Tipe: Koran
Tanggal: 1992-04-20
Halaman: 04
Konten
2.cm 4.SENIN WAGE, 20 APRIL 1992 OPINI kgy Berdialog Berdasar Format Lama MELALUI PTRI (Perwakilan Tetap Republik Indonesia) Sekjen PBB untuk pertama kalinya memberitahu Indonesia tentang keinginan Portugal guna memulai lagi dialog tentang Timtim dibawah naungan PBB. Presiden Soeharto menyatakan bahwa Indonesia bersedia untuk melayani upaya PBB dalam mencari penyelesaian mengenai masalah Timtim di PBB, yaitu penyelesai- an yang dapat diterima oleh masyarakat internasional. Upaya semacam ini sebenarnya sudah berjalan sejak 1988 hingga September 1991. Portugal pernah melakukan kiat ingin mengirim delegasi parlemen. Persyaratan-persyaratannya telah disetujui bersama. Namun Portugal menyelundupkan seorang wartawan -bukan warga negara- dalam rombongannya. Karena tidak memenuhi kriteria delegasi, Indonesia menolak keikut- sertaannya. Kita masih ingat, protes keras negara bekas penjajah ini kepada Australia. Katanya negara tetangga kita terdekat ini tidak mempu- nyai hak untuk menandatangani persetujuan tentang celah Timor. Dan mengancam akan mengajukan ke Mahkamah Internasional, karena wilayah perairan Timtim masih diaku sebagai miliknya. Australia menganggap protes tersebut sebagai "gonggongan anjing" saja, terus merealisasi kerja sama bilateral ini. Insiden Dili tidak dilewatkan begitu saja oleh Portugal untuk mempengaruhi pendapat umum dunia. Namun semuanya tidak berbekas di forum internasional. Hanya dilakukan sporadis oleh negara-negara tertentu yang pengaruhnya mendatar saja. Apalagi setelah tahu tindakan-tindakan tegas yang dilakukan oleh pemerintah terhadap semua pihak yang dinilai bertanggungjawab terhadap peristiwa tadi, berdasarkan hukum yang berlaku. Semuanya seakan berlalu begitu saja, jika dilihat dari sudut komunikasi. Lalu provokasi kapal Lusitania Expresso, dampaknya sama saja. Katakan komunikasi politik Portugal tidak dapat menumbuhkan kondisi yang menguntungkan negara ini. Kedudukannya selaku ketua ME, yang berdekatan waktunya dengan penolakan Indonesia terhadap bantuan Belanda lewat IGGI, tidak menunjukkan terdapat usaha bersama guna memojok- kan Indonesia. Malah Bank Dunia telah membentuk CGI sebagai pengganti IGGI. ME lebih banyak memikirkan terwujudnya PTE mulai 1 Januari 1993. Dari mata uang tunggal, standarisasi, normalisasi, perbankan, perlindungan hukum yang sama terhadap warga negara semua anggota sampai untuk memperoleh kekaya- an menurut pilihannya yang ditawarkan oleh pasar besar itu dengan berbagai macam produk dan pelayanan yang baru. Dialog di bawah naungan PBB itu diadakan, karena masalah Timtim selalu gagal dijadikan agenda untuk dibicarakan di badan dunia itu. Tentunya ini berkat diplomasi Indonesia, hingga bisa terjadi hal yang demikian itu. Dalam perjalanan kenegaraan Presiden Soeharto ke Amerika Latin, Afrika untuk menghadiri KTT Nonblok di Zimbabwe telah menumbuhkan pengertian yang benar bagi bekas jajahan Portugal mengenai integrasi Timtim dan posisi Indonesia, termasuk dalam percaturan politik dunia. Indonesia bersedia melayani atau berdialog dengan Portugal, dengan syarat berdasarkan format lama. Portugal tidak membawa segelintir orang dari luar negeri yang mengatasnamakan Timtim. Yang berhak mewakili Timtim adalah pemerintah RI. Kalau ada yang dari Timtim adalah warga negara RI, asal Timtim yang duduk di DPRD atau Pemda. Bisa juga pemuka masyarakat. Bila tidak sulit dicari penyelesaian. Janji Sekjen PBB Boutros Ghali untuk selalu mengadakan penjajagan tentang masalah Timtim, kita harap akan berpijak pada Dasa Sila Bandung. Mesir, asal Sekjen merupakan salah satu negara yang melahirkan prinsip yang penting itu. Hingga banyak negara yang jadi merdeka dan umumnya tergabung dalam kelompok negara Selatan dan GNB. Memahami Psikologi Petani Cengkeh GUNA mengatasi kelebihan produksi cengkeh selama ini, salah satu kebijakan pemerintah yang paling akhir diumumkan adalah akan "menebas" atau memotong tanaman cengkeh seluas 120.000 hektar atau 40 persen dari total tanaman cengkeh di Indonesia yang seluas 300.000 hektar (Bernas, 19/4). Dan dianjurkan pada para petani cengkeh untuk melakukan diversifikasi ke tanaman lain. Pemerintah akan memberikan sumbangan dalam melaksana- kan diversifikasi ini. Kebijakan yang ditempuh ini merupakan alternatif yang lebih lunak daripada pembakaran cengkeh yang diungkapkan oleh Ketua BPPC beberapa waktu yang lalu ketika mengawali gegernya berita kelebihan produksi. Walaupun bisa jadi, kita sendiri sampai sekarang tidak tahu, apakah pemerintah memper- bolehkan BPPC membakar cengkeh petani atau tidak, mengingat keputusan pemerintah akhir-akhir ini memang sulit diduga walaupun tetap masuk akal. Yang jelas dalam waktu sekitar seminggu ini, kita telah mendengar dua upaya prinsipiil