Tipe: Koran
Tanggal: 1997-07-03
Halaman: 04
Konten
Kamis, 3 Juli 1997 Penerbit Pemimpin Umum/Pendiri Wakil Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab Wakil Pemimpin Perusahaan Managing Editor Sekretaris Redaksi Redaktur Anggota Redaksi Terbit Tarip Iklan Alamat Telepon Perwakilan Jakarta Perwakilan Banda Aceh SIUPP Dicetak Oleh analisa Yayasan SIKAP PRESS. Harta Susanto. Supandi Kusuma. H. Soffyan. H. Ali Soekardi. Joeli Salim. Paulus M. Tjukrono. H. War Djamil. H. Amir Siregar, H. Kaharudin, H. Bahari Effendy, H. Naswan Effendi, Usman Alie, H. War Djamil, Mulyadi Franseda, H. Ismail Lubis, H. Basyir Ahzar, Buoy Harjo, Agus Salim, H. Azmi Majid (foto). M. Hatta Lubis, Mac. Reyadi MS, Budiman Tanjat, A. Rivai Siregar, Hasan Basri Ns, Timbul O. Simarmata, Johan Jambak, Ismugiman, Idris Pasaribu, M. Sulaiman, Ali Sati Nasution, Samil Chandra, M. Nur, Hermansyah, Aswadi, Faisal Fardede, Kwa Tjen Siung, Hendar Tusmin, Anthony Limtan. Seminggu 7 kali. Rp. 4.500,- per mm/kolom (umum). Rp. 3.000,- per mm/kolom (keluarga). Jalan Jend. A. Yani No. 35 43 Medan. Kotak Pos: 1481. Telex No.: 51326 ANALIS IA. Fax: (061)-514031, Telegram: ANALISA MDN. Redaksi: 556655 (2 saluran)/511256. Tata Usaha: 554711 (3, saluran)/513554. Frans Tandun, Jln. K.H. Hasyim Ashari. No. 43-A Jak. Pusat Tel. 3446609/3844339/3453912 Fax.: (021) 363388. H. Harun Keuchik Leumiek Jalan Tgk. Cik Ditiro 106 Tel. (0651) - 23839. Fax: (0651) 23839. SK. Menpen No. 023/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1985. Tanggal 24 Desember 1985. P.T. KUMANGO Medan (Isi di luar tanggung jawab pencetak). Tajukrencana Pesta Danau Toba Jangan Terhenti pada Rutinitas SETIAP tahun, di Parapat dilaksanakan Pesta Danau Toba. Dan tahun 1997 ini Pesta Danau Toba diselenggara- kan tanggal 10 s/d 13 Juli mendatang, yang merupakan Pes- ta Danau Toba ke-17. Bagaimanapun pesta banyak manfaat- nya, dan mendatangkan keuntungan terutama bagi masya- rakat atau penduduk Danau Toba dan sekitarnya. Ini ter- bukti, setiap berlangsung Pesta Danau Toba maka jumlah wisatawan yang datang, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, selalu meningkat sampai 500 persen. Jelas ini sangat menguntungkan, yaitu meningkatnya penghasilan masyarakat sekitar. Pesta Danau Toba yang sekarang telah merupakan ak- tivitas rutin setiap tahun, dan memberikan hasil yang po- sitif walaupun sifatnya temporer, wajar untuk tetap terus dilaksanakan. Tetapi dengan catatan, bahwa pelaksanaan pesta tersebut dari tahun ke tahun jangan mandeg hanya "itu ke itu" saja yang bersifat rutinitas. Jika demikian hal- nya, maka Pesta Danau Toba tidak akan memberi hasil seperti yang kita harapkan bersama. Akhirnya dikuatirkan pesta itu hanya akan dilaksanakan "asal ada" saja, sesuai jad- wal yang telah ditentukan. Artinya bobot Pesta Danau Toba itu menjadi menurun. Hal yang demikian itu sama sekali tidak kita inginkan. Pesta Danau Toba itu boleh saja dilaksanakan secara rutin setahun sekali, sesuai kalender yang telah disusun. Tetapi harus diingat, yang penting di sini bukan sekedar dapat me- menuhi kalender tersebut saja, tetapi harus diupayakan dan diusahakan meningkatkan kualitas pesta tersebut. Baik kua- litas penyelenggaraan agar semakin rapi, tertib, dan lancar serta menggairahkan. Begitu pula kualitas pesta yang di- tampilkan, seni budaya yang dimunculkan harus tetap ditingkatkan, lebih bervariasi, termasuk juga olahraga mau- pun perlombaan yang diadakan lebih profesional peserta- nya, serta semangat berlomba yang tinggi dan fair. Satu hal yang penting lagi, Pesta Danau Toba tersebut hendaknya dapat memberi arti yang lebih luas bagi Danau Toba itu sendiri, terutama bagi penduduk atau masyara- kat sekitarnya. Maksudnya peningkatan kegiatan masyara- kat tidak hanya pada saat terlaksananya pesta itu saja, tetapi juga sepanjang saat di luar pesta. Artinya pemerintah, da- lam hal ini mungkin saja Pemda II, Pemda I, bahkan juga Pemerintah Pusat, dapat membantu dan membimbing ma- syarakat mengembangkan industri daerah Toba dan sekitar- nya yang bukan saja dapat dijual pada saat Pesta Danau Toba, tetapi juga pada waktu-waktu lainnya, atau dikirim keluar daerah, apalagi jika dapat diekspor. Banyak jenis industri yang layak dikembangkan, seper- ti industri kerajinan tangan, industri ulos atau jenis lain- nya dari kain yang bermotif khas daerah Toba dan sekitar- nya, benda-benda souvenir pada umumnya, dan lain-lain. Dengan demikian kios-kios benda cenderamata (souvenir) yang banyak terdapat di Parapat, Tuktuk, Tomok, dan se- bagainya tidak hanya menjual benda hasil kesenian dari dae- rah lain seperti batik (yang di mana pun sudah ada dijual), tetapi semata-mata kain khas buatan Toba dan sekitarnya. Bukan menjual wayang, tetapi patung maupun ukiran atau hasil kerajinan tangan daerah tersebut. Jadi khas Toba. Ten- tu saja dengan kualitas yang baik, dan senantiasa melakukan usaha peningkatan kualitas. Hal lain yang paling penting adalah