Tipe: Koran
Tanggal: 1997-06-15
Halaman: 04
Konten
Upaya Terakhir Orang Betawi Jaga Tanah Warisan RUMAH sendiri dikontrakkan, kemudian mengontrak rumah orang lain. Itulah sebagian kecil "kebiasaan" orang Betawi di Jakarta. Malah, terkadang tetap di rumah yang dikontrakkan lalu memilih salah satu Ketika Harus Ngontrakkan Rumah menempati rumahnya sendiri, tetapi me- reka malah mengontrak di rumah orang lain sebagai tempat tinggal. Hasil uang kontrakkan dari dua rumah di Kampung Melayu dan Kayu Manis ini menjadi masukan keuangan utama bagi keluarga Betawi asli ini. Uang hasil kontra- kan dikumpulkan hingga bisa membeli sebuah rumah di Mangga Dua. Bahkan kamar di bagian belakang dekat dapur. CERPEN 0p Benakku bingung. "Maksud, Pak Tua..." Ah, saya tak melanjutkan. Saya akut ia tersinggung jika kalimatnya kuterjemahkan bahwa ia sudah mau mati dan arwahnya terbang ke langit. karya: L Nunung Rosita Pukul 10.00 WIB Thet: Gratis M engapa demikian? Apakah karena tak ada biaya hidup? Atau sebuah kebiasaan yang membudaya? Atau ada hal lain yang lebih urgensi. Namun, menurut beberapa sumber yang mengaku Betawi asli, kebiasaan itu tak lain dikarenakan salah satu upaya terakhir mempertahankan tanah warisan sebelum tergusur "pemilik modal" yang kian berjubel menguasai Jakarta. Memang, pola pikir memperta- hankan tanah warisan termasuk cukup menonjol dari beberapa orang asli Betawi. Tadjudin, misalnya, anak ke 12 dari 13 bersaudara ini malah pernah rela mengontrak sebuah rumah demi produk- tivitas tanah dan rumah warisan. la adalah seorang cucu mantan dja- wara (baca; ka- keknya disega- ni karena pan- dai bersilat). Se- bagai djawara, kakeknya telah mewariskan dua bidang ta- nah dan rumah, masing-masing di Kampung Me- layu dan Kayu Manis. Namun ke- dua orangtua- nya, Ata Sukar- ta dan Hamidah, malah mengon- trakkan rumah di dua lokasi ter- sebut. Alhasil, mereka justru tidak memiliki tempat tinggal. Bukannya membatalkan kontrak dan 15 JUNI 1907 IST Kuburan di Langit SOEPANDI, Menjelajah Etnik Penduduk Asli PAJ HO 061693 105D93D tem B URUNG, pohon pisang, bunga-bunga ataupun Soepandi, Pelukis yang sejak tahun 1975 malang melintang dengan gaya paling unik dan khas yang kini (6-15 Juni) berpameran di Lobby WTC, Jalan Jend Sudirman, Jakarta. elaki tua itu tak henti mengusap wajahnya yang garing. Debu yang MINGGU 15 JUNI 1997 Matanya menerawang tatap langit. Panjang. Menembus batas langit. Bibimya katup. Pun ia beku duduk di tepi lapangan bola. Yang menarik dalam pameran yang diberi tajuk Nuansa Warna: Perjalanan Menyusuri Wallacea ini, ia lebih mengedepankan nuansa alam yang ia temui, bingkai lukisan saat melakukan ekspedisi di Sulawesi Tenggara juga terukir serta budaya menarik dari penduduk asli. gambar aneka "Mungkin karena saya lebih menyukai alam, jadi realisme yang muncul dalam lukisan saya adalah keanekaragaman flora dan fauna serta beberapa jenis terumbu karang di Sulawesi Selatan, keindahan alam dan dinamika suku Bajau, penduduk asli sana," ungkap Soepandi. Usianya senja. Tubuhnya bau tanah. Namun ia tak pernah putus asa menyam- but hari demi hari pertambahan umurnya. Baginya, ia masih punya hari yang tanpa batas. Makanya, ia tetap saban hari ke lapangan. Ia terus memandang langit. Dan tak ada lagi yang ingat, sudah berapa lama kebiasaan itu. Yang pasti, tak ada lagi yang peduli. Lapangan dan dirinya sudah di- anggap satu. MINGGU SENIN 16 JUNI 1997 OPERTUNJUKAN BALLET PHILIPINA PAMERAN LUKISAN SOEPANDI Tempat: Lobby WTC, Gedung Hongkong Bank J. Jend SUTRADARA CECILE SICANGCO Tempat: Gedung Kesenian Jakarta Jakarta Sudirman, Puku: 20.00 WIB Tian: Rp 50.000 dan Rp.40.000 Tak ada yang tahu namanya. Ia