Tipe: Koran
Tanggal: 1983-04-16
Halaman: 07
Konten
Berita Yudha - Sabtu, 16 April 1983 KIN Sumbangan Pemikiran Firman Muntaco mengeluh, bahwa kesenian Betawi ditonton orang hanya dengan diakhiri anggukan kepala. Tulisannya di Sinar Harapan beberapa waktu yang lalu juga menyiratkan suatu keluhan tentang tak terurusnya Seni Tradisional Betawi. Saya kira Satyagraha Hoerip yang wartawan Sinar Harapan tidak terburu-buru ketika secara cepat menanggapi tulisan Firman Muntaco, bahwa orientasi dedengkot Seni Budaya Betawi itu kembali menyam- paikan "lama", nyaris tertinggal. Sebab, demikian Oyik, keluhan setiap budaya tradisional selama ini akan selalu sama saja, yakni sering kurang mendapatkan tanggapan dari pemerintah. Pada penggal pertama tahun 1976, sekelompok budayawan terutama pengamat budaya Betawi mengadakan lokakarya tentang perkembangan kesenian Betawi. Beberapa tokoh mengajukan kertas prasaran: kemudian dibahas, disang- gah, lalu disimpulkan. Di antara tokoh-tokoh tersebut antara lain Sumantri Sastro Suwondo, Abdur- rahman Suryomiharjo, Rusdi Saleh, Yulianti, B. Suryabrata dan lain-lain, membicarakan budaya Betawi dari segi-segi penelitian dan pengem- bangan. Bidang yang mereka pelajari antara lain: masyarakat Betawi (ter- masuk sejarah dari sejumlah migrasi), teater (total?) Betawi, Tari Betawi, adat istiadat Betawi dan sebagainya. Beberapa usulan yang kemudian dimanpaatkan, misalnya, adanya bengkel yang khusus mengelola seni budaya Betawi; adanya gedung per- tunjukan khusus seni (budaya) Betawi; perhatian pemerintah dan sebagainya. Mengintai Kesenian Betawi Sisi keras para pengamat budaya Betawi adalah mengadakan kembali penelitian; sokur tentang penonton televisi. Dan sisi lunaknya, bolehlah tetap mengeluh, tapi dengan ramuan baru, terutama hasil penelitian atau paling tidak hasil studi ringan. Satu kenyataan, bahwa setiap keluhan belum tentu ditanggapi secara serta merta oleh pemerintah. Satu keluhan- mungkin hanya ditanggapi oleh kawan-kawannya sendiri. Tidak diga- nyang lantaran kesalahan metode itu sudah untung. jukan kesenian Betawi di Taman Iz- mail Marzuki pada saat awal ber- dirinya (1968); pada saat ulang tahun pertama; dan kemudian secara bergiliran, sampai tahun 1972. Sejak itu - barangkali kesimpulan semen- tara-pertunjukan kesenian Betawi di Taman Izmail Marzuki menyurut, baik volume pertunjukan baik pula animo penonton. Namun demikian- tak boleh diabaikan hasilnya, yang menurut Sastro Suwondo: adanya kecintaan "baru" para penonton kesenian Betawi terutama kepada seniman-seniman panggungnya, yang pernah pentas baik di Taman Izmail Marzuki maupun di Televisi. Ciri Mengeluh Dugaan ciri mengeluh yang sama bagi para pengamat budaya daerah, seperti yang ditulis oleh Satyagraha Hoerip, saya kira merupakan ciri dasar. Suatu ciri yang sublim belum dipengaruhi oleh tantangan baru. Menyetujui pendapat Hoerip, keluhan terhadap pemerintah itu terutama ketika para pengamatan masing-masing pemilik budaya daerah belum sanggup meletakkan pandangannya yang tepat: apa sa- jakah tantangan itu? Namun jika misalnya Firman Mun- taco mengambil contoh media televisi (yang paling mampu ditonton oleh empok-empok yang gandrung lenong itu), saya pikir Firman Muntaco lupa bahwa setiap wajah hiburan daerah telah berubah menjadi hiburan "selera turis". Lucunya, turis yang disuguhi tontonan itu kini adalah bangsa kita sendiri. Bagi yang kurang puas tapi mereka adalah penghayat yang "idaman", tentu mereka