Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Berita Yudha
Tipe: Koran
Tanggal: 1983-01-02
Halaman: 07

Konten


MINGGU 2 JANUARI 1983 Satu adegan "Qasidah Barzanji" yang ditampilkan Teater Alam Yopgyakarta. Sutradara, Tertib Suratno. (Foto: Bani). Nonton "Qasidah Barzanji''nya muslimin di Yogyakarta umumnya, serta sekitarnya alangkah baiknya kalau kita membuka lebar dengan langkah yang lebih maju. Sebab dalam pementasan ini, kita berarti ada suatu langkah yang lebih maju lagi, untuk perkembangan dakwah islamiah." Begitu komentarnya ketika YMSF menjumpai salah satu ulama yang menonton malam itu, sebab malam itu adalah malam pen- tas untuk cari dana masjid (pem- bangunan masjid serta membangun para muslimin, untuk lebih men- ingkatkan kewaspadaannya dalam ber agama, juga meningkatkan dakwah islamiah. Seorang ulama itu kebetulan seorang yang biasa mengisi ceramah di masjid Pakualaman Yogyakarta Paku Alam.) Teater Alam Serombongan orang sedang barzanji mencatatnya, dari sejak beraksi diatas, panggung, perjalanannya sampai ia wafat. menguakan kata barzanji ter- Begitulah pentas atau isi dari naskah jemahan Syu'bah Asa, sutradara Qasidah Al Barzanji. Tertib Suratmo di Purna Budaya Yogyakarta, awal Desember. Membenahi pentas uji coba yang diadakan bulan yang lalu, di gedung yang sama. Kemudian pentas itu telah men- dapat tanggapan positif para ulama Yogyakarta yang menonton malam itu, yang memberikan komentar 'Kita harus mengucapkan syukur, karena ada salah satu pentas yang baru kali inilah ada salah satu group teater kontenporer yang non islam organisasi sanggup mengetengahkan bentuk drama religius yang betul-betul kusyuk.' Demikian salah satu ulama yang tak mau di sebut namanya, yang memberikan komentar tentang pen- Lalu dunia menyambutnya dengan tas LPA teater alam (lembaga Pen- gembira, karena sinar terang sudah didikan Akting dan film). Kemu- jelas dibawanya. Hingga meng- dian ia menambahkan "Berarti ini gubah dari zaman kegelapan suatu pandangan budaya baru bagi Jahilliah menjadi terang benerang. perkembangan seni dan budaya Kisah nabi Muhammad (dalam islam, dalam pandangan modern, perjalanannya), membenahkan yang mengajak kaum islam atau kehidupan di timur tengah waktu muslimin membuka mata lebar bagi itu yang masih memeluk berhala, perkembangan di lingkungannya. dahnya dengan perkembangan Karena kita tidak boleh diam, wah islamiah, hingga para dengan adanya kemajuan zaman gamutpun mengikuti perjalanan modern ini. Maka dengan adanya abi Muhammad, yang sengaja pementasan dakwah islamiah yang diperintahkanNya.. Allah walaupun teater alam tidak senga- menegaskan "la seorang nabi ja atau bukan tujuannya untuk terakhir kalinya" Maka buku puisi dakwah. Namun bagi kaum Seksi Indonesia BBC Qasidah Barzanji Al mengkisahkan putra Abdullah ber- nama Muhammad, ketika masih bayi. 12 Rabiulawal 571 Masehi, dengan kehadirannya sejarah men- catatnya, yang mana seorang bayi kelak menjadi pimpinan besar yaitu 'Nabi' (Khatamin Nabiyyien) nabi terakhir. Ikut Konser Para anggauta Seksi Indonesia BBC menyanyikan lagu "Rasa Say- ang" diikuti paduan suara para ha- dirin-dalam suatu konser yang di- selenggarakan oleh Dinas Siaran Ti- mur Jauh BBC untuk memperingati hari ulang tahun ke-50 Dinas Siaran Luar Negeri BBC yang jatuh pada Para penyiar BBC Seksi Indonesia menyanyikan lagu "Rasa Sayang" dari kiri ke kanan Naning Sutanto, Ibrahim, Hanafi Harun, Muhammad Aminullah dan Irna Sinulingga. (Foto: Ist). Cerpen: Sejak kepergian kekasihnya, Windi mengendapkan diri di da- lam kamar. la tak mau keluar dari kamar, bahkan kalau ia mengerjakan sesuatu halnya tidak mengenal kompromi kepada siapapun, yang ada hanyalah dirinya. Serta karyanya. Begitulah prinsipnya, tanggal 19 Desember. Anggauta- anggauta dari Seksi Bahasa Cina. Melayu, Jepang, Muangthai dan Vietnam-demikian pula Seksi Indo- nesia - ikut ambil bagian dalam kon- ser