Tipe: Koran
Tanggal: 1997-08-20
Halaman: 12
Konten
4cm Halaman 20 Tumpek Bubuh Alias Tumpek Wariga Revitalisasi Produktivitas Kerja dan Pangan Tumpek Uduh yang juga disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Wariga, lazim diraya- kan umat Hindu di Bali sebagai wujud penghormatan terhadap eksis- tensi tanaman, khususnya tanaman keras (tanem tuwuh, bahasa Bali). Esensinya adalah pemujaan terhadap kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa yang memberikan kesejahte- raan bagi tanaman sehingga berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup manusia. IWM Subratha Br. Sema, Bitra, Gianyar 80514 Kelahiran manusia di hidup dari pertanian dan syukuri kemahaciptaan berladang. Masyarakat Tuhan. Namun di balik itu menggantungkan diri pada terkandung misi melestari- tanaman musim dan tana- kan lingkungan. man produktif lainnya. Karenanya, dikenal upaka- Persiapan Galungan ra mabanten di pohon. Up- IB Gde Wiyana dan Dra. akara ini, menurut IB Wiy- Ni Made Arwati sependa- ana mengandung hakikat pat, Tumpek Wariga, se- sangat mendasar yakni bagai wujud kepedulian produktivitas pangan dan umat dalam meningkatkan kerja. Ia sebagai cara produktivitas di bidang mengingat (revitalisasi) pangan. Akhirnya hasil itu bahwa enam bulan menda- dipersembahkan umat ke- tang kita harus meningkat- pada Tuhan. Jadi, ada sal- kan produktivitas kerja ing ketergantungan antara dan pangan. manusia dan tumbuh-tum- buhan. Ini sebagai revital- isasi peningkatan produk- tivitas kerja dan pangan karena ada keinginan manusia mendapatkan ha- sil lebih dari tumbuh-tum- buhan. Jawaban : Perlu diungkap historisnya mengapa keturunan Ki Dukuh Suladri yang sekarang disebut Pasek Padang Subadra, Pasek Subratha, Pasek Kurubadra, Pasek Padang Sari dan lain-lainnya ikut nyungsung Pura Dalem Kerthalangu yang berlokasi di sebelah timur Sungai Ayung, wilayah Denpasar. Pura ini bukan meru- pakan pura kawitan keturunan Ki Dukuh Suladri, me- lainkan pura penyungsungan keturunan I Gusti Ngurah Pinatih yang pernah berkuasa berstatus Anglurah di Puri Kerthalangu Desa Penatih, wilayah Denpasar, Ki Dukuh Suladri antara lain berputra Made Sadra, yang sesudah pudgala (dwijati) bergelar Ki Dukuh Çakti Pahang bertempat tinggal di Banjar Pahang Desa Penatih. Seorang putri dari Ki Dukuh Cakti Pahang bernama Ni Luh Pasek dikawini oleh I Gusti Ngurah Pinatih Anglurah di Desa Penatih. Dari perkawinan- nya ini I Gusti Ngurah Pinatih berputra 4 orang laki- laki, masing-masing bernama I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Made Pinatih, I Gusti Nyoman Bona, dan I Gusti Ketut Jumpai, sehingga keturunan Ki Dukuh Suladri ada hubungan kekerabatan dari pihak pradhana (ibu) DALAM lontar Gha- napatti Tatwa banyak di dunia pun sama dengan uraikan bagaimana ter- kelahiran alam semesta ciptanya alam semesta yakni dari Panca Tan- beserta isinya. Alam se- matra dan Panca Ma- mesta tercipta dari unsur habutha. Konsep inilah Panca Daiwatma yang yang melahirkan filsafat kemudian melahirkan dan etika umat Hindu den- Panca Tanmatra serta gan Tuhan dan ciptaan- Panca Mahabutha. Brah-Nya. Atas dasar ini pula, ma melahirkan bayu, dari kata pengamat agama Hin- Wisnu muncul unsur ke- du, Drs. IB Gde Wiyana nikmatan, dari Rudra dari Griya Wanasari, Sa- muncul bentuk, dari nur, yang membuat manu- Iswara muncul rabaan, sia selalu dekat dengan Sadasiwa muncul suara, Sang Pencipta dan hasil dari sabda muncul ether. ciptaan-Nya. Manusia