Tipe: Koran
Tanggal: 1983-01-02
Halaman: 08
Konten
MINGGU 2 JANUARI 1983 YMSF DALAM GAMBAR Suatu kelompok sarjana Jepang sedang meneliti seekor ikan raksasa yang dianggap hewan kuno berusia (asli nya) 35 juta tahun lalu. Penelitian dilakukan di Universitas Tokyo baru-baru ini. Ia ditangkap di P.Komoro. (PANA). Siapa dapat membantu wanita gajah? Kalau saat ini sedang beredar film Manusia Gajah (yang merupakan fik- si), maka di Malaysia ada wanita gajah. Nah Kemungkinan ada diantara pembaca yang bisa membantu meny- embuhkan penyakit wanita ini. Ia disebut pangolin. Ia hidup di desa bersama ibunya dekat Melaka, Malaysia. Biar tidak sekolah, ia cukup pandai atau cerdas. (PAÑA). 1522 D5123m1S TODAS USEAL Kesenian Tradisional Lebak Tumbuh Kembang remaja Keong. Dan ini sudha terserap segenap pela- "Di hampir tiap waktu luang jar yang menimba ilmu di berbagai kesenian tradisional diberikan sekolah dilebak". secara teratur, anak-anak memang tidak sukar dibimbing untuk itu". Dari hasil bimbingan itu pada tiap liburan panjang tiba, kami mengadakan acara PKSD (Pekan Kesenian Sekolah Dasar) yang selalu diselenggarakan di berbagai daerah dalam batas Propinsi Jawa Barat. Untuk kegiatan terakhir lalu, PKSD diselenggarakan di kabupaten Tangerang. Penampilan beberapa acara kesenian tradisional Lebak berhasil memperoleh kemenangan terbaik, baik untuk tari anak-anak yang diikuti dari kecamatan Sajira maupun Sandiwara Boneka yang diikuti oleh anak-anak SD dari kecamatan Bayah, berhasil men- dapat kemenangan sebagai juara II dan I se Jawa Barat Nah, dari hasil- hasil itu dpt dilihat bahwa perkem- bangan kesenian tradisional di Lebak mendapat penyaluran yang tepat. Daerah-daerah kecamatan dalam kabupaten lebak menyimpan banyak seni tradisional yang patut diketahui secara bersama. Kesenian Debus yang selalu ditampilkan selain senantiasa menonjolkan atraktif yang memuaskan penonton seni tradisional tersebut juga merupakan penunjang utama keberhasilan pariwisata yang semen- tara ini digalakkan di Lebak. Seni Debus sama populernya dengan Calung Rantai maupun anglung Baduy dari masyarakat Baduy, begitu juga dengan kesenian Dog- dog-lojor atau Bedug Lojor dari daerah selatan kabupaten Lebak. Debus, Calung Rantai dan Saman. Ada beberapa kesenian tradi- sional yang belakangan ini men- dapat perhatian dari pihak Departemen P & K Lebak untuk menjagi kemusnahannya di mata masyarakat: Calung Rantai dan Saman. Ketika ditanyakan upaya apa sa- ja yang telah dilakukan selama ini, Sobari MD dari Kantor Dinas Pen- didikan dan Kebudayaan Kab.Lebak menjelaskan: "upaya menjaga kemusanahan kesenian tradisionil itu adalah kembali men- jelaskan tentang potensi dari seni itu sendiri dalam menunjang suksesnya pariwisata. Sebab seperti diketahui kesenian Calung Rantai yang bersumber dari kecamatan Banjarsari atau Saman dari kecamatan Warunggunung, pada awalnya sudah kurang men- dapat perhatian sempurna dari masyarakat Banten sendiri. Itu dapat dimaklumi apabila ditinjau, bahwa kedua jenis kese- nian tradisional tersebut tak memiliki imbangan daya atraktif yang mampu memukau bagi penon- tonnya, tetapi sesungguhnya Saman meupun Calung Rantai mempunyai segi estetis tersendiri, apalagi bila dibawakan dengan baik, akan jelas terlihat sejauh mana bobot seni yang ada dibanding dengan Debus. Debus sudah mendapat tempat khusus dimata masyarakat luas, baik itu dari masyarakat Banten maupun dari masyarakat pendatang yang kebetulan melihatnya diper- tunjukkan di lain tempat: diluar kota-kota Banten". Dimulai Sejak SD. Salah satu jalur proses berkem- bangnya kesenian tradisionil di daerah Lebak ini adalah karena sudah dimulainya diberikan kepada anak-anak sekolah yang duduk di bangku SD. untuk pen- jelasan ini, mari kita dengar ulasan bapak Enop Hadiratna BA dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Lebak Membina kelompok Akibatnya, Angklung Rawayan atau Angklung Baduy, dog-dog- lojor, Ujungan, Jipeng, decapi sul- ing sampai Beluk selalu menjadikan sebuah kesenian yang mereka sukai. Pembina OSIS SPG Neg. Rangkasbitung Bahrum Munajad BA sedang memberi la- tihan upacara