tersebut dengan menyajikan na- sional, tarian, pembacaan prosa dan puisi. Dari jam 07.00 pagi Windi mengerjakan karya terbarunya, bahkan ia telah menemukan bentuk baru dari bentuk karis- ma yang membuat penggemar- nya jadi tergila-gila padanya. Bahkan tak hentinya surat ber- datangan silih berganti, dan ke- tika membaca surat terakhir ka- linya yang ia terima, ia terkejut, karena sampul yang di buat se- demikian rupa, tertuliskan nama "Janti". Lalu ia membuka su- rat itu, dan di bacanya pelan- pelan secara teliti, begitu ia te- lah selesai baca "Astaga, kuki- ra Janti tunanganku, yang telah menikah dua tahun yang lalu. Ternyata bukan: Dia hanya mi- rip saja. Dan ia seorang pemba- ca yang setia terhadap karyaku. "Windi meneruskan menulis kar yanya, namun kali ini tidak se- perti biasanya, ia merasakan ada suatu ke anehan dalam dirinya kemudian dengan menguatkan batinnya, ia ber kosentrasi den- gan memejamkan mata, lalu Windi yang sekarang lebih percaya kepada tenaga batin ser- ta dunia gaib, ia selalu menja- lankan segala tugasnya dengan cara bersmadi terlebih dahulu. Maka berhasilah dengan cepat, ternyata apa yang dirasakan se- suatu yang aneh sekarang mun- cul, di siang bolong wujud yang menggangunya nampak pelan- pelan, dari bayangan pelupuk mata Windi. Wujud ke anehan itu, menggelepar, mengguling, bahkan mengajak komunikasi cara makluk halus. Bayangan itu menggeliat, bagai seorang penari stripes yang satu demi satu me lepas baju, kemudian ia tam- pak penasaran, bahkan meme- luk tubuh Windi sedang memu- satkan kosentrasi. Bayangan itu di biarkan sepuas-puasnya menggelamuti tubuh Windi hingga makluk itu pergi sendiri tanpa disuruhnya, setelah bayangan itu pergi. Ba- Barulah Windi siuman kemba- li, dan meneruskan pekerjaan- nya. Tapi ia merasakan lemes tak berdaya, merasakan sesuatu yang gaib padanya, ia telah ke- hilangan tenaga, akibat bayan- gan tadi. Win- di berusaha mengembalikan te- naganya, tapi tidak bisa, malah Richie Ricardo Penyanyi Asal Minahasa Dengan postur tinggi semampai, menjadi seorang penyanyi yang 172 cm dengan wajah yang ganteng berhasil", demikian kata Mas Kelik dan berkulit langsat, merupakan ciri (A.Riyanto) kepada YMSF. khas orang-orang Minahasa. Seperti Jadi kenyataan pula dengan pemuda yang kita tam- pilkan kali ini, Richie Ricardo. Walau ia sekarang menetap di Ban- dung, tetapi ia dilahirkan dan ber- darah Minahasa. Tetapi yang lebih menarik dari diri pemuda ini adalah, disamping sikapnya yang supel juga aktivitasnya selama ini sebagai seorang mahasiswa Fakultas Psikologi pada Universitas Maranatha Bandung. Walau ia tinggal di Bandung, belakangan ini ia sering mondar- mandir ke Jakarta untuk suatu urusan yang ada kaitannya pula dengan aktivitasnya diluar kuliah yakni menyanyi. Dunia menyanyi diritisnya sejak ia masih kanak- kanak, tetapi memang harus diakui bahwa popularitasnya belum berhasil diraihnya seperti para pa- nyanyi lainnya, sebab menurut keterangannya kepada YMSF, me- nyanyi hanya sebagai hobby belaka. Tidak bertujuan untuk meraih prestasi, walau beberapa kali pula mencoba untuk ikut lomba menyanyi. Jumpa terakhir kalinya dengan Richie sewaktu ada suatu acara di Studio V RRI beberapa hari lalu. Sambil menenteng sebuah gitar, ia menyanyikan sebuah lagu ciptaan "Disana Rindu Tercipta" citaan musisi muda berbakat Pance Pon- daag yang berhasil mengorbitkan Maya Rumantir lewat studio Aroma Record itu. Penampilan pemuda ini ternyata memperoleh sambutan yang meriah dari hadirin. Tampak pula A.Riyanto dan Chaken M yang kebetulan hadir dalam acara tersebut saling berbisik. Hasil Renungan Seni merupakan hasil renungan seseorang yang sedang menghadapi suatu panca roba terhadap karyanya, yang tadinya bentuk itu timbul karena terdorong dari buah pikir yang sudah sejak berbulan- bulan atau ber hari-hari mengendap di benaknya, lalu sang batinpun memperhalus renungan itu. Maka