Tipe: Koran
Tanggal: 1998-04-08
Halaman: 04
Konten
SOLOPOS, RABU PON, 8 APRIL 1998 SOLOPOS Derbikan oleh PT Aksara Solopos Surat izin SK Menpen No. 315/SK/MENPEN/ SIUPP/TZ Agustus 1997 Pemimpin Umum: Dr H Sukamdani S Gitosardjono-Wakil Pemimpin Umum: Lukman Setiawan- Pemimpin Redaksi: Danie H Soe'red-Pemimpin Perusahaan: Bambang N Rahadi Dewan Redaksi: Banjar Chaeruddin, Cyrillus I Kerong, Firdaus Baderi, KRT Kresna Handayaningrat, Moch. Effendi Aloed, Sjarifuddin-Redaktur Pelaksana: Y.A. Sunyoto-Redaktur: Agus Widyanto, Anggit Noegroho, Barshang Harri Irawan, Chandra Prabantoro, Duto Sri Calyono, Mulyanto Utomo, Quirinto, Riadho Solikhin, Verdy Bagus Hendratmoko Krisis & revitalisasi Kurban Kalimat takbir dan tahmid sepanjang empat hari sejak Idul Adha sampai tiga han Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) pokan ini akan terus bergema. Umat Islam di seluruh penjuru dunia mengagungkan asma Allah, memuja kebesaran-Nya. Kita, umat Islam yang beriman dan bertak wa diwajibkan berserah diri kepada Allah Azza Wa Jalla, terlebih lagi di Hari Raya Kurban yang penuh hikmah dan refleksi keimanan, kesabaran dan ketakwaan seper ti diteladankan oleh Nabiullah Ibrahim As dan puteranya Ismail As. Melakukan revitalisasi bukan sekadar merefleksikan makna Kurban, rasanya sangat tepat jika kita lakukan sekarang ini berkait dengan situasi krisis ekonomi yang masih tetap melanda negeri kita. Sekian ribu atau bahkan jutaan rakyat Indonesia kini tengah dilanda ketegangan, stres, waswas, khawatir-mulai tingkat ringan hingga ter- hebat-oleh keadaan itu. Ada dua hal yang diperintahkan Allah SWT kepada orang-orang beriman dan bertakwa dalam bin Dzulhijah sekarang ini, dan barangkalisa kita gunakan seba- gai ajang revitalisasiri untuk membentengi ujian keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang cukup berat di sant krisis ekonomi telah menembus langsung kepada kebu- tuhan hidup kita sekarang. Dua hal perintah Allah itu adalah puasa Arafah dan berkurban. Allah melalui lisan Rasulullah Muhammad SAW memerin- tahkan kepada orang-orang beriman yang tidak melaksanakan ibadah haji agar more- ka melakukan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah (Senin, 6 April 1998) pada saat jutaan kaum Muslimin dan Muslimat melak- sanakan wukuf di Padang Arafah. Sehari setelah melaksanakan puasa Arafah, yakni Han Raya Idul Adha 10 Dzul- hijjah (7 April 1998), Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk berkurban dengan menyembelih hewan kurban baik berupa kambing, unta atau sapi. Perintah itu berlaku bagi semua manusia yang beriman yang memiliki kelapangan untuk berkurban setelah usai melaksanakan salat Idul Adha sampai pada tiga hari Tasyriq 11, 12, 13 Dzulhijah. Berkurban adalah syariat Islam, yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman dan berkela- pangan untuk melakukannya. Telepon saya ngadat Keluarga saya sudah hampir sebulan ini merasa kesulitan berkomunikasi dengan sanak saudara, teman dan rekan sekerja bahkan rekan rekan lainnya melalui pesawat telepon. Sebab, telepon rumah kami nomor 47130 nga daf total, alias tidak mengeluarkan sinyal apapun. Tentu saja kerusakan yang cukup merepotkan ini telah saya laporkan melalui nomor 48117 yang memang, katanya, siap melayani setiap soat. Malah hal itu sudah kami lakukan dua kali, sejak dua minggu yang lalu. Tetapi apa yang ter- jadi, ternyata hingga detik ini, ketika saya terpaksa menulis lewat Pos Pembaca SOLOPOS, tetap belum dijenguk seorang petugas