pemerintah dalam mengatasi kemelut cengkeh yang masih terus berlanjut ini. Tepatnya, pada tanggal 9 April yang lalu pemerintah telah memutuskan untuk menyertakan Inkud (Induk Koperasi Unit Desa) dan Puskud (Pusat Koperasi Uni Desa) dalam tata niaga cengkeh bersama BPPC. Dengan penyertaan ini secara bertahap antara 3-5 tahun, peranan BPPC akan dialihkan kepada Inkud dan Puskud. Selain itu pemerintah juga melakukan penyesuaian harga dasar cengkeh dan memutuskan tidak memberikan dana tambahan lagi bagi BPPC. Dan kemudian dengan keluarnya keputusan ini, bagaimana dampaknya bagi para petani yang telah bersusah payah dan yang telah menjalankan anjuran pemerintah untuk menaman cengkeh itu? Keputusan pemerintah untuk menebas 40 persen kebun cengkeh yang ada di Indonesia ini tentu telah dipertimbangkan dengan sangat matang. Namun sebenarnya bagaimana psikologi petani dengan adanya keputusan pemerintah yang bertubi-tubi ini? Agak sulit untuk menjelaskan psikologi petani dalam mengolah dan mengerjakan tanahnya. Tetapi gambaran dari Mubyarto (1983) mungkin dapat sedikit memberi keterangan. Guru Besar Ekonomi Pertanian dalam bukunya yang berjudul Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan itu mengatakan psikologi petani dalam melakukan pekerjaan bertani yaitu mengolah dan menanami tanahnya selalu merupakan fungsi atau berkaitan erat dengan motivasi mereka, dan motivasi ini pada gilirannya berhubungan erat dengan harapan-harapan yang ada pada mereka. Dan harapan-harapan ini selalu ada hubungannya dengan apa yang dapat dijanjikan pemerintah. Nah, dari pemahaman itu yang kita takutkan adalah apabila dengan banyak perubahan atau revisi kebijakan itu ditafsirkan sebagai pengingkaran sehingga membuat petani menjadi tak percaya lagi terhadap keputusan pemerintah. Kalau ini yang terjadi, bisa-bisa petani menjadi segan atau bahkan tak mau lagi menanam cengkeh dan pada jangka panjang kita bukan saja berhasil mereduksi panenan cengkeh tetapi akan terpaksa mengimpor cengkeh. Oleh karena itu, seyogyanya pemerintah membuat suatu perencanaan yang lebih matang dahulu mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah ini. Termasuk misalnya mendata secara benar dan teliti seberapa jauh kita telah kelebihan stok cengkeh karena dalam berbagai surat kabar masih terdapat angka-angka yang berbeda. BERNAS Pemimpin Umum: Kusfandi- Wakil: Mamak Sutamat Pemimpin Redaksi: Abdurrachman Wakil Pramono BS, R. Subadhi Redaktur Pelaksana: Trias Kuncahyono, J. Roestam Afandi Wakil Bambang Sigap Sumantri, Y.B. Margantoro, Sulaiman Ismail Manajer Produksi Yusran Pare Sekretaris Redaksi: Ny. Arie Giyarto Penerbit: PT Bernas ISSN: 0215-3343 SIUPP SK Menpen No 110/Menpen/SIUPP/A.7/1986, tanggal 22 Maret 1986. BERNAS Mereka-reka Alam Pemikiran Elit PD! Bisa diperkirakan, kalau du- kungan rakyat dapat mengan- tarkan PDI ke posisi mayoritas, ia akan berupaya mewujudkan lahirnya Tap MPR baru yang menyangkut hak-hak asasi ma- nusia. Pengaturan masalah yang satu ini sudah menjadi obsesi lama PDI. Paling tidak, itulah yang dikedepankan oleh se- jumlah elit pendiri partai ini kepada saya dalam perbincang- an lebih dari lima tahun yang lalu. elusan jago oleh PDI, tampak tak ada perbedaan yang berarti antara dulu dan kini. Pemuncul- an calon selalu diawali kekuat- an unsur elit dalam PDI. Pemi- lihan model yang diyakini seba- gai yang terbaik oleh unsur kecil dalam mempertegas eksis- tensi, sekaligus membuktikan kesetiaan pada kekuatan ekstra- partai. Cornelis Lay SEBAGAIMANA dikemuka- kan Presiden Soeharto beberapa waktu lalu, agar parpol menge- lus-elus "jago"-nya sebelum ditampilkan dalam SU MPR mendatang, PDI ternyata tam- pak mendahului imbauan itu. Partai bersimbol kepala banteng itu mengajukan Mendagri Rudi- ni untuk bertengger di pucuk kepemimpinan nasional periode 1993-1998. Menurut rencana, posisinya akan diambil-alih Sukowaluyo, Ketua DPP PDI. Sementara Menlu Ali Alatas, tampaknya juga harus siap-siap hengkang dari posnya. Semua urusan luar negeri akan ditang- gulangi Marcel Beding. Untuk urusan pelik di sekitar ekonomi dan keuangan, Kwik Kian Gie tampaknya sudah cu- kup siap. Ia akan mengenda- likan kementerian ekonomi dan keuangan. Dan bisa diperkira- kan, kalau ini terjadi, akan ada undang-undang anti monopoli, berikut undang-undang perlin- dungan terhadap kekuatan eko- nomi lemah. Persoalan "tata ni- aga" dan pengendalian konglo- merat, bisa dipastikan akan jadi paket-paket penting pembenah- an ekonomi. Presiden sudah pasti butuh Wapres. Paling tidak, itulah ke- harusan konstitusional kita. Un- tuk posisi nomor dua ini, Pang- ab Jenderal Try Sutrisno menja- di pilihan gal elit nasional PDI. Konon inilah cara nyata PDI mengeja komitmen untuk melestarikan dwi-fungsi ABRI: satu dari empat ikrar lama PDI yang dipertegas lewat