Tipe: Koran
Tanggal: 1994-05-15
Halaman: 08
Konten
Color Rendition C 4cm 2cm MINGGU WAGE 15 MEI 1994 (4 BESAR 1926) Penggugatan Emha, Kerinduan Rendra ja, syarakat OLEH: JAYADI K KASTARI juga memberi gaan yang sama. Ketika saya ber- murni, tetapi bila karya sudah ja- da penonton saya harus me- wan! menerus. tidak jelas ke- saya BUDAYA Bosan Ah! honor yang nerus JELAS kebingungan telah terjadi sehingga kerap muncul kesimpangsiuran informasi, yang kembali sekali lagi me- rugikan seni dan kesenian, merugikan dunia keseniman an dan dunia kebudayaan pa- da umumnya. Rendra telah di- larang bersilaturahmi dengan para seniman muda Yogyakar- ta di rumah Emha. Ini maunya bagaimana? Rendra yang su- dah layak disebut sebagai Em- pu, sebagai Mahaguru seni daya Indonesia, masak tidak boleh mewariskan kebijaksa- kian bu- bangsa ini sendiri, yang jelas para terlambat, dan penyesalan. se- muanya itu selalu datang se- sudah se- gala sesuatunya tak bisa dise- lamatkan lagi. Betapa mem- prihatinkan, betapa kasihan bangsa ini, memberi kebebas- an kepada para senimannya, anak-anak bangsa sendiri, se- demikian ketakutan. Adalah kecurigaan sumber segala peristiwa di atas, lah ketidakrelaan untuk mem- beri kepercayaan kepada para Namun sesudah pejuang kemajuan bang- sa ini sendiri, meskipun berbe- da bentuk yang dipergunakan- nya. Satu-satunya kelemahan se- niman adalah, mereka suka bertanya dan mereka suka mempertanyakan segala sesu- atunya. Satu-satunya han seniman adalah, terlalu peka mencium udara adilan, terlalu perasa mem- biarkan hidupnya kesewenan- gan. lama ini kelema- ketidak- berakibat pada deintelektualisasi dan dehumanisasi masyarakat. Dan ini bisa menjangkiti seniman kreatif, lalu mempengaruhi kar- ya-karyanya sehingga mendalam. Rendra ataupun TAHUN 1992, Emha Ainun Nadjib pernah melancarkan kritik penggugatan pada seniman. Begini bunyinya: murah. Misalnya antara Rp 7.500 Emha, penulis percaya sangat se- stabilitas. Sebab, tan- Penyair membaca puisi seperti Tepuk Pramuka' atau seperti penghuni gua Kahfi' dari masa silam yang mata sampai Rp 10.000.- Itu akan tidak pa stabilitas, kata Rendra, bagai- HENTAKAN yang sedemiyan dikesankan sebagai sosok yang uangnya tidak laku, tapi memaksa-maksakan diri untuk menganggap laku, memekik-memikkan dan menga- mahal sedang-lah, hampir sama cungkan tinju ke udara kosong. dengan sekian rokok sa- mana dapat memperoleh jaminan WS Rendra ketika datang di Yog- memprihatinkan. Karena itu pe- Dan, seniman mengemis ke- penghar- atau seteambath. Pendeknya sa- an. Sementara perlakuan terha hanya untuk merdekaan kepada kekuasaan , dan lebih murah ke nite club ingan-kepastian hidup. Itu yakarta untuk berkangenan de- matokan tarif dalam tiap pemen- ya tidak membebankan menitik- kepentingan politik semata, te- ngan segenap dap karya yang bernilai justru politik, menadahkan tangan ke- seakan dipasungkan, inilah sebe- lah adanya unjuk rasa, yang mem miskinan kepada konglomerat karya itu sebenarnya spontanitas beratkan income (pemasukan) pa- tapi untuk keseluruhan bidang protes harga tiket masuk yang di- martabat dan kehormatan seni- narnya yang terjadi di negeri ini kehidupan. Oleh karena itu dak mengandalkan pada box of- bilitas yang diperlukan harus ber rasakan begitu mahal, sehingga man, khususnya penyair. Karena sehingga seni budaya manca kian meraja lela sedangkan para seni- dasar kepastian hukum bukan sebagian penggemar itu tak itu juga maka dinilainya mereka sambil menopengi diri dengan fi- gya, Burung Merak cari makan di dra dalam 'Rendra Back to Yogya' di, saya mau ada penghargaan fice, tetapi pada maecanes (pe- losofi peran yang digagah-gagah- Yogya, Rendra menjual kemiski yang tidak bisa masuk dan kece- murni yang jelas untuk karya kan. Menuntut honor tinggi tanpa nan rakyat lewat puisi, Rendra membayar. man dan budayawan bangsa wa besar. pada kepastian tegaknya kekua- mampu dana). nyandang saya. Itu berarti Dalam yang memprotes penampilannya saan. Jika stabilitas berdasar ke- perbincangannya dengan bebera- tak mengerti perjuangan perjuan- sendiri tak mampu mencuatkan fasibilitas pasar hanya mengan- penyair Kapitalis, Rendra penyair Lantas, bagaimana memahami nuntut dan memperjuangkan ho- Berkaitan dengan unjukrasa kuasaan, namanya bukan stabili- pa warta-wan maupun rekan sen- rniat menjegal- karyanya karena iklim belum berniat n atas pementasannya, Rendra pun dalkan romantisme filantropis. Salon, dll. Hal itu berawal dari fenomena itu? salah satu cara arif nor yang memadai buat semua tas politik, tetapi malah justru iman, Sang Burung Merak men- nya. (Rendra juga mengungkap, memungkinkan. Dengan ditam- Seniman menjadi anak manja harga tiket untuk kantong Yogya sesungguhnya memahami pola- karya-karya saya yang sudah ja- 'bersikap'. Ulah pengunjukrasa ketegangan politik. Bila hal ini gungkap kan kekesalannya kare- dirinya dengan si dukung seorang bah arus komunikasi yang mende yang merasa diri menjadi pahla- karta dianggap terlalu mahal pola pemikiran WS Rendra sen- sama sekali tidak memahami per- di. Itu saya perjuangkan terus ras maka lengkaplah sudah po- (VIP Rp 25.000, 15.000, 5.000). diri. Kata Rendra, menjadi seni- juangan, tapi justru menjegal per- kecintaan' pengunjuk rasa itu pengusaha akan memasyarakat tret keprihatinan itu. Kritikan emha Ainun Nadjib, Kemudian sebelum pementasan man itu sulit. Kita tak boleh lupa, juangannya. Untuk ukuran pen- berlaku, maka rakyat akan kehi- dirasa-kan kurang pada