pun. Padahal, isteri saya pernah lho ditanya-tanya petugas apa benar pernah melapor? Kerusak annya apa? Alamatnya di mana? Dsb.dsb. Mbok tolong Pak Pimpinan Telkom Solo keluhan kami ini diperhatikan. Soalnya pesawat telepon bagi saya fungsinya sangat vital untuk tugas jurnalistik saya. Terima kasih. Vanto Utomo Jagalan RT 01/RW 06, Solo Haj: 37). "Sesungguhnya Allah hanya mene rima amal perbuatan orang-orang yang bertakwa." (Al Maidah: 27). Puasa Arafah dan berkurban adalah dua perintah yang mengandung hikmah besar bagi orang yang melaksanakannya. Apalagi jika kita revitalisasikan dalam kondisi krisis seperti sekarang ini. Puasa selain merupakan perisal untuk membentengi diri dari perbuatan yang buruk, juga si pelakunya turut merasakan bagaimana penderitaan orang yang serba kekurangan Di saat rakyat Indonesia terkena imbas kri- sis moneter dengan dampaknya sejumlah perusahan gulung tikar dan ribuan karyawan terkena Perutusan Hubungan Kerja (PHK), manusia Indonesia kini sedang diuji kesabaran, ketakwaan dan keimanannya. Allah menciptakan manusia hanya dengan satu tujuan, yaitu agar mereka benbadah kepada Allah semata-mata tan- pa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Berkurban bermula dan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih puteranya, Ismail, yang kisahnya mashur itu. Peristiwa itu menjadi dasar disyar atkannya kurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji dan disebut juga dengan Han Raya Kurban. Bagi umat Muhammad, dunia bukan tujuan hidup, karena dunia dengan segala harta bendanya pasti akan ditinggalkan. Dunia adalah lapangan amal saleh "Daging-daging unta (kurban, termasuk (kebaikan), merupakan ajang untuk berkur- kambing atau sap) itu sama sekali tidak ban karena Allah semata-mata, sesuai dapat mencapai-keridhaan-Allah dan tidak dengan pernyataannya bahwa "Sesung- (pula) darahnya, tetapi takwa daripada guhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, kamulah yang dapat mencapainya." (A) hanya untuk Allah Semesta Alam." Pintu kritik dibuka lebar Presiden kita telah menyatakan, kalau beliau terbuka terhadap kritik masyarakat. Baik kritik yang tajam, halus terselubung dan lain-lain. Semua sindiran atau pun sentilan akan diterima dengan lapang dada, asal yang mapan dan demi perbaikan keadaan. Berkurban adalah perintah kedua yang wajib dilakukan oleh orang-orang beriman berkemampuan untuk membeli hewan kur ban, baik berupa kambing maupun sapi di Indonesia dan membagi-bagikan dagingnya untuk orang-orang yang membutuhkan Ketika situasi ekonomi sedemikian sulit, dengan berkurban kita dilatih untuk tetap bertakwa kepada Allah. Kita tetap diingatkan bahwa jika kita berserah diri dan beriman kepada Allah, maka kekhawatiran harus kita tepiskan jauh-jauh dari pikiran. Yang namanya kritik, sebenarnya bersifat umum tidak tertuju pada pihak tertentu saja. Se mua unsur dalam masyarakat bisa saja menjadi alamat kritik, manakala pola pikir, sikap dan se pakterjangnya menyimpang dari penerapan fung- sinya yang pas dan mapan. Baik eksekutif, leg islatif dan lainnya punya peluang untuk dikritik Adalah seorang siswa Seminari Mertoyudan bernama Wahyu Triwibowo yang telah mulai merintis kritiknya yang membangun. Ungkap anhya diuraikan dalam tulisan berjudul Embrio Kritik (Bernas, 19/3). Sentilannya cukup sengak, tercermin di berba POS PEMBACA Pengirim harap menyertakan fotokopi identitas yang masih berlaku Selain itu orang-orang yang tak mampu akan mendapat kebaikannya dengan mene rima