bendera pada para siswa. (Photo:Ahan). ΚΟΝΤΑΚ --DARI HAL IV TATANG SUHANDA, BOGOR. - Silahkan kalau dikTatang akan mengirimkan naskah-naskah lain- nya, sebab itulah yang Kak Rini harapkan. Tetapi Cerpen yang berju- dul "Musim Hujan Tiba", belum dapat dimuat. Jangan berkecil hati dulu, sebab Kak Rini yakin bahwa naskah dik Tatang lainnya pasti akan lebih baik kalau terus menerus menulis. Kelemahan Cerpen itu sebab cara pengutaraannya sebab nenek sedang mendongeng saja dengan cu- cunya. Cerpen itu perlu alur cerita, dramatis, sehingga mempunyai daya tarik bagi pembaca. Coba menulis lagi dan Kak Rini selalu nantikan. Yudha Minggu Sport & Film MEMASUKI Salam manis selalu, Kak Rini —1 DARI HAL I Kita harus mengingat persediaan atau kekayaan yang dimiliki bumi Indonesia. Untuk itu rasa ketergantungan yang sengat terhadap minyak tidak lah pada tempatnya. Bukan suatu hal yang mustahil kita masih bisa menciptakan atau menemukan sumber ketergan- tungan baru tidak hanya satu atau dua macam saja, melainkan beberapa hal yang bisa diandalkan. Untuk itulah era pem- bangunan tidak harus berhenti. Bahkan kita harus semakin menyadari diri bahwa disiplin nasional disegala bidang perlu usaha ditingkatkan agar sepenuh hati dalam pem- bangunan bisa menumbuhkan rasa bangga diri. Bahkan apa yang sudah kita capai dalam pembangunan Indonesia perekonomian dewasa ini lewat Pelita-Pelita telah bisa berbicara sendiri. Dari masa yang tergantung kepada tanaman pangan padi impor, kini kita sudah bisa disebutkan sebagai negara yang surplus bidang produksi tanaman pangan ini. Hasil yang menggembirakan demikian bukanlah sebagai suatu hasil yang datang demikian saja, melainkan menunjukkan bukti ketekunan dan adanya kemauan atau tekad bangsa Indonesia sendiri. Wajarlah bahwa bagi bangsa Indonesia tak perlu ada rasa pesimis menyongsong hari esok hanya karena pengaruh musibah yang disebabkan oleh dunia luar. Banyak yang suka. Nendi Hidayat, pelajar SPG Negeri Rangkasbitung kelas III dan pemimpin grup Calung - salah satu seni tradisional yang bernama 'Sangkuriang' mengungkapkan: "Banyak yang suka, dan kesenian tradisionil Lebak mendapat prioritas dikehidupan remaja. Benarlah anak buah Bethoro Ko- lo yang sadis dan banyak jumlah- nya datang minta mangsa. Kese- Memang ada juga yang keranji-muanya berhasil dijinakkan dengan ngan Disco, tetapi yang suka Jaipongan jauh lebih banyak. Namun tidak berarti seni-seni tradi- sionil lainnya tidak berkembang, tidak. Misalkan saja Calung, saya sebagai pemimpin grup calung ter- nyata selalu mendapat repons positif dari para penonton, apabila menengahkan acara khuss seprti Degung, apalgi Jaipongan". Ujar pemuda kelahiran Sumedang 20 tahun lampau. Warisan seni tradisinonil dikatannya tidak kalah menariknya, dan tidak kalah bobot- nya dengan seni dari barat, sepan- jang kita dapat membawakannya dengan baik dan penuh perhatian. (AHAN). satu Sejarah bisa memberikan bukti kita pernah lolos dari kea- daan dunia yang buruk hanya karena kepercayaan diri yang cukup besar. Tahun 1983 diakui oleh dunia luar sebagai tahun yang kurang menggembirakan. Namun tidak demikian halnya dengan kita. Adalah benar bahwa suatu peristiwa di kawasan akan mempengaruhi kawasan lain. Untuk itulah kita dengan disiplin nasional yang dimaksimalkan berharap dan berkeyakinan mampu meloloskan diri untuk kesekian kalinya dari himpitan beban kesulitan internasional. Tidak berkelebihan kiranya apabila dalam memasuki tahun ini semua pihak bisa menyisihkan hal-hal yang kurang mengun- tungkan baik dalam usaha menggairahkan rasa giat mem- bangun yang sudah mulai tum- buh di seluruh tanah air, maupun pemikiran-pemikiran sempit yang hanya akan memberikan pengaruh tidak baik. Sekali lagi, bukan suatu sikap takabur apabila kita dengan Ridho Allah dan selalu berada di jalan Nya akan bisa mengatasi krisis yang mengir- ingi tahun 1983 ini. BU ——— - DARI HAL I - Bu Sri Aliyah menyodorkan daf- tar kelengkapan sesaji yang banyak jenisnya. Terdiri dari tandan pi- sang 2, 2 batang pohon tebu, 2 bu- tir kelapa, (cikal), 2 butir kelapa ga- ding, 2 lembar daun Kluwih, 2 da- han