itu Dari pertiwi terwjudlah sama dengan alam semes- bumi, berkat apah mun- ta yakni tunggal. Ia manu- cul air, karena teja mun- sia, ia pun alam semesta. cul matahari, bulan dan Karena itu pula umat Hin- bintang. Karena wahyu du khususnya di Bali san- ada angin dan dari akasa gat menghargai yang na- lahir suara. Berkat alam manya kehidupan di dun- semesta lahirlah tumbuh- ia, kehidupan tumbuh- tumbuhan, binatang dan tumbuhan dan hewan. Tat- makhluk halus. wa dan etika ini kemudian melahirkan upacara Tum- pek Wariga. Lebih lanjut menurut Wiyana, Tumpek Bubuh pada dasarnya adalah revi- talisasi sradha bhakti manusia terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Pencipta yang telah mem- beri kemakmuran melalui hasil ciptaan-Nya di dunia. Tiap enam bulan penang- galan Bali (210 hari) umat diingatkan untuk menya- takan sujud bakti berkat tumbuh-tumbuhan ciptaan-Nya yang berma- faat bagi kehidupan umat di dunia. Pada saat itu pula kita ingat bahwa sumber manusia dan alam semes- ta adalah sama yakni Pan- ca Mahabutha. Jika salah satu unsur tanah, air, udara, ether dan udara tak ada, tak ada yang naman- ya kehidupan. Produktivitas pangan jelas tampak pada upaya umat mendoakan agar tan- aman berbuah dan meng- hasilkan yang banyak. Karena umat Hindu per- caya berjuang tanpa doa sia-sia. Produktivitas ker- Arwati yang menulis be- ja, tambah Wiyana, tercer- berapa buku agama Hindu, min dari upaya umat men- menjelaskan, Tumpek ingkatkan penghasilan Wariga dirayakan sebagai melalui tumbuh-tumbu- awal umat menyongsong han. Umat Hindu, kata dia, tibanya Hari Raya Galun- sangat yakin tantangan ke- gan, tepatnya 25 hari men- hidupan enam bulan men- jelang Galungan. Tujuan- datang lebih berat dari nya untuk memohon kese- sekarang. Sumber yang lamatan tumbuh-tumbu- satu tak mungkin bertah- an jika tak ditambah den- gan sumber yang lain. Apalagi jika di tengah ke- luarga ada penambahan penduduk nonproduktif. Ritual semacam ini meng- gambarkan betapa umat Hindu meyakini tantangan hidup harus dihadapi den- gan cara meningkatkan produktivitas kerja dan pangan. Ia menyebut inilah cara menabung ala Hindu di zaman dulu, yakni dalam bentuk investasi tanaman produktif. Bi- asanya tiap Tumpek Wari- ga mereka menanam satu jenis tanaman baru se- bagai tonggak mereka menghadapi tantangan ke- hidupan yang lebih berat. han yang merupakan "sau- dara" manusia sebagai ses- ama ciptaan Tuhan. Pada bagian lain ia menyebut- kan, pada Tumpek Wariga tanaman diupacarai agar memberi hasil lebih untuk dipersembahkan saat Ga- lungan. Sehingga dapat dikatakan bahwa upaya ini untuk mempersiapkan do- lognya keluarga. Umat Hindu biasanya ANDAI leluhur orang Bali (baca : Hindu) pantang menebang pohon tak mewariskan upacara Tumpek Uduh, apa sembarangan. Karenanya, yang mungkin terjadi pada lingkungan hidup mereka mengaitkan den- di Bali yang luasnya tak seberapa ini? Jika gan simbol-simbol. Misaln- berangkat dari makna Tumpek Uduh sebagai ya pada sebuah tanaman penghormatan eksistensi tanaman, mungkin besar berstana ratu gede kah jadi tanpa upacara ini tak ada rasa hor- ini-itu dan sebagainya. mat pada lingkungan? Mungkin pada giliran- Menurut IB Gde Wiyana, nya juga tak ada imajinasi tentang masa kebiasaan ini wujud dari depan generasi yang juga membutuhkan upaya mengerem nafsu lingkungan hidup. Karenanya, Tumpek Uduh umat untuk merusak yang juga lazim disebut Tumpek Bubuh alias lingkungan. Tumpek