tempat- kan puisi di berbagai kalangan langan hak inisiatif dan keper- Bagi seorang Rendra, protes nya, apalagi dia bisa tampil di ko yang selama ini tak tersentuh se- Walau, Rendra juga memaha- tas di Yogyakarta harga seperti seperti itu patut dikenang kem- berlangsung yang dipandu Emha seniman itu menjadi kaum ping- mi kemampuan ekonomi masih dan tuntutan a agar memurahkan ditetapkan panitia, menurut Ren- ya manusia Kemudian cayaan diri, sehingga sumber da- ta Budaya Yogyakarta saja sudah perti di Pondok Pesantren mau- bali ketika menyaksikan pemen- ainun Nadjib mencoba menetral- giran itu berarti tidak jelas naf- rendah, sementara Rendra mem- tasan 'Rendra Back to Yogya', 5 isir: soal harga tiket itu mahal, kahnya, tidak jelas kedudukan- inta harga tinggi untuk sebuah dra sudah wajar, Bagi Rendra ia meru pakan hasil maksimal dan pun kalangan lainnya). akibat lebih jauhnya, akan mun- cul tata kehidupan yang tidak pantas disyukuri meskipun harus terhadap profe- Buyung Nasution (dok- buah Mei 1994 di Sporthall Kridosono- murah ataupun sedang itu se- karya yang serius. Sebenarnya harus hidup dan karena syah saja nya sosialnya dan si. Dan mematok harga pantas sajak barun- tor hukum dan pendiri YLBHI) menentramkan. dalam mementaskannya, penon- Yogyakarta. Apakah kritikan 2 sungguhnya demokrasi. Bahkan dudukan ekonominya. Tapi toh karyanya itu untuk siapa? Kata ton harus bayar. Karena itu Ren- Penggugatan Emha seperti di- ya tak bisa menyodorkan alternatif agar Ren- adalah hak, sebagaimana seorang Penulis tahun lalu itu juga dialamatkan kalau dianggap kurang demokra saya tetap memilih menjadi seni- Rendra, karyanya untuk mereka dra merasa tersinggung jika me- yang terlibat dalam dra bisa tampil di masyarakat dokter, lawyer (pengacara dsb) dialamatkan untuk Rendra. pembicaraan dengan Rendra, pa- bawah dengan gratis atau seti- bahkan tukang cukur, seniman untuk WS Rendra? Sebab sebe- sipun, Emha menyarankan dicari man atau penyair dengan segala (masyarakat-pen). Mereka- kan reka (pengunjukrasa) menuntut lum pementasan itu berlangsung momentum mendatangkan Ren- konsekuensinya, yaitu menjadi bisa menabung. Saya selalu me- sempat ada unjukrasa, aksi pos- tari pelukis dan yang lain, yang ra seniman muda, tokoh bisa rasa dengan dra mungkin dengan gratis dan kaum pinggiran. Saya harus nekankan pada produser karya harga tiket terlalu murah, Kare- Seperti kata Emha sendiri, diawal memandu pementasan "Rendra rakat sekapasitas Adnan mereka yang berkantong tipis selama ini juga punya hak dan ter. Aksi poster itu berbunyi: Bu- bisa berdialog, karena memang menghargai karya saya sendiri tidak dijual dengan tiket ter- lalu mahal, tetapi tidak terlalu meremehkan karya seni sastra. na itu suatu tanda betapa mereka tak pernah mendapat protes. Ni- Nasution, Dr Arif Budiman menikmati pertunjuk Yogya", dirinya adalah rung Merak cari mangsa di Yo- malam itu banyak penonton Ren- dan memperjuangkan agar ma- ngagum Rendra baik sebagai indi- juga berbincang dengan sejumlah annya. Caranya, dengan tampil lai perjuangan, katanya, tak lure Dibandingkan dengan Pengacara, vidu, atau kapasitasnya sebagai pengunjuk rasa merasakan tur oleh murah-mahalnya tarif Dokter, Seni lukis dsb yang untuk penyair atau Budayawan muda. menikmatinya perlu membayar yang dipatok. Semisal Bagong nya sudut-sudut pandang yang hotel saat Kussudihardjo, Affandi, Amri mahal, sementara masyarakat entah secara sengaja atau belum ketemu dalam mensikapi lainnya pentas secara umum Yah ya, juga Buyung Nasution tidak protes (KR, 7 Mei 1994). tidak sengaja, malam itu mem- sebuah pementasan seni. Tarik massal. sendiri. menarik dilematis ini, rasanya tak tertarik dengan tawaran Dalam pandangan pemrotes, Dalam sisi lain, memang benar baptis'. Setelah Chairil Anwar, layak untuk diangkat dalam fo- semacam itu, karena baginya jus- Rendra selalu memperjuangkan Sutardji Calzoum Bahrie, penyair seniman macam Rendra justru besar Indonesia adalah WS Ren- rum yang lebih serius, mengingat tru membayar adalah sebagian memadai terus me- dianggap dekat dengan mereka, atas karya-karyanya. Jadi esensi permasalahannya cukup cara untuk mendidik masyarakat dra. Tentu ungkapan itu berda-sens menemani mereka dalam per- sarkan pertimbangan, kualitas dalam dan berpengaruh terhadap menghargai karya seni. tidak mengherankan kalau belum n dan kepahitan hidup. Se- juangan c karya, kualitas tumbuh kembangnya seni budaya Rendra misalnya men- itas kepenyairannya jual puisi pada PT Global Sarana yang keberadaannya juga diakui bangsa Indonesia sendiri. bagai sosok pahlawan semacam Dalam perbincangan Adnan Media Nusantara yang berjudul penyair lain. Berangkat dari kual- itu, Rendra dianggap mengkhia- Buyung Nasution, maupun maha- pertunjukannya harus membayar kan sebuah film ditukar dengan meno- dengan harga yang terjangkau. Dengan kata lain sosok Rendra adalah tifur yang tidak direlakan ikut-ikutan jauh dari jang kauan si kecil. Jika kemudian di- anggap meninggalkan mereka, tidak bisa ini bungkus "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 Seputar Merebaknya Gejala Pelecehan Karya Seni derajat sudut pandang seni nya seperti karya-karya pop picis MINGGU WAGE 15 ME Teater Pamor 1 subur karya-karya ya harga dalam penggemarnya ada tasan sajaknya adalah bagian da ri perjuangan mengangkat citra, atau tiket. Saya ti- sta- gan an dan justru merosot. merelakan cakan. Adnan tike adalah se- awal tulisan ini, penulis yakin bu- kan