Tipe: Koran
Tanggal: 1994-10-02
Halaman: 08
Konten
MINGG WAGE 2 OKTOBER 1994 (26 BAKDAMULUD 1927) 4cm 2cm 'KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 8 MINGGU WAGE 2 OH . OLEH: ADI WICAKSONO pola cana kuasa. kuasa lebih lain, Lady Tidak dapat dipungkiri lagi prostitusi ada di setiap ting- katan sosial masyarakat. Prak- tek ini dapat saja dilakukan dibawah kolong jembatan, ru- mah-rumah bordil yang me- wakili kaum marjinal. Atau da- pat juga dilakukan di suit room dan presiden room hotel-hotel berbintang lima seperti ja- ringan prostitusi Renon 2X Denpasar, Bali yang mewakili Bila dilihat dari motivasi mereka terjun ke dunia ini cu- kup berbeda-beda antara satu dan yang lain. Ada beberapa hal yang menjadi sebab. Perta- ma, alasan klise adalah ekono- mi. Jeratan masalah ekonomi bisa saja menyeret seorang CATATAN BUDAYA Fenomena Prostitusi Ayam Betina MEREBAKNYA kembali kasus penggerebekan sarang ayam-ayam betina sebenarnya sudah bukan rahasia lagi. Ber bicara masalah prostitusi dapat dikatakan umurnya setua per- adaban manusia itu sendiri. Berjalan seiring dengan per- kembangan kehidupan manu- sia dengan segala praktek dan modifikasinya, baik yang bersi- fat laten maupun secara terbu- ka (dilokalisir) berdasarkan izin Pemerintah dengan alasan klise menertibkan prostitusi. Fenomena prostitusi pada dasarnya sama saja, titik pangkalnya terletak pada diri manusia yang punya nafsu, dalam hal ini nafsu melakukan hubungan lawan jenis Ini sah saja bila hubungan dilakukan dalam ikatan suami-istri yang telah dilegalisasi oleh norma yang berlaku. promosi tahun pariwisata atau pengelolaan bisnis kelas kakap, banyak orang yang mafhum bahwa untuk memenangkan negosiasi bisnis atau tender sering dimanfaatkan jasa pihak diantaranya lady escort atau 'ayam betina' profesional. escort dapat dianggap li- ma sempurna dari empat sehat jamuan dalam pembicaraan bisnis. Tidak heran apabila ak- selerasi pertumbuhan suatu pusat bisnis akan berbanding lurus dengan meningkatnya prostitusi laten tersebut. agaman. Dan ngimplikasikan OLEH: ASEP SUPRIADI keluar- naung di dunia kampus. Isti- lahnya 'ayam-ayam kampus'. Karena pelakunya adalah ma- hasiswi, yang notabene kam- gi nya derajat konsumerisme pus adalah suatu bangunan dan hedonisme, akhirnya ter- eksklusif yang punya karakter- jadi degradasi moral di kalan- istik tipikal, dimana eksisten- gan remaja kita. Yang pasti, sialnya diakui masih tinggi dua alasan diatas tidak ber- oleh strata-strata sosial yang laku bagi golongan masyarakat lain. Ironis memang, tapi ini elite atawa kaum jet set. Kare- kenyataan bagian na mereka berasal dari dunia pendidikan tinggi kita. ga berkecukupan (kaya raya) Kita tidak dapat begitu saja tentunya dengan sengaja ma- memberi vonis dan penilaian teri yang serba terpenuhi. terhadap Ketiga, motivasi individu pe- tingkah betina' untuk taraf muja kultur free sex.. Karena marjinal. Karena tidak ada sarana yang dapat keterpaksaan dan ketidakber- memenuhi atas segala keingi dayaannya melawan nannya sehingga kompensasi pergulatan hidup yang sema- mereka berkubang' ke dunia kin keras dan tajam. Walaupun free sex. Budaya seks bebas di- tindakan ini dari segi moral dorong oleh nafsu birahi yang tak terkendalikan. Keberanian maupun agama tidak dapat dibenarkan. Namun praktek mereka prostitusi telah dilegitimasi Pe- merintah dengan pembentuk an lokalisasi di berbagai tem- pat. Apabila pokok masalah terletak pada faktor ekonomi pat jadikan dari sisi kehendak rendah 'ayam-ayam kelas-kelas nasib dan DI sebagian komunitas, biasanya yang terimbas sub kultur urban perkotaan di Jawa Timur dimana komu- pangan atau sempalan dari suatu nikasi menampakkan diri melalui pola ekspresi yang bangunan kognisi yang 'dilu- cair sering berlangsung penghimpitan sens dari apa hurkan adalah sesuatu yang harus dibersihkan, dibuang jauh yang tertangkap lewat realitas dengan logika bahasa teks yang berlainan dalam suatu Itu salah satu contoh paling jauh. Hal ini berlangsung dalam yang sangat lentur, tapi sekaligus sangat keras se- modus yang sama. sederhana dari model kekerasan segala dimensi termasuk dalam Jika kita berbicara dalam ba- bahasa yang kelak memberi ru- wacana atau bahasa. hingga di sana makna menjadi semacam obyek hasa plesedan, itu adalah seba- ang bagi berlangsungnya suatu Tidak hanya sampai di sini. yang didistingsi secara tidak langsung yang kemudi- gian dari konteks yang tercipta se- komunikasi yang berubah ubah. Siapapun sadar bahwa suatu ba- an dikembalikan pada kesadaran bahwa kata kata cara spontan, makna di sana di- budayaan daerah atau kebu- Dan model kekerasan semacam hasa adalah semacam organisme tukikkan lalu dibiarkan mengam- itu dengan sendirinya menjadi tempat berlangsungnya berbagai dayaan pinggiran yang publikatif muncul secara kon- tak lebih semacam komponen simbolik yang tak lagi bang, tidak pernah mencapai der variabel yang longgar dalam pros- pola kognisi dan berbagai macam. mengandung otoritas metafisis sehingga bisa diper- ajat kekerasan yang radikal. Se- es pembentukan konvensi simbo- kehendak yang biasanya meng- tinyu di massa lakukan dengan cara dan konteks apa saja, seperti bagai ilustrasi sederhana, kita li- lik dalam suatu sub kultur pinggi- gumpal pada apa yang disebut se dikatakan sebagai munculnya yang terjadi dalam komunikasi ludrukan. Dan me- hat kalimat yang menyelonong ran. Logika pinggiran tidak akan bagai kuasa. Bahasa adalah ru- dan ingin diakuinya eksistensi ke- ang yang paling budayaan begitu saja dalam suatu dialog cemas terhadap rongrongan para- mang