menyangkut ma- syarakat sekitarnya, terutama para pedagang. Mereka ha- rus dibina sehingga memahami bagaimana caranya mela- yani dengan baik para pelancong yang datang, baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Jangan timbulkan kesan mereka kecewa atau layanan yang mereka terima selama ber- ada di Danau Toba. Atau merasa "tertipu" dalam berbelan- ja, misalnya mangga yang bagus hanya di bahagian atas di dalam karung, tetapi di bawahnya mentah. Ini jangan lagi dibiasakan. Jagalah mutu dengan baik, dan timbulkan kepercayaan pembeli. Anjuran untuk meningkatkan kualitas layanan tidak hanya tertuju kepada Danau Toba saja, tetapi juga daerah-daerah tujuan wisata lainnya di Su- matera Utara ini, seperti Berastagi/Tanah Karo, bahkan kota Medan juga, dan sebagainya. Semoga. Surat Pembaca. sementara dari depan juga ada kenderaan. Sebenarnya kondisi Biaya Derek di Tol Belmera Dihapus, Bagaimana Lampunya? ini sangat tidak cocok disebut bebas hambatan. Nama dan alamat harus jelas Sertakan Fotokopi KTP Hal yang kedua adalah lampu KEBIJAKSANAAN pengelola penerangan disepanjang jalan, Tol Belmera, yang memutuskan bukan saja kurang tetapi tidak untuk tidak memungut biaya ada sama sekali. Bagaimana ini ? derek bagi kenderaan di Jalan Tol Karena gelap gulita ini para Belmera sungguh menggem- pengendara mobil juga banyak birakan. Karena dengan demikian yang mengurungkan niatnya untuk para pengemudi mobil akan lebih masuk ke jalan tol bila malam berani lagi memasuki jalan tol. hari. Disamping takut kepada Sebab bila selama ini dengan kondisi mobilnya yang bila tiba- kenderaannya yang mungkin tiba mogok di jalan, sementara dikhawatirkan "rewel" di per- dia membawa keluarga dan anak- jalanan takut masuk jalan tol, karena bisa-bisa harus membayar ongkos mereka seandainya mogok. Tapi dengan adanya kebijaksanaan menghapus biaya derek ini membuat orang semakin banyak yang menggunakan jalan tol Belmera ini. Sehingga keun- tungan (pendapatan) yang diperoleh semakin meningkat. Hanya saja ada dua hal lagi yang paling penting menjadi perhatian pengelola tol Belmera. Pertama adalah jalan menjelang 5 km mendapatkan pintu gerbang Tanjung Morawa yang digunakan untuk dua arah yang saling berlawanan. Semestinya jalan ini harus sudah satu arah, dan pengelola Tol Belmera semestinya membangun di sebelahnya lagi. Daerah ini sangat rawan pelang-hari. garan, sebab kenderaan selalu sa- ling melomba (menyalib) kenderaan yang di depannya, anak yang umumnya takut ke pada suasana yang gelap. Mau minta tolong ke mana di jalan yang sunyi itu. Belum lagi kekhawatiran kalau-kalau ada orang jahat yang melakukan penodongan kepada mobil yang mogok. Padahal bila kita lihat jalan jalan tol dari Jakarta ke kota- kota di Jabar, terang benderang sepanjang jalan. Maunya pengelola Tol Belmera segera memasang lampu ini se panjang jalan, sehingga orang tidak khawatir lewat di jalan tol pada waktu malam. Jangan cuma memikirkan pendapatan saja. Se bab dengan pemasangan lampu di sepanjang jalan tol akan mening- katkan arus kenderaan di malam BANTA SOMALI Tanjung Mulia Medan ANALISA Bisnis Rumah Sakit ..., Swadana? USAHA di bidang rumah sakit telah mulai terbuka bagi para penanam modal. Ini agaknya tidak terlepas dari kebijakan deregulasi yang telah berdampak luas pada sektor jasa yang sebelumnya dikenal sebagai organisasi non profit seperti pen- didikan asuransi dan rumah sakit. secara Munculnya rumah sakit rumah sakit swasta di dukung modal besar seperti Glenaegel (di Medan belum operational), menunjukkan bahwa dunia perumahsakitan kini telah memasuki babak baru, yaitu komersialisasi layanan kesehatan. Kendati sampai sekarang belum ada undang-undang yang khusus mengatur pengelolaan rumah sakit secara komersial, namun sejumlah deregulasi yang mengatur pelayanan kesehatan, tampaknya semakin membuka kemungkinan usaha rumah sakit dari segi bisnis. Oleh sementara pihak hal demikian dianggap wajar, malah perlu disambut baik, terutama karena perlunya meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di satu pihak dan tuntutan perkembangan rumah sakit yang membutuhkan efisiensi dan in- vestasi yang tidak kecil di pihak lain. Namun yang sering diper- tanyakan orang adalah sejauh mana implikasi sosial dan keterlibatan pihak swasta dalam pelaksanaannya. Sebab mem- bicarakan rumah sakit sebagai suatu lazimnya akan selalu menghadapkan kata pada per- tanyaan, apakah layanan kesehatan seperti rumah sakit sebaiknya bersifat sosial atau komersial. Bagi kita jasa di bidang layanan kesehatan seperti rumah sakit umumnya masih terasa asing bila dikaitkan dengan sebatan komersial atau bisnis. Selama ini kita mengenal rumah sakit sebagai suatu lem- baga kesehatan yang dikelola dengan prinsip-prinsip layanan kemasyarakatan. Baik rumah sakit pemerintah maupun swasta yang dikelola missi ataupun Zen- ding umumnya tertumpu pada kegiatan nat profit dan jauh dari kesan mencari keuntungan. Kalaupun ada hasil lebih, oleh pengelola