akan mencari kepuasan dengan membaca atau mencari tahu kepada yang telah menguasai suatu wajah kesenian daerah tertentu. Akan tetapi, saya kira penonton terbesar kita adalah penonton yang (senang atau tidak) menonton begitu saja sambil mengharap kapan lagi tontonan semula ditampilkan lagi. Satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri yalah usaha Sumantri Sastrosuwondo sejak tengah ke dua tahun 1976, mengadakan penelitian terhadap kesenian Betawi. Usaha itu mendapat tanggapan dari Dewan Kesenian Jakarta (waktu itu masih embriyo), di antaranya uluran tangan oleh D.Djajakusuma. Sebagai Nah, ini merupakan tantangan hasilnya adalah serangkaian pertun- baru para pengamat budaya Betawi. Penonton Baru dan Seniman Baru Sejak jaman Republik, wilayah Geografis Jakarta meneruskan tradisinya menerima pendatang- pendatang baru Suatu hal yang dengan sendirinya membatasi pemikiran telanjang mengenai tetap utuhnya kebudayaan Betawi. Edi Sedyawati secara puitik sekali meng- gambarkan perubahan wilayah etnis Betawi sebagai: Terpisahnya satu kelompok Betawi dengan kelompok Betawi yang lain oleh sekat-sekat wilayah domisili "asing"(maskudnya belum tentu dari bangsa lain, bisa juga bangsa sendiri - penulis), sehingga hal ini mengurangi rebilitas jasa-jasa dan gagasan-gagasan antar sesamanya; dalam beberapa segi kebudayaan. Ungkapan Edi Sedyawati saya kira perlu ditambah: bahwa di Jakarta se- jak jaman Republik, telah tumbuh orientasi pemikiran baru yang dibawa oleh penduduk pendatang, yang langsung tak langsung akan mem- bawa pula kebudayaannya masing- masing, melestarikannya atau paling tidak menggunakannya sebagai obat rindu dan pelipur lara. dalam hal ini, termasuk juga budaya Betawi, pengelolanya boleh saja dilakukan oleh satu badan dan oleh "pekerja' yang sama, dan dengan sikap yang sama yaitu melestarikan budaya daerah masing-masing. Namun ada perbedaan mengenai masyarakat macam apa yang dituju. Saya kira kesadaran ini belum merupakan sim- pulan bagi para peserta lokakarya Perlambangan Dalam "Seni Wayang' salah satu garapan kembang topeng yang menyentuh penonton awam. Perlambangan dalam seni wayang terutama dalam figura-figura wayang purwa, telah mengalami proses modifikasi selama perkembangannya dari abad ke abad, dan dari generasi ke generasi hingga zaman ini. Pengaruh kebudayaan dan agama yang datang dari luar kepulauan In- donesia, seperti kebudayaan Hindu kuno dan agamanya, kemudian kebudayaan Islam dan agama Islam, menyusul kebudayaan Barat dan agama Kristen, masing-masing mem- punyai saham dalam alam pemikiran manusia Indonesia dan dalam pembentukan ide-ide yang dicer- minkan melalui berbagai lambang, atau simbol. Maka tidak mengherankan apabila pengaruh pengaruh semacam itu sedikit banyak memupuk inspirasi dan daya ima- ginasi golongan seniman-seniwati pewayangan di Indonesia, sehingga tercipta bermacam-macam bentuk wayang dan lakon-lakonnya yang berbeda satu dengan lainnya. Misalnya saja bila perkembangan seni wayang kami ikuti dari lahirnya wayang purwa (atau wayang kulit) yang lakon-lakonnya berdasarkan kedua epos Hindu kuno terkenal yaitu Mahabharata dan Ramayana dengan segala aspek kepercayaan mistiknya, jelaslah bahwa dalam hal ini sudah terjadi proses akulturasi yang bercermin pada lakon Kakawin Ramayana Jawa kuno dan Kakawin Arjunawiwaha, Kakawin Bharatayuddha. Nama raja-raja yang berjasa dalam mengindonesiakan naskah asli Ramayana dan Mahabharata itu secara berturut- turut