bahasa ludrukan ternyata diperlakukan seba- atau monolog dalam pertunjukan digmatik yang berasal dari luar melihat entitas entitas kuasa lalu beregitu gai susunan komunikasi yang senantiasa membuka Ludruk yang biasanya dihadapi dirinya. Oleh karena itu ke- beroperasi. Bahkan Michel Fou- hami kemungkinan untuk mengurangi keketatan metafisis sebagai sebuah teater yang sadaran metafisis yang ter- cault menegaskan bahwa sehingga semua orang diharapkan bisa tercakup sesadar sadarnya dipahami seba- tangkap sering menampakkan po- saling dalam keramaian 'narsisisme linguistik', entah lewat gai modus mencemooh diri secara la yang khas. Dengan tercairkan- artikel kebudayaan yang habis habisan. Dan kalimat itu logika gramatikal diharapkan bicarakan eksistensi, cemoohan terhadap diri sendiri yang mencapai tarap muncul tanpa membutuhkan akan terbuka suatu ruang repre- pengetahuan. dia lan, problematika gairah bahkan pouvoir/savoir gila gilaan atau dengan mengabsahkan kekerasan preferensi atau referensi yang je- sentasi yang lebih longgar. Dari adalah polemik diseputar kebudayaan terhadap bahasa; suatu permainan yang terkadang las. Seperti ketika seorang aktor ruang yang longgar itu dian- kuasa / pengetahuan. Dari osmose atau daerah" (luar Yogya, Solo, Jakar- semacam itu bisa dideferensiasi ta, Surabaya....?) atau peristiwa hendak menutup monolog, daikan kemungkinan un- gramatikal yang berlaku. kelewat vulgar yang kadang mengacak acak pola mencapai suatu diksi yang vulgar, tuk mencapai permainan yang hingga basis metafisis dan episte- budaya yang ada dari daerah dengan seenaknya bilang mak radikal, termasuk cara cara mere- mologisnya. Di sini kita bisa men- yang selama ini "tidak disangka senian painten klelegen jendelo/cekap se- latifkan berbagai entitas yang gandaikan suatu perjalanan atas adanya". Ini berbeda dengan apa yang istis dalam menentukan ke- manten atur kulo. Di sini ada kek- mengendon di dalam bahasa (wa- gitari semesta episteme episteme Sementara tanggapan atas pernah kita kenal sebagai bahasa dudukan pembicara atau realitas erasan yang secara gramatikal su- cana). Barangkali juga semacam dan dari sana kehadiran kita dis- Marwanto, yaitu datang dari plesedan, karena dalam bahasa yang hendak diacu. Sebenarnya dah keterlaluan. Tapi antara kebebasan yang sah untuk hadir usun. Bahkan, dalam bahasa hal Agus Noor; dimana ia banyak ludrukan yang ternyata tumbuh istilah diacu di sini kurang tepat, pembicara dan lawan bicara, bersama unsur unsur tertentu itu tercermin dari susunan gra- menampilkan referensi atas "per- dari kebudayaan marginal itu sebab bahasa tersebut pada da- dalam hal ini penonton, dengan yang disebut Bataille sebagai un- matikalnya. Oleh karena itu panjangan tangan" apa yang meletakkan ruang 'narsisisme lin- kebudayaan kota sarnya mengandaikan suatu rep- segera membentuk konvensinya sur heterogen. Unsur unsur ini bi- cukup sukar untuk melampaui disebut ping- guistik' pada kemampuannya un- resentasi yang seorang olah' se- sendiri sehingga masing-masing asanya dalam sistem kesadaran prosedur yang mengandaikan op- tuk berlaku vulgar atau tidak hingga pembicara atau lawan pihak tidak menuntut referensi dan sistem pengetahuan masya- erasi kuasa ini sebagai cara peng- giran. Bahkan, kata Agus Noor senonoh terhadap pola pemak- bicara bisa bergerak dalam kon- makna yang memberat. rakat dianggap sebagai najis. Per- hadiran diri yang tidak homogen. (KRM 18/9) adanya "perpanjan- DARI SULUK SEH MALAYA: naan real. Dia akan semakin ilaku kegilaan, sampah, penyakit Homogenitas secara generik be- gan tangan" itu dikarenakan mo- otoritatif jika semakin tidak real- yang menjijikkan sebagai penyim- rarti mengandaikan suatu keser- bilitas yang dilakukan oleh peker- homogenisme ja seni didaerah adalah 'menuju adalah suatu proses yang me- pusat-pusat' itusendiri. "Pusat- suatu pusat yang sering mereka kutuki, man, yang jika menggunakan wa- mereka berontaki dan mereka to- cana pengetahuan berarti tak lak dengan isu desentralisasi". terelakkannya penundukan. Tapi Pengamatan Agus Noor cukup dalam hubungan kehadiran dan seksama, bahwa gerak desentral- kehendak untuk berkuasa dia isasi dari "orang non pusat lebih Raja Doryudana, agar Bima ha- menemukan perangkat legitimasi banyak menyangkut persoalan 'rus mendapatkan kecelakaan dan yang canggih dalam berbagai jali- wilayah dimana mereka tinggal, harus dibunuh. Oleh karena itu nan sistem sosial maupun sistem dan bukan pada basis penciptaan. guru Drona yang palsu ini mem- simbolik. Sesungguhnya yang harus. UNTUK ke sekian kalinya ke- kaligus sebagai lakon dalam ceri- tera wayang kulit dan mengan- berikan tugas kepada Bima agar Di dalam sistem simbolik terda- diketahui bersama bahwa sebagai senian wayang khususnya wa- berbagai ruang yang bisa di- bagian integral dari perubahan yang kulit purwa diketengahkan dung makna filsafat yang sangat Dorangga, yang sebenarnya tidak semacam siber- masyarakat yang ada sekarang dan didiskusikan oleh beberapa tinggi di antaranya adalah lakon terdapat air pravitasari dalam netik dari komunikasi dan bahasa ini, kebudayaan merupakan total- penggemarnya, dan kesempatan Dewa Ruci. Sebelum berlanjut, sumur tersebut, banyak berbagai bisa dihidupkan melalui ekspresi itas dari proses dan hasil aktivitas itu merupakan ajang memperoleh mungkin perlu kita tengok kem- halangan ketika Bima mengem- paling murninya, sehingga dalam manusia dalam memenuhi tuntu- kenikmatan dan kepuasan este- bali sekitar tis. Sebagai produk budaya yang dari suatu wacana yang mengerasoleh tan kehidupannya, yang