daging-daging kurban yang memang disembelih untuk mereka yang berhak menerima. Berkurban juga menumbuhkan jiwa sosial/rasa kepedulian sosial, rasa kasih sayang kepada orang-orang yang kurang mampu, sekaligus menolong mere- ka dan kesusahan. Orang-orang yang terdidik dengan berkur- ban dilandasi rasa ikhlas dan taqwa kare- na Allah semata-mata, bukan ria' (pamer), Insya Allah, akan menjadi orang-orang yang berjiwa sosial dan siap berkurban apa saja untuk kepentingan umum, mengatasi kemiskinan dan kemelaratan tanpa pamrih. alam enam bulan terakhir ini aksi maha Orang yang mampu berkurban, tetapi dia tidak berkurban, jelas dia telah melang- gar perintah Allah, orang bersangkutan juga D siswa di Tanah Air terasa begitu marak. tidak mendapatkan tempat di sisi Rasulullah setiap kampus perguruan tinggi, baik negeri mau- Gelombang unjuk rasa terjadi di hampir pun swasta. Inti dari aksi itu mahasiswa meng inginkan adanya perubahan, baik politik, ekono- mi, maupun sosial. SAW. gi kalimat antara lain; Yang menghantui anggota DPR/MPR barangkali adalah recalling. Kare- nanya dalam SU MPR lalu kata setuju senantia- sa menjadi akhir yang dicapai untuk menjalankan skenario seperti yang sudah digariskan. Düringi alunan sumbang paduan suara "sett juuuuu" dan ketukan palu yang mengembang menerawang di segala penjuru gedung MPR yang megah. Barangkali hanya beberapa ribu pasang mata rakyat saja yang tertuju pada layar kaca TV mereka, sedangkan yang lain masih berjuang untuk mempertahankan hidup di tengah ambruknya perekonomian bangsa yang semakin kronis ini. Namun sekarang yang menjadi ganjalan adalah tidak ada dukungan pada rakyat? Tak perlu menjamurnya aksi rakyat di jalanan. Mengapa penulis utarakan di sini pun rasanya pembaca pembatasan suara pers, korupsi, kolusi, peng- sudah mengetahuinya. Praktek-praktek seperti gusuran tanah rakyat secara represif oleh aparatur negara, cukup menjadi bukti bagi rak- yat untuk berpikir yang mungkin cenderung negatif dan sinis. Pernyataan biasa saja, lugas tanpa beban. Namun cukup menyentak sengatan listrik tegan- gan tinggi. Bila kritiknya dicermati, rasanya kok memang pas. Ada fragmen wakil dari PPP seo- rang wanita berani mengkorek borok-borok yang perlu diwaspadai guna perbaikannya, justru sambutan mayoritas anggota DPR/MPR dengan cemooh "huuuuuuh Ini pun suatu indikasi kurang tanggapnya SU MPR terhadap aktualisasi beban derita rakyat kecil yang semakin menghimpit. SUMPR penuh dengan tepuk tangan tanda puas, sedangkan di luar jutaan rakyat kecil merintih akibat lonjakan kebutuhan hidup yang menggila. dapat tanggapan dengan lapang dada guna Semoga embrio kritik Wahyu Triwibowo men dicarikan solusi yang tepat. Jangan sebaliknya dituding sebagai embrio pengganggu kestabilan keamanan. Soeroyo J1 Satrio Wibowo Selatan 4 Solo 57142 GAGASAN Kabag Iklan: Engky Harmani-Kabag Sirkulasi: Stefianus V. Genewa-Staf Redaksi: Amir Tohari, Arif Fajar S. Bodi Sarjono, Dwi Asih SR, Dwiyatno, Imbung Pambudi, Iskandar, Jaja Suteja, M Dindien Ridho, Mediansyah, Mh Zaelani Tammaka, Mugi Suryana, Musfarayani, Nila Sofianti, Nuni Kumniati, Nuri Aryati, Pardoyo, Rahmat Wibisono, Rahayu M, Rina Yurini, Rochimawati, R. Widagdo HP, Sholahuddin, Siti Atikoh M. Soenaryo, Sri Efiati. Trianto Hery S. Wahyu Susilo, Yayus Yuswopribanto, Puguh Tri S (Kudus), Sholeh Hadi (Semarang), Sigit Oediarto (Purwokerto), Yuliantoro (Yogyakarta)-Alamat Re- daksi/Perusahaan: Jl. Slamet Riyadi No. 325 Solo 57142 Telp. (0271) 724811 (hunting) Fax. (0271) 