Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-05
Halaman: 10
Konten
Senin, 5 Januari 1998 CERPEN & PUISI Pelajaran Bahasa Oleh: Danil Eneste "Iya, memang dia bisa me ngawasi kebiasaan berbahasa kita setiap saat? Ada-ada saja pak guru itu." DOKTORANDUS PRAKO SO, sudah hampir setengah tahun bekerja di sekolah menengah umum itu. Sebagai guru bahasa. Sesuai dengan disiplin ilmu yang diperolehnya semasa kuliah dahulu. Sebagai seorang guru bahasa, Prakoso benar-benar menunjukkan dedi kasi dan kon- sistensi tinggi pada pelajaran. Dalam mengajar ia tak ingin ber- buat keliru, apalagi dengan se ngaja melakukan penyimpangan atau pelecehan terhadap bahasa. "Karena bahasa mencermin kan bangsa, kalian harus mem pergunakan bahasa secara baik dan benar," katanya ketika memberi pelajaran di depan ke las. Murid-muridnya hanya diam. Sebagian ada yang manggut - manggut. Tapi ada juga yang nyengir-nyengir dan senyum- senyum tak karuan. Bagi kebanyakan murid se kolah menengah umum itu, gaya mengajar Prakoso dianggap terlalu kaku. Tidak sesuai dengan situasi sekarang ini. Tidak sesuai dengan era globalisasi dan moder nisasi. "Tehnik mengajarnya sudah kuno. Norak lagi." "Iya, mestinya dia lebih fleksibel." "Masak dalam percakapan sehari-hari, kita disuruh ber- bahasa yang baku, kan nggak masuk akal itu." NAMAKU bayangan, yang se lalu menjadi orang kedua dalam lakon kenyataan hidup. Aku ha- nyalah pengikut, aku hanyalah suatu sosok pelengkap penderita dalam perjalanan panjang ini. "Aku benci dengan posisiku sekarang ini," kulemparkan keke- salanku selama ini kepada sebuah bentuk bayangan lain di sebelah. "Mengapa?" Bentuk yang lain itu bertanya keheranan. "Aku enggak mau hanya men- jadi pelakon pasif dalam percatur- an hidup ini. Kamu sendiri tahu, selama ini kita-kita hanya berpe- ran sebagai pengikut dari tuan ki- ta. Jadi dapat dibilang, kita ha- nyalah anak buah yang setia' dari tuan kita". Dialog Bayangan Oleh: Frans X.I "Siapa yang kamu maksud dengan sang tuan?" Sosok bayang an itu menyodorkan sepotong per- tanyaan yang membuatku menci- bir ke arahnya. "Siapa lagi? Sang tuan itulah yang selama ini menentukan hi- dup mati kita. Dia juga yang me- nentukan langkah-langkah apa yang bakalan kita jalani. Bagai- mana mungkin kamu enggak ta hu?". "Mungkin saja aku enggak ta- hu, karena mungkin selama ini aku enggak menyadarinya". Polemik berkembang di kala ngan murid. Bagi mereka apa yang diberikan Prakoso, sebenar- nya sudah bagus. Tapi mestinya mereka tidak diharuskan mengi kat diri dengan hal-hal baku, yang justru bisa merusak komunikasi antarindividu dalam kehidupan sosialisasinya. Apa lagi, mereka generasi yang baru beranjak remaja dan masih me merlukan adaptasi dalam ber- masyarakat. Timbal balik komu- nikasi itu sangat berpengaruh bagi proses pendewasaan oleh rasa, pi- kiran dan tindakan. "Ah.....lihatlah tuanku ini. Se- tiap saat dia memegang tombol untuk menentukan terang tidak- nya suasana sekeliling kita. Setiap saat dia juga yang berhak menen- tukan kehadiran maupun ketidak- hadiran kita" Aku melengos kesal. Sebenarnya Prakoso sadar ten- tang berkembangnya polemik seputar dirinya di kalangan murid. Tapi seolah-olah dia tak mengubris hal itu. Dia tetap ber- sikukuh dengan prinsip dasar tehnik mengajarnya. Dia merasa harus tetap konsisten dengan apa yang sudah dilakukannya sejak awal. "Mungkin sudah nasib kita begini". Temanku itu berusaha memberikan tambalan mental ba- gi kebocoran asaku. "Tapi aku benci dengan sikap apatis. Aku enggak suka hanya bersikap menerima semuanya apa adanya. Lihatlah, sekarang kita sudah mencari boneka bagi tuan kita. Kita selalu menjadi orang ke- dua. Aku bosan dengan semua ke- adaan ini. Aku muak dan jenuh!". Sebab dengan begitu, dia merasa wibawanya sebagai seorang guru akan tetap terjaga. Dia tak perlu terpengaruh oleh situasi yang berkembang dan kemauan murid. Baginya, hal-hal seperti itu apabila dibiarkan malah bisa meremehkan citra seorang guru. Bahwa di sekolah tam jika suatu permasalahan muncul?. Ha....ha....ha....! Aku tertawa keras sendiri, membayangkan bahwa aku sendiri secara per- lahan-lahan, menjadikan diriku hampir menyerupai tuan-tuan yang berada di ruangan ini. Tuan- tuan di ruangan ini juga, setahu- ku merupakan para pakar dalam hal mencari kambing hitam yang paling hitam atas setiap kelahiran permasalahan. Enggak salah toh, kalau kubi- lang aku ini sebagai pengikut se- tia para tuanku? Pemikiran ini yang membawaku kembali ke per- masalahan di mana aku mempro- tes keberadaanku sebagai orang kedua. Aku ingin menjadi orang pertama, suatu di mana tuanku sedang berpijak sekarang ini. Banyak bentuk bayangan lain di ruangan itu mulai tertarik men- dengar pembicaraanku dengan te- man bayanganku. Kutebar pan- dangan ke sekeliling, berharap