Kongres II. Ada juga yang mengusulkan Soerjadi. Tapi ini sekadar usul elit lokal kelas kodya. Masih ada tiga kementerian lain, yang boleh jadi karena di- pandang strategis, akan lang- sung dikendalikan elit PDI. Anwar Datuk, Budi Hardjono, PRAMUWISMA yang juga di- kategorikan sebagai pekerja wa- nita pada dewasa ini sering menjadi topik aktual yang tidak henti-hentinya untuk dibicara- kan. Aktual karena tenaga kerja tipe ini banyak dibutuhkan, bahkan menjadi tumpuan beban dan pengganti peran para ibu rumah tangga yang berduit. Terlebih pada saat sekarang ini (sebelum Lebaran dan sesu- dah Lebaran), setiap ada perte- muan selalu ada topik pramu- wisma, mana yang keluar men- jelang lebaran, mana yang sam- pai saat ini belum kembali ke majikannya, dan ada pula yang sengaja secara diam-diam ber- ganti majikan tanpa ada pembe- ritahuan apa pun pada majikan lama. Dengan lain perkataan, banyak ibu rumah tangga yang sekarang dibuat kelabakan oleh para pramuwisma ini. Menurut beberapa pengamat- an yang selama ini dilakukan, situasi Lebaran inilah kesempat- an bagi para pramuwisma untuk menentukan sikap, apakah dia akan kembali kepada majikan- nya yang lama ataukah akan berganti majikan dan atau ber- ganti pekerjaan. Tarto Sudiro, berturut-turut akan dipasrahi tanggung jawab seba- gai Menhub, Menteri Energi dan Pertambangan, dan Menko- kesra. Partini Mudjajadi Walaupun status mereka pa- da umumnya dianggap rendah, namun keberadaan dan fungsi mereka menjadi sangat penting, terutama bagi keluarga yang mempunyai volume pekerjaan yang banyak. Lebih penting lagi bagi keluarga yang mempunyai Sementara untuk deretan panjang kementerian yang tersi- sa, PDI tampaknya kehabisan kader. Kaum teknokrat berikut perguruan tinggi, boleh jadi masih akan tetap mendapat la- han terhormat. Tapi siapa tahu, PDI akan berbagi tanggung ja- wab dengan PPP dan Golkar. Atau mungkin saja para elit tua PDI akan kembali menyemaraki pentas politik nasional. Kita boleh menanti kesudahannya. Penjelasan PDAM Tirtamarta Sehubungan dengan surat dari seorang pembaca yang dimuat Bernas Kamis (16/4) dengan ini kami ucapkan teri- makasih atas perhatian Anda. Namun perlu kami sampaikan penjelasan sebagai berikut: 1. Perlu diketahui, bahwa jaringan perpipaan yang ada di Kompleks Perum Pamungkas Sleman seluruhnya terdiri dari pipa PVC yang dipasang oleh developer, bersamaan dengan pembangunan perumahannya. Pipa distribusi tersebut pada saat sebelum diganti terletak di dalam persil, halaman rumah sehingga kondisinya tidak me- menuhi persyaratan teknis pe- masangan pipa air minum. 2. Penggantian pipa distribusi *** SKENARIO di atas sudah pas- ti tampak naif. Betapa tidak. Dengan posisi wakil yang hanya 40 orang di DPR, rancangan ka- binet PDI bisa dipastikan tak akan melewati kawasan impian. Belum lagi kalau diperhitung- kan bahwa dalam lebih dari 26 tahun terakhir, partai tak pernah menjadi pusat pengambilan ke- putusan politik yang berarti. Sadar akan realitas politik ini, PDI coba hadir dengan skenario pendukung. Dukungan lapisan bawah masyarakat yang sekian lama tak lebih dari deretan ang- ka dalam pemilu coba dikemas ulang dalam mengantisipasi pe- milu 9 Juni nanti. Pemimpin Perusahaan : A. Kardjono Wakil Bimo Sukarno. Pengindentifikasian diri seba- gai partai "tak berduit", coba dikemas sebagai paket kampa- nye baru. Hadirlah kemudian "dompet pemilu". Sudah pasti, wilayah charity nurani pemilih yang coba digelitik. *** SEJAK kapan keberadaan pramuwisma ini? Secara pasti tidak ada orang yang tahu, na- mun dapat diduga umur pramu- wisma memang telah sedemiki- an tuanya, seakan setua sejarah manusia. Hanya dalam bentuk dan pelaksanaannya saja yang bervariasi dari waktu ke waktu. Terkadang lebih merupakan simbol status sebuah keluarga, sehingga semakin tinggi derajat status, semakin banyak pula pramuwisma yang dimiliki. Namun tampaknya pada saat ini jasa pramuwisma semakin dibutuhkan berkaitan dengan kesibukan ibu rumah tangga un- tuk ikut mencari penghasilan. Oleh karena itu, dapatlah kira- nya dikatakan bahwa pramu- wisma lebih berfungsi sebagai "partner kerja" dalam keluarga tersebut, ketimbang sebagai simbol status. Tenaga kerja jenis ini akan sangat laris di kota-kota yang tingkat rasionalitasnya cukup tinggi, dan kebanyakan DARI ANDA Pengirim rubrik ini harap melampirkan fotokopi KTP atau identitas lainnya Kalau rakyat sepakat akan kemurnian kemiskinan PDI, ke- mudian berlomba mengingkari Golkar dan PPP dalam Pemilu nanti, skenario alternatif PDI di atas semakin terbuka untuk di- wujudkan. Tapi ini baru sebagi- an dari skenario besar PDI. anak balita yang membutuhkan banyak perhatian, baik fisik maupun non fisik. Bahkan ka- lau boleh dikatakan, kebanyak- an keluarga dari kelas sosial ekonomi menengah ke atas sa- ngat tergantung pada