masya- daknya berbagai Buyung Backto dan yang ingin pe- ada dua kali yakni misalnya pentas di tempat semacam dan di Dan Tetapi rupanya Rendra Dibalik Penghargaan ada- Nah, cekal dilarang. Sayangnya pencekal- bahwa alasan dan dicekal, dilarang dan an itu ada membangunkan fasilitas peter- nakan ayam dan itik diatas seluas 500 meter persegi di mar- kas Bengkel Rendra. Dan Rendra menghitung-hitung sendiri satu puisi itu berharga 20 juta. Pola pikir ekonomis Rendra sebelum- pernah diujudkan, keti- nya juga ka hadir dalam diskusi bersama Sudomo di RCTI meminta imbal- an seekor sapi. Bahkan tahun se- belumnya juga, mahasiswa Uni- versitas Kristen Indonesia (UKI) minta tampil untuk berbicara, tanah in menyaksikan kan penghargaan'. itu bisa berujud pengakuan (ke- siswa, tegas-tegas Rendra 110 ekor ayam, 20 ekor itik plus beradaannya), bisa berujud eko- lak jika harus berkompromi me- Apalagi misalnya dibanding de- nurunkan tarif, meski yang mem- nomi, dengan suka rela dan iklas inta panitia yang terdiri dari ma- mau membeli tiket dengan harga hasiswa sekalipun. Rendra yang akhir-akhir lebih mahal. Penulis yakin, kalau telah berhasil membuktikan bah- rela seandainya ketika berangkat ing- wa pembacaan pementasannya tentu akan sangat paham, bagai- menyedot mana WS Rendra, Orientasi kese- tak niannya dan kesenimanannya gap bahwa maka aksi poster tidak akan ter- jadi. Perjalanan Ibu Aminah' dijadi- tas karya inilah layak memberi jumlah wartawan Kendra dan se- hatinkan di masyarakat, yakni nati apabila untuk menikmati sajak mampu besar mereka memang sepakat mang gejala yang mempri- bahwa karya sendiri setinggi apa pun mutunya kurang dihargai. ngan pertunjukan dari mancane- gara yang cenderung merebak ini dan masyarakat berbondong untuk memba- maka bisa dipahami mereka pun yar dengan tiket selangit. dana cukup dan Perbincangan serius muncul kecewa. sekedar tepuk tangan seperti manakala dibahas persoalan Tarik menarik semacam itulah yang terjadi selama ini mengang- menyangkut eksistensi karya yang melingkupi dunia seni bu- kerelaan masyarakat seni budaya bangsa sendiri. Ke- daya saat ini. Peristiwa di untuk membayar dalam jumlah cenderungan yang muncul adalah Kridosono, barangkali tak lebih yang berarti merupakan suatu pengadilan dangkal menyangkut *Bersambung hal 9 kehormatan karena mengangkat karya bangsa dengan memupuk itu bahwa selama ini me- ada untuk kita dari pemicu ke permukaan, seba- justru mengandung arti, yang resah, ada yang la ada seniman. Ada yang resah, karena rangkali, segala sesuatu yang akan dipertanyakan para seni- tidak tenang hatinya, bi- pemikiran Rendra yang lain sering diungkapkan, bahwa apapun bentuknya ba- itu Cekal Lagi. naannya, nilai-nilai yang dite- mukannya, pengetahuan dan pengalaman yang dimenang- kannya, kepada generasi yang lebih muda? Lalu bagaimana dengan kewajiban generasi tua kepada generasi muda da- lam proses alih generasi? Lalu bagaimana dengan penyerah- an tongkat estafet antar gene- rasi, yang dalam dunia seni budaya justru berujud proses tatap muka, dialog dan mem- bagi pengalaman ataupun ajaran. Barangkali Panitia ataupun Emha sebagai tuan rumah ber salah arti karena tidak mengurus kemerdekaan, surat ijin. Tetapi sebenarnya, apa benar demikian? Apakah apabila para seniman negeri ini hanya untuk bersilaturahmi membu- tuhkan panitia khusus yang diwajibkan lari ke sana ke- mari, menghadap dan meng- hadap, beberapa meja biro- krasi, untuk kemudian harus sekian lama menunggu hingga CATATAN Cekal Lagi.... kah harkat muncul lampu hijau. Apakah sebenarnya yang di- takutkan, apabila seorang Rendra yang hampir 60 tahun usianya bertemu dengan seni- man generasi muda? Sedemi- berbahayakah para seni- man, atau sedemikian rendah kemanusiaannya, sehingga kemana seniman pergi, di mana ia duduk atau pun berdiri, harus selalu di- monitor, dicatat, diawasi. Memang, para seniman be- sar di dunia ini, entah Jerman, Perancis, Inggris, Italia, Ame- rika Serikat, Amerika Latin, atau yang mana lagi, berada di manapun dia akan selalu di- catat, akan selalu diberi tem- pat. Hanya monitoring dan ca- tatan itu bukan dalam rangka sebagai keberbahayaanny warganegara dari negeri yang sedemikian dicintainya. Mini- toring dan catatan itu justru untuk memotret nilai-nilai manusiawi dan budaya yang terjadi, dalam kerangka peris- tiwa kebudayaan. Dan Rendra sekali lagi, sebenarnyalah sen- iman besar, perlu dicatat. Kesimpangsiuran informasi, apa yang harus dilarang dan apa yang boleh, serta siapa yang perlu dicekal itu sudah kelewat keterlaluan sehingga sulit untuk ditolerir. Begitu Pak Kanjeng di Surabaya dila- rang, muncul suara-suara dari pusat pemerintahan yang jus- tru mempertanyakan, kok bisa pentas itu dilarang. Begitu Emha dilarang bicara di Jawa Tengah langsung muncul ung- kapan rasional, bahwa per- cuma Emha dicekal selama tulisan-tulisannya muncul di berbagai penerbitan. Kini begi- tu Rendra bertamu saja dila- rang, muncul pula penyesalan seniman. Mengapa? Benarkah para seniman bisanya hanya memberontak? Malahan, bisa- kah sebenarnya para seniman melakukan pemberontakan? Menggelikan sekali, karena para seniman itu sebenarnya paling goblog kalau disuruh berkelahi. Walau demikian hendaklah tidak dilupakan, para seniman bukannya tidak punya andil dalam pembangu- nan negeri. Janganlah dilupakan, para seniman bahkan ikut pula ber- peran dalam peristiwa Perang Bagi para seni- man muda tak kurang pula Kemerdekaan. jumlah mereka yang