mendapat dukungan dari puluhan ataupun ratusan bayangan lain di sana. Namun tak ada satupun se- nyum atau anggukan yang kura- sakan sebagai aba-aba dukungan padaku. Berarti aku hanyalah sen- diri saja di sini. Sendiri dalam pendirian dan pendapatku yang memang kurasa cukup keras. Berikutnya, aku mulai mela- kukan analisa ulang. Siapakah aku selama ini? Aku hanyalah bayangan dari seorang tuan yang selalu berdasi lengkap dengan penjepitnya dan tampil elegan di setiap kesempatan. Setahuku, tuanku adalah tangan kanan dari seorang tuan pemimpin lainnya. Tuanku selalu mendapat bangku di samping tuan pemimpin itu. Makanya aku sering dapat berdis- kusi dengan bayangan tuan pe- mimpin, yang kebetulan kurasa le- bih dapat mengerti isi hatiku di- bandingkan bayangan lainnya. Lantas, di manakah sebenar- lalu nomor dua, sesudah tuanku. nya posisiku selama ini? Aku se- Sehingga dengan terpaksa, mau tidak mau, aku harus mengikuti semua tindakan tuanku. Aku tak tahu apakah ini juga yang disebut membeo. Tapi yang penting aku tak dapat merasakan kesenangan dengan mengikuti semua tindakan tuanku. Sekarang, aku kembali ke po- kok permasalahan semula, yak ni: siapakah yang lebih pantas dan lebih gampang dijadikan kambing hitam untuk masalah ini?. yang mesti dituruti adalah pe raturan guru, bukan keinginan murid. Baginya merupakan se suatu yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Toh, sampai saat ini, pihak yayasan tak pernah menyoal cara nya mengajar. Begitu juga dengan guru guru yang lain. Mereka malah mendukungnya. "Hei, teman! Apakah selama ini kamu tidak merasa, kita ini ha- nyalah seekor beo yang harus me- nuruti semua tindakan tuan kita?" Hanya bayangan di samping- ku yang masih memberikan sum- bangsih moralnya, dengan melem- parkan sebuah senyum penuh ar- ti. Hal itu membuatku merenung panjang, mencari titik di mana se- benarnya letak kesalahan yang ada. Atau dengan kata lain, sebe- tulnya pihak mana yang lebih pantas menjadi kambing hitam. Bukankah sudah menjadi ke- biasaan (lebih tepat disebut : ke- budayaan) bagi kita, untuk sece- pat mungkin mencari kambing hi- "Mestinya kalian sadar, ini masalah bahasa. Sesuatu yang menjadi landasan perjuangan dan pembangunan bangsa di mata du nia, Kenapa kita enggan mem- banggakan bahasa kita sendiri dan malah suka melecehkan nya?". Prakoso menyampaikan we- jangannya di depan kelas, di hadapan murid-muridnya yang tetap saja tak bersemangat menerima pelajaran darinya. Seperti sejak pertama dia menga- jar bahasa lima bulan lalu. "Kalian tahu, di Australia, Meksiko, Selandia Baru dan beberapa negara lain, bahasa kita dipelajari secara serius. Kenapa kita malah suka menganggap re meh bahasa sendiri?". Murid-muridnya tetap saja tak bersemangat. Mereka pura-pura sibuk mencatat entah apa. Seba gian ada yang menyembunyikan cibiran. Dia tak perlu heran, apalagi sampai pusing kepala. Dia tetap saja memberikan pelajarannya seperti biasa. Seperti saat pertama nerima keadaan ini apa adanya. Kita ini hanyalah bayangan, ha- nyalah orang kecil dari lautan ke- hidupan ini. Tak mungkin kita bi- sa melawan arus besar. Kalau ka- mu masih belum puas, cobalah berkomunikasi dengan tuanmu, mungkin dia akan memberiku penjelasan". Sahabatku itu berka- ta panjang lebar. "Ya, mungkin saja kamu benar". "Si...siapa itu?". "Ini aku, Tuan....bayanganmu, jangan melihat jauh-jauh, aku be- rada tepat di belakangmu sebagai- mana biasanya". Aku berusaha menenangkan tuanku yang keliha- tannya mulai panik itu. "Ini aku, Tuan....bayanganmu, jangan melihat jauh-jauh, aku berada tepat di belakangmu seba- gaimana biasanya". Aku berusa- ha menenangkan tuanku yang ke- lihatannya mulai panik itu. "Kau....? Bagaimana kamu sa bicara?". "Ah, itu bukanlah suatu ma- salah! Yang penting sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan pa- da Tuan". Kulihat tuanku mulai tenang sedikit. "Apa yang mau kautanya Akhirnya di dalam ruangan yang penuh sesak itu, aku melihat para tuan-tuan pemilik bayangan itu bergerak meninggalkan tem- patnya masing-masing. Pulang. Dan ini mungkin kesempatan ba- giku untuk memulai berkomuni- kasi dengan tuanku. Beliau berja- bat tangan dengan muka cerah, lantas mulai berjalan dengan le- su keluar dari ruangan tersebut. Kemudian menuju pintu bela- kang, dan keluar secara diam-nya sipenanya dengan takjub. Bukankah saat ini merupakan waktunya untuk belajar bahasa, Pak?". Ada seorang murid yang ber- tanya, setelah beberapa menit suasana hening itu berlalu. Prakoso terkesima. Diperhatikan diam melalui lorong yang hanya bercahayakan lampu remang-re- mang. Kepalanya menunduk, da- sinya terkulai lemah. Aku yakin tuanku sedang murung. "Tuan....Tuan....dapatkah kau mendengar suara saya, Tuan?". Sejenak tuanku terhenti dan memandang ke