- siasi dengan yang konon ber- Kepolisian. Tetapi kenapa para dang krisis yang berdampak pula predikat penyelamat ekonomi "srigala" tadi sulit sekali dijerat terhadap dunia pendidikan. dari luar sana. hukum? Apakah karena UU No. 3 Oh...Ah...Putu...Putu. Eng- tahun 1971 itu belum dimanfaat- Penertiban Bahasa kau lahir sebagai anak sulung kan optimal? Atau karena para sejak Orde Baru (katanya). pengawas yang ada di badan pe- di Buleleng Aku, mereka, kita berdoa moga- ngawasan baik vertikal maupun moga Kadek, Komang, Ketut horizontal, dari Tingkat II hingga Pemda Buleleng secara berta- Krismon tak akan lahir, sebab pusat, sudah tidak mampu lagi hap mulai 23 Maret 1998 melak- terasa kehadirannya saja sudah menemukan "tindakan amoral" sanakan penertiban penggunaan bahasa asing dan bahasa Indone- membuat berjuta-juta rakyat yang dilakukan para pelaku? tak pernah tidur nyenyak wa- sia pada papan nama, papan pe- lau sekarang sudah musim hu- tunjuk, kain rentang, dan reklame, Tak seorang pun menyangka jan nan sejuk. Langkah yang baik dan sangat dia akan lahir. Siapa pun tidak Moga-moga secepatnya datang positif ini, sudah semestinya Tanggal 30 Maret saya be- bisa memperkirakan bencana si pembunuh "Si Putu Krismon". mendapat dukungan masyarakat. rangkat dari Malang pukul 16.30 yang akan ditimbulkannya. Dia Semoga segala pikiran baik datang Penertiban dimulai sepanjang kota WIB menggunakan jasa taksi lahir dan besar dengan kuku- dari segala arah. Singaraja, kawasan wisata Lovina "Bima" untuk menghindari ke- kukunya yang tajam, mata me- dan Air Sanih. mungkinan terlambat tiba di Ter- rah, wajah sangar, taring tajam Berkaitan dengan itu, melalui minal Bungurasih. Pukul 17.45 siap mencengkeram, badan yang Minggu 29 Maret 1998 (Hari Raya Nyepi) dari Malang saya Kontak via telepon Agen PO "Menggala" di Jalan Makam Peneleh No.77 Surabaya, meme- san satu tiket jurusan Surabaya - Singaraja untuk keberangkatan 30 Maret 1998 pukul 18.30 WIB. Telepon diterima oleh seorang pe- gawai wanita yang mengatakan bahwa seat disediakan sesuai pe- sanan saya, tiket diambil dan diba- yar di Terminal Bungurasih. Hal tersebut saya lakukan sebagaima- na biasanya seminggu sekali dari Surabaya ke Singaraja. I Ketut Wenten Aspol. Sanglah Denpsar Dicari Pembunuh "Si Putu Krismon" Hingga sang pelaku merasa be- nar dan bertambah "nekat"? Bagaimana kita bisa membe- rantas gerombolan srigala yang memporak-porandakan kampung, jika sang pawang srigala sudah lelap tertidur karena kekenyangan menyantap ayam" kiriman sriga- I Nyoman Surjana, S.Pd. SMU Negeri 1 Marga la? Siapa mengawasi siapa sebe- Bali Post Suamba, Subagiadnya, Sugiarta, Sutarya, Kasubmahardi, Martinaya, Rai Anom, Sarjana, Adnyana, Agus Astapa, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Bangli: Karya, Buleleng: Anggota Redaksi Denpasar: Agustinus Dei, Dwi Yani, Legawa Partha, Nikson, Palgunadi, Pasma, Srianti, Sri Hartini, Suana, Suarsana, Sudarsana, Sueca, Sugendra, Suja Adnyana, Sutiawan, Artha, Alit Tirthayasa, Gianyar: Alit Sumertha, Jembrana: Edy Asri, Karangasem: Dira Arsana, Klungkung: Daniel Fajry, Tabanan: Alit Purnatha, Jakarta: Wisnu Wardana, Muslimin Hamzah, Bambang Her- mawan, Darmawan, Suyadnya, Djamilah, Rudiyanti, Suharto Olii, Ghazali Ama Lanora, Yahya Umar, Pamuji Slamet, Ria Tanjung Pura. NTB: Agus Talino, Nur Haedin, Riyanto Rabbah, Raka Akriyani, Siti Husnin, Izzul Kairi, Syamsudin Karim, Ruslan Effendi, Antony Mithan. Surabaya: Endy Poerwanto, Bambang Wiliarto. NTT: Hilarius Laba. Yogyakarta: Suharto. Wartawan Foto: Arya Putra, Djoko Moeljono. Novel Baraas Tabanan Meninggalkan Rumah ●I Wayan Juniartha Meninggalkan rumah sejak 10 Maret seorang pemuda nama I Wayan Mare Tantra, umur 19 tahun alamat Banjar Dukuh I W. Mare Tantra Kawan, Desa Pejeng Kawan, Tam- paksiring. Waktu meninggalkan terdekat atau I Wayan Laba rumah menggunakan sepeda mo- Dusun/Br. Dukuh, Desa Pejeng tor Yamaha Force One DK 4534 Kawan, Tampaksiring. KN. Yang menjumpai orang terse but agar menghubungi Pos Polisi I Wayan Laba Catatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) membeku- kan tujuh bank nasional dan mengawasi tujuh bank lainnya. Tempo hari disebut likuidasi, sekarang dibekukan, menyusul kemudian apa siapa? *** Kesepakatan baru IMF dan pemerintah Indonesia segera diteken dan paket bantuan akan cair. - Diteken, mudah-mudahan bukan karena tekanan. *** Dampak krisis moneter membuat jumlah mahasiswa cuti kuliah meningkat. Menunda pencapaian cita-citanya meraih sarjana. Prihatin unjuk rasa. Bang Podjok Color Rendition Chart