724833 Pengaduan Iklan dan Sirkulas: (0271) 724811-Rekening Bank: Bank Danamon Cabang Solo A/C 051000002217, Bank BNI Cabang Pasar Klewer No. Rek. 227.000608858.001-Harga Langganan: Rp. 18,000/ bulan-Tarif Iklan: Duplay Hitam Putih Rp. 4.000V/mm kolom, Berwarna Rp. 6.000/mm kolom, Kolom Rp. 2.500/mm kolom Baris Rp. 2.500 (min. 2 Baris), Keharga Rp. 3.000/mm kolom, Email: solopos@buni.net.id atau solopor alo.mega.net.id KURBAN Mengapa mahasiswa senantiasa ingin tampil dan berperan dalam perubahan sosial-politik? Secara sosiologis masyarakat selalu memposisikan mahasiswa sebagai kelompok yang mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan anggota masya- rakat biasa, sementara kalangan mahasiswa sendiri menyadari akan posisinya itu. Situasi demikian mengakomodasikan mahasiswa untuk tampil seba gai lokomotif perubahan sosial-politik dalam suatu Aksi mahasiswa dan respons negara masyarakat. Sebenarnya dalam banyak kasus di negara- negara berkembang, peran lokomotif perubahan itu dijalankan secara efektif oleh partai-partai poli- tik. Namun di Tanah Air hal itu tidak terjadi, kare- na mandulnya peran Parpol dan ketidakmam- puannya tampil sebagai wadah gerakan masyara- kat sebagai akibat efektifnya kontrol negara. Maka peluang untuk menjadi lokomotif perubahan itu praktis hanya ada dalam kelompok mahasiswa. Karena perannya yang strategis itu, mau tidak mau mereka harus berhubungan dengan kekua saan. Dalam konteks ini kiranya menarik mencer- mati bagaimana respons negara terhadap aksi mahasiswa yang frekuensinya terus menunjukkan peningkatan. Dua pandangan Sebegitu jauh, respons negara terhadap aksi mahasiswa selama ini masih berkisar di antara dua pandangan. Pandangan pertama negara meng- anggap bahwa aksi mahasiswa belum bisa dikata kan sebagai gerakan politik, tetapi lebih merupa- kan gerakan moral. Sedangkan pandangan kedua, negara telah menganggap bahwa gerakan mahasiswa sekarang ini sudah menjadi gerakan politik. Agaknya, tindakan yang dilakukan negara ter- hadap aksi mahasiswa itu sangat dipengaruhi oleh dua cara pandang tersebut. Artinya, negara tidak menggunakan kekerasan sejauh dalam pandan gannya aksi mahasiswa bukan merupakan gerak- an politik. Namun, negara tidak segan-segan meng- gunakan kekerasan jika dalam pandangannya aksi A da sebuah laporan menarik yang cukup menyedihkan. Menurut Mennaker Theo LSambuaga, hingga akhir Maret tahun ini, tak kurang dari 133.459 orang telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Para buruh, pekerja pegawai yang telah dirumah kan ini berasal tak kurang dari 676 perusahaan. Dan hingga akhir tahun ini, diprediksikan 13,4 juta orang akan menganggur, kehilangan mata penca- harian. Dengan kata lain, penguasa akan bersikap long- gar manakala mahasiswa dalam saat tertentu lebih tampil sebagai cendekiawan (resi) yang melakukan gerakan moral. Sebaliknya, penguasa akan mem- perketat ruang gerak aktivitas mahasiswa, man- akala mereka tampil sebagai kekuatan politik. Di sini biasanya mahasiswa senantiasa dicurigal dan bahkan dimusuhi, karena itu perlu terus dia wasi. Jika perlu diciptakan sistem yang mengako- modasi penguasa bisa mengendalikan secara ketat terhadap aktivitas mahasiswa. Bahkan penguasa akan melegalisasikan tindakan kekerasan. Antikekerasan Yang menarik adalah, bagaimana kelompok mahasiswa sendiri menanggapi respons negara seperti itu? Pada prinsipnya mahasiswa sangat anti keke rasan. Mereka mengharapkan apapun yang dilakukannya, entah itu bersifat