sekeliling. Abas, dia kenal betul anak itu, sebab dia selalu bersikap antipati terhadap pelajaran bahasa. Abas paling tak suka berbahasa secara baik dan benar. Bahasanya terlalu pasaran. Tak perduli dengan si apa. Paling tidak, begitulah penilaian Prakoso selama se tengah tahun ini. bi- kan?". Terbukti, selama hampir setengah tahun dia mengajar, tidak seorang pun muridnya menunjukkan perkembangan me muaskan. Malah, nilai ujian semester untuk pelajaran bahasa, sangat mengecewakan. Padahal, di banding dengan pelajaran lain, sebenarnya pelajaran bahasa relatif lebih gampang. Tentu saja itu tidak me- nyenangkan Prakoso. Dia merasa telah gagal melaksanakan strategi mengajarnya, sehingga apa yang diusahakannya selama setengah tahun ini menjadi sia-sia. Murid muridnya bukan semakin pintar, malah bertambah bodoh. Sema kin membenci pelajaran bahasa, dan semakin tidak suka padanya. Jika dibiarkan terus, tentu situasinya akan semakin parah. "Selamat pagi." Seperti biasa, Prakoso selalu mengucapkan kata itu ketika memasuki ruangan kelas. Dia datang agak terlambat. Aneh, pikirannya. Tak ada sahutan dari para murid. Prakoso mengedar kan pandang ke seisi ruangan. Satu persatu diperhatikan wajah murid murid, lalu mengulangi salamnya. Tetap tak ada sahutan. Prakoso hanya tersenyum me nyaksikan keadaan itu. Dia tak berusaha untuk marah. Dia harus bersikap lebih ramah, lebih fleksibel, seperti yang diinginkan kebanyakan muridnya. Mulai hari ini, dia telah beren- cana untuk merubah tehnik me ngajarnya yang dianggap terlalu kaku. "Jadi, bagaimana kalau aku tidak puas dengan keadaan yang ada selama ini?". membuat kening tuanku berkerut. "Memangnya kamu ingin men jadi apa?" Tuanku balik bertanya. Dari semua pertanyaannya, hanya dibalas dengan sebuah pertanyaan kembali. "Kalian semuanya pengecut! Kulihat dia dengan pandangan ingin berada di depan dan mem- Tidak dapat berdiri dalam keya- tajam, kinan sendiri!" Aku membentak keras, meneriakkan amarahku. "Aku memang merasakannya, namun semua itu kurasakan seba- gai suatu kewajaran saja. Tidak bersifat mendikte bagiku dan jú- ga tidak membuatku kesal". "Kami bukannya pengecut, ta- pi mungkin kamu yang enggak bi- sa menerima kenyataan. Ingatlah bahwa tanpa adanya sang tuan yang kamu maksud itu, maka ki- ta juga enggak bakalan ada. Kita terlahir seiring dengan kehadiran mereka, sehingga kita dan sang tuan yang kamu maksud adalah kodrat yang berdampingan. Ja- nganlah menolak kodratmu". Per- nyataan itu dilemparkan dari su- dut ruangan atau suatu bentuk bayangan yang selama ini banyak berdiam. Cukup keras juga, mem- buatku terpojok. dia mengajar di sekolah itu. Se perti hampir setengah tahun lalu: Dengan tehnik mengajar yang ba ginya cukup efektif untuk mening katkan kecintaan murid terhadap bahasa sendiri. "Aku ingin menjadi orang per- tama, aku tak mau hanya menja- di beo bagi dirimu. Aku juga Seperti apa yang diajarkan oleh gurunya semasa dia sekolah dulu dan berlanjut sampai bangku kuliah. Tehnik mengajar yang menomorsatukan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Tehnik mengajar yang justru tidak disenangi oleh sebagian besar muridnya!. "Tuan, aku hanya ingin berta- nya....mengapa selama ini aku ha- nyalah menjadi orang kedua. Se- lalu satu langkah di belakangmu. Selalu membeo dan mengikuti se- mua perbuatanmu. Selalu sebagai pelengkap penderita bagimu", Ku- cecarkan semua peluru-peluru ta- Apakah aku sendiri yang sa- lah? Atau tuanku? Atau keadaan Warga desa mencari lokasi stra tegis. Mereka meletakan rajut yang bersalah? Ah....semuanya jam pertanyaan, yang sempat perangkap, diperkirakan pada membuatku makin pusing saja. Tapi ada baiknya juga, kalau ku- tanyakan kepada temanku yang merupakan bayangan sang tuan pemimpin. kawasan lalu lintas binatang buas itu. Moncong rajut perangkap, di hadapkan ke matahari mati, di pasangkan pada malam hari. Ra- jut perangkat itu, ditambatkan pada dua batang kayu sejajar. Tidak lebih dari tiga meter, sebagai penahan sekiranya bina tang buas terperangkap itu beron- tak dengan melambungkan diri lokasi penangkapan. Sekira setengah meter di ujung rajut perangkap itu dibuat kamar ditutup dengan anyaman rotan. Dipersiapkan, untuk tempat seekor kambing sehat, dijadikan umpan. buat suatu terobosan, mengancur- kan semua kebiasaan buruk yang ada selama ini. Aku ingin puas dengan lakonku!". "Tapi, apakah kamu senang kalau kita selamanya begini terus menerus?", Anehnya, tuanku hanya terse- nyum dan menggeleng-geleng se- telah mendengar semua tuntutan- ku. Aneh! Gila! Padahal aku su- dah berharap tuntutanku akan -"Kalau dibilang senang sih.... membuatnya pucat pasi, kehilang- enggak. Tapi aku tidak melihat an keseimbangan dan limbung. adanya permasalahan dengan ke- "Mengapa Tuan hanya terse adaan yang selama