Pengatag, seperti juga upacara-up- acara lainnya, tak semata-mata ekspresi bu- daya agama orang Bali. Di balik tiap upac- ara selalu ada makna yang senantiasa rele- van dengan denyut hidup yang berkembang, jika ia ditafsirkan secara kreatif. Menurut IB Gde Wiya- na, pada dasarnya semua tumbuhan bermanfaat bagi manusia. Hanya, Jika sekarang umat di- tidak semua bisa di- hadapkan pada realitas mengerti oleh manusia. habisnya lahan pertanian, Tumpek Wariga menu- Bahkan racun pun bisa menurut IB Gde Wiyana, rut IB Gde Wiyana dan diterjemahkan manusia upacara itu tetap tak akan Arwati sebagai wujud sebagai bahan yang ber- pernah hilang. Sebab umat kepedulian umat men- manfaat. Saat Tumpek yang makin sejahtera, ingkatkan produktivitas di Wariga ini pula umat men- akan makin bersyukur. bidang pangan. Akhirnya Tumpek Uduh tiap 210 hari sekali (enam yadari bahwa kita hidup di Bagi yang tak memiliki hasil itu dipersembahkan bulan penanggalan Bali), yang akan jatuh dunia tak sendirian, ada tanaman produktif atau umat kepada Tuhan. Jadi, pada hari Sabtu, 23 Agustus 1997, adalah tumbuh-tumbuhan dan tanaman jenis lain, bisa ada saling ketergantungan satu bentuk penghormatan manusia bagi tan- makhluk lain yang ikut menghaturkan bakti ke antara manusia dan tum- aman, khususnya tanaman produktif membentuk eksistensi sanggah/ merajan atau buh-tumbuhan. Ini sebagai dalam istilah Bali, tanem tuwuh. Selain se- manusia melalui lingkun- dengan menanam tana- revitalisasi peningkatan bagai wujud rasa syukur ke hadapan Sang gan hidupnya. man yang bermanfaat bagi produktivitas kerja dan Hyang Widhi, ia juga dimaksudkan sebagai kehidupan sehari-hari. pangan karena ada keingi- hari mendoakan seluruh tanaman produksi Bisa dalam bentuk menan- nan manusia mendapat- hidup subur dan menghasilkan sesuatu yang am di pot atau di halaman kan hasil lebih dari tum- bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika ia rumah. Ini, sekali lagi, se- buh-tumbuhan. tanaman buah semoga ia berbuah lebat, dan bagai revitalisasi men- (sue) seterusnya. dengan putra dari I Gusti Ngurah Pinatih tersebut. babado Oleh Jro Mangku Gde Ktut Soebandi Jika Anda memiliki unek-unek di seputar masalah babad, ingin bert- anya tentang asal-usul, lelintihan, silakan tulis surat dengan ringkas, jelas, dan langsung ke pokok persoalan. Tujukan kepada pengasuh "Babad" Jro Mangku Gde Ktut Soebandi, dengan alamat Redaksi Bali Post, Jalan Kepundung 67 A Denpasar. Jika Anda kurang puas dan ingin berkonsul- Secara etika, wajar keturunan Ki Dukuh Suladri ikut nyungsung Pura Dalem Kerthalangu tersebut, akan tetapi bukan Pura Kawitannya. Sedangkan pura kawitan ketu- runan Ki Dukuh Suladri adalah Pura Lempuyang Madya bersama warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi) lainnya. Kecuali itu mereka harus pula ikut nyung sung di Pura Ratu Pasek di Besakih yang berstatus pura padharman, Ratu Pasek di Pura Dasar Bhuana Gelgel dan Pura Çilayukti di Desa Padang. Mengenai Merajan Agung (Dadya Agung) keturunan Ki Dukuh Suladri ialah di Merajan Pasek Padang Subadra di Desa Padang, Ke- titas) keturunannya, melainkan hanya menggunakan camatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Sebab, lelu- jati diri (identitas) berdasarkan kedudukan atau fung- tasi lebih lanjut, silakan berhubungan dengan pengasuh, Jro Mangku hurnya dahulu yaitu I Gusti Agung Pasek Padang Sub- si leluhurnya. Akibat perbedaan kedudukan, fungsi dan adra, pada