ialah: Raja Dyah Balitung (898 - 1010) dan raja Cri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama (991 - 1007 M), dan untuk Kakawin Bharatayudha raja Jayabhaya (1135 - 1157). Kemudian dengan datangnya agama Islam di Indonesia,, tercipta yang dinamakan "wayang menak' dengan repertoire yang mengisahkan riwayat hidup 'wong agung menak' berasal dari tanah Arab; dan oleh Amat Kasan alias Kyahi Selamatan dri Surakarta diciptakan 'wayang dobel' dengan lakon-lakon yang mengandung unsur unsur agama seni-budaya Betawi pada awal tahun 1976 yang lalu. Saya tidak memberikan contoh yang rendah mutunya, misalnya jika setiap malam minggu kita mendengarkan radio swasta. Banyak di antara mereka yang sengaja menghibur dengan siaran wayang Jawa, wayang Sunda, Lenong, san- diwara bahasa daerah tertentu dan lain-lain. Sikap penonton yang (untuk sementara saya istilahkan) baru ini juga perlu dipikirkan. Bukan saja media semacam Televisi yang mengapresiasi "orang Betawi" terhadap tontonan daerah lain. Juga acara-acara tujuh-belasan di lapangan, dengna berjenis pertun- jukan dan gaya-gaya, telah menam- bah jumlah hiburan 'orang Betawi". Hal yang sama, pemilik hiburan san- diwara Lenong misalnya, bukan lagi milik sepenuhnya orang Betawi. Saya bahkan berani memberikan contoh bahwa orang daerah yang tinggal didaerah, akan senang juga melihat Lenong dengan kekuatan "merakyat- nya" yang khas. Mengakhiri sub judul ini, bisa diketengahkan pula bahwa seniman yang melakukan pengolahan serta pematangn kesenian Betawi, bukan lagi khusus ditandangi oleh orang Betawi. Djoko Sukosadono dari Pusat Pengembangan Kesenian Jakarta misalnya, paling tidak telah mementaskan garapan tari Betawi, berjudul Gado-Gado Jakarta dan Bebodoran Betawi beberapa waktu yang lalu. Padahal Djoko SS ini berasal dari kematangan budaya dan tari Jawa, yag juga akan sama nilainya, ketika ia menggarap tari Jawa. nama lain misalnya drs. Budiaman dan Husein Wijaya (dua- dua orang Sunda) juga telah meng- garap secara serius seni dan Budaya Betawi. Terhadap hal ini, saya tidak akan "nakal", dengan memper- tanyakan seberapa jauh wibawa Lem- baga Kebudayaan Betawi terhadap tokoh-tokoh yang saya sebutkanı barusan. Yang jelas, suatu rangkulan administratif pada tarap permulaan- nya saja telah memercikkan kesan yang baik dari LKB terhadap masyarakat. Suatu lembaga seperti LKB sebenarnyalah suatu tempat un- tuk mengorek, menyemaikan, menanam dan memasyarakatkan, baik ide-ide maupun cara memperkembangkan seni-budaya Betawi. Mencari Dan Memantapkan Sofistikasi Dengan mencari sofistikasi, dan kemudian memantapkannya, bekal saya selama ini tentu hanya sebagai pengamat yang tak dikenal dan ber- diri di belakang. Istilah sofistikasi saya perkenalkan sebagai artian aktif dari sofisticated (yang telah saya In- donesiakan), sebagai gantinya istilah "njlimet" (Jawa) yang sangat jang- gal jika ditambah dengan awalan maupun kombinasi pean. Sofistikasi tentu saja dilakukan di bengkel seni. Kesenian Betawi sendiri baru secara aktif mengenal istilah bengkel menjelang tahun 1970, misalnya bengkel yang didirikan oleh SM Ardan. Akan tetapi yang namanya grup kesenian, baik itu tari, teater maupun grup lainnya, senan- tiasa ada pada seniman Betawi. Oleh: Mubirman Islam. Setelah itu belakangan ini diciptakan 'wayang katolik' dan 'wayang wahyu' dengan lakon- lakon tentang lahirnya Adam dan Hawa oleh Yang Maha Esa; lahirnya Nabi Isa al Masehi, dsb. Tak terting- gal juga pengaruh