dapat di- berkuasa yang mene- identifikasikan dalam berbagai adiluhung, yang sekarang ini wa tidak persoalan mukan legitimasi rasional lewat unsur dan wujudnya. Dari sini da- mendapatkan banyak perhatian sejarah sedikit banyak tidak men- pat dinilai, misalnya Rendra den- dan upaya pengembangannya, galami totalitasi secara ekstrim. gan Bengkel Teaternya telah wayang kulit banyak disajikan Tetapi tidak selamanya apa yang menjauh dari Jakarta sekalipun, dengan beberapa cara dan dianggap rasional mengandung toh tetap juga hanya ganda potensi emansipatoris. Yang ra- melakukan mobilitas geografis sa- marnya. Makin banyak martabat TANGGAPAN UNTUK AGUS NOOR DAN MARWANTO DALANG 'SETAN' I Bahasa dan Kritik Kebudayaan Kebudayaan Lokal Tidak Ada Wayang PENDAPAT mengenai mun- culnya 'kebudayaan lokal' akhir akhir memang menarik untuk dikaji, terlebih-lebih sodus dari kebudayaan makin nyata. Kalau kegiatan ek- telah se- Marwanto (KRM-11/9) bahwa de- ngan intensitas kemunculan ke- menilai masya- tumbuh laan media adalah walau jauh Dr mudah untuk lokal, itupun tidak ter- Djoko dalam Yang Dia menghidupi pola wa- dari seringnya begitu merupakan merupakan akibat Kedaulatan Raky- dengan at edisi Minggu memuat artikel- meletakkan dulu, Susunan atau di atas kemuncu apakah tesis ian Sementara kebu- dayaan, secara nan. yang men- dikatakan menuju daerah yang Disamping itu, karena ma- syarakat birokrat yang belum tumbuh dewasa pun sedikit ba- OLEH: DRA WIWIK MARWIYAH nyak akan mempengaruhi kepa- da kemapanan, kebebasan dan dayaan masyarakat Indonesia seolah kebudayaan lokal atau ke- target dari eksistensi kebudayaan saat ini dapat diartikan sebagai budayaan pinggiran itu muncul lokal itu tadi. (Dalam hal ini patut dari dampak buruk totalitas dari proses dan hasil ak- dan mencari identitasnya, itu direndewasanya birokrat ter- belum tivitas dan kreativitas secara rakat itu sendiri, yang proses historis dan berkembang baik melalui kesungguhan 18/9/94). Suryo bahkan pernah menilai dengan tegas dikatakan, semua Akhirnya, perlu saya ungkap pada dasarnya bersi- untuk diperdebatkan, sebenarnya sekali lagi bahwa menurut saya seharusnya kebudayaan p fat dinamis, karena itu dapat justru lebih tertib bila dikatakan; yang namanya kebudayaan daer- kalau toh sekarang baru mem- mengalami perubahan dan tidak kalau kantong-kantong kebuda- banyak melakukan promosi, den- rubahan kebudayaan terjadi kebudayaan ki- gan ada yang sepenuhnya statis. Pe- yaan sudah kosong dan menepi, karena perubahan dari masya- ta yaitu berupa kesenian-kesen- atifitas seniman rakat pendukungnya sendiri. bisa secara intens tampak perubahan dimuka dan menjadi semacam menghidupinya. penutup borok dari sedikit yang diartikan kalau toh yang disebut seba- sempit kedalam perubahan ke-banyak kekurangan pembangu- "kebudayaan lokal" itu tetap gai diakibatkan oleh harus hidup, yang perlu direm sa- Mengapa demikian, secara ja adalah, bila mana ada seorang munculnya kebudayaan baru di- daerah juga merupakan bentuk publikatif dan komunikatif, pu- seniman besar 'minggir, "kreativitas baru orang-orang sat-pusat kantong kebudayaan bi- nya ia bisa melibatkan sumber pusat untuk mengukuhkan jati la ia telah eksis dan hidup diping- daya seniman yang ada di daerah diri akibat sempitnya lahan dan gir, maka tidak bisa disalahkan baru itu untuk membuktikan kemungkinan hidup dikantong- bila ia pun hanya sedikit dijamah bahwa kedatangan bentuk kebu- oleh aktivitas kehidupan ma- dayaan baru tidak sama dengan kantong pusat budaya. penjajahan bentuk baru? -k Sementara, kalau pada saat ini syarakat heterogen. dari dan telefungaupun epistemis budayaan. Inilah kami, hidup dimana polemik seru tentang itu bentuk lain untuk pembe- diri, "kami masih kantong pusat ke- Dari hidup, hadap nafas seniman; pada keja- dian Perkemahan Penyair Poci Negri Poci 2' Agustus 1994, dinamika". ada di KRM dimunculkan ah nantinya merupakan memarakkan publikasi-itu dari bentuk baru kre- kota untuk men- cari sesuatu yang Tak lebih dari itu, harus- Ki Manteb Sudharsono. PERBEDAAN pendapat dill langan seniman wayang term suk dalang yang mempersoalk p penyeraga- Proses 'Islamisasi' Dewa Ruci Akibat Sekuralisasi OLEH: TEGUH RUDIANTO penggunaan pewayangan saat ini lesaikan. Alhasil, para dalangp akhirnya ngugemi pendapatn masing-masing. Artinya, yang w sih menganggap wayang har miturut pakem, merekapunt berani keluar dari pathokan rel pakem dalam se belum ter wayangan mereka yang yang kan seni tradisionil sungkan-sungkan suaikan garapannya sesuai de an perkembangan zaman ya ada. Sebalikn berupaya memode itupun t untuk men ada. mencari air kekal dalam sumur modus ha tentang Hindu hanya masuknya yang merupakan yang propa- juga ia yang bisa memikat pengge- sangat orang dan - Budha ke Islam, sekitar Akhirnya pengaruh Hindu-Bud- dan problematika samodra penting proses berakhirnya merupakan sesuatu yang menarik sekali. Mengapa Indonesia masuk ke Islam meninggalkan sistim agama bah ban suci yang memang itu, menemui wujud kecil yaitu Dewa tubuh Dewa Ruci melalui telinga tugas sudah dikehendakinya. Bima menuju samodra sebenarnya Salah satu contoh modernr wayang kulit kini terus dikembangkan oleh dala Ki Manteb Sudarsono. Menu- dalang 'Setan' asal Dopla Karangpandan Kabupaten diantarar kalang dalam Ruci. Se- lanjutnya kirinya, di dalam tubuhnya terse- but Bima mendapatkan wejangan Bima masuk kedalam pu-. likasikan ngombe yang Kabupaten Kudus, Jumat ma postmodernis itu. urban'. dan terpikat gaya hidup sno- bisme maka Pemerintah perlu mengadakan pemerataan 'kue' pembangunan