ini. Percaya- nyum?". lah, kalau sesuatu hal itu dijalani terus menerus, pasti akan menja- di kebiasaan. Lihatlah tuan-tuan kita yang selama ini sering berko- lusi, korupsi, manipulasi dan me- lakukan semua kegiatan illegal lainnya. Dari suatu hari ke hari yang lain, dari suatu kegiatan hingga kegiatan yang lain. Akhir- nya mereka menjadi terbiasa dan tidak menganggap perbuatan me- reka itu sebagai sesuatu yang janggal lagi". Aku terdiam beberapa saat ka- la mendengar penuturan sahabat- ku itu. "Hari ini tidak ada pelajaran bahasa." Tiba-tiba saja Prakoso berkata dengan suara keras. Murid murid nya sontak terpengarah. Mereka saling berpandangan heran. Pra koso berjalan mengitari ruangan tanpa berkata-kata lagi. Suasana kelas mendadak sunyi. Tak ada berisik. Hanya desahan napas yang terdengar. "Aku tersenyum hanya karena heran padamu. Mengapa kamu memilih ingin menjadi seperti aku? Padahal selama ini aku ju- ga penuh dengan posisiku. Aku juga selama ini berada pada bayang-bayang sang pemimpin. Aku juga orang nomor dua. Aku juga hanya mampu membeo se- mua yang dilakukan mereka sela- ma ini. Aku juga tak mampu me- Tuanku orang nomor dua, tuanku hanyalah pengikut setia saja. Lantas bagaimana lagi de- ngan aku ini?. "Cobalah berupaya untuk me- (Medan 1997) RAJUT perangkap binatang buas, baru siap. Terbuat dari rotan muda ukuran sedang, dianyam berbentuk sebuah keranjang. Memanjang hampir mirip keran- jang pembawa babi hidup, agak menyempit ke ujung. Panjang badannya, dua setengah kali lipat keranjang babi. Moncongnya sebagai pintu, juga dua setengah kali moncong keranjang babi. Pembuatan keranjang rajut pe rangkap itu, meminta pendapat beberapa tukang keranjang mau pun orang-orang yang mengeta hui sifat-sifat binatang buas. Apalagi dalam upaya untuk me nangkap binatang buas itu. Pesta Pembalasan Oleh Lazuardi Anwar Moncong rajut perangkap itu, dilingkari dengan tali kuat. Kalau ditarik, dapat mengatup sehingga binatang yang terkurungdi dalam, sulit keluar. ANALISA Tapi saat ini justru dengan fasih Abas melontarkan per- tanyaan itu. Bahasanya sangat baik dan sopan. "Memang benar. Tapi kita tidak akan belajar bahasa," jawab Prakoso setelah agak lama berpikir. "Kenapa tidak, Pak? Bagai bagai persoalan tentang pelajaran bak. Para peronda bingung. mana dengan ujian kami nanti, sekarang saja sudah tak me muaskan, apalagi kalau kami tak belajar bahasa." bahasa akan dapat diselesaikan tanpa menunggu waktu setengah tahun. "Iya, Pak, bukankah di Australia, Meksiko, Selandia Baru dan beberapa negara lain, bahasa kita dipelajari dengan serius, kenapa kita tidak?". Sudahlah, tak ada gunanya menyesal, pikir Prakoso. Lebih baik dia menunggu apa yang akan dihasilkan para murid dalam ben- tuk karangan. Dia membayang kan, tentulah mereka akan bercerita seputar persoalan rema- Mereka tak berpapasan apa-apa tadi malam. Sebagian penduduk desa curiga, perempuan itu adalah gundiknya Pak Kades. Sebagian lain mengatakan, janda kembang desa seberang yang diisukan sebagai tokoh bursa seks. Namun ada lagi yang ngomong, perem- Lagi Prakoso terkesiap. Itu adalah ucapannya saat-saat per- ja, masalah cinta misalnya. Atau tentang kegiatan selama liburan, mendaki gunung, berkemah atau mengikuti pertandingan basket. puan muda itu adalah istrinya Toke Adun yang tinggal di kota. Apalagi mayat perempuan itu, terapung di tambak Toke Adun yang agak menjorok ke batas desa. tama mengajar di sekolah itu. Ternyata masih ada murid yang mengingatnya. Itu berarti kata- katanya selama ini selalu didengar dan diingat. Berarti tehnik me ngajarnya tidak gagal. "Benar kata kalian. Maksud saya, hari ini kita tidak belajar teori-teori bahasa. Saya mau hari ini kalian agak rileks, maksud saya santai di kelas ini," Prakoso berbicara lunak dan hampir mela kukan kesalahan. Prakoso tersenyum-senyum sendiri membayangkan itu. Be tapa senangnya dia menyaksikan kenyataan semua muridnya, ge mar mengarang. Pastilah hasil karangan mereka nanti bagus bagus dengan gaya bahasa po puler, enak dibaca. Ah, kalau sa- ja sejak dulu dia melakukan kegiatan mengarang dalam pela- jaran bahasa, ceritanya akan lain. Akan sangat menyenangkan. Ten tu dia akan cepat memahami aspirasi dan kepribadian murid. Matahari sudah lama terbenam suasana tidak berapa gelap, remang-remang. Mungkin imbas an cahaya lampu, dari rumah- rumah penduduk yang memancar ke halaman pekarangan. Dalam suasana yang demikian, seekor bi natang buas sedang melangkah pelan memasuki gerbang desa. Be berapa orang warga desa yang di tugaskan di arena rajut perang kap, sudah lama bersiap-siap. Dengan penuh harap, binatang buas yang memasuki gerbang desa, melintas di kawasan rajut perangkap ditambatkan. Betul sa- ja, harapan para petugas rajut nentang arus deras itu. Lantas, se- perangkap