sosial-politis yang menghasilkan terwujudnya 'wayang suluh' dan 'wayang Pancasila dengan lakon-lakon dari sejarah pen- jajahan imperialis Belanda sampai zaman revolusi Inonesia ketika rakyat Indonesia membebaskan diri dari cengkeraman kaum kolonialis. Selain dari itu juga mitos kuno yang diselubungi oleh alam mistik In- donesia dengan kepercayaan pada ex- istensi Nyahi Loro Kidul, kini masih hidup dalam alam pemikiran sebagian masyarakat dipulau Jawa. Pengaruh mistiknya jelas pada lakon- lakon dalam Wayang Dupara yang sebagiannya mengisahkan riwayat Nyahi Loro Kidul yang berkuasa di Samudera Selatan, Ceritera-ceritera legendaris mengenai riwayat pahlawan Pangeran Dipanegara, Sunan Kalijaga, dll, juga menjadi bagian repertoire 'wayang dupara'. Masih banyak lagi jenis wayang yang lahir dari konsep atau ide baru, dan diperlambangkan dengan bermacam- macam figura dan boneka, antara lain 'wayang tengul', wayang pakuan, wayang beber. WAYANG GOLEK, jenis wayang yang paling populer di kalangan rakyat di propinsi Jawa Barat. Ben- tuk boneka-bonekanya pada umum- nya mirip dengan bentuk wayang kulit (purwa), hanya boneka-boneka wayang golek berbentuk tridimensio- nal dan dibuat dari kayu. Selain dari lakon-lakon yang diambil sarinya dari buku Mahabharata dan Ramayana juga dipertunjukkan lakon-lakon dari 'Serat Menak' dan ceritera-ceritera dari negeri Arab. WAYANG JAWA, pernah dipertun- jukkan dalam abad ke-20., Penciptanya R.M.Ng. Dutadipradja dari Solo (Surakarta), kira2 dalam tahun 1937. Bentuk boneka2nya mirip dengan bentuk boneka2 wayang golek Jawa atau wayang tengul. Ceritera2nya mengenai masalah2 yang sedang atau yang sudah lewat, masalah2 sosial dan budaya, juga yang bersifat politis. WAYANG TENGUL * Jawa. wayang WAYANG WAHANA, penciptanya R.M. Sutarta Hardjawahana dari kota Surakarta juga. Bentuk boneka- bonekanya berbeda dengan bentuk boneka-boneka wayang kulit, karena bersifat lebih naturalistis. Boneka- boneka lelaki banyak yang memakai topi, peci diatas kepalanya dan memakai sarung plekat biasa atau celana panjang. WAYANG KATOLIK, tercipta sekitar tahun 1960 di kota Surakarta juga, dengan inisiatip Bruder Mard- ji Wignjasoebrata. Pertunjukan wayang Katolik ini diiringi oleh orkes gamelan yang berdasarkan chromatis selendro, dilengkapi dengan sebuah gong suwukan dan gambang. Ceritera-ceriteranya bersifat religieus dan menggambarkan lakon peperangan antara malaikat baik melawan malaekat jahat. Lakon lahirnya Adam dan Siti Hawa oleh Yang Maha Kuasa. Lahirnya Nabi Isa al Masehi, dsb... Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa dalam naskah-naskah kuno dalam bahasa Kawi yang tidak jelas penyusunnya pernah disebut tahun penciptaan wayang kulit atau wayang purwa dari berbagai sumber yang diperhitungkan denan cara Candrasengkala atau WEES FIIL! Saya dalam hal ini tidak menunjuk kelemahan kesenian Betawi yang belum pernah mengalami masa keemasannya misalnya dengan peng- garapan dan penitik beratan pada sofistikasi sepanjang perkembangan- nya. Sehingga belum juga mengklafikasikan misalnya seni klasik dan non-klasik Betawi. Namun saya kira perlu diakui bahwa pemikiran mendalam mengenai sofistikasi belum ada dalam pemikiran. Hal ini janganlah lalu di- - jawab dengan secara mengulang- ulang menyalahkan masa lampau, antara perkiraan peristiwa2, gejala2, dan benda2 dengan angka-angka. Jelasnya adanya semacam korelasi (correlation) segala phenomena didunia ini dengan urutan angka-angka. sebagai