ranting pohon Klayu, 2 batang pohon Otok-otok (apa-apa), 2 ber- kas padi, 1 stel kocok (''tompo"), berisi bumboh; 1 iyan ilir, 1 stel per- kakas dapur ("kwali, dandang, lem- per" dll.), 1 bungkus rokok cap Pe- cut, candu seperlunya, 1 buah silet, 2 pak jarum, kemenyan secukup- nya, sebotol minyak wangi, kain mori berisi yang kecil sejumlah Rp.375,00 2 bungkus, selendang tu- wuh watu selembar, 1 payung, se- stel sajen marangan 10 cok bakal dengan 6 butir telur, sebuah "emp- luk" dibungkus mori, air sumur di- wadahi "kendil" berisi kembang se- taman, ikan air hidup di dalam lo- bang, dan sebuah kandil. SERBANEKA SERBANEKA SERBANEKA Sebuah ambeng dengan 18 jenis kelengkapan a.l.: lada sega gurih, panggang buceng, sega wuduk, bu- ceng kuwat, robyong, buceng mas, buceng 7, nyambung tuwuh, jajan pasar, gula gimbal, golong 9, sega punar 4 pr., jenang 4 jenis, ayam hi- dup, keting, jenang pidak, sayur menir asem, dan kolah waluh. (024). K.SOETRISNO 19 September 1945. Ada dua peristiwa penting tercatat dibumi Pertiwi ini, Insiden Bendera di Hotel Yamato, Surabaya dan Rapat Raksaksa dilapangan Gambir, Jakarta, yang dilarang keras oleh SaikoShikkikan, pucuk pimpinan tertinggi Tentera Pendudukan di Jepang Indonesia, dibawahacungan bayonet terhunus dan senjata Jepang, namun sedikit- pun tidak menggetarkan hati rakyat Indonesia untuk tetap melaksanakan rapat raksasa itu. Peranan Koesno dan K Soetrisno dalam "Insiden Bendera". Dimana tentara pendudukan In- ggris mendarat, disitu selalu timbul suasana tegang. Ini mudah dapat dimengerti sebab Rakyat Indonesia merasa dirinya telah merdeka dan tidak menginginkan lagi adanya ten- tara Asing dinegerinya. Maka pen- dudukan gedung2 oleh tentara Ing- gris di Surabayapun segera menim- pertempuran2 yang bulkan pertama. Demikian pula dengan apa yang terjadi dengan Insiden Bendera" di Hotel Yamato di Surabaya. Pada ketika itu para pemuda di Surabaya masih belum terorganisir. Beberapa pemuda usia antara 16 keatas sering berkumpul dilapangan KA di Pacarkeling. Sebelumnya daerah itu memang merupakan tempat pertandingan adu jotos, sekedar untuk pamer diri, siapa yang berhak menyandang predikat "jagoan". Jagoan yang paling terkenal kala itu, adalah pemuda Koesno, pemuda asal Juwingan Surabaya, kelahiran Mojokerto. Di Surabaya Koesno bekerja sebagai "hulp Schrijver" atau pembantu jurutulis pada Regentscahps Kantoor Soerabaia, di Gentengkali. Arena adu jotos itu kemudian meluas. Berpuluh-puluh pemuda dari berbagai penjuru kota Surabaya menggabung didalamnya. Diantaranya adalah K Soetrisno yang semula ikut pamannya di Waru dan kadang2 juga di Potemon membantu pak Denya. Pertemuan Koesno dan Trisno dalam kancah adu jotos ini, tujuan- nya cuma hanya ingin membang- gakan diri sebagai pemuda yang tak terkalahkan. Dan memang Koesno sebagai pemuda yang berperawakan kekar itu sukar dicari lawan tandingannya. KERETA - pakaian dinas upacara (PDPU) pada anggota ABRI yang sering kita lihat sekarang. menggantikan bentuk makanannya. Korban selamat, berarti Bu Mandor bersih dari ancaman kala, sakit yang lama dideritanya. Nampaknya sam- pai berita ini dibuat bu Mandor se- makin pulih kesehatannya. BENTUK SAJIAN : GOYANG Pak Soedarmo Kepala SDN Ka- rangrejo menantu bu Mandor me- ngatakan, upacara murwokolo di- lakukan oleh orang-orang yang ke- betulan dianggap melakukan "ke- salahan". Berakibat menjadi mang- lon korban menurutnya a.l.: Orang sa Bethoro Kolo. Yang termasuk co- memotong bambu "wang-wung" ga mereka tidak bisa berbuat apa- (tanpa ruas) mematahkan batu pe- ngasah (ungkal); "ampik-ampik" (dinding penutup ruang di atas langit-langit rumah) jatuh; menggu- lingkan "dandang" (penanak nasi); temanten baru "anglung" (berdiri) di tengah pintu; menanam waluh di depan muka rumah dll. apa, selain lini tengah yang sela- lu kehilangan bola. Para pemuda menjuarai Koesno sebagai jagoan adu jotos, termasuk pula Trisno. Pertandingan dengan bayaran cukup mahal, enampuluh ribu dol- lar AS berhasil mendatangkan keuntungan bagi penyelenggara yang menerima pemasukan sera- tus duapuluh juta lebih. Ini berar- ti para pecandu sepakbola