politik atau hanya merupakan gerakan moral, negara hendaknya tidak menjawabnya dengan tindakan kekerasan. Bila kita mencermati realitas, ternyata kian banyak angkatan kerja baru yang muncul dan butuli kerja. Para kaum terdidik, lulusan akademi dan universitas butuh lapangan kerja. Mereka pun ya potensi dan kemampuan, menurut bidang keahlian ilmu yang digeluti. Jika krisis ekonomi yang sudah berjalan hampir satu tahun ini tak juga reda, maka persoalan apa lagi yang akan bisa muncul? mahasiswa sudah mengarah pada gerakan politik. kawan dan lawan, antara mereka yang benar-benar Tindak kekerasan terhadap mahasiswa yang mencintai Presiden dan mereka yang menghendaki terjadi di UNS Solo dan Bandar Lampung, kemu- kejatuhannya. Dengan linangan air mata - dian belakangan ini di Yogya, menunjukkan bah- demikian jawaban khas resi itu diakhiri-mere- wa negara mulai melihat aksi mahasiswa sebagai ka melambaikan tangan sambil mengucapkan gerakan politik. eksis dalam lapangan kerja. Situasi krisis, jelas kian mempertajam tingkat kompetisi peluang kerja. Persaingan jelas akan kian tinggi dan mungkin membutuhkan kualifikasi yang tinggi pula sebagai prasyarat utama pencari kerja. Paling tidak jika kita melihat sarjana yang minim kapasitas kognisi dan skill, faktanya akan semakin menyedihkan, TKI Apa yang diungkapkan di atas, tentu cukup menggelisahkan. Dalam arti, setiap orang yang menjadi karyawan perusahaan, tetap mempunyal peluang untuk di-PHK. Bisa diprediksikan pula, hingga akhir tahun nanti, jumlah tersebut bisa membengkak dan bertambah. Dengan satu syaraf, Menjadi sosok sarjana yang (sekadar) lulus jika kondisi ekonomi tak juga membaik. Berita agaknya lebih mudah dan simple. Mencari ijazah, inilah yang menjadi sebuah agenda, dari beragam mencapai kelulusan dan akhirnya menganggur, persoalan aktual menyangkut dunia ketenagak-agaknya lebih menjadi blue print wajah sarjana erjaan di Tanah Air. kontemporer. Ingin ditutupi dengan apalagi, jika Faktanya memang menuturkan bahwa tingkat memang faktanya semacam ini. Lebih mudah men- pengangguran nasional akan terus merangkak capai kelulusan, dari pada eksis dan survive di tinggi. Sektor industri riil, layanan jasa, tak lagi lapangan kerja. mampu menyedot angkatan kerja. Mekanisme produksi sudah tak bisa berjalan semestinya. Lan taran, tingkat konsumsi masyarakat sudah men- capai titik terendah. Pendapatan masyarakat secara riil, tidak mam- pu mengimbangi fluktuasi harga barang yang melangit. Dengan kata lain, sektor produksi ril tak bisa diharapkan berjalan. Suku bunga yang ting gi dan kredit macet perbankan, agaknya menjadi penyebab utama turunnya produktivitas Melihat komposisi tingkat pendidikan dan sek- Fenomena PHK yang kian intens dan menjadi tor kerja yang dapat dimasuki, ternyata peluang ker agenda konkret ruang rutin kita, ternyata memu- ja bagi sarjana (yang punya keahlian) ternyata ma- Dunia kerja riil domestik, agaknya lebih didomi- nasi oleh angkatan kerja dengan bekal pendidikan SD, yang hingga akhir tahun 1998 ini mencapai 60% dari total angkatan kerja nasional. Selebihnya SLTA (18%), SLTP (15%), lulusan D-III atau akademi 5%, sisanya para sarjana 2% Distribusi sektor kerja terbanyak disedot ke lapangan kerja pertanian (419), jasa (35%) dan industri (220). (PTKN Depna ker. 1997). nculkan persoalan baru. Yang tentunya, masih menyangkut dunia ketenagakerjaan. Jika angkatan kerja lama telah banyak yang mengalami PHK, lantas bagaimana dengan angkatan kerja baru. Munculnya angkatan