timbulah sebuah karya yang tergarap secara bagus dan bisa di nikmati dari berbagai segi. Dari sisi apapun tak mudah goyah. Sayangnya para seniman kadang timbul ketergesaan dalam meng- garap bentuk, hingga hasilnya itu kalau dalam sebuah lukisan dalam mencampurkan warna sering nam- pak kurang rampung. Apalagi kalau seni drama (Teater), yang tergabung dari berbagai ben- tuk, seperti ada Lukisnya, Patungnya, Musik, Sastra, tari, dls. yang membentuk dalam sebuah pementasan. Terkadang kita terganggu dari segi bentuk satu sisi. Yang kadang-kadang para peker- japun terjebak karenanya. Maka apabila ada sebuah pentas kalau kurang berhasil, berarti dalam renungan itu bukan memikirkan dari beberapa aspek yang terpadu, melainkan hanya memikirkan dari satu atau dua segi saja. Hingga sebuah pentas yang di renungkan itu bukan hasil renungan, tapi hanya rabaan. Sebab hasil renungan itu membutuhkan waktu yang sangat teliti serta peka terhadap bentuk yang di tangkap oleh sang peng- garap. Misalnya, kalau seandainya seorang sutradara itu telah menemukan kostum saja, atau menemukan kostum dan karakter, akting, dll, tapi belum menemukan hasil ke artistikkannya di atas pang- gung tentu itu belum merupakan hasil renungan yang rampung, tapi hanya sekedar menginginkan saja. Menginginkan dalam hal keterge- saan dari faktor rasa (padahal rasa kadang menipu kita, yang hasilnya di bagian kuping merasakan pe- kak, nafas terasa sesak, ubun- ubun bagai kena pisau tajam. Ia tak jadi meneruskan pengemba- lian tenaga, lalu ia tiduran di ba- wah tanpa alas, tapi badan ser- ta kepala satu garis, tidak melentang. Windi berjam-jam ber istira- hat, hingga tak terasa olehnya kalau sudah larut malam, ia akan meneruskan menulis tak enak dengan tetangga sebelah yang penduduknya bagai barak satu camp, berjajar-jajar, maka ia tak meneruskan karyanya. Ia keluar sejenak mencari angin malam. Selama dalam pejala- nannya, ia terbayang hal yang aneh pada dirinya, seolah ia pu- nya kesalahan pada hari ini. Ma- ka ia duduk di depan bakul gu- deg, orang itu nampak sudah tua, dagangannya sepi, tidak sa- tu orangpun menghadiri warung gudeg itu, kemudian Windi ber- gegas untuk makan di warung itu. Windi nampak duduk meng- hadap ke arah timur, kakinya diangkat sebelah. Apalagi sewaktu Richie me- nyanyikan lagu A.Riyanto yang ber- judul Hati Seorang Pengembara dan lagu Segenggam Harapan cip- taan Chaken.M, spontan mereka memberikan sambutan yang meriah. HARI YANG BANGKIT berdo'a agar dijauhkan dari se- gala bentuk godaan, yang seka- rang telah merasuknya." Kemudian penjual gudeg yang tua itu menanyakan kepadanya, tapi windi masih diam, tak men- jawab pertanyaan orang itu. "Anak ini mempunyai kemam- puan menyanyi yang baik. Untuk itu, perlu pengarahan yang positif. Saya yakin, suatu ketika ia akan hanya emosi saja. bukan hasil karya pengendapan yang jeli dan teliti.). Jadi ringkasnya pementasan ulang dari LPA Teater Alam baru mencapai bentuk segi naskah yang di maui oleh penulisnya, dan kebetulan sekali kreteria semacam itu, belum terbentuk merupakan hasil renungan yang matang, karena menurut hemat saya. Sebuah pen- tas membutuhkan penghadiran ben- tuk dari beberapa penjuru. Oleh: Subani Diningrat Kesimpulan LPA Teater Alam, lebih tegas "Berhasil dalam menyampaikan misi naskah." Tapi belum berhasil menyampaikan apakah Qasidah itu hanya di miliki kaum islam. Sedang penonton kita adalah dari berbagai golongan (Dalam arti, semua orang dari lapisan masyarakat ingin menikmati hasil karya seorang seniman panggung.) Sentuhan itu nampaknya LPA Teater alam memang harus di per- maklum karena garapan itu belum menyuguhkan secara total. Kapan lagi kita menemukan bentuk pang- gung yang berbeda dari pada tiga atau dua tahun yang lalu. Sebab kita banyak pentas, lebih pantas kalau kita ini lebih banyak memikirkan Kwantitas pentas. Bukan saja dari Richie Ricardo calon ahli spikologi