rumah sakit biasanya dianggap sebagai surplus yang layak diterima untuk menunjang terselenggaranya pelayanan yang lebih baik dan bahan tujuan utama. TANGGAL 12 September 1978 yang lalu, berlangsung konperensi Internasional tentang kesehatan bagi seluruh penduduk dunia di kota Alma Ata, Rusia dan hasil konperensi tersebut ada lah suatu keputusan yang dituang kan dalam bentuk deklarasi untuk mencapai suatu sasaran "Sehat Untuk Semua" yang ditargetkan dicapai pada tahun 2000 yang akan datang. Inti dari deklarasi ter sebut adalah menggalakkan semua usaha kesehatan terutama yang berbentuk pelayanan kese hatan primer, termasuk usaha- usaha pencegahan terhadap tim- bulnya penyakit. Dan pada tanggal 31 Mei 1997 ini oleh organisasi kesehatan dunia WHO ditetapkan sebagai "Hari Tanpa Tembakau Sedunia" yang disingkat HTTS. Himbauan untuk tidak merokok atau meng- gunakan tembakau dalam satu hari penuh adalah untuk yang kesekian kalinya dilangsungkan, dan berbagai seminar dan pro- gram promosi simpatik telah berulang kali dilakukan tetapi hasil masih tetap belum maksimal seperti yang diharapkan. Maka, kalau sekarang dibicara kan tentang perlunya penyeleng- garaan program pelayanan kesehatan berdasarkan prinsip- prinsip di luar tujuan sosial semata-mata, beberapa hal perlu disinggung paling tidak untuk memahami tindak persoalannya. Program layanan kesehatan yang lazim disebut program layanan kesehatan komersial itu, bagai manapun akan menimbulkan se- jumlah pertanyaan mendasar. Sebab bobot akomodasi dam- medis yang paknya disediakan paling tidak akan berpengaruh pada bentuk pelayanan rumah sakit pada non umumnya. Kedua program di atas adalah program tingkat dunia yang meli batkan semua negara-negara ang- gota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berhubungan dengan kesehatan. Program tersebut diharapkan dapat didukung oleh semua pihak, baik pemerintah, badan usaha, kelompok, organi sasi masyarakat dan tentunya yang paling diharapkan adalah dukungan penuh dari semua penghuni bumi. Hampir duapuluh tahun su I. PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT KOMERSIAL Dewasa ini keberadaan rumah sakit yang berorientasi komersial tidak hanya mendominasi negara- negara industri maju seperti USA, negara Uni Eropah dan sejumlah negara Asia. Hampir semua negara yang tidak melampaui tingkat ekonomi tertentu, telah melaksanakan berbagai bentuk pelayanan kesehatan, baik komersial maupun sosial. Indonesia yang pendapatan per kapita penduduk lebih kurang di atas 1000 dollar tergugah menyelenggarakan keduanya. Apakah wajar mengingat tun- tutan sebagian masyarakat telah meningkat akibat terciptanya per- tumbuhan ekonomi. Dengan per- tumbuhan ekonomi, tuntutan hidup masyarakat berubah karena skala prioritas mereka berubah. Dalam hubungannya pela yanan kesehatan, pertumbuhan demikian telah menyebabkan tun- tutan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan meningkat. Sehingga mudah pula dimengerti kalau biaya pemeliharaan dan perawatan kesehatanpun mening kat secara tak terelakkan. Selain itu, masih ada pula yang biasa pakai jari si lima. Artinya pakai tangan. Ada yang diraih- kannya untuk mengambil makan- an banyak-banyak, kemudian di- suapkannya penuh-penuh ke mu- lut. Pipi jadi gembung kepenuhan isi. Kalau sedang begini, jangan diajak bicara. Bahaya. Ada yang dibulatkan-bulatkannya nasi, sam Ada beberapa hal yang secara signifikan mendorong laju per- tumbuhan biaya kesehatan. Per- tama, akibat laju pembangunan, namun harapan hidup masyara kat. Ditambah dengan makin kecilnya angka kematian bayi, kebutuhan akan perawatan kesehatanpun menjadi lebih tinggi. Kedua, tumbuh pesatnya urban-urban centre yaitu kelom- pok kelompok masyarakat di daerah daerah pinggiran kota yang menuntut pelayanan medis lebih baik. Ketiga, meningkatnya penyakit kronis, terutama di kota kota besar (transisi epidiomologi). Dengan perubahan konsep layanan kesehatan itu, berubah pulalah fungsi rumah sakit sebagai lembaga pemberi layanan kesehatan. Rumah sakit yang dulu dikenal sebagai lembaga kegiatan sosial itu, sekarang harus mulai menyadari statusnya bukan hanya sebagai lembaga pemberi layanan kesehatan tetapi juga sebagai lembaga yang berkepen- tingan terhadap "harga" pelayanan itu sendiri. Dengan kata lain, rumah sakit Menyukseskan Program Sehat dah deklarasi Alma Ata dikuman- dangkan, berbagai program telah dilaksanakan seperti Immunisasi Polio yang beberapa tahun/bulan yang lalu dilaksanakan adalah bukti keseriusan pemerintah dan Organisasi kesehatan dunia terhadap pencapaian program tersebut. Dan pada kesempatan ini pulalah penulis ingin meng- ingatkan kembali sasaran mulia "Sehat Untuk Semua" di tahun 2000 untuk kita dukung secara aktif. KEBIASAAN MEROKOK Kebiasaan merokok, adalah kebiasaan yang telah dilakukan orang sejak berabad-abad dan tidak diketahui pasti sejak kapan orang menggunakan tembakau un tuk dihisap sebagai kebutuhan sedap-sedapan. Hampir di seluruh belahan