dan warga desa dikabul karang, kelebihan apa yang dapat kan. Seekor binatang buas cukup kaulihat padaku ini?". besar, langsung menuju ke Jokasi tempat rajut ditambatkan. Aku tercekat!. "Maksud Bapak, kita cuma duduk-duduk saja?" "Tidak begitu." "Lantas, bagaimana Pak?" "Hari ini kita adakan evaluasi. Kenapa nilai ujian bahasa kalian sangat mengecewakan? Kenapa barusan kalian tidak membalas salam saya?" Semua murid menundukkan ke pala. Prakoso senyum kecut. "Lupakan kejadian barusan. Saya paham, mungkin kalian kesal pada saya. Mungkin juga tak suka dengan tehnik mengajar saya selama ini." Suasana kembali hening. "Apa ada yang mau kalian sampaikan? Silakan, hari ini kita saling koreksi dan introspeksi secara terbuka. Ini demi kema- juan kita bersama." Tetap tak ada yang berkata-kata. "Baiklah, berbicara itu lebih sulit dari menulis. Silakan, kalian sampaikan uneg-uneg kalian le wat tulisan. Sepertinya kalian suka mengarang. Karena itu, pela jaran bahasa hari ini kita isi dengan kegiatan mengarang. Sila kan karang apa saja. Kalian bebas bercerita tentang apa saja.' "5 Tentu saja usulan Prakoso itu mendapat tanggapan dingin dari para murid. Sebenarnya mereka tidak senang dengan ide tersebut, karena selama ini mereka tak per- nah mendapat kesempatan untuk belajar mengarang. Prakoso me mang lupa. Selain itu, mereka pada dasarnya tak ada yang ber- bakat jadi pengarang. Tapi, tidak seorang pun berani membantah. Tidak seorang pun murid yang menunjukkan rasa tidak senang nya. Semua nua bisa menyembunyi kan perasaan yang sebenarnya. Kegiatan mengarang mulai dilakukan. Di mata Prakoso, para murid kelihatan cukup bersemangat. Sehingga dia memperhatikan dengan takjub. cium oleh hidungnya. Dua biji matanya yang memancarkan sinar dalam malam itu, mengarah ke rajut perangkap yang sudah diper siapkan untuknya, langsung menuju ke moncong rajut yang ter nganga. Kambing yang berada di dalam rajut, benar-benar tidak berkutik ketakutan dan mengem- bik. Salah satu dari dua kakinya dalam perangkap, menggapai- gapai dinding batas. Petugas penarik moncong rajut itu, bertengkar dalam diam, karena bersemangat ingin menyentakkan tali yang sudah dipersiapkan. 'Tunggu!. Biar seluruh badan nya masuk !", semacam perintah berbisik. "Jangan buru-buru. Nanti dia melompat", masih suara mengo mando. Binatang buas sejenisnya yang mendengar jeritan binatang buas yang terperangkap, gemas meng- geletar dengan perasaan haru yang dalam. Seolah kupingnya mencongak ke atas dengan meng hentikan segala kegiatan yang sedang dilakukan oleh kaum bina tang buas itu. Begitu pun bina tang buas yang terperangkap masih berusaha meronta. Ron- taannya, semakin mempersempit ruang geraknya dalam perangkap rajut. Binatang buas benar-benar terperangkap. Jeritannya semakin menggaung, menggema di dalam hutan di sekitar desa. Tamat sudah riwayat seekor binatang buas berkelamin jantan, yang akhir-akhir ini telah meng ganggu kestabilan desa. Banyak hewan-hewan peliharaan pen- duduk yang hilang. Bahkan ada yang melihat di antara binatang Tanpa banyak bertingkah, bi buas itu secara terang-terangan natang buas itu, selain menekur menerkam hewan-hewan mereka. seolah ada yang difikirkannya, Panas hati warga desa terpuas moncongnya sering pula diangkat kan dengan berhasil menangkap nya ke atas. Seakan ada yang ter- dan membunuh seekor binatang Dia sama sekali tak menyangka ternyata pelajaran mengarang sangat disukai murid. Kenapa dia tak berpikir untuk melakukan pendekatan dengan kegiatan mengarang ini sebelumnya? Kenapa dia tak memahami bahwa melalui kegiatan mengarang ber- Namun, setelah waktu berlalu lebih setengah jam dan para murid usai mengerjakan kara ngannya, lalu menyerahkannya kepada Prakoso, Prakoso pun takjub bukan buatan. Ternyata tak seorang pun murid menga rang seperti apa yang diba yangkannya. Tidak ada yang mengarang soal cinta remaja, kegiatan mendaki gunung, ber kemah atau bertanding basket. Tidak ada yang bergaya bahasa populer. Tidak ada sesuatu yang lucu. Yang membuat Prakoso tam- bah takjub, hampir semua ide cerita mereka memilih tema yang sama. Padahal dia tahu betul, ketika kegiatan mengarang itu berlangsung, tak seorang pun mencontoh pada yang lain. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, gelisah atau berpura-pura tenang, dengan sengaja Prakoso mem- baca salah satu karangan murid yang dianggap layak mewakili karangan murid yang lain : "Hari ini Pak Prakoso datang terlambat. Dia mengucapkan salam. Aku dan murid yang lain diam saja. Pak Prakoso mengula ngi salamnya, kami tetap saja diam. Lalu pelajaran bahasa ditiadakan. Mungkin Pak Pra koso marah. Dan kami disuruh mengarang. Terus terang, pela- jaran mengarang sangat kubenci. Begitu juga murid yang lain, tak ada yang suka mengarang. Kami tak berbakat jadi pengarang. Tapi Pak Prakoso menyuruh kami me ngarang, alasannya untuk eva luasi pelajaran bahasa. Padahal aku dan murid lainnya sepakat, mulai hari ini akan serius belajar bahasa. Karena Pak Prakoso per- nah bilang, bahasa mencer- minkan bangsa."