akrab disapa Pak Tua. Kadang juga ada yang me- manggilnya Si Gila. Tapi ia tak peduli. Ia tak pernah berkata. Senyum pun terasa ma- hal. Ia hanya mengumbar tawa bila lelah memandang langit. Berbagai cerita tentang dirinya. Padahal asal dan tempat tinggalnya tak ada yang YITNO KULTUR Sebagai pelukis, Soepandi tak tanggung-tang-mengawinkan kehidupan mi- gung terjun ke lapangan. Konsepnya: berbaur de- krokosmos dan makrokosmos. ngan kehidupan lingkungan sehingga bakal timbul Antara kehidupan atas dan ba- sebuah inspirasi yang melahirkan sebuah kreasi. wah. Antara alam nyata dan alam "Penduduk serta lingkungan alam merupakan stimu- absurd. Dan yang lahir adalah lan yang baik apabila kita telah mengawininya serta kehidupan apa adanya mampu beradaptasi dan menyatu," tegasnya. yang dientaskan dengan dunia simbol kehidupan kedua kutub yang ber- lainan itu. Hasilnya pun, coretan sketsa manusia, burung, tumbuhan dan pemandangan dengan warna berane- ka. "Saya memakai bingkai besar dengan menggu: nakan papan dari pohon yang kita iris sebagai ciri lu- kisan saya. Sejauh mungkin saya juga mengukir bingkai tersebut untuk menyesuaikan judul atau me- Tradisi ini telah mengakar, meski tetap terancam oleh arus informasi yang masuk lewat berbagai media, termasuk juga pengaruh budaya yang dibawa pendatang. Menurut sejarah yang diyakini masyarakat setempat, Jatinegara Kaum adalah perwujudan dari negara di tengah-tengan hutan jati. Saat jatuhnya Sunda Kelapa ke tangan tentara mu- slim, sebagian besar tentara muslim tinggal di Jayakarta. Namun, pada tahun 1619 penduduk Jayakarta ini tersingkir akibat jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda. Tentara muslim berikut pangerannya tersingkir dan lari ke sebuah hutan Jati. Mereka kemudian mendirikan sebuah negara kecil dan jadilah Jatinegara Kaum. Hingga pada akhimya tanah warisan ini telah mengantarkan 5 sanak saudaranya naik Haji. "Ini suatu ke- banggaan besar bagi keluarga kami," kata Tadjudin. Dan yang mengagumkan, hasil kontrakan itu telah mengantarkan 12 orang saudaranya menikmati pendidikan lu- mayan. Sebuah pola pikir mempertahankan tanah warisan, juga terjadi pada Jayadini- Jatinegara Kaum Kampung Tua yang Tetap "Gadis” berkembang sampai saat ini. ATINEGARA Kaum di Jakarta Timur tampak masih'gadis meski budaya-budaya dari luar berusaha menjamah. Kampung tua ini masih eksis di tengah keramaian kaum urban. Karakter dan tradisi budaya Betawi masih mengental dalam kehidupan masyarakat aslinya. Beberapa rumah warga terlihat belum ada perubahan motif dan konstruksi rumah asli Betawi. Demikian pula dengan tradisi "yasinan" setiap malam Jumat, tradisi kewajiban membawa roti berbentuk buaya dalam acara besanan, atau tradisi pengantin pria yang melakukan pencak silat sambil bersyair sebelum bertemu dengan calon isterinya, masih dilaksanakan oleh masyarakat setempat. nambah nuansa lain dalam lukisan itu." Seperti halnya dalam lukisan yang diberi judul My Live and the Sea are One, Soepandi memadukan hubungan manusia dengan lautan luas serta isinya. Yang muncul adalah gambar perahu dan ikan serta keanekaragaman sat- wa laut. Pada macam ikan yang berusaha menyesu- aikan tema yang telah digarapnya. Atau lukisan berjudul The Tree Of Live, Soepandi "Saya orang realis. Sehingga sa- ya berusaha memproyeksikan semua apa yang saya lihat dan saya rasakan. tahu. Juga tak ada yang berani menilai Pak Tua gelandangan. Pakaiannya rapi. la tiap hari datang dengan jalan kaki saja. Entah, di mana ia mulai berjalan. Namun, ada yang SELASA 17 JUNI 1997 PAMERAN LUKISAN "SPACE SCAPE" KARYA HARUNG MAHADI Tempat: Galeri Cipta TIM, Jakaria Pukul: 20.00 WIB Tiket:Undangervigrate Fond 17 BERITA YUDHA ALTERSIER Pendidikan Rendah H Chaerudin Hs SH, Lurah Jatinegara Kaum, temyata juga orang Betawi asli yang berusaha memahami tradisi lama. Banyaknya masyarakat Betawi asli atau sekitar 60 prosen yang masih bertahan di Jatinegara Kaum, merupakan tantangan ter- sendiri buat Lurah muda ini. Semenjak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, Chae- rudin dididik dalam tradisi Betawi. Namun, ia termasuk dalam lingkungan keningratan Betawi, di mana kesadaran tentang pendidikan cukup tinggi dibanding Betawi Ora' (pinggiran). Chaerudin juga menyadari bahwa masyarakatnya yang mayoritas Betawi kurang memahami pentingnya pendidikan. Sebagian besar masyarakatnya, menganggap pendidikan cu- kup sampai bisa baca tulisan. Bahkan sebagian besar masyarakatnya rela hanya menjadi buruh pengrajin kayu di dekat rumah mereka. Di Jatinegara Kaum jarang sekali didapatkan Pegawai Negeri atau karyawan Perusahaan besar Namun, pada kenyataannya kelangsungan hidup masyarakat Betawi asli ini tetap berjalan meski hanya menjadi buruh. Karena adanya warisan tanah yang turun temurun, menjadi andalan bagi kelangsungan hidup mereka. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan, merupakan tantangan bagi Chaerudin. Ia ingin me- rombak pemikiran masyarakat yang hanya mengandalkan ta- nah sebagai identitas keberhasilan hidup mereka. Sebagai aparat asli Betawi, Chaerudin berharap Pemerintah menambah sarana pendidikan di Jatinegara Kaum. Agar ma- syarakat bisa tergugah pada makna sebuah pendidikan, dan tidak hanya menerima garis nasib sebagai buruh. #tie Menge- ngrat, warga RT 07/03 Jatinegara Kaum. la tergolong keras dalam mempertahankan tanah warisan. Rumah dan tanahnya yang luas hingga kini masih dipertahankan. Konon, tanah ini sudah ditawar tinggi oleh seorang pengusaha. Namun, tawaran menggiurkan ini tak membuat Jayadiningrat melepaskan tanahnya. # tie mengatakannya: ia pernah tuan tanah di kampung sekitar lapangan yang kini dikelilingi bangunan megah. Memang, banyak versi tentang 18 JUNI 1997 RABU PAMERAN LUKISAN TUNGGAL ARDIYANTO PRANATA Tempat Galeri Cipta II, TIM, Jakarta nai hasilnya semua orang bisa menilainya." Yang lebih menarik dari teknik lukisan Soepandi, ia menggunakan beberapa tehnik yang tak dimiliki oleh pelukis manapun di antaranya zat pewarna yang digunakan untuk media cat. "Saya menemukan zat pewarna yang belum pernah dipakai orang untuk melukis. Zat ini pernah saya perkenalkan namun or- ang tak memamakainya. Jadi cuma saya sendiri yang ber- tahan dengan zat warna itu," tuturnya sambil meraha- siakan namanya. Lalu berapa harga lukisan yang dipajang di Lobby WTC sampai tanggal 15 Juni tersebut? Dari lukisan berukuran sampai besar, Soe- pandi memasang harga 1 juta sampai 10 juta rupiah. "Hasil penjualan lukisan akan kami bagi untuk dompet Dhuafa Republika," ungkapnya pendek. kecil #hmk keberadaannya. Ada cerita bahwa Pak Tua dulu berperang mempertahankan tanah le- luhurnya. Ia mengorbankan segala harta- nya untuk perjuangan. Dan setelah kemer- dekaan, ia dicampakkan. Padahal, harta- nya sudah habis. Jadilah ia selalu datang ke tanah lapang yang masih tersisa dari bangunan mentereng dan ia bebas berdiri maupun duduk di sana dari pagi hingga ma- tahari ditelan laut. Teka-teki tentang keberadaannya me- mang selalu menggelitik. Saya pun menda- tanginya. Tiap hari saya mencoba menga- jaknya bicara. Tapi ia tetap beku. Bak gunung es, saya harus lama menunggu- nya cair. Dan akhirnya, entah ke hari bera- pa, ia bicara pelan. "Nak, saya mau dikuburkan di langit?" Benakku bingung. "Maksud, Pak Tua..." Ah, saya tak melanjutkan. Saya takut ia tersinggung jika kalimatnya kuterjemahkan bahwa ia sudah mau mati dan arwahnya terbang ke langit. "Nak, saya mau dikuburkan di sana", dan tangan Pak Tua menunjuk kuat langit yang terang. Saya menjawabnya dengan anggukan. "Mengapa? Bukankah masih ada tanah ku- buran di bumi?" Pak Tua tertawa renyah. Giginya dua biji mencuat dan di ujung bibirnya muncrat air liur. Keningku berkerut. "Apanya yang lucu, Pak Tua?" la masih tertawa. Lalu: "Tak ada lagi tanah untuk saya. Semua sudah milik or- KAMIS PAMERAN TUNGGAL FOTOGRAFI BENNO HARUN Tempat: Galeri TC, JL Kamang Raya No.24 telp 7194270 Pukul: 10.00-20.00 WIB 19 JUNI 1997 RATNA SARUMPAET Kepedulian Seniman sederhana. di wajahnya menampakkan gurat-gurat kesedihan terpendam. "Persoalan buruh terutama buruh wanita memang harus diperhatikan. Lihatlah kasus Marsinah yang sampai kini tak jelas penyelesaiannya. Dan saya sebagai wanita merasa sedih, prihatin sekaligus marah dengan persoalan itu," ungkapnya dengan nada geram. Itulah Ratna Sarumpaet, sutradara teater Satu Merah Panggung yang kerapkali me- nampilkan pertunjukan teater dengan gayanya yang khas. Kepiawaiannya menyutradarai teater sekaligus menulis naskahnya memang telah diakui dunia sehingga tak heran ia turut diundang dalam 4th International Woman Playwreight Comfrence di Galway, Ireland 22-29 Juni mendatang. ang yang dulu entah apakah ikut berjuang atau tidak." la jeda. "Kalau saya ingin tanah kuburan, saya masih harus membayar. Padahal... (ia diam), saya tak punya pensiunan ataupun gaji veteran." Ia tercekat. 4 "Saya bangga sekali diundang dalam ajang internasional untuk kedua kalinya. Kebe- tulan saya akan membawakan makalah yang bertema seputar naskah Marsinah dan Bawah Tanah," ungkapnya saat ditemui BERITA, Jumat (13/6) di Markas Satu Merah Panggung, Kampung Melayu Kecil, Jakarta. Masih menurut Ratna, persoalan buruh yang "disia-siakan" baik lahir batin itu harus kembali diungkap ke permukaan sehingga mereka jelas keberadaannya. "Ini memang su- dah menjadi masalah global dan universal di mana pun di pelosok dunia. Nah kita sebagai penulis dan seniman harus bisa membela orang yang tersudut tersebut. Karena kita bu- kan ahli hukum, ya lewat teater kita coba membuka mata dunia mengenai sebagian orang yang merasa disudutkan dan dipojokkan itu," lanjutnya. Apa yang bakal dibahas dalam konfrensi penulis teater wanita yang diikuti kurang lebih 700 peserta tersebut? Ratna lebih mengedepankan persoalan buruh secara universal. "Kita terlalu bangga dengan peningkatan UMR yang hanya naik berapa rupiah itu. Namun bukan itu, apakah upah tersebut telah menyejahterakan mereka atau belum. Saya juga menghimbau agar sebagai seniman dan penulis naskah, tak hanya bicara soal cinta, namun soal kemanusiaan macam buruh juga perlu diangkat ke permukaan," tandasnya. Dalam acara temu penulis teater dunia tersebut, lakon Marsinah juga akan dimainkan oleh para mahasiswa Galway, Irlandia. "Naskah Marsinah sudah disadur dalam bahasa Inggris. Dan tentunya akan menjadi acuan yang memperkuat makalah saya nanti," lanjutnya. #hmk Saya diam. "Nak, dulu saya ikut berjuang. Eh, maaf saya tak bermaksud menyombongkan diri." SOSOK Julius Caesar Pemain Sinetron ke Teater ua bintang sinetron papan atas: Bleszynski bakal bermain bareng, namun bukan di depan kamera, melainkan di atas panggung. Berlebihan memang, di mana mereka biasa nampang di depan kamera, kini harus berhadapan langsung di depan penonton yang sebelumnya selama tiga bulan menghafal naskah, latihan vokal. bloking, improvisasi serta elemen lain yang mesti dilalui dalam dunia teater. "Tak ada persoalan karena basic saya berawal dari teater. Hanya tinggal meninggikan vokal serta bermain improvisasi secara intens ditambah dengan power super ekstra, saya siap main teater dengan judul macam apa saja," ungkap Didi pelet yang didaulat menjadi tokoh legendaris jaman Romawi, Julius Caesar. teater. "Sulit dan susah sekaligus tertantang untuk memainkannya." Julius Caesar, adalah sosok manusia yang tenggelam dalam dunia yang penuh ambisi. Segala macam dalih dan alasan yang mengatasnamakan cinta, persahabatan dan perdamaian demi mencapai tujuan akhir yang diinginkan, yaitu tetap berkuasa atau menjadi penguasa alas din orang lain. Drama Julis caesar garapan sutradara Joseph Ginting dan Azuzan JG ini merupakan kisah aktual dan uni- versal dengan kondisi zaman sekarang, baik untuk apapun dan siapapun. Pertunjukan yang merupakan produksi ke-22 ini digarap oleh Teater garapan Teater Lembaga IKJ yang bakal bermain tanggal 11-13 Juli '97 dengan mengangkat beberapa pemain seperti Sigit Hardadi, Harry Darsono, Boyke Mulyana, Boy G. Sakti serta beberapa pemain lainnya. #hmk Lain halnya Tamara Bleszynski yang mengaku baru pertama kalinya naik panggung untuk urusan pertunjukan Dan saya pun membiarkannya bercelo- teh. Kami tak peduli tatapan orang yang lewat di tepi lapangan. "Saya dulu kerja sebagai KNIL. Teman- teman pejuang banyak yang memusuhi karena hanya pimpinan yang tahu jika saya hanya pura-pura kerja di orang-orang Belanda. Saya serahkan diriku untuk negeri ini. Semua rahasia saya bocorkan. Malah, harta saya serahkan untuk biaya perjuangan. Tapi, apa yang saya dapat. Setelah perjuangan, tak ada yang peduli. Mereka menudingku pengkhianat. Pada- hal, saya juga berjuang. Ya, ini nasib saya, Nak." la melirikku. "Nak, saya tak me- nyesal." ISTIMEWA Saya hanya mampu memegang kepala. Menarik ujung-ujung rambut yang tak gatal. Rasanya ingin juga saya katakan bahwa nasibku hampir sama. Ingin saya katakan bahwa teman-teman terbaikku menilai saya pengkhianat karena ketika mengajak teman-teman kerja saya untuk keluar dari tempat kerja, saya menahan yang akan diajak. Saya berjuang agar tak ada yang keluar. Karena saya tahu: betapa susah- TUMAT 20 JUNI 1997 PAMERAN FOTO ATTITUDES: OPERA DE PARIS Tempat Geleri CCF Salemba, J Salemba Raya 25 Jakarta Pusat Pukul: 10.00-21.00 WAB nya bekerja dengan sedikit orang, semen tara pekerjaan bertumpuk. Apalagi sudah merasakan beratnya pekerjaah saat te- man-teman terbaikku itu pergi. Ya, saya pun harus rela dituding pengkhianat. Pun saya masih ingat komentar pakar sejarah bahwa pejuang dan pengkhianat dilihat darimana kita berdiri. "Nak, saya mau dikuburkan di langit." Saya tersentak. Pun masih berkeca- muk di batin, apakah saya harus bercerita. Aha, tak perlu. Mungkin saja, Pak Tua itu ngibul. Ia mengkhayal merasa pejuang padahal memang KNIL murni. "Nak,..." Segera saya potong: "Mengapa harus dikubur di langit?" "Tanah ini sudah lama tak meng inginkan tubuh rentaku. Jika ingin, sudah lama saya harus pergi menyusul teman teman seperjuangan yang kuburannya entah di makam mana di bumi ini." "Pak Tua, yakinlah bahwa tanah ini juga bagian dari kita." la tertawa. Gemanya menusuk bumi dan memantul ke langit. Matanya tetap menerawang tembus awan. Pun saya meninggalkannya. Sendiri menatap langit. Pikirku: ia memang gila, penuh ilusi. Dan membiarkan ia hanya me- miliki langit, karena saya masih harus kerja keras untuk bisa punya tanah. Padahal, tiap detik, harganya melambung dan saya tak pernah bisa meraihnya. Toh, akhirnya kadang terlintas: apakah saya memang harus dikuburkan di langit. # SABTU 21 JUNI 1997 PAMERAN KARYA OTTO DIX: BUASNYA PERANG : GRAFIS TAHUN 20-AN Tempat: Galan Cipta Taman Ismail Marzulo (TIM) Jakarta Pukul: 10.00-21.00 WIB Tiket: Gratis