dunia, terutama kaum lelaki melakukan kebiasaan merokok, kebiasaan ini ditiru secara turun temurun sampai pada hari ini, walaupun pengetahuan modern telah membuktikan kebiasaan ini adalah kebiasaan yang merugikan kesehatan, dan penghamburan biaya yang jumlahnya tidak kecil. Bagi seorang perokok, tem- bakau dan asapnya adalah suatu kehidupan bahkan sebagian mengatakan bahwa merokok itu penting baginya sebagaimana kebutuhan akan makanan. Tetapi haruslah disadari bahwa yang namanya kebiasaan pasti dapat diubah walaupun membutuhkan waktu yang lama dan inilah yang membedakannya dengan kebutuh an. Hal ini disadari betul para ahli Makan untuk Semua di Tahun 2000 Laanem zibsneb gede nota Oleh Syaiful Batubara 89 anayeisz nsá Oleh Subanindyo Hadiluwih ADA, teman yang merasa bil terus bercakap, tiba-tiba, di- heran dengan judul artikel saya lemparkan ke mulut. Si mulut itu kali ini. Ada yang menduga-duga, kemana arah atau missi apa yang ingin disampaikan melalui tulisan ini. Bahkan ada yang menduga, barangkali karena kurang bahan. Atau kehabisan bahan tulisan. Padahal, justru mempersiapkan tulisan yang diduga 'kurang ba- han' ini, membutuhkan bahan yang tidak tanggung-tanggung. Disamping itu, perlu mema- hami cara makan yang memang berbeda-beda pada tiap ling- kungan masyarakat di sekitar ki- ta. Ada yang biasa pakai sendok dan garpu, ada pula yang biasa pakai perlengkapan berbagai pi- sau, bak mau perang. Untuk mem pelajarinya, perlu pula ada 'table manner' segala. Oleh H.M. Idris Pane Keempat meningkat kemampuan ekonomi masyarakat yang berakibat makin tingginya tun- tutan hidup, khususnya di kalangan golongan menengah. Kelima, perkembangan pesat bidang teknologi istimewa dibidang kedokteran. Dengan faktor-faktor pertum- buhan dan perkembangan demikian menekan biaya kesehatan adalah sesuatu yagn tidak mungkin sekarang ini, sebagai contoh di USA indeks pelayanan kesehatan terhadap in- flasi umur naik 4 sampai 5 kali lipat (1992). Ini disebabkan karena pelayan dan pemelihara kesehatan selain padat karya, juga padat modal dan pada teknologi. Untuk memberi pelayanan medis secara memadai diperlukan teknologi yang mahal dan kenaikan gaji tenaga medis yang terus menerus. Maka tak heran kalau dasawar- sa terakhir pengembangan konsep pelayanan kesehatan rumah sakit telah berlangsung sangat cepat, sama cepatnya dengan tuntutan akan pelayanan kesehatan itu sen- diri. Dinamika pelayan kesehatan itu, yang meliputi kesiapan tenaga medis, perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat pe makai jasa rumah sakit, telah mendorong timbulnya konsep- konsep baru dibidang pelayanan kesehatan, dengan suatu sasaran memperoleh efiensi yang setinggi-tingginya. Di negara Paman SAM kon sep-konsep itu berkembang dalam bentuk pelayanan medis seperti Surgi Centre, yaitu suatu organisasi pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan konsep cepat. Dengan pelayanan ini operasi cepat dilakukan atau am- bulatory di agnose centre yang menjajakan pelayanan medis secara keliling. BAGI sementara orang, per- kara makan bukan hal yang pen- ting. Maksudnya, kalau sudah waktunya, ya makan. Ukurannya sederhana saja: rasa lapar. Apa yang dimakan kelihatannya tak terlalu harus dipikirkan. Ia tidak kesehatan sehingga dalam upaya menghilangkan kebiasaan masya rakat menggunakan tembakau un- tuk dihisap dilakukan anjuran, peringatan, penerangan bahkan suatu pelarangan secara terus menerus dan pada setiap kesem patan. Kebiasaan ini bermula dari usaha coba-coba meniru kebia- saan orang di sekelilingnya yang nampak begitu nikmat saat mero kok, perasaan ingin mencoba yang memang ada pada setiap diri manusia ini, kemudian diracuni zat candu nikotin yang terdapat pada tembakau. Orang-orang yang telah terbius candu nikotin ini akan ketagihan dan ingin mengulangi hal tersebut setiap saat, dan dari sinilah lahir suatu kebiasaan. Kebiasaan membius diri dengan nikotin pada akhirnya akan menimbulkan ketergantung an psikis dan ketergantungan fisik terhadap tembakau sehingga wa- jar saja kalau pencandu rokok mengatakan kebiasaannya terse but adalah bagian dari kehi dupannya. MERUGIKAN Berbagai macam bentuk kerugian terjadi dengan adanya kebiasaan merokok bisa merugi kan dari segi keuangan maupun merugikan bagi kesehatan. Keru gian dari segi kesehatan dampak nya sangat luas karena yang menanggungnya tidak saja orang yang melakukan kebiasaan terse but melainkan semua orang di sekelilingnya akan ikut tercemar dan dapat sakit karena efek yang ditimbulkan asap rokok tersebut. menjadi syarat mutlak. Lain pula yang berpendapat bahwa kapasitas atau kualitas seseorang tergantung pertanyaan- nya ketika ia akan makan. Ada yang bertanya, 'hari ini makan apa'. Ini tentu orang yang sudah established, mapan. Ia bisa memi- lih apa yang akan dimakannya hari ini. 