****** buas yang sudah tidak bersahabat lagi. Warga desa langsung mengi barkan bendera kemenangannya. Setelah benar-benar tidak ber- nafas lagi, binatang buas tangkap an langsung dikuliti dan daging nya dikuburkan. Sedang kulitnya berwarna kuning kecoklatan yang bergaris hitam dijadikan lambang yang dipampangkan sebagai hias an kebanggaan di Balai Desa. "Peristiwa ini harus dirayakan", permintaan seorang warga desa yang mengunjungi Kepala Desa. Wajahnya pun bercahaya seolah telah membunuh berpuluh-puluh ekor binatang buas. "Betul pak, harus kita rayakan. Peristiwa yang dilakukan itu me rupakan halaman bersejarah dalam kehidupan kita semua", tukas yang lain memperkuat ga gasan yang pertama. "Hari itu adalah hari ke menangan sebaiknya diperingati setiap tahun. Dengan demikian, biar anak cucu kita tahu, orang tua dan nenek-nenek mereka, bukan orang pengecut, tetapi pemberani. Bahkan mampu mem bunuh binatang buas", desak yang lain. Binatang buas sempat terpe rangkap kemudian terlepas, lebih berbahaya. Membalas dendam dengan caranya yang tidak ter kontrol. Saat sebelah kaki kanan belakangnya masuk rajut, saat itulah tali moncong perangkap di tarik. Sebelah kaki belakangnya tertinggal di luar. Begitu dia menggeliat, sentakan tali semakin ketat, sehingga binatang buas itu Kepala Desa itu paham. Sebe narnya peristiwa pembunuhan se ekor binatang buas belum berarti apa-apa. Secara pribadi, dia merasa keberatan untuk meraya kan "hari kemenangan" atas pem bunuhan tersebut. Apalagi terkaing dan melengking. Dengan dengan gagahan-gagahan pula. Se lulung yang membahana ke selu telah memperhatikan semangat ruh penjuru angin. Dengan gaung warganya, tidak mampu memben yang menggema pula didengar dung serta meyakinkan mereka oleh seluruh penghuni hutan yang mengelilingi desa ter pencil itu. hutan- yang sedang di puncak kebahagia an. Mayat-ayat Oleh: M.N. Age DESA TEUPIN gempar. Ada polisi, usul Toke Adun kemudian. mayat perempuan muda di tam- Pak Kades mengangguk. Saya kira itu lebih baik, Pak" salah seorang penduduk juga setuju. Yang lain juga mengangguk- angguk sambil ngomel-ngomel tak puas. Tapi bila Toke Adun dan Pak Kades sudah setuju, pen- duduk lain tak perlu lagi mengacungkan tangan untuk pro- tes. Tak ada gunanya. Setidaknya, usul Toke Adun untuk menye rahkan peristiwa itu jadi urusan polisi, sedikit menurunkan kecurigaan mereka terhadap Toke Adun. Dengan demikian, yakinlah perempuan itu bukan istri muda Toke Adun. Karena itu, satu persatu orang- orang desa mulai meninggalkan mayat perempuan muda yang masih telanjang bulat tersebut. Hanya tinggal beberapa orang anak menjelang akil balig, yang diam-diam masih setia mengintip mayat tersebut dari balik rerum- putan hutan bakau. Matahari hampir tiba di titik kulminasi. Panas menyengat. Polisi belum juga datang. Mayat perempuan itu masih tergeletak bagai bangkai yang tak mau didatangi lalat. Tak ada yang menghiraukan. Sementara di rumah Toke Adun, Pak Kades dan Toke Adun sudah tak lagi memperbincangkan soal mayat. Mereka lebih peduli tentang suasana tambak mereka yang makin tak produktif. Kematian udang yang beruntun mengakibat kan kerugian yang amat besar. Patutlah wajah Toke Adun tak pernah bergairah selama ini. "Kita musti dapatkan jalan keluarnya, Pak" gumam Toke Adun kemudian. "Ya, setidaknya dapat menutupi kerugian kita," sahut Pak Kades. "Saya malah sudah empat kali menghubungi Dinas Perikanan, tapi mereka belum bisa memberikan jawaban pasti," ungkap Pak Kades lagi. "Mereka jangan terlalu diharap dengan permasalahan desa kita, Pak", Toke Adun seperti putus asa. Ada ísu lagi, perempuan itu datang untuk menjumpai Toke Adun. Karena Toke Adun sudah lama tak pernah pergi ke kota. Dulunya Toke Adun, dalam sebulan, lima sampai enam kali pergi ke kota menjual udang. Siapa tahu, istri muda Toke Adun sudah tak tahan lagi. Sebab sudah hampir tiga kali masa panen terakhir, Toke Adun selalu gagal memanen udangnya. Orang sedesanyapun sama. Bibit udang mati seperti direbus dengan kulit memerah. Diserang Virus MBV, kata orang perikanan. Tak seorang penduduk desa mengerti apa itu MBV. "Kita musti selidiki!" seru Pak Kades di sela-sela kerumunan orang yang memenuhi pematang tambak. "Tapi, bagaimana mungkin?" oceh seseorang di kiri Pak Kades. "Oho, mayatnya telanjang bulat" omel orang lain, lagi ketika melihat mayat perempuan itu diangkat ke pematang. Bagaikan tontonan yang menarik, makin lama berduyun-duyun orang desa datang menjenguk. Tapi tak ada satupun yang mengenal mayat