para pra- muwisma ini. Semakin sibuk se- orang ibu rumah tangga dalam kegiatan di luar rumah, maka semakin tinggi ketergantungan ibu tersebut pada jasa pramu- wisma. an Jenderal Try Sutrisno, bisa dieja sebagai strategi PDI mera- yu ABRI. Tapi bagi yang kedua, jejak strategi yang digelar masih kabur. PDI mungkin berpikir, daerah-daerah toh tidak pernah merupakan kekuatan politik berarti di lahan politik nasional. Kekuatan berikut yang mesti ditaklukkan PDI, tentu saja, bi- rokrasi. Skenario penaklukan ju- ga masih buram jejaknya. Boleh jadi elit PDI percaya, seperti ditunjukkan sejarah, sikap poli- BAGI yang mengikuti per- tik birokrasi senantiasa labil, yang mengada-ada. Tak keting- kembangan PDI di akhir 1970- KALKULASI di balik skenario PDI tampak begitu logis. Ia me- rupakan paket utuh yang diran- cang secara jeli dan rapih. Tapi mengapa lebih banyak orang tak percaya? Mengapa sebagian menganggapnya sebagai dagel- an ataupun opera politik? Bah- kan sebagian, termasuk Sudo- mo, menuding skenario yang ada cuma sekadar rekayasa Pramuwisma: Sebuah Dilema? suami-istri dari keluarga yang mampu keduanya melakukan pekerjaan produktif sebagai pencerminan aktualisasi diri. Di luar negeri secara jelas tampak pada sekitar abad ke- 19-an, khususnya di Perancis dan Inggris, ketika era moderni- sasi mulai melanda negara terse- but. Pada masa ini bermunculan golongan keluarga menengah seiring dengan semakin mekar- nya kota-kota yang kemudian membuka peluang bagi jenis pekerjaan ini (Mc Bride, 1976). Eratnya hubungan antara se- makin terbukanya jenis peker- jaan ini, yang dengan istilah kerennya disebut sebagai do- mestic service pada masa fase awal modernisasi, memuncul- kan pula adanya anggapan bah- wa pramuwisma dapat dipakai sebagai ciri "masa antara" per- kembangan ekonomi suatu ne- gara (Boserup, 1970). di lingkungan Perum Pamung- kas Ngemplak, Sleman dimak- sud untuk memperbaiki jaringan distribusi. Sehingga kelancaran air dapat lebih dijamin serta untuk menanggulangi kebocor- an air. 3. Biaya penggantian pipa distribusi sampai dengan meter air di wilayah Perum Pamung- kas sepenuhnya dibiayai dari Dana Anggaran Perusahaan Daerah Air Minum Tirtamarta Yogyakarta. Sedang perbaikan pipa persil (setelah meter air) ditanggung oleh pelanggan. 4. Adapun biaya yang dibe- bankan kepada seluruh pelang- gan di Perum Pamungkas sebe- sar Rp 25.000 adalah diperguna- kan untuk penambah- an/penyambungan pipa persil lama dengan pipa yang baru serta pengadaan meter box Koordinator Bisnis: Bambang Trisno Manajer Sirkulasi: Sugeng Hari Santoso, Iklan: Bimo Sukarno, Gunawan Wibisono (Wakil), Promosi: Indro Suseno, Keuangan: Daryono, Umum: Gunawan Wibisono, Personalia: Isnu Hardoyo. Tarif Langganan: Rp 9.000/bulan (7x seminggu) Tarif iklan: Berwarna Rp 3.000/mmk (minimum 1.215 mmk, Umum Rp 2.000/ mmk, Keluarga Rp 1.300/mmk, Kolom Rp 2.000/mmk (minimum 1x30 mm, maksimum 1x150mm) Mini Rp 1.500/baris (minimal 3 baris, maksimal 15 baris).. Semua ditambah PPN 10% Redaktur: Agoes Widhartono, A.Tavip Pancoro, Giyarno MH, Hari Budiono, Ireng Laras Sari, Putut Wiryawan, Rs Rudhatan, Sigit Setiono, Tatang Suherman Staf Redaksi: Anggit Nugroho, Basili, Baskoro Muncar, Bambang Sukotjo, Daniel Tatag, Dedi H Purwadi, Endah Saptorini, Yuliana Kusumastuti, Krisno Wibowo, LB Indrasmawan, Mantoro FX, Nuruddin, Rr. Susilastuti, Suroso, Suryanto Sastroatmodjo, Sugeng Prayitno, Tertiana Kriswahyuni, T. Poerya Langga, Tarko Sudiarno, Waris S Haroen, Wineng Endah Winarni. Biro Jakarta: Budi Prasetyo, Drajat Wibawanto, Heroe Baskoro, J. Sutarjo, P. Sulasdi, Ries Mariana, Tonnio Irnawan, Yan Supriatna. Semarang: Urip Daryanto (Koordinator). Yupratomo Dwi P, Suherdjoko. Solo: Mulyanto (Koordinator). RHR. Sarjana BS. Purwokerto: Heru Prasetya. BANK Lippo Bank Sudirman Yogyakarta AC 787.30.0386.5, Bank Niaga AC 211.2078.2 BANK BNI '46 Rek No. 008561001 Yogyakarta, Rekening Dinas & Giro Pos: J 11848 Percetakan PT Muria Baru Offset Yogyakarta. Isi di luar tanggung jawab Percetakan Alam Redaksi/Tata Usaha : Jl Jend. Sudirman 52, Yogyakarta 55224 Telepon Semua Bagian: 61211 (PABX) Fax: 64062 Realisasi skenario di atas, tentunya tak sekadar tergantung pada PDI dan dukungan pemi- lih. Masih ada ABRI dan elit po- litik daerah yang mesti dirayu. Untuk yang pertama, penempat- Biro Semarang: Jl. Menteri Supeno No. 30 Telp. 319659 Biro Solo: Jl. Slamet Riyadi No. 284 Telp. 42767 Biro Jakarta: Jl. Palmerah Barat No. 33 Telp. 5483863, 5495359 (langsung), 5483008, 5490666, Ekt 4340, Fax: 5495360 Kalau dicermati proses pengelusan jago oleh PDI, tampak tak ada perbedaan yang berarti antara dulu dan kini. Pemunculan calon selalu diawali kekuatan unsur elit dalam PDI. Pilihan model yang diyakini sebagai yang terbaik oleh unsur kecil dalam mempertegas eksistensi, sekaligus