contoh dapat dikemukakan disini ciptaan Sultan Agung Hanjakrakusuma dari kerajaan Mataram yang melukiskan wayang raksasa Danawa Rambut Geni dan Danawa Endog. Kedua Figura itu diselesaikan dalam tahun Jawa (Caka) 1563. Can- drasengkalanya adalah: "URUBING (3) wayang (6) gumuling (5) tunggal (1). Dalam hal mana angka2 yang menyertai setiap kata itu harus dibaca dan dimulai dari kata terakhir dan seterusnya. Masih banyak lagi jenis wayang berbentuk boneka yang baik penciptanya maupun tanggal pem- buatannya tidak diketahui dengan kepastian. Misalnya saja wayang golek yang terkenal di Jawa Barat sebagai satu2nya jenis wayang yang paling populer dikalangan rakyat di propinsi Jawa Barat. Bentuk boneka2 wayang golek pada umumnya mirip dengan bentuk wayang kulit (purwa). hanya boneka2 wayang golek berben- tuk tridimensional dan dibuat dari kayu. Selain dari lakon2 yang diam- bil sarinya dari buku Mahabharata dan ramayana juga dipertunjukkan lakon2 dari 'Serat Menak' dan ceritera2 dari negeri Arab. Kemudian dalam abad ke-20 ini juga pernah dipertunjukkan jenis wayang yang dinamakan wayang Jawa. Pencip- tanya ialah R.M. Ng. Dutadipradja darikota Solo (Surakarta), kira2 dalam tahun 1937, Bentuk boneka2nya mirip dengan bentuk boneka2 wayang golek Jawa atau wayang tengul. Ceritera2nya mengenai maslah2 yang sedang atau yang sudah lewat, masalah2 sosial dan budaya, juga yang bersifat politis. Kemudian tercipta yang dinamakan wayang wahana. Pencip- tanya ialah R.M. Sutarta Hard- jawahana dari kota Surakarta juga. Bentuk boneka2nya berbeda dengan bentuk boneka2 wayang kulit, karena bersifat lebih naturalistis. Boneka2 lelaki banyak yang memakai topi, peci diatas kepalanya dan memakai sarung plekat biasa atau celana pan- jang. Akhirnya muncul yang dinamakan wayang Katolik yang ter- cipta sekitar tahun 1960 dikota Surakarta juga, dengan inisiatip Bruder Mardji Wignjosoebrata. Per- tunjukan wayang katolik ini diiring oleh orkes gamelan yang berdasarkan chromtis selendro, dilengkapi dengan sebuah gong suwukan dan gambang. Ceritera2nya bersifat religieus dan menggambarkan lakon peperangan antara malaekat baik melawan malaekat jahat. Lakon lahirnya Adam dan Siti Hawa oleh Yang Ma- ha Kuasa. Lahirnya Nabi Isa al Ma- sih dsb.. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa dalam naskah2 kuno dalam bahasa Kawi yang tidak jelas penyusunnya pernah disebut tahun penciptaan wayang kulit atau wayang purwa dari bebagai sumber yang diperhitungkan dengan cara Candrasangkala atau perkiraan peristiwa, gejala2, dan benda2 dengan angka-angka. Jelasnya adanya semacam korelasi (correla- tion) antara segala Phenomena didunia ini dengan urutan angka- angka. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini ciptaan Sultan Agung Hanjakrakusuma dari kera- jaan Mataram yang melukiskan wayang raksasa Danawa Rambut Geni dan Danawa Endog. Kedua figura itu diselesaikan dalam tahun Jawa (Caka) 1563. Can- drasengkalanya adalah: "URUBING (3) wayang (6) gumuling (5) tunggal (1). Dalam hal mana angka2 yang menyertai setiap kata itu harus dibaca dengan dimulai dari kata terakhir atau yang paling belakang dan seterusnya. Dengan perkiraan tahun wayang beber pacitan. (photo: 6000 - M). apalagi menyalahkan sifat migrasi di masa lampau. Kesenian Jawa - tari - misalnya, ada yang tumbuh kemudian dibiarkan liar dan bebas berkembang, dan ada yang digarap, ada kesenga- jaan sofistikasi dari pihak kraton. Tari Bali dan Sunda demikian juga. tari