mempun- yai orangtua dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ku- suma Bangsa. Lalu mengapa dan untuk apa kecurigaan itu dipelihara, kecurigaan kepada seniman yang jelas anak anak Sebenarnya itu saja. Bila ada seniman, pasti akan mun- cul pertanyaan-pertanyaan, terutama apabila ada suatu ketidakberesan. barangkali itu saja mengapa seniman di- man memang benar-benar ada, ketidak-adilan, kesewe- nangan, serta yang semacam bila yang muncul pelarangan membabi buta se- perti silaturahmi Rendra ke- itu. Apalagi marin. Ditanya sebab musa- bab pelarangan itu, jawaban- nya hanya 'Pokoknya dila- rang, 'Pokoknya dilarang. Marilah kita sebagai bangsa yang merdeka, mari mengelus Genthong HSA dada bersama-sama. Mega Mendung Aktor Aktris Kethoprak KETIKA balik ke Yogya, dan membolak-balik Kedaulatan Rakyat', saya terkejut membaca terpasang. Bahwa Budi Wirya- salah satu iklan keluarga yang wan, aktor kethoprak Yogya, anak artis kethoprak kondang Kadyaryati itu, meninggal dunia. Tak berselisih lama dengan me- ninggalnya Nyi Suparmi Prenjak (berita kematiannya saya baca di Kompas, jauh sebelumnya). Meninggalnya Budi Wiryawan, sangat mengejutkan. Lantaran boleh dikata, ia masih sangat mu- da. Meskipun begitu, ia sudah mencapai tataran sebagai pemain kethoprak yang diandalkan. Se- bagai pribadi, proses kreatif ke- senimanannya, jelas juga mena- rik untuk dikaji, sebagaimana hal tersebut juga akan dilakukan un- tuk Ny Suparmi Prenjak. Barangkali, salah satu keun- tungan Budi Wiryawan dan Nyi Suparmi, karena dua orang ini hidup di alam Jawa yang sangat sinkretis dan akomodatif dengan berbagai kemungkinan. Barang kali itu pula, yang berpengaruh kreatif mereka, menjadi demikian pada pola pikir, sikap dan proses terbuka dan amat toleran. Band- ingkan dengan kesenian tradisi lainnya, apalagi yang di luar Ja- wa, yang kemudian lenyap tak berbekas bersama lenyapnya gen- erasi pendukung kesenian itu. jukkan keakrabannya pada dunia Dengan menarik, Budi menun- kesenian di luar ketoprak. Ia me- miliki pergaulan yang amat ha- ngat dengan seniman-seniman 'mazhab' modern. Baik dari ka- langan teater, para penyair dan lainnya. mi. la gambaran dari sedikit artis Begitu juga dengan Nyi Supar- tradisional kita, artis empat gfen- erasi dan empat jaman sekaligus. Disebut begitu, karena sejak ja- man Belanda, Jepang, Kemerde- kaan (Indonesia), hingga jaman "posmo" dengan hadirnya ketho prak plesetan, kethoprak televisi dan berbagai kethoprak thethek- mbengek, Nyi Suparmi bukannya menyurut, tapi justru makin men- corong. Tampak sekali, bagaimana da- ya akselerasi dan eksplorasi kre- atif kedua seniman kita itu. Sesu- atu yang sangat langka di kalan- gan seniman (kalau boleh disebut) tradisional, sekaligus langka di kalangan seniman kontemporer sekali pun. Namun bisa juga dipa- hami, jika melihat bagaimana ku- atnya akar atau latar belakang kedua seniman panggung kita itu. Dunia kethoprak di Yogyakar- ta, memang jauh mendapatkan berbagai keuntungan. Di Yogya, kesenian kethoprak selalu bersen- tuhan dengan berbagai eksplorasi pemikiran. Selalu terjadi perge- sekan dengan pembaruan-pem- baruan kreatif yang didorong oleh para senimannya sendiri. Pola pergaulan sangat memu- ngkinkan, hingga pergesekan kre- atif itu bisa terjadi. Dengan demikian, conflict of idea mampu merangsang pemikiran-pemiki- ran yang dinamis dan berkem- bang. Namun tentu juga harus di- ingat, bagaimana wadah atau lingkungan yang akomodatif itu tak akan berarti jika tidak men- dapat medium atau prasarana Kita melihat, kedua seniman yang tepat. kethoprak kita ini, memiliki daya akselerasi yang tinggi. Daya ak- OLEH: SUNARDIAN WIRODONO sana, Bondan Nusantara dan kawan- kawan. Saya kira, amanatnya te- tap. Sepeninggal Handung Kus- sudyarsana, kethoprak tetaplah selerasi (percepatan atau penye- jukkan kelasnya sebagai seniman harus digarap, digerakkan, di- suaian) tinggi itu, sekali lagi panggung. Handung Kussudyar- rangsang, disiram, ditumbuhkan, dimungkinkan karena watak ke- terbukaannya, sehingga terjadi gesekan yang akhirnya menim- bulkan energi panas (confliect of idea) dan pada akhirnya hal itu- lah yang akan menggerakkan daya eksplorasi (pencarian-peng- galian) kreatifnya. Dengan akar-(tradisi)-nya yang kuat, Budi dan Nyi Suparmi me- miliki otot-otot yang kuat, hingga mampu berdiri kokoh tanpa ha- rus kehilangan kepribadian, ciri atau kebanggaan. Karakter yang kuat itulah, yang antara lain juga memperkokoh kreatifitasnya. Ke- percayaan diri yang tinggi, tang- guh dan tanggon, membuat mere- ka mampu berinteraksi pada pro- ses perubahan jamannya. Mereka berdua, dengan sung- guh-sungguh, telah menunjukkan kekuatan pribadinya secara khas. Hingga dengan demikian, eksplo- tumbuhnya seniman) itu, diolah rasi dan akselerasi (dua syarat dan dirangsang keduanya dengan baik. Meski Nyi Suparmi dan Budi Wiryawan, tidak mengenal Sta- nilavski, kedua orang seniman kethoprak kita ini, pastilah tahu kecil. Yang ada ialah akting besar bahwa tidak ada peran besar atau atau kecil dan itu adalah inner acting. Biasanya dipakai istilah bermain-main menjadi' sebagai lawan dari bermain-main seba- gai. Nyi Suparmi amat eksplosif, yang matang. Dari panggung ke berani dengan improvisasinya panggung, bahkan di jaman pelu- ru tentara nasional kita dengan penjajah masih berdesing berduet dengan sangat piawai bersama pelawak (almarhum) Basiyo. Mendapat sentuhan Arifin C Noer dan beberapa sutradara film atau sinetron lainnya