Senin Umanis, wara Sungsang, tahun Saka keberadaannya, timbul perbedaan sebutan atau gelar, 1257 diangkat sebagai amancabhumi oleh Raja Bali Çri yang akhirnya karena perbedaan sebutan atau gelar Gajah Waktra alias Çri Gajah Wahana, berkedudukan di ini, mengakibatkan mereka merasa atau seolah-olah Desa Padang, dengan tugas sebagai pengempon Pura Çil- bukan berasal dari satu sumber (kawitan). Dengan menyebut diri keturunan Dalem tersebut, membawa dampak kurang menguntungkan, karena yang bersangkutan tidak lagi memakai jati diri (iden- Gde Ktut Soebandi, Jl. Plawa Gg. XIIV/1 Denpasar. Pertanyaan: Kami keluarga besar tinggal di Kelurahan Bitra, Giayukti bekas parhyangan Mpu Kuturan alias Mpu Ra- jakretha. anyar. Dari tahun ke tahun kami biasanya mengang- gap kawitan kami di Kesiman, karena kami biasa mat- uran ke Pura Dalem Kerthalangu (di sebelah timur Bali tex ke selatan, sebelah timur Sungai Ayung) yang puja walinya jatuh pada hari Sugian Jawa (enam hari men- jelang Galungan). Kata nenek moyang kami, kami pun ya prasasti disimpan di rumah Jro Mangku yang ru- mahnya di sebelah utara Pura Dalem Kerthalangu. Selanjutnya kami mengajukan beberapa pertanyaan ke hadapan Bapak: 1. Ada selentingan petunjuk nenek moyang kami, bah wa kami adalah keturunan Dukuh Suladri, benarkah ini? 2. Jika benar demikian di mana Kawitan Dukuh Su ladri yang benar? Pura Besakih? 3. Di mana tempat Padharman Dukuh Suladri di 4. Jika tidak benar, termasuk keturunan siapakah kami ini? 5. Di manakah pura kawitan kami yang sebenarnya? Pada masyarakat pada zaman agraris, tumpek ini dirayakan dengan meriah karena pada zaman itu se- bagian besar masyarakat Selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut: di Pura Lempuyang Madya, Kecamatan Abang, Kabupat 1. Pura kawitan keturunan Ki Dukuh Suladri adalah en Karangasem, sebab di sanalah Mpu Gnijaya berpar- Galungan, Purnama sasih Kadasa, tahun Saka 928 (bu- hyangan, yang tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wara lan April 1006) diri (identitas) sangat bervariasi, misalnya berdasar- kan jabatan, fungsi, keadaan dan lain sebagainya. Di antara berbagai jabatan atau fungsi itu, apakah sebagai anglurah, raja atau penguasa lainnya sering diasosiasi- kan Dalem. Sehingga sering dijumpai sebutan Dalem, seperti Dalem Gelgel, Dalem Cau, Dalem Tarukan, dan kadang-kadang jabatan Dalem tersebut belum tentu selalu dijalani oleh satu warga (kelompok keturunan). Pura Ratu Pasek yang berlokasi di kompleks Pura Be- 2. Pura padharman keturunan Ki Dukuh Suladri, di sakih bersama warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi) lainnya. 3. Keturunan Ki Dukuh Suladri adalah keturunan Mpu Ketek, putra sulung dari Mpu Gnijaya yang berparhyan- gan di Gunung Lempuyang Madya, Kecamatan Abang, Paguyuban warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Sap- Kabupaten Karangasem, yang disebut sang Sapta Rsi. ta Rsi) dinamakan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi yang berarti keluarga besar keturunan tujuh pandita. alah keturunan Mpu Ketek, salah seorang sang Sapta Rsi. 4. Keturunan Ki Dukuh Suladri dan lain-lainnya ad- Mengapa demikian, karena tradisi atau kebiasaan yang berlaku di Bali, bahwa jabatan atau fungsi seor- terdahulu. Dahulu yang menjadi pemangku di Pura ang pemangku biasanya diduduki keturunan pemangku Besakih adalah Wang Bang Manik Angkeran dan sang Kulputih leluhur Ki Pasek Sorga alias Ki Pasek Sogra, keturunanya. Dengan