perempuan tersebut. Ketika Toke Adun datang, mata orang-orang beralih padanya. Itu membuat ia sedikit risih. Tapi yang namanya Toke tetap disegani penduduk. Tak ada orang berani ngoceh atau ngomel di dekat te- linga toke Adun. Apalagi menatapnya dengan pandangan curiga, pun menuduh perempuan itu sebagai istri mudanya. "Apakah ada yang mengenal mayat perempuan ini, Pak Kades?" Toke Adun buka mulut di hadapan orang-orang. "Sampai saat ini, belum!" sela Pak Kades. "Barangkali di antara pen- duduk ada yang kenal?" lanjut Toke Adun lagi. Orang-orang diam. Mereka semakin seksama memperhatikan mayat perempuan itu, kemudian masing-masing mereka menggeleng, dan mundur ke belakang sambil terus mengoceh. "Nah, kalau tidak ada yang mengenal, mengapa kita mau am- bil pusing dengan mayat perem- puan ini, biar saja jadi urusan tengah desa yang dikeliling oleh hutan lebat. Dengan anjuran, semua warga desa wajib ke luar pada malam pesta. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa lelaki-perempuan serta nenek dan kakek bergembira ber sama. Warga desa berboncong-bon dong turun ke lapangan upacara yang sudah ditentukan, dilengkapi dengan pakaian serba baru serta wajah ria. Cuaca malam pun men dukung. Bulan memunculkan wa- jah kegembiraannya menyambut "pesta kemenangan" yang disepa kati. Kulit binatang buas ter bunuh itu, dipinjam dari Balai Desa. Kemudian dipasangkan di belakang pentas untuk mengha ngatkan perjalanan upacara. Lapangan bola penuh sesak, tak mampu menampung ramai nya warga desa yang turun malam itu. Walau tanpa diawali dengan pidato-pidatoan, pembawa acara yang berdiri di atas pentas tanpa pengeras suara, dengan lantang menyatakan selamat datang. Walau tanpa musik mau pun nyanyian yang membangkitkan se mangat, pembawa acara berhasil membakar suasana yang emo- sional itu. "Sampai pagi......!!!", hura-hura pembawa acara dengan bertepuk tangan ke atas. Diiringi dengan menggoyang-goyangkan badan, kemudian dia pun turun dari atas panggung dengan memekikkan "sampai pagi". "Kalau semua memang sepa "Sampai pagi......!!!", sambung yang lain. Pembawa acra yang baru turun, disambut pula dengan goyangan-goyangan. Dengan Bagi Kepala Desa, kalau me spontan hadirin di dekat pentas, turut pula bergoyang yang diiringi mang mau memperingatinya atau merayakannya, cukup dengan doa oleh mereka yang berdiri di syukuran atas kemampuan keber tengah-tengah lapangan itu. Ber hasilan dengan baik. Tetapi warga goyang tanpa peduli, seolah desa melalui wakil-wakilnya itu mereka baru saja terlepas dari berpandangan lain menilainya se ikatan yang sudah lama menjerat. cara emosional yang membara Embun yang mulai gugur perla pula. han sebagai tak mampu melem- babkan kegembiraan mereka. Ge kat, ya terserah saja", jawab lora yang berapi-api, memanasi se mangat yang sedang terpang Kepala Desa dingin, setelah meng amati satu persatu warganya yang gang. Mereka benar-benar telah datang ke Balai Desa itu. Mereka dibasahi oleh arak kemenangan memang sudah siap dengan pro- dengan suara yang riuh meng gram. Bahkan pelaksanaan hari gemuruh. "pesta kemenangan" pun diten- "Sampai pagi......!!!", sambung tukan. Kepala Desa tidak mampu yang lain. menolak, hanya menyerahkan saja "Sampai pagi..... !!!". kepada rombongan itu. Kepala Pesta kemenangan itu terus ber Desa hanya mengetahui serta lanjut. Cuaca malam berbulan memberi izin pelaksanaan hari pada awalnya, sudah menyembu yang bersejarah itu. Segala se nyikan diri. Keremangan mengua suatu dalam menghadapi pesta ter sebut, mereka menanggulanginya dengan bergotong royong meng himpun dana sukarela. Pesta ke menangan itu dilaksanakan di sai suasana yang tidak terkendali. Suasana semakin ke puncak tan- pa sadarkan diri. Mereka yang bayi dibiarkan tergeletak lelap di pinggir lapangan. Mereka yang anak-anak juga tertidur diam (Bersambung ke hal. 15) arena terbuka. Di sebuah lapangan sepak bola, di tengah- Halaman 10 "Berarti desa kita sudah mulai kotor, Ampon," Abu Radi. menanggapi. Sebagai orang tua, Abu Radi merasa sedikit cemas. "Tidak hanya itu, Abu, kabar- nya mayat tersebut dipakai untuk menangkal penyakit udang selama ini," lanjut Ampon Cahi. "Apa?, mayat untuk menangkal penyakit udang" Abu Radi Matanya sesekali ditengadah kan, kemudian ditundukkannya lagi, seperti ada beban yang cukup berat di pundaknya. Sesekali pikirannya masih kalut, mem- bayangkan mayat perempuan bugil yang terapung di tambaknya. Tapi, ah, bukankah saya telah menemukan jalan keluarnya, bisik hatinya. Toke Adun puas, bukankah tak ada satu pen- dudukpun yang mengenal mayat tersebut. Sebab itu, ia yakin tak- kan ada penduduk yang mau am- bil pusing mengurus mayat tak dikenal. penasaran. "Ya, setidaknya desa kita bisa mengatasi penyakit tersebut, Am- pon Cahi berbicara seperti tak punya