dari 'mazhab modern.' Hingga dengan demikian ia be- gitu fasih, tatag, tanggon meng- hadapi celometan para 'ABG' se- perti Daryadi, Marwoto atau Di- diek Nini Thowok. Harap tidak tersinggung lagi, penyebutan ABG di sini, hanya untuk menun- jukkan dan membandingkan ba- gaimana jam terbang Nyi Supar- mi. Celometan Nyi Suparmi, ada- lah celometan kegetiran hidupnya yang panjang, yang sendiri. Ba- hasa Indonesia model Nyi Supar- mi (di film maupun di televisí na- sional), selalu dengan diksi dan aksentuasi yang khas tanpa kehi- langan kepercayaan diri dan ke- pribadiannya. Sesuatu yang tidak mudah, ka- rena dalam paket "Dagelan Neo Mataram' di TPI-Malam, betapa susahnya mencerna dagelan-da- gelan mereka, hanya karena ba- hasa Indonesia yang mereka ke- nakan, justru menjadi pengha- lang. Ekspresi kelucuan dari dia- log, kehilangan impresi dan nu- ansanya. Dan mengesankan agak dipaksakan. Untuk sementara, di jamin, Neo Mataram hanya akan lucu dengan dagelan gerak dan dalam bahasa Jawa atau bahasa ibu mereka. Masih ada waktu un- tuk eksplorasi dan akselerasi itu. Dan tetap terbuka, jika mau Budi Wiryawan juga menun- berbagai cara. Demikian juga dengan mening- galnya Nyi Suparmi dan Budi Wiryawan, semoga memberikan hikmah yang dalam bagi dunia kethoprak kita khususnya. -h. almarhum, sebagai pengga- lewat gas pembaruan kethoprak, sam- pai pada istilah 'Kethoprak Gara- pan, tentulah mendapatkan wa- dah atau mediumnya yang tepat pada Budi Wiryawan. Handung, adalah juga penggagas kethoprak yang tahu betul, potensi khas masing-masing pemain. Sehingga tak secara langsung ia turut mempertajam proses kreatifnya. Ibarat 'tumbu oleh tutup. Han- dung mendapatkan 'alat' yang tepat untuk mengekspresikan ga- gasan-gagasannya. Budi mendap- atkan pemantik yang pas untuk menyalakan api kreativitasnya. gakomodasikan gagasan-gagasan Budi bahkan tidak hanya men- Handung, melainkan mengeks- plorasikannya ke mata, hidung, tangan, kaki, bibir, leher, ke selu- ruh sudut anggota tubuh hingga ke tulang-tulang keringnya. Barbara Hatley, dari Monash Univercity Australia, yang per- nah meneliti kethoprak di ka- wasan DIY, pada saya menyata- kan merasa kagum pada Budi Wiryawan, ketika sama-sama me- nonton Festival Kethoprak Gara- pan 1992, di Purna Budaya. Sepeninggal Budi Wiryawan dan Ny Suparmi, apakah dunia keaktoran kethoprak Yogya me- ngalami mega-mendung? Tradisi kreatif Yogya, sesungguhnya mampu mengantisipasi itu. Ha- nya kesempatan yang sering sulit berpihak. Hal ini, sesungguhnya lebih merupakan tantangan generasi Palmerah Utara, Jakarta 1994. Rendra minta dibayar dengan seekor kambing. Kesenian sumber Inspirasi Pola kesenian (yang bermutu tentu), kesenian sebagai Bersambung hal 9 'Dimensi Ketiga' Wahyoe Wijaya Menyodorkan Improvisasi Ekspresi lain disemarakkan KEGIATAN seni rupa di Ja- sumber inspirasi ke- hidupan bagi masyarakat. Seni karta April 1994 yang lalu antara itu sendiri itu adalah segi kontem- pameran tung- gal lukisan karya Wahyoe Wijaya. plasi dari kehidupan. Dengan in- spirasi dari kontemplasi itu opini Pameran yang bertema 'Dimensi masyarakat menjadi matang. De- Ketiga' itu, tepatnya berlangsung ngan opini masyarakat matang dari tanggal 18 s/d 30 April 1994. tumbuhnya harmoni antara aksi, Di Balai Budaya, Jl Gereja There- reaksi dan kontemplasi. Kewajar sia 47 Jakarta Pusat. an hidup mengharuskan orang untuk bisa spontan dari naluriah, sekaligus ada kesempatan untuk memenuhi kewajiban dan cita-ci- ta. Jadi harmoni-harmoni inilah yang menjadi cita-cita diri dan kesenian Rendra. Kemudian, berkaitan dengan karya Rendra yang sering 'dicuri- gai' keamanan dianggap karya- karyanya bisa merusak pikiran dan jiwa masyarakat. Hal ini ka- rena karya-karya Rendra terlalu, memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial dan kedaulatan rakyat. Ja- di kalau ada karya saya ada yang merusak kata Rendra, sebenar- nya hanya karena mereka merasa terusik posisinya jika perjuangan saya berhasil. Soal Seniman yang mengemis kemerdekaan, seperti kritikan Emha, (seandainya kritikan itu juga dialamatkan Rendra) Ren- dra sangat menyadari adanya de- politisasi yang terlalu lama yang Wahyoe Wijaya, pelukis kelahi- ran Yogyakarta. Tahun 1970 stu- di di Lembaga Pendidikan Keseni- an Jakarta (sekarang IKJ). Per- nah mengikuti kegiatan pameran, baik di luar maupun di dalam ne- geri. Kini berdomisili di Bali. Seni rupa modern Indonesia. Seni rupa adalah klangenan; ke- senangan untuk hiburan. Dam- paknya tidak urgen. Tetapi ada juga anggapan bahwa seni rupa hasil profesi; sebagai sumber hi- dup atau lahan untuk mencari nafkah. Sehingga dalam hal ini, selain sebagai seniman juga di- tuntut untuk berperan sebagai apresiator, yang sasarannya tidak lain hanya untuk menciptakan peminat atau pembeli karya-kar- ya seni rupanya. Yang penting la- ku. Bukan permasalahan mutu penciptaannya. Sejak masa R Saleh, Persagi, hingga saat Indonesia merdeka tahun 1945 dan sesudahnya. Per- tumbuhan seni rupa modern In- Salahsatu karya Wahyoe Wijaya. donesia, sangat dipengaruhi oleh struktur penciptaan seni rupa Eropa dan Amerika. Hal itu tam- pak dalam kemasan berbentuk fa- ham atau sebagai aliran-aliran dalam seni lukis. Menjelang 1960, terutama di Jakarta dan Yogyakarta terasa ada perubahan-perubahan kadar pengaruh. Sektor fondamental da- lam penciptaan seni rupa Indone- Penyair Kedu Di Ambang Eksis KEGIATAN budaya di wila- yah eks Karesidenan Kedu ternya ta mampu menjadi pusat.perhati