membuktikan kesetiaan pada kekuatan ekstrapartai. Tapi yang sesungguhnya terjadi adalah kegagalan di lingkaran elit untuk mengakuri isu yang ada. Dengan anggapan seperti itu, sudah barang tentu peranan pramuwisma secara lebih jauh merupakan sarana untuk men- capai tujuan ekonomi yang le- bih baik. Dalam artian, bahwa pekerjaan ini akan semakin menjadi pilihan peluang kerja perkotaan yang cukup strategis guna diperhitungkan oleh kaum wanita pedesaan pada satu sisi, dan diperhatikan oleh penentu kebijaksanaan pada sisi yang lain. Dengan pengertian ini, maka akan memunculkan pola hubungan yang lebih kompleks lagi. Hubungan antara keduanya (majikan-pramuwisma) tidak se- kadar ndoro-abdi, dalam arti karenanya ia bisa direkayasa. Eksodus dari kantong politik yang kalah ke kantong politik baru, cukup umum dilakoni bi- rokrasi kita. Dan juga, alur seja- rah birokrasi mengindikasikan bahwa kesetiaan kekuatan yang satu ini senantiasa dipersembah- kan pada pengendali kekuasaan negara. Kecenderungan ini tam- paknya membuat elit PDI opti- mis bahwa sekali kekuasaan terebut, birokrasi pun akan tunduk. sebagai pelindung meter air yang diangsur selama sepuluh bulan. Masih ada kekuatan terakhir yang mesti diperhitungkan du- kungannya: kekuatan Islam. Se- deretan panjang kementerian tanpa personil dalam skenario kabinet bayangan PDI saat se- Drs Tri Djoko Susanto Direktur Bidang Umum PDAM Tirtamarta Yogyaka TVRI dan Siaran Langsung Program TVRI untuk menyi- arkan secara langsung siaran olahraga memang sangat baik. Tetapi ada satu ganjalan di hati saya, mengapa TVRÍ saat mena- yangkan pertandingan tinju antara Thomas Hearns vs Iran Barkley dan antara Yulius Cae- sar Chavez vs Ingel Hernandes, siaran langsung hanya bisa dinikmati oleh pemirsa yang mampu menangkap Programa II TVRI. karang, boleh jadi dipersiapkan untuk kekuatan ini. *** yang satu harus dipatuhi selaku tempat mengabdi tanpa reserve, sedang lainnya selaku pelayan yang harus siap sedia melayani, dari membersihkan rumah, ma- sak-memasak sampai "ngeroki" kalau ndoro-nya masuk angin. *** SEBUAH penelitian yang per- nah dilakukan oleh penulis (19- 90) menunjukkan, bahwa ting- kat kebetahan para pramuwis- ma ini untuk bekerja pada maji- kan yang sama, dan dalam jang- ka waktu tertentu bukan hanya ditentukan oleh besar kecilnya upah yang diberikan, namun ju- ga menyangkut bagaimana sang majikan memberikan kelonggar- an waktu agar mereka dapat saling berkomunikasi dengan sesamanya. Faktor lain yang juga ikut menentukan baik buruknya hu- bungan kerja jenis ini tampak- nya juga sangat dipengaruhi oleh faktor "umur" dari pramu- wisma yang bersangkutan. Pada umumnya menurut pengamatan terhadap beberapa kasus yang sering terjadi, justru jika umur pramuwisma tersebut telah menginjak masa remaja, maka biasanya ulahnya akan selalu meniru majikan yang di-ikuti- nya, termasuk mulai memakai make-up, potongan baju dan bahkan potongan rambut. Jika mereka sudah macak se- perti itu, kadangkala identitas- nya sebagai pramuwisma tidak lagi kelihatan, bahkan yang tampak adalah seperti orang ko- ta dengan gaya kekotaannya. Pada fase yang demikian ini, 5. Pembebanan biaya terse- but telah kami informasikan kepada warga RW 32 baik mela- lui surat maupun pada saat penyuluhan dan dapat diterima oleh warga yang hadir. 6. Tentang nomor surat 690 adalah kode surat untuk PDAM yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia sesuai dengan Kepu- tusan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 tahun 1979 jo Kepu- Saya Kecewa tusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 256/KPTS/1981. Kalau Anda cermati, maka nomor urut surat ada di bagian tengah (setelah nomor 690). 7. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan di Kantor PDAM Tirtamarta Yogyakarta Yogyakarta pada setiap jam Jalan W Monginsidi Nomor 3 kerja. secara nasional. Wong sama- sama membayar iuran televisi kok yang bisa menikmati hanya daerah tertentu. Silakan TVRI Programa II menyiarkan secara langsung, tetapi jangan diumumkan secara nasional. Sebab kami pemirsa yang ada di daerah, seolah-olah merasa dibedakan. Seorang pemirsa TVRI di Wirobrajan Yogyakarta. Awal Februari 1992 yang lalu saya membeli sepotong blazer warna hitam dengan merk Ho- zana di Gardena Yogyakarta. Sudah lama memang niat saya untuk memiliki baju seperti itu. Hanya saja di berbagai toko di Yogya saya tidak bisa menjum- pai blazer yang saya inginkan. Baru di Gardena itu lah saya merasa cocok dengan keseder- hanaan model dan bahan yang menurut saya amat bagus. Har- ganya antara Rp 29.000 - Rp 30.000, yang bagi ukuran dompet saya tidak terlalu mu- rah. Namun betapa sangat kece- wa saya, karena setelah untuk pertama kali saya cuci, baju tersebut robek bagian belakang sepanjang satu sentimeter. Ketika untuk