Bali, misalnya, entah apa sebab- nya demikian ketat dengan usaha- usaha sofistikasi, padahal kehidupan kraton di Bali tak seabadi kehidupan kraton di Jawa. Dan kesenian Sun- da paling tidak ditunjang oleh kraton kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. Halaman VII Фил Keluddgam Candrasengkala diciptakan suatu figura khas yang menggambarkan Dewi Bhatara Dhurga yang mengenakan baju, celana, keris dan sepatu, yaitu oleh Susuhunan Paku buwana II dari Kartasura. Urutan angka dengan kata2 yang relevant (dimulai membacanya dari belakang untuk angka2) adalah: "Wayang (6) misik (5) rasaning (6) widadari (1). Jadi dalam tahun 1656. SUSUNAN PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DENGAN IR- INGAN GAMELAN. A. Setiap wayang pergelaran wayang kulit itu dimulai dahulu dengan yang dinamakan 'talu' atau preluda. Ir- ingan musik gamelan dinamakan 'gending cucur bawuk' (laras patet 6), yang kemudian dapat beralih keirama 'manyura' (manyura berarti seekor burung merak yang menjerit-jerit diwaktu tengah malam). B. HELAT, yang berarti sesuatu yang akan diperjuangkan dan yang berten- tangan dengan kepentingan masing2 pihak sehingga terjadi konflik antara kedua pihak yang bersangkutan. Bagian lakon ini biasanya diiringi dengan lagu 'Serepengan'. C. PERUBAHAN SUASANA, yang berlangsung mulai dari tengah malam (kira2 jam 24.00 W.I.B.) Perubahan suasana ini dijelaskan dengan adanya 'gara-gara' berupa yang dinamakan 'perang kembang'. Musik orkes gamelan yang mengiringinya berirama 'laras patet 6' pada per- mulaan dan kemudian beralih ke 'laras patet manyura' untuk berakhir dengan 'laras patet sanga (9). D. BAGIAN PENGURANEN (denouement), sebagai bagian penutupan acara pertunjukan wayang seluruhnya. Bagian ini dapat dijelaskan seperti semacam synthese dari segala peristiwa2 yang men- dahuluinya, dan sekaligus merupakan juga suatu analisa. Isi atau pokok ceritera wayang itu menjadi lebih jelas dengan adanya bagian penutupan ini. Musik iringannya berirama 'laras patet manyura'. Penjelasan mengenai C. Yang dinamakan 'gara-gara' (baca: 'goro-goro') itu diperlam- bangkan dengan adanya perang< gagal' yang secara psychologis terwu- jud dalam pribadi setiap pemuda dalam masa pubertas. Peralihan kea- daan jiwa mental dari masa ketidak- sadaran kemasa kesadaran jiwa merupakan tema inti dalam sifat 'gara-gara' semacam pancaroba dalam keadaan mental setiap pemuda-pemudi diperlambangkan dengan adanya konflik antara pihak raksasa (atau pihak yang murka) dengan pihak yang berbudi (figura2 Pandawa). Konflik ini berlangsung terus selama manusia itu hidup dalam dualisme yang berakhir selalu dengan keseimbangan kekuatan kedua pihak (yang baik dan yang buruk). Kepriba- dian manusia itu ternyata terbelah menjadi dua bagian. hal ini diperlam- bangkan antara lain dengan figura dwi-tunggal Sadewa dan Nakula dari grup Pandawa. selanjutnya dalam lakon 'Dewaruci' dengan peranan utama dari Bhima atau Bratasena. Jika toh sejak tahun 1950-an berdiri sekolah-sekolah kesenian, itu adalah suatu manifestasi pemikiran yang wa- jar, baik di Bali, Sala, Jogja, mapun di Bandung: kenapa tidak didirikan Konservatori? Barangkali orang akan segera ber- tanya diri, kenapa yang dulu kesenian Betawi terbentuk seperti acara-acara spontanitas? Konon, Lenong itu mula-mula tumbuh sebagai hiburan para pedagang (dan dari para pedagang pula) di pasar. Sebagai pasar, tentu saja tak hanya didatangi oleh orang-orang Betawi saja. (S. Hadis).