an para pakar dan kritisi - bah- kan peminat budaya. Secara his- toris Kedu punya Candi Borobu- dur yang mampu berkomunikasi dengan dunia luas. Festival Boro- budur setiap tahun mampu me- nyuarakan kegiatan budaya Kedu atan para tokoh budayanya yang ke tingkat dunia. Ini belum ke-gi- tersimpan di wilayah Kedu. Kita (masyarakat karesidenan Kedu) harus bangga dengan kekayaan khasanah dan tokoh budaya. Ada pelukis, pemahat (pematung), komponis, dalang dsb. Para penyair Kedu yang meru- pakan bagian kecil dari masyara- kat peminat budaya (baca sastra !) pun tak mau tidur menikmati alam yang damai. Atas prakarsa Es Wibowo (dalam tulisannya di KR) yang ditanggapi positif oleh Joko Supriyono (lewat tanggapan di KR), menyentuh hati Drs AJ Sutrisman MSC (yang juga pe- nyair handal). Maka 1 Mei 1994 di Namaku Ibrahim CERPEN: BIBIT YA, namaku Ibrahim. Nama itu pemberian bapak dan sim- bokku. Entah mengapa dahulu bapak dan simbokku yang lugu itu memberiku nama yang amat lain dari kebanyakan nama-nama di kampungku, yang sebagian be- sar berciri kejawaan, sebut saja, Parijo, Sunarto, Ngatiyem, Pary- ono, Ngatinah, Pariyem, dan lain OLEH: JOKO SUPRIYONO, Muntilan rumah Drs AJ Sutrisman MSC sekitar pukul 17.00 wib terbentuk lah Forum Dialog Budaya Kedu "CAGAR SENI MENOREH". Fo- rum dialog yang diharapkan akan berlanjut dengan berbagai macam kreatifitas dan mediator budaya acara, nantinya menjadi sarana antara Kedu dengan daerah lain- nya. Secara pribadi saya banyak berharap forum ini akan menjadi mitra Depdikbud dalam mengu- rus segala permasalahan budaya - khususnya sastra di wilayah Ke- du. Sebelas anggota forum yang merupakan peminat budaya - khususnya sastra terdiri Kabu- paten Magelang, Kodya Mage- lang, Purworejo, Temanggung ti- dak berarti akan mendominasi kegiatan serupa di Kabupaten/Ko dia. Diharapkan nantinya akan membawa teman-teman yang berminat terhadap kegiatannya masuk dalam forum ini. Kegiat- sebagainya. Namaku Ibrahim. Aku me- mang ditakdirkan lahir di per- kampungan yang lugu. Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen penduduk kampungku hi- dup sebagai petani. Ada petani padi, petani kobis, petani kacang, petani terung dan lain sebagai- nya. Singkat kata, mereka men- hidupnya, tak terkecuali bapak- golah tanah demi kelangsungan ku, pamanku, pakdeku dan aku pun telah dipersiapkan sebagai calon penerusnya. Namaku Ibrahim. Es-em-a pendidikan tertinggiku. Dan, kini aky telah 25 tahun menghirup udara dunia fana ini. Kata orang di kampungku, na- maku penuh dengan teka-teki. Entah teka-teki apa yang dikan- tak tahu. Yang jelas, selepas es- dung dibalik namaku, aku atak em-a, akulah orang pertama yang tidak mau meneruskan bekerja seperti para leluhurku. Aku mer- asa malas bergumul dengan lum- pur, pacul, bajak dan kerbau. Aku ingin suasana yang lain dan sama sekali aku tidak membenci peker- jaan seperti para leluhurku di atas. annya tidak disentrakan pada satu daerah (Dati II), tetapi akan bergilir sesuai abjad nomor ken- da-raan. Yaitu mulai AA (Kodia Magelang) - AB (Kab. Magelang dst. Ini berarti materi kegiatan di- isi daerah yang mendapat giliran nya. Sehingga nanti akan tercipta taaruf seni sewilayah Kedu. Untuk menindaklanjuti taaruf seni (umumnya budaya) saya pi- kir tiap Dati II yang akan mengisi materi, perlu bekerjasama de- ngan Depdikbud setempat guna menyelaraskan acara budaya ma- syarakat via pemerintah. Sehing- ga kegiatan budaya yang - murni swasta ini tidak disuudhoni oleh Pemerintah daerah setempat. Acara-acara yang diselenggara- kan juga murni bersifat seni (bu- daya), lepas dari unsur politik. Di- pandu dan diisi warga masyara- kat Kedu yang tidak ada dian- taranya kena cekal. Lisensi dari Kadus itu tidak kutanggapi seba- gai hal yang serius. Bahkan aku malah sering ngakak di hadapan Pak Kadus jika beliau mengolok- olokku dengan sebutan korban globalisasi, korban modernisasi, juga korban 'baratisasi'. Atau se- butan-sebutan lain yang jika ku- masukkan dalam hati malah bisa bikin stress. Namaku Ibrahim. Akhirnya, memang aku mendapat pekerja- an di kota. Jenis pekerjaan yang kini kupegang pun cukup menjan- jikan. Sesuai dengan ijazah, tidak membutuhkan aktivitas fisik yang terlalu berat dan gaji yang aduhai di atas lumayan. Mulai saat itulah aku bisa senyum sim- pul. Masa suram yang pernah kubayangkan akan berkepanjan- gan, ternyata tidak terjadi. Tidak sampai empat tahun aku bekerja, aku telah bisa merehab rumah. Sepeda motor pun, meski hanya setengah pakai, dapat pula kumiliki. Boleh percaya, boleh tidak, sepeda motor di kampung ku masih tergolong barang me- Baru dua orang yang punya. Pertama Pak Tomo yang pegawai Pemda, yang kedua Pak Wiro yang penebas padi Itulah sebabnya akhirnya aku ga tentu saja aku dan yang keti- pergi ke kota yang konon meny- impan seribu satu mutiara peker- jaan yang cukup menjanjikan. Dan karena sikap dan perilakuku itulah, orang-orang kampungku menamaiku 'nyleneh'. Bahkan Pak Kadus sendiri menyebutku sebagai anak muda korban global- isasi. Semua 'rasanan' orang- orang di kampung dan juga Pak Namaku Ibrahim. Karena pe- kerjaanku itulah kondisi ekono- miku serta kedua orang tuaku sedikit terangkat. Secara materi mungkin saja aku dan orang tu- aku sudah tidak termasuk kaum miskin yang duapuluh juta itu. Ya, mungkin.? Namun tiba-tiba saja kemapan an ekonomiku mulai terganggu. Dikbud untuk suksesnya setiap acara dalam forum ini sangat di- harapkan. Tanpa lisensi dari Dik- bud