yang senang nyanyi. (Foto: SWD). Orang itu dengan sabarnya me- nunggu Windi memesan nasi pa- danya, lalu "Nasi gudegnya, mbok???" "Pakai ikan." "Ya. Dodo menthok." "Baik, den." "Aih...jangan panggil den. panggil saja, nak?" "Tak apa-apa. Kan, aden relasi saya." "Biarpun relasi, tapi melayani- nya jangan berlebihan," "Baik, nak." "Nah, bagitu malah saya setuju.' orang tua itu lalu menyodorkan nasi gudegnya pada Windi, ke- mudian dengan santainya Win- di makan nasi itu, tapi ia kelu- paan memesan minum, hingga pada waktu menelan nasi sedi- kit seret, ia mencari air" Airnya, mbok." "Idih....sampai kelupaan." "Kalau begitu cari yang cepat saja,, mbok." Air putih mau Ucapan A.Riyanto tersebut rupanya telah menjadi kenyataan, karena tak lama kemudian pihak Aroma Record menggaetnya untuk merealisir suaranya. Yang lebih meyakinkannya lagi adalah setelah pemunculannya di layar televisi beberapa waktu lalu, ia juga me- nyanyi begitu memikat. Apalagi sewaktu ia menyanyikan lagu cip- taan "Mungkinkah Kan Terjadi" dan "Angan Berbunga Mimpi" cip- taan Martin. M dalam salah satu acara tetap TVRI itu, ia benar-benar tampil dengan memikat. "Yah, pokoknya biar tak seret saja," Windi nampak meminum air itu, lalu melanjutkan makan na- si gudeg. Orang tua itu hanya memandangi Windi, baik dari cara makan, maupun cara ia bi- Bukan merupakan suatu san- jungan belaka, tetapi kemampuan- nya dalam membawakan sebuah lagu, Richie ternyata menguasai liryknya, tempo dan melodinya dengan pas. Untuk itu kalau A.Riyanto dan Cheken. M yang dikenal sebagai musisi-musisi yang jeli terhadap kemampuan bintang-bintang baru itu lalu menilainya bahwa Richie memang punya masa depan yang baik dalam dunia menyanyi. Anak kedua dari enam ber- saudara dari sebuah keluarga yang dan ahirkan di Manado dibesarkan di Bandung ini, ternyata dipengaruhi dari banyak lingkungannya. Keluarganya juga senang musik, dus anak-anak Bandung juga dikenal sebagai anak-anak yang aktif dalam dunia musik. Di kota kembang ini pula, banyak mencetak penyanyi- penyanyi terkenal sampai saat ini. Disamping hobby menyanyi, ia juga seorang pemuda yang keran jingan dengan kegiatan camping dan membaca serta gemar nonton film. Bintang favoritnya adalah Robert di Neiro dan Al Pacino. Walau ia menetap di Bandung, tetapi ia juga banyak tinggal di Jakarta Untuk itu, bagi yang ingin berkenalan, bisa melayangkan suratnya ke P.O.Box 583 Jakarta Kota. Ia pasti akan membalasnya dengan senang hati. Demikian Richie Ricard mengakhiri pembicaraan. (SWD). segi permainan tapi juga kita harus memikirkan cara apakah untuk mencekok per teateran sekarang, yang di bilang sementara orang "Teater kita mengalami pentas lesu darah, antara penggabungan teori timur dengan teori barat." Itukah sekarang katagori kita. Salam, buat semua pecinta Drama (Teater, dimana saja, dan apa saja. Semoga Kita bisa maju dan Jaya). Amin. Subani. DN. Sinar Laser- Dari Hal. V untuk menyimpan plasma panas dalam ruang reaksi di mana proses fusi itu akan terjadi. Maksudnya ialah untuk merubah panas yang dikeluarkannya menjadi arus listrik. Tetapi percobaan-percobaan dengan plasma menunjukkan bahwa atom-atom dari dinding ruangan reaksi itu bisa ma- suk ke dalam plasma jika menyentuh dinding tersebut, atau jika dinding itu terlalu panas. Terlalu banyak atom yang berat dalam plasma bisa menyebabkan reaksi fusi terhenti, atau tidak memung- kinkan membawa plasma itu kepada su- hu tinggi yang diperlukan. Para sarjana Departemen Energi A.S. telah menemukan cara untuk mengukur berapa banyak dan jenis atom apa yang masuk ke plasma. cara, lama kelamaan, orang itu memanggil lirih" Den Windi, ya ?!" "Ha." "Aden, namanya Windi, ya." "Ya, memang benar. Ada apa, mbok." Orang tua itu menerangkan, ka- lau ia adalah orang tua Janti tu- nangannya, yang dahulu meno- lak dengan keras lamarannya, karena waktu itu Windi belum kerja, kata orang tua