masih ingin menyaksikan pertandingan team-team bermutu dari luar ne- geri meskipun dengan harga kar- cis yang tinggi. Para pemain Galatama meski- pun harus mengakui keunggulan lawan dengan 0-5 namun merasa puas terhadap pertandingan se- macam itu dan mereka mengha- rapkan bisa didatangkan lagi team seperti itu, sehingga ada cakrawa- la baru dalam menghadapi lawan dan bukan hanya sesama klub Galatama. Pada hari tanggal 19 September 1945 berpuluh-puluh pemuda berlalulalang dijalan Tunjungan, ada yang duduk-duduk didepan hotel Yamato, yang dulunya ber- nama hotel "Oranye", terkenalnya sebagai hotelnya orang2 Belanda. Pada hari itu tentara Inggris telah masuk Surabaya dan diboncengi oleh tentera NICA Belanda. Pada saat itu digedung Hotel Yamato berkibarlah bendera sitiga warna: Rood-Wit en Blauw, bendera Kera- jaan Belanda yang sejak kecil sudah dikenal oleh para pemuda tadi. Melihat adegan ini para pemuda sertamerta dikobarkan hatinya, darahnya menjadi naik semangat arek2 Surabaya serentak bangkit dengan semboyannya yang gagah berani: MERDEKA ATAU MATI. Namun tidaklah berarti dengan mendatangkan team jempolan lalu kesebelasan tuan rumah diper- Diantara arek2 Surabaya itu menegur Trisno kepada sahabatnya Koesno: He Kus kowe wani ngedhuno bendera iku? (Ke Kus beranikah engkau menurunkan bendera itu? Sijagoan Kusno men- jawab dengan lantangnya: "Apane gak wani! (Mengapa tidak berani). Dan...terjadilah seperti yang diributkan orang dengan: Insiden Bendera. Sesudah dialog singkat antara 2 pemuda jagoan ada jotos itu, semua pemuda saling berebut kedepan, in- gin segera menurunkan bendera tiga warna itu. Tanpa ada yang memerintah, dengan sikap cepat semua mata pemuda tertuju kepada bendera diatas hotel Yamato. Tidak diketahui dari arah mana datangnya pemuda-pemuda itu. Berdasarkan pada catatan, Kyai Garuda Yeksa boleh digunakan hanya pada tiga peristiwa penting saja, yakni: pada upacara Gareheeg ura menjempeerta digunakan untuk kirab keliling kota bagi seorang Sultan baru di Kraton Yogyakarta.Bilamana kita sampai pada pinggiran kota (Yogyakarta khususnya), maka sementara pen- duduk yang ada disana akan menyebut kereta ini dengan kata- kata 'kreto melor' yang merupakan alih bahasa tak resmi dari istilah In- ggris yakni 'My Lord' yang dalam bahasa Indonesianya berarti 'Raja kami'. Yah, memang lidah orang- orang kita akan lebih luwes mengatakan bahasa yang mudah dicerna, serta dapat baur dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan absennya Kanjeng Kyai Garuda Yeksa, pameran benda- benda Kraton terasa agak ganjil (Jw: gothang), sekalipun hal ini bukannya berarti bahwa benda- benda yang lainya kurang menarik buat ditonton. Namun oleh sebab kereta ini sudah begitu dikenal oleh masyarakat penonton setia Pasar Malam Sekaten yang diadakan se- jak puluhan tahun yang lewat. Selain kereta-kereta sebagai ben- da bersejarah milik KratonYogya, dalam stand tersebut juga dipamerkanberbagai macam benda- benda lainnya yang tak kalah agungnya Batu Prasasti untuk memperingati pembangunan Los (loods 5 serambi), yang merupakan bukti sejarah pula, ini dibuat agar dipergunakan para abdi dalem di Pura Pakualaman sekitar tahun 1900. Selain itu ada juga keris raksasa buatan lebih kurang tangan tahun 1930, ini merupakan pusaka milik Pura Pakualaman juga yang diberi nama Kyai Rahwana dan Kyai Kumbakarno. Halaman per- tama dr buku Babad Pakualaman Garuda Yeksa memang nampak paling indah serta megah diban- dingkan dengan kereta-kereta lain- nya di Kraton Yogyakarta, bahkan konon menurut cerita, kereta inilah yang termewah yang pernah dibuat, disamping juga termodern buat ukuran sebuah kereta. Oleh sebab kereta ini juga mempergunakan ban hidup yang dapat dipompa dan yang diperlihatkan didalam 'Witrin' dibuat khusus oleh ban 'Dunlop' di (kotak kaca) ditulis sekitar tahun Jerman sana. Masalah penerangan, yakni berupa lampu sudah dikenal pada kereta Garuda Yeksa ini, terletak diempat sudut serta dalam kabin. Sedang bahan bakar yang digunakan adalah karbit yang 1930 oleh juru serat Pura Kalualaman yang bernama Lurah Jayeng Utoro. Juga dipertontonkan