kegiatan semacam ini rasa nya kurang pas. Untuk itu, perlu kiranya DKJT mengukuhkannya sebagai forum resmi yang diakui keberadaannya, sehingga penye- lenggaraan acara seni budaya Ke- du tidak ada kendala. Seperti pengalaman saya ketika mendi- rikan dan mempimpin sebuah grup teater di Yogya mendapat lisensi dari DKY (Dewan Kese- nian Yogyakarta). Lisensi ini ber- sifat permanen, artinya setelah pimpinannya ganti, grup itu tetap punya lisensi. Sebagai event awal dari forum dialog budaya 'Cagar Seni Meno- reh' adalah pembacaan puisi. Da- lam waktu dekat ini akan dilun- curkan antologi puisi penyair Ke- du. Diisi penyair Kedu dari berba- gai fisi kedaerahannya. Sebagai seorang peserta, mung kin saya belum pantas disebut penyair (karena sebenarnya du- *Bersambung hal 9 Pada suatu ketika aku dipanggil bossku. Ada rasa lain yang men- jalari seluruh tubuhku, sebab se- lama aku bekerja, belum ada seo- rang pun yang dipanggil meng- hadap kantor dirut. Apalagi ha- nya karyawan bawahan seperti aku. "Bagus, silakan duduk", kata bossku begitu aku tiba di hada- pannya. Dengan gaya seorang big boss, dia meletakkan koran yang dibacanya. Lalu disulutnya rokok karemannya. "Tahu, mengapa kamu harus menghadapku", tanyanya. "Maaf Pak, saya tidak tahu", jawabku dengan roman tertun- duk. Bossku tampak manggut- manggut. Sembari senyum se- nyum kecil, beliau mempermain- kan asap rokok. Lalu. "Begini, aku akan memberimu sesuatu yang belum pernah kau terima.....", hanya sampai di sini bossku menghentikan kata-kata- nya lagi. Beliau kembali asyik bermain asap rokoknya, seolah hendak menyihirku. Sementara aku hanya diam mematung, me- nanti dengan sabar kata-kata yang bakal meluncur berikutnya. "Gajimu akan kulipatkan tiga kali dari biasanya, Kamu harus mau menerimanya", katanya lagi mengakhiri teka-teki hatiku. Namaku Ibrahim. Baru kali ini aku merasa bahagia luar biasa. Namun di balik rasa senang itu tersimpan tanda tanya yang be- sar pula. Entah. Mungkin karena 'dipaksa' menerima gaji besar?. "Bagaimana", tiba-tiba bossku menghenyakkanku. CATATAN: MURYOTOHARTOYO sia, terasa bersemi. Sungguhpun secara struktural, seni rupa Eropa dan Amerika masih terlalu kuat berpengaruh dalam seni rupa In- donesia. (KR-Rep). Boom seni lukis 1980, memicu per geseran nilai penciptaan. Dari ori- entasi seni murni ke seni praktis (Art craaft show). Akibatnya, ke- beradaan seni rupa Indonesia Orde Politik. Tahun 1961 s/d masa kini umumnya cenderung 1965, ketika tatanan, suasana ke pangsa pasar. Seni rupa In- dan gerak kehidupan di Indonesia donesia masa kini semakin jauh berpangsa politik sebagai pangli- dari permasalahan struktur dan ma. Maka karya-karya seni rupa fondamental dalam penciptaan. pun umumnya berorientasi dan Seni rupa Indonesia masa kini mengabdi kepada kepentingan tidak menghiraukan adanya pen- politik. Banyak seniman berga- garuh yang sangat menentukan bung dalam organisasi-organisasi kadar identitas atau jatidiri seba- kesenian di bawah panji-panji gai nilai sebuah penciptaan. partai politik. Banyak lahir tema- tema penciptaan seni rupa yang bernafaskan semangat berpolitik, semacam : Seni untuk rakyat, da- ri Lekra. Seni kerakyatan berbudi luhur, dari Lembaga Kebudayaan Nasional dan lain-lain. Suasana berkesenian saat itu tidak tampak. Susah dibedakan antara kegiatan berkesenian de- ngan berpolitik. Manifes Kebu- dayaan (Manikebu) saat itu tidak berkutik ketika ingin menjernih- han suasana. Dalam kondisi se- perti itu terasa bersemi sektor fondamental dalam penciptaan seni rupa di Indonesia. Nafas pen- ciptaan (konsepsi ideal) lebih te- rasa sebagai obyek dan dipenting kan, daripada peranan faham atau aliran-aliran dalam pencip- taan seni rupa. Memasuki dasawarsa 80-an ge- rak dan suasana penciptaan seni rupa di Indonesia menghadapi be- berapa kenyataan. Yakni, adanya ekses pembangunan ekonomi. Aku terperangah kaget. Na- mun kekagetanku segera kututup dengan senyum yang sengaja kubuat-buat. "Tentu saja saya senang Pak", kataku "Tapi semua itu ada syaratnya. Dan saya yakin kamu akan bisa melakukannya". Aduh, mati aku. Mengapa men- dadak jantungnya makin keras denyutnya. Tanda tanya yang se- jak tadi telah menggelantung, ki- ni makin misterius. Aku hanya di- am, seolah kena totok urat darahku. "Ingat, kalau kamu gagal atau tidak mau, maka kenaikan gaji mu gagal. Statusmu sebagai kar yawan pun hilang. Mengerti. Aku hanya manggut-manggut. Debaran jantungku makin keras saja, seolah menahan sesuatu yang sebentar lagi bakalan mele- dak. "Kamu kenal Parinten......", ta nya bossku bikin aku kaget. "Ik. iya Pak. Kalau tidak sa- lah dia pembantu Bapak di rumah". "Bagus. Dialah yang menjadi syaratnya untukmu. "Apa maksud Bapak......", aku panik. "Nikahi dia bulan ini juga. Soal biaya, aku yang menanggung se- muanya". Tanda tanya itu pun meledak sudah. Perasaanku yang sejak ta- di menegang tiba-tiba saja menja- di lemas. Boss gila, begitu makiku dalam hati. "Aku beri waktu tiga hari. Bersambung hal 9 Kecenderungan lain. Akan hal- nya pertumbuhan dan perkem- bangan seni rupa modern di In- donesia dalam dasawarsa '60 dan '80-an, karya-karya lukisan Wah- yoe Wijaya dalam ket 'Dimensi Ketiga, merupakan alternatif lain yang memiliki kecenderungan kreatif. Menurutnya, dimensi ketiga adalah dimensi sepiritual yang mencakup konsentrasi, kontem- plasi dan meditasi. Anggapan itu terasa menyentuh ke permasala- han proses penciptaan, yang se- mestinya melekat sebagai tema atau sasaran