'hari ini apa makan'. Yang tergo- long seperti ini tentu gawat. Ia tak tahu pasti, hari ini makan apa tidak. - mungkin alah bisa karena biasa - kok bisa pula menangkap ma- kanan yang datang kepadanya. Tápi ada pula yang menyebut, Ada pula yang cuma pakai ujung-ujung jari. Disuapkannya Padahal, perut keroncongan. Be- pelan-pelan dan sangat 'sopan'. lum lagi yang biasa pakai 'stick'. Mau makan dengan cara seperti ini, harus belajar dulu. Latihan. Apalagi-bagi 'pemain' pemula - tak usah mengambil yang kecil- kecil dan yang licin-licin. Kalau tak trampil, alamat ada makanan yang melompat, dan bisa bikin kotor baju orang lain. Tak ber- latih dulu, nekad bergabung, bi- sa tak kenyang-kenyang. Asik ja- tuh melulu. Apalagi kalau ma- kanan yang berkuah. Panas, lagi. berubah dari provider of health care menjadi buyer of healthcare. Dan sejauh menekankan per- lunya aspek terakhir ini, rumah sakit mulai dibedakan antara rumah sakit yang menekankan aspek sosial dan rumah sakit yang menekankan aspek komersial atau bisnis. II. PERLU KOMITMEN Dan tentu saja yang mengejut- kan, kalau ada yang bilang, 'ha- ri ini siapa yang kita makan'. Penafsirannya bisa macam-ma- cam. Bisa saja memilih siapa yang dapat giliran men-traktir, bisa ju- ga bermakna memilih sasaran 'pengompasan', dan ada pula makna lain yang cenderung me- sedemikian juga hanya akan diu- sum. Bagaimanapun, pertanyaan capkan oleh orang yang sudah binnen. Tentu bukan berarti se- mua orang sepakat sikap sedemi kian. BERSAMA Maka, kembali pada per- tanyaan semula. Bagaimana sebaiknya memberikan pelayanan kesehatan. di Indonesia, khususnya bagi sebagian besar penduduk yang belum mampu membayar lebih besar secara tunai? Apakah bentuk pelayanan kesehatan. itu sebaiknya menekankan aspek sosial saja atau komersial saja atau meng- gabungkan keduanya. Ada juga yang menganggap, acara makan itu penting. Segala urusan bakal selesai kalau dibica- rakan di meja makan. Ada pula yang berpendapat, semua kegiat- an yang melibatkan orang lain, harus diawali dengan makan Sementara pengelolaan rumah sakit sendiri semakin menuntut perlunya pembenahan rumah sakit dari segi dana dan kemam- puan mengantisipasi perkem- bangan teknologi, keberadaan rumah sakit menjadi ibarat bisnis disimpang jalan, Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak lepas dari bagimana kita melihat pelayanan kesehatan sebagai institusi saja. Di Amerika Serikat, pelayanan kesehatan dilihat tidak lebih sebagai barang dagangan biasa. Pemerintah memberikan kebe basan kepada rakyatnya untuk memilih dan menentukan jenis pelayanan medis yang mereka perlukan. Dokter juga bebas menentukan tarif karena pemerintah dianggap tidak layak mencampuri hubungan dokter pasien. Sementara di Jerman dan Inggeris, berlaku sebaliknya, regulasi pemerintah mewajibkan rakyatnya memperoleh layanan kesehatan melalui sistem asuransi. Di Indonesia, GBHN (1988) kita mengamanatkan agar pelayanan kesehatan dilaksana kan secara paripurna. Artinya perlu menekankan segi preventif dan promotif, disamping rehabili tatif dan menciptakan keterjangkauan. GBHN juga mengamanatkan agar prinsip-prinsip asuransi digunakan dalam mengelola rumah sakit, tambahnya. Dengan prinsip ini, setiap orang pada dasarnya dituntut untuk ikut ser- ta memikul beban biaya kesehatan, sekalipun tidak sakit. Pengertian pokok asuransi adalah alat sosial untuk mencapai pemerataan. M Misalkan saja seorang perokok yang seenaknya menghisap rokok di tempat umum misalkan saja di dalam bus kota, maka asap rokok yang mengandung ter, nikotin dan gas nitrogen oksida akan disebar kan ke udara sekeliling dan terhirup oleh orang-orang yang tidak merokok. Berbagai penelitian, menun- jukkan bahwa kemungkinan ba haya bagi perokok tidak jauh berbeda dengan perokok pasif yang tercemar. Tetapi walaupun hal ini diketahui secara luas masih jarang sekali orang menegur perokok untuk tidak merokok di tempat umum, mungkin karena merokok dianggap sebagai kebi asaan yang lazim maka dibiarkan saja. Dan jikalau ini dibiarkan sa- ja bagai mana mungkin upaya pencegahan penyakit akibat rokok sebagai bagian upaya pencegahan penyakit primer seperti diamanat kan Deklarasi Atma Ata di Atas.? Pemasangan peringatan akan bahaya rokok terdapat di mana- mana termasuk di bungkus rokok itu sendiri kiranya belum cukup untuk memotivasi para pencandu untuk berhenti membakar uang dan merenggup racun nikotin dan ter yang kan merusak jantung dan paru-parunya. Berbagai usaha dan metode imbauan/peringatan masih diperlukan termasuk mem- buat pelarangan mutlak terhadap setiap orang yang hendak masuk kegedung/ruangan tertentu seper- ti rumah sakit, kantor, bus dan sebagainya., Dan upaya-upaya ini akan terus dilaksanakan sampai suatu saat seluruh tempat akan bebas dari bahaya asap tembakau. Membuat suatu gerakan yang dulu. Perkara porsi, ternyata uku- ran buat orang tertentu juga lain- lain. Ada yang tak perlu banyak- banyak, tapi ada pula yang jus- tru harus banyak. Lauk boleh se- derhana, asal nasi banyak. Ada pula yang nasi sedikit, tapi lauk- nya yang rame. Nasi bungkus di Medan misalnya, bukan main be- sar porsinya. Terus