kereta-kereta lainnya milik Kraton Yogyakarta antara lain: Kyai Jatayu, dibeli tahun 1930 pada masa Seperti juga pemuda-pemuda yang lain, Kusno dengan tangkasnya naik kepundak Trisno yang siap menyediakan diri sebagai tangga naik keatas, mengambil bendera, merobeknya yang warna biru dan mengibarkannya Merah Putihnya. Semua turun dengan lan- car dengan dada membusung lega, karena tujuannya telah tercapai. Itulah peranan Trisno dan Kusno dalam "Insiden Bendera" yang terkenal itu. Insiden Bendera ini kemudian adalah embrio peristiwa heroik 10 Nopember 1945 yang kita kenal sebagai HARI PAHLAWAN. Koesno dan Trisno, dua pemuda jagoan perlu diakui peranannya dalam insiden bendera yang tercatat berupa gas, hingga mempunyai sinar amat cerah (dapat BY katakan bahwa sinar yang terpancar ini akan melebihi terangnya lampu listrik). Bagaimanapun permainan te- am tuan rumah, puluhan ribu pe- nonton yang datang ke Senayan dengan membayar karcis termu- rah seribu rupiah dan termahal se- puluh ribu rupiah merasa puas atas permainan Samba yang mampu menggoyang Stadion Uta- ma Senayan. Sebab, sejak be- rangkat dari rumah mereka bukan ingin menyaksikan bagaimana SUMBER ENERGI permainan tuan rumah tetapi ha- nya ingin melihat penampilan bintang-bintang sepakbola dari Brazil. siapkan asal jadi saja, sehingga terlihat kwalitas permainan yang berbeda dua tingkat. Para penon- ton selain ingin melihat penampi- lan bintang-bintang sepakbola du- nia, juga menginginkan adanya perlawanan berarti dari team tuan rumah. Sebab bagaimanapun per- tandingan semacam itu selain ada unsur "show" harus pula berman- DARI HAL I sebagai sejarah Revolusi Surabaya yang kesohor-itu, TRISNO SEKARANG. K Sutrisno atau Trisno kini hidup dirumahnya yang sederhana dijalan Raya Dandong 15 Kecamatan Srengat Blitar dalam usianya 58 tahun. Rumah ini dijaman clash kedua dibakar habis oleh Belanda, yang kemudian dibangun kembali sejadinya. Trisno berputerakan 12 orang itu, dahulunya belajar bekerja pada OJS (Oost Java Stroomtram Maatschappij) kemudian ditahun 1946 memasuki ALRI dengan Ekspedidi ALRI 0.118 dan bertugas sebagai Kapten dalam menjalankan misinya ke Kalimantan, Sunda Kecil dan beberapa pulau lainnya dalam ketekunan dengan semangat perjuangan. Dalam tugas Trisno berkawan akrab dengan Achmat Lamo, pemuda Makasar yang sekarang Wakil Ketua MPR. Trisno menyampaikan keinginannya ber- jumpa baik dengan Kusno maupun dengan Achmad Lamo. Ditahun 1949 bersama Kol. Surudji di SGAP (Staf Gabungan Angkatan Perang) di Blitar. Ditahun 1949 semasa clash ke II ikut serta dalam kegiatan gerilya didaerah Kawi Selatan. Waktu didaerah Kebumen ber- tugas menghadapi Tentera yang menyebut dirinya "Umat Islam". Dalam tugas penumpasan Trisno terkena peluru dipaha kanannya yang membuat cacad sampai sekarang. Pensiunnya yang diterima sejak 1961 tidak pernah diperbaharui dan disesuaikan dengan pendirian: "Saya dahulu berjuang tidak men- cari pensiun". Terserah kepada Pemerintah, katanya. Dalam masa usia senjanya Trisno menyusun buku kenangannya yang diberi judul "Pasukan Expedisi ALRI 0.118", yang merupakan kisah perjuangan ALRI dengan beberapa gambar sejarah. Dalam buku itu tertulis al: "Aku lahir dari Rakyat dan untuk Rakyat". Buku ini dikirimkan juga kepada Pak Domo sebagai sesama anggauta ALRI. Trisno sipemuda jagoan asal Waru yang ikut berperan dalam "Insiden Bendera itu sekarang masih tetap polos dalam sikap dan ucapnya. ___ DARI HAL I Sultan HB VIII. Kereta ini dipergunakan pada upacara kecil, jagong, pergi lihat balapan kuda, melayat dan juga bertamu kekantor gubernur. Ditarik oleh empat ekor kuda dengan plear dua tanpa kusir. Kereta Kyai Harsunobo dan Kyai Wimonoputro. Dibuat di Semarang pada masa Sultan HB VI tahun 1860. Ditarik empat ekor kuda. Dipergunakan untuk upacara besar dan kecil. Upacara besar ditarik dengan delapan ekor kuda, sedangkan untuk upacara kecil ditarik empat ekor kuda. Kereta Kyai Harsunobo ini diturunkan pada putra mahkota atau Pangeran Adipati. Kyai Jaladra, dibeli tahun 1800 pada masa Sultan HB IV. dipergunakan untuk plesiran dan dikusiri sendiri oleh Kanjeng