Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Berita Yudha
Tipe: Koran
Tanggal: 1997-06-15
Halaman: 12

Konten


W.I.S.A.T.A PRJ: INTROSPEKSI DAN PROMOSI rapkan Jakarta Fair 1968 dapat mendorong ke masa depan yang lebih baik...." demikian pesan Presiden di saat itu. Taman Suropati No 7. Pertemuan itu berhasil membentuk panitia persiapan Kadin. Pada tanggal 4 Oktober panitia melaporkan terben- tuknya AD/ART serta Tata Tertib Musyawarah. Akhir bulan Oktober, Kadin Jaya terbentuk de- ngan pimpinan Syamsudin Mangan. Dan aktif mulai 8 Januari 1968. Sejak saat itulah, ide pe- nyelenggaraan PRJ dilimpahkan kepada Kadin. Syamsuddin Mangan segera melakukan ak- sinya, melaksanakan pekan raya itu. Dimulai dengan mengubah sebuah padang rumput tak terawat di sudut tanah lapang Merdeka, diubah- nya menjadi tempat pekan raya Jakarta yang berskala nasional, dan di kemudian hari meng- internasional. MINGGU 15 JUNI 1997 Seiring kemajuan pembangunan bangsa, PRJ tetap merupakan refleksi dari hasil pemba- ngunan. Produk-produk dalam negeri dari sejak awal pembangunan hingga yang paling anyar menjadi tontonan rakyat. Sekaligus menjadi sarana promosi. Untuk memperlihatkan kepada dunia sejauhmana kemajuan bangsa. Pun un- tuk bisa dinilai oleh rakyat akan keberhasilan pembangunan. Semakin tahun, PRJ pun semakin marak. Sebagai era promosi, tema-tema PRJ diarah- kan pada promosi produk dalam negeri. Seperti tema yang sudah lalu. Pada tahun 1973 tema PRJ adalah Promosi Kerajinan Indonesia. Dua- puluh tahun berikutnya, 1993, temanya: "Arena PRJ merupakan sarana untuk Menembus Pa- sar Global Melalui Perluasan Tujuan Pasar". TAHUN ini, Pekan Raya Jakarta (PRJ) memasuki tahun ke-30. Bak manusia, PRJ yang dulu dikenal Jika kita buka kembali pidato Presiden Soe- harto dalam penyelenggaraan Djakarta Fair pertama kali, tahun 1968, nasehatnya jelas se- kali untuk soal introspeksi dan promosi, yang menjadi visi dan misi PRJ. "..Jakarta Fair 1968 sebagai alat introspeksi atau perbandingan diri dari hasil usaha yang telah dicapai selama ini untuk ditingkatkan dan dikembangkan lebih lan- jut, juga sebagai alat pendidik, tempat rekreasi dan Jakarta Fair juga dapat menunjukkan bah- Promosi pembangunan bangsa menjadi branch utama PRJ. Padahal konon, usul Jakar- ta Fair yang dikemukakan Ali Sadikin yang keti- ka itu menjadi Gubernur DKI --kurang menda- pat tanggapan. Namun, Bang Ali meneruskan idenya itu. Tanggal 24 Juli 1967, Bang Ali memanggil semua unsur pimpinan perusahaan swasta na- Djakarta Fair, bukan lagi wa ekonomi kita tidak mati sama sekali. Diha- sional, koperasi serta perusahaan negara ke anak-anak. Sudah dewasa. Sangat mapan. Sehingga, keberadaan dan keprofesionalannya bukan lagi kacangan. Betulkah? Atau malah lebih menurun setelah pindah dari kawasan Monas ke Kemayoran? PASAR GAMBIR KEMAYORAN puti General Manager PT Jakarta In- ternational Trade Center (JITC), Drs Rudi Hendra, dianggarkan dana Rp 11 miliar. Sebanyak Rp 6 miliar di an- taranya untuk sajian budaya. Biaya sebesar itu, merupakan yang terbe- sar selama ini. 1.... Tersaji Rp 11 Miliar Kes 1997 penyelenggaraan eseluruhan penyelenggaraan nampilkan produknya seperti ruang kontak dan transaksi bisnis. Setiap tiga hari jumlah transaksi yang terjadi di PRJ akan dipublikasikan. Pada PRJ kali ini, PT JITC seba- gai penyelenggara juga menyedia- kan fasilitas bagi peserta yang me- CAGLE