itu. Kemu- dian ia melanjutkan ceritanya. Katanya,; Den Windi, Janti se- karang telah tiada, enam bulan yang lalu. Akibat melahirkan anak yang ke dua. Dan saya yang tua, sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Maka untuk menutup kekosongan waktu, saya buka nasi gudeg. Den, maafkan saya. Karena ka- lau dulu jadi sama aden,barang- kali Janti sampai sekarang selamat." "0000000000, penafsiran ibu salah. Itu sudah suratan takdir. Tak bisa di bantah." "Tapi....?!" "Sudahlah. Saya permisi dahu- lu. Berapa semuanya." "Tak-usyah kau bayar. Yang penting aku bisa mengatakan yang sebenarnya." "Tidak bisa begitu, bu. Kalau ' orang jajan pasti bayar." Windi tanpa menunggu lama, ia langsung membayar kontan, uang itu seribu perak, tanpa gu- bris. Langsung pergi dari pen- jual gudeg itu. Ia menuju pulang kerumahnya. Langkah demi langkah membuatnya hanya SENI DAN BUDAYA Dodo Alpredo-Penyanyi Juga Pelawak Dunia tarik suara atau lawak melawak bukanlah milik satu golongan saja melainkan, milik semua golongan. Dari anak-anak hingga orang tud berhak menikmatinya dan menggumulinya. Hal ini tergantung pada selera masing-masing. Ini terbukti dengan tampilnya seorang lelaki berusia 39 tahun kedunia lawak. Namanya Dodo Dodo Alpredo Alpredo, postur tubuhnya tinggi dán gemuk. Setiap saat siap mem- buat penonton tertawa terbahak- bahak. Ia mengaku dilahirkan di Surabaya 39 tahun yang lalu, kemu- dian dalam usia muda ia hijrah ke ibukota untuk mengembangkan kariernya sebagai penyanyi. Belakangan ini Dodo sering tam- pil dengan group Komedia Jakarta diberbagai tempat hiburan. Dian- taranya Ancol, Taman Ria dan di club-club malam yang ada di Jakarta. Ia juga pernah menggabungkan diri dengan group Bintang Betawi dan Asep group dengan status pelawak free lance. Tetapi perte- Imuan merka tidak bertahan lama karena ada kemelut didalam group itu, akhirnya ia mental. Lalu pelawak ini membina group nyanyi dan tari yang diberinama Kleopatra. Group ini terbentuk atas gagasan Dudi Iskandar, Elita Krisna dan Dodo Alpredo. Mereka sepakat untuk membina Kleopatra, tanpa Sumber motivasi belajarnya. Kalau toh mereka belajar hanyalah karena dituntut oleh kebutuhan yang mendesak, yang sementara. Misalnya, besok akan ulangan, besok akan ujian dll. Falsafahnya, yang penting mereka lulus entah bagaimanapun jalannya. Akibatnya mereka cuma belajar jika menjelang ujian, cinta mereka hanya sekecil itu saja!! Maka pantas jika kemudian mereka dijangkiti penyakit "kawatir" gagal, lantas mereka tidak sibuk belajar melainkan sibuk mempersiapkan sontehan. Mencintai ilmu, bagaimana? Tadi dikatakan bahwa untuk memperoleh motivasi belajar, kita harus terlebih dahulu dapat mencin- tai apa yang kita pelajari itu. Sedang untuk memiliki cinta apakah yang harus kita jadikan modal terlebih dahulu, bagaimana agar kita benar2 Tes Ampuh, Dari Hal. V akan menjadi masalah. Tes dengan chromosom akan sangat menentukan". Biaya tes chromosom sebesar US$ 750 bagi si ibu, anak, dan orang yang diduga sebagai ayah si anak, dan 250 dolar lagi jika ada orang laki laki lain yang dilibatkan dalam tes ini. Biaya tersebut hampir dua kali biaya tes darah. "Akan tetapi, jika anda memban- dingkan biaya (tes chromosom) dengan biaya untuk membesarkan anak maka biaya tes tersebut tak ada artinya. Ia menggambarkan tes chromosom sebagai "suatu ilmu pengetahuan yang sangat baru". Sampai tahun 1970, per- campuran tersebut hanya menunjukkan perbedaan dalam ukuran chromosom. Baru setelah itu dapat dijelaskan lebih banyak perbedaan perbedaan yang ada dalam chromosom, katanya. Nn. Olson mengatakan tes tersebut dapat membantu memenuhi peraturan federal yang meminta setiap negara bagian mengembangkan rencana untuk menemukan ayah bagi anak yang memerlukan santunan. Ia mengatakan masyarakat hukum sedang "menunggu untuk mempelajari lebih banyak lagi mengenai tes ini". penasaran, karena ia telah men- dapat