sinuwun Sultan, dan ditarik oleh dua ekor kuda yang tinggi-tinggi lagi gagah perkasa. Kyai Jongwiyat, ter- but pada masa Sultan HB VII, khusus untuk komandan prajurit. Dan akhirnya kereta Kyai Kutokaharjo, untuk pengawal putra Sultan, dibeli pada pabrik kereta Ed Kuhlstein Charlot Tenburg-Berlin, Jerman: Itu serba sedikit yang dapat BY ulas pada perayaan Pasar Malam Sekaten tahun 1982 ini, yang mana akhirnya kita sebagai bangsa yang memiliki berbagai ragam benda-benda tradisional perlu untuk merawat secara estafet agar dimata dunia kita masih dapat berbicara. Semoga. (Ujang). DARI HAL II faat bagi pembinaan team nasio- nal di negeri ini. Dan hasilnya harus menyerah 0-5 dengan team kopi jagung Bra- zil yang tampil belum maksimal. Bagaimana jadinya kalau pemain- pemain Indonesia harus berhada- pan dengan kesebelasan Brazil se- perti yang tampil di Spanyol? Mungkin akan kebobolan belasan gol. (YUDHISTIRA).... ---DARI HAL V dipakai membakar "sate". Tiga sasaran bisa dijangkau bila pengunaan "jalan pintas" lewat arang briket ini: 1. Mendorong program kebersihan lingkungan; 2. Mendorong program penghjauan; Daun-daun tersebut dibakar dalam suatu tempat pembakar yang sedikit terbuka sampai menjadi arang (bukan menjadi abu). Arang yang masih membara itu harus segera disiram air, kemudian setelah dingin ditumbuk sampai halus. Hasil tumbukan itu dimasukkan ke dalam cetakan, boleh berbentuk 3. Hemat energi. bulat atau persegi, dengan ukuran kecil atau sedang. Bahan pencetak KITA bisa dibuat dari bulatan bambu, dari kayu juga dari besi. Sebagai perekat, dapat digunakan daun kesambi, daun paku, daun sirih belanda dan daun bergeta lainnya, dicampur dalam tumbukan arang tadi. - DARI HAL IV bang akeh nglepc. (Siapa yang tekun bakal berhasil. Jangan serakah supaya tidak musnah. Sedikit dapat menarik hasilnya daripada banyak tumpah hasilnya). Nan sekian rekan-rekan sum- bangan tulisan saya semoga ber- manfaat terhadap kalian utama- nya terhadap diri saya sendiri. Terima kasih. Penggunaan bio briket ini sudah dirintis oleh sebagian masyarakat pedesaan di kabupaten Sukabumi, hasil petunjuk para mahasiswa ITB. Untuk masyarakat lainnya masih perlu digalakkan. Arang briket ini murah harganya, seimbang manfaatnya, mengurangi polusi dan menambah harum kalau Revin M. KONSULTASI KESEHATAN ASUHAN Dr. H. Soetojo.S OLAH RAGA - LAH Tanya: Dengan hormat Setelah saya baca jawaban konsultasi saya tgl. 14 Nopember 1982 (YM) yang mana bapak memerlukan keterangan yang lebih jelas, baiklah disini akan saya terangkan sebagai berikut: Saya seorang pemuda berumur 22 tahun, berat badan 50 kg, tinggi 1,70 m. Beker- ja sebagai TKS BUTSI A XIII di desa Kutabulloh I, Kecamatan Meukkek, Kabupaten Aceh Selatan. Saya mengeluh punya penyakit pada pinggul sebelah kiri dan sebelumnya pada pinggang didalam terrasa sakit bagaikan tertusuk-tusuk dan juga dilipatan lutut sebelah kiri terasa yang sama. Saya menderita penyakit ini sudah tujuh bulan lebih, rasa sakit terus menerus setiap detik, yang lebih parah lagi sakitnya waktu bangun tidur dan waktu bangun ditempat duduk rasanya sangat sakit dan nyeri dan apa bila tidur siang dan banyak duduk penyakit itu bertambah. Buang air kecil lancar, kecuali buang air besar agak sukar sedikit. Saya sekarang lebih berjalan dari pada duduk, tetapi sebelumnya saya banyak duduk dari pada berjalan olah raga memang tidak ada, kecuali dipagi hari jam lima/enam pagi. Dan bila banyak saya minum susu dan makan telur setengah matang air seni keluar. Saya telah berusaha berobat pada beberapa dokter, namun penyakit yang saya derita itu sampai sekarang belum berkurang. Menurut pendapat sebagian dokter saya menderita penyakit kurang hormon dan sebagian lagi mengatakan saya menderita penyakit bengkak tulang dan beberapa hari belakangan ini ada juga yang mengatakan saya menderita penyakit kanker tulang, saya sangat terkejut dan sedih ketika mendengar keterangan itu. Membuat nisan kuburan bagi orang Cina (bong Cina) merupakan merupakan suatu kebanggaan tersendiri. bongpay bagi golongan ini juga merupakan simbol (prestise). Makin kaya orang yang meninggal