kerja baru, sudah tentu butuh lapangan kerja. Tempat bekerja yang sesual dan relevan dengan potensi yang dipunyal. Tidakkah ini akan menimbulkan persoalan baru yang tak kalah serius? sih tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa dalam sek tor kerja riil domestik angkatan kerja dengan kap asitas kognisi dan manajemen kerja masih minim. Namun, akankah semua sarjana bisa tersedot dalam sektor kerja? Dibelenggu persoalan Harus diakui, bahwa lulusan pendidikan tinggi belum menjamin kualitas kerja. Pada kenyataan nya, masih banyak sisi reduksi yang menjadi per- soalan aktual menyangkut kelulusan mahasiswa. KORBAN Pada kenyataannya, peluang dan tingkat kemam- puan yang dipunyai sarjana, bukan merupakan jaminan konkret. Sebab, masih banyak keluhan dari sektor kerja terhadap lulusan pendidikan tinggi sar jana. Ada sejumlah keterbatasan yang masih mem- belenggu sarjana. Yakni, pertama, mayoritas sar jana tidak mempunyai pemahaman dan penge- tahuan mendasar teoritik, seputar disiplin ilmu yang pernah diakrabi. selamat. Setelah sekitar lima tahun sejak Orba men jalankan roda pemerintahan, naluri mahasiswa sebagai kelompok cendekiawan kembali terusik. Mereka menyatakan keprihatinan terhadap fenom ena korupsi yang mulai kumat lagi, dan kesen- jangan sosial yang mulai menggejala. Presiden Soeharto pada waktu itu bereaksi positif, dengan membentuk Komisi Empat dipimpin Mohammad Hatta yang terkenal jujur. Sayangnya banyak pembantu Presiden, bebe- rapa saat kemudian memberi laporan yang memo- jokkan mahasiswa. Kepada pemerintah dikatakan bahwa para mahasiswa yang berdemonstrasi itu bukannya tidak memiliki kepentingan-kepenting an politik, dan bahwa ada partai-partai politik ter tentu yang menunggangi mereka. Prinsip ini senantiasa konsisten dipegang baik mahasiswa era angkatan 66 maupun mahasiswa sekarang. Bahkan bagi mahasiswa, prinsip antikek- erasan itu sudah menjadi sikap sejarah. Ilustrasi yang dikemukakan Arief Budiman berikut ini bisa menjadi contoh yang menarik: Pemerintah saat itu memperingatkan para maha- siswa pada 5 Januari 1970 bahwa mereka ini ditung gangi oleh kelompok-kelompok politik terlarang dan beberapa orang yang berambisi untuk men- duduki jabatan kepresidenan. Karena itu jika demonstrasi diteruskan, mereka akan berhada- pan dengan angkatan bersenjata. Jawaban mahasiswa ketika itu menggambarkan suara khas seorang resi. Tidak berdaya kalau harus menghadapi konfrontasi fisik, dan karena itu akan mengundurkan diri. Sambil mengingatkan per- juangan bersama di tahun 1966, mereka menya- takan bahwa maksudnya semata-mata sekadar menyampaikan pesan, agar bisa dibedakan antara Meratapi himne sendu sarjana Sejak saat itu pemerintah memposisikan maha- siswa bukan sebagai resi, melainkan sebagai keku- atan politik yang harus diwaspadai. Sikap dan respons pemerintah ini berlaku hingga sekarang. Itulah sebabnya, sejak era Mendikdud Daoed Joesoef diberlakukanlah konsep Normalisasi Kegiatan Kampus (NKK), yang intinya depolitisasi kampus, Kampus bukanlah ajang kegiatan politik mahasiswa, melainkan murni sebagai kegiatan ilmiah. Begitu penegasan pemerintah yang beru- lang-ulang dilakukan dalam setiap kesempatan. Implikasi penerapan kebijakan itu tera.a hing- ga sekarang. Bersamaan dengan penerapan kor- poratisme negara, maka tidak semua mahasiswa antusias terlibat dalam gerakan-gerakan moral dan politik. Bahkan ada yang mengatakan, sebe- narnya yang gemar melakukan aksi itu hanya seba- gian kecil, tidak lebih dari 