Selain pemerintah Indonesia, be- berapa pemerintah negara sahabat yang ikut serta di antaranya Taiwan, Hongkong, Pakistan, Irak, Iran dan negara-negara ASEAN. Sekitar 20 perusahaan besar dari Inggris, Jer- man, Swedia, Taiwan dan Hongkong juga turut ambil bagian. emarin (14/6) pagi, PRJ diresmikan Wapres Try Sutrisno. Mampukah masih memikat seperti awal terbentuknya? Tapi, keberadaannya dari tahun ke tahun, tetap dipadati pengunjung dan peserta yang menyerbu stand untuk memamerkan karyanya. K Apalagi, dari usia 29 tahun, selama itupula PRJ menjadi alat introspeksi dan promosi pro- duk-produk dalam negeri. Baik di mata masya- rakat dalam negeri maupun luar negeri. Karena sejak tanggal 25 Oktober 1974, PRJ telah resmi ditetapkan sebagai anggota Perhimpunan Pekan Raya-Pekan Raya Internasional (UFI) di Paris. Pengakuan UFI tentunya didasari dengan kemajuan-kemajuan PRJ sejak dibukanya pada tahun 1968, serta permohonan kepada perhim- punan itu pada tahun 1971. Wapres Try Sutrisno dan Nyonya mengunjungi stand Nusa Tenggara Timur, di PRJ 1996. Dengan persiapan penyelenggaraan seperti itu, PRJ kali ini diharap- kan dikunjungi 2,5 juta or- ang. Meningkat 0,3 juta K lumnya. Yakni: nuansa kebudayaannya yang makin kental. Arena pameran perdagang- orang dibandingkan ta-an kebanggaan Jakarta kali ini memang akan mewujudkan ambisi sebagai pesta bisnis-buda- ya terbesar di Asia Tenggara. hun lalu. Jika angka itu tercapai berarti merupa- kan peningkatan pengun- jung yang terus menurun sejak 1990. Tahun itu, PRJ dikunjungi 2,4 juta orang. Namun tahun beri- kutnya terus menurun menjadi 2,2 juta (1991), 1,6 juta (1992) dan 1,8 ju- ta (1993). Tahun 1996 jumlahnya meningkat lagi namun hanya 2,2 juta sa- santo ja. # bor/fan Seremonial pembukaannya bisa menjadi pertanda, karena penuh dengan kemarakan se- ni dari Brazil, Polandia, Afrika Selatan, Austra- lia, Korea, Inggris, Skotlandia dan RRC. Khusus dari negara yang disebut terakhir, diwakili pe- nampilan 30.000 lentera kuno. Sebanyak 22 lentera berbentuk dinosaurus. Ada juga yang berbentuk Monas dan Mesjid Al-Azhar. Meski menyandang hotel bersejarah menu- rut pengakuan Stefan Wilson, wisatawan asal Swiss, heran dengan hotel agung yang kurang begitu dibenahi dengan baik. Cat gedung yang agak gelap pertanda jarang disentuh pupur, karpet yang butut bahkan ada bolongnya serta toilet-toilet dari bahan-bahan berkelas tinggi yang juga terkesan tidak dirawat. Menurut, Deputi General Manager PT Jakar- ta International Trade Center (JITC), Drs Rudi Hendra, lentera itu berasal dari Propinsi Sechu- an. Mereka akan ditampilkan lahan seluas 1,7 ha. Diperagakan pula atraksi naga raksasa HOTEL INDONESIA Padahal seperti diakui Hamid Awaludin, dosen Unhas yang berdomisili di AS selama 10 tahun, HI masih memiliki begitu banyak ke- unggulan untuk tetap menjadi hotel pelopor yang berasitektur unik. Hal ini dapat dilihat di ruang makan di Ra- mayana Terrace dengan interior yang penuh bertaburan peninggalan sejarah. Jiwa, sema- Nuansa Kebudayaan Internasional ALAU ditanya apa perbedaan PRJ tahun ini dengan tahun-tahun sebe- Penuh Nilai Sejarah JIKA ditanyakan, hotel mana yang layak disebut hotel bersejarah, maka Hotel In- donesia (HI) harus dikedepankan untuk kategori itu. Dan selain sebagai lokasi wisata, hotel ini menyimpan begitu banyak nilai historisnya. asil karya seni kelas dunia, relief yang melekat di