terang, dulu, sulit saya mampu menghabiskan nya. Sekarang, lewat. *** SAYA barangkali boleh mera- sa menjadi orang yang beruntung, sebab berada di lingkungan bu- daya yang beraneka itu. Masa ke- cil saja sudah harus mengalami budaya yang berbeda. Ketika ha- rus makan bersama orang tua - yang artinya hadir juga: ayah - maka makan harus formal. Di me ja makan. Ayah dan ibu berdam- pingan, anak-anaknya di hadapan nya dan kanan kiri meja. sakit pemerintah akan menjadi lembaga swadana. Lembaga swadana itu bukanlah organisasi yang terpisah dari rumah sakit, Masalahnya adalah bagaimana melainkan rumah sakitnya itu memelihara kesehatan dengan sendiri yang disebut lembaga menggunakan alat sosial ini, swadana. Dengan kebijakan katanya. Untuk itu diperlukan Swadana itu, rumah sakit komitmen bersama mengenai pemerintah di perkenankan cara bagaimana mengendalikan menggunakan dan mengelola biaya pemeliharaan kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Atau, dengan kata lain diperlukan suatu sistem yang mendukung terseleng- garanya upaya pembangunan kesehatan secara menyeluruh. Untuk membiayai pelayanan kesehatan di Indonesia, layanan kesehatan yang menekankan aspek sosial dan kegotong royongan akan memberikan pro- spek lebih baik. Ini mengan- daikan bahwa masyarakat telah memiliki tingkat kesadaran yang tinggi akan perlunya memelihara kesehatan, disamping solidaritas antara yang kaya dan yang miskin. Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) dan upaya menjadikan rumah sakit-rumah sakit pemerintah sebagai lembaga swadana. Departemen Kesehatan untuk menjembatani senjang dalam pembiayaan pelayanan kese hatan. Program demikian diharap kan disamping akan menjadi semacam terobosan dalam pem- biayaan kesehatan masyarakat, juga menjadi semacam "bisnis" dalam rumah sakit yang akan dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanannya. Sebab pembiayaan demikian mau tidak mau harus menjadi upaya kita bersama. III. LEMBAGA SWADANA Kesan minor tentang RS Pemerintah mungkin tidak lama lagi akan berubah. Sejak dulu Pemerintah sudah berencana un- tuk melaksanakan Program Swadana RS Pemerintah. Kini segala sesuatunya sedang dalam persiapan di Sumatera Utara ada 10 rumah sakit calon swadana). Misalnya meningkatkan kemampuan. Lembaga Swadana bertujuan agar rumah sakit Pemerintah mandiri dalam hal membiayai kegiatan operasionalnya. Selain itu juga bertujuan untuk mengefi- sienkan dan mengefektifkan peme liharaan kesehatan dan penge luaran masyarakat, terutama yang bersumber dari kantong sen- diri. Sebab selain itu masih ada dana yang dikeluarkan perusaha an dan bank. Secara bertahap seluruh rumah sifatnya global tidaklah hal yang mudah, karena harus melibatkan semua bangsa yang berbeda-beda budaya, ideologi, dan hukum perundang-undangannya. Tetapi biarpun bagaimana beratnya mengorganisasikan gerakan global, WHO yang bekerja sama dengan semua departemen kese hatan di negara-negara anggota telah menunjukkan kesungguhan hatinya untuk berbuat yang ter- baik untuk kesehatan semua um- mat manusia. HTTS adalah salah satu con- toh promosi kesehatan non pro- vit yang melibatkan seluruh bangsa dan menyentuh semua ummat manusia. Promosi kese hatan ini walaupun sifatnya hanya sehari, mengandung makna dan tujuan yang mendalam karena dengan HTTS ini diharapkan semua orang kan merenungkan pentingnya kesehatan dan diajak memikirkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tersebut. Tidak merokok selama sehari penuh bagi seorang pencandu adalah sama dengan melakukan puasa selama 24 jam. Puasa rokok ini sudah pasti akan mengakibatkan rasa tidak nyaman dan rasa terkekang, tetapi diharapkan dalam keterkekangan tersebut akan mengingatkan diri masing-masing, betapa rokok yang selama ini dianggap kehi dupan itu telah merusak fisik dan mental kita secara perlahan-lahan. Dan jikalau dulunya tidak ber kenalan dengan yang namanya rokok tentu pada hari tersebut dia tidak akan kegerahan, atau tidak uring-uringan. Selanjutnya ada baiknya pera- saan tersebut terus diselami sehingga terbayang suatu ke nikmatan yang mungkin masih bisa diperoleh jika seandainya dengan puasa rokok ini berhasil dilakukan dihari-hari berikutnya. Kenikmatan tersebut bisa berupa berang meja, harap sabar saja. Nasib. Jangan coba-coba memak- sa diri untuk mengambilnya. Tak sopan. Maklum, ayah kebetulan pendidikan guru Belanda. Ketika waktu makan tiba ayah belum pulang, berarti: pesta. Pe- rilaku makan berubah menjadi le- bih bebas. Kalau perlu nggelar ti- sambil cerita-cerita. Tapi makan kar. Cukup pakai tangan. Bisa sambil mengangkat kaki sebelah - jegang tetap pantang. Begitu juga berkecipak, apalagi sampai 'atop'. Malu. Persoalan baru muncul ketika harus menikmati sambal terasi (belacan). Mau makan banyak ta- kut kepedasan, makan sedikit, se- lera berat. Akhirnya, kalau kepe- dasan, cukup mendesis saja : "SSSSS...... Padahal, setelah di ling- kungan masyarakat yang lain, kecipak dan 'atop' itu justru