kedua kalinya baju tersebut saya cuci setelah saya pakai pergi salat Ied lebar- an yang lalu, kekecewaan saya bertambah karena robek itu bukan hanya satu atau dua sentimeter saja. Tetapi meman- jang di bagian punggung dari leher. Akhirnya, karena saya sudah tidak punya bukti pembelian- nya, baju tersebut saya biarkan masuk gudang dengan perasaan sangat kecewa. galan, pengamat politik Yogya- karta terlaris saat ini, Dr Riswan- dha Imawan, memahami lang- kah PDI cuma sebatas upaya menjadi "simbol perlawanan mental", sementara Dr. Miftah Thoha meragukan kemampuan PDI merealisimnya (Bernas 14/4/ 1992). Padahal dengan jelas TVRI mengumumkan bahwa: "Siaran ini terselenggara berkat kerjasa- ma TVRI dengan Yayasan Dana Anny Alkhusniaty Bhakti Kesejahteraan Sosial Mhs IKIP Yogyakarta SDSB dan iuran televisi Anda". (Gang Arumdalu 11 A Mestinya penayangannya juga Karangasem Baru ) Yogyakarta. Jawaban sederhana dan tun- tas untuk pertanyaan-pertanya- an di atas memang tidak terse- dia. Tapi boleh jadi, logika ma- tematis yang sedemikian runtut di balik skenario PDI tidak com- patible dengan logika praktek politik kita yang unpredictable. Penyelesaian politik di balik layar dalam model kepanitiaan pengelolaan politik kita menye- babkan jejak arah politik menja- di begitu kabur. Sangat sedikit yang bisa diprediksi oleh para ahli, betapapun jeniusnya. Da- lam konteks praktek politik se- perti ini, skenario PDI bukan saja naif dan vulgar, tapi lebih lagi menyalahi logika umum yang berlangsung. Karenanya, ia tidak punya lahan yang ko- koh dalam kultur politik negeri ini. Tapi ada sisi lain yang sam- pai hari ini tak juga disentuh para pengamat. Kalau sejarah partai ini bisa dipercaya, maka isu calon Presiden dan Wapres yang dikumandangkan, mengin- dikasikan semakin kerasnya konflik bawah permukaan di lingkaran elit PDI. Dengan kepercayaan yang sama, orang bisa sampai pada kesimpulan bahwa mekanisme unsur tetap merupakan sarana kunci dalam pengelolaan PDI. Kekuatan PDI ini masih tetap merupakan konfederasi lima partai: PNI, Parkindo, Partai Ka- tolik, IPKI dan Murba. Ia masih tetap gagal menerjemahkan im- pian lamanya - fusi tuntas pari- purna - ke dalam perilaku poli- tik keseharian. Kemelut terus bertahan, dan makin rumit kala soal pencalon- an wakil ketua DPR/MPR tak ju- ga diakuri. Sukarmadidjaja-Pa- kan memunculkan Isnaeni, se- mentara kubu Sanusi mengelus Usep. Di ujung pertikaian, kepe- mimpinan Sanusi-Usep di-re- shuffle Sukarmadidjaja yang mengatasnamakan "pemrakarsa dan pengemban amanat para mandataris partai-partai yang berfusi dalam PDI". Sepotong nukilan sejarah di atas memang sudah 15 tahun berlalu. Karenanya, menyejajar- kannya dengan manuver politik PDI akhir-akhir ini terasa meng- ada-ada. Apalagi, para pelaku- nya pun kecuali Andjar Sis- woyo yang muncul kembali ke lapisan elit DPP- sudah uzur secara politik. Tapi konon seja- rah punya keajegan. Karenanya, sahih saja kalau dia digunakan sebagai basis mereka-reka. Kalau dicermati proses peng- Peran ganda laki-laki belum membudaya dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, beban kerja wanita menjadi sangat berat jika tidak memperoleh bantuan dari pramuwisma ini. Hanya sayangnya para ibu rumah tangga yang mempunyai pramuwisma sering lupa, bahwa keberadaan pramuwisma itu Tindak lanjut dari semua itu, memang hanya sekadar mem- biasanya mereka mulai sering bantu sesuai dengan nama dan berkumpul sekadar ngrumpi, fungsi aslinya. Bahkan kadang- terutama terhadap lawan jenis- kadang seluruh beban rumah nya. Lebih-lebih kalau dia telah tangganya diserahkan kepada mulai "jatuh cinta", segala tugas pembantu. Sehingga, si pem- rutin yang seharusnya dilakukan bantu beralih fungsi, bukan lagi menjadi banyak terbengkelai sebagai pembantu, tetapi men- dan dalam kondisi yang demiki- jadi "pekerja penuh dalam an ini biasanya sang majikan menyelesaikan urusan rumah maka mulailah mencoba untuk menarik perhatian dari lawan jenisnya untuk mencari dan menemukan pria idaman yang bersedia menyuntingnya. an, kisahnya di hari-hari terakhir ini mengingatkan pada situasi hampir serupa di tahun-tahun tersebut. Salah satu periode konflik paling "brutal" dalam perjalanan PDI diawali justru oleh split antarunsur dalam pengajuan ca- lon presiden. Ketika kombinasi kekuatan IPKI-Murba lewat figur Sukarmadidjaja dan Pakan men- calonkan Soeharto selepas pe- milu 1977, PDI yang sepakat mem-peti-es-kan konflik demi pemilu tiba-tiba terjebak ke dalam konflik panjang. Sanusi, dkk, bereaksi keras atas usulan di atas. Kubu ini menyalak bahwa soal pencalon- an belum dibicarakan DPP. Su- karmadidjaja-Pakan tak kurang galaknya. Keduanya menilai bahwa kelompok Sanusi, karena tak juga mau menentukan si- kap, "ingin mengadu domba ABRI" lewat cara "mau melihat arah angin" dengan