yang dapat di- rasakan oleh sebagian besar masyarakat kita yang terdiri kaum marjinal. Disamping itu perlu pendekatan humanis * Bersambung hal 9 ringah sebagai seorang manusia Adaptasi umat Islam t ksatria. terhadap kebu- sebuah motif sastra Hindu, am dalam Naskah karya ceritera Dewa sastra ini Cebolek, di Dalam Islamisasi Dewa Ruci sendiri terdapat dalam karangan Jasadipura I, yaitu dalam Serat antara kisah dalam barangkali disusun pada periode terakhir kerajaan Majapahit, le- cena itu bih kurang Ruci, ketika Bima mendapatkan pada waktu hadirnya wejangan dari Dewa sini ajaran atau wejangan tersebut su- kedua, golongan jet set. Dengan berlindung dibalik wanita ke dalam lingkaran 'se- tan'. Disamping itu kemiskinan struktural yang tercipta menja- di musabab timbulnya bagian masyarakat yang tidak keba- gian 'kue' pembangunan. Kedua, bergelimangnya gaya hidup snobisme dengan iming- iming materi yang menggiur kan banyak ditawarkan oleh peradaban modern, makin ting- mempertaruhkan har- ga diri dan kehormatan meru- pakan biaya yang harus diba- yar mahal demi kepuasan batin dan penyaluran kebutuhan bi- ologis semata. Biasanya masya- rakat kita mengklaim bahwa kaum the have yang sering mengkonsumsi akhir ini. alternatif ter- Eksistensi label 'ayam-ayam betina' tidak hanya dimiliki oleh kelompok elite mereka sa- ja, tetapi dapat kita temukan juga pada institusi yang ber- DARI 'STROKE HINGGA 'KUNGKUM'NYA OTOK BIMA SIDHARTA Seni Adalah Instrumen sional, dalam kebudayaan mod- ja. Seperti kata Agus Noor, Ren- seseorang yang mengenal wa sebelumnya, yang sudah barang keadaan hidup manusia di dunia ern tidak semata mata mengimp- dra dalam pemindahan itu tidak yang, maka akan menyatakan ini yang sebenarnya hanya mam- suatu kehadiran me- ubahnya pindah tempat, karena la bahwa wayang mempunyai ke- tentu tidak seluruhnya, dalam pir (minum), serta men- lalui rasio subjektif, seperti yang publik dan spirit yang dibawah dudukan dan mengandung un- tingkatnya yang cukup tinggi di- dapatkan wujud dari kehidupan digempur matí matian oleh kaum Rendra masih saja cermin 'kaum sur-unsur nilai penerangan dan warnai oleh tradisi Hindu dan dewa dan dewi. Dari situlah akhir pendidikan. Bagi orang yang lebih Budha? Untuk mengemukakan nya Bima nampak lebih sum- Artinya Rendra dll tersebut mengenal wayang akan meme- pertanyaan ini perlu mendapat- melakukan aktifitas "perpanjan- nuhi perspektifnya dengan beber- kan data semaksimal mungkin. gan tangan", tidak bisa lepas dari apa caranya, unsur, dimensi, tuntutan kehidupannya. Ia masih fungsinya, tergantung dari ingin hidup, maka 'menuju ping- tuhannya, karena memang wa- pak sekali girlah' dia. yang multi fungsi dan multi di- Ruci. Pada konteks inilah, apabila mensi (serba ganda). Oleh karena itu, jika seseorang ingin mengu- kebudayaan pinggiran' itu terwu- jud, lebih sering karena dipak- pas dan mengetahui tentang wa- sakan oleh tuntutan kehidupan yang semakin nakal dan iseng pa- da kebudayaan pusat? Dengan lain ungkapan, sesungguhnya ke- budayaan lokal seolah ada, pada- hal ia tidak ada. Ia ada, hanya ak- ibat dari tuntutan keisengan ke- budayaan pusat dan eksodus lain- nya. Apa yang ra- sional sering mengalami subli- masi pada elemen elemen perada- ban yang paling sederhana, seper- ti dalam ekonomi dan politik atau ideologi. Di sini kita tak akan mendapati suatu perspektif yang memungkinkan tercapainya su- atu tilikan metafisis, termasuk dalam bahasa. Kebudayaan tam- pak dalam fragmen fragmen, dan kehadiran ditentukan oleh epis- teme episteme yang direproduksi terus menerus olehnya. Dan kuasa atau kekuasaan yang biasanya diandaikan dalam bentuk 'negara' adalah penyeder- hanaan yang logis dari fragmen- tasi tersebut. Kekuasaan dan ke- *Bersambung hal 9 *** Kecenderungan dari kebu- menyatakan versi Dewa Ruci, di yang sedalam-dalamnya, harus karya sastra lain seperti Parara- ungkap misterinya. Pada dasar terbukti dari kenyataan bahwa dah menjadi Islam. Tidak lagi dikupas kulitnya dan bisa meng ton dan Tantu Panggelaran. Ini nya semua cabang seni dapat kita perbedaan tersebut bahasa kromo ada ajaran bahwa semua yang di jumpai pada pertunjukkan wa- dan ngoko sudah mulai dipakai. dunia ini adalah satu, tetapi su- dijadikan ajaran mengenai yang kulit yang masing-masing Isi ceritera Dewa Ruci mengenai rabb-abd, yaitu ajaran mengenai tidak menonjol dan berdiri sen- naran yang mutlak. Oleh karena manunggalnya kawula dan Gusti. Bima yang hendak mencari diri, tetapi bersatu sehingga me- Lebih mengalami Islami lagi, rupakan satu kolerasi dan kesatu- ia pergi menghadap gurunya, unsur ceritera Dewa Ruci terdap- an yang indah dan selaras. Tetapi rupanya guru Dro- na sudah mendapat perintah dari Sebuah karya sastra dan se- *Bersambung hal 9 itu Drona. dah kebe- Menghadapi Penderitaan Diri Urbanisasi Budaya Lewat Media Massa musik CATATAN: BERCHMAN HEROE *** DAN musikpun bergulir dalam sisi Otok terbaru - Kungkum, perkembangan ruang dan waktu, Pen dan Aaaa (Stroke) A-rasa- produk-produk budaya mutakhir nya bisa diketengahkan untuk tak lagi terbingkai kaku. Aneka menjembatani alasan pembaruan macam produk kesenian lahir yang saya urai di atas. lewat tangan dan pemikiran kre- RANGKAIAN nada mungkin atif para seniman kita. Bentuk serta pola bermusik yang baru lebih bisa menjadi sebuah wujud mencuat secara mengejutkan tan- ekspresi, setidaknya itu yang bisa pa meninggalkan warna asli bu- disampaikan Otok Bima Sidharta Instrumen gamelan yang ko- gan dirinya. Dan ketika bahasa daya bangsanya.. saat penyakit begitu akrab den- non merupakan