me- rupakan pertanda kita benar-be- nar menikmati makanan yang di- sajikan. Kepedasan ? Tak masa- lah. Terengah-engah juga boleh. Halaman 4 tukan oleh pemerintah. Karena rumah sakit mendapat subsidi, maka berarti tarif itu dibawah biaya produksi (production cost). Sehingga kalau itu terus berlangsung rumah sakit akan selalu defisit," bukan breakevent tapi breaking point". Dengan adanya lembaga swadana, pe merintah diharapkan untuk hasil pemasukannya (reve- menyesuaikan tarif rumah sakit Pemerintah yang berlaku se karang. Jadi dalam hal tarif baru ini memang akan tetap ada ken nuenya). Kalau dulu, pemasukan harus disetorkan dulu ke kas negara, tidak boleh dipotong dan digunakan. dali dari Pemerintah. V. MARKETISASI Lembaga Swadana tidak akan hidup kalau rumah sakit Pemerintah tidak berhasil menarik klien. Sebab kalau tidak dapat menarik klien artinya pemasukannya kecil sehingga dapat mengakibatkan tidak jalan- nya kegiatan operasional. Dengan akan diberlakukannya program swadana, tampaknya rumah sakit pemerintah diharapkan untuk lebih mengarah ke bisnis. Oleh karena itu manajemennya harus berubah. They have to win the market. Akibatnya, terkesan sangat serius. Selain menggunakan sen- dok garpu, selama makan tak bo- leh bercakap. Apalagi berkecipak. Pantang. Selesai makan, per- alatan harus dirapikan. Sendok garpu ditengkurapkan. Artinya KINI negeri ini sedang diserbu konon- sudah selesai. Tak mau wabah baru. Masih perkara ma- 'tambuh' lagi. Kalau lauk kebe- kan, tentu saja. Ketika gudeg Bu Citro mencapai Jakarta, maka di tulan enak tapi tempatnya di se- *** Dan dengan adanya kebijakan itu berarti rumah sakit menjadi salah satu revenue center dari pemerintah. Karena dengan kebi- jakan itu berarti diperkenankan memperoleh pendapatan dan mengelolanya, berarti dalam jangka panjang mungkin ada surplusnya. Oleh karena itu lem- baga swadana pun tidak bebas pajak. IV. MENUJU REVENUE CENTER Konsekuensi dari kebijakan ini adalah cara pengelolaan rumah sakit Pemerintah harus berubah. Dari stylepublic service ke style revenue center. Dari rumah sakit yang mengandalkan subsidi ke arah yang lebih mandiri. Ini tidak mudah, karena secara operasional rumah sakit itu harus dikelola sendiri dengan sumber daya yang ada, walaupun dalam capital in- tah. Jadi pengelolanya tetap vestment masih dibantu Pemerin- pegawai negeri. Untuk dapat mengelola lem- baga swadana dengan baik, ten- tu dibutuhkan peningkatan kemampuan dalam segala bidang. Antara lain adalah peningkatan sumber daya manusianya untuk mengelola rumah sakit itu dengan baik. Dengan peningkatan kemam- puan para pengelolanya diharap- kan akan terjadi peningkatan mutu pelayanan disegala bidang. Karena mutu pelayanan yang baik akan memungkinkan rumah sakit Pemerintah untuk dapat menarik klien sebanyak mungkin. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan kapasitas yang tersedia. Tetapi tidak mungkin rumah sakit Pemerintah dapat menarik klien dengan memberikan mutu tidak pelayanan yang baik bila hal itu diimbangi dengan pemasukan yang memadai untuk kegiatan operasional rumah sakit. Sehingga tidak terelakkan untuk menyesuaikan tarif yang selama ini berlaku. Menurut Widodo Soetopo, selama ini tarif rumah sakit diten- materi dalam bentuk uang yang dapat dihemat bila tidak membeli rokok, kenikmatan kesehatan yang lebih baik dan jaminan un- tuk tidak menderita kanker paru atau penyakit jantung koroner yang mengancam jiwa. HTTS tidaklah dilakukan kalau hanya berharap rasa solider terhadap mereka yang tidak merokok untuk sehari saja, HTTS adalah harapan untuk menghi langkan kebiasaan merugikan un- tuk selamanya. Kepada semua yang mempu nyai wewenang HTTS dapat ber- tujuan, sebagai sarana menghim- bau kepedulian mereka untuk turut serta bertanggung jawab dalam mengusahakan status kesehatan untuk semua. Untuk peduli dan aktif men- sukseskan anamat Deklarasi Alma Ata yang mulia dan filo sofis. Kita yang hidup sekarang adalah Ummat yang mempunyai kemungkinan hidup sehat di tahun 2000, karena masa tersebut bukanlah masa yang lama lagi, tinggal beberapa kalender abad akan bertukar dan masuklah ke abad 21 yang direncanakan akan lebih sehat itu. MOMENTUM Miliaran dollar telah dikeluarkan WHO untuk program sehat untuk semua di tahun 2000 yang merupakan inti dari dekla rasi Alma Ata sembilan belas tahun yang lalu, miliaran dollar pula telah dikeluarkan untuk pro- mosi peringatan jangan merokok tetapi jumlah tersebut belum sebanding dengan jumlah dollar yang dibakar setiap hari karena merokok. Ditambah lagi beberapa milliar dollar lagi yang dihabis kan untuk pengobatan penyakit yang diakibatkan rokok. Hitung an ini adalah gambaran besarnya biaya yang terlibat dalam per- masalahan kebiasaan dan akibat buruk dari penggunaan tembakau dalam bentuk rokok. Hal ini kami anggap penting dari mancanegara. Merekapun beranjak menyerbu Indonesia. Kini, hampir di saban kota, me- reka hadir. Anehnya, hal ini mampu merubah 'selera' orang