demikian dapat dijelaskan se- dan secara turun-temurun jabatan ini diteruskan oleh bagai berikut: 5. Seperti sudah disebutkan tadi, bahwa pura kawitan keturunan Ki Dukuh Suladri ialah Pura Lempuyang Madya di Gunung Bisbis atau Gunung Lempuyang, Ke- Goa atau Arya Goa betul keturunan pengempon (pen- 1. Bilamana yang menyebut diri keturunan Dalem camatan Abang, Kabupaten Karangasem, bukan di Kes- guasa) dan pemangku Pura Gora di Besakih, mereka iman seperti yang selama ini saudara ketahui, tanpa ber- itu adalah keturunan salah seorang dari para pemangku dasarkan dokumen historis, melainkan hanya berdasar- Pura Goa di Besakih. Untuk memperoleh bukti dapat mula tami dan lain sejenisnya. Yang jelas oleh generasi terdapat di merajan-nya dan berbagai petunjuk lain- kan gugon tuwon yang berdasarkan motto: mula keto, diketahui dari adanya pelinggih (bangunan suci) yang penerus tidak bisa diterima. Generasi penerus akan nya baik sekala (lahiriah) maupun niskala (rohaniah) menuntut fakta hitam di atas putih, dan itu pun harus dan hal ini dapat dikonsultasikan. masuk akal yang sehat. 2. Pada tahun berapa beliau datang di Bali? 3. Di mana beliau bertempat tinggal/berstana? I Wy. Kantha Adnyana, S.H. Demikian juga mereka yang mengaku diri keturunan Dalem Goa atau Arya Goa. Sampai saat ini belum di- jumpai babad atau prasasti dari Dalem Goa atau Arya menyebut diri Dalem Goa atau Arya Goa ini, antara Goa tersebut. Namun dijumpai bahwa mereka yang lain adalah keturunan pengempon (penguasa) dan pe- mangku di pura penyungsungan jagat di Besakih ke- mangku Pura Goa di kompleks Pura Besakih. Pe- banyakan keturunan dari Wang Bang Manik Angke- Sidemen dan Arya Wang Bang Pinatih serta keturunan ran, yang sekarang dikenal dengan Arya Wang Bang sang Sapta Pandhita atau sang Sapta Rsi, yang dike- Sapta Rsi). nal dengan warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Jawaban: Di Bali terdapat tradisi atau kebiasaan memakai jati Pertanyaan: Saya salah satu warga asal Klungkung ingin menge- tahui silsilah/klan keluarga kami. Setelah kami tanya- kan kepada pengelingsir/tokoh masyarakat dinyatakan ya berlainan satu dengan lainnya. Namun dapat dijelas- 3. Demikian pula mengenai tempat tinggal leluhurn- bahwa kami masih keturunan Dalem Goa/Arya Goa. 1. Siapa nama-nama leluhur kami seperti yang dise- gan di suatu tempat dan sekarang di areal Pura Batu- kan bahwa Wang Bang Manik Angkeran berparhyan- but di atas? madeg di Besakih, yang dipakai pura Kawitan dari ketu- runannya. Sedang pemangku sang Kulputih yang sem- ula juga berparhyangan di Besakih, sekarang keturu- nannya yang disebut Pasek Sorga atau Pasek Sogra ber- tempat tinggal di Desa Sorga dan beberapa tempat atau desa lainnya. 2. Itu belum dapat diketahui tahun berapa beliau datang di Bali, karena harus diketahui terlebih dahu- lu, siapa dari para pemangku tersebut menurunkan Arya Goa. mereka yang menyebut diri keturunan Dalem Goa atau Untuk memperoleh penjelasan lebih terperinci masih diperlukan informasi yang lebih mendetail. Bali Post BIAS F Rabu Paing, 20 Agustus 1997 Upacara menghormati eksistensi tanaman bagi eksistensi manusia. SIMPATI ANDA Kadek Wiliawan penderita kanker tulang; DewaAyu Ketut Erawati penderita usus buntu; Dayu Sudarti penderita pe- rut membesar, Wayan Mertani dan Komang Mardika pen- derita tumor mata; Ni Ketut Raka penderita tangan pun- tung, IGP Cakra penderita kaki gajah, Lusy Parwati, Ariy- anti, Bp Mangku