dinding Ramayana Terrace merupakan bukti konkret. Atau, relief yang dibangunnya. karya Agung G Dharta (1961) yang terpam- pang seolah merangkul para pengunjung. Adapula lukisan fenomenal pelukis besar Lee Man Fong (1961). Kedua peninggalan besar selera seni yang tersimpan di HI. Ini belum ini telah menjadi simbol betapa tingginya nilai terhitung lukisan dan relief-relief lain yang berdiri tegak di Hl. ager HI, Henny Puspitasari ketika ditemui BERITA mengungkapkan bahwa pihaknya belum berpuas diri. Satu hal yang terus dike- dan SDM. Dengan sentuhan dua hal krusial jarnya adalah peningkatan mutu pelayanan ini ditambah perawatan fisik hotel, diharapkan tetap mengokokohkan posisi HI sebagai salah satu hotel terbaik dan menyimpan segudang nilai historis. Kemegahan hotel ini konon masih berta- han hingga paruh pertama 70-an. Dengan le- taknya yang strategis, persis di urat nadi Ja- karta membuat HI terpandang. Makanya, tak salah jika banyak yang memuji gagasan Ir Soekarno, Presiden pertama RI inilah yang di nilai sangat prima dalam memilih lokasi. ngat perjuangan bangsa Indonesia juga tidak terlepas dari hotel ini pada latar belakang pertama dibangun di Indonesia, hotel ini juga Sebagai hotel yang 'mencakar langit' dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Ma- klum penetapan itu akibat 'hotel pelopor' ini, juga memiliki nilai sejarah tersendiri dari segi ketinggian 15 tingkat layak pula merupakan arsitektur maupun seni rupa. Hotel dengan monumen bersejarah di dalam kepariwisata- an di Indonesia. Dengan memiliki segala atribut kemegah- an seperti itu maka tak heran jika HI akhirnya menjadi simbol kelas di Indonesia. Kaum elite negeri, bangsawan hingga kaum berduit suka datang ke sini, baik menginap, berdansa atau malah sekedar makan, minum kopi atau kong- kow-kongkow saja. Dari arah manapun di Jakarta ini, HI tentu tampak gagah meski diapit juga oleh hotel berbintang lainnya yang menggapai langit. Bangunan berbentuk T ini jika dipandang dari JI Imam Bonjol akan terlihat melintang, demi- kian juga jika dilihat dari JI Thamrin. Letak ini akan menimbulkan kesan lebar jika dilihat dari kedua jalan tersebut. santo Hotel ini oleh pihak Diparda dijadikan seba- gai salah satu lokomotif penghela gerbong wi- satawan asing ke Indonesia sehingga tak he- ran jika yang singgah akan merasa hebat jika berfoto di hotel tersebut atau hanya sekadar melihat, memegang pagar hotel jangkung itu. Meski bersimbol sejarah rupanya PR Man- setinggi 18 meter yang terbuat dari mangkuk dan porselen. Dengan ambisi menjadikan PRJ juga se- bagai pesta budaya, semua atraksi kebudayaan dari negara-negara partisipan di atas, akan di- suguhkan setiap hari dan bergaya festival jalan- an (street festival). "Festival Karnaval ini akan kita gelar selama sebulan penuh bersamaan dengan PRJ. Dan ini merupakan fstival karna- val pertama di Indonesia," ujar Franki Raden, Sutradara Festival PRJ, menjawab wartawan di Jakarta. Dalam acara pembukaan, tim kesenian man- canegara di atas, juga tampil bersama para se- niman Indonesia. Franki menyebutkan, sedikit- nya 437 tim seniman dalam dan luar negeri me- meriahkan street festival diberi nama Jakarta International Carnival (JIC) ini. Pementasan atraksi budaya dari delapan negara dan Indone- sia setiap hari sejak pukul 18.00-19.00 WIB PRJ pertama diadakan 15 Juni hingga 20 Juli 1968, di lapangan Monas. Dengan luas 