kabar kalau bekas tuna- ngannya telah meninggal enam bulan yang lalu. Ia berjalan tan- pa memadang ke atas, menun- duk. Hingga ketika ada salah se- orang yang lewat dari arah yang ber lainan, tertubruk. Dan ba- rang bawaan orang itu terjatuh semua. Tapi orang itu tak marah ke- pada Windi, tapi malah terse- yum, dan menanyakan dirinya dari mana, Windi hanya menja- wab dengan singkat, orang itu mengangguk. Sambil mengam- bili barang-barang yang terjatuh di jalanan itu. Orang itu sudah pergi, Windi meneruskan perjalanannya dan sesampainya di rumah, ia lang- sung masuk ke dalam kamar. Ia mengunci kamar itu. Tanpa ada yang terbuka sedikitpun. Windi mematikan lampu, ia ingin bertemu dengan arwah Janti, yang katanya sudah me- ninggal beberapa bulan yang la- lu. Dalam smadinya ia gagal te- rus, sampai berulang-ulang. Ke- mudian ia mengambil sebuah dompet yang berada di dalam kotak. Setelah dompet itu di ke- temukan, ia membukanya, lalu mengambil foto Janti, yang waktu itu masih duduk di bang- ku sekolah SMA." Wajahnya tentu aduhai", kata hatinya. Lampu yang telah dimatikan itu, ia hidupkan kembali, dan sete- lah menyala, wajah Janti di ta- tapnya dengan kesungguhan. Setelah menatapnya, lampu itu di matikan kembali, langsung ia perbedaan jabatan. Kendatipun usia Kleopatra masih tergolong muda tetapi, ia telah mengadakan pertunjukan diber- bagai tempat. Seperti Wisma Nusantara, Plaminggo, Sea Side, LCC, Tropikana dan berbagai club malam lainnya. Setiap Kleopatra mengadakan pertunjukan, setiap kali pula Dodo Alpredo menguman- dangkan suaranya. Rupa-rupanya Dodo Alpredo ini pernah tergabung dalam BKS (Badan Kerja sama Seniman) Kostrad, sekitar tahun 66-an. Juga sebagai penyanyi dari Group Band Karaparia dan Kwartanada. Menurutnya teman seperjuangan ketika itu, yang kini telah bereputasi Bambang Siswanto, Dudi Iskandar, Tigor Tobing, Aida Mustafa, Ida Royani, Heny Purwonegoro dan lain-lain. Yang jelas posisi mereka diatas saya, tambahnya pada YMSF. Kendatipun demikian ia tetap sabar memacuh kariernya. Sekarang Group Kleopatra-nya telah men- dapat tugas rutin dibeberapa club malam di Jakarta. Bahkan beberapa bulan yang lalu Kleopatra sempat menggemparkan Balai Sidang dan Negara. Dengan Kleopatranya pula ia sempat menginjakkan kakinya keluar Jakarta, seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Cilacap dan Malang. Istana Pelawak yang bertubuh gemuk ini, mengharapkan kepada personil Paguyuban agar tidak mengklasifikasikan group-group lawak yang ada dibawah naungan- nya. Kalau yang satu dapat fasilitas rekaman, kenapa yang lain tidak? Kalau yang satu populer kenapa yang lain tidak bisa? Tambahnya. Ia juga mengharapkan kepada group lawak yang bereputasi agar tidak membiasakan diri menjiplak cerita orang lain. Kalau bisa sebaliknya, memberikan contoh yang baik agar mereka yang ada dibawahnya lebih bersemangat dalam menciptakan cerita, Katanya mengakhiri cerita dengan YMSF. (Andhy S. Helyam). Dari Hal. V dapat jatuh cinta pada suatu ilmu? Itulah masalahnya. Itulah modal yang paling prima, modal yang pertama2 harus kita usahakan. besmadi, barulah ia menemukan bayangan Janti yang cantik itu. la mencoba mengadakan komu- nikasi dengan arwah Janti, yang ternyata yang datang bukan Janti yang sebenarnya, tapi roh jahat. Roh itu mengganggu ke- tenangannya, kemudian datang lah nafsu birahi yang berlebi- han, hingga Windi tak tahan, dan ia berusaha membadarkan diri, lalu menghidupkan lampu kembali. Roh itu pergi.. Sesaat setelah ia badar dan menghidupkan lampu, tak disa- darinya ia menulis kata-kata, yang di luar kesadarannya. "Windi kepergianku, jangan kau sesali Pada Festival Vocal Group tahun ini setiap peserta diwajibkan mem- bawa tiga buah lagu, masing-masing satu lagu wajib nasional, satu lagu wajib daerah dan satu lagu pilihan. Untuk lagu wajib nasional panitia telah menetapkan/memilih sebuah lagu yang berjudul "Melati di Tapal Batas' dan lagu wajib daerah "Cup Ma' Ilang" sedangkan lagu pilihan FESTIVAL Vocal Group se Kodya palembang tahun ini jauh merosot dari target yang ditentukan semula. Hingga batas waktu yang ditetapkan hanya 14 Group yang mendaftarkan diri pada Panitia, ter- paksa waktu pelaksanaannya yang diperkirakan memerlukan waktu tiga hari dipercepat menjadi satu hari. Tepat dengan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1982 pagi acarapun dimulai, babak penyisihan berlangsung digedung terdiri dari 10 judul lagu-lagu Taman Budaya sedangkan malam final penentuan para juara berlangsung di gedung Sport Hall Jalan Kapt. A.rivai Palembang. Setelah para finalis usai mempertunjukkan kebolehannya masing-masing, akhirnya team juri yang diketuai oleh R.Mantri Hamid dengan anggota-anggotanya Daniel Nungtjik dan Anna Kumari Haky mengumumkan nama-nama siapa juara Festival Group se Kodya palembang tahun ini. Juara pertama diraih oleh Erna's Group dari SMP XV dengan mengumpulkan nilai 243. Juara kedua oleh SMA Negeri I dengan nilai 241. Sedangkan juara ketiga diraih oleh Prvita Group dari SMA Neg. VI dengan nilai 231½. Selan- jutnya untuk juara harapan I dimenangkan oleh Procol Harum Group dengan nilai 229. Juara harapan II SMA Neg. II/A dengan Biarkan aku pergi dengan tenang dan kalau bisa kau ber do'a untukku agar aku tenang di alam lain dan kasunyatan." Nila Amirudin menyanyi, juga menari. (Foto: Herry). NILAWATI AMIRUDIN COBA MENYANYI NILAWATI, sebuah nama singkat dan mudah diingat lahir dikota jambi sesuai dengan harapan orang tuanya. Ia mengaku putri kedua dari empat saudara keluarga AMIRUDIN, bertempat tinggal di Mampang Jakarta Selatan. Nila demikian panggilan akrabnya sehari-hari, sekarang duduk dikelas II IPS Sekolah Menegah Atas 17 Agustus 1945 Jakarta. Disekolah disamping menyanyi sebagai kesenagan utama juga aktif dalam kelompok tari, adapun oleh raga yang digemari adalah renang. Bimbingan dan dorongan moril yang diberikan oleh kedua orang tuanya semakin membuat semangat nona ini terus berusaha dalam mengejar karier dibidang tarik suara, hasilnya disenandungkan ditengah-tengah masyarakat pengemar musik Indonesia populer khususnya dan pada umumnya penggermar musik, tentu saja tan- pa meninggalkan belajarnya disekolah. setelah Windi menulis kata-kata itu, ia membaca kembali tulisan itu, ia terkejut, karena apa yang di tuliskan pada kertas pu- tih itu, bukan karena kemauan- nya. Maka dengan sengaja ia \ menyobek kertas itu untuk me- lupakan segala kenangan masa lampau, tapi tak bisa. Ia tetap di buru, ia terpojok, hingga Windi berteri dengan hiteris. "tooooooolllloooooooon- nnnnnnnngggggggg....? maka dengan secepatnya orang tua Windi menggedor pintu Windi yang tertutup rapat. Ber ulang-ulang pintu itu di gedor oleh orang tua Windi, tapi tak dihiraukan oleh Windi, karena HALAMAN VII "Saya mulai menyanyi dari kelas I SMP sampai sekarang" ujarnya ketika ditanya kapan mulai merin- Untuk itu tentunya lain orang tis kariernya tentang tarik suara. Lagu-lagu yang dibawakan pada mempunyai cara yang berbeda2, an- acara perpisahan pada acara per- tara lain dengan membiasakan diri pisahan disekolah ternyata banyak membaca buku2 bermutu akan menambah cinta kita terhadap mengundang teman-temannya buku, yang berarti pula cinta mengacungkan jempol dan akhirnya terhadap ilmu. Sebuah pepatah setiap ada hari-hari besar dan Jawa mengatakan "Witing tresno malam perpisahan, NILA selalu as menyumba Avan iku-soko kulino (cinta lantaran diminta tampil dipentas meny biasa):****edma tidened ini $801 nurbangkan suaranya. Bahkah di an- Dari Festival Vocal Group Se Palembang nilai 224 dan juara harapan III Citra Jaya Group dengan nilai 203. jengkelnya orang tua Windi, Pintu itu di dobrak yang ternya ta Windi dalam ke adaan tak sadar, orang tua Windi ribut minta bantuan orang-orang yang berada di sekitar camp