Sura, Maulana, Wayan Mubagia dan Kade Pande Yasa penderita kepala membesar, Wayan Gimber penderita buah pelir membesar, lin Khodiyah dan Komang Eli Saputra penderita kulit bersisik; Nyoman Rapa penderita perut mengeras; Gde Wardana penderita tu- mor; Sumbangan Perseden; PHDI tingkat Desa Karya Makmur, Musibah Gunung Semeru masih membutuhkan uluran tangan para pembaca. Sumbangan Anda dapat dikirim ke giro post no. DPR 02.343. Rp 1.631.000 untuk Nyoman Rapa, Perut Mengeras Menyadari Eksistensi Tanaman, dari *** bagai cara menyadarkan manusia akan ek- Kandungan makna lain di balik itu, se- sistensi tanaman/lingkungan yang ikut ser hidup yang kini berorienta Sejalan dengan penin ta membentuk eksistensi manusia itu sendi- seharusnya upacara Tumpe ri. Seberapa penting ia ada dan mengada dengan pemberdayaan ta bagi hidup manusia, dalam arti berdaya dan bertujuan bisnis. Karenany berhasil guna sekaligus bisa diberdayakan bangkan masifikasi tanam untuk optimalisasi kehidupan manusia. Up tasi pada optimalisasi mut henti pada aktivitas sembahyang yang terk- berdayaan kecil-kecilan da acara Tumpek Uduh, karenanya, tidak ber- si tanaman tidak lagi dikait adang teramat abstrak untuk dipahami apa, memenuhi rutinitas hidup bagaimana, untuk apanya. Tetapi menjadi erti di masa lalu. Melainka penting, minimal sebagai cara berterima akan sesuai dengan iklim kasih dalam etika "pergaulan" sesama ma: nis. Pemberdayaan tanam khluk hidup. dalam iklim industri akan Anak Agung Ketut Ibu Shintya, Sanur Lie She Hwa - Tin tin, Jl. Wonosaren No. 41-B Solo Jatang Jumlah yang dimuat hari ini Jumlah penerimaan sebelumnya Jumlah penerimaan seluruhnya Luh Gde Sudeni, Jl. Gunung Merbabu 1/5 SMANSA Denpasar Made Ardika, Jl. Tukad Pancoran Gg. 4b No. 15 Denpasar Anak Agung Ketut, Denpasar Lie She Hwa Tin tin, Jl. Wonosaren No. 41-B Solo Jateng Jumlah yang dimuat hari ini Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 5.011.650 untuk Komang Mardika, Penderita Tumor Mata 4 Rp 20.000 Rp 30.000 Rp1.601.000 Rp1.631.000 Rp 2.000 Rp 150.000 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 20.000 Rp 182.000 Ball Post/dok tanah Bali belum begitu menjadi komoditi pola-pola industri pariwis Ketika zaman masih agraris dan tanah hidupan orang Bali yang yang diperjual-belikan, upacara Tumpek misalnya, tanaman diberc Uduh termasuk salah satu upacara yang ter- wisata agro. Ini di samping penting. Ini berangkat dari realitas, kehidu- gayaan sumber penghasilan pan yang bertumpu secara ekonomis pada bisa menjadi alternatif bag tanaman produktif kala itu. Meski belum yang terkadang kelewat m kaitan bisnis semacam agrobisnis yang ada kebudayaan dan agamanya bisa dikatakan sebagai produktivitas dalam Bali mengorek-ngorek "peti saat ini. Paling tidak, di era agraris sesungguh- nya sudah tumbuh pola pikir agrobisnis. Kare- na hasil tanaman kala itu lazimnya dimanfaat- kan untuk kepentingan-kepentingan bersifat konsep penghargaan dan Dengan pemahaman mem ekonomis, antara lain untuk kelangsungan lingkungan sebagaimana di hidup sehari-hari, perdagangan, di samping ara Tumpek Uduh, serta pe secara vital mendukung aktivitas yadnya: sif akan eksistensi tanaman Jumlah penerimaan sebelumnya Jumlah penerimaan seluruhnya Rp4.829.650 Pura Eka Cita di Kapitan Ampenan, Rp 5.011.650 Pura Tirta Gangga Karang Baru di Na Agung Sebudi di Karangasem, Pura Bengkalis di Riau, Pura Desa Puse Dhali Agrahita di Malang, Pura Kert mangun di Jakarta, Pura