mengguna- kan teknik "fraksi bermain sen- diri". BAGI saya, ditunjuknya PT Mekatama Raya sebagai kon- sultan dalam kebijakan baru mengenai penarikan iuran tidak dapat berbuat banyak. Dengan demikian, jika di dalam keluarga suami-istri be- kerja dan di rumahnya tidak ada pramuwisma, maka idealnya ha- rus ada pembagian kerja yang seimbang dalam rumah tangga bagi semua anggota rumah tangga yang bersangkutan. Na- mun karena budaya kita belum seperti itu, masih dirasa asing seorang laki-laki atau kepala rumah tangga harus menyapu lantai, memasak di dapur dan atau mencuci pakaian. DEBAT MAHASISWA PT Mekatama Raya Sebagai Konsultan: Budaya "Pakewuh" kerja yang semrawut? A Wahedas Mahasiswa Fakultas Ekonomi Ull, Yogya TVRI, terkesan sebagai pe- nyelesaian yang dicari-cari dan tidak rasional. Selain itu, Me- katama juga masih dipercaya untuk memberi bantuan teknis dan dukungan dana. Kebijakan yang demikian itu barangkali diakibatkan ma- sih melembaganya budaya pa- kewuh di negeri kita. Karena segan dan tepo sliro, maka di- cari-carilah semacam penyele- saian yang agaknya mengam- bil jalan tengah. Maksudnya, agar tidak semakin mendiskre- ditkan posisi pihak yang ber- salah. Kalau sudah begitu, permasalahan pun tak bakal menemukan jalan penyelesai- an yang tuntas. Saya kira semua orang sudah tahu bagaimana kega- galan Mekatama Raya selama ini dalam menangani iuran te- levisi. Selain telah membuat rugi pihak pemerintah, ia juga membuat bingung masyarakat dalam mekanisme penibayar- an iuran. Pertama-tama, pihak Mekatama akan melakukan penarikan door to door. Tapi setelah ditunggu-tunggu, me- reka tak jadi melakukannya. Tiba-tiba saja mekanisme diu- bah, masyarakat diminta mem- tangga. Beralihnya fungsi ini pada umumnya tidak diikuti dengan kenaikan gaji (penda- patan) yang seharusnya diterima oleh mereka. Mereka ini perlu dilindungi, karena banyak para majikan yang memperlakukannya tidak selayaknya sebagai pekerja dan atau sebagai manusia dengan segala keterbatasannya. Sering- kali kita jumpai banyak berita- berita yang termuat di berbagai media massa tentang bagaimana penyiksaan yang dilakukan ma- jikan terhadap pramuwisma ini. Dengan berbagai macam ka- sus dari ketidakadilan antara jam kerja dengan upah yang di- berikan, dari perlakuan yang Seringkali para ibu menyerahkan seluruh beban rumah tangganya pada pramuwisma. Sehingga, ia beralih fungsi, bukan lagi sebagai kurang menyenangkan, penga- pembantu tetapi menjadi pekerja penuh dalam urusan rumah tangga. Beralihnya fungsi ini umumnya tidak diikuti dengan kenaikan gaji untuk pramuwisma itu. niayaan, sampai pada bentuk- bentuk penyelewengan dengan anggota keluarga lain yang serumah, maka bentuk hubung- an kerja model ini sebaiknya mulai ditertibkan. *** KONDISI tersebut menunjuk- kan, bahwa semestinya sifat hubungan menjadi lebih rasio- nal; artinya, ada sekelompok orang yang membutuhkan tena- ga dan yang dibutuhkan tenaga- nya dalam kedudukan tawar- menawar (bargaining). Hu- bungan itu akan semakin men- bayar iuran ke bank-bank tertentu yang sudah ditunjuk. Bukankah ini membingungkan masyarakat, dan menunjukkan Tampaknya juga masyara- kat sama sekali tak lebih un- tung, bahkan semakin bun- tung, setelah penarikan iuran dipercayakan kepada Mekata- ma Raya. Apalagi iuran pun malah naik 100 persen. Jadi, wajar-wajar saja jika banyak yang mempertanyakan kebijakan baru pemerintah itu, yang tetap melibatkan PT Me- katama Raya. Sudah jelas bah- wa PT tersebut telah membuat kerugian, dan bahkan membe- bani masyarakat, tapi justru dipertahankan kedudukannya, kendati kini tidak seratus per- sen memegang kendali. Memang akhirnya pemerin- tah mengatakan, bahwa Meka- tama bukan sebagai konsultan, tapi hanya memberi konsulta- si. Nah, apa bedanya? Di sini justru tampak bahwa pemerin- tah seolah memaksa diri untuk tetap melibatkan Mekatama Raya. Akhirnya, saya pun tak salah bila mempertanyakan, ada apa sebenarnya di balik hubungan pemerintah dan Mekatama Raya.*** Dalam konteks kekinian PDI Rudini dimunculkan Nasution, tokoh eks-Murba; sementara Jenderal Try Sutrisno dicorongi Nico dari eks-partai Katolik. Dan kabinet bayangan tanpa Presiden dan Wapres, merupa- kan hasil imajinasi kombinasi sejumlah elit dari sejumlah un- sur. Beri Kesempatan Maria Sudiati Alasan yang di kedepankan cukup standar: pencalonan di- dukung mayoritas anggota DPP. Soal dukungan anggota atau ca- bang tak pernah jadi persoalan. Reaksi kekuatan utama dalam PDI, eks-PNI, yang mengekori- nya pun cukup standar: belum dibicarakan DPP, karenanya bu- kan merupakan suara PDI. Pen- calonan cuma sekadar inisiatif pribadi. Tapi yang sesungguh- nya terjadi adalah kegagalan di lingkaran elit untuk mengakuri isu yang ada. Rubrik ini mengundang mahasiswa untuk berpendapat tentang tema aktual. Tulisan maksimal dua halaman kwarto spasi rangkap. Dimuat setiap Senin dan Kamis. Mahasiswa FKIP Sarjana- wiyata Tamansiswa, Yogya Apakah ini yang sesungguh- nya terjadi dalam PDI, tetap merupakan misteri yang hanya dipahami lingkaran elit. Artikel ini sekadar sebuah rekaan yang bisa benar, bisa juga salah total. Yang tersisa kini cuma sekadar kesabaran pembaca. Paling ti- dak, sejarah PDI menunjukkan bahwa menyongsong pemilu senantiasa menjadi siklus sing- kat mem-peti-es-kan konflik di lingkaran elit. Selepas pemilu, akankah para pendukung partai bersimbol kepala banteng ini berucap "selamat datang kon- flik?