15%. MALAYSIA imak fakta konkret seputar potensi yang dipunyai kaum sarjana. Kedua, sebagian besar sarjana itu mempunyai kecakapan aplikatif. Pada dimensi aplikatifnya, mayoritas sarjana kurang memiliki kapabilitas untuk bisa membangun sebuah ruang asosiasi Asosiasi antara pengetahuan teoritikal yang dida- pat, dengan jagat realitas fisik (praktikal). Persoalan yang ketiga-maaf saja-banyak sar jana yang miskin dalam aplikasi dan pengetahuan bahasa asing. Kemampuan berbahasa asing (khususnya) Inggris dalam iklim bersemangat global saat ini jelas merupakan prasarat mutlak Namun, yang muncul justru sebaliknya. Ironisme inilah yang pada akhirnya mengaktu- al, dan menjadi penyebab utama keraguan banyak kalangan terhadap sarjana. Lahirnya keraguan seputar kapasitas sarjana, bisa dipahami. Bisa dite rima, lantaran dalam sektor riil usaha berkisar antara rugi dan laba. Sektor produksi riil mana mau merugi di saat seperti ini, jika mereka masih dihadapkan pada persoalan baru tentang reduksi wajah sarjana tersebut. Kompetitif Krisis saat ini, jelas kian mempertajam kom- petisi antar pencari kerja. Tingkat kompetisi yang begitu tinggi ini, tentu mempunyai konsekuensi konkret. Artinya, ada banyak hal yang memang harus dihadapi Di antaranya, Pertama, PHK yang kian tinggi belakangan ini, mengakibatkan kuantitas tinggi pengangguran. Banyak pengangguran, baik yang terdidik ataupun sebaliknya. Harap dipahami, bah- wa penganggur tidak terdidik yang ter-PHK, belum tentu mempunyai kualitas rendah dibanding dengan sarjana yang baru lulus. Sebab, mereka lebih kaya akan pengalaman dan menajemen kerja secara konkret. Jika kondisinya semacam itu, maka dpat dipastikan bahwa sar jana yang baru lulus, klan sulit. Fakta ini tak dapat dihindari. Dunia usaha adalah sektor yang pragmatis. Kenapa harus mencari Sarjana yang miskin praktikal dan teoritikal, serta pengalaman. Mungkin lebih baik, mencari angkatan kerja lama yang ter-PHK dengan bekal pengalaman kerja yang lebih memadai. Teori dasar (grand theory), justru tidak dipahami oleh para sarjana. Jika sarjana tidak paham betul tentang apa yang dipelajari semasa kuliah, lantas dengan bekal teoritik apa lagi mereka bisa Kedua, mengharap para sar- Barangkali kita bisa membuktikan, bahwa para memimpin sebuah menajemen produksi? jana untuk tidak terlalu mematok sarjana lulusan pendidikan tinggi akan kian menan- Sementara, banyak kalangan, orang tua, dunia posisi dalam struktur kerja riil. bah persoalan baru. Sementara, jika kita kaji secara usaha, pendidik berharap bahwa keunggulan itu- Sudah menjadi kecenderungan kritis, bahwa tidak semua sarjana mempunyai lah yang seharusnya melekat dalam diri sarjana. yang umum, banyak sarjana yang potensi. Punya skill yang memadai untuk bisa Obsesi tersebut ternyata sudah pudar, jika meny- mengklasifikasikan dirinya secara HALAMAN PHK MG S Bayu Wahyono penuh kearifan. Jika ini disepakati, maka perlu ada transformasi sikap dan pandangan negara dari yang hanya men posisikan mahasiswa sebagai kelompok yang per lu diawasi, dicurigai, dan bahkan dimusuhi, ke arah pandangan yang memposisikan mahasiswa sebagai mitra dalam mencari pilihan-pilihan kon- septual yang konstruktif dalam hidup berma syarakat dan bernegara. Sikap gemar memvonis mahasiswa sebagai ke lompok yang tidak becus, hanya omong, biasanya Respons konstruktif hanya bikin onar, adalah sikap egois dan kering Namun demikian berapa pun persentasenya, kearifan. Kiranya bukan respons seperti itu yang tetapi yang jelas