Gelap di E Rp Indra Lokha di Jambi, Pura Dalem Wa man Karanganyar di Jateng, Pura- Giri di Surabaya, Pura Gunung Perm Pura Pucak Sangkur di Tabanan, PL Pagesengan di Mataram, Pura Melam Sragen-Jateng, Pura Maospahit di C Pucak Giri Raung di Banyuwangi, F Pura Agung Utara Segara di Kodya ho Padang, Pura Dharma Djati di Jatim, Bali, Pura Segara Tawangalun di Ba Dua, Pura Giri Shanti Bunana di Nga Hulun Danu Songan di Bangli, Pura P Made Ardika, Jl. Tukad Pancoran Gg. 4b No. 15 Rp 5.000 Agung Mulawarman di Kutai, Pura Wi Anak Agung Ketut, Denpasar Rp 5.000 Amerta di Banyuwangi, Pura Hargo Kab. Pekalongan, Pura Luhur Siwa P Agung Setya Darma di Dompu, Pura Tabanan, Pura Jagat Natha di Riau, P Dharma di Surakarta, Pura Pengube Mataram, Pura Jagat Hita Karana di Pura Pucak Mangu, Pura Melanting Pura Agung Weri di Larantuka. Mami Krisna Wirajaya, Sanur Rp 5.000 Hani & Wintan, Gianyar Rp 25.000 Jumlah yang dimuat hari ini Rp 40.000 Jumlah penerimaan sebelumnya Rp 1.766.500 Jumlah penerimaan seluruhnya Rp 1.806.500 DANA PUNIA Rp 1.214.500 untuk Wayan Gimbar, Buah Pelir Membesar Suarliepikat, Jl. Gunung Karang No. 9A Denpasar 50.000 Anak Agung Ketut, Denpasar Rp 5.000 Lie She Hwan Tin tin, Jl. Wonosaren No. 41-B Solo Jateng Rp 20.000 Jumlah yang dimuat hari ini Rp 75.000 Jumlah penerimaan sebelumnya Rp 1.139.500 Jumlah penerimaan seluruhnya Rp 1.214.500 Rp 1.806.500 untuk IGP Cakra, Penderita Kaki Gajah Color Rendition Chart PIAGGIO UANG MUKA Rp 595.500 untuk Pura D Pura Waikabubak di Sumba Barat, Pura di Irian Jaya, Pura Mandaragiri Semeru Agung di Jatim, Pura Dalem Siwa Prasta di Mataram, Pura Peti Tenget di Kerobokan, Pura Tengkulak di Tulikup Gianyar, Pura Ujung Desa di Mat- Ny. Sri Dewi & Son aram, Pura Lenteng Agung di Jakarta Selatan, Pura In- Senat Mhs. Fak. Teknik Unud draprasta di Surakarta, Pura Blambangan di Banyuwan Gede Diartha, JI. Noja G. Srirama V/1 gi, Pura Pancaka di Mataram, Pura Dang Kahyangan. Jumlah yang dimuat hari ini Majapahit di Ds. Baluk, Negara, Pura Bukit Indrakila diwumlah penerimaan sebelumnya Ds. Dausa, Kec. Kintamani, Kab. Bangli, Pura Bukit Dhar. Jumlah penerimaan seluruhnya ma Durga Kutri di Gianyar, Pura Dharma Sari di Mataram, Rp 8.387.800 untuk Pu Lebih baik naik VESPA Anda berani mencoba !!! O. MURNI Tanpa Biaya Apapun Berlaku untuk siapa saja Piaggio VESPA menjadi milik Anda TUNGGU..... APALAGI BURUAN DEH!!! MAIN DEALER: PT. Surapita Unitrans Denpasar J GATOT SUBROTO 345, Telp. (0361) 430141, 430143 PERWAKILAN LOMBOK WUAYA MOTOR, J. Selaparang 57c Cakranegara, Telp. (0370) 36479, 33919 SINGARAJA UD PERINTIS JAYA A Seroja 12. Teb (0362) 22678 DENPASAR VICKO MOTOR SUKSES, A imam Bonjol 303a Hp. 081, 138, 6757 DENPASAR GEBANG ELEKTRONIK & Raya Seseth 173/225 Baru Tep (0361) 221332 C 80077 *** Rp. Ny. Sri Asmi Mudana, Jl. Tukad Yeh Ay Made Agus Ariana, Jl. Catur Warga N Ny. Sri Devi & Son Senat Mhs. Fak. Teknik Unud Jumlah yang dimuat hari ini Jumlah penerimaan sebelumnya Jumlah penerimaan seluruhnya Rp 58.000 untuk Pura Tirta Ny. Made Sudiri Kerta, Jl. Sakura IV/3 C Senat Mhs. Fak. Teknik Unud Jumlah yang dimuat hari ini Jumlah penerimaan sebelumnya Jumlah penerimaan seluruhnya Rp 420.000 untuk Pura Agu STT Sadharana Dharma, 1DG R. Putra, Puri Jehem Bangli Jumlah yang dimuat hari ini Br. Pelasa Kuta Jumlah penerimaan sebelumnya Jumlah penerimaan seluruhnya Rp 2.639.500 untuk Pura Wa Jda Bagus Ngurah Oka, Gatot Subroto IV Ibu Trijata, Singaraja