makin baiklah nisannya. Makin terhormat kedudukannya, makin indah pula pahatan bongpay nya. Kelihatannya sangat mudah membuat hiasan-hiasan dalam pahatan bongpay, karena tinggal mengetokkan palu, maka selesailah kerja. Tetapi kenyataannya bukan semudah menggetokkan palu seperti yang kita lihat. Untuk membuat nisan yang tidak seberapa besar, Yudha Minggu mendapat keterangan bahwa kepala nisan yang berbentuk kepala burung, dikerjakan dalam waktu hampir satu bulan, itupun belum termasuk waktu untuk menghaluskan bagian- bagiannya. Berapa harga satu buah bongpay tersebut, inilah yang menjadikan bongpay sebagai simbol bagi orang yang telah mati. Karena apa?? Satu buah bongpay dengan hiasan kepala burung biaya bikinnya bisa men- capai ratusan ribu rupiah. Apalagi kalau bongpay itu dibikin dari marmer, lengkap dengan susunan keluarga yang ditinggalkan, sesuai dengan tradisi orang Cina, kata si pembuat bongpay bisa untuk membeli sebuah colt.... bukan main. HALAMAN VIII Tapi dibalik harga bongpay yang melangit, para pengrajin hidupnya masih tetap susah, kalaulah tidak bisa kita katakan tetap miskin. "Untuk pekerjaan menghasilkan bongpay, kami cuma dibayar Rp.1.500,- satu hari mas, itupun makan kita harus beli sendiri, "demikian dikatakan oleh Jono, salah seorang pengrajin bongpay yang berasal dari Salatiga. Jono juga mengatakan, kalau SASTERA ding. Bala tentara mereka sekarang ini telah berada di luar kota". Mendengar laporan tersebut Prabu Sumali tertegun. Tiba-tiba muncul patih Mintragna yang melaporkan bahwa ada datang utusan Prabu Danaraja yaitu raksasa Gohmuka membawa surat. Berkatalah Prabu Sumali, "Hadapkan dia padaku". Gohmuka segera dihadapkan kepada sang Prabu. Gohmuka melakukan sembah dan menyerahkan surat. Prabu Sumali menerima surat tersebut dan segera membukanya. Isi surat adalah sebagai berikut, "Surat ini dari kami Prabu Danara- ja negeri Lokapala. Ditujukan kepada Prabu Sumali raja negeri Alengka. Yang ingin saya tanyakan sama bapak dokter adalah sbb: a. Betulkah saya menderita penyakit kurang hormon? b. Betulkah saya menderita pe- nyakit bengkak tulang dan kanker tulang? d. c. Seandainya betul penyakit itu yang saya derita apa obatnya dan bagaimana cara kita mengobatinya? Kenapa kalau banyak minum susu dan makan telur itu keluar air seni? e. Kemana harus saya berobat? Karena kalau ke PUSKESMAS dan ketem- pat praktek sudah tidak mempan lagi. Atas kesediaan dokter untuk memberi penjelasan dan nasehat kepada saya, saya aturkan banyak terima kasih. Jawab: a. Sdr sama sekali tidak menderita sakit kekurangan hormon. Lalu hormon yang mana. b. Apakah sdr sudah pernah difoto tulang sdr? Kalau belum, sukar un- tuk mengatakan adanya kelainan tulang. Terlalu jauh untuk memikirkan hal itu. Hormat saya, Boer. Agt. Butsi Meukek Aceh Selatan c. Karena belum jelas penyakitnya, jadi belum tahu juga obatnya. Mungkin sdr punya sakit allergie terhadap kedua makanan itu. d. Sdr sebaiknya berobat ke dokter Ahli Penyakit Dalam misalnya di Medan yang paling dekat dengan sdr. C. PENGRAJIN -----. DARI HAL I tanda dimulainya atau diteinpatinya. ke Pondok Gedhe, di sebelah kanan jalan, persis di salah satu tikungan mendengar bunyi irama orang memukul batu, tidak keras, tetapi cukup terdengar dari jalanan. Di tempat itulah bekerjanya para pengrajin bongpay, orang yang se hari-hariannya memahat batu... un- tuk kuburan. kerja borongan, bagi tukang yang telah ahli, paling-paling jatuh harganya Rp.3.000,- per hati. Jono menunjuk harga borongan mem- buat nissan bergambar liong-liong (ular naga) "Yang itu harga borongannya Rp.150.000,- mas, tetapi kalau dikerjakan, tidak selesai dalam waktu satu bulan. Sekian. dr. H. Soetojo S. Amat, pengrajin bongpay yang sudah ahli mengatakan, sudah lebih sepuluh tahun menjadi pengrajin bongpay. Kalau dihitung sudah ratusan bongpay yang menghiasi makam-makam orang Cina. Tapi kehidupannya tetap begitu-begitu saja, tidak pernah menanjak. Apalagi kalau badan sakit, bisa-bisa apa yang ada dijual. ker- Keadaan yang menyedihkan ini hampir menyeluruh pada para pengrajin bongpay, mereka beker- ja tidak memakai