penciptaan estetik. Ungkapan visualitas semacam itu, menjelaskan sikap kreativ. Sisi lain yang mendukung si- kap kreatifitasnya ialah membu- ang anggapan tradisional bahwa media obyektif yang berlaku sela- ma ini tidak hanya cat dan kan- vas. Melainkan, karya-karya luk- isannya, ia bangun dengan materi obyektif; potongan-potongan ka- yu, papan kropos, bambu, topeng- topeng, wayang kulit, kuda lump- ing, paper mase, dan lain-lain. Yang dilengkapi dengan sapuan atau goresan warna-warni. Hasil menarik dari penggarapan materi obyektifnya antara lain, ialah: Peragaan reruntuhan becak, Di- ba-lik topeng ada topeng, wayang dimainkan dalang, dan lain-lain. Secara keseluruhan, lukisan- lukisan dalam pameran itu lebih menunjukkan adanya improvisasi ekspresi. Tidak menggarap misi atau meluncurkan tema, juga ti- dak menawarkan faham, seperti lazimnya sebuah penciptaan luk- isan. Barangkali suasana sema- cam itulah yang ingin dibangun Wahyoe Wijaya dalam menyata- kan penciptaan kreatifitasnya. Andaikata benar, sikap dan tin- dakan kreatifitas semacam itu adalah merupakan salah satu isyarat atau sepercik perlawanan terhadap perkembangan seni ru- dunia hegemoni Eropa-Ameri- ka yang tidak mengakui konteks, pa lokalitas atau latar belakang bu- daya. Dan khususnya perkemban- gan seni rupa modern di Indone- sia yang notabene mendambakan pangsa pasar. Wahyoe Wijaya bahkan sebaliknya; karya-karya lukisannya menunjukkan adanya etnik dan ide-alistik. Hal lain yang penting dicatat sebagai penopang kreatifitas, ada- lah sikap kesenimanan Wahyoe Wijaya yang selalu konsisten; ti- dak goyah dengan sistem atau situasi pergeseran nilai pencip- taan. -k. Muryotohartoyo, pengamat seni rupa Jakarta 6 Mei 1994 Salahsatu grup yang pentas, ka PARADE Teater Sragen be langsung di Gedung KNPI Srag berlangsung dua hari 29 s/d April 1994 lalu, berkat upaya B ras GATRA (Gabungan Peken Teater Sragen) dan pihak Depdi bud Sragen. Pentas bersama (E rade teater) yang nampakm baru pertama terselenggara sem njang masa 'pause' selama 4-5 hun kehidupan teater Sragen i berjalan sukses dan meriah. E pat grup (kelompok) Teater S gen yang ikut berparade ada- KPSS (Kelompok Pecinta Sas Sragen); Teater Dialog, Teater lang Tunggal, dan Teater Lu Selama dua malam Gedung yang megah di pusat kota Srag diguncang pentas teater. Suasana hidup dan magis k bali dapat kita temukan disa Setelah sekian lama masa p jang masa 'pause' kembali tea Sragen punya roh' kembali. S ap kelompok didukung tidak rang 20-an personil yang dat di Gedung KNPI untuk berpem dan dua malam selama penta- Gedung KNPI dihadiri penor yang rindu melihat pentas te kotanya. Terobati sudah kerim an malam itu di gedung KNPE Kembali Gedung KNPI m mukan jati dirinya, suasana yang penuh 'wibawa' sebagai na kawula muda kota Sragem kreatifitas seni seperti masa- sa tahun 80-an. Ketika tum dan pesatnya serta marakny hidupan grup-grup teater y bermunculan saat itu, sepert ater Krotog, Teater Gema, Te Kuadrat, T. Galang Tunggal ater Duta. Begitu pun ketika penggerak dan motornya m aktif disana seperti: Didiek T Sri Hardjanto Sahid, Hard Toto, Kenthut Haryadi, Ripto di, Pine Wiyatmo dll. Kembali suasana 'magis' suasana 'hidup'nya gedung H kembali terasakan seolah m mukan jati dirinya sebaga dung berkumpulnya seniman gen berkiprah seni di era 80-a Parade Teater Sragen adakan dua malam. Malam E ma KPSS menggelar lakon SAU karya Pine Wiyatno, se gus sutradaranya. Lakon E kita kembali diajak flasback man Majapahit dan Masa kerajaan Jayanegara. Sorot yang bersetting beberapa aba am itu, lebih merupakan ko konflik psikologis sebuah lam kemanusiaan. Di dukung peramen watak-watak yang antar pelakunya lakon Pisa menjadi sesuatu yang lain masih tetap dikemas nilai tradisionalistik. Lakon Pis merupakan hari-hari akhi rang raja Jayanegara yang diujung pisau. Yaitu pisau dam, dan pisau pengkhian Kematian Jayanegara di pisau pengkhianatan, kebe yang siap memotong keku Jaya negara. Pisau itu telah otong kekuasaan, memote ang-tiang kekuasaan. Keta pisau seperti ketajaman yang memotong kehidupan kompromi. Maka disinilah menjadi kunci akhirnya. S lanskap yang manusiawi, I kekuasaan yang membaw Perawan.. Bersama Bibi Fong (Hun yang bawel, Yung-chun mer warung kembang tahu. Se seorang perawan yang us terus merambat, Yung-chu dilamar lelaki. Kepan juga nya berkungfu menjadikan chun kian disegani lelaki. mengisi kekosongan ha Yung-chun terus memper ilmu bela dirinya. Yen-niang ternyata tal menolong suaminya. Sua meninggal dunia. Jadilah " Pa ang seorang janda. usianya masih relatif muc wajahnya sangat cantik. menutup biaya pemakama minya, Yen-niang bernia jual diri. Yung-chun men nya, bahkan bersedia m pungnya. Kehadiran janda Yen-n warung milik Yung-chum jadikan warung tersebu laris. Pria-pria berdatanga beli kembang tahu sambil Sharon Stone... Sambungan hal 6 Mungkin latar belakam yang menyebabkan Sharc dibilang aktris punya eg Stallone sendiri sempat mentar," Kalau ada yang pada Sharon adalah kam punya ego yang lebih be ego saya. Apakah berar nya Sharon Stone akan menjadi bintang besar y taran sukses menolak p sutradara dan skenario w radegan seronok? Sulit kan, tentunya. Yang pasti lima tahun mendatang Stone masih akan mer tonkan tubuhnya. Kenapa bisa begitu? Ja pa, Sharon Stone bukan w timewa yang mampu honor 10-15 juta dolla bermain dalam sebuah fi Basic Instinct. Lagi puls pernah berkata," Orang. terutama, amat suka m perempuan dalam per palsunya!" (Mu