adalah bahwa aksi mahasiswa kita harapkan datang dari negara, dari pemerintah. sekarang ini terus bergelombang dan kian mehu- as. Karena itu menurut hemat saya yang penting adalah, begaimana respons negara tidak bersifat represif, melainkan lebih bersifat konstruktif dan Dengan demikian perlu menekan surut sikap sikap seperti mencurigai kegiatan kelompok diskusi, mencegah unjuk rasa mahasiswa dengan argumen dapat membahayakan ketertiban dan atau dapat membuka kesempatan bagi provokasi sosial. Ajakan pemerintah untuk mengadakan dialog dengan mahasiswa belakangan ini sangat positif Namun yang lebih penting adalah sikap yang ditun jukkan dalam forum dialog. Jika dalam forum dia log yang terjadi senantiasa berusaha mematahkan semangat mahasiswa atau memojokkan dengan kesalahan teknis, kelemahan data, dan bahkan kelemahan argumen, maka lebih baik tidak dia- dakan dialog. Namanya saja juga mahasiswa, mereka masih berada dalam taraf belajar, sehingga wajar jika mereka adakalanya sering membuat kesalahan. Seringkali forum bernama dialog, tetapi isi pem bicaraannya lebih merupakan monolog, arus masukan terasa dari atas, dari pejabat pemerintalt Jika mahasiswa mengemukakan pendapat yang berbeda, apalagi yang menyinggung kepentingan, dialog berubah menjadi imposisi masukan, argu- men dan pendapat dari atas. Dalam suasana demikian, tidak mungkin dialog dapat berlangsung secara benar, dan akhirnya mahasiswa divonis sebagai kelompok yang bisanya hanya bikin kisruh. *) Penulis adalah alumnus Fisipol dan Pascasarjana UGM, dosen IKIP Yogyakarta. Ermina Krismarsanti ekonomis, sebelum terjun ke sektor produksi riil. Kultur semacam ini, sangat tidak konstruktif dalam masa krisis Alasannya, jika kultur semacam ini masih saja dipahami dan dijadikan patron, konsekuensinya para sarjana akan kian kesulitan mendapatkan penghidupan. Dengan kata lain, merupakan sebuah daya hidup kian sulit. Masa krisis, bukan waktunya untuk menjual kapasitas diri dengan patokan tinggi. Terlebih jika sarjana tak punya kemampuan tinggi, baik secara akademik ataupun aplikatif. Kultur semacam itu sepatutnya dibuang. Sebab, peluang untuk men- jadi angkatan kerja terdidik namun menganggur, agaknya lebih besar. Ini sulit untuk dipungkiri. Logika, jika dalam masa kondisi stabil saja banyak sarjana yang menganggur, bisa dipredik sikan faktanya masa sekarang. Wajah suram dengan himne sedih sarjana kian mudah ditemul dan jelas terdengar. Senandung kesedihan para sar jana akan semakin keras, jika para sarjana tidak mau bersikap kompromistis Maksudnya, punya motivasi untuk mengubah kultur idealistis ekonomisnya yang irasional. Serta mau berkompromi untuk bisa menjadi seorang sarjana, yang memang benar-benar mempunyai kemampuan teoritik, mengetahul grand theory yang dijadikan akar studi dasarnya dan banyak belajar secara aplikatif. Singkat kata, lebih mudah untuk menjadi penganggur terdidik, peluangnya kian terbuka lebar. Barangkali inilah bahan pemik ran baru, bagi sarjana ataupun calon sarjana. *) Penulis adalah pengamat pendidikan, alumnus Fakultas Sastra UGM, tinggal di Klaten. Nuwun Sewu Ketua BPPN Iwan Prawiranata menyatakan sedikitnya 40 bank masih dalam "perawatan", menyusul pem- bekuan tujuh bank dan pengawasan tujuh bank lain- nya. Asalngerawatnya betul. puluhan ribu karyawan tak akan tet Komnas HAM didesak berbagal kalangan agar segera membantu pencarian mahasiswa yang hilang pasca demonstrasi. Tak usaha didesak, Komnas HAM (seharusnya) tak tinggal diam.... Kang Mase