instrumen adi- rasa yang dimiliki mencuat, rasa luhung bangsa ini, banyak men- sakit, kerinduan, kekecewaan, dapat sorotan ditengah berkem- hasrat dan cinta itupun bermeta- bangnya aneka jenis instrumen morfosa menjadi sebuah bangu- nan komposisi musik gamelan elektronik. Namun game- lan yang begitu kesohor dan begi- modern. tu populer di negara Barat itu masih tetap milik kita. Di tengah elektrifikasi instrumen musik, komponis kita tetap berupaya me- nelusuri kemungkinan-kemungk- inan pengembangan yang bisa diperoleh, yang kesemuanya demi mapannya instrumen adiluhung tersebut di tengah laju perkem- bangan jenis musik yang ada. Setidaknya ada tiga komponis musik modern yang masih begitu peduli akan eksistensi perangkat gamelan. Tiga nama yang tak lain adalah Sapto Raharjo, G Djaduk Ferianto-bersama komunitas Pak Kanjengnya dan satu lagi, Otok Bima Sidharta. Ketiganya mempunyai derajat kepentingan pemakaian perang- kat gamelan yang berbeda, se- hingga menempatkan sentuhan komposisi antara komponis satu dengan lainnya yang berlainan. Meski perangkat modern tetap menjadi teman komunikasi da- lam bermusik, namun nuansa ga- melan tetap mendominasi dalam ruang kreatifnya. Di satu sisi Sapto Raharjo ba- nyak terlibat dengan keyboard dengan dibantu perangkat kom- puternya, sementara Djaduk den- gan komunitasnya lebih membagi cukup rata antara perangkat mo- dern (keyboard-red) dengan pe- rangkat gamelan Kyai Kanjeng- nya. Demikian pula terobosan yang dilakukan Otok. Meski kom- posisi Otok juga didukung instru- men modern (keyboard-red), na- mun porsi kepentingan seperang- kat gamelan tetap dominan. Ketiga-tiganya menerapkan penjamakan tatanan ritme-po- la rhythms - dengan demikian komposisi musik yang mereka sajikan semakin dinamis. Mereka sangat tertarik pada non conven- sional timbres. Maka karya yang bersentuhan dengan nurani Ke- jawen itupun terasa menjadi baru kembali. Komunitas Pak Kanjeng telah Nilai kebaruan yang ditawar- kan Sapto Raharjo dan Djaduk saya uraikan pada minggu-ming- gu lalu. Sementara tak adil bila karya-karya Otok sedikitpun tak disentuh. Untuk itu tiga kompo- Meski tak begitu jauh lepas dari norma bermusik gamelan- karena menurut pengakuan Otok karya yang dibangun tetap men- gacu pada laras Pelog Bem-na- mun setidaknya ada nuansa baru di dalamnya. Maka Kungkum, Pen dan Aaaa (Stroke) A meru- pakan wujud kerja kreatif Otok lewat inderanya, menangkap seti- ap isyarakat dan perubahan yang dialaminya lewat bahasa musik. Bunyi dan suara yang berpadu dengan obsesi dan harapan kom- ponis inilah produk akhir yang sampai di pendengaran konsu- mennya. han derita Komposisi Kungkum meru- pakan perwujudan proses pemuli- stroke yang dira- sakan Otok. Maka yang terba- ngun adalah jalinan syair dari mantra-mantra Rajah Kalacakra, yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tembang. Dalam karya Kungkum, sepertinya Otok membagi dalam dua bagian, ru- ang pembuka dan klimaks. Ruang pembuka menempatkan porsi tembang Rajah Kalacakra seba- gai lakon, sementara fungsi pro- duk suara yang dihasilkan key- board ditahan dalam satu nada. Dalam klimaks porsi musik lebih bergerak dinamis, namun tak ju- ga mengurangi kekuatan tem- bang. Komposisi Pen menurut peng akuan Otok merupakan sebuah titik akhir masa derita yang di- sandangnya. Dalam komposisi kurang darf yang singkat ini satu menit - Otok memberikan gambaran kelegaan dengan mem- berikan satu hembusan nafas yang diaktualisasikan dengan satu kata atau satu huruf, A. Komposisi Aaaa (Stroke) A merupakan proses derita yang di- rasakan oleh sang komponis. Komposisi yang terbentuk dari penggalan-penggalan kalimat itupun dicoba dikawinkan oleh Otok untuk kemudian dijadikan musik-kurang lebih ada 5 motif dalam satu ruang keluarga, dari gaya Gregorian yang dicoba diter jemahkan lewat lantunan melodi keyboard, dicoba untuk dikawin kan dengan musik selawatan MEDIA massa, telah membuat 'ledakan' yang mengguncangkan instrumen dalam menghadapi keyakinan-keyakinan sosial, ba- penderitaan diri kan kultural. Perkembangannya OLEH: AGUS NOOR Apa yang dilakukan Otok tak yang luar biasa telah banyak kan kritisisme atas apa yang di- bilitas penduduk dari desa ke ko- jauh dengan lahirnya para seni- merubah cara pandang terhadap hadapinya, terhadap media mas- man besar yang berproses kreatif 'realitas'. Bahkan ia, media mas- yang diisyaratkan lewat tembang serta didukung instrumen perku- si. Motif-motif ritme musik go- yang dangdut-pun merupakan se- bagian sumbangan yang cukup membuat komposisi ini cukup ketika variatif. Namun untuk menuju peng- galan kalimat musik satu menuju kalimat musik lainnya, Otok tak menggunakan sebuah jembatan kalimat musik yang landai. Se- pertinya hal itu merupakan stra- tegi Otok agar konsumen tidak terlarut begitu jauh ke dalam karyanya. Pada awalnya, seakan- akan Otok membimbing konsu- men pada suatu nuansa yang menghanyutkan, begitu kon- sumen terlena, konsumenpun di- kejutkan dalam nuansa yang baru. Otok mengajak konsumen memasuki wilayah kreatif yang baru yang lain dari keadaan se- mula. Dan itupun berlangsung hingga kalimat musik terakhir. *** Aaaa (Stroke) A hingga Kung- kumnya Otok merupakan reper- toare yang sukses dipentaskan di Taman Budaya Mataram, Lom- bok beberapa saat yang lalu (24/9). Lewat tiga komposisi yang juga disuguhkan di Pusat Latihan Ka- rawitan Dhusun Patran, Sleman, bukti bahwa antara penyakit dan Otok ingin menyampaikan suatu kemampuan kreatif terkadang dapat membentuk simbiosis yang erat. Seni dapat menjadi sebuah dustri bagi urbanisasi sosial