Indonesia. Bukan selera sebetul- nya, tapi lebih banyak perubahan sikap untuk dianggap modern. Banyak waralaba yang men- jual makanan kini berkecambah di Indonesia. Tengok saja ber- berbagai outlet mereka di pusat- pusat perbelanjaan. Mulai dari yang berbentuk fried chicken, ada yang California, ada yang Texas, kemudian rombongan McDonald sampai ke Pizza Hut dan Wendys. Medan juga ada gudeg Jalan Su- wondo, Polonia. Mau makan mu- rah meriah? Warung Tegal ma- rak dimana-mana. Belum lagi ru- mah makan Minang yang 'Salero Bundo', yang 'Minang Saiyo' atau entah apa lagi. Termasuk sate-nya. Mungkin rakyat negeri ini me- mang tergolong suka makan. Hal ini barangkali diamati juga oleh industrialis makanan kemasan Bagi yang tak pernah menci- cipinya, dianggap kuno. Enak tak enak, dianggap enak sajalah. Me- reka tak suka lagi dengan ma- kanan tradisional seperti Pecel Lele, soto Babat, ayam panggang Kalasan atau Wong Solo, yang - Kalau harus memenangkan pasar, berarti rumah sakit pemerintah dituntut untuk mengadakan aktivitas menggarap pasar secara lebih serius, yang pada akhirnya dapat memberikan pelayanan yang baik kepada Kalau itu dilakukan berarti rumah sakit pemerintah mengarah pada marketisasi. Tetapi marketisasi rumah sakit swadana yaitu kemandirian dapat tercapai. konsumen. kesehatan adalah VI. EKSPLOITASI CONSUMEN IGNORENCE Salah satu ciri dalam interaksi perawatan dan permintaan pe layanan ketidaktahuan konsumen (Con- sumen ignorance : DR Ascobet Gani). Ini sebabnya kenapa per saingan dalam penyediaan pe layanan kesehatan berlangsung sempurna. Konsumenlah bisa melakukan "shopping around", secara bebas, memilih dan menentukan tindakan pengobat an sendiri atau memilih pelayanan yang tarifnya murah. Dalam posisi demikian, mudah sekali pihak provider mengambil manfaat dari orang sakit supply induced demand dan "in- necessary medical procedure", adalah gejala yang sering ditemui sebagai ekses dari posisi kon- sumen yang lemah tersebut. Con- tohnya pemeriksaan laboratorium dan penggunaan alat canggih yang tak perlu, didalam operasi (Bersambung ke hal. 15) karena pada hari tanpa tembakau sedunia HTTS ini adalah suatu hari yang perlu dicatat sebagai suatu ungkapan kesungguhan ma syarakat dunia untuk berusaha menuntaskan masalah kesehatan ditengah-tengah rumitnya ber- bagai macam persoalan lainnya. Segala sesuatu yang bertujuan mengubah kebiasaan, diperlukan momentum-momentum tepat un- tuk menyampaikan pesan, agar dapat sampai pada sasaran. Pengubahan kebiasaan adalah sama dengan membuat sesuatu yang baru dan karena kebiasaan itu mengandung arti tingkah laku maka penulis menganggap HTTS ini sebagai momentum dalam penyampaian pesan deklarasi kese hatan sedunia tersebut. Persamaan tujuan kedua hal diatas, dan persamaan manfaat bagi kita semua adalah dasar kuat untuk mengambil langkah-lang kah tepat sebagai tindak lanjut himbauan kedua program organi sasi kesehatan dunia WHO yang mana negara kita juga merupakan salah satu dari anggotanya. Dalam kesempatan ini juga di sampaikan salam hormat kepada semua pihak yang selama ini aktif dalam mempromosikan kesehat an pada umumnya dan yang mem promosikan pelarangan merokok untuk kesehatan. Gerakan simpatik dengan puasa merokok selama satu hari penuh pada hari yang ditetapkan WHO tanggal 31 Mei 1997, kira nya mendapat sambutan dari seluruh lapisan masyarakat terutama para perokok aktif. Mengingat perokok aktif akan bahaya asap tembakau bagi kese hatan oleh seorang yang tidak merokok, sudah merupakan bagi an dari pencegahan diri anda menjadi seorang perokok pasif. Hidup sehat tanpa rokok patut kita dukung sebagai bagian dari peran serta masyarakat terhadap terwujudnya Sehat Untuk Semua di Tahun 2000. padahal ternyata - asetnya mil- yaran. Jenis-jenis makanan tradi- sional, pelan tapi pasti, hilang dari peredaran. Tak banyak anak muda masa sekarang mengenal lagi makanan tradisional sukunya sendiri. Restoran-restoran menulis menu yang hampir tak dikenal, bahkan terkadang juga sulit diba- ca. Tapi orang mengangguk-ang- guk juga. Pesan juga. Akhirnya, dimakan juga. Modern. Tak he- ran kalau belakangan ada pame- ran makanan tradisional dari ber- bagai suku di Indonesia. Di negeri Belanda (!). Kendati begitu banyak ragam- nya kesempatan untuk makan, namun sesungguhnya untuk ma- kan memang perlu batas. Lagi pula secara fisik ia memang pu- nya keterbatasan. Mana mungkin makan berlebihan. Selera seperti apapun, ia tak kan lebih dari sa- tu setengah piring, sekali makan. Andaikata kita tergolong yang rakus sekali, pasti tak lebih dari tiga atau empat piring. Pokoknya ada batasnya. Yang sering jadi masalah adalah kalau yang dima- kan itu semen, pupuk, minyak, bahkan beton. Yang ini memang bisa tak terbatas. Bisa untuk memberi makan orang sekam- pung, selama lima atau sepuluh tahun. (ninjun '97) Kam Lub K tug: dan khi unc Pe Kisa dud had nye yan STM sak pan hul laka bela ber bus me kir bag lag ora ten tev Se da Si se ու R o br da ra P k da