ter- sebut. Berduyun-duyun orang- orang datang, bagai demontran. Gemuruh riuh, orang-orang be- rusaha menolong Windi, ada yang mengambil balsem, ada yang mengambil remashon, ada yang mengambil koyok, ada yang mengambil air putih, ada yang mengabil bawang. Dan se- telah Windi dirawat oleh orang- orang yang berada dalam camp itu siuman, dan bertanya pada orang-orang, yang orang-orang itu tak mau menjawab pertanya an Windi, malah orang-orang itu pada pergi meninggalkan Windi, yang tinggal hanyalah orang tua Windi yang sendirian "Kau sebenarnya ada apa, nak," jungan Taman Mini Indonesia In- daha sering menghibur pengunjung dengan membawakan lagu-lagu populer dan daerah. "Aku....?" "Ya, kau kenapa. "Aku kedatangan roh halus, serta tunanganku, yang katanya mati enam bulan yang lalu. Aki- bat melahirkan anak ke dua kalinya." "Jadi kau kedatangan roh ha- lus, Yah, Allah...Kuatkan Imannya." Buru-buru orang tua Windi mengambil tasbih, lalu memba- ca do'a hingga ruangan kamar Windi nampak segar kembali ti- dak nampak singup seperti se- mula, nampak mesum, serta nampak lesu. Setelah Windi nampak segar Menurut pengakuan gadis berkulit kuning ini tidak pernah mengikuti kursus atau pendidikan secara formal di bidang musik, keberhasilannya diperoleh dari bela- jar bersungguh-sungguh dan tekun, sebab ini modal utama untuk men- capai sukses suatu karier juga ditun- jang bantuan moril dua orang tuanya. NILAWATI sangat ramah dan banyak senyum terhadap siapapun, sehingga tidak canggung dalam pergaulan disekolah maupun kepada sesama artis. Penguasaan lagu yang tepat dan penampilannya yang luwes dipang- gung maupun dimasyarakat, sampai menarik perhatian produser kaset menawarkan suatu album. Sejauh itu NILA mengatakan "senang sekali menerima penawaran itu, tetapi saya masih meniti betul lagu apa yang sesuai dengan suara saya, supaya nanti tidak mengecewakan para penggemar". Penyanyi yang paling disukai An- di Meriam Mattallata, Rafika Duri, Jatu Parmawati. Bagi para pecinta musik pop khussnya dan para pembaca, NILA sangat mengharapkan kritik, ten- tunya kritik yang bersifat mem- bangun, untuk langkah berikut, (herry.s). they maque magno ( Pemenang I Festival menerima piala dari Drs Zaini Anwar. (Foto Bunglay). nusantara. Pada malam itu juga langsung diserahkan piala-piala dan penghargaan lainnya kepada para pemenang. Drs.Zaini Anwar selaku . wakil dari Gubernur Sumsel dan sekaligus merangkap wakil dari Walikota Madya palembang, men- dapat kehormatan pertama untuk menyerahkan hadiah terbaik per- tama kepada Erna's Group yang berhasil meraih juara pertama pada malam itu. (Junaedy Bunglay). orang tua Windi keluar dari ka- marnya, kemudian ia hanya me- lamun mengingat akan kejadian yang mengerikan. Maka ia tak mau lagi asal memanggil atau ber smadi, kalau-kalau terjadi yang tidak di ingingkan. "Waktu demi waktu ia lamapui, tak terasa olehnya kalau sudah tahun 1982. Maka ia genap usia 30 tahun, pada bulan Januari minggu pertama. Ia mengun- dang kawan-kawannya. Dan hari itu nampak ramai sekali, banyak yang datang, bahkan di luar dugaan kalau penggemarnya datang, maka ke walahanlah ia, untuk menyu- guhkan sesuatu hal yang baru bagi para tamu yang datang. Untung saja salah seorang ka- wannya yang ahli dalam soal spontanitas datang tanpa di un- dang, maka Windi berusaha menghubungi orang itu, lalu memintanya untuk mengisi aca- ra tersebut. Meriahlah acara ter- sebut, sampai tak sadar waktu. Acara itu sudah pukul 24.000 malam baru selesai, ia lalu di panggil kepala Asrama. Windi nampak di maki-maki oleh ke- pala Asrama itu, tapi ia hanya minta maaf padanya. tapi aneh- nya setelah ia di maki, ia men- dapatkan hadiah dari kepala A- srama itu, sebuah mesin tik baru. Barulah sadar, kalau Windi kini sudah saatnya untuk bergai- rah, dan harus membaur kepa- da masyarakat, agar ia tak lagi terulang pada kejadian yang ti- dak di inginkan. Yogyakarta, '82.