pula. Itu artinya, antara urbanisasi sosial dan urbanisasi budaya, se betulnya memiliki kesamaan. Mi- nimal urbanisasi tersebut meny- kehidupan yang lebih pretasian makna yang ada di dalamnya tidaklah sederhana, ju- ga berita-berita tersebut, menurut David J Sholle, seorang kritisi me- dia menunjukkan bagaimana pe- Pada satu sisi, tulisan tentang ta. Mobilitas ini terjadi karena impan (1) harapan, (2) impian, (3) san-pesan (berita) itu berasal dan sa, terhadap pemberitaan yang adanya keinginan untuk memiliki dan keajaiban. Mobilitas sosial tersebar. dan budaya selalu mengharapkan sebuah penyakit begitu sa, memiliki kekuatan untuk sampai ke hadapannya. Ini kare- akses yang lebih dekat terhadap akan baik. kegiatan penyair Kedu, misalnya, akrab dengan dirinya. Layaknya mengubah dan menciptakan reali- mahakarya Symphony IX yang tas. Juga, media massa telah bro, bahwa media massa memiliki sering terjadi (hanya) di kota. Ur- Tetapi, ketika itu menjadi tidak bisa dijadikan informasi perihal na merujuk pada Goran Hende- pertumbuhan dan kemajuan yang terlahir dari komponis tuli, Beet- menanggalkan batas-batas re- kekuatan untuk membentuk 'ke- banisasi yang membawa pula ger- terlalu realistis (lulusan SD pin-kegiatan kreatif yang berdenyut hoven. Juga pelukis impresionis gional geografis yang semula tak sadaran sosial', hingga kesadaran ak fisik semacam pencarian la- gin jadi jendral) makan yang ter- di sana. Tetapi, pada sisi lain, Auguste Renoir, komponis Schu- terbayangkan terjadi melalui persepsi orang terbentuk keti- pangan kerja itu, dapat dijelaskan jadi adalah impian, sebagaimana berita itu tidak terlalu diperlukan keinginan kaya lewat lotre. Meski bagi konsumen daerah lain: itu mann, penulis Franz Kafka dan proses komunikasi dan interaksi ka ia tak mengambil jarak ter- sebagai urbanisasi sosial. hal semacam itu bukannya tidak artinya, informasi 'antar teman' masih banyak lagi lainnya. Sementara, ada gejala urban- mungkin, lantaran adanya kemu- menjelajah menjadi 'informasi isasi yang lain yaitu akses ter- ngkinan keajaiban yang merubah sosial', yang terasa dipaksakan. hadap kota tanpa perlu mela- apa-apa yang tidak mungkin: kita Karena informasi tersebut 'se- kukan mobilitas fisik, yaitu per- tahu banyak mereka yang tak lu- kedar melakukan urbanisasi bu- pindahan penduduk, yang di- lus SD pun sukses. Tetapi, ini je- daya untuk mendekatkan diri pa- las perkecualian. da pusat kekuasaan yang memili- mungkinkan oleh media massa. Urbanisasi tanpa mobilitas pen- ki legitimasi bagi tindakan-tin- duduk ini dapat dijelaskan seba- gai urbanisasi budaya: mobilitas yang terjadi adalah 'mobilitas pemikiran'; penduduk tetap bera da di wilayahnya, tetapi pemiki- ran yang disampaikan melalui media massa menerobos berbagai batas wilayah, melalui 'pusat me- dia massa', yang saya kira berada di kota (besar). tanggal, sesungguhnya dapat dia- Karena, ketika batas geografis jukan pertanyaan, "apakah berita itu memang perlu buat saya?". Di sini, penolakan dan penerimaan, menjadi sesuatu yang krusial. Se- bagai ilustrasi, kita dapat meng- gunakan tulisan-tulisan yang be- lakangan sering muncul di hala- man budaya Kedaulatan Rakyat Minggu, yang sering memperbin- cangkan "kegiatan-kegiatan bu- daya di daerah lain": pementasan di Klaten, tentu berada di luar daerah Magelang, Banyumas dan lainnya. Begitu pula persilangan- nya. Yogya pun adalah daerah lain bagi kota-kota di luarnya. media tradisiomal. Dengan begi-hadap berita yang diterimanya. memperlihatkan betapa ego seni- makan "realitas" sesungguhnya Cukup banyak contoh yang tu, seringkali apa yang dina- man tak terhalangi oleh penderita adalah pseudo-realities, realitas fisik mereka. Disinilah yang mem gadungan, yang dibangun citra- bedakan antara orang kebanyak- citra yang ditampilkan. an dengan sosok seniman, mereka kekurangan saluran pelepasan untuk menangkap serta menge- jawantahkan gelora hati, pera- saan sakit, atau depresi ke dalam nada dan irama, kata-kata, idiom- idiom, simbol-simbol, warna-war- na, alegori-alegori, sedangkan se- niman meredakan perasaan me- reka dengan cara tersebut. Otok-pun bagian dari mereka, meski secara fisik kreatifitasnya terbelenggu, namun ego seniman- nya tetap utuh. Dan apa yang telah dilakukan tak hanya seke- dar proses penyembuhan diri, na- lengkapi perkembangan peta mun lebih jauh lagi ia telah me- jak Stroke hingga Kungkumnya musik di tanah air. Maka semen- Otok di Kali Tempuran meru- pakan gaung berkembangnya pe- rangkat gamelan kita. -h. Pulang CERPEN: M WAKHID PULANG! Kata itu sangat nilai-nilai baru yang sebelumnya menggema dalam hatiku. Tidak ada kata lain yang lebih menye- nangkan daripada kata itu. Dua puluh empat tahun aku mengem- bara, malang-melintang me- nyusuri lorong-lorong kehidupan, Aku banyak berkenalan dengan tak pernah kukenal sama sekali. Tanpa kusadari susupan nilai-ni- lai baru itu telah mematokku, se- hingga terlalu sulit bagiku untuk membebaskan diri dari belengg- gunya. Aku telah kehilangan jati diriku dan tenggelam di dalam- Televisi, misalnya, oleh Jean Baudrillard dipandang telah men- ciptakan simulasi dan model yang telah begitu meledak memenuhi ruang kehidupan sosial, sehingga terkaburkannya antara batas cit- ra dan fakta. Citra menjadi lebih real dibanding realitasnya. Beri- ta-berita yang muncul di media massa cetak pun, sering men- gubah "fakta-fakta di lapangan" melalui pemakaian bahasa' yang sesungguhnya sering tak relevan. Bahasa, yang memang telah tak netral itu, akhirnya membangun persepsi pada pembaca perihal yang dibayangkan