beban apa-apa. Pikiran Abu Radi kacau, kalut memikirkan permasalahan di desanya. Bila memang untuk menangkal penyakit udang, mengapa harus bangkai manusia sebagai obatnya. Mengapa nyawa udang sudah lebih berharga daripada nyawa manusia. Bayangkan, bila harga udang win- du per kilogram dua puluh ribu rupiah, dalam satu hektare tam muat sepuluh ribu benur. Jadi dalam tiga bulan, berapa penghasilan yang akan diperoleh penduduk desa. Malam tiba. Polisi tak datang. Kini mayat itu sudah terlempar kembali ke dalam tambak Toke Adun, entah siapa yang melakukannya. Di Pos Ronda ada bisik-bisik dari mulut ke mulut. "Desa kita akan bebas dari musibah," kata Bang Dolah pada Mat Pa'i. "Musibah ?" Mat Pa'i masih belum mengerti. "Ya, bukankah sudah tiga kali tambak kita gagal panen," Bang Dolah memberitahu. Mat Pa'i mengangguk dalam-dalam. "Lalu, apakah sudah didapat obat penyakit tersebut?" "Sini!" Bang Dolah menarik tangan Mat Pa'i. Diajaknya ke tempat yang agak gelap. "Jangan kau ceritakan orang lain, saya mendengar dari Thalib, tangan kanannya Toke Adun, bahwa penyakit udang selama ini akan sembuh bila tambak diisi dengan mayat," Bang Dolah menjelaskan. "Saya dengar mayat itu adalah perempuan liar yang dibawa dari kota," isu Ampon Cahi. "000, jadi?" Mad Pa'i mengangguk berulang-ulang, ter- ingat ke tambak Toke Adun. Di tempat lain, Abu Radi dan Ampon Cahi juga ngomong ten- tang mayat tersebut. Pantaslah, bila lebih dari 20 persen penduduk Desa Teupin mampu menancapkan antena parabola di atas bubungan atap rumahnya. Juga sudah pantas bila penduduk Desa Teupin dalam hari-harinya, kelihatan demikian sibuk. Sampai-sampai Meunasah yang dibangun demikian kokoh dan indah, berdiri terasing di tengah desa. Mikrofon tak lagi bersuara mengumandangkan azan, apalagi suara Rateb tanda syukur sebagai hak Mahakuasa. Ya, Meunasah Desa Teupin sepi dari alunan suara riuh anak-anak belajar alif-ba-ta-tsa. Malam itu di tempat yang lain lagi, keluarga Cek Antapari belum tidur. Ia baru saja menikmati siaran Televisi luar negeri bersama istrinya Nyak Tari. Saat ini, Nyak Tari sedang berada di hadapan cermin, sekedar bersolek untuk beranjak tidur. Tak lama berselang, ia sudah mendekap suaminya di pembaringan. "Abang sudah dengar kabar angin tentang mayat perempuan di tambak Toke Adun?" Nyak Tari sedikit berbisik di dekat telinga suaminya. "Ah, mengapa harus bicara ten- tang mayat, Nyak, ah, ohh," Cek Antapari menanggapi. "Bukan tentang mayat, Bang, tapi tentang tambak kita, bukankah selama ini kita selalu gagal panen," balas Nyak Tari. "Apa hubungannya dengan mayat perempuan itu?" Cek An- tapari jadi penasaran. Dingin garut mersap sekujur tubuhku, setangkai bunga melambai bersama angin ingin menggodaku, Aku hanya diam dan tak sempat berkata karena dingin garut lebih dulu menggoda. "Saya dengar dari istri Bang Dolah, mayat bisa dipakai untuk menangkal penyakit udang," jelas istrinya. la datang hingga dunia luruh tetapi kita masih di sini menjaga tonggak kesetiaan walau senja tereksekusi pada musim berganti, "Apa?" Cek Antapari terduduk dari pembaringan, memandang istrinya lekat-lekat. Ya, Bang, mengapa kita tak mencobanya seperti Toke Adun, bukankah kerugian kita sudah cukup besar selama ini". Kembali Cek Antapari menatap istrinya dalam-dalam. Dengan demikian, seperti ada beban yang terbebas dari pikirannya. Ia begitu mencintai Nyak Tari, lalu mengapa ia tak mau berusaha un- tuk menyenangkan istrinya. Sebab itu, direbahkan tubuhnya kembali lalu mendekap istrinya erat-erat. Tiga belas malam kemudian, terhitung sejak ditemukannya mayat di tambak Toke Adun, kali ini penduduk Desa Teupin lebih gempar lagi. Mengapa tidak, bila para peronda menemukan tiga mayat dalam tambak para pen- duduk. Dua mayat anak-anak dan satu perempuan muda dalam kea- daan bugil. Orang-orang dari desa seberangpun berduyun-duvun mendatangi lokasi tambak di De- sa Teupin. Desa Teupin jasi berita hangat, aktual. Ketika matahari hampir tiba di titik kulminasi, polisi datang. Namun tak ada informasi ber- manfaat yang mereka peroleh, sebab semua penduduk meng- geleng, tak seorangpun mengenal mayat-mayat tersebut. SURYA DEWITA Pak Kades dan beberapa orang aparat desa dipanggil, jawaban mereka juga belum ada yang bisa memuaskan pihak berwajib. Aceh Utara, Mei 97 SENJA TERBAYANG DI TELAGA la datang hingga dedaunan luruh saat senja terbayang di telaga dan tidak siapa hadir atau berkata "selamat datang" ketika kusinggahi kota mungilmu, la datang dalam jiwa hingga kupu-kupu luruh dalam taman tak bernama saat kita mencatat rindu pada senja di sini kita tidak lihat lagi cahaya malam atau potret pencatat sejarah, la datang hingga luruh pada pesta buah dan bunga di depan tugu juang kota mungilmu aku mengenal wajah anggunmu. SEKUNTUM BUNGA 1997