11 Ha, PRJ yang saat itu dikenal Jakarta Fair, di- ikuti 160 peserta yang terdiri dari pengusaha nasional, departemen-departemen, pemerintah daerah serta badan dan lembaga resmi lainnya. Selain itu jelas Henny, guna meningkatkan fa- silitas dan kenyamanan para pelanggan, HI juga telah melakukan beberapa perbaikan fasilitas yang ada seperti penggantian karpet di ruang serbaguna yang konon merupakan ruang terbe- sar. # ida/wir Sayangnya, persis dua bulan sebelum pe- nyelenggaraan PRJ pertama dibuka, Sjamsud- din mendadak tutup usia. Meski demikian, gore- sannya tak akan hilang. Meski tempat PRJ se- karang sudah berpindah jauh lokasi ke bekas bandara, tetapi goresan tetaplah akan tergores. Goresan pertama, Sjamsuddin Mangan, menja- di awal mula PRJ. # rahmat supana yang dilakukan secara bergiliran. Tampilannya berupa tari, musik dan budaya. Jumlahnya 70 kelompok. Mereka dibagi da- lam enam grup yang tampil lima hari secara bergantian. Menurut Franki, untuk menggelar festival karnaval ini penyelenggara PRJ menge- luarkan dana Rp 900 juta. "Untuk menggelar arak-arakan ini PT Jakarta International Trade Fair Corporation (JITC) sebagai penyelenggara dan penanggung jawab PRJ menyediakan dana khusus serta bantuan dari sejumlah Pemda," ungkapnya. Tim kesenian dari berbagai daerah akan menggelar acara seni, musik, dan budaya di PRJ sebagai pendukung arena pameran dagang di PRJ. 12 ALI SADIKIN Inspirasi Pasar Rakyat ASAR Gambir tempo dulu, adalah pusat di tahun 1921, menjadi semacam pasar rakyat. Se- mua jenis produksi rakyat diperjual-belikan di sana. Aneka jenis musik pun hadir untuk menghibur peserta dan pengunjung pasar Gambir. aries Namun, keramaian Pasar Gambir, tak pernah di- tonton langsung Ali Sadikin. Penggalan kisah pasar Gambir itu disadur kakak dan pamannya, tapi telah mengilhami Bang Ali selaku Gubemur DKI Jakarta, untuk membikin Jakarta Fair, tahun 1968. Sebelum- nya, Bang Ali menganjurkan stafnya untuk melihat Hamburg Fair, Leipzig Fair, dan berbagai jenis Fair di belahan dunia lainnya, sebagai bahan banding. Di mana-mana ada fair-fair-an yang sifatnya hanya untuk pemasaran hasil produksi. "Kenangan itulah yang membuka pikiran saya untuk mengadakan Ja- karta Fair di Jakarta. Saya sudah memperhitungkan, kalau kita menghidupkan produksi, maka kita memer- lukan jalur dan lapangan pemasarannya," kata Ali Sad- ikin, seperti tertulis dalam memoarnya "Demi Jakarta 1966-1967 yang ditulis Ramadhan KH. Uniknya, ketika rencana pelaksanaan Jakarta Fair, Bang Ali ajukan ke pemerintah pusat, ide itu tidak mendapat sambutan hangat. Namun ia tetap mene- ruskan gagasan pelaksanaan Jakarta Fair, karena yakin bahwa wadah seperti itu memang sudah dibu- tuhkan. Atraksi kesenian unik juga bakal dipentas- kan seniman Afrika Selatan (Afsel) yakni tarian yang diberi nama Afro-Malay. Bentuk seni tari yang berakar pada budaya Melayu dari Indone- sia. Atraksi ini akan diperkuat 22 seniman. Ko- non, ungkap Franki, banyak orang Indonesia yang merantau ke Afsel sekitar abad XVI. Di sa- na mereka mengembangkan tradisi dan keseni- an yang dibawa dari Indonesia, sebagai perwu- judan rasa rindu pada tanah air. "Di samping segala wadah pameran dan promosi bagi kegiatan perdagangan dan industri, Jakarta Fair saya maksudkan sebagai usaha Pemda DKI untuk menambah dan mencukupi tempat tempat hiburan yang murah dan sehat bagi warga kota Jakarta," de- mikian