*** Bagaimanapun, untuk me- ngetahui segala kelemahan- nya, pemerintah perlu mengo- rek sebanyak mungkin infor- masi dari Mekatama sendiri. Sudah barang tentu hal ini demi perbaikan-perbaikan di masa mendatang. Saya kira, kalau tujuannya memang begi- tu, pemerintah telah mengam- bil jalan yang tepat. Jadi, bagi kita, tak ada sa- lahnya pula jika memberi kesempatan pada PT tersebut untuk setidaknya memperbaiki namanya. Pemunculannya, saya pikir, bukannya sama sekali tak bermanfaat. Kendati ia telah gagal total dalam mekanisme penarikan iuran TVRI, toh masih ada andilnya dalam pembangunan ini. Paling tidak, PT Mekatama Raya telah membantu mencip takan lapangan kerja baru, dengan membuka cabang- cabangnya di daerah. Oleh karenanya, bila seka- rang Mekatama masih diperca- ya juga untuk memberi bantu- an teknis, itu barangkali pe- merintah tidak ingin menelan- tarkan para mantan karyawan- nya. Hanya saja, pemerintah perlu semakin hati-hati dan jeli dalam melakukan kebijakan barunya itu. Kalau tidak, kre- dibilitas pemerintah sendiri kini yang menjadi taruhannya. Masalah penarikan iuran televisi itu menyangkut masya- rakat banyak. Untuk itu, ke- pentingan mereka, kepenting- an umum, harus menjadi per- timbangan utama. *** Topik berikutnya: Kebijakan Pemerintah dalam Masalah Cengkeh HAK PT Mekatama Raya untuk menarik iuran televisi memang sudah dicabut, tapi toh tak ada jeleknya bila pe- merintah dalam hal ini Ya- yasan TVRI - masih memanfa- Cornelis Lay, staf pengajar Jurusan Ilmu Pemerintaban Fisipol UGM. jadi ruwet tatkala muncul masa- lah perlindungan kerja, pembi- naan masa depan mereka dan yang sejenisnya, sebagai konse- kuensi bahwa mereka yang menjadi pramuwisma adalah ju- ga termasuk pekerja (buruh) yang harus dijamin keselamatan dan kesejahteraannya dengan undang-undang. Usulan dari berbagai pihak mencerminkan dibentuknya su- atu undang-undang yang pada prinsipnya berusaha melindungi mereka. Apakah mungkin mere- ka ini akan memperoleh un- dang-undang khusus ataukah tidak? Marilah kita nantikan bersama. Memang mereka ini secara nyata belum dapat dika- tegorikan sebagai pekerja layak- nya para pekerja di sebuah instansi, di pabrik, atau pada sektor yang lain.*** *) Partini Mudjajadi, staf pe- neliti pada Pusat Penelitian Kependudukan UGM. atkannya untuk berkonsultasi. Sebab, hal demikian itu masih banyak diperlukan. BISN VALUTA A Shilling Austria Dolar Australia France Belgia Dolar Brunei Darusalam Dolar Kanada Franc Swiss Mark Jerman Kron Denmark Franc Perancis Poundsterling Inggris Dolar Hongkong Lira Italia (100) Yen Jepang (100) Ringgit Malaysia Gulden Belanda Krone Norwegia Dolar Selandia Baru Peso Filipina Krone Swedia Dolar Singapura Bath Thailand Dolar AS SUKU BU BTN BPD Bank Summa Bank Jakarta BII BBI Lippo Bank Danamon Bank Niaga BNI '46 BCA BTPN Bank BTN Bukopin BDN BHS Bapindo BDNI BBD BRI Bank Pasar Bank Duta BPR Mandiri SP BPR Danagung R TABUNGA BPD Color Rendition Chart Daftar Kurs di Bank In Bank Summa Bank Jakarta BII BBI Bank Niaga Lippo Danamon BNI '46 Bukopin BTPN BCA BDN BHS Bapindo BBD BDNI Je Ta Pr Up Te Si Ta Su Ke Ke Ta Ta Ke Pr Pr Ta Su Ke Pr Ta Si Ta Ta Ta Ta Ta Ke Ta Mi Ta Ju Ke Da Ta Ta Ta Bank Pasar Bank Duta BPR Mandiri SP Ta Ta BPR Danagung R YOGYAKA arloji PUSAT SERVICE ARLOJI TUKAR TAMBAH SEGALA BARU/BEKAS JL. JAGALAN biro jasa Melayani tiket Bus Mim. ke M Jabar, DKI, Sumatra. KA, G Sempati, Bouraq, terjemahan Cakra Buana Jl. Mataram 10 dijual tan Kapling UK. 10x16, 160m² & disekitar Gedong Kuning, m Rp.48.500/m2. Hub. Jepara JL. Brigjen Katamso 141 elektroni Sedia bermacam Lampu Hi GANTUNG dengan berbag FAJAR AIRCON ELEC Jl. Dr. Sutomo 78 Yogya, fashion Gajahma FASHION SPECIAL DISCOUNT 2 JI. Malioboro 95 Telp.61871 keramik Kimora Obral Keramik Dim Stock baru masih ada. Ring sebelah timur Monumen Y kursus Kursus Stir Mobil Rp 10 ri A/B/C-Kodya, Bantul, Slem Wates. "KARIR" JI. Kusur JI. Solo 97, Jl. Babaran 631 Gejayan selatan pomp bens Kursus Pertama Dibuka pendaft. baru angl Asmukita Jl. Timoho IV/33- Kursus mulai 21 April 92 Praktek Gratis. Tempat ter Lembaga donesia Membuka Pendaftar KURSUS BAHASA PI Fasilitas: film, video, perpe Keterangan JL. Sagan 3 Y