karenanya, peristiwa dan fakta, menjadi 'apa baca, sering menjadi fakta-kedua, fakta yang tumbuh di benak pem- yaitu fakta yang dibayangkannya. Situasi semacam itu menya darkan pembaca untuk melaku nya. Hari ini aku berpamitan pada sahabat karibku, sahabat ken- talku. Walaupun dia tak pernah memberikan arti dalam hidupku, tetapi dengan tulus dia berikan topeng kepadaku. Topeng untuk menutupi borok-borokku. Sampai kini topeng itu tetap kupakai, atanya topeng itu mempersubur karena aku menyukainya dan ny- borok-borokku. Aku harus berpisah dengan sa- habatku itu. aku ingin pulang walau harus membawa borok borokku yang menjijikkan itu. Aku tak peduli orang-orang ke- takutan bila melihat wajahku yang sebenarnya. Aku sudah siap untuk menghadapi segala kemu. ngkinan yang akan terjadi. Aku siap diusir. Aku siap digelandang seperti pesakitan. Aku siap diku- cilkan karena orang-orang pada takut ketularan borok-borokku. Tetapi bulat sudah tekadku: "Pu lang!" "Selamat tinggal," kataku sambil merenggangkan jabat ta- Akan kutinggalkan nganku. rantauan seiring dengan lepasnya jabat tanganku itu. Ketika aku be- nar-benar yakin bahwa gengga- man tangan itu telah menjadi longgar, perlahan kutarik telapak tanganku. Aku ingin segera merasakan plong dalam dadaku. Tetapi jabat tangannya malah se- makin kuat menggenggam tan- ganku. Aku mencoba menarik lebih kuat lagi, namun sia-sia. Tanganku terasa lengket jadi Sampainya sebuah 'berita' le- Urbanisasi Media Massa wat media massa, berarti telah maksud di atas. Pada konteks melewati batas geografis yang di- lakukan urbanisasi-meski pada pembicaraan ini, berarti ia me- kontek yang lebih besar bisa juga terjadi migrasi berita Urbanisasi selalu mengandaikan gerak-mo- Maka, urbanisasi budaya terja- di pada kota-kota yang memiliki media massa. Surabaya, menjadi pusat urbanisasi budaya bagi ko- Semarang merupakan kota yang ta-kota di Jawa Timur, Yogya dan pemikiran kebudayaan) bagi ko- memberi peluang pertukaran ta-kota sekitarnya dan pesatnya tentu saja menuju Jakarta: kota yang memang menjadi sentral in- Berita Kebudayaan Apa yang dapat ditarik dari dakan kreatif kesenian. Itu, be- ilustrasi di atas terhadap urban- rarti, desentralisasi yang banyak isasi budaya, yang dalam pember- didengungkan belakangan ini, itaan peristiwa-peristiwa kebu- menjadi nonsens ketika memasu- dayaan memiliki harapan, impian ki media massa (yang kita tahu, cuma ada di "pusat". dan keajaiban itu pula? Sementara kasus lain menun- Berita atau pun tulisan perihal penyair Kedu, kebutuhan komu- jukkan, keinginan banyak daerah nitas seniman Banyumas, kehidu- (maaf dengan istilah ini untuk pan teater di Sragen dan lain se- memiliki sebuah Dewan Kesenian di Banyumas, Sragen atau bagainya yang muncul di Ke- daulatan Rakyat Minggu menun- mana lagi?sebagaimana yang jukkan nuansa tiga hal itu. Kare- terbaca di KRM, membawa pe- na ketika pemberitaan dan tu- mikiran yang ditawarkan mema- lisan itu menjadi signifikan ter- suki'impian urban'. Lontaran pe- hadap apa yang menjadi keingin mikiran itu menjadi tampak an, terjadi dengan apa yang mengada-ada', dikarenakan keny- dilukiskan oleh Christoper Cross ataan perihal keberadaan Dewan kenyataan-kenyataan sepihal' Kesenian di kota besar yang su- yang hanya ditawarkan oleh pem- dah ada, juga karena urgensi ke- buat berita. Padahal penginter- butuhan itu yang menjadi terlihat kedodoran. Tak tahulah, apakah ada 'kea- jaiban' yang mampu mengubah 'impian itu; bagaimana realisasi atas ide tersebut. satu. Aku mencoba sekali lagi jatuh ke dalam pe-rangkapnya la- dan indah itu harus dilalui den- gan gejolak? Aku tahu, kamu ten- membetot genggaman itu. Selu- gi. ruh tubuhku basah oleh keringat. "Pulang!" Aku berteriak gah berada dalam gejolak itu." nafasku tersengal-sengal. Pun- keras agar dia berhenti bicara. Aku sadar dan malu, kenapa 'Impian kaum urban' yang ter- dakku turun naik memompa Akan kubantah semua apa yang aku selalu ngotot untuk pulang. jadi pada mobilitas perpindahan nafasku yang hampir habis. Buti- dikatakannya. Tetapi lidahku Saat itu hujan gerimis membu- penduduk desa-kota, juga terbaca ran keringat sebesar biji jagung menjadi kelu. Rangkaian kata- atbajuku basah. Aku benar-benar pada mobilitas pemikiran budaya menetes dari ujung daguku. Aku kataku terhenti nyangkut di teng- nekad pulang, memilih jalan yang itu. Barangkali, impian-urban benar-benar merasa kepayahan gorokan. Yang keluar hanya kata- gelap dan becek. Orang-orang semacam itu tidak pernah ter- ga. Kupelototkan bola mataku ke g!" "Dasar bodoh! Tolol yang dulu mengenalku kini tak bayangkan sebelumnya. Karena dan benar-benar kehabisan tena- kata: "Pulang! Pulaaannnng ada yang menghiraukanku lagi. tak pernah disadari, betapa media arah bola matanya. Heran, teta- Bagaimana kamu berfikir se- Teman-teman yang dulu meng- massa telah mengubah cara pan- pan matanya sangatlah tajam bodoh itu. Dua puluh empat hormatiku, kini memandangku dang terhadap persoalan dan real- tetapi teduh menyejukkan. Bi- tahun aku setia menemanimu. dengan sinis. Tak ada lagi tegur itas. Mungkin pula, urbanisasi birnya terkatup rapat. Sekali- Aku menginginkan kamu tampil sapa yang hangat kecuali caci ma- budaya lewat media massa, masih sekali tersungging senyuman. mempesona. Tampil dengan sosok ki. Bagaimana hati tidak remuk. dilihat sebagai peluang ekonomis Senyum yang sangat tulus dari yang penuh dengan kharisma. Dulu orang-orang menyalamiku (honorarium) tanpa perlu mela- lubuk hati seorang sahabat karib. Aku ikut merasakan penatnya dengan selalu mencium telapak kukan