Bang Ali, ketika itu. Sementara itu, kesenian lokal yang ikut me- meriahkan PRJ di antaranya Gordang Sembi- lan dari Tapanuli Selatan. Kesenian ini, merupa- kan jenis musik yang menggunakan sembilan Jakarta Fair pertama dilaksanakan 15 Juni sampai bedug besar berbentuk rentengan drum chimes | 20 Juli 1968. Diikuti 160 peserta terdiri atas pengusa- yang dimainkan dalam keadaan in trance (se- ha nasional dan luar negeri, departemen-departe- tengah sadar). Alat musik yang sangat langka di men, pemerintah daerah serta badan dan lembaga dunia ini hanya terdapat di Tapanuli dan Burma. resmi lainnya. Areal yang dipakai pada penyelengga- raan pertama itu hanya 11 hektar. Setahun kemudian, 1969 kegiatan serupa menempati 18 hektar dan pada tahun 1970 memakai areal 21 hektar. Selain menggelar street festival, Franki yang juga bertindak sebagai Koordinator Program PRJ 1997, mementaskan musik perkusi. Seni- man yang ambil bagian dalam pagelaran ini be- rasal dari Selandia Baru, Amerika Serikat, Bra- zil, Prancis, Autralia. Mereka merupakan kelom- pok musik prestisius di negaranya. Penampilan musik perkusi ini mendapat dukungan penuh dari UNESCO (Lembaga di bawah PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu penge- tahuan dan kebudayaan). "Kami sangat berteri- ma kasih kepada UNESCO yang bersedia men- dukung acara ini," katanya. # bor/fan Semerbak Aroma Bumbu Betawi di HI ESTORAN Ramayana di lantai dasar Ho Re Indonesia (H) boleh jadi berubah sebagai warung Betawi selama sepekan. Dalam sepekan restoran ini akan dipenuhi semerbak bumbu-bumbu khas Betawi. Maklum, hotel tua ini juga turut meramaikan HUT ke-470 Kota Jakarta dengan bersibuk ria menggelar "Pekan Betawi 1997". Acaranya sendiri menurut PR Manager HI, Henny Puspitasari akan digelar dari 16-21 Juni 1997. Musik Tanjidor, Rebana Biang, Gambang Kromong dan tari-tarian khas Betawi yang akan dibawakan oleh Grup Tari Indonesia Per- mai akan ikut meramaikan. Sementara aroma bumbu masakan Betawi dapat dinikmati di Kini PRJ di Kemayoran. Dan tak dapat disangkal, sudah bergeser menjadi pameran bisnis. Acara hi- buran, seakan-akan sebagai pelengkap belaka. Wa- lau tetap dihidupkan untuk menarik minat masyarakat pengunjung. Tapi, meningkat atau menurunnya jum- lah pengunjung menurut Bang Ali bukan sebagai uku- ran mutlak. "Yang penting, PRJ harus berhasil mem- percepat roda perdagangan barang hasil produksi dalam negeri," katanya ketika meresmikan PRJ tahun 1975. # shak/pik deretan warung-warung soto Jakarta, laksa, hotel Indonesia seperti ondel-ondel, topeng, hiasan daun kelapa dan miniatur rumah kerak telor, gado-gado Jakarta, juhi ketok, na- si ulam, sambal, goreng terbang, toge goreng, kue putu, kue pepe karet, kue abuk dan ber- bagai masakan asli Betawi lainnya. masyarakat Betawi turut menyemarakan "Pekan Betawi 97" ini. # ida/wir Selama sepekan menu-menu tersebut akan dikombinasikan. "Hanya jenis makanan seperti laksa, kerak telor, gado-gado Betawi selama secara terus menerus disajikan," kata Henny. Gawe tahunan seperti ini selalu dikombina- sikan agar dapat menarik minat pengunjung. Nuansa Betawi akan dikemas dengan kental. Hiasan-hiasan meriah ala Betwai di area lobi utama dan beberapa tempat di lingkungan INFO PEKAN BETAWI 1997 Tanggal : 16-21 Juni 1997 ● Tempat : Ramayana Restoran-HI Jakarta Tarif menu : Rp 31.000 ++ Buka: Setiap malam (Pukul 19.00-21.30 WIB)