aturan, tanpa ikatan, mereka telah ja bertahun-tahun. Mereka hanya makan tulangnya, sedangkan ag- ing dan sarinya, dihisap habi h sang tauke, yang memperkerj. mereka. Kalau mereka k dibayar, tidak bekerj dibayar. Sewaktu Yudha Minggu meman- cing pertanyaan, apakah mereka tidak mencoba untuk berdiri sendiri, mereka mengelak. "Kami modal dari mana mas, untukmencari batu saja, kita harus mencari modal yang - tidak sedikit." "Batu ini kami peroleh dari Purwakarta, memang di tempatnya sana, batu ini tidak seberapa harganya, tetapi membawa batu ini dari Purwakarta sampai Jakarta kan memerlukan biaya yang tidak sedikit". Amat memang sudah pernah memikirkan untuk mencari pin- jaman modal, dengan jaminan sebidang tanahnya, tapi kemana dia harus meminjam??? "Saya buta huruf mas, jadi bagaimana saya harus berbuat demikian Amat mengatakan kesusahannya. Jakarta banyak orang mem- punyai keahlian, tetapi disayangkan bahwa keahlian mereka tidak mem- punyai penghargaan yang layak. Apakah mereka salah jalan??? in- ilah yang selalu menjadi pertanyaan, tetapi tidak pernah ketemu jalan- nya. (trim).- DARI HAL I laporkanlah kepada gustimu Sri Danaraja bahwa memang benar Bagawan Wisrawa itu sekarang berada di istana Alengka. Kalau gustimu memintanya aku sendiri yang akan mengantarkannya besok. Tetapi agar gustimu sendiri yang menangkapnya. Sudah, kem- balilah engkau segera". Senapati Gohmuka melakukan sembah, menyatakan sendika dan meminta diri. Berkatalah sang Prabu kepada Prahasta, "Anakku Prahasta, lekas engkau pergi ke taman Argasoka. Laporkanlah kepada Bagawan Wisrawa bahwa engkau dan pasukanmu telah dikalahkan oleh Sri Danaraja, bahwa korban di kedua belah pihak sangat besar. Berikanlah surat ini Kedatangan kami bersama bala tentara ke Alengka ini adalah dalam rangka meminta diserahkannya Bagawan Wisrawa pada kami yang sekarang berada di Alengka. Katakanlah terus terang bahwa sang Prabu Danaraja tidak dapat dilunakkan lagi hatinya. Kalau Bagawan Wisrawa mengambil keputusan akan memim- pin peperangan sendiri maka engkau harus ikut. Kalau tidak segera diserahkan maka kami meminta kedatangan sang Prabu di luar kota. Kita selesaikan persoalannya dengan peperangan. Negeri Alengka akan kami jadikan banjir darah. Demikian un- tuk dimaklumi. Tertanda Prabu Danaraja". Kumpulkanlah pasukanmu lagi termasuk para adipati. Dan engkau Mintragna lekaslah engkau keluar dan melakukan persiapan perang lagi sekarang juga. Jangan ada yang lengah. Dalam segala hal kita harus berhati-hati" Prahasta Setelah membaca isi surat dan Mintragna tersebut Prabu Sumali lantas men- melakukan sembah dan segera jadi marah. Katanya keras-keras. meminta diri, melaksanakan perin- "Hee utusan Lokapala Gohmuka, tah. (bersambung). PEMBINA: Tjokropranolo. Pemimpin Umum: Sunardi DM. Wakil Pemimpin Umum: Drs. Parwoto, Direktur Pelaksana: Drs. Bagio Purwantho. Penjab//Pem, Red: Sunardi DM. Wakil Penjab/Pem. Red/Red, Pelaksana: Carlos Alma Vega Wakil I Red Palaksana H. Endang Achmadi, Wakil II Red, Pelaksana: Dan Suwaryono, Dewan Redaksi: H. Endang Achmadi - Dan Suwaryono - Djumaryo - Soegiyanto - HM. Mangol - Mugianto - Ngatidjo Mw. - Moed Avianto. STAF REDAKSI: Bobby Monka Jr.- Ratino - Casmo. T H. Ansor Fahlem - Nardi Sahib - Harkam Efendi - Sam Lantang-M. Dawud Atmodiwiryo - Junus Inuhan - Amiruddin Nasution - Bob Silitonga - Nurmimi Tjunti V. - Sunaryatmo- Jasidi Iskandar Supriyadi BA - Yatim Kelana - Taty Permadi - Eko Sukamantri Azwi Tanjung Rafles Chap- Gunadi .S. - Cosmas Sumono P. Wartawan Photo: Djumaryo (Ka) - M. Saleh - Djoko Susanto - Waskito Mirmanto - Wagiman S. - Diding Kussuwardjo. Penerbit: YAYASAN "PARIKESIT", Izin Terbit:No. 001190/SK/Dir. PP/SIT/ 1971. Tarip iklan: Rp. 1.500/mm kolom: Keluarga Rp.1.000 Khusus Rp. 1.000/mm, Film/mm Rp. 1.000, Iklan Mini: 1 baris (25 huruf) Rp. 1.000minimum 2 baris, maksimum 10 baris. BANK: BRI Keb. Baru No. 31-51-1276, BBD Keb Baru No. 1110-03440 Giro Pos No. A 12770. Dicetak Oleh: P.T. ANEM KOSONG ANEM'. Alamat/Redaksi/Tata Usaha/Bag. Iklan: Gedung AKA Lantai II JI. Bangka No.2 Tlp. 794507 Pst 65 s/d 70 dan 796260 JAKARTA SELATAN.