gerak fisik (perpindahan "Untuk mengambil keputusan prihatin demi nama baikmu, demi tanganku. Aku benar-benar tidak penduduk) yang seringkali tidak itu, perlu kamu pertimbangkan kepopuleranmu. Tetapi kenapa tahan menghadapi kenyataan menguntungkan, lebih getir dan masak-masak dulu," dia men- kamu malah putus asa. Kenapa dan perlakuan semacam itu. Na- banyak resiko. gawali bicara, setelah lama kami kamu bersikukuh memilih jalan mun pada saat aku dalam kesen- saling beradu pandang. yang gelap. Apakah yang selama gsaraan, sahabatku datang meno- ini aku perjuangkan mati-matian long. akan kamu lepaskan begitu saja?" "Pulang! Pokoknya Pulaaaa annnnngggggg "Jangan terburu nafsu. Kamu harus punya pandangan yang jauh ke depan. Kamu pertim- bangkan untung ruginya. Jangan terjadi penyesalahan hanya kare- na cekaknya pikiran. Sebenarnya kamu kan orang terhormat di ma- ta masyarakatmu. Pertahankan itu. Jangan kecewakan mereka. Biarkan mereka tetap menghor- matimu. apa ruginya, apa salah- nya bila kamu tetap berlindung di balik topeng borok-borokmu demi kebaikan dirimu." Aku betul-betul muak menden- gar ocehannya itu. aku tidak ingin dia nerocos lagi. Aku jijik menden gar nyingir rayuannya. Aku takut "Sudah kubilang jangan pu- lang! Tetapi kamu nekad saja melarikan diri. Pakailah topeng ini lagi! Jangan lakukan kesala- han. Jangan tolol. Semua ini demi harga dirimu juga." "Sabarlah sedikit. Tenangkan pikiran. Endapkan emosi. Coba ingat, bukankah keinginanmu un- tuk pulang itu tidak hanya kali ini saja, masihkah kamu ingat ketika dulu kamu nyatakan ingin pu- lang, apa yang terjadi, nyatanya kamu balik lagi kesini, bukan? Tenangkan pikiran. Aku mengerti keinginanmu sangat menggebu, lang!" dan itu wajar, tetapi sebentar ju- Hatiku jadi kecut bila teringat peristiwa itu. Aku khawatir bila kepulanganku yang sekarang ini akan mengulang peristiwa yang dulu itu. "Tidak, aku tetap ingin pu- "Seharusnya kamu bisa me- ga reda kembali. Aku sendiri juga ngambil pelajaran dari peristiwa Bersambung hal 9 kadang-kadang merasakan aneh, kenapa hidup menjadi dinamis Mestinya, peluang yang ditim- bulkan oleh media massa mem- bentuk kemungkinan tawaran budaya' yang tidak menjadi non- sens oleh kekuatan pusat media massa itu sendiri. Media massa, tidak sekedar memiliki peluang penyampaian informasi dan beri- ta, tetapi juga perlawanan ter- hadap yang domínan. Dari situ, kita akan melihat be- tapa kebudayaan Indonesia, per- soalan kesenian di dalamnya, bukan melulu isyu-isyu yang diresmikan atau segala-sesuatu yang mengacu pada orientasi tunggal. Agus Noor, Jl. Brigjen Katamso 214, Yogyakarta 55152.-k. ranganyar ini, banyak mempersoalkan pakem, E pakem hingga kini divinisi sendiri dinilainya belum jelas. potnya, orang yang tak tahu be wayang justru ngomong soal kem pewayangan. Ditemui KR saat makan lam menjelang pementasan memperingati Deddy.. ulang tal yang ketiga kali. Untuk pert kalinya, terjadi sekitar dela tahun pentas Yang lalu, ketika Deddy Ir bersama Diana Yu terjadi dua mir lalu, saat pentas ber-sama Lil vania, di Purawisata Yogyaka Sedang yang ketiga ini, dampingi kakaknya Rhoma ma, untuk pentas di Mandala malam, bersama da Sabtu netha Goup. Selain terjun sebagai peny dangdut, Deddy Irama yang jah dan suaranya, tidak jauh kakaknya R beda dengan Irama, juga pernah terjun h bintangi film berjudul Cinta bar, bersama Rhoma Irama Hampir. cara menggelar seminar Ada Band dari Australia, Brass ney Brass Quintet dari Aust Lucky Stardust, Quintet dar landa, Bourdone Quintet dar landa. Sedangkan bentuk work yang dilakukan, menurut rangan Chairul. Asean Youth sik di Penang Malaysia (1 Musik Tiup Dan Teater di Ma Philipina, Asean Youth Mus Jakarta (1982), Wind Orch bersama Asia University Win chestra di Bogor (1983), A Youth Musik di Manila, Fil (1984), Asean Youth Music d gapura (1985), Asean Youth M di Bangkok, Thailand (1) Quintet Modern Musid (dar man) di Yogyakarta (1987), A Garde Music oleh Prof Dr L Mack dari Jerman di Yogyal (1988) dan Modern Jazz N oleh Guss Jansen dari Belam Yogyakarta (1991). Sepanjang berdirinya hingga sekarang ini, kata Che telah banyak mencatat pre dalam berbagai forum perge musik di beberapa kota di Jawa. Pergelaran itu misa HUT TVRI Surabaya di Hot mi Hyatt, Surabaya, Jaz Swara Concert bersama Kra Band di GOR Gelar Sena K Pentas Musik Remaja '84 ber Elfa's Big Band di Bandun Proses Pengen Dipamerkan d BAGI Supantono, peluki da asal Yogya, pameran tur nya di Taman Budaya Sura. 24-29 September 1994, bi. ibaratkan sebagai satu pem baraan. Karena, berbagai B pangan sosial, keganjilan kungan menjadi tema s karya-karya Supantono tem Semua itu menarik Supa untuk diungkapkan dalam sa visual yang dibungkus bentuk-bentuk simbolik. "Lukisan saya berakar d tetika tradisional, yang sa spresikan dengan idiom m sehingga tampak lebih din katanya berkenaan dengan eran tunggalnya itu. Pelukis Alrx Luthfi R, r mentari, bagi Supantono, m bukan sekadar memindahk jek secara apa adanya ke bidang kanvas, namun leb derung berusaha mengub menjadi sesuatu yang sed dan simbolik. Bentuk obje dihadirkannya memang su bih kaya dan beragam, dig dengan improvisasi penge gan objeknya yaitu def atau stirilisasi dari ranting ng pohon yang estetis itu, ta lebih memberikan keb di dalam mengembangka imajinasinya. "Guratan-g tekstur yang dihasilkan c puan kuas, juga memberi ansa magis pada setiap ob isannya," katanya. Beberapa karya lukis y andalkan dalam pameran Supantono